-Bagian 1-
Asrama Purin, sekolah yang dijadikan tempat belajarnya Sally saat ini sedang disibukan dengan aktifitas festival tahunan sekolah tersebut. Saat diberi informasi oleh guru tadi pagi, anak-anak langsung bersorak gembira. Karena mulai minggu ini mereka tidak akan belajar melainkan sibuk mempersiapkan festival, dan persiapan ini berlangsung hingga 2 minggu.
Semua kelas sudah siap meluncurkan strategi agar kelas mereka menjadi kelas terbaik dan terfavorit tahun ini, begitu pula dengan kelas 2-D, kelasnya Sally. Ia mengusulkan agar kelasnya membuat rumah hantu, teman sekelasnya ada yang mengusulkan kedai, dan ada lagi yang mengusulkan untuk membuat pertunjukan, namun yang terpilih adalah usul dari Sally.
“kalian tau 7 misteri sekolah?” tanya Sally membuka diskusi. “kalau sekolah-sekolah di asia hal ini sudah terkenal, dan aku berniat untuk membuat rumah hantu kita bertema 7 misteri sekolah!” katanya dengan penuh semangat. “7 misteri ini adalah misteri-misteri yang terjadi di sekolah, 6 diantaranya sudah menjadi rahasia umum, namun misteri ketujuh adalah sebuah kutukan. Siapapun yang mengetahui atau mendengar misteri ketujuh ini, orang itu akan terkena kutukan dan semacamnya.” Anak-anak merasa kalau konsep yang diberikan sungguh menantang. Setelah melihat senyuman dan tatapan ingin tau dari teman-temannya, Sally melanjutkan kembali. “nah, misteri yang pertama itu tentang hantu perempuan berkepala buntung yang sering mondar mandir di lorong sekolah tiap malam. Yang kedua, misteri tentang manekin di ruang seni yang sering mengeluarkan suara-suara aneh dan bahkan bergerak. Lalu yang ketiga yaitu hantu anak laki-laki yang menyelupkan kepalanya yang busuk ke dalam toilet. Misteri keempat adalah kelas kutukan, kelas yang tiba-tiba suka memunculkan bercak telapak tangan di dinding,” “mengerikan sekali!” teriak Bani memotong penjelasan Sally. Sebenarnya itulah yang dipikirkan semuanya. Kelas mulai ribut dan setelah hening kembali Sally melanjutkan konsepnya.
“lalu misteri yang kelima tentang anak laki-laki yang menyeret-nyeret tubuhnya yang penuh luka di gedung olahraga, dan yang terakhir adalah misteri guru yang gantung diri di gudang sekolah. Selesai!” kelas hening. Semuanya tercengang. Tiba-tiba Pearl mengacungkan tangannya dengan sopan, “lalu bagaimana dengan misteri ketujuh?” pertanyaan yang cukup sulit karena Sally tidak memiliki ide tentang itu dan ia melemparkannya ke teman-temannya yang lain. Ditunggu beberapa lama pada akhirnya tidak ada yang memberikan usul. Lalu tiba-tiba Lock mengacungkan tangannya. “bagaimana kalau di misteri terakhir semua hantu mengejar pelanggan?” Sally memiringkan kepalanya. “duh, begini lho! Nanti 6 ruangan sebelumnya itu dibuat kecil-kecil aja, terus sisanya dibuat agak panjang dan lebar supaya hantu-hantunya bisa mengejar! Gimana? Seru ‘kan?” semuanya lansung tertawa saat melihat ekspresi Lock. Senyumannya lebar, memperlihatkan giginya yang putih mengkilap dan membentuk lipatan-lipatan di pipinya. Wajahnya yang tampan itu kalau sedang semangat memang agak aneh. Karenanya yang lain semakin bersemangat dan menyetujui idenya itu.
***
Suasana kelas seketika jadi sibuk. Mereka mulai mendiskusikan rinciannya serta memperdebatkan anggaran untuk membuat rumah hantu, dan dalam waktu tiga hari mereka sudah bisa fokus mencari bahan-bahan untuk kostum dan ruangan. Sebagai orang yang mengusulkan ide, Sally dipercayakan sebagai penanggung jawab “Haunted House 7 Mysteries”. Untuk membantu tugasnya, ia menunjuk Bani sebagai penanggung jawab perlengkapan ruangan, Pearl sebagai penanggung jawab kostum dan tata rias, dan Petra sebagai penanggung jawab periklanan. Semua bekerja keras agar kelas mereka bisa sukses di festival nanti.
Hal yang mereka lakukan pertama kali adalah menyiapkan jalur di ruang kelas dengan papan, lalu mulai menata ruangan-ruangan kecil untuk misterinya dan tempat persembunyian untuk hantunya. Bagi anak SMA yang setiap saat harus belajar, hal seperti ini sangatlah mengasyikan. Dan tentu saja melelahkan.
Setelah jalur dan sekat-sekat untuk membedakan 7 misteri sudah beres, mereka mulai fokus dengan ruangan pertama, yaitu misteri yang pertama. Misteri ini tentang hantu perempuan berkepala buntung yang sering mondar mandir di lorong sekolah tiap malam. Ruangan itu dibuat seperti lorong sekolah yang remang-remang dan penuh bercak darah di dinding, Tio dan Eri yang mengecatnya, agar memberikan kesan mengerikan.
Disini yang menjadi hantu adalah Ulfa. Tubuhnya kecil ramping, seperti anak kecil, cocok sebagai hantu anak perempuan. Di ruangan itu Ulfa akan muncul setelah pelanggan melewati tempat persembunyiannya lalu berteriak, suara teriakannya dari komputer, setelah mengangetkan pelanggan Ulfa langsung mengejar mereka sampai ke pintu masuk tempat persembunyiannya yang satu lagi. Ulfa berkali-kali latihan, namun cara mengejar dan menakut-nakutinya masih kaku. “tak usah cemas Fa! Masih banyak waktu untuk latihan kok,” kata Sally dengan ramah. Di kelas ia memang sangat disenangi. Tidak seperti Ulfa, ia sebenarnya kurang disenangi karena sifatnya yang suka menuduh orang dengan sembarangan itu, tapi tidak ada temannya yang mau memperbaiki sifatnya itu.
Seharian itu Anne mengajari Ulfa bagaimana menakut-nakuti orang yang baik, Anne juga berperan sebagai hantu, namun latihan itu tidak membuahkan hasil. “bukan salahku kalau aku tidak bisa berperan dengan baik! Lagipula kalian ‘kan yang menyuruhku menjadi hantu?” tanya Ulfa dengan ketus. Petra berbisik ke Anne, “padahal waktu itu dia yang mau sendiri.” itu memang benar. Ulfa kesal mendengarnya dan ia langsung merapikan barang-barangnya dan beranjak pulang. Melihat keadaan tersebut, Sally pun mencoba untuk membujuk Ulfa. “kami tau kamu lelah, tapi kami juga lelah. Jadi tolong Ulfa, bersabarlah supaya rencana kita ini menjadi sukses!” “rencana mu kali.” Sally tak menyangka akan mendengar itu dari Ulfa. Ia mengerutkan alisnya, “apa maksudmu?” Ulfa tertawa geli mendengarnya. “hey aku tau lho Sally. Kau memaksakan kami agar mau menerima usulmu dan sengaja bersikap baik supaya kau bisa menjadi penanggung jawab kelas ini, dengan kata lain kau ingin menyuruh kami seenak jidatmu! Tentu saja kau lakukan itu supaya kalau memang sukses namamu sendiri lah yang akan melambung!” Sally sebenarnya tak tahan mendengar tuduhan seperti itu, tapi Eri langsung melerainya. “sudah sudah! Tidak enak kalau sedang seperti ini kita malah bertengkar. Sebaiknya kau hari ini istirahatlah dulu Ulfa,” Ulfa langsung mengambil tasnya dan pergi tanpa mengucapkan apa-apa lagi.
Keheningan terjadi di kelas itu. “ayo semuanya kita lanjutkan aktifitas kita!” kata Eri memecah keheningan itu. Semuanya kembali mengerjakan kesibukan mereka masing-masing. Walaupun masih ada yang membicarakan hal-hal tak mengenakan tentang Ulfa. “terima kasih Eri,” ucap Sally. Eri membalasnya dengan senyuman yang ramah, “tak usah sungkan Sal, hehe.” Eri memang cocok menjadi ketua kelas. Orangnya baik dan bijak, walaupun sering malas mengerjakan PR.
***
“huaaah…” Sally menguap lebar-lebar, rasanya lelah sekali. Padahal belum ada seminggu. Tiba-tiba terdengar suara ketukan yang keras dari pintu kamarnya, sehingga Cindy dan Remi yang tadinya sudah terlelap jadi terjaga. “apa yang kalian lakukan? Bapak bisa melihat lampu kalian masih menyala. Jadi cepatlah tidur dan matikan lampunya sebelum tidur!” mereka tau itu suara Pak Owen. Suaranya menggelegar seperti sambaran petir. “yaa… maaf pak!” balas Sally bermalas-malasan. Ia menepuk kedua tangannya dengan pelan sambil membungkuk sedikit kearah teman-temannya yang terganggu itu. Lalu terdengar suara kaki menjauh dari pintu kamarnya itu. Malam itu jam di dinding sudah menunjukan jam 23:15, sudah lewat dari jam tidur. Akhirnya Sally memutuskan untuk menyelesaikan laporan pengeluarannya besok pagi karena ia sudah sangat mengantuk. Ia pun merebahkan dirinya di kasur dan menyelimuti dirinya. Udara di malam hari sangat dingin. Sebelum tidur ia sempat bergumam yang aneh-aneh, itu lah kebiasaan Sally jika sudah sangat kelelahan. Tak lama, ia menutup matanya.
Tiba-tiba ia membukanya lagi. “aku tidak bisa tidur,” ucapnya dengan pelan. Keringat dingin mengucur dari wajahnya. Ia merasakan sesuatu yang aneh, dan tiba-tiba ia teringat dengan 7 misteri yang ia jadikan tema untuk rumah hantu. “bagaimana kalau cerita-cerita itu sungguhan?” pikirnya. “bagaimana kalau ternyata cerita-cerita itu benar dan pernah terjadi di sekolah ini? Bagaimana kalau kami kena kutukan…” ia mulai berpikiran yang tidak-tidak. “hanya kelelahan, kelelahan!” gumamnya sambil mengucek-ucek matanya. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak melakukan hal yang selelah ini lagi, karena itu akan mempengaruhi pikirannya. Ia pun mencoba untuk tidur kembali.
***
Keesokan harinya terjadi kegemparan di sekolah Purin. Ditemukan seorang anak perempuan tergeletak di tangga sekolah. Banyak darah bercucuran dari kepalanya. Dalam seketika darah membanjiri sekeliling tubuhnya. Belum sempat mengira-ngira anak itu masih hidup atau tidak, guru-guru langsung membawa anak itu ke rumah sakit.
Saat itu tiba-tiba ada suara gedebuk, seperti suara sesuatu yang berat terjatuh dari lantai dua. Yang pertama kali mendengar hal itu adalah murid kelas 2, laki-laki. Tepat setelah ia melihat ternyata yang terjatuh adalah tubuh manusia, ia langsung berlari sekuat tenaganya menuju ruang guru. Belum ada kabar siapa siswi tersebut dan bagaimana kabarnya. Petugas kebersihan langsung membersihkan darah yang menggenang sesaat setelah guru-guru membawa siswi tersebut kedalam ambulan. Pihak sekolah menghimbau anak-anak untuk tetap melanjutkan aktifitas mereka dan meminta mereka untuk tetap tenang karena kecelakaan ini akan segera diatasi.
Saat itu tiba-tiba ada suara gedebuk, seperti suara sesuatu yang berat terjatuh dari lantai dua. Yang pertama kali mendengar hal itu adalah murid kelas 2, laki-laki. Tepat setelah ia melihat ternyata yang terjatuh adalah tubuh manusia, ia langsung berlari sekuat tenaganya menuju ruang guru. Belum ada kabar siapa siswi tersebut dan bagaimana kabarnya. Petugas kebersihan langsung membersihkan darah yang menggenang sesaat setelah guru-guru membawa siswi tersebut kedalam ambulan. Pihak sekolah menghimbau anak-anak untuk tetap melanjutkan aktifitas mereka dan meminta mereka untuk tetap tenang karena kecelakaan ini akan segera diatasi.
Di siang hari, polisi datang membawa berita mengejutkan untuk Sally dan teman-teman sekelasnya. Ternyata yang jatuh adalah Ulfa, teman mereka, siswi yang menjadi hantu di misteri pertama. Pantas saja mereka tidak melihat Ulfa sejak pagi. Polisi menjelaskan kalau penyebabnya adalah kecelakaan karena lantai di tangga licin. Diperkirakan saat itu ia sedang terburu-buru dan tergelincir di tangga. Kecelakaan tersebut mengakibatkan tulang lehernya patah, namun Ulfa masih hidup. Anak-anak yang mendengarnya langsung merinding. Mereka merasa sangat kasihan pada Ulfa, walaupun kemarin ia telah menghancurkan suasana. Namun yang paling terguncang tentu saja Sally! Baru saja kemarin ia bertengkar dengan Ulfa, lalu saat ini Ulfa sedang dalam keadaan kritis. Ia tidak tau apakah ia masih sempat untuk minta maaf ke Ulfa atau tidak.
Sally hampir menangis. Sebelum disadarinya Anne telah memeluknya. “jangan merasa bersalah karena kejadian kemarin Sally,” katanya dengan lembut. “tapi bagaimana kalau aku tidak sempat minta maaf padanya?” “harusnya dia lah yang cemas karena tidak sempat minta maaf padamu.” kali ini Anne tampak serius. Lalu ia menepuk pundak sahabatnya itu, “aku yakin dia akan baik-baik saja, dan kita akan segera menemukan pengganti hantu yang lebih mahir.” Sally melihat tingkah laku temannya itu. tidak terlihat sedih maupun senang. Begitu pula dengan teman-temannya yang lain. Bahkan setelah polisi pergi mereka melanjutkan kegiatan mereka masing-masing. “ada apa dengan kalian semua..?” tanyanya dalam hati.
Pihak sekolah mengatakan bahwa kecelakaan itu sudah diperiksa dan dibereskan oleh pihak kepolisian, bahkan kepolisian juga telah mengizinkan festival diteruskan kembali. Sally merasa aneh, mengapa semuanya bersikap seolah-olah kecelakaan itu bukanlah suatu masalah besar? Apa festival ini lebih penting daripada kecelakaan yang menimpa teman sekelasnya itu? Belum sempat menemukan jawabannya, teman-teman Sally sudah meminta bantuan Sally untuk mencarikan pengganti. Akhirnya Qweny mengnawarkan diri untuk menggantikan Ulfa. Ternyata Qweny lebih pintar berperan menjadi hantu dibandingkan Ulfa.
***
“ya, akan kucari! Ada lagi?” “hey jangan pakai warna ungu!” “eh maaf, maaf permisi aku mau lewat,” “TOLONG AKU… TO… TOLONG… ehem. Sudah bagus ‘kan suaranya?” “eeeh ini diapakan? Ajari aku dulu dong!”
Semakin hari, semakin banyak yang harus dikerjakan. Bahkan tak sedikit dari anak-anak yang mengorbankan waktu tidurnya dan melanjutkan perlengkapan dalam gelapnya kamar mereka. Mereka tidak mau festivalnya batal karena ketahuan ada yang melanggar peraturan demi festival itu.
Untuk misteri kedua, ruangannya disediakan agak lebar karena harus ada tempat untuk meja-meja yang digunakan untuk boneka manekin. Di dindingnya dipasang juga beberapa foto seniman terkenal dengan kaca bingkainya yang sudah retak dan pecah. Fotonya diberikan cat-cat merah supaya terkesan horor. Lalu yang menjadi hantunya adalah Johan. Kepalanya memang dari dulu sudah botak licin.
Sebagai penanggung jawab bagian tata rias, hari ini Petra berniat untuk mengajari Marina yang mendapat tugas merias wajah Johan. Petra dijadikan penanggung jawab karena diantara teman-temannya dialah yang paling pintar merias. Petra membuka peralatan rias yang ia bawa dan mulai merias wajah Johan. Marina menyaksikannya dengan seksama. Lalu Petra membuat wajah Johan sangat putih, lebih mirip mayat daripada sebuah manekin. Tidak pas. Marina mengambil alih peralatan rias yang digunakan Petra. “sini biar kucoba,” ia memberika sentuhan warna krim agar mengembalikan warna kulitnya dan menebalkan warnanya disekitar lengkungan tulang pipi Johan. “nah, kalau begini?” hasilnya terlihat mirip dengan manekin yang berjajar disebelah kepala Johan. Bahkan Anne yang tak sengaja melihat wajah Johan langsung berteriak! “ya Tuhan, Johan! Kukira kau ini salah satu dari manekin-manekin itu! Aah kau mengejutkanku!” katanya sambil menutup wajah karena malu. Semuanya tertawa melihat Anne, padahal kalau Anne tidak seperti itu yang lain juga pasti terkejut.
“Anne saja ketakutan di siang bolong begini, gimana pelanggan nanti?” celoteh Johan sambil meledek Anne. Semuanya kagum melihat hasil kerja Marina, tak terkecuali Sally. “hebat! Pasti Petra yang mengajari ‘kan?” tanyanya. Marina menggeleng, “awalnya Petra merias wajahnya mirip mayat, pokoknya sama sekali tidak mirip manekin deh! Tapi ku ubah jadi seperti ini. Lebih bagus begini ‘kan? Pasti pelanggan tak akan ada yang menyangka kalau manekin yang ini sebenarnya manusia!” kata Marina sambil membanggakan diri. Kelasnya Sally memang dipenuhi orang-orang berbakat dibidangnya masing-masing. “ya sudah, kalau begitu aku akan mencari manekin lain,” kata Petra. Ia pun keluar kelas, meninggalkan Marina yang sedang dipuji-puji oleh temannya.
“itu semua hanya kebetulan! Kalau saja Anne tidak memperhatikan, pasti tidak akan ada yang memujinya dan kalau saja Anne melihatnya saat si Marina sok tau itu belum merubah riasanku, pasti yang lain akan memujiku!” gumamnya sepanjang jalan menuju ruang seni. Ia merasa tersinggung karena Marina tidak menghargai riasannya.
Saat di ruang seni kemarahan Petra semakin menjadi-jadi. Ia memukul meja, melempar manekin bahkan mendorong kursi. “SEHARUSNYA SI SOK HEBAT ITU BISA MENGHARGAIKU KARENA AKU LAH YANG MENGAJARINYA! DASAR SIAL!” teriaknya sambil memukul meja lagi. “awas saja! Akan kubuat malu dia! Peralatan riasnya yang murahan itu akan kurusak!” ia menendang lemari di depannya. Lemari rapuh itu goyang cukup hebat karena Petra menendangnya dengan sangat kuat. Tanpa ia sadari, ia telah membuat manekin diatas lemari itu jatuh dan menimpa kepalanya. Rasanya sakit sekali. Petra merintih kesakitan, dan saat ia menyentuh dahinya, dilihatlah olehnya darah mengucur dari sana. Ia tak kuat lagi berteriak dan akhirnya pingsan. Manekin yang jatuh itu menggelinding dan membentur lemari yang masih goyang itu. Hal itu membuat manekin yang lain berjatuhan dan menimpa tubuh dan kepala Petra. Akibatnya tubuh Petra memar-memar. Tak sedikit bagian yang tajam menggoreskan luka di kepala dan tubuhnya.
Sedangkan saat itu, di kelasnya, teman-temannya masih saja memuji Marina.
***
Sally merasakan sesuatu yang tidak beres terjadi pada Petra karena ia tak kunjung kembali. “mungkin ia tidak kuat membawa semuanya,” kata Eri setelah mendengar kecemasan Sally. “kalau benar begitu aku akan membantunya,” sambung Eri. “aku ikut!” mereka pun pergi menuju ruang seni bersama.
Betapa terkejutnya mereka melihat ruang seni yang begitu berantakan dan banyak barang-barang berserakan dimana-mana. Eri melihat sekelilingnya, ia tidak melihat Petra dimanapun. Sally semakin cemas, ia pun memanggil namanya. “Petra?” “………”
Tidak ada yang menjawab.
Perasaan Sally semakin tidak enak. “apa dia tidak ada disini? Tapi kenapa ruangannya berantakan begini?!” “mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa sebelum kita datang kesini,” mana mungkin tidak terjadi apa-apa kalau ruangannya berantakan begini! Itu yang dipikirkan Sally setelah mendengar ucapan Eri. “ya Tuhan! Petra kau dimana?!” ia berteriak tak karuan di ruangan yang berantakan itu. Tiba-tiba Eri ikut berteriak, “astaga Petra!!”
***
“mungkin tidak kalau semua ini adalah kutukan?” semuanya menatap ketakutan kearah Bani. Kelas yang hening itu hawanya semakin memburuk karenanya. “mana ada yang namanya kutukan!” bantah Sally. Jujur saja ia merasa takut karena bisa saja apa yang dikatakan Bani itu benar, tapi ia yakin kecelakaan itu bukan diakibatkan oleh cerita karangannya. “tapi dua kecelakaan yang telah terjadi memiliki kaitan dengan misteri yang kau ceritakan ‘kan? Bisa saja kalau kutukan telah menimpa kita karena kau mengungkit-ungkit ceritanya!” balas Bani. Tiba-tiba Lock berbicara dengan pelan, “apa yang kau ceritakan pada kami itu tidak sungguhan ‘kan, Sally?” “tentu saja tidak! Semua itu karanganku…!” Sally nyaris putus asa karena teman-temannya menatap dia seolah-olah tidak percaya padanya. Eri langsung menyikut Lock dan menatapnya dengan kesal. Lock mengerti maksudnya. “ahahaha. Benar juga! Mana mungkin cerita-cerita seperti itu terjadi di sekolah ini? ‘kan sekolah ini baru dibangun 3 tahun yang lalu. Hahahaha bodohnya aku! Maafkan aku ya Sally,” Sally hanya mengangguk.
Sally tidak tahan kalau dicurigai oleh teman-temannya. Untunglah Eri dan Lock berhasil meyakinkan teman-temannya dan mencairkan suasana tegang di kelasnya itu. Mereka juga sudah mengancam Bani untuk tidak menyinggung soal kutukan itu lagi. Bani orangnya penakut, jadi mudah diancam.
Saat semuanya sudah tenang kembali dan sibuk dengan aktifitasnya masing-masing, Bani tiba-tiba berbisik kearah Sally, “kau pasti sadar Sally, kalau yang kukatakan itu tidak salah.” Air mukanya serius. Lalu ia meninggalkan Sally yang terpaku karenanya. Kecelakaan yang menimpa kedua temannya itu sangat berpengaruh pada Sally. Ia merasa tidak enak badan. Lalu ia memutuskan untuk beristirahat sebentar di ruang kesehatan.
***
Tidak akan ada yang mengira bukan kalau ternyata Sally menyebabkan teman-temannya celaka? Tapi apa benar semua ini karena ceritanya? Tidak ada yang tau persis apa jawabannya.
Namun, perlahan-lahan Sally bisa merasakannya.
Bersambung.
0 comments:
Posting Komentar