Kamis, 09 April 2015

SODRIEW - Part 2



Part 2. Selamat menikmati informasi ini. Jangan lupa, cerita ini hampir fiksi.
             “Apakah selama ini aku salah?” Dalam hati Sarah bertanya. “Apa aku mau jatuh cinta? Apa aku siap untuk terluka?” Ia masih bertanya-tanya. Ketika ia bilang ia suka pada Awan, ia mengatakan yang sebenarnya. Tapi selama ini, ia menyangkal perasaannya sendiri. Dengan alasan: Cinta adalah ujian. Kita diuji, apakah akan tangguh, ataukah menjadi rapuh. Maka lebih baik dihindari agar tak tersakiti. Karena seringkali, cinta hanya membawa pada luka. “Kalau bukan karena perasaan seperti ini, aku takkan menjadi seperti ini.” Kini sebuah pernyataan. Sebelum sebuah pertanyaan sederhana ditanyakan: “Apa aku siap untuk mencintai?”
--
“Bagaimana rencana kita untuk mendekati Awan? Kamu sudah kepikiran?” Sarah bertanya penasaran. Tapi semangatnya entah kenapa terlihat palsu. Ia seolah ragu. “Aku sudah coba pikir, tapi enggak kepikiran yang keren. Hehe.” Katanya lagi.
“Naik pesawat.” Kata Arsa.
“Lalu terjun payung, ya?” Balas Sarah.
“Menurutku sederhana. Kamu dekati saja langsung. Orang seperti dia pasti mudah diajak bicara. Biang saja ada karya buatannya yang tidak kamu mengerti. Dia pasti mau menjelaskan. Dia ingin orang menerima apa yang ia kirim.” Kata Arsa.
“Lalu aku cukup mengobrol seperti biasa?” tanya Sarah.
“Kamu harus membuatnya tertarik. Kalau tidak, ia akan pergi.” Jelas Arsa. “Setelah kuamati, sebenarnya Awan orang yang sangat mudah bosan.” Tambahnya. “Maaf nih, Sar. Tapi menurutku, dia akan sulit diajak berteman. Awan itu menyendiri karena ia mau. Tidak sepertimu yang memiliki alasan. Ia hanya akan berkomunikasi ketika bosan.”
“Aku tau. Dan aku yakin, Awan punya alasan.” Kata Sarah. Kali ini dengan tenang.
“Nah! Tanyakan saja itu padanya. Seperti ‘apa sebabnya kamu menyendiri?’ Lalu ‘kamu pasti punya alasan, ‘kan?’ Lalu jelaskan sedikit tentang masalahmu. Kalau kamu sudah memberitahukan sesuatu, ia akan merasa tidak enak jika tidka memberikan apa-apa. Menurutku, sih.” Kata Arsa.
“Langsung saja kubilang kalau aku suka padanya!” Sarah bilang dengan polos. Saat itu Arsa bingung. Banyak hal yang ingin ia katakan. Ia sempat menganggap Sarah bodoh.
“Kamu ‘kan belum kenal dia? Belum pernah mengobrol, jalan, kenalan. Nanti kamu ditolak, lho.” Kata Arsa. “Lebih baik kamu kenalan dulu. Tanya saja seperti yang kubilang tadi. Begitu lebih… apa ya? Rapi.” Katanya lagi.
“Jadi aneh, Sa! Bayangkan saja tiba-tiba ada orang tak dikenal yang datang kepadamu dan menanyakan kenapa kamu menyendiri. Pasti kamu akan berpikir: ‘apaan sih?’ atau ‘orang ini kenapa’ atau ‘sok kenal banget, sih’. Iya ‘kan?” Kata Sarah.
“Tapi daripada tiba-tiba bilang suka? Kamu itu terkenal, Sar. Lagipula kamu pasti belum pernah cerita soal ini ke teman kamu ‘kan? Aneh juga kalau tiba-tiba kamu pacaran sama orang seperti itu.” Kata Arsa.
“Siapa bilang aku mau pacaran sama Awan? Aku cuma mau bilang suka, kok!” Sarah menjelaskan. “Menurutku, itu akan secara tidak langsung mempengaruhi pikirannya. Katanya kalau ada orang yang bilang suka ke kita, kita akan suka sama dia. Atau setidaknya akan berpikir ulang untuk menyukai orang lain.” Tambahnya. “Lagipula salah satu tujuanku menjadi aneh, adalah agar aku bisa melakukan apapun sesukaku. Aku melakukan ini pasti tidak banyak yang mempermasalahkan. Wajar kalau orang aneh melakukan hal aneh.”
“Hmm. Aneh.” Kata Arsa. “Tapi teori kamu masuk akal, sih. Kalau orang bilang suka ke orang, orangnya pasti terpikir tentang orang yang bilang suka ke orang itu. Lalu tanpa sengaja, pikiran-pikiran itu akan membentuk sebuah kesan. Akhirnya sulit untuk berhenti memikirkan orang itu. Begitu?” katanya lagi.
“Entahlah. Aku tak tau teorinya.” Kata Sarah. “Sudah sore, Sa. Aku mau pulang.” Sarah akhirnya menghentikan gerakan-gerakan aneh yang sejak tadi ia lakukan. Kini ia menaruh tangannya di samping rok abu-abunya. Lalu tanpa menunggu Arsa mengizinkan, ia lari agak melompat. Sambil bilang dengan agak berteriak: “Duluan yaa!”
“Yoo.” Kata Arsa.
Aneh.’ Pikir Arsa. ‘Padahal kalau dia mau dia bisa jadi normal. Aku masih tidak mengerti kenapa dia tidak mau disukai.’ Pikirnya lagi. ‘Sudahlah. Setiap orang punya hak.’ Arsa pun berhenti memikirkannya. Kembali tidak memikirkan apa-apa. Percakapan tadi pun sudah mulai ia lupakan. Seperti banyak percakapan lainnya. Tentu saja, tanpa ia sadari.
--
Sarah sudah berjalan. Membawa ransel biru melewati koridor. Disana ia teringat masa lalunya lagi. Potongan-potongan ingatan memunculkan kenangan. Sebuah wajah, sebuah suara. “Aku suka sama kamu.” Kata suara itu. Sarah tersenyum senang dan membalas. “Dan aku membencimu.”
--
Sangat mudah untuk mengajak Awan bicara. Yang dibutuhkan hanyalah keinginan. Awan selalu tersedia di bangkunya. Menulis dan menggambar. Memikirkan, walau lebih seringnya, terpikirkan sebuah karya. Tulisannya acak-acakan. Gambarnya tidak jelas karena tak pernah ia selesaikan. Dari semua karya yang ia buat, hanya sekitar 5% yang ia publish. Sisanya? Disembunyikan, ditutupi, bahkan dibuang. Alasannya sederhana. Ia tidak suka, atau ia malas menyelesaikannya.
Awan merasa sial karena sangat mudah menyukai seseorang. Cantik dan baik sedikit, ia akan penasaran dan kepikiran. Pintar sedikit, ia kagum. Perasaan ini seringkali ia jadikan inspirasi untuk karya. Dan banyak dari karya itu yang berakhir bagus.
Tetapi masalahnya, ia juga mudah kehilangan perasaannya. Biasanya hanya seminggu ia menyukai orang. Dan di minggu selanjutnya, akan ada orang lain tempat ia menaruh perasaannya. Karena itu, ia ragu. Awan tidak mau kecewa karena salah memilih. Ya. Awan memang pengecut. Ia mencari aman dan membenci tantangan. Egois, sombong, pemalas, dan tak mau repot. Ia hanya mau melakukan sesuatu yang ia mau. Awan sering bilang, dia tidak bisa percaya pada siapapun. Tapi kurasa ia bohong. Ia agak melankolis. Hanya itu.
--
Sarah adalah orang beruntung yang bisa hidup sesukanya. Batasan-batasan di dunia seolah tak menghalanginya; setidaknya untuk saat ini. Ia bisa melakukan apapun yang ia mau tanpa ada seorangpun yang protes. Sarah memang berada di posisi yang strategis. Posisi dimana ia menonjol tanpa dikenal, dekat padahal jauh. Orang-orang tidak bisa melakukan apa-apa pada orang sepertinya. Karena “terasa” ada jarak. Hanya itu. Dan karena suatu “hanya itu”, ia bisa mengatakan apa yang ia pikirkan pada Awan dengan santai. Ia memberitahukan perasaannya.
Di kelas yang berawan, hanya sendiri, Sarah masuk dan menjadikannya dua. Langkahnya yang ragu-ragu perlahan yakin. Dan sambil menatap Awan yang tertunduk mengamati buku bersampul gelap, Sarah bercakap. “Awan.” Katanya tanpa gagap. Kini Awan menoleh. “Ya?” katanya. Ia mengenal Sarah. “Sepertinya aku suka padamu.” Awan tersenyum. Ia merasa, setelah sekian lama, ia akan mengalami percakapan menarik.
“Kamu yakin?” tanya Awan. Pertanyaan bagus, menurutku.
“Sepertinya.” Sarah menjawab singkat.
“Lalu setelah ini, apa?” tanya Awan lagi. Pertanyaan yang bagus lagi. “Kamu mau kita berpacaran? Jalan-jalan, foto-foto, main-main, tertawa, saling tukar hadiah, dan seterusnya?” tambahnya.
“Tidak. Aku hanya ingin mengatakannya. Aku tidak punya rencana lain.” Kata Sarah. Ia begitu tenang saat itu. Suasana juga. Seolah sekolah dikosongkan. Lapangan, kelas, semuanya. Begitu sepi. Bahkan tidak terdengar suara angin. “Apa tak boleh?” Sarah bertanya.
“Aku tak berhak melarang. Tapi kalau aku menjadi kamu, aku tidak akan mengatakannya semudah itu.” Dan memang seharusnya tidak mengatakannya semudah itu. “Agak kaget juga sebenarnya. Sudah lama tidak ada yang mengatakan itu padaku. Dan aku sama sekali tidak menduga kalau kamu yang akan mengatakannya.” Karena siapa yang tidak mengenalmu? “Tapi, Sar,” Sarah tidak menyangka Awan mengenalnya. “Aku hanya mau melakukan hubungan seperti ini dengan satu cara.” Kata Awan. “Aku mau semuanya berjalan sesuai dengan takdir.” Lalu sepi.
Sarah menahan tawa. Ia tau Awan serius, tapi ia masih menganggap ini lucu. “Maksudnya?” tanyanya. Sarah bermaksud tampil tenang untuk saat itu, tapi aktingnya mulai goyah.
“Yaa aku mau semua berjalan dengan sendirinya. Aku hidup seperti biasa, dan aku akan berinteraksi seperti biasa, dan dengan biasa, aku akan bertemu dengan orang yang kucinta.” Dan saat ini belum. Dan sepertinya bukan kamu.
“Jadi kamu tidak mau mencari?”
“Aku tidak perlu mencari.”
“Dan menurutmu kamu tidak perlu berusaha?”
“Tidak ada yang perlu kuusahakan.” Kata Awan. “Kalau suatu saat nanti aku menemukan seseorang yang kucinta, yang membuatku mau meninggalkan semuanya untuknya, aku akan mengejarnya dengan seluruh kemampuanku. Dan sampai aku menemukannya, aku hanya perlu menunggu.” Tambahnya.
“Kalau tidak kau temukan?”
“Ya, sudah.”
Sarah terdiam. Kini ia sama sekali tak ingin tertawa. Ia tersenyum mengatakan: “Kalau begitu, kita berteman saja.”
“Oke.” Awan tersenyum. Kalau suatu saat nanti ada perasaan yang berubah, jadinya tidak masalah, ‘kan? Aku setuju.
Dan mereka pun berteman di dalam perbedaan. Ah, mungkin lebih tepatnya, karena perbedaan. Karena mereka suka perbedaan, atau cocok dengan perbedaan, dan tentunya, karena mereka berbeda. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk bersama. Mereka bertiga: Arsa, Sarah, dan Awan. Mereka saling berbagi pendapat, berdebat. Hampir setiap saat. Dan kini, mereka bertemu. Membicarakan sesuatu.
“Kita butuh rencana.” Awan membuka pembicaraan. “Kalau ‘grup’ kita tidak punya rencana yang jelas, kita akan bosan.” Tambahnya. “Sebenarnya aku suka dengan ‘rencana’ Sarah. Rencananya bagus, fleksibel. Tapi menurutku itu terlalu, apa ya? Abstrak. Kita harus membuatnya lebih terarah.” Tambahnya lagi.
“Memangnya aku punya rencana?” Sarah yang bingung bertanya.
Ini tidak seperti yang Awan perkirakan. “Jadi kamu tidak dengan sengaja melakukan semua itu? Maksudku, menjadi sedikit aneh, masuk banyak ekskul, dan sebagainya?” tanya Awan.
“Oh, itu.” Sarah mengerti. “Aku menjadi aneh hanya supaya tidak ada laki-laki yang suka padaku. Karena aku tidak suka memiliki rasa suka pada orang. Begitu!” Sarah menjawab dengan cepat.
“Soal ekskul? Ada alasannya?” Awan bertanya lagi.
“Karena aku tertarik. Yah, mungkin kalau aku masih ‘normal’, aku tidak akan melakukan ini meskipun aku tertarik. Tapi kalau seperti sekarang, aku melakukan ini juga tidak masalah.” Kata Sarah. “Memangnya kenapa kamu berpikir kalau itu adalah rencana?” tanya Sarah.
‘Berarti kamu beruntung.’ Pikir Awan. “Dari yang kulihat, hidupmu sangat nyaman. Kamu memiliki akses ke semua orang di sekolah ini. Kamu bisa meminta bantuan mereka sesukamu. Karena kamu teman mereka. Bagian dari mereka. Tapi mereka? Mereka tidak akan meminta bantuanmu. Karena kamu aneh. Mereka tidak menganggapmu sama dengan mereka.”
“Aku ada sekaligus tiada.” Sarah memotong.
“Yap. Mungkin aku berpikir agak terlalu jauh, tapi kurasa dengan kamu menjadi aneh, kamu secara alamiah sudah menyeleksi orang-orang disekitarmu.” Kata Awan. Dan Sarah juga berpikir begitu. “Karena..”
“Hanya orang baik, atau berbeda, yang mau berteman dengan orang aneh tanpa tujuan.” Sarah memotong lagi.
“Tepat. Rupanya kamu cerdas juga.” Awan bilang. Membuat Sarah tersenyum. “Tapi itu rencana Sarah. Aku tidak mau grup kita seperti itu. Mungkin dasarnya sama. Fleksibel, diantara ada dan tiada, tapi terlihat dan terkenal. Tapi kita harus menentukan tujuan. Jalan cerita seperti apa yang mau kita ambil.” Kata Awan dengan semangat.
Arsa tertarik dengan ini. Ia berpikir kalau memanipulasi grup dan dirinya sendiri untuk berjalan sesuai dengan jalan cerita yang ia buat akan menjadi sangat menarik. “Kita harus membuat sesuatu. Lalu harus gagal dan jatuh, lalu akan ada suatu hal yang mengajak kita berdiri kembali.” Katanya.
“Detailnya?” tanya Awan. Ia agak setuju.
“Mungkin kita bisa membuat ekskul?” kata Arsa.
Sarah kurang setuju. “Aku tidak mau jadi pendiri ekskul. Aku tidak mau dikenal.” Katanya.

“Kalau begitu kita buat saja ekskul yang takkan dikenal. Yang bekerja di balik layar. Di bayang-bayang. Tak terlihat.” Kata Arsa. “Kurasa tidak masalah.” Tambahnya. “Aku baru saja terpikir sebuah rencana untuk kita lakukan beberapa tahun ke depan. Dengarkan baik-baik. Ini akan menjadi rahasia grup kita.” Tambah Arsa untuk yang terakhir kalinya.

0 comments:

Posting Komentar

Hubungi kami :

Twitter : @APAksara

Email : apaksara3@gmail.com

HP : 085773226995

Instagram: kapas3.aksara

Twitter

Translator