Part 2. Selamat menikmati informasi ini. Jangan lupa, cerita ini hampir fiksi.“Apakah selama ini aku salah?” Dalam hati Sarah bertanya. “Apa aku mau jatuh cinta? Apa aku siap untuk terluka?” Ia masih bertanya-tanya. Ketika ia bilang ia suka pada Awan, ia mengatakan yang sebenarnya. Tapi selama ini, ia menyangkal perasaannya sendiri. Dengan alasan: Cinta adalah ujian. Kita diuji, apakah akan tangguh, ataukah menjadi rapuh. Maka lebih baik dihindari agar tak tersakiti. Karena seringkali, cinta hanya membawa pada luka. “Kalau bukan karena perasaan seperti ini, aku takkan menjadi seperti ini.” Kini sebuah pernyataan. Sebelum sebuah pertanyaan sederhana ditanyakan: “Apa aku siap untuk mencintai?”
--
“Bagaimana rencana kita untuk
mendekati Awan? Kamu sudah kepikiran?” Sarah bertanya penasaran. Tapi
semangatnya entah kenapa terlihat palsu. Ia seolah ragu. “Aku sudah coba pikir,
tapi enggak kepikiran yang keren. Hehe.” Katanya lagi.
“Naik pesawat.” Kata Arsa.
“Lalu terjun payung, ya?” Balas
Sarah.
“Menurutku sederhana. Kamu dekati
saja langsung. Orang seperti dia pasti mudah diajak bicara. Biang saja ada
karya buatannya yang tidak kamu mengerti. Dia pasti mau menjelaskan. Dia ingin
orang menerima apa yang ia kirim.” Kata Arsa.
“Lalu aku cukup mengobrol seperti
biasa?” tanya Sarah.
“Kamu harus membuatnya tertarik.
Kalau tidak, ia akan pergi.” Jelas Arsa. “Setelah kuamati, sebenarnya Awan
orang yang sangat mudah bosan.” Tambahnya. “Maaf nih, Sar. Tapi menurutku, dia
akan sulit diajak berteman. Awan itu menyendiri karena ia mau. Tidak sepertimu
yang memiliki alasan. Ia hanya akan berkomunikasi ketika bosan.”
“Aku tau. Dan aku yakin, Awan
punya alasan.” Kata Sarah. Kali ini dengan tenang.
“Nah! Tanyakan saja itu padanya.
Seperti ‘apa sebabnya kamu menyendiri?’ Lalu ‘kamu pasti punya alasan, ‘kan?’
Lalu jelaskan sedikit tentang masalahmu. Kalau kamu sudah memberitahukan
sesuatu, ia akan merasa tidak enak jika tidka memberikan apa-apa. Menurutku,
sih.” Kata Arsa.
“Langsung saja kubilang kalau aku
suka padanya!” Sarah bilang dengan polos. Saat itu Arsa bingung. Banyak hal
yang ingin ia katakan. Ia sempat menganggap Sarah bodoh.
“Kamu ‘kan belum kenal dia? Belum
pernah mengobrol, jalan, kenalan. Nanti kamu ditolak, lho.” Kata Arsa. “Lebih
baik kamu kenalan dulu. Tanya saja seperti yang kubilang tadi. Begitu lebih…
apa ya? Rapi.” Katanya lagi.
“Jadi aneh, Sa! Bayangkan saja
tiba-tiba ada orang tak dikenal yang datang kepadamu dan menanyakan kenapa kamu
menyendiri. Pasti kamu akan berpikir: ‘apaan sih?’ atau ‘orang ini kenapa’ atau
‘sok kenal banget, sih’. Iya ‘kan?” Kata Sarah.
“Tapi daripada tiba-tiba bilang
suka? Kamu itu terkenal, Sar. Lagipula kamu pasti belum pernah cerita soal ini
ke teman kamu ‘kan? Aneh juga kalau tiba-tiba kamu pacaran sama orang seperti
itu.” Kata Arsa.
“Siapa bilang aku mau pacaran
sama Awan? Aku cuma mau bilang suka, kok!” Sarah menjelaskan. “Menurutku, itu
akan secara tidak langsung mempengaruhi pikirannya. Katanya kalau ada orang
yang bilang suka ke kita, kita akan suka sama dia. Atau setidaknya akan
berpikir ulang untuk menyukai orang lain.” Tambahnya. “Lagipula salah satu
tujuanku menjadi aneh, adalah agar aku bisa melakukan apapun sesukaku. Aku
melakukan ini pasti tidak banyak yang mempermasalahkan. Wajar kalau orang aneh
melakukan hal aneh.”
“Hmm. Aneh.” Kata Arsa. “Tapi
teori kamu masuk akal, sih. Kalau orang bilang suka ke orang, orangnya pasti
terpikir tentang orang yang bilang suka ke orang itu. Lalu tanpa sengaja,
pikiran-pikiran itu akan membentuk sebuah kesan. Akhirnya sulit untuk berhenti
memikirkan orang itu. Begitu?” katanya lagi.
“Entahlah. Aku tak tau teorinya.”
Kata Sarah. “Sudah sore, Sa. Aku mau pulang.” Sarah akhirnya menghentikan
gerakan-gerakan aneh yang sejak tadi ia lakukan. Kini ia menaruh tangannya di
samping rok abu-abunya. Lalu tanpa menunggu Arsa mengizinkan, ia lari agak
melompat. Sambil bilang dengan agak berteriak: “Duluan yaa!”
“Yoo.” Kata Arsa.
‘Aneh.’ Pikir Arsa. ‘Padahal
kalau dia mau dia bisa jadi normal. Aku masih tidak mengerti kenapa dia tidak
mau disukai.’ Pikirnya lagi. ‘Sudahlah.
Setiap orang punya hak.’ Arsa pun berhenti memikirkannya. Kembali tidak
memikirkan apa-apa. Percakapan tadi pun sudah mulai ia lupakan. Seperti banyak
percakapan lainnya. Tentu saja, tanpa ia sadari.
--
Sarah sudah berjalan. Membawa
ransel biru melewati koridor. Disana ia teringat masa lalunya lagi.
Potongan-potongan ingatan memunculkan kenangan. Sebuah wajah, sebuah suara. “Aku suka sama kamu.” Kata suara itu.
Sarah tersenyum senang dan membalas. “Dan aku membencimu.”
--
Sangat mudah untuk mengajak Awan
bicara. Yang dibutuhkan hanyalah keinginan. Awan selalu tersedia di bangkunya.
Menulis dan menggambar. Memikirkan, walau lebih seringnya, terpikirkan sebuah
karya. Tulisannya acak-acakan. Gambarnya tidak jelas karena tak pernah ia
selesaikan. Dari semua karya yang ia buat, hanya sekitar 5% yang ia publish.
Sisanya? Disembunyikan, ditutupi, bahkan dibuang. Alasannya sederhana. Ia tidak
suka, atau ia malas menyelesaikannya.
Awan merasa sial karena sangat
mudah menyukai seseorang. Cantik dan baik sedikit, ia akan penasaran dan
kepikiran. Pintar sedikit, ia kagum. Perasaan ini seringkali ia jadikan
inspirasi untuk karya. Dan banyak dari karya itu yang berakhir bagus.
Tetapi masalahnya, ia juga mudah
kehilangan perasaannya. Biasanya hanya seminggu ia menyukai orang. Dan di
minggu selanjutnya, akan ada orang lain tempat ia menaruh perasaannya. Karena
itu, ia ragu. Awan tidak mau kecewa karena salah memilih. Ya. Awan memang pengecut.
Ia mencari aman dan membenci tantangan. Egois, sombong, pemalas, dan tak mau
repot. Ia hanya mau melakukan sesuatu yang ia mau. Awan sering bilang, dia
tidak bisa percaya pada siapapun. Tapi kurasa ia bohong. Ia agak melankolis.
Hanya itu.
--
Sarah adalah orang beruntung yang
bisa hidup sesukanya. Batasan-batasan di dunia seolah tak menghalanginya;
setidaknya untuk saat ini. Ia bisa melakukan apapun yang ia mau tanpa ada
seorangpun yang protes. Sarah memang berada di posisi yang strategis. Posisi
dimana ia menonjol tanpa dikenal, dekat padahal jauh. Orang-orang tidak bisa
melakukan apa-apa pada orang sepertinya. Karena “terasa” ada jarak. Hanya itu.
Dan karena suatu “hanya itu”, ia bisa mengatakan apa yang ia pikirkan pada Awan
dengan santai. Ia memberitahukan perasaannya.
Di kelas yang berawan, hanya
sendiri, Sarah masuk dan menjadikannya dua. Langkahnya yang ragu-ragu perlahan
yakin. Dan sambil menatap Awan yang tertunduk mengamati buku bersampul gelap,
Sarah bercakap. “Awan.” Katanya tanpa gagap. Kini Awan menoleh. “Ya?” katanya.
Ia mengenal Sarah. “Sepertinya aku suka padamu.” Awan tersenyum. Ia merasa,
setelah sekian lama, ia akan mengalami percakapan menarik.
“Kamu yakin?” tanya Awan.
Pertanyaan bagus, menurutku.
“Sepertinya.” Sarah menjawab
singkat.
“Lalu setelah ini, apa?” tanya
Awan lagi. Pertanyaan yang bagus lagi. “Kamu mau kita berpacaran? Jalan-jalan,
foto-foto, main-main, tertawa, saling tukar hadiah, dan seterusnya?” tambahnya.
“Tidak. Aku hanya ingin
mengatakannya. Aku tidak punya rencana lain.” Kata Sarah. Ia begitu tenang saat
itu. Suasana juga. Seolah sekolah dikosongkan. Lapangan, kelas, semuanya.
Begitu sepi. Bahkan tidak terdengar suara angin. “Apa tak boleh?” Sarah
bertanya.
“Aku tak berhak melarang. Tapi
kalau aku menjadi kamu, aku tidak akan mengatakannya semudah itu.” Dan memang seharusnya tidak mengatakannya
semudah itu. “Agak kaget juga sebenarnya. Sudah lama tidak ada yang
mengatakan itu padaku. Dan aku sama sekali tidak menduga kalau kamu yang akan
mengatakannya.” Karena siapa yang tidak
mengenalmu? “Tapi, Sar,” Sarah tidak menyangka Awan mengenalnya. “Aku hanya
mau melakukan hubungan seperti ini dengan satu cara.” Kata Awan. “Aku mau
semuanya berjalan sesuai dengan takdir.” Lalu sepi.
Sarah menahan tawa. Ia tau Awan
serius, tapi ia masih menganggap ini lucu. “Maksudnya?” tanyanya. Sarah
bermaksud tampil tenang untuk saat itu, tapi aktingnya mulai goyah.
“Yaa aku mau semua berjalan
dengan sendirinya. Aku hidup seperti biasa, dan aku akan berinteraksi seperti
biasa, dan dengan biasa, aku akan bertemu dengan orang yang kucinta.” Dan saat ini belum. Dan sepertinya bukan
kamu.
“Jadi kamu tidak mau mencari?”
“Aku tidak perlu mencari.”
“Dan menurutmu kamu tidak perlu
berusaha?”
“Tidak ada yang perlu
kuusahakan.” Kata Awan. “Kalau suatu saat nanti aku menemukan seseorang yang
kucinta, yang membuatku mau meninggalkan semuanya untuknya, aku akan
mengejarnya dengan seluruh kemampuanku. Dan sampai aku menemukannya, aku hanya
perlu menunggu.” Tambahnya.
“Kalau tidak kau temukan?”
“Ya, sudah.”
Sarah terdiam. Kini ia sama
sekali tak ingin tertawa. Ia tersenyum mengatakan: “Kalau begitu, kita berteman
saja.”
“Oke.” Awan tersenyum. Kalau suatu saat nanti ada perasaan yang
berubah, jadinya tidak masalah, ‘kan? Aku setuju.
Dan mereka pun berteman di dalam
perbedaan. Ah, mungkin lebih tepatnya, karena perbedaan. Karena mereka suka
perbedaan, atau cocok dengan perbedaan, dan tentunya, karena mereka berbeda.
Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk bersama. Mereka bertiga: Arsa, Sarah,
dan Awan. Mereka saling berbagi pendapat, berdebat. Hampir setiap saat. Dan
kini, mereka bertemu. Membicarakan sesuatu.
“Kita butuh rencana.” Awan
membuka pembicaraan. “Kalau ‘grup’ kita tidak punya rencana yang jelas, kita
akan bosan.” Tambahnya. “Sebenarnya aku suka dengan ‘rencana’ Sarah. Rencananya
bagus, fleksibel. Tapi menurutku itu terlalu, apa ya? Abstrak. Kita harus
membuatnya lebih terarah.” Tambahnya lagi.
“Memangnya aku punya rencana?”
Sarah yang bingung bertanya.
Ini tidak seperti yang Awan
perkirakan. “Jadi kamu tidak dengan sengaja melakukan semua itu? Maksudku,
menjadi sedikit aneh, masuk banyak ekskul, dan sebagainya?” tanya Awan.
“Oh, itu.” Sarah mengerti. “Aku
menjadi aneh hanya supaya tidak ada laki-laki yang suka padaku. Karena aku
tidak suka memiliki rasa suka pada orang. Begitu!” Sarah menjawab dengan cepat.
“Soal ekskul? Ada alasannya?”
Awan bertanya lagi.
“Karena aku tertarik. Yah,
mungkin kalau aku masih ‘normal’, aku tidak akan melakukan ini meskipun aku
tertarik. Tapi kalau seperti sekarang, aku melakukan ini juga tidak masalah.”
Kata Sarah. “Memangnya kenapa kamu berpikir kalau itu adalah rencana?” tanya
Sarah.
‘Berarti kamu beruntung.’ Pikir Awan. “Dari yang kulihat, hidupmu
sangat nyaman. Kamu memiliki akses ke semua orang di sekolah ini. Kamu bisa
meminta bantuan mereka sesukamu. Karena kamu teman mereka. Bagian dari mereka.
Tapi mereka? Mereka tidak akan meminta bantuanmu. Karena kamu aneh. Mereka
tidak menganggapmu sama dengan mereka.”
“Aku ada sekaligus tiada.” Sarah
memotong.
“Yap. Mungkin aku berpikir agak
terlalu jauh, tapi kurasa dengan kamu menjadi aneh, kamu secara alamiah sudah
menyeleksi orang-orang disekitarmu.” Kata Awan. Dan Sarah juga berpikir begitu.
“Karena..”
“Hanya orang baik, atau berbeda,
yang mau berteman dengan orang aneh tanpa tujuan.” Sarah memotong lagi.
“Tepat. Rupanya kamu cerdas
juga.” Awan bilang. Membuat Sarah tersenyum. “Tapi itu rencana Sarah. Aku tidak
mau grup kita seperti itu. Mungkin dasarnya sama. Fleksibel, diantara ada dan
tiada, tapi terlihat dan terkenal. Tapi kita harus menentukan tujuan. Jalan
cerita seperti apa yang mau kita ambil.” Kata Awan dengan semangat.
Arsa tertarik dengan ini. Ia
berpikir kalau memanipulasi grup dan dirinya sendiri untuk berjalan sesuai
dengan jalan cerita yang ia buat akan menjadi sangat menarik. “Kita harus
membuat sesuatu. Lalu harus gagal dan jatuh, lalu akan ada suatu hal yang
mengajak kita berdiri kembali.” Katanya.
“Detailnya?” tanya Awan. Ia agak
setuju.
“Mungkin kita bisa membuat
ekskul?” kata Arsa.
Sarah kurang setuju. “Aku tidak
mau jadi pendiri ekskul. Aku tidak mau dikenal.” Katanya.
“Kalau begitu kita buat saja
ekskul yang takkan dikenal. Yang bekerja di balik layar. Di bayang-bayang. Tak
terlihat.” Kata Arsa. “Kurasa tidak masalah.” Tambahnya. “Aku baru saja
terpikir sebuah rencana untuk kita lakukan beberapa tahun ke depan. Dengarkan
baik-baik. Ini akan menjadi rahasia grup kita.” Tambah Arsa untuk yang terakhir
kalinya.
0 comments:
Posting Komentar