Senin, 13 Juli 2015

Tak Seperti Biasanya


Alarm, secara umum dapat dideskripsikan sebagai sebuah bunyi peringatan atau pemberitahuan. Sangat janggal ketika beberapa tahun lalu aku menemukan fakta bahwa orang-orang pada masa dark-ages menyewa ‘tukang alarm’ untuk mengetuk jendela mereka dengan sebuah galah panjang supaya tidak telat memulai rutinitas pagi mereka sebagai ya kalau bukan bangsawan berarti petani, primitif sekali. Sementara di masa kini alarm sudah dimodifikasi sedemikian rupa dengan berbagai model, bahkan ada yang akan membuatmu mendonasikan uang dalam rekeningmu secara otomatis demi snooze 5 menit, alias mana ada orang yang mau beli barang merepotkan seperti itu.

            Lupakan semua penjelasan pembuka yang tak jelas itu, aku mengarahkan tanganku meraba meja nakas yang berada tepat di samping kasurku. Aku hanya berusaha membuka mataku yang masih menginginkan jatah tidur yang lebih banyak lagi. Sulit dipercaya bahwa rutinitas pagiku berawal dari mematikan alarm handphone, tak seperti biasanya.


Kemudian baru kusadari, benar kata orang bahwa seenak apapun lagu yang kau pasang dalam alarm bahkan meskipun itu lagu favoritmu sendiri, suara alarm adalah salah satu suara yang kau benci selain klakson mobil saat macet. Biasanya aku akan menertawakan Riko saat temanku yang konyol itu mengeluh soal alarm dan akupun segera melontarkan balasan bahwa dirinya yang pemalas saja yang susah bangun. Namun kini, aku berbalik menertawakan diriku sendiri kemudian meremas rambutku dengan frustasi. Seraya menghadapi pagiku, aku bangun dan melirik jam dinding yang menunjukan pukul 6 kemudian kembali menyadari kenyataan bahwa yang membangunkanku adalah bel alarm, bukan suara lembutnya. Tak seperti biasanya.

Tidurku, sangat amat nyenyak. Kasur ini terasa lebih lega, tak seperti biasanya. Sudah tidak ada dirinya yang suka diam-diam tidur di sampingku tanpa persetujuan apapun. Sekalipun sudah kukatakan bahwa sangat tidak etis bagi seorang perempuan untuk tidur bersama seorang lelaki remaja berusia 17 tahun, dia tetap berkeras kepala dan mengacuhkanku. Baginya, memelukku yang sedang tertidur sama saja mengurung kebahagiaan supaya tetap bersamaku. Karena dia tau bahwa aku teramat mencintainya.

            Selepas mencuci muka dan memastikan gigiku bersih dengan menggosoknya, aku segera berpakaian dengan tergesa karena menyadari mentari yang sudah semakin terang. Tanpa permisi memancarkan sinarnya, mencoba menerobos masuk melalui jendelaku yang masih belum mengijinkannya lolos karena tirai tertutup tanpa seorangpun yang berniat merentangkannya hingga terbuka lebar dan menyilaukan. Tak seperti biasanya.

            Aku bercermin di meja rias, memastikan tak ada yang kurang dari seragam SMA serta penampilanku. Aku menatap seorang refleksi di cermin, hey siapakah ini? Matanya terlihat kosong seperti humanoid yang tak berniat hidup. Apakah dia tak siap untuk melewati pagi tanpa sarapan? Dasar manja, kalau ingin sarapan kenapa bangun jam 6 pagi!

Tanpa lama-lama memerhatikan sosok menyedihkan di cermin, pandanganku beralih pada meja rias yang kosong. Hanya berisi sisir dan parfumku, tidak seperti biasanya. Kemudian lengkungan tipis menghiasi bibirku, begitu mataku tak luput dari sebuah botol parfum miliknya. Dia meninggalkannya dan aku menyimpannya, bukan perilaku kriminalkan? Hanya saja akan terlihat mengenaskan kalau-kalau suatu saat aku pasti ingin menghirup aroma parfum dengan botol norak khas cewek itu, mungkin karena rindu? Entahlah, aku tidak ingin seorangpun mengetahui bahwa aku masih berniat mengenangnya.

Selepas itu, langkah kaki ini menuntunku menuju dapur. Ingin mengambil setidaknya sebotol jus jeruk sebagai pengganjal perut dari kulkas. Sebuah nota post-it berwarna kuning tertempel disana,

“Mungkin ini salahku sehingga dia pergi. Maaf.
Uang sakumu ada diatas dispenser.
-Ayah-“

“Rasa percaya diri macam apa yang kau punya, hah? Aku bahkan tak menanggap kau punya urusan dengan dia, milikku.” aku mengambil uang sakuku dan segera memanggul tas, “Pria tua ini benar-benar tak tahu malu.”

***

            Jalanan begitu kosong, meskipun bukan secara harfiah. Begitu banyak orang berlalu lalang yang berjalan kaki sama sepertiku, namun aku tak yakin mereka mengalami kemalangan yang sama sepertiku. Dengan jelas aku memastikan hal itu seiring bermacam tatapan aneh yang intinya karena kasihan terus menerus terlontar untukku yang sedang berjalan lemas bagaikan seonggok daging yang diberi nyawa. Sedangkan bagiku, membalas tatapan mereka justru membuatku makin menyedihkan sehingga ragaku terus memaksa untuk tetap menunduk, memerhatikan langkah kakiku yang begitu statis serta kontur jalan yang sudah kuhapal rutenya tanpa perlu menoleh ke arah manapun.

            Ini begitu menyakitkan, pandangan orang-orang yang tak henti membanjiriku membuatku tersiksa. Hanya karena dirinya. Kenapa hanya karena dirinya? Berjalan sendirian menuju sekolah, tidak semenyenangkan biasanya. Bahkan begitu memasuki gerbang sekolah, berbagai pandangan orang yang bagiku tak tau apa-apa terus menggembur. Untuk sesaat aku merutuk gossip yang menyambar cepat seperti sumbu yang disulut api. Sesak, tatapan mata mereka terlalu menyesakkan. Tubuhku kaku dan aku merasa amat beruntung masih bisa berjalan menuju ruang kelas. Apa ini semua salahku kalau dia mencampakkanku? Mereka sama sekali tak tau apa yang kami hadapi. Tolong hentikan lirikan kalian yang penuh penghakiman itu, jangan memojokkanku. Kumohon. Jangan. Jangan seperti ini.

            Pintu kelas menjadi oasis di tengah para pandangan yang lebih menusuk dibanding terik matahari siang milik Sahara. Setidaknya untuk hari ini saja, aku ingin bersembunyi dari sekian pasang manik hitam yang seolah menghujaniku dengan opini mereka. Aku merasa senang anak-anak di kelas bertingkah seperti biasanya, cewek-cewek rumpi, beberapa cowok yang main game beberapa menit sebelum bel masuk, anak-anak mager yang sedang menyalin PR orang, ataupun si rajin yang sedang piket.

            Aku mencintai teman-teman sekelasku. Setidaknya mereka adalah para aktor dan aktris terbaik yang kutemui setelah hari itu. Kemampuan mereka untuk menyembunyikan diri dan bertingkah dalam kepura-puraan seolah tak ada satu hal yang berbeda yang telah terjadi. Atau mungkin, akulah yang terlalu merepotkan hal kecil. Hidup mereka tentu tak akan terganggu hanya karena pikiranku yang sedang terusik. Aku tersenyum tipis, tak heran dirinya selalu menegurku untuk berhenti berpikiran negatif namun akhirnya dirinyalah yang membuat relung hatiku berisi sanggahan atas hal positif.

            “Yo, Di! Tidur nyenyak?”

            Aku mengangguk lalu memastikan sosok yang menegurku itu, menengadahkan kepalaku yang tadinya menunduk saat membaca sebuah novel roman picisan demi mengisi waktu daripada melamun, “Lumayan, Mar.” balasku singkat sambil memberikan senyuman. Apa mataku tak salah? Ini kan Mario! Si anak warnet dan rental PS yang setiap hari kerjanya tidur di kelas. Seseorang yang hidup sekolahnya hanya untuk numpang tidur dan membicarakan game sedang menegurku? Setan dari Negara mana yang merasukinya? Mario yang tak seperti biasanya membuatku ingin mengantarnya ke UKS.

            “Pulang nanti mau ke rental bareng?” tanyanya dengan tatapan mata bersungguh-sungguh. Padahal terakhir kali dia mengajakku main, aku hanya jadi bahan cercaan karena kalah 15-0 saat main PES.

            “Sorry ya.. gak bisa.” jawabku berusaha sopan. Dia membalasnya dengan anggukan kecewa, “Kalo berubah pikiran, samperin kita-kita aja ya! Kita have fun bareng!” ajaknya sambil menunjuk ke anak-anak gamers yang sebenarnya tak mengubah jawabanku sama sekali.

            Sementara kini rasa gugupku muncul lagi, beberapa cewek melirikku dan begitu kupergoki mereka hanya memberikan senyuman malu-malu yang sama gugupnya denganku.

            Rupanya aku tidak sedang berpikiran negatif. Teman-teman sekelasku memang sedang melatih kemampuan bersandiwara mereka, tampaknya.

***


            Satu-satunya hal yang terlintas di pikiranku tentang bagaimana caranya menghabiskan waktu luang saat istirahat –yang tidak berguna itu- hanyalah dengan pergi ke tempat paling sepi di sekolah ini, perpustakaan. Aku mencari sudut yang paling terisolasi, dimana segala pandangan kebanyakan orang mencapai titik-buta saat mereka mencoba melirik ke sudut yang sedang kutempati ini. Aku kembali membaca novel roman picisanku yang sebenarnya tak seru-seru amat, tapi hanya inilah hal yang bisa membunuh waktuku dengan cepat saat ini.

            Dari tempatku, aku bisa memandang seorang gadis yang tak asing lagi bagiku. Namanya Miran, seorang gadis yang tak cuma modal tampang namun juga otak yang memadai. Dia cantik, pintar, punya kemampuan sosialisasi yang handal, namun yang terpenting adalah kebijaksanaan dan kelembutan yang jarang dimiliki oleh perempuan lain.

            Aku pernah menceritakan Miran padanya. Aku mengelak ketika dirinya menganggapku mencintai Miran. Soal suka, siapa yang tidak suka pada gadis sesempurna Miran? Hanya saja satu-satunya perempuan yang kupedulikan hanya dirinya. Aku mengutarakan bahwa aku telah menyayanginya tanpa peduli bagaimanapun dia, aku tak ingin mengubah hal apapun darinya. Sekalipun dia tampak aneh dengan seleranya pada pria, tapi aku selalu ada untuk melindunginya. Tak membiarkan pria lain menyakitinya tanpa melewatiku dulu.

            Namun dengan egonya, dia berkata mataku mengatakan bahwa yang kucintai adalah Miran. Dia pernah menatarku tentang hal cinta, orang sepertinya yang bahkan tak punya pria lain selainku mengatakan bahwa cinta adalah bentuk pengaguman. Orang yang kau cintai harus memiliki kelebihan yang tak kau punya, sehingga kau bisa meniru kebaikannya. Miran memiliki sejuta kelebihan, namun setelah penjelasannya yang sok tahu itu, aku semakin sadar bahwa tak ayal lagi mengapa aku mencintai segala macam ketegaran dirinya.

            “Dio~” Miran menghampiriku! Gadis yang satu ini benar-benar kelewatan cerdas karena berhasil menangkap hawa keberadaanku yang sangat tipis ini. Lidahku kelu dan berpura-pura fokus pada novelku dan hanya membalas sapaannya dengan anggukan kecil.

            Miran menyelisik sampul buku yang kubaca, airmukanya berubah sumringah karena senang, “Dio, darimana dapet novel kayak gini? Bukannya ini cetakan lama? Bahkan mamaku punya lho! Tapi sudah hilang.”

            Aku tak membalasnya dengan begitu berarti kecuali ucapan ‘iya’. Entah kenapa, wajahnya justru berubah menjadi kecewa, “Maafkan aku.”

            “Minta maaf untuk apa?”

            “Hm.. hanya mengira kalau aku mengganggumu. Selamat membaca ya! Boleh kupinjam kalau kau sudah selesai?”

            Aku membalasnya dengan gelengan. Gadis itu tak tau apa berharganya buku ini bagiku.

***

            Riko itu gila atau apa. Sepanjang hari aku sendirian dan seolah menjadi pendiam karena tidak ada dia. Aku benar-benar tak mengerti bagaimana pola pikir anak orang kaya. Kalau aku tak lupa tanggalan, maka tak salah lagi kalau 1 bulan lagi adalah Ujian Kenaikan Kelas. Tapi dia malah sedang asik menginap di villa Puncak milik orangtuanya dengan alasan merayakan ulang tahun adiknya yang baru lulus TK itu.

            Aku tak henti-hentinya habis pikir olehnya karena bunyi telepon yang berdering beberapa menit lalu yang kukira dari mas-mas PHD yang telat mengirimkan pesananku namun ternyata darinya yang bilang dia sudah pulang. Alasannya pun tak masuk akal, dia bilang dia pulang duluan dan hampir nyusruk saat turunan hanya karena takut aku marah padanya. Sekarang bel apartemenku berbunyi dan mengharuskanku bangun dari sofa ruang TV dan membukakannya.

            “Siang, mas!” sapanya sambil mengumbar cengiran khas yang menggelikan.

Aku mempersilakan masuk kemudian melirik hal yang aneh dalam genggaman tangannya, “Ngapain bawa bunga segala?”

“Sudahlah, Di. Setidaknya suguhkan aku minum dulu.”

Aku masih memandanginya, menuntut jawaban lebih banyak.

“Oke, oke. Anggap aja karena aku tak bisa datang kemarin. Puas?”

Aku tersenyum lebar dan menangguk. Dengan seenak hati, sahabatku langsung duduk di kursi ruang tamu dan melirik vas yang kosong, kemudian mengisinya dengan es batu dan air dingin di kulkas. Sehingga kini dia tepat berada di sampingku yang sedang menyeduh dua cangkir teh.

“Kemarin ayahmu hadir?” tanyanya sok penasaran namun tak mengusikku sama sekali. Berhubung keakraban kami sudah seperti berasal dari satu rahim saja.

“Ya, lengkap dengan muka sok sedih.” balasku dengan jutek yang disusul dengan tawa garingnya.

“Hey, novel ini~” Riko terlihat antuasias begitu melirik keatas dispenser dan ingin meraih benda yang menarik perhatiannya, “Ibuku juga punya loh!”

“Jangan sentuh! Punya ibuku!” ucapku judes dan setelah itu tersenyum iseng.

“Sepertinya memang terkenal bagi cewek-cewek angkatan mereka.”

Begitu aku selesai dengan teh dan Riko yang kelar dengan acara mengisi vas demi bunganya yang tak kuminta itu, kami bersama-sama ke ruang tamu dan merebahkan diri di sofa. Aku merasa lebih tenang karena Riko ada disini, mungkin hari ini dan beberapa hari ke depan aku akan memohon-mohon kepadanya supaya mau menginap di rumahku. Tapi begitu kulirik sohibku –yang kadang punya kendala otak yang sulit dipahami- ekspresinya berubah dingin dan frustasi.

“Di, berhenti sok tegar. Aku benci kau yang seperti ini.”

“…..”

Riko kini sibuk menempatkan seikat bunga-bunga yang tadi di bawanya.

“Ceritakan semuanya. Perselingkuhan ayahmu yang kurang ajar itu.”

“…”

Aku memerhatikan dengan detail satu persatu kuntum bunga berwarna putih itu, Lily putih…

“Yang berujung ibumu tak dipedulikan sama sekali dan berakhir dengan…”

“…”

…simbol simpati atas kematian.


“Bunuh diri.”

0 comments:

Posting Komentar

Hubungi kami :

Twitter : @APAksara

Email : apaksara3@gmail.com

HP : 085773226995

Instagram: kapas3.aksara

Twitter

Translator