Alarm, secara umum dapat dideskripsikan sebagai
sebuah bunyi peringatan atau pemberitahuan. Sangat janggal ketika beberapa
tahun lalu aku menemukan fakta bahwa orang-orang pada masa dark-ages menyewa ‘tukang
alarm’ untuk mengetuk jendela mereka dengan sebuah galah panjang supaya
tidak telat memulai rutinitas pagi mereka sebagai ya kalau bukan bangsawan
berarti petani, primitif sekali. Sementara di masa kini alarm sudah
dimodifikasi sedemikian rupa dengan berbagai model, bahkan ada yang akan
membuatmu mendonasikan uang dalam rekeningmu secara otomatis demi snooze 5
menit, alias mana ada orang yang mau beli barang merepotkan seperti itu.
Lupakan
semua penjelasan pembuka yang tak jelas itu, aku mengarahkan tanganku meraba
meja nakas yang berada tepat di samping kasurku. Aku hanya berusaha membuka
mataku yang masih menginginkan jatah tidur yang lebih banyak lagi. Sulit
dipercaya bahwa rutinitas pagiku berawal dari mematikan alarm handphone, tak seperti
biasanya.
Kemudian baru kusadari,
benar kata orang bahwa seenak apapun lagu yang kau pasang dalam alarm bahkan
meskipun itu lagu favoritmu sendiri, suara alarm adalah salah satu suara yang
kau benci selain klakson mobil saat macet. Biasanya aku akan menertawakan Riko
saat temanku yang konyol itu mengeluh soal alarm dan akupun segera melontarkan balasan
bahwa dirinya yang pemalas saja yang susah bangun. Namun kini, aku berbalik
menertawakan diriku sendiri kemudian meremas rambutku dengan frustasi. Seraya
menghadapi pagiku, aku bangun dan melirik jam dinding yang menunjukan pukul 6
kemudian kembali menyadari kenyataan bahwa yang membangunkanku adalah bel
alarm, bukan suara lembutnya. Tak seperti biasanya.
Tidurku, sangat amat
nyenyak. Kasur ini terasa lebih lega, tak seperti biasanya. Sudah tidak ada
dirinya yang suka diam-diam tidur di sampingku tanpa persetujuan apapun.
Sekalipun sudah kukatakan bahwa sangat tidak etis bagi seorang perempuan untuk
tidur bersama seorang lelaki remaja berusia 17 tahun, dia tetap berkeras kepala
dan mengacuhkanku. Baginya, memelukku yang sedang tertidur sama saja mengurung
kebahagiaan supaya tetap bersamaku. Karena dia tau bahwa aku teramat
mencintainya.
Selepas
mencuci muka dan memastikan gigiku bersih dengan menggosoknya, aku segera
berpakaian dengan tergesa karena menyadari mentari yang sudah semakin terang. Tanpa
permisi memancarkan sinarnya, mencoba menerobos masuk melalui jendelaku yang
masih belum mengijinkannya lolos karena tirai tertutup tanpa seorangpun yang
berniat merentangkannya hingga terbuka lebar dan menyilaukan. Tak seperti
biasanya.
Aku
bercermin di meja rias, memastikan tak ada yang kurang dari seragam SMA serta
penampilanku. Aku menatap seorang refleksi di cermin, hey siapakah ini? Matanya
terlihat kosong seperti humanoid yang
tak berniat hidup. Apakah dia tak siap untuk melewati pagi tanpa sarapan? Dasar
manja, kalau ingin sarapan kenapa bangun jam 6 pagi!
Tanpa lama-lama
memerhatikan sosok menyedihkan di cermin, pandanganku beralih pada meja rias
yang kosong. Hanya berisi sisir dan parfumku, tidak seperti biasanya. Kemudian
lengkungan tipis menghiasi bibirku, begitu mataku tak luput dari sebuah botol
parfum miliknya. Dia meninggalkannya dan aku menyimpannya, bukan perilaku
kriminalkan? Hanya saja akan terlihat mengenaskan kalau-kalau suatu saat aku
pasti ingin menghirup aroma parfum dengan botol norak khas cewek itu, mungkin
karena rindu? Entahlah, aku tidak ingin seorangpun mengetahui bahwa aku masih
berniat mengenangnya.
Selepas itu, langkah
kaki ini menuntunku menuju dapur. Ingin mengambil setidaknya sebotol jus jeruk
sebagai pengganjal perut dari kulkas. Sebuah nota post-it berwarna kuning tertempel disana,
“Mungkin ini salahku sehingga dia
pergi. Maaf.
Uang sakumu ada diatas dispenser.
-Ayah-“
“Rasa percaya diri
macam apa yang kau punya, hah? Aku bahkan tak menanggap kau punya urusan dengan
dia, milikku.” aku mengambil uang sakuku dan segera memanggul tas, “Pria tua
ini benar-benar tak tahu malu.”
***
Jalanan
begitu kosong, meskipun bukan secara harfiah. Begitu banyak orang berlalu
lalang yang berjalan kaki sama sepertiku, namun aku tak yakin mereka mengalami
kemalangan yang sama sepertiku. Dengan jelas aku memastikan hal itu seiring
bermacam tatapan aneh yang intinya karena kasihan terus menerus terlontar
untukku yang sedang berjalan lemas bagaikan seonggok daging yang diberi nyawa.
Sedangkan bagiku, membalas tatapan mereka justru membuatku makin menyedihkan
sehingga ragaku terus memaksa untuk tetap menunduk, memerhatikan langkah kakiku
yang begitu statis serta kontur jalan yang sudah kuhapal rutenya tanpa perlu
menoleh ke arah manapun.
Ini
begitu menyakitkan, pandangan orang-orang yang tak henti membanjiriku membuatku
tersiksa. Hanya karena dirinya. Kenapa hanya karena dirinya? Berjalan sendirian
menuju sekolah, tidak semenyenangkan biasanya. Bahkan begitu memasuki gerbang
sekolah, berbagai pandangan orang yang bagiku tak tau apa-apa terus menggembur.
Untuk sesaat aku merutuk gossip yang menyambar cepat seperti sumbu yang disulut
api. Sesak, tatapan mata mereka terlalu menyesakkan. Tubuhku kaku dan aku
merasa amat beruntung masih bisa berjalan menuju ruang kelas. Apa ini semua
salahku kalau dia mencampakkanku? Mereka sama sekali tak tau apa yang kami
hadapi. Tolong hentikan lirikan kalian yang penuh penghakiman itu, jangan memojokkanku.
Kumohon. Jangan. Jangan seperti ini.
Pintu
kelas menjadi oasis di tengah para pandangan yang lebih menusuk dibanding terik
matahari siang milik Sahara. Setidaknya untuk hari ini saja, aku ingin
bersembunyi dari sekian pasang manik hitam yang seolah menghujaniku dengan
opini mereka. Aku merasa senang anak-anak di kelas bertingkah seperti biasanya,
cewek-cewek rumpi, beberapa cowok yang main game
beberapa menit sebelum bel masuk, anak-anak mager
yang sedang menyalin PR orang, ataupun si rajin yang sedang piket.
Aku
mencintai teman-teman sekelasku. Setidaknya mereka adalah para aktor dan aktris
terbaik yang kutemui setelah hari itu. Kemampuan mereka untuk menyembunyikan
diri dan bertingkah dalam kepura-puraan seolah tak ada satu hal yang berbeda yang
telah terjadi. Atau mungkin, akulah yang terlalu merepotkan hal kecil. Hidup
mereka tentu tak akan terganggu hanya karena pikiranku yang sedang terusik. Aku
tersenyum tipis, tak heran dirinya selalu menegurku untuk berhenti berpikiran
negatif namun akhirnya dirinyalah yang membuat relung hatiku berisi sanggahan
atas hal positif.
“Yo,
Di! Tidur nyenyak?”
Aku
mengangguk lalu memastikan sosok yang menegurku itu, menengadahkan kepalaku
yang tadinya menunduk saat membaca sebuah novel roman picisan demi mengisi
waktu daripada melamun, “Lumayan, Mar.” balasku singkat sambil memberikan
senyuman. Apa mataku tak salah? Ini kan Mario! Si anak warnet dan rental PS
yang setiap hari kerjanya tidur di kelas. Seseorang yang hidup sekolahnya hanya
untuk numpang tidur dan membicarakan game sedang menegurku? Setan dari Negara
mana yang merasukinya? Mario yang tak seperti biasanya membuatku ingin
mengantarnya ke UKS.
“Pulang
nanti mau ke rental bareng?” tanyanya dengan tatapan mata bersungguh-sungguh.
Padahal terakhir kali dia mengajakku main, aku hanya jadi bahan cercaan karena
kalah 15-0 saat main PES.
“Sorry ya.. gak bisa.” jawabku berusaha
sopan. Dia membalasnya dengan anggukan kecewa, “Kalo berubah pikiran, samperin
kita-kita aja ya! Kita have fun
bareng!” ajaknya sambil menunjuk ke anak-anak gamers yang sebenarnya tak mengubah jawabanku sama sekali.
Sementara
kini rasa gugupku muncul lagi, beberapa cewek melirikku dan begitu kupergoki
mereka hanya memberikan senyuman malu-malu yang sama gugupnya denganku.
Rupanya
aku tidak sedang berpikiran negatif. Teman-teman sekelasku memang sedang
melatih kemampuan bersandiwara mereka, tampaknya.
***
Satu-satunya
hal yang terlintas di pikiranku tentang bagaimana caranya menghabiskan waktu
luang saat istirahat –yang tidak berguna itu- hanyalah dengan pergi ke tempat
paling sepi di sekolah ini, perpustakaan. Aku mencari sudut yang paling
terisolasi, dimana segala pandangan kebanyakan orang mencapai titik-buta saat
mereka mencoba melirik ke sudut yang sedang kutempati ini. Aku kembali membaca
novel roman picisanku yang sebenarnya tak seru-seru amat, tapi hanya inilah hal
yang bisa membunuh waktuku dengan cepat saat ini.
Dari
tempatku, aku bisa memandang seorang gadis yang tak asing lagi bagiku. Namanya
Miran, seorang gadis yang tak cuma modal tampang namun juga otak yang memadai.
Dia cantik, pintar, punya kemampuan sosialisasi yang handal, namun yang
terpenting adalah kebijaksanaan dan kelembutan yang jarang dimiliki oleh
perempuan lain.
Aku
pernah menceritakan Miran padanya. Aku mengelak ketika dirinya menganggapku
mencintai Miran. Soal suka, siapa yang tidak suka pada gadis sesempurna Miran?
Hanya saja satu-satunya perempuan yang kupedulikan hanya dirinya. Aku
mengutarakan bahwa aku telah menyayanginya tanpa peduli bagaimanapun dia, aku
tak ingin mengubah hal apapun darinya. Sekalipun dia tampak aneh dengan
seleranya pada pria, tapi aku selalu ada untuk melindunginya. Tak membiarkan
pria lain menyakitinya tanpa melewatiku dulu.
Namun
dengan egonya, dia berkata mataku mengatakan bahwa yang kucintai adalah Miran.
Dia pernah menatarku tentang hal cinta, orang sepertinya yang bahkan tak punya
pria lain selainku mengatakan bahwa cinta adalah bentuk pengaguman. Orang yang
kau cintai harus memiliki kelebihan yang tak kau punya, sehingga kau bisa
meniru kebaikannya. Miran memiliki sejuta kelebihan, namun setelah
penjelasannya yang sok tahu itu, aku semakin sadar bahwa tak ayal lagi mengapa
aku mencintai segala macam ketegaran dirinya.
“Dio~”
Miran menghampiriku! Gadis yang satu ini benar-benar kelewatan cerdas karena
berhasil menangkap hawa keberadaanku yang sangat tipis ini. Lidahku kelu dan
berpura-pura fokus pada novelku dan hanya membalas sapaannya dengan anggukan
kecil.
Miran
menyelisik sampul buku yang kubaca, airmukanya berubah sumringah karena senang,
“Dio, darimana dapet novel kayak gini? Bukannya ini cetakan lama? Bahkan mamaku
punya lho! Tapi sudah hilang.”
Aku
tak membalasnya dengan begitu berarti kecuali ucapan ‘iya’. Entah kenapa, wajahnya justru berubah menjadi kecewa,
“Maafkan aku.”
“Minta
maaf untuk apa?”
“Hm..
hanya mengira kalau aku mengganggumu. Selamat membaca ya! Boleh kupinjam kalau
kau sudah selesai?”
Aku
membalasnya dengan gelengan. Gadis itu tak tau apa berharganya buku ini bagiku.
***
Riko
itu gila atau apa. Sepanjang hari aku sendirian dan seolah menjadi pendiam
karena tidak ada dia. Aku benar-benar tak mengerti bagaimana pola pikir anak
orang kaya. Kalau aku tak lupa tanggalan, maka tak salah lagi kalau 1 bulan
lagi adalah Ujian Kenaikan Kelas. Tapi dia malah sedang asik menginap di villa
Puncak milik orangtuanya dengan alasan merayakan ulang tahun adiknya yang baru
lulus TK itu.
Aku
tak henti-hentinya habis pikir olehnya karena bunyi telepon yang berdering
beberapa menit lalu yang kukira dari mas-mas PHD yang telat mengirimkan
pesananku namun ternyata darinya yang bilang dia sudah pulang. Alasannya pun
tak masuk akal, dia bilang dia pulang duluan dan hampir nyusruk saat turunan hanya karena takut aku marah padanya. Sekarang
bel apartemenku berbunyi dan mengharuskanku bangun dari sofa ruang TV dan
membukakannya.
“Siang,
mas!” sapanya sambil mengumbar
cengiran khas yang menggelikan.
Aku mempersilakan masuk
kemudian melirik hal yang aneh dalam genggaman tangannya, “Ngapain bawa bunga
segala?”
“Sudahlah, Di.
Setidaknya suguhkan aku minum dulu.”
Aku masih
memandanginya, menuntut jawaban lebih banyak.
“Oke, oke. Anggap aja
karena aku tak bisa datang kemarin. Puas?”
Aku tersenyum lebar dan
menangguk. Dengan seenak hati, sahabatku langsung duduk di kursi ruang tamu dan
melirik vas yang kosong, kemudian mengisinya dengan es batu dan air dingin di
kulkas. Sehingga kini dia tepat berada di sampingku yang sedang menyeduh dua
cangkir teh.
“Kemarin ayahmu hadir?”
tanyanya sok penasaran namun tak mengusikku sama sekali. Berhubung keakraban
kami sudah seperti berasal dari satu rahim saja.
“Ya, lengkap dengan
muka sok sedih.” balasku dengan jutek yang disusul dengan tawa garingnya.
“Hey, novel ini~” Riko
terlihat antuasias begitu melirik keatas dispenser dan ingin meraih benda yang
menarik perhatiannya, “Ibuku juga punya loh!”
“Jangan sentuh! Punya
ibuku!” ucapku judes dan setelah itu tersenyum iseng.
“Sepertinya memang
terkenal bagi cewek-cewek angkatan mereka.”
Begitu aku selesai
dengan teh dan Riko yang kelar dengan acara mengisi vas demi bunganya yang tak
kuminta itu, kami bersama-sama ke ruang tamu dan merebahkan diri di sofa. Aku
merasa lebih tenang karena Riko ada disini, mungkin hari ini dan beberapa hari
ke depan aku akan memohon-mohon kepadanya supaya mau menginap di rumahku. Tapi
begitu kulirik sohibku –yang kadang punya kendala otak yang sulit dipahami-
ekspresinya berubah dingin dan frustasi.
“Di, berhenti sok
tegar. Aku benci kau yang seperti ini.”
“…..”
Riko kini sibuk
menempatkan seikat bunga-bunga yang tadi di bawanya.
“Ceritakan semuanya.
Perselingkuhan ayahmu yang kurang ajar itu.”
“…”
Aku memerhatikan dengan
detail satu persatu kuntum bunga berwarna putih itu, Lily putih…
“Yang berujung ibumu
tak dipedulikan sama sekali dan berakhir dengan…”
“…”
…simbol simpati atas
kematian.
“Bunuh diri.”
0 comments:
Posting Komentar