Sabtu, 03 Februari 2018

Bhavana Eunoia - Kopi & Impian



Hidup, digambarkan dengan banyak hal. Ada yang menggambarkannya seperti roda. Di mana kita terkadang di atas dan terkadang di bawah. Ada juga yang menggambarkannya sebagai perahu kertas yang dihanyutkan di sungai atau selokan. Mengikuti arus lalu perlahan basah dan kita tenggelam. Begitu banyak yang menggambarkan hidup.

Aku sendiri menggambarkan hidup sebagai secangkir kopi. Secangkir kopi yang disajikan di mana-mana—kafe, warung kopi atau bahkan di meja makan di rumah—telah melewati proses yang panjang. Mulai dari penyemaian, pembibitan, penanaman dan lain-lain. Saat diolah menjadi bubuk kopi juga bukan hal yang singkat. Maka kugambarkan hidup seperti secangkir kopi, yang melewati proses panjang sebelum disajikan di atas meja mana pun. Karena, kopi adalah bagian dari hidupku.

***

Kehidupanku berlanjut, teman-temanku menjalani hidupnya, Dhea pergi ke Paris dan belum memberi kabar. Aku mencoba melanjutkan hidupku. Kata orang hidup menjadi sarjana di masa kini adalah hal yang sulit, ralat sangat sulit. Namun, jika aku menganggap sulit mungkin perjalananku tidak akan mudah—memang tidak akan mudah—maka kuanggap mudah saja.

Hal pertama yang kubuat setelah lulus adalah perencanaan. Aku membuat daftar apa saja yang harus kulakukan. Di paling atas tertulis memiliki penghasilan. Itu salah satu yang penting sebelum aku merencanakan memiliki kafeku sendiri yang tentu memiliki proses yang panjang. Menjadi lulusan manajemen dan bisnis aku harus bisa menerapkan apa yang telah lama kupelajari.

        “Ibu, ada saran pekerjaan apa yang harus kucari untuk saat seperti ini?” tanyaku.

        “Katanya kamu mau buat kedai kopi,” balasnya.

        “kan perlu modal, bu. Hanif mau mengumpulkan modalnya dulu,” kataku.

        “Mau yang seperti apa?” tanyanya.

       “Apa saja, asal aku bisa mendapat uang untuk beberapa bulan ini,” jawabku.

       “Tukang sapu jalanan, asongan, atau kamu bisa melanjutkan usaha nasi uduk ibu sebentar,” katanya.

Aku berpikir sejenak. Sebenarnya tidak masalah dengan semua itu. Dengan memiliki banyak pekerjaan sekaligus aku bisa menambah pemasukanku. Dengan begitu modal akan cepat terkumpul. Aku membutuhkan modal untuk sarana prasarana dan lain-lain. Untuk tempat aku akan menggunakan rumah yang selama kuliah kutempati.

        “Akan kuambil semuanya.” Aku telah memutuskan.

        “Lah, gimana mau tiga-tiganya toh.” Ibuku terlihat kaget.

        “Untuk nasi uduk, ibu yang masak Hanif yang jual. Setelah itu hanif akan menjadi pedagang asongan di terminal atau jalanan lalu sorenya akan menjadi tukang sapu jalanan,” kataku.

        “Kalau kamu dapat shift pagi nyapu jalanan bagaimana?” tanyanya.

        “Aku tinggal memutarnya,” kataku.

        “Baiklah, ibu hubungi teman ibu yang katanya perlu orang,” katanya.

        Aku tersenyum, “terima kasih.”

***

Aku benar-benar melakukan semuanya. Saat pagi aku menyiapkan nasi uduk ibuku. Beliau memberitahu berapa takaran-takarannya dan apa saja yang harus kulakukan. Aku mengerti dengan cepat. Aku melayani pembeli yang datang. Walaupun tidak secekatan ibuku aku bisa melakukannya.

Beberapa temanku yang ikut membeli kaget melihatku. Mereka bertanya mengapa aku tidak mencoba melamar pekerjaan di perusahaan besar karena aku berkompeten. Aku bilang ingin mulai dari bawah dan menerapkan ilmuku untuk perusahaanku sendiri. Saat aku tanya apa mereka sudah punya pekerjaan mereka menjawab sedang mengusahakannya. Aku tersenyum, hidup memang penuh perjuangan.

Setelah nasi udukku—ibuku—habis aku segera menyerahkan uangnya ke Ibuku untuk dibagi nantinya. Setelah mandi dan bersiap-siap aku segera menuju ke terminal. Di bawah terik matahari dan kerumunan mobil yang berlalu lalang aku menawarkan minuman segar. Hanya ini yang bisa kuperjualbelikan.

Tidak kusangka ternyata cukup berat. Matahari sangat terik hari ini. Panasnya membakar permukaan jalan dan manusia yang beraktifitas di atasnya. Keringatku sudah banyak bercucuran padahal baru sebentar. Namun, kucoba untuk bertahan. Ini pilihanku dan harus kujalani dengan sebaik mungkin.

Setelah matahari melewati kepalaku dan tergelincir di barat, aku segera mandi dan berganti pakaian lagi. Menemui orang yang akan mempekerjakanku sebagai tukang sapu jalanan. Dia memiliki garis wajah yang tegas, rahang yang terlihat kuat dan badan yang tegap. Kurasa kerasnya kehidupan telah memberinya banyak pelajaran.

        “Jadi ini yang namanya Hanif?” tanyanya. Aku mengangguk.

        “Tidak terlihat kuat, kurus kering begini, bisa apa kamu?” komentarnya lagi.

        “Eee, eto ak—“

        “Ah sudah tak usah dipikirkan. Cepat ambil peralatanmu bergabung dengan tim A, bersihkan kota di bagian barat sektor satu sampai lima!” ujarnya tegas.

        “Siap pak!” aku segera berlari ke ruang peralatan lalu kembali ke lapangan depan untuk bergabung dengan yang lain. Tidak kusangka bersih-bersih kota saja bergaya kemiliteran.

***

Aku menatap tumpukan kertas—yang terlihat berantakan—di hadapanku. Aku telah membuat perhitungan dan ternyata tidak mungkin dapat kupenuhi dalam waktu yang telah kutentukan. Ini sudah hari ketiga puluh lima semenjak aku mencoba bekerja. Hasilnya tidak terlalu memuaskan ternyata. Mencapai target yang telah kutentukan ternyata tidak semudah hitungan di atas kertas.

Sekarang aku sedang berada di rumahku—rumah orang tuaku—yang biasa kugunakan jika kuliah. Aku sedang bersih-bersih dan tidak memilih bekerja hari ini. Setelah bersih-bersih tadi aku sempat melihat tumpukan ini dan memilih memikirkannya kembali. Segelas kopi untuk saat ini ternyata tidak cukup untuk membantuku berpikir. Kini aku kembali berpikir, apa mimpiku dapat tercapai?

***

Aku masih memilih tinggal di sini untuk sementara. Pagi-pagi sekali aku kembali ke rumah orang tuaku untuk berjualan nasi uduk lalu memulai aktivitasku seperti biasa. Malamnya aku pulang ke rumahku. Biasanya sepulang kerja aku menghabiskan secangkir kopi dengan mendengarkan lagu-lagu lama Coldplay. Namun, tidak untuk malam ini.

Jika biasanya secangkir kopi tersaji di mejaku, kini ada dua cangkir kopi di sana. Seorang teman mengunjungiku malam ini. Aku hanya berharap dia membawa kabar baik.

        “Hei dengar, ini memang gila tapi kita harus mencobanya.” Arif namanya, dia adalah lulusan Sastra Indonesia dari universitas yang sama denganku. Aku mengenalnya ketika dia ikut pendakian ke salah satu gunung di Jawa Timur.

Aku masih ingat pertemuan pertama dengannya. Dia menawarkan secangkir kopi Toraja hangat saat aku sedang berbicara dengan Dhea. Dia ikut bergabung begitu saja. Aku membiarkannya bergabung dengan kami. Hitung-hitung mempererat hubungan sesama pendaki gunung.

        “Banyak orang berkata tidak ada gunanya masuk sastra. Namun, aku mencoba menghapus stigma itu,” katanya memandang langit pagi penuh harapan.

        “Apa alasanmu masuk sastra?” tanyaku. Dhea juga nampaknya tertarik dengan pembicaraan ini.

        “Mudah saja, aku tertarik, maka aku pelajari. Aku suka dunia tulis menulis sejak dulu,” balasnya.

       “Lalu, bagaimana kau akan menghapus stigma masyarakat itu?” tanyaku.

       “Lihat saja nanti, aku sedang mempersiapkannya,” balasnya dengan penuh semangat. Kulihat Dhea tersenyum saat itu. Kurasa ada yang berbeda dengan kawanku yang satu ini, ya dia berbeda.

Sekarang dia duduk di hadapanku dan menawarkan sesuatu. Sesuatu yang yang mungkin dapat membantuku mewujudkan mimpi ini. Aku hanya bisa berharap.

***

Arif menawarkan aku mengikuti salah satu program pemerintah untuk UMKM. Namun, ini kompetisi. Aku harus bersaing menarik sponsor dan menciptakan inovasi dalam rencana kedai kopiku. Dia mengajaku bekerja sama.

Aturan main, aku dan dia menyusun rencana pendirian kedai kami semenarik mungkin—semacam membuat proposal—lalu kami kirimkan ke panitia. Kemudian akan ada seleksi ketat. Setelah itu jika kami lolos kami akan diperkenankan mempresentasikan rencana kami di depan juri sekaligus wawancara. Jika kami kembali berhasil, kami bersama peserta lain akan menjual produk kami dalam satu tempat dengan target tertentu. Siapa yang berhasil akan menjadi pemenangnya.

        “Jika kita menang, pemerintah akan membiaya setengah sampai keseluruhan biayanya,” katanya.

        “Aku tahu kita akan berhasil. Dengan kemampunanmu dalam manajemen dan kemampuan sastraku yang dapat menarik perhatian orang, aku yakin kita akan berhasil,” katanya.

        “Kita hanya perlu mencoba,” tambahnya dengan semangat.

Dia memberikan waktu sehari kepadaku untuk berpikir. Dia bilang ini gerbang mimpiku. Dia sangat yakin jika kami bekerja sama maka impian itu akan terwujud. Aku menghela napas sejenak. Kurasa aku perlu secangkir kopi lagi.

***

Aku memutuskan untuk menemuinya lagi keesokan harinya. Dia pagi-pagi sekali datang dengan bersemangat ke sini. Mengenakan setelan sederhananya berupa celana panjang, kaus distro, dan jaket tebal. Kebetulan pagi ini memang sedikit dingin. Kubiarkan dia masuk dan duduk di tempat favoritnya.

        “Baik, jika kita benar-benar bergabung dengan kompetisi itu, hal apa yang membuatmu yakin kita akan menang?” tanyaku.

        “Pertama, yang memenangkan kompetisi ini haruslah memberikan manfaat kepada banyak orang bukan untuk si punya ide saja. Kedua, aku sudah punya jawaban untuk hal itu. Untuk sementara itu saja,” jawabnya dengan cepat.

        “Baik, apa yang kau tawarkan?” tanyaku.

       “Pertama, untuk pemasok kopi, aku punya banyak koneksi. Sejak sebulan sebelum dan sesudah lulus aku menjalin hubungan baik dengan beberapa pemilik kebun kopi di berbagai daerah di Indonesia. Mereka juga bisa menyediakan kopi yang sudah diolah secara tradisional. Kedua, untuk penyajian kita menggunakan cara-cara tradisional-modern. Maksudku gabungan keduanya sehingga kita bisa menghemat penggunaan mesin kopi yang mahal itu.”

        “Ketiga, di dalam cup atau gelas-gelasnya nanti akan kusisipi beberapa kalimat sajak yang indah dengan motif-motif nusantara dan kita juga memesannya dari warga lokal. Sehingga aku juga bisa berkarya dan orang lain juga bisa mendapat manfaat. Keempat, aku bisa mengubah tempat ini menjadi bernuansa sastra yang akan disukai siapapun. Gabungkan kafe ini dengan perpustakaan yang boleh dikunjungi siapapun. Untuk tambahan lainnya, bisa kita bahas nanti, sekian,” jelasnya panjang lebar.

         “Baik, beberapa poinmu tadi menarik. Namun, apa cukup menarik perhatian juri?” tanyaku.

        “Dalam seleksi berkas nanti, kirimkan desain kedai kopimu akan seperti apa, desain cup dan gelasnya, juga bukti kita bekerja sama dengan para petani kopi. Kurasa itu akan membantu, aku juga bagus dalam presentasi.” Dia membalas dengan bersemangat. Dia lalu kembali berkata, “Jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan karena dunia ini tidak adil soal kesempatan. Jika jadi yang terpilih maka manfaatkanlah hal itu.”

Aku berpikir sejenak. Dia benar, aku tidak boleh membiarkan kesempatan lewat begitu saja. Namun, aku tidak boleh terlalu berharap dari kompetisi. Siapun bisa jadi pemenangnya dan itu belum tentu aku. Kalaupun tidak jadi juara utama, mungkin aku masih bisa sedikit terbantu. Aku menatapnya dan dengan mantap berkata, “Akan kuterima tantanganmu.”

***

Kami segera melakukan pembicaraan panjang hari itu. Semua kami bahas sedetail mungkin. Aku juga mulai mendesain tempat yang akan kami gunakan ini. Untuk desain gelas dan cup akan menjadi urusan Arif. Dalam pembicaraan panjang ini kami mencatat beberapa hal penting untuk dimuat dalam seleksi berkas nanti.

Setelah sekitar lima jam berdiskusi dan menyiapkan segalanya. Arif bangkit berdiri lalu meninggalkan rumahku. Katanya harus ada yang diurus sebentar. Besok, kami akan melakukan persiapan akhir. Dengan siapnya segala dokumen kami akan siap menghadapi seleksi berkas.

        “Yo, aku pulang dulu,” ujarnya dari kejauhan. Aku melambaikan tangan dan dibalasnya.

Aku kembali memasuki rumahku dan menyiapkan secangkir kopi. Aromanya yang nikmat memenuhi seluruh ruangan. Aku jadi ingat masa-masa ketika Dhea masih sering main ke sini. Masa-masa di mana kami masih bersama. Aku segera membuang jauh pikiranku tentang Dhea. Sudah saatnya kami berpisah.

Keesokan harinya Arif kembali lagi. Dia membawa segala macam dokumen yang diperlukan. Aku juga sudah mencetak dokumen-dokumen yang kami kerjakan kemarin. Kini, kami siap untuk mengirimnya ke panitia.

Dengan vespa hitamku kami berangkat menuju kantor pos terdekat. Entah mengapa panitia tidak ingin sesuatu yang simpel seperti email. Mereka memillih pengiriman berkas harus melalui kantor pos. Padahal itu memerlukan waktu. Mungkin ini memang wujud promosi pos yang sudah jarang diminati masyarakat. Segala kemungkinan bisa terjadi.

Tidak lama kami mengurus pos. Aku langsung kembali ke rumah dan menanti. Arif juga melakukan hal yang sama. Kami berpisah di depan kantor pos karena berlawanan arah.

***

Aku setuju jika orang bilang dunia ini penuh hal tidak terduga. Segala kemungkinan gila bisa terjadi. Baik kemungkinan yang baik maupun kemungkinan terburuk sekalipun. Kini hal terduga datang kepadaku. Saat aku sibuk melayani pembeli nasi uduk  ibuku sebuah email datang. Email yang mungkin menjadi awal dari mimpiku.

        “Arif, cepat datang kita harus menyiapkan segalanya!” ujarku panik melalui telepon.

        Wait, apa maksudmu?” balasnya. Aku menarik napas sebentar lalu menjawab, “Datang saja dulu.”

        “Baik-baik, tunggu aku sebentar,” balasnya lalu menutup telepon. Aku menanti dengan bolak-balik di ruang tamu. Dua cangkir kopi—yang salah satunya tersisa setengah—tersaji di atas meja. Hal yang kubenci adalah tidak bisa melakukan apapun dan hanya bisa menunggu.

Hal ini kurasakan karena mulai mengalami kesinambungan antara aku dan Arif. Kami bagai otak kanan dan kiri. Harus saling melengkapi dan membantu. Namun, aku tidak boleh terlalu bergantung pada Arif. Dia memang patnerku tapi aku belum terlalu mengenalnya. Dia masih menjadi pemuda yang misterius.

Lalu kudengar suara motor mendekat dan memasuki carport. Kulihat bayangan Arif turun dari motornya. Aku segera membuka pintu dan membiarkannnya masuk.

        “Jadi ada apa?” tanyanya menyeruput sedikit kopinya.

       “Kita lolos ke tahap presentasi,” ujarku.

        Dia terdiam sejenak, “Oke itu mengejutkan. Lalu apa masalahnya?”

        “Kita harus menyiapkan apa yang ada di berkas-berkas kita dalam waktu seminggu dan mempresentasikannya dalam waktu seminggu. Lokasinya nanti kukirim,” jelasku padanya.

        “Kalau begitu kita perlu bagi tugas, tidak, kita lakukan bersama,” katanya.

        “Jadi apa saja?” tanyaku lagi.

       “Kita harus menghubungi kebun kopi yang akan bekerja sama dengan kita dan tempat kita memesan cup dan gelas kita. Karena kita punya waktu untuk pergi ke Gayo, Toraja atau Bali, kita hanya bisa menemui petani-petani yang ada di Jawa,” jelasnya.

        “Kita masih bisa meminta kiriman dari Gayo, Toraja, atau Bali. Tapi untuk mengunjungi kita di Jawa saja agar menghemat biaya. Kau punya kontak mereka, kan?” balasku.

        “Ada, nanti kuhubungi. Setelah semua jenis kopi yang kita inginkan sudah ada di tangan kita. Kita bisa meracik perpaduannya,” katanya.

        “Di mana kau memesan cup dan gelas? Apa dalam seminggu mereka bisa menyelesaikannya?” tanyaku lagi.

        “Tenang, aku sudah memesan untuk contoh. Nanti kita tanyakan lagi,” balasnya.

        “Baik, kita akan mengunjungi beberapa kebun kopi di Jawa. Siap-siap untuk jalan-jalan, masalah transportasi kita gunakan mobil jip orang tuaku. Katanya untuk kepentingan yang penting aku bisa meminjamnya.” Aku mengangguk mengerti. Inilah awal petualangan baru kami.

***

Sebelum kami berkunjung ke perkebunan kopi, kami mengunjungi tempat pembuatan cup dan gelas terlebih dahulu. Tempatnya masih ada di kotaku. Tidak terlalu jauh dari pusat kota. Saat aku memasukinya, tempat ini lebih terlihat seperti galeri seni ketimbang pabrik pembuatan cup dan gelas.

        “Salah satu pegawainya adalah sobat lama kita, Ghani. Dia lulusan seni rupa dan dialah yang akan mengelola pesanan-pesanan kita,” kata Arif.

Saat pertama kali melihat Ghani aku langsung tahu bahwa dia adalah seniman. Dari wajahya aku bisa melihat dia adalah pecinta seni dan bergelut di bidang ini. Dia sangat ramah pada kami. Bicaranya penuh penghargaan dan tanpa basa-basi.

        “Untuk pertama-tama kami butuh seratus cup saja dulu. Karena kami belum tentu lolos ke babak berikutnya,” ujar Arif.

        “Untuk desainnya sama, ‘kan? seperti yang kemarin, Bagaimana dengan sajaknya?” tanya Ghani.

        “Kurasa akan kukerjakan manual. H-1 presentasi juga bisa kukerjakan, sekarang kami harus ke Kayu Mas dan Jember. Untuk membicarakan persedian yang akan kami gunakan,” jawab Arif.

        “Kami berterima kasih karena kau mau mempercepat tugas ini,” kataku.

        “Sama-sama, aku juga sedang tidak banyak pesanan,” akunya. Aku tersenyum lalu menjabat tangannya. Arif juga melakukan hal yang sama. Setelah itu kami pergi meninggalkan tempat ini. Mobil jip yang kami kendarai segera meraung dan melesat meninggalkan kota. Tujuan pertama kami adalah perkebunan kopi di Kayu Mas, Jawa Timur.

***

Suasana di sini cukup dingin. Walaupun matahari terlihat cerah tapi suhu di sini bisa dibilang dingin. Kami sekarang sedang berada di ketinggian seribu dua ratus meter di atas permukaan laut. Perkebunan kopi di Kayumas sudah cukup terkenal sejak dulu. Di sini ditanam jenis kopi arabika.

Kopi arabika adalah salah satu jenis kopi yang cukup sering ditanam di Indonesia. Tentu dengan temannya si kopi robusta. Jenis kopi ini mengandung kafeina sebesar 0.8-1.4 persen. Awalnya berasal dari Brasil dan Etiopia. Karena sedikit rentan dan harus diberi perhatian khusus, harga jenis kopi ini lebih tinggi dari pada jenis robusta.

Dari segi rasa, kopi Arabika memiliki banyak variasi rasa yang mana beragam. Rasa dari kopi tersebut dapat lembut, manis, tajam, dan juga kuat. Anda dapat mengetahui bahwa sebelum disangrai, aroma dari kopi ini amat mirip dengan blueberry. Akan tetapi, setelah disangrai, kopi tersebut akan memiliki aroma buah-buahan manis.

Rasa kopi akan sangat berbeda tergantung siapa yang memperlakukannya. Bisa dibilang buatanku dan Arif belum tentu sama rasanya. Seperti yang kubilang secangkir kopi yang disajikan melalui proses yang panjang.

        “Hanif, bantu aku sini!” panggil Arif. Aku segera mendekat. Rupanya dia minta difoto bersama salah satu petani kopi. Juga membantu merekam wawancaranya. Kami telah membuat kesepakatan.

Mungkin, hasil wawancara ini bisa membantu kami lolos. Pulangnya kami membawa sebungkus besar biji kopi yang sudah dihalusan oleh warga setempat. Ini bisa membuat kami menjadi lebih bersemangat. Kami bergerak cepat. Dari kayumas keesokan harinya kami langsung menuju jember. Di Jember kebunnya berdampingan dengan kebun coklat. Kurasa rasa kopinya akan sedikit seperti rasa coklat, karena rasa kopi tergantung di mana dia ditanam. Kali ini aku yang berbicara dengan pemilik kebun. Kami membuat kesepakatan. Untuk presentasi nanti kami membawa pulang sebungkus kopi lagi. Malam itu juga kami kembali ke kotaku. Masih banyak yang harus dikerjakan.

Hari-hari menjelang sesi presentasi dan wawancara kami sangat sibuk. Aku sibuk membuat racikan kopi yang pas dan sibuk membantu Arif menyiapkan bahan presentasi. Aku sempat kelelahan, ‘tapi kuusahakan pekerjaanku selesai sesuai target. Bagi kami, disiplin waktu itu penting.

        “Serahkan padaku, kuyakin kita bisa menarik perhatian banyak orang,” katanya. Aku hanya mengangguk dan menurutinya. Sebuah fakta andilnya dalam hal ini lebih banyak dariku. Mungkin aku akan berguna jika rencana kami sudah berjalan nantinya. Lalu, hari itu datang.

***

Tidak dapat kupercaya, kemampuan berbicara Arif sangat hebat. Dia menjelaskan dengan lugas apa yang kami siapkan. Aku ikut berbicara tapi rasanya seakan Arif memang memegang kendali dalam presentasi ini.

        “Dengan memberi kami kesempatan, berarti Anda yang ada di hadapan kami memberi kesempatan kepada banyak orang untuk berkembang,” ujarnya.

        “Secangkir kopi melalui proses yang panjang dan proses itulah yang menciptakan kenikmatannya,” kataku. Aku memulai aksiku mengolah racikan kopiku. Para juri memperhatikan kami. Selagi aku meracik, Arif memberikan beberapa penjelasan.

Dalam beberapa menit beberapa cangkir kopi siap disajikan. Aku segera membawakannya ke hadapan mereka. Seraya berkata, “Dalam cangkir-cangkir ini bukan seorang barista saja yang berkontribusi. Kasih sayang dari petani-petani kopi juga terdapat di dalamnya. Silakan dinikmati.”

Mereka mencicipinya. Ekspresinya tidak bisa kutebak. Kurasa mereka menyukainya. Setelah itu, kami undur diri dan menyelesaikan presentasi kami. Sesampainya di luar ruangan Arif bersorak riang. Dia nampak puas dengan apa yang dia hasilkan.

        “Jika kita lolos, tugasmulah untuk membuat kita lolos lagi,” katanya. Aku mengangguk mantap. Ada waktunya bagiku untuk menunjukkan kemampuanku.

***

Matahari terik membakar seisi lapangan. Sementara itu, tanganku sibuk meracik es kopi untuk pelanggan-pelangganku. Di luar dugaan kami, kami lolos ke babak berikutnya. Sekarang giliranku untuk beraksi. Aku tokoh utamanya sekarang. Dari pagi, aku menyajikan kopi sesuai keadaan cuaca. Pagi tadi suasana masih sejuk. Aku menyajikan kopi-kopi hangat khasku. Aku memang jagonya membuat kopi hangat. Apalagi yang murni kopi hitam. Segala tingkat kepahitan aku sudah hafal.

Dalam beberapa jam cuaca berubah. Matahari mulai muncul dan menyengat. Aku menyajikan es kopi. Dilihat dari yang membeli bisa dibilang kami cukup laku. Arif menghias stand kami cukup menarik. Setiap orang yang lewat melirik stand kami. Mayoritasnya mencoba membeli.

Hari pertama, kami sudah berhasil. Hari kedua kami meingkat. Hari ketiga ada sedikit penurunan. Hari kelima kami juga menurun. Aku menyajikan es krim kopi. Penjualan kami meningkat kembali dan di hari ketujuh kami berhasil mencapai target. Dengan berarti kami lolos menjadi salah satu pemenang.

***

Tiga bulan setelah kompetisi.

Kami memenangkan kompetisi itu. Aku benar-benar tidak menyangka hal segila itu bisa terjadi. Walaupun bukan pemenang utama aku berhasil mendapat sponsor untuk modal membuat kedai kopiku. Setelah segala urusan selesai aku mulai mengubah rumahku menjadi kedai kopi.

Arif juga membantu mengubahnya. Dalam seminggu kami sudah siap memulai segalanya. Kini sudah tiga bulan sejak kami buka. Dengan lokasi yang strategis kedai kami lumayan ramai dikunjungi.

Selain menyajikan kopi panas dan dingin, kami juga menyiapkan kopi bubuk dalam kemasan. Kami menepati janji untuk ikut menyejahterakan para petani. Dengan koneksi yang dimiliki Arif kami bisa memasarkan kopi kami hingga hampir ke seluruh nusantara. Bahkan pernah sampai ke luar negeri. Aku senang banyak orang yang bisa merasakan kopi racikanku. Walaupun akan berbeda jika bukan aku yang menyeduhnya. Aku juga senang banyak yang terbantu dengan dibukanya kedai ini.

        “Ah..., lelah juga hari ini,” keluh Arif saat kami sedang merapikan meja dan kursi saat kedai hendak tutup. Hari ini pengunjung lumayan banyak. Rata-rata anak sekolah di dekat sini. Kurasa mereka ingin  merasakan suasana baru dalam belajar.

Sekedar informasi, aku tidak menyediakan wifi di sini. Aku tidak ingin internet menjadi penjauh mereka yang berkunjung ke sini. Dengan menyediakan tempat khusus di ujung meja untuk meletakan ponsel kurasa bisa mempererat hubungan antar pengunjung. Belajar dari pengalamanku menjadi siswa SMA jurusan IPS, kontak sosial sangat penting bagi manusia. Pernah sekali aku melakukan sebuah eksperimen—terhadap diriku sendiri—untuk menjadi apatis dan tidak melakukan kontak sosial dengan orang-orang terdekatku. Hasilnya buruk, aku mengalami sedikit perubahan mental. Aku kapok melakukan eksperimen terhadap diri sendiri.

        “Aku merasakan sesuatu yang berbeda di hari ini,” akuku.

        “Apa itu?” tanya Arif.

        “Entahlah, merasa berbeda saja. Ada apa ya?” balasku.

Tiba-tiba saja pintu kedai terbuka. Seseorang masuk ke dalam. Dia lalu duduk di kursi yang paling dekat dengan pintu.

        “Eh, maaf kami sudah mau tutup,” kata Arif.

        “Aku tidak akan lama, secangkir kopi Toraja,” balasnya.

Aku menghela napas lalu menyiapkan pesanannya. Setelah siap aku segera membawakan untuknya. Tiba-tiba terdengar sambaran petir di luar dan hujan pun turun.

       “Kukira malam ini akan cerah,” ujar Arif. Aku memandang keluar.

Pengunjung kami menyeruput kopinya. Dia hendak berkata sesuatu. Kami semua menoleh. Namun, sesuatu terjadi. Semua terjadi begitu cepat. Listrik tiba-tiba padam. Lalu terdengar suara letusan dan jeritan Arif. Letusan kedua menyusul dan aku merasakan sakit yang luar biasa di perutku.

Lalu aku tidak bisa merasakan apapun lagi. Hal terakhir yang kulihat saat petir menyambar, Arif yang terbaring bersimbah darah. Apa ini benar-benar hal terakhir yang kulihat?

Bersambung…

Bagian Kedua: Kopi dan Perjuangan

 Catatan Penulis: ini benar-benar belum selesai. Segalanya akan terungkap di bagian kedua.
Salam Aksara!




Hubungi kami :

Twitter : @APAksara

Email : apaksara3@gmail.com

HP : 085773226995

Instagram: kapas3.aksara

Twitter

Translator