Hidup,
digambarkan dengan banyak hal. Ada yang menggambarkannya seperti roda. Di mana
kita terkadang
di atas dan terkadang di bawah. Ada juga yang menggambarkannya sebagai perahu kertas
yang dihanyutkan di sungai atau selokan. Mengikuti arus lalu perlahan basah dan
kita tenggelam. Begitu banyak yang menggambarkan hidup.
Aku
sendiri menggambarkan hidup sebagai secangkir kopi. Secangkir kopi yang
disajikan di mana-mana—kafe, warung kopi atau bahkan di meja makan di
rumah—telah melewati proses yang panjang. Mulai dari penyemaian, pembibitan,
penanaman dan lain-lain. Saat diolah menjadi bubuk kopi juga bukan hal yang
singkat. Maka kugambarkan hidup seperti secangkir kopi, yang melewati proses
panjang sebelum disajikan di atas meja mana pun. Karena, kopi adalah bagian
dari hidupku.
***
Kehidupanku
berlanjut, teman-temanku menjalani hidupnya, Dhea pergi ke Paris dan belum memberi
kabar. Aku mencoba melanjutkan hidupku. Kata orang hidup menjadi sarjana di
masa kini adalah hal yang sulit, ralat sangat sulit. Namun, jika aku menganggap
sulit mungkin perjalananku tidak akan mudah—memang tidak akan mudah—maka
kuanggap mudah saja.
Hal
pertama yang kubuat setelah lulus adalah perencanaan. Aku membuat daftar apa
saja yang harus kulakukan. Di paling atas tertulis memiliki penghasilan. Itu salah satu yang penting sebelum aku
merencanakan memiliki kafeku sendiri yang tentu memiliki proses yang panjang.
Menjadi lulusan manajemen dan bisnis aku harus bisa menerapkan apa yang telah
lama kupelajari.
“Ibu, ada saran pekerjaan apa yang
harus kucari untuk saat seperti ini?” tanyaku.
“Katanya kamu mau buat kedai kopi,”
balasnya.
“kan perlu modal, bu. Hanif mau
mengumpulkan modalnya dulu,” kataku.
“Mau yang seperti apa?” tanyanya.
“Apa saja, asal aku bisa mendapat uang
untuk beberapa bulan ini,” jawabku.
“Tukang sapu jalanan, asongan, atau kamu
bisa melanjutkan usaha nasi uduk ibu sebentar,” katanya.
Aku
berpikir sejenak. Sebenarnya tidak masalah dengan semua itu. Dengan memiliki
banyak pekerjaan sekaligus aku bisa menambah pemasukanku. Dengan begitu modal
akan cepat terkumpul. Aku membutuhkan modal untuk sarana prasarana dan
lain-lain. Untuk tempat aku akan menggunakan rumah yang selama kuliah
kutempati.
“Akan kuambil semuanya.” Aku telah
memutuskan.
“Lah, gimana mau tiga-tiganya toh.” Ibuku terlihat kaget.
“Untuk nasi uduk, ibu yang masak Hanif
yang jual. Setelah itu hanif akan menjadi pedagang asongan di terminal atau jalanan lalu sorenya
akan menjadi tukang sapu jalanan,” kataku.
“Kalau kamu dapat shift pagi nyapu jalanan
bagaimana?” tanyanya.
“Aku tinggal memutarnya,” kataku.
“Baiklah, ibu hubungi teman ibu yang
katanya perlu orang,” katanya.
Aku tersenyum, “terima kasih.”
***
Aku
benar-benar melakukan semuanya. Saat pagi aku menyiapkan nasi uduk ibuku.
Beliau memberitahu berapa takaran-takarannya dan apa saja yang harus kulakukan.
Aku mengerti dengan cepat. Aku melayani pembeli yang datang. Walaupun tidak
secekatan ibuku aku bisa melakukannya.
Beberapa
temanku yang ikut membeli kaget melihatku. Mereka bertanya mengapa aku tidak
mencoba melamar pekerjaan di perusahaan besar karena aku berkompeten. Aku
bilang ingin mulai dari bawah dan menerapkan ilmuku untuk perusahaanku sendiri.
Saat aku tanya apa mereka sudah punya pekerjaan mereka menjawab sedang
mengusahakannya. Aku tersenyum, hidup memang penuh perjuangan.
Setelah
nasi udukku—ibuku—habis aku segera menyerahkan uangnya ke Ibuku untuk dibagi
nantinya. Setelah mandi dan bersiap-siap aku segera menuju ke terminal. Di
bawah terik matahari dan kerumunan mobil yang berlalu lalang aku menawarkan
minuman segar. Hanya ini yang bisa kuperjualbelikan.
Tidak
kusangka ternyata cukup berat. Matahari sangat terik hari ini. Panasnya
membakar permukaan jalan dan manusia yang beraktifitas di atasnya. Keringatku
sudah banyak bercucuran padahal baru sebentar. Namun, kucoba untuk bertahan.
Ini pilihanku dan harus kujalani dengan sebaik mungkin.
Setelah
matahari melewati kepalaku dan tergelincir di barat, aku segera mandi dan
berganti pakaian lagi. Menemui orang yang akan mempekerjakanku sebagai tukang
sapu jalanan. Dia memiliki garis wajah yang tegas, rahang yang terlihat kuat
dan badan yang tegap. Kurasa kerasnya kehidupan telah memberinya banyak
pelajaran.
“Jadi ini yang namanya Hanif?”
tanyanya. Aku mengangguk.
“Tidak terlihat kuat, kurus kering
begini, bisa apa kamu?” komentarnya lagi.
“Eee, eto ak—“
“Ah sudah tak usah dipikirkan. Cepat
ambil peralatanmu bergabung dengan tim A, bersihkan kota di bagian barat sektor
satu sampai lima!” ujarnya tegas.
“Siap pak!” aku segera berlari ke ruang
peralatan lalu kembali ke lapangan depan untuk bergabung dengan yang lain.
Tidak kusangka bersih-bersih kota saja bergaya kemiliteran.
***
Aku
menatap tumpukan kertas—yang terlihat berantakan—di hadapanku. Aku telah
membuat perhitungan dan ternyata tidak mungkin dapat kupenuhi dalam waktu yang
telah kutentukan. Ini sudah hari ketiga puluh lima semenjak aku mencoba
bekerja. Hasilnya tidak terlalu memuaskan ternyata. Mencapai target yang telah
kutentukan ternyata tidak semudah hitungan di atas kertas.
Sekarang
aku sedang berada di rumahku—rumah orang tuaku—yang biasa kugunakan jika
kuliah. Aku sedang bersih-bersih dan tidak memilih bekerja hari ini. Setelah
bersih-bersih tadi aku sempat melihat tumpukan ini dan memilih memikirkannya
kembali. Segelas kopi untuk saat ini ternyata tidak cukup untuk membantuku
berpikir. Kini aku kembali berpikir, apa mimpiku dapat tercapai?
***
Aku
masih memilih tinggal di sini untuk sementara. Pagi-pagi sekali aku kembali ke
rumah orang tuaku untuk berjualan nasi uduk lalu memulai aktivitasku seperti
biasa. Malamnya aku pulang ke rumahku. Biasanya sepulang kerja aku menghabiskan
secangkir kopi dengan mendengarkan lagu-lagu lama Coldplay. Namun, tidak untuk
malam ini.
Jika
biasanya secangkir kopi tersaji di mejaku, kini ada dua cangkir kopi di sana.
Seorang teman mengunjungiku malam ini. Aku hanya berharap dia membawa kabar
baik.
“Hei dengar, ini memang gila ‘tapi kita harus
mencobanya.” Arif namanya, dia adalah lulusan Sastra Indonesia dari universitas
yang sama denganku. Aku mengenalnya ketika dia ikut pendakian ke salah satu
gunung di Jawa Timur.
Aku
masih ingat pertemuan pertama dengannya. Dia menawarkan secangkir kopi Toraja
hangat saat aku sedang berbicara dengan Dhea. Dia ikut bergabung begitu saja.
Aku membiarkannya bergabung dengan kami. Hitung-hitung mempererat hubungan
sesama pendaki gunung.
“Banyak orang berkata tidak ada gunanya
masuk sastra. Namun, aku mencoba menghapus stigma itu,” katanya memandang
langit pagi penuh harapan.
“Apa alasanmu masuk sastra?” tanyaku.
Dhea juga nampaknya tertarik dengan pembicaraan ini.
“Mudah saja, aku tertarik, maka aku
pelajari. Aku suka dunia tulis menulis sejak dulu,” balasnya.
“Lalu, bagaimana kau akan menghapus
stigma masyarakat itu?” tanyaku.
“Lihat saja nanti, aku sedang
mempersiapkannya,” balasnya dengan penuh semangat. Kulihat Dhea tersenyum saat
itu. Kurasa ada yang berbeda dengan kawanku yang satu ini, ya dia berbeda.
Sekarang
dia duduk di hadapanku dan menawarkan sesuatu. Sesuatu yang yang mungkin dapat
membantuku mewujudkan mimpi ini. Aku hanya bisa berharap.
***
Arif
menawarkan aku mengikuti salah satu program pemerintah untuk UMKM. Namun, ini
kompetisi. Aku harus bersaing menarik sponsor dan menciptakan inovasi dalam
rencana kedai kopiku. Dia mengajaku bekerja sama.
Aturan
main, aku dan dia menyusun rencana pendirian kedai kami semenarik
mungkin—semacam membuat proposal—lalu kami kirimkan ke panitia. Kemudian akan
ada seleksi ketat. Setelah itu jika kami lolos kami akan diperkenankan
mempresentasikan rencana kami di depan juri sekaligus wawancara. Jika kami
kembali berhasil, kami bersama peserta lain akan menjual produk kami dalam satu
tempat dengan target tertentu. Siapa yang berhasil akan menjadi pemenangnya.
“Jika kita menang, pemerintah akan
membiaya setengah sampai keseluruhan biayanya,” katanya.
“Aku tahu kita akan berhasil. Dengan
kemampunanmu dalam manajemen dan kemampuan sastraku yang dapat menarik perhatian
orang, aku yakin kita akan berhasil,” katanya.
“Kita hanya perlu mencoba,” tambahnya
dengan semangat.
Dia
memberikan waktu sehari kepadaku untuk berpikir. Dia bilang ini gerbang
mimpiku. Dia sangat yakin jika kami bekerja sama maka impian itu akan terwujud.
Aku menghela napas sejenak. Kurasa aku perlu secangkir kopi lagi.
***
Aku
memutuskan untuk menemuinya lagi keesokan harinya. Dia pagi-pagi sekali datang
dengan bersemangat ke sini. Mengenakan setelan sederhananya berupa celana
panjang, kaus distro, dan jaket tebal. Kebetulan pagi ini memang sedikit
dingin. Kubiarkan dia masuk dan duduk di tempat favoritnya.
“Baik, jika kita benar-benar bergabung
dengan kompetisi itu, hal apa yang membuatmu yakin kita akan menang?” tanyaku.
“Pertama, yang memenangkan kompetisi
ini haruslah memberikan manfaat kepada banyak orang bukan untuk si punya ide
saja. Kedua, aku sudah punya jawaban untuk hal itu. Untuk sementara itu saja,”
jawabnya dengan cepat.
“Baik, apa yang kau tawarkan?” tanyaku.
“Pertama, untuk pemasok kopi, aku punya
banyak koneksi. Sejak sebulan sebelum dan sesudah lulus aku menjalin hubungan
baik dengan beberapa pemilik kebun kopi di berbagai daerah di Indonesia. Mereka
juga bisa menyediakan kopi yang sudah diolah secara tradisional. Kedua, untuk
penyajian kita menggunakan cara-cara tradisional-modern. Maksudku gabungan
keduanya sehingga kita bisa menghemat penggunaan mesin kopi yang mahal itu.”
“Ketiga, di dalam cup atau
gelas-gelasnya nanti akan kusisipi beberapa kalimat sajak yang indah dengan
motif-motif nusantara dan kita juga memesannya dari warga lokal. Sehingga aku
juga bisa berkarya dan orang lain juga bisa mendapat manfaat. Keempat, aku bisa
mengubah tempat ini menjadi bernuansa sastra yang akan disukai siapapun.
Gabungkan kafe ini dengan perpustakaan yang boleh dikunjungi siapapun. Untuk
tambahan lainnya, bisa kita bahas nanti, sekian,” jelasnya panjang lebar.
“Baik, beberapa poinmu tadi menarik.
Namun, apa cukup menarik perhatian juri?” tanyaku.
“Dalam seleksi berkas nanti, kirimkan
desain kedai kopimu akan seperti apa, desain cup dan gelasnya, juga bukti kita
bekerja sama dengan para petani kopi. Kurasa itu akan membantu, aku juga bagus
dalam presentasi.” Dia membalas dengan bersemangat. Dia lalu kembali berkata,
“Jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan karena dunia ini tidak adil soal
kesempatan. Jika jadi yang terpilih maka manfaatkanlah hal itu.”
Aku
berpikir sejenak. Dia benar, aku tidak boleh membiarkan kesempatan lewat begitu
saja. Namun, aku tidak boleh terlalu berharap dari kompetisi. Siapun bisa jadi
pemenangnya dan itu belum tentu aku. Kalaupun tidak jadi juara utama, mungkin
aku masih bisa sedikit terbantu. Aku menatapnya dan dengan mantap berkata,
“Akan kuterima tantanganmu.”
***
Kami
segera melakukan pembicaraan panjang hari itu. Semua kami bahas sedetail
mungkin. Aku juga mulai mendesain tempat yang akan kami gunakan ini. Untuk
desain gelas dan cup akan menjadi urusan Arif. Dalam pembicaraan panjang ini
kami mencatat beberapa hal penting untuk dimuat dalam seleksi berkas nanti.
Setelah
sekitar lima jam berdiskusi dan menyiapkan segalanya. Arif bangkit berdiri lalu
meninggalkan rumahku. Katanya harus ada yang diurus sebentar. Besok, kami akan
melakukan persiapan akhir. Dengan siapnya segala dokumen kami akan siap
menghadapi seleksi berkas.
“Yo, aku pulang dulu,” ujarnya dari
kejauhan. Aku melambaikan tangan dan dibalasnya.
Aku
kembali memasuki rumahku dan menyiapkan secangkir kopi. Aromanya yang nikmat
memenuhi seluruh ruangan. Aku jadi ingat masa-masa ketika Dhea masih sering
main ke sini. Masa-masa di mana kami masih bersama. Aku segera membuang jauh
pikiranku tentang Dhea. Sudah saatnya kami berpisah.
Keesokan
harinya Arif kembali lagi. Dia membawa segala macam dokumen yang diperlukan.
Aku juga sudah mencetak dokumen-dokumen yang kami kerjakan kemarin. Kini, kami
siap untuk mengirimnya ke panitia.
Dengan
vespa hitamku kami berangkat menuju kantor pos terdekat. Entah mengapa panitia
tidak ingin sesuatu yang simpel seperti email. Mereka memillih pengiriman
berkas harus melalui kantor pos. Padahal itu memerlukan waktu. Mungkin ini
memang wujud promosi pos yang sudah jarang diminati masyarakat. Segala
kemungkinan bisa terjadi.
Tidak
lama kami mengurus pos. Aku langsung kembali ke rumah dan menanti. Arif juga
melakukan hal yang sama. Kami berpisah di depan kantor pos karena berlawanan
arah.
***
Aku
setuju jika orang bilang dunia ini penuh hal tidak terduga. Segala kemungkinan
gila bisa terjadi. Baik kemungkinan yang baik maupun kemungkinan terburuk
sekalipun. Kini hal terduga datang kepadaku. Saat aku sibuk melayani pembeli
nasi uduk ibuku sebuah email datang.
Email yang mungkin menjadi awal dari mimpiku.
“Arif, cepat datang kita harus
menyiapkan segalanya!” ujarku panik melalui telepon.
“Wait,
apa maksudmu?” balasnya. Aku menarik napas sebentar lalu menjawab, “Datang
saja dulu.”
“Baik-baik, tunggu aku sebentar,”
balasnya lalu menutup telepon. Aku menanti dengan bolak-balik di ruang tamu. Dua
cangkir kopi—yang salah satunya tersisa setengah—tersaji di atas meja. Hal yang
kubenci adalah tidak bisa melakukan apapun dan hanya bisa menunggu.
Hal
ini kurasakan karena mulai mengalami kesinambungan antara aku dan Arif. Kami
bagai otak kanan dan kiri. Harus saling melengkapi dan membantu. Namun, aku
tidak boleh terlalu bergantung pada Arif. Dia memang patnerku ‘tapi aku belum terlalu
mengenalnya. Dia masih menjadi pemuda yang misterius.
Lalu
kudengar suara motor mendekat dan memasuki carport.
Kulihat bayangan Arif turun dari motornya. Aku segera membuka pintu dan
membiarkannnya masuk.
“Jadi ada apa?”
tanyanya menyeruput sedikit kopinya.
“Kita
lolos ke tahap presentasi,” ujarku.
Dia
terdiam sejenak, “Oke itu mengejutkan. Lalu apa masalahnya?”
“Kita
harus menyiapkan apa yang ada di berkas-berkas kita dalam waktu seminggu dan
mempresentasikannya dalam waktu seminggu. Lokasinya nanti kukirim,” jelasku
padanya.
“Kalau
begitu kita perlu bagi tugas, tidak, kita lakukan bersama,” katanya.
“Jadi
apa saja?” tanyaku lagi.
“Kita
harus menghubungi kebun kopi yang akan bekerja sama dengan kita dan tempat kita
memesan cup dan gelas kita. Karena
kita punya waktu untuk pergi ke Gayo, Toraja atau Bali, kita hanya bisa menemui
petani-petani yang ada di Jawa,” jelasnya.
“Kita
masih bisa meminta kiriman dari Gayo, Toraja, atau Bali. ‘Tapi untuk mengunjungi
kita di Jawa saja agar menghemat biaya. Kau punya kontak mereka, ‘kan?” balasku.
“Ada,
nanti kuhubungi. Setelah semua jenis kopi yang kita inginkan sudah ada di
tangan kita. Kita bisa meracik perpaduannya,” katanya.
“Di
mana kau memesan cup dan gelas? Apa
dalam seminggu mereka bisa menyelesaikannya?” tanyaku lagi.
“Tenang,
aku sudah memesan untuk contoh. Nanti kita tanyakan lagi,” balasnya.
“Baik,
kita akan mengunjungi beberapa kebun kopi di Jawa. Siap-siap untuk jalan-jalan,
masalah transportasi kita gunakan mobil jip orang tuaku. Katanya untuk
kepentingan yang penting aku bisa meminjamnya.” Aku mengangguk mengerti.
Inilah awal petualangan baru kami.
***
Sebelum
kami berkunjung ke perkebunan kopi, kami mengunjungi tempat pembuatan cup dan gelas terlebih dahulu. Tempatnya
masih ada di kotaku. Tidak terlalu jauh dari pusat kota. Saat aku memasukinya,
tempat ini lebih terlihat seperti galeri seni ketimbang pabrik pembuatan cup dan gelas.
“Salah
satu pegawainya adalah sobat lama kita, Ghani. Dia lulusan seni rupa dan dialah
yang akan mengelola pesanan-pesanan kita,” kata Arif.
Saat
pertama kali melihat Ghani aku langsung tahu bahwa dia adalah seniman. Dari
wajahya aku bisa melihat dia adalah pecinta seni dan bergelut di bidang ini.
Dia sangat ramah pada kami. Bicaranya penuh penghargaan dan tanpa basa-basi.
“Untuk
pertama-tama kami butuh seratus cup saja dulu. Karena kami belum tentu lolos ke
babak berikutnya,” ujar Arif.
“Untuk
desainnya sama, ‘kan? seperti yang kemarin, Bagaimana dengan sajaknya?” tanya Ghani.
“Kurasa
akan kukerjakan manual. H-1 presentasi juga bisa kukerjakan, sekarang kami
harus ke Kayu Mas dan Jember. Untuk membicarakan persedian yang akan kami
gunakan,” jawab Arif.
“Kami
berterima kasih karena kau mau mempercepat tugas ini,” kataku.
“Sama-sama,
aku juga sedang tidak banyak pesanan,” akunya. Aku tersenyum lalu menjabat
tangannya. Arif juga melakukan hal yang sama. Setelah itu kami pergi
meninggalkan tempat ini. Mobil jip yang kami kendarai segera meraung dan melesat meninggalkan
kota. Tujuan pertama kami adalah perkebunan kopi di Kayu Mas, Jawa Timur.
***
Suasana
di sini cukup dingin. Walaupun matahari terlihat cerah ‘tapi suhu di sini bisa
dibilang dingin. Kami sekarang sedang berada di ketinggian seribu dua ratus
meter di atas permukaan laut. Perkebunan kopi di Kayumas sudah cukup terkenal
sejak dulu. Di sini ditanam jenis kopi arabika.
Kopi
arabika adalah salah satu jenis kopi yang cukup sering ditanam di Indonesia.
Tentu dengan temannya si kopi robusta. Jenis kopi ini mengandung kafeina
sebesar 0.8-1.4 persen. Awalnya berasal dari Brasil dan Etiopia. Karena sedikit
rentan dan harus diberi perhatian khusus, harga jenis kopi ini lebih tinggi
dari pada jenis robusta.
Dari
segi rasa, kopi Arabika memiliki banyak variasi rasa yang mana beragam. Rasa
dari kopi tersebut dapat lembut, manis, tajam, dan juga kuat. Anda dapat
mengetahui bahwa sebelum disangrai, aroma dari kopi ini amat mirip dengan
blueberry. Akan tetapi, setelah disangrai, kopi tersebut akan memiliki aroma
buah-buahan manis.
Rasa
kopi akan sangat berbeda tergantung siapa yang memperlakukannya. Bisa dibilang
buatanku dan Arif belum tentu sama rasanya. Seperti yang kubilang secangkir
kopi yang disajikan melalui proses yang panjang.
“Hanif, bantu aku sini!”
panggil Arif. Aku segera mendekat. Rupanya dia minta difoto bersama salah satu
petani kopi. Juga membantu merekam wawancaranya. Kami telah membuat
kesepakatan.
Mungkin,
hasil wawancara ini bisa membantu kami lolos. Pulangnya kami membawa sebungkus
besar biji kopi yang sudah dihalusan oleh warga setempat. Ini bisa membuat kami
menjadi lebih bersemangat. Kami bergerak cepat. Dari kayumas keesokan harinya kami langsung menuju
jember. Di Jember kebunnya berdampingan dengan kebun coklat. Kurasa rasa
kopinya akan sedikit seperti rasa coklat, karena rasa kopi tergantung di mana
dia ditanam. Kali
ini aku yang berbicara dengan pemilik kebun. Kami membuat kesepakatan. Untuk
presentasi nanti kami membawa pulang sebungkus kopi lagi. Malam itu juga kami
kembali ke kotaku. Masih banyak yang harus dikerjakan.
Hari-hari
menjelang sesi presentasi dan wawancara kami sangat sibuk. Aku sibuk membuat
racikan kopi yang pas dan sibuk membantu Arif menyiapkan bahan presentasi. Aku sempat kelelahan, ‘tapi kuusahakan pekerjaanku
selesai sesuai target. Bagi kami, disiplin waktu itu penting.
“Serahkan padaku, kuyakin kita
bisa menarik perhatian banyak orang,” katanya. Aku hanya mengangguk dan
menurutinya. Sebuah fakta andilnya dalam hal ini lebih banyak dariku. Mungkin
aku akan berguna jika rencana kami sudah berjalan nantinya. Lalu, hari itu datang.
***
Tidak
dapat kupercaya, kemampuan berbicara Arif sangat hebat. Dia menjelaskan dengan
lugas apa yang kami siapkan. Aku ikut berbicara ‘tapi rasanya seakan Arif memang memegang kendali dalam presentasi ini.
“Dengan memberi kami
kesempatan, berarti Anda yang ada di hadapan kami memberi kesempatan kepada banyak
orang untuk berkembang,” ujarnya.
“Secangkir kopi melalui proses
yang panjang dan proses itulah yang menciptakan kenikmatannya,” kataku. Aku
memulai aksiku mengolah racikan kopiku. Para juri memperhatikan kami. Selagi
aku meracik, Arif memberikan beberapa penjelasan.
Dalam
beberapa menit beberapa cangkir kopi siap disajikan. Aku segera membawakannya
ke hadapan mereka. Seraya berkata, “Dalam cangkir-cangkir ini bukan seorang
barista saja yang berkontribusi. Kasih sayang dari petani-petani kopi juga
terdapat di dalamnya. Silakan dinikmati.”
Mereka
mencicipinya. Ekspresinya tidak bisa kutebak. Kurasa mereka menyukainya.
Setelah itu, kami undur diri dan menyelesaikan presentasi kami. Sesampainya di
luar ruangan Arif bersorak riang. Dia nampak puas dengan apa yang dia hasilkan.
“Jika kita lolos, tugasmulah
untuk membuat kita lolos lagi,” katanya. Aku mengangguk mantap. Ada waktunya bagiku untuk menunjukkan
kemampuanku.
***
Matahari
terik membakar seisi lapangan. Sementara itu, tanganku sibuk meracik es kopi
untuk pelanggan-pelangganku. Di luar dugaan kami, kami lolos ke babak
berikutnya. Sekarang giliranku untuk beraksi. Aku tokoh utamanya sekarang. Dari pagi, aku menyajikan kopi
sesuai keadaan cuaca.
Pagi tadi suasana masih sejuk. Aku menyajikan kopi-kopi hangat khasku. Aku
memang jagonya membuat kopi hangat. Apalagi yang murni kopi hitam. Segala
tingkat kepahitan aku sudah hafal.
Dalam
beberapa jam cuaca berubah. Matahari mulai muncul dan menyengat. Aku menyajikan
es kopi. Dilihat dari yang membeli bisa dibilang kami cukup laku. Arif menghias
stand kami cukup menarik. Setiap orang yang lewat melirik stand kami.
Mayoritasnya mencoba membeli.
Hari
pertama, kami sudah berhasil. Hari kedua kami meingkat. Hari ketiga ada sedikit
penurunan. Hari kelima kami juga menurun. Aku menyajikan es krim kopi.
Penjualan kami meningkat kembali dan di hari ketujuh kami berhasil mencapai
target. Dengan
berarti kami lolos menjadi salah satu pemenang.
***
Tiga
bulan setelah kompetisi.
Kami memenangkan kompetisi itu.
Aku benar-benar tidak menyangka hal segila itu bisa terjadi. Walaupun bukan
pemenang utama aku berhasil mendapat sponsor untuk modal membuat kedai kopiku.
Setelah segala urusan selesai aku mulai mengubah rumahku menjadi kedai kopi.
Arif
juga membantu mengubahnya. Dalam seminggu kami sudah siap memulai segalanya.
Kini sudah tiga bulan sejak kami buka. Dengan lokasi yang strategis kedai kami
lumayan ramai dikunjungi.
Selain
menyajikan kopi panas dan dingin, kami juga menyiapkan kopi bubuk dalam
kemasan. Kami menepati janji untuk ikut menyejahterakan para petani. Dengan
koneksi yang dimiliki Arif kami bisa memasarkan kopi kami hingga hampir ke
seluruh nusantara. Bahkan pernah sampai ke luar negeri. Aku senang banyak orang yang
bisa merasakan kopi racikanku. Walaupun akan berbeda jika bukan aku yang
menyeduhnya. Aku juga senang banyak yang terbantu dengan dibukanya kedai ini.
“Ah..., lelah juga hari ini,”
keluh Arif saat kami sedang merapikan meja dan kursi saat kedai hendak tutup.
Hari ini pengunjung lumayan banyak. Rata-rata anak sekolah di dekat sini.
Kurasa mereka ingin merasakan suasana
baru dalam belajar.
Sekedar
informasi, aku tidak menyediakan wifi
di sini. Aku tidak ingin internet menjadi penjauh mereka yang berkunjung ke
sini. Dengan menyediakan tempat khusus di ujung meja untuk meletakan ponsel
kurasa bisa mempererat hubungan antar pengunjung.
Belajar dari pengalamanku menjadi siswa SMA jurusan IPS, kontak sosial sangat
penting bagi manusia. Pernah sekali aku melakukan sebuah eksperimen—terhadap
diriku sendiri—untuk menjadi apatis dan tidak melakukan kontak sosial dengan
orang-orang terdekatku. Hasilnya buruk, aku mengalami sedikit perubahan mental.
Aku kapok melakukan eksperimen terhadap diri sendiri.
“Aku merasakan sesuatu yang berbeda
di hari ini,” akuku.
“Apa itu?” tanya Arif.
“Entahlah, merasa berbeda saja.
Ada apa ya?” balasku.
Tiba-tiba
saja pintu kedai terbuka. Seseorang masuk ke dalam. Dia lalu duduk di kursi yang paling dekat dengan
pintu.
“Eh, maaf kami sudah mau
tutup,” kata Arif.
“Aku tidak akan lama, secangkir
kopi Toraja,” balasnya.
Aku
menghela napas lalu menyiapkan pesanannya. Setelah siap aku segera membawakan
untuknya. Tiba-tiba terdengar sambaran petir di luar dan hujan pun turun.
“Kukira malam ini akan cerah,”
ujar Arif. Aku memandang keluar.
Pengunjung
kami menyeruput kopinya. Dia hendak berkata sesuatu. Kami semua menoleh. Namun,
sesuatu terjadi. Semua terjadi begitu cepat. Listrik tiba-tiba padam. Lalu
terdengar suara letusan dan jeritan Arif. Letusan kedua menyusul dan aku
merasakan sakit yang luar biasa di perutku.
Lalu
aku tidak bisa merasakan apapun lagi. Hal terakhir yang kulihat saat petir
menyambar, Arif yang terbaring bersimbah darah. Apa ini benar-benar hal terakhir
yang kulihat?
Bersambung…
Bagian Kedua: Kopi dan Perjuangan
Catatan Penulis: ini benar-benar belum selesai. Segalanya akan terungkap di bagian kedua.
Salam Aksara!
0 comments:
Posting Komentar