Senin, 19 Maret 2018

Down of Java



Down of Java

Jawa sudah jatuh. Kalimat yang tepat untuk menjelaskan hal yang terjadi saat ini. Rangkaian peristiwa ini terjadi dengan cepat. Hujan meteor terjadi di Yogyakarta, ledakan di sebuah laboratorium, virus aneh menyebar, dan terjadi epidemi absurditas. Manusia yang terjangkiti jadi kanibal dan menghabisi sesamanya.

Pemerintah bertindak cepat dengan mengerahkan militer. Yogyakarta diisolasi oleh militer. Tidak ada yang bisa keluar. Baik yang terjangkiti virus maupun yang tidak. Militer tidak sempat mengevakuasi keluarga keraton. Semua yang ada di dalam, tidak bisa keluar.

Lalu seorang metalurgi dari LAPAN membawa sampel meteorit yang diduga sumber virus itu ke Amerika. Bekerja sama dengan NASA mereka menemukan fakta bahwa hujan meteor itu bukanlah kejadian alami. Meteor yang jatuh sudah dimodifikasi menjadi senjata biologi yang bisa menyebarkan virus. Namun, fakta itu belum selesai. Itu hanya sebuah awal. Selanjutnya invasi itu dimulai.

Yogyakarta hanyalah percobaan. Yogyakarta hanya korban dari konspirasi kolosal yang melibatkan seluruh dunia. Banyak pesawat yang hilang di seluruh dunia. Lalu ada hasil penyelidikan yang mengatakan bahwa telah dibangun sebuah pangkalan militer makhluk asing di bulan. Selanjutnya terjadi serangan terhadap kota-kota besar di dunia. Jutaan orang tewas.

PBB melakukan ekspedisi ke Bulan. Ilmuan Indonesia itu ikut, mereka masuk ke pangkalan itu, kekacauan terjadi. Ini adalah sebuah perang. Pangkalan itu ternyata menculik pesawat-pesawat yang hilang itu. Makhluk asing yang menyebut mereka bangsa Fors melakukan percobaan dengan memindahkan jiwa—kesadaran—mereka ke tubuh manusia untuk melakukan konspirasi besar dalam menguasai dunia.

Pangkalan itu menjadi ladang pertempuran. Ketika pasukan ekspedisi PBB terdesak, bantuan datang. Tim kedua membantu evakuasi, lalu pangkalan itu dihancurkan. Namun, itu hanya sebuah awal dari peperangan besar ini. Semua telah dimulai. Bangsa Fors tidak main-main. Perang itu baru saja dimulai, dan Jawa menjadi medan perang yang pertama.

***

Aku menyadari keanehan ini sejak lama. Yogyakarta sudah lama diisolasi. Namun, ancaman yang kurasakan tidak hilang begitu saja. Walaupun aku tahu mereka tidak bisa keluar dari sana, tapi hatiku tetap tidak tenang. Kurasa, yogyakarta bukanlah ancaman utama.

Aku mencoba bangkit dari tempat tidurku. Pandanganku masih remang-remang. Semalam aku sepertinya kurang tidur. Terlalu lama mengerjakan tugas dari kantor. Terkadang pekerjaan membuatku tertekan. Namun, itulah satu-satunya caraku bertahan hidup.

Aku bangkit berdiri. Mencoba berjalan perlahan keluar kamar dan mendapati istriku sedang menonton berita pagi dengan sarapan tersaji di atas meja. Aku tidak langsung menghampirinya. Menuju kamar mandi sebentar lalu mencuci mukaku. Mencoba menghilangkan kantukku yang masih tidak mau pergi.

“Mas, ada berita penting!” seru istriku.

“Sebentar,” balasku singkat. Kutatap cermin, bayanganku ada di sana. Seorang pria berumur tiga puluh tahun yang bekerja di salah satu BUMN. Bernama lengkap Rans Heriawan.

Aku segera melangkah keluar dari kamar mandi. Menemui istriku yang sudah menunggu di depan TV. Sepiring nasi goreng tersaji di sana. Aku segera menyantapnya selagi hangat. Sudah kuduga rasanya akan nikmat seperti biasa. Istriku tidak terlalu pandai memasak, tapi untuk nasi goreng dialah yagn terbaik.

“Jadi berita apa?” tanyaku.

“Hujan meteor lagi, ini terdengar aneh tapi terjadi di seluruh Jawa,” ujarnya dengan nada sedikit khawatir.

“Mengapa kau terdengar khawatir?” tanyaku.

“Aku takut, epidemi di Yogyakarta terulang,” jawabnya.

Mataku membelalak dan sedikit terdesak. Dia benar, kejadian ini aneh. Aku segera menghabiskan sarapanku. Aku harus melakukan sesuatu, aku harus memperingatkan pemerintah. Namun, apakah pemerintah akan percaya pada kekhawatiran rakyatnya? Satu dua orang apa akan dipedulikan?

Aku berpikir dua kali untuk memberi tahu pemerintah. Kurasa, pemerintah tidak akan peduli jika aku bersuara. Aku hanya bagian kecil dari bangsa ini. Sudah lama masyarakat dan pemerintah kita mempedulikan sesuatu dari segi jumlah. Sudah rahasia umum, untuk dipedulikan kau harus jadi mayoritas.

“Berapa rentang waktu hujan meteor dan anomali itu terjadi di Yogya?” tanyaku. Istriku memang tidak bekerja di perusahaan manapun. Namun, dia bisa disebut intelektual yang paham banyak hal.

“Sekitar satu sampai dua bulan, tetapi kali ini bisa saja lebih cepat,” jawabnya.

“Jadi, Jawa bisa hancur kapan saja,” ujarku. Dia membenarkan perkataanku.

“Baik, selama aku bekerja persiapkan peralatan untuk berpergian. Juga senjata, aku memiliki izin menggunakan senjata api jadi tidak masalah,” kataku. Dia mengangguk mengerti.

Aku segera mandi dan bersiap ke kantor. Setelah siap aku mengecupp puncak kepala istriku lalu pamit berangkat ke kantor. Aku menggunakan motor untuk hari ini. Aku harus meninggalkan mobil pada istriku agar dia bisa evakuasi jika kejadian tidak diinginkan terjadi. Aku dalam setengah jam tiba di kantor. Menuju lantaiku dan segera tiba di meja kerjaku.

“Hei, Rans, apa kabarmu?” tanya Derian teman di sebelahku.

“Tidak baik, rasa khawatir itu terus muncul,” balasku.

“Tenang sa—“ kalimatnya terpotong olehku, “Dan kau tahu, rasa khawatirku ini sering menjadi kenyataan.” Aku menyalakan komputerku, bersiap bekerja.

“Memangnya ada apa?” tanyanya sedikit berbisik.

“Ingat epidemi di Yogyakarta? Kau tahu apa kejadian awalnya? Hujan meteor, dan kejadian itu terulang semalam. Di seluruh Jawa! Bayangkan itu,” jawabku.

“Aku tidak terpikirkan soal itu, ada saran?” tanyanya lag.

“Bersiaplah untuk segala kemungkinan terburuk,” jawabku. Lalu percakapan kami berakhir. Kami mulai sibuk mengerjakan tugas masing-masing. Aku hanya bisa berharap hari ini akan baik-baik saja.

***

Sorenya aku pulang dengan selamat. Hari ini tidak ada kejadian aneh apapun. Istriku juga baik-baik saja di rumah. Aku terus memperingatkannya untuk tetap berhati-hati. Jika ada masalah aku memintanya meneleponku. Sungguh, aku sangat khawatir. Aku memang berlebihan, tapi itu wajar untuk kondisi saat ini. Kautahu, dunia sudah gila. Dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, banyak kejadian aneh.

Setidaknya, malam ini aku bisa beristirahat dengan tenang. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan untuk malam ini. Ya tidak ada, sampai—

PRANK

Suara kaca pecah memenuhi seisi rumah. Aku segera keluar kamar mencari istriku. Dia ada di dapur bersiap dengan sebuah pisau. Setidaknya aku tahu dia aman. Aku lalu mengeluarkan belatiku. Mengendap-endap memeriksa keadaan.

PRANK

Suara kaca terdengar lagi. Lalu terdengar suara geraman. Geraman hewan yang lapar. Namun, aku yakin itu bukan suara hewan buas. Sial, ternyata sudah dimulai. Aku melihat mereka. Badan mereka seperti terbakar, membungkuk dan penuh air liur.

“Mereka terlihat sedikit berbeda dari yang di Yogya,” bisik istriku.

Aku tidak sengaja menyenggol vas bunga di meja dekat televisi. Suaranya memancing mereka untuk menoleh. Langsung saja, dengan tangan terjulur dan geraman tadi mereka menyerangku. Yang pertama berusaha meraih leherku, aku menangkap tangannya lalu menyikutnya dengan keras. Tidak menunggunya menyerang aku menusuk lehernya dan mendorongnnya ke arah temannya.

Yang kedua terkejut, dia menyerangku. Aku menendangnya dengan keras lalu menusuk jantungnya, mencabut belatiku kemudian menggorok lehernya. Dia jatuh ke lantai. Malam ini, lantai rumahku bersimbah darah.

Aku tidak tahu mereka datang dari mana. Sepengetahuanku tidak terdengar berita bahwa terjadi anomali kabut yang menyebarkan virus yang sama seperti di Yogya. Tidak terdengar informasi apapun. Kecuali, pemerintah menyembunyikannya.

“Siapkan barang-barang, kita pergi sekarang.” Istriku mengangguk. Aku segera pergi ke gudang menyiapkan senjataku. Aku pernah jadi anggota intel tetapi tidak terlalu lama bekerja di lapangan. Hanya sekitar lima tahun, lalu aku dipindahkan menjadi agen teknis.

Di gudang aku mengambil senjataku berupa dua pistol dengan delapan magazine, sebuah shotgun dengan sekotak peluru dan sebilah katana. Lalu terdengar jeritan, itu bukan jeritan istriku. Jeritan itu terdengar dari luar. Lalu disusul jeritan lainnya. Bunyi pecahan kaca, keributan, dan geraman.

Aku segera kembali ke istriku yang sudah siap di garasi. Dia dengan cepat menyalakan mesin mobil. Ransum, pakaian, dan segala peralatan yang kami perlukan sudah siap di dalam mobil. Aku menyerahkan salah satu pistol dan dua magazine ke istriku. Aku takjub padanya bisa tenang dalam situasi ini. Dia juga terbisa dengan senjata api.

“Apa kaupikir kita harus mengajak keluarga sebelah?” tanyaku.

“Kau ingin mengeceknya? aku bisa menunggu di mobil. Tapi pastikan kau kembali,” balasnya. Aku menelan ludah lalu mengangguk.

Aku segera keluar dari rumah. Berjalan cepat ke rumah tetangga. Gelap, tidak ada suara. Lalu tiba-tiba sebuah AK-47 menodongku dari arah jendela.

“Berhenti! Siapa di sana?” serunya.

“Aku Rans, aku mengajakmu ikut. Kita harus melakukan evakuasi,” ujarku. Lalu terdengar jeritan dan geraman dari belakangku.

Rumah di belakangku baru saja diserang. Aku segera ke sana. Terlambat, aku menemukan makhluk itu tengah memangsa seorang wanita, dengan cepat aku menembakinya hingga tidak bisa bergerak. Aku kembali ke rumah sebelumnya.

Fahmi sudah siap berangkat. Dia bersama istri dan anaknya segera menuju rumahku. Sekedar informasi, aku dan Fahmi cukup dekat. Fahmi adalah anggota militer. Dia sedang dibebastugaskan. Aku segera memintanya masuk. Dengan cepat kami siap berangkat.

Aku langsung tancap gas saat pintu garasi terbuka. Meninggalkan daerah pemukiman yang sudah kacau balau. Tidak ada waktu untuk menyelamatkan banyak orang. Di sini, manusia memperlihatkan keegoisannya. Aku makhluk yang ingin bertahan, aku tidak ingin tersisihkan.

***

Kondisi kacau. Informasi dari pemerintah datang terlambat. Meteor itu meledak pukul lima kemarin. Seluruh Jawa kacau. Pusat-pusat kota terinfeksi dengan cepat. Militer sulit bertindak, evakuasi sia-sia. Kini, manusia hanya bisa peduli terhadap dirinya sendiri.

“Jadi menurutmu ke mana kita?” tanyaku pada Fahmi. Kami sedang merentangkan peta Jawa.

“Meteor itu jatuh secara acak. Kita tidak bisa benar-benar tahu di mana lokasi yang aman,” ujarnya.

Aku membenarkan. Dia lalu berkata, “Namun, kukira kita harus segera ke pelabuhan atau bandara terdekat.”

“Tidak, pasti ramai sekali. Apalagi kondisinya kacau begini, bisa saja bandara sudah tamat,” ujarku.

“Namun, kita harus segera pergi dari pulau ini,” ujarnya.

“Apa kau tahu di mana landasan terdekat? Bukan bandara umum,” kataku.

“Mau apa kau? Menerbangkan pesawat? Kita berlima, pesawat kecil hanya muat dua orang,” balasnya.

“Tergantung jenisnya,” balasku.

ARRGHH

Suara geraman muncul. Tidak hanya satu geraman. Ada banyak geraman, lima. Makhluk-makhluk itu menyerbu dari arah jalanan. Aku siap dengan katanaku. Dengan gerakan cepat aku berlari ke arah mereka. Menebas kepala salah satunya melakukan gerakan berputar, menusuk lurus ke depan. Melompat ke samping sambil menebas kembali. Tiga sudah tumbang.

Dua lagi menyerangku dari dua arah. Aku hanya bergeser sedikit dan membuat mereka bertabrakan. Dengan satu tebasan kedua kepala mereka terpisah dengan darah bercipratan ke mana-mana. Entah mengapa aku terbiasa menghadapi mereka.

“Di mana pangkalan militer terdekat?”

***

Jika ada orang berkata dunia ini penuh kekejaman, aku setuju dengannya. Kekejaman pertama, aku tidak bisa melanjutkan kuliahku. Kedua, kehidupan normalku hancur berantakan. Ketiga, kotaku diisolasi di tengah kekacauan ini. Epidemi aneh menyebar ke seluruh kota sejak hari itu. Yogyakarta mengalami kekacauan besar. Militer bergerak dan membantu masyarakat. Namun, epidemi ini sudah terlanjur cepat menyebar. Lalu pemerintah pusat mengelurkan kebijakan yang mengejutkan, Yogyakarta diisolasi begitu saja. Tanpa penangangan lebih lanjut.

Militer dan masyarakat yang terjebak mencoba bertahan dengan bekerja sama. Kami membangun pertahanan di sekitar Keraton, Prambanan, dan UGM. Persediaan makanan dan lain-lain dibagi seadil mungkin. Namun, bencana ini membuat semua orang gila. Pertikaian masih sering terjadi. Kami yang seharusnya fokus saling membantu, malah saling bunuh memperebutkan makanan. Seakan, manusia tidak lebih dari binatang yang kelaparan.

Charise, kemarilah ada kabar menarik,” panggil salah satu temanku.

Aku mengecek keadaan sekitar terlebih dahulu baru meninggalkan tempatku berdiri sebelumnya. Sekarang aku dan beberapa temanku sedang berburu makanan di toko-toko yang sudah ditinggalkan. Namun, kami sedang beristirahat sekarang.

“Ada apa?”

“Dengar ini,” ujarnya, “berita yang menarik dan menyeramkan.”

Epidemi yang pernah menyebar di Yogyakarta kini menyebar ke seluruh Jawa. Hujan meteor yang terjadi kemarin ternyata membawa dampak buruk dalam kurun waktu kurang dari dua puluh empat jam. Pemerintah segera melakukan evakuasi dari Bandung. Pemerintah menghimbau setiap warga untuk mempersenjatai diri dan segera mengevakuasikan keluarga ke tempat yang aman. Untuk saat ini pangkalan-pangakalan militer masih menjadi tempat yang teraman. Sekian RRI melaporkan.

“Jawa diambang kehancuran dan pemerintah melarikan diri,” ujarku ketus. Aku sudah tidak percaya lagi pada pemerintah sejak Yogyakarta diisolasi.

“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya temanku.

“Tidak ada jalan lain, kita harus berperang melawan mereka.” Aku mengokang senjataku.

Keputusanku tepat, karena tiba-tiba saja makhluk-makhluk aneh itu menyerang dari luar pertokoan. Aku segera menembaki mereka dibantu dua temanku. Namun, kami harus menghemat peluru. Selagi dua temanku yang lain berkemas, aku segera berusaha menahan makhluk-makhluk ini. Aku mengganti senjataku dengan dua belati hitam. Dalam pertarungan jarak dekat aku juga tidak bisa diremehkan. Sudah sejak kejadian itu aku menjadi petarung. Bertarung untuk bertahan hidup.

“Kami sudah siap. Ada kendaraan di belakang,” kata temanku. Aku segera mengangguk dan kembali menggunakan senjata apiku.

“Cepat!” kami berlari menuju ke belakang pertokoan. Sambil mencoba menembaki makhluk-makhluk ini. Dia benar, di belakang ada sebuah mobil jip. Para pembawa logistik masuk duluan. Aku menyusul bersama yang lain. Dalam lima menit dia berhasil mengakali mesinnya agar menyala.

Fire in the hole!” aku melempar granat tepat saat kami mulai tancap gas.

Kami berhasil kabur lagi.

***

Kekacauan terjadi di sini. Semua orang panik. Oke ralat, kekacauan terjadi di seluruh pulau Jawa. Aku sudah memerintahkan militer untuk mencoba mengevakuasi warga ke titik aman. Aku telah mencoba. Kini aku mencoba mengevakuasi pemerintahan.

“Kita harus cepat, pak,” kata ajudanku.

“Aku menggeleng, aku akan tetap di sini,” balasku.

“Tapi, bisa apa rakyat tanpa pemimpinnya?” balasnya.

“Bisa apa pemimpin tanpa rakyatnya?  Aku akan di sini bersama rakyatku. Semua komponen pemerintahan segera dievakusikan ke Denpasar. Aku akan tetap di Bandung bersama beberapa menteri. Ini tidak sama seperti kejadian di Jakarta, Ali. Kali ini aku harus tetap di sini,” jelasku.

Aku tidak tahu. Mengapa negeri yang indah ini sering ditimpa masalah sulit? Epidemi aneh melanda Yogyakarta. Lalu ada serangan makhluk asing ke Jakarta—beberapa kota di seluruh dunia juga mengalami hal yang sama—sekarang epidemi itu menyebar ke seluruh Jawa.

Hujan meteor semalam sangat mendadak. Aku baru tahu fakta bahwa itu bukanlah meteor tapi senjata dari Bangsa Fors. Tim pencegahan gagal, senjata itu aktif dengan cepat dan menyebabkan epidemi besar ke seluruh Jawa. Militer terpaksa aku gerakan untuk membantai mereka dan melindungi warga.

Aku bangkit dari tempat dudukku. Aku akan meninggalkan gedung ini tapi aku tidak akan pergi dari Pulau Jawa. Sudah cukup aku berlari. Sudah lama aku menginginkan pertempuran, dan sekaranglah aku akan bertempur.

“Anda masih ingat cara menggunakan senjata, pak?” tanya Ajudanku.

“Tentu saja,” balasku sambil tersenyum.

***

Ruang rapat segera dipenuhi banyak orang. Sebuah peta pulau Jawa terbentang di atas meja. Aku menghela napas sebentar. Lalu mulai memberikan intruksi pada orang-orang di hadapanku.

“Baik, mari kita mulai. Saat ini, seluruh pulau Jawa mengalami kekecauan. Aku meminta seluruh sumber daya yang ada digunakan untuk menyelamatkan pulau ini. Fokuskan untuk menyelamatkan rakyat dan melindungi mereka. Buat titik-titik pertahanan di setiap kota. “

“Untuk Provinsi Banten, akan kuberikan komando pada Mayjen Achmad. Jakarta, pada Letjen. Farris. Jawa Barat pada Jenderal Rano. Jawa tengah pada Kolonel Dahlan. Jawa Timur pada Mayjen Derio. Pimpin pasukan kalian untuk membasmi makhluk-makhluk ini dan evakuasi warga ke wilayah aman. Makhluk-makhluk ini bisa dibunuh. Sistem tubuh mereka masih sama seperti manusia. Jantung dan otak mereka tetap jadi titik terlemah,” jelasku pada orang orang di hadapanku.

“Siap Pak!” balas mereka.

“Jawa diambang kejatuhan dan kita adalah harapan bagi pulau ini. Lakukan yang terbaik demi rakyat kita!” seruku.

“Kalian dilatih untuk menghadapi situasi seperti ini. Tunjukan padaku hasil latihan kalian!” kataku lagi.

“Siap Pak!”

“Aku akan ikut bertempur di daerah Bandung kota. Ajudanku akan bersamaku bersama sepuluh orang lainnya. Kalian fokus saja pada tugas, jangan khawatirkan diriku. Aku akan tetap hidup, paham?”

“Siap paham!”

Mereka lalu kububarkan untuk segera bertugas. Aku sendiri langsung menuju ruang senjata dan memilih senjataku sendiri. Walaupun tidak memiliki latar belakang militer aku pernah berlatih menggunakan senjata api. Kali ini aku memilih membawa shotgun, dua pistol, dan dua buah pedang pendek. Aku membawa amunisi sebanyak yang kubisa.

Ajudanku memilih menggunakan senapan serbu dan membawa beberapa peledak. Dia cukup ahli dalam meledakan sesuatu. Aku pernah melihatnya bertempur saat evakuasi dari Jakarta. Aku mendekatinya lalu membisikan sesuatu.

“Jika aku terinfeksi,” bisikku, “segera tembak aku dan jangan ragu.”

Dia mengangguk. Aku percaya padanya. Selama empat tahun ini dia telah menjadi orang kepercayaanku. Perintah apapun itu, termasuk membunuhku akan dia jalani. Lalu kami keluar menuju lapangan depan. Dengan beberapa mobil bersenjatakan kaliber lima puluh dan mortir telah menunggu sepuluh orang yang akan menjadi pasukanku.

“Kita akan turun ke jalan bukan untuk main-main. Kita habisi makhluk-makhluk itu dan selamatkan sebanyak mungkin warga sipil. Jangan sampai tergigit atau kalian akan menjadi seperti mereka,” ujarku. Mereka mengangguk padaku. Paham dengan resiko pekerjaan mereka.

“Mari kita mulai.” Aku menaiki salah satu mobil dan kami segera berangkat. Aku akan turun ke medan perang. Memimpin langsung perlawnan ini. Walaupun Jawa diambang kehancuran, aku tidak akan lagi. Tidak lagi. Akan kutunjukkan pada rakyatku, bahwa pemimpin mereka bukan pengecut.

***


0 comments:

Posting Komentar

Hubungi kami :

Twitter : @APAksara

Email : apaksara3@gmail.com

HP : 085773226995

Instagram: kapas3.aksara

Twitter

Translator