Nama saya adalah Eka. Hanya Eka. Saya berniat untuk mengakhiri hidup saya. Kebanyakan orang akan memberhentikan tindakan saya ini. Jika orang tersebut mempunyai rasa kasih sayang terhadap sesama manusia. Saya rasa, rasa peduli terhadap satu sama lain sudah mulai pudar. Orang tua saya saja tidak peduli saya telah menghilang selama tiga hari. Pasti kalian akan bertanya mengapa harus menunggu tiga hari untuk bunuh diri?? Sebetulnya saya sudah mati, sekarang tubuh saya sedang terbawa arus laut. Mengambang di luasnya samudra. Sepertinya agak tidak sopan jika saya tidak bercerita sedikit tentang diri saya.
Nama saya adalah Eka. Lahir dibawah jembatan ciliwung. Tidak ada akte kelahiran,dan selalu berpindah tempat. Ibu adalah seorang pelacur dan ayah adalah seorang penjual narkoba untuk sebuah organisasi mafia. Umur terakhir saya saat saya meninggal adalah 16 tahun, menduduki kelas satu SMA. Secara fisik saya berkulit hitam, kurus/ceking,dan ikal. Sehari-hari saya selalu memungut buku-buku buangan. Saya selalu membaca, karena menurut saya hanya itulah satu-satunya hal yang waras di hidup saya ini. Selain membaca saya juga senang bermain. Masalahnya saya tidak punya teman. Kabar angin selalu tersebar dengan cepat. Seringkali anak-anak lain tidak mau berteman dengan saya, dikarenakan pekerjaan ibu dan ayah, atau karena penampilan saya.
Pernah dulu ada satu anak. Ia bernama Jaya. Jaya adalah seorang anak pemulung. Ibunya mati kelaparan. Jaya bercerita pada suatu malam mereka tidak mengumpulkan cukup uang untuk membeli makanan yang cukup untuk Jaya dan orang tua nya. Ibunya rela agar hanya Jaya dan ayahnya yang makan. Jaya dan saya selalu bermain bersama, karena kita merasa kita mempunyai sebuah persamaan, yaitu kita adalah bagian dari orang-orang yang dapat melihat jalan keluar dari sebuah sistem yang rusak. Kita selalu berandai-andai dibawah pohon kelapa. Jaya adalah satu-satunya teman yang saya miliki. Yang mengerti dan memahami saya. Jika saya bersamanya, seakan waktu berhenti dan hanya ada canda dan tawa yang mewarnai dunia. Saat waktunya tiba untuk berpisah,karena saya harus selalu berpindah kota. Jaya memberi sebuah mainan dari kayu yang ia pungut sewaktu berumur lima tahun. Sebuah mainan yang ia simpan dan ia sayang karena mainan itu adalah satu-satunya benda yang mengingatkan Jaya dengan ibunya. Waktu itu kami masih berusia sebelas tahun, kami tak sabar untuk naik ke kelas enam dan tak sabar untuk berada di bangku SMP bersama. Tetapi tak semua mimpi terwujudkan dan inilah momen terpahit di hidup saya.
Saat saya menduduki kelas delapan SMP. Saya mulai kehilangan arah. Kata orang-orang SMP adalah masa-masa yang rawan. Kesalahan terbesar di hidup seseorang dapat terjadi pada masa-masa ini. Saat itu saya mulai tidak menyukai sekolah, buku yang dulu menggairahkan,kini tidak semenyenangkan seperti dulu. Saya mulai menghisap rokok. Sehari bisa sebungkus. Hampir setiap malam saya selalu berkelahi. Pada suatu malam saya berkelahi dengan anak dari seorang pengusaha ternama. Anak itu hampir meninggal. Malam itu juga saya dibawa ke kantor polisi. Pada malam itu saya bertemu sekali lagi dengan sebuah harapan. Seorang polwan membawa ayah ke kantor polisi. Rupanya ayah telah tertangkap dan terekspos. Polwan tersebut melihat saya dengan tatapan mata yang baru pertama kali saya lihat seumur hidup saya. Mata bercorak simpati. Tak pernah ada yang memberi tatapan itu kepada saya seumur hidup. Polwan itu bernama "Nur". Ibu Nur berumur 30 tahun. Suaminya meninggalkannya karena Bu Nur tidak dapat memiliki anak. Malam itu Bu Nur mengajak saya untuk bermalam dirumahnya. Ia menyiapkan makanan yang lengkap walau gajinya tak seberapa. Bu Nur tinggal di sebuah kos-kosan kecil dekat dengan sebuah sungai yang kumuh. Tetapi saya tidak peduli. Tidur di tempat Bu Nur masih lebih nyaman dibanding dengan tidur di sebuah rumah reot yang bau dengan berbagai macam lelaki. Bu Nur sudah seperti seorang ibu yang tak pernah saya miliki. Ia membiayai sekolah, memberi makan dan menyediakan tempat tidur. Walau sebenarnya saya agak merasa malu telah merepotkannya, tetapi sepertinya ia senang melakukan semua itu. Beliau begitu baik dan adil. Ia tak pernah menerima uang sogokan dan pekerjaan kotor, walau gajinya tak seberapa. Menurutnya keadilan dan kejujuran adalah sebuah kehormatan yang harus dijaga. Ia tak ingin kehormatannya ternodai. Setahun bersamanya berasa seperti menemukan 12 tahun yang hilang dari diri saya. Saat itu malam, pada hari ibu. Saya membeli sebuah kue ulang tahun untuk bu Nur. Saya sedang antusias untuk memberinya sebuah hadiah. Namun jiwa saya hancur, lalu kepingan jiwa itu diledakan dan lalu di jatuhakan nuklir. Belilau telah meninggal. Beliau mengidap kanker sejak usia 20 namun tak pernah berobat. Tekadnya untuk berbaktilah yang memotivasinya untuk terus hidup. Ia meninggal dengan posisi duduk dengan senyuman manis yang selalu ia kenakan.
Setelah kematian bu Nur saya kembali memburuk. Tak termotivasi untuk melakukan apapun. Pagi hari saya berdiri diatas sebuah jembatan. Saya sudah siap untuk melompat dan berharap sebuah kematian yang cepat. Sampai seorang orang gila menghampiriku. Orang gila itu tersenyum dan bersiap-siap untuk melompat. "Mas, ini mau lomba renang kan ya mas?" ucap orang gila itu. Saya menjawab dengan lantang "Saya mau bunuh diri, dunia sudah tidak ingin melihat saya lagi, lebih baik saya enyah dari dunia ini". Orang gila itu tertawa. "Yahilah mas, dikira ada orang di dunia ini yang mau saya mas. Dikira mas doang yang sengasara. Setiap hari saya dihina dan ditendangi loh mas, jarang saya makan. Mas harusnya bersyukur". Kata-katanya menggerakan hati saya. Saya mundur selangkah dan bertekad untuk hidup. Tetapi. Rasanya begitu cepat. Sebuah sentuhan yang kuat menyentuh diriku dari belakang sehingga mendorong saya. Badan saya telah terjatuh dari jembatan itu, mata saya tertuju pada batu yang ada didasar sungai ini. Orang gila tadi telah mendorong saya. Dari kejauhan saya mendengar "Tapi jika mas memang mau mati yasudahlan saya bantu". Berbagai ingatan dan kenangan kembali melintas di kepalaku. Sehingga pada akhirnya saya tak sadar diri. Sampai saya terbangun dan disinilah kita.
Biasanya ketika orang bangun dari pingsan, hal pertama yang ditanyakan adalah dimana mereka. Setidaknya di film-film seperti itu. Yang sekarang sedang saya pikirkan adalah"Jemuran sudah diangkat belum ya?". Sekarang saya sedang berfikir keras apa yang telah terjadi. Sekarang sudah jam berapa? Dimana ? Apa itu benda putih yang datang ke arah saya? Eh. Dari kejauhan terlihat benda putih yang datang melaju cepat, benda itu sepertinya mengkilap. Saya mempunyai firasat buruk. Semakin lama semakin jelas. Tidak mungkin! Apakah itu sebuah putri duyung? Benda itu mendekat dan menjumpai diriku. Ternyata benar, benda itu adalah putri duyung."Eka, apakah kamu Eka?". Ucap putri duyung itu dengan tergesa-gesa. "Bukan saya Bambang". Saya menjawab dengan sedikit rasa kecewa. Mengapa? Karena presentasi orang yang mayatnya terbawa arus sampai ke lautan terbuka sangat sedikit dan terlihat sepertinya hanya ada saya. "Oh yowes salah orang aku". Putri duyung itu berenang menjauh. Tunggu."Tunggu dulu saya bercanda, saya Eka!". Putri duyung itu kembali dengan wajah bosan. "Aku memang setengah ikan! Tapi gak juga nganggep kecerdasan ku sama dengan ikan!". Ia terlihat marah."Mbak putri duyung jangan marah-marah mbak nanti gak cantik lagi loh mbak". Mukanya mendatar setelah mendengar itu. Seakan sudah bosan. "Mas Eka saya gak punya kelamin mas. Saya bisa aja jadi cowok loh mas". Sekarang giliran saya yang mukanya jadi datar. Kekecewaan saya membesar. Lebih baik mati saja lah. Eh memang itu kan tujuan saya? Ah udah lupa.
"Sudahlah dengan basa-basinya saya ada kepentingan lain. Eka kamu memiliki sebuah kekuatan". Ucapnya dengan penuh semangat. Wow. Sudah berapa banyak novel,komik,dll cerita yang tokoh utamanya memiliki kekuatan. Sungguh tidak kreatif cerita ini. "Kekuatan apa putri duyung?". Sang putri duyung seketika mengeluarkan ekspresi terlupa sesuatu. "Maaf saya belum mengenalkan diri saya,tidak enak dipanggil putri duyung dari tadi. Sebenernya baru sekali sih tapi yowes. "Nama saya adalah, Putri Sulaiman Sulistiawati Suarip Supratman Supreme Ayu Farah Ningsih Wati Podomoro Hatta Vladimir Vladimirov Meliani. Panggil saja Vina". Yaksip terserah anda saja lah. "Eka kamu yang sangat menginginkan kematian, mempunyai kekuatan untuk tidak bisa mati. Jika kamu terbunuh kamu akan sembuh kembali". Kekuatan macam apa itu! Tidak bisa mati! Bohong ah. "Buktikan bahwa ini nyata!". Vina menggeleng-geleng kepalanya. "8 jam yang lalu kau terjatuh dari jembatan setinggi 8 meter dan terbawa arus dan kau sekarang hidup dan berbicara dengan aku". Betul juga sih. " Lantas kau ingin saya untuk apa?". Pertanyaan bodoh tentu untuk menyelamatkan dunia. Apalagi coba, terkadang saya suka mengeluarkan pertanyaan yang jelas jawabannya. "Aku ingin kau mencari orang-orang yang mempunyai kekuatan. Mereka disebut dengan anomali, sebagian dapat menggunakan kekuatan mereka dan sebagian tidak. Jika dibiarkan mereka dapat menghancurkan dunia, kau harus membawa mereka ke Atlantis agar dapat direhabilitasi, aku akan memberi mu sebuah hadiah nanti saat kau terbangun akan kau temukan hadiah itu". Vina mengeluarkan sebuah pisau. Ia bersiap-siap dan menusuk ku pas dijantung, ia menggoyang-goyangkan sampai akhirnya saya menutup mata dan rasanya nyawaku telah melayang.
Badan ku basah. Punggung ku terasa sakit dan penuh pasir di celana ku. Saat saya membuka mata dan melihat sekeliling saya berada di sebuah pantai. Saya tidak mengenali tempat ini. Ditangan ku ada sebuah batu, batu itu mempunyai sejumlah nama. Ada sebuah nama yang menyala pada batu ini, "Akizuki Hana". Mungkin saya harus mencarinya, apa susahnya. Saya melihat sekeliling saya lalu ada seorang anak. Anak itu bermata sipit dengang kulit coklat sawo, dan berkata "Konichiwa". Tidak mungkin. Apakah aku ada di jepang? Dalam pikiran ku akan susah mencari seseorang di tempat yang bahasanya sungguh berbeda dengan yang ku tahu. Di dalam celana ku saya menemukan sebuah permen dengan tulisan "Bahasa Jepang". Tanpa pikir panjang saya memakannya. Kepala ku pusing dan berdenyut seakan sedang mabuk. Banyak sekali suara-suara orang berbicara, namun aku mengerti. Saat pusing itu selesai aku bertanya kepada anak itu dengan bahasa Jepang."Adek kecil dimana aku?". Anak itu berlari sekencangnya dan aku pun juga sama. Saya mengejarnya dengan kencang bagaikan Usain Bolt. Anak itu berlari dengan kencang sekali sambil berteriak "TOLONG ADA PRIA ANEH YANG MENGEJARKU!!". Aku berlari sekencang-kencang sehingga ada bunyi DOR!!! yang kencang. Darah mengalir dari dadaku. Rupanya aku tertembak.
Saya bangun diatas kasur penjara. Rupanya saya telah dipenjara. Sampai pada titik ini sudah berapa kali aku sudah mati? Dua pria datang untuk mengintrogasi ku. Skenarionya bisa ada dua. Yang pertama dimana aku berkata jujur yang kemungkinan akan memperpanjang masalah, atau opsi kedua yaitu bertarung mati-matian dengan polisi disini. Polisi pertama bertanya hal-hal pribadi sementara polisi kedua bertanya hal spesifik. Apa pun itu dari tadi aku menjawab dengan "Aku tidak tahu". 2 jam berlalu. Mereka tetap mencoba untuk menerobosku. Sampai pada akhirnya salah satu polisi itu berdiri dan berkata "Aku ingin makan dulu, apa kau ingin sesuatu Pak Akizuki? Akizuki. Mungkin ia ada hubungan dengan orang yang sedang ku cari. Perut ku bersuara. Kedua polisi itu tertawa. "Sebaiknya anda ikut makan bersama kita, mungkin anda dapat menjawab pertanyaan kami setelah makan". Kami berjalan keluar dari kantor polisi, dan menuju sebuah tempat makan kecil. Seiring berjalan, aku mendengar segala sesuatu dengan jeli, melihat sesuatu dengan detil. Rasanya semua indra ku telah dimodifikasi. Mungkin kekuatan ku bukan hanya tak dapat mati. Indra super bisa jadi kekuatan ku juga. Kami duduk di sebuah restoran kecil yang menjual burger ikan. Kami memesan tiga burger ikan, dengan minuman soda. Polisi itu menyantap dengan lahap, dan mengucapkan rasa syukur. "Hei, kau tak makan makanan mu? Enak loh ini". Jujur baunya sungguh aneh. Aku mencoba menggigit sedikit dan rupannya ucapan polisi itu benar. "Jadi kau ingin mengenalkan dirimu atau tidak?". Aku sebenarnya cemas. Vina tidak memberi banyak penjelasan. Jujur aku tidak yakin dapat menyelesaikan tugas ini. "Andai saja saya tahu siapa saya, apa yang saya kerjakan,status saya,dan bagaimana saya sampai disini. kebenarannya saya memang tidak tahu". Dari seberang jalan aku mendengar suara tangisan, suara seseorang yang tidak tahu berbuat apa. Suara depresi, suara yang aku sangat kenal. Aku berdiri, dan berlari ke sumber suara. Saya berlari sekencang-kencangnya. Badan ku tergerak dengan sendirinya. Kedua polisi itu mengikuti ku dan mencoba menangkapku. Ketika sampai di TKP, saya melihat 4 orang laki-laki dan 1 orang perempuan. Sepertinya anak SMP. Saya maju dan memukul salah satu dari mereka. Mereka mengeluarkan pisau, dan mencoba menusuku. Untuk seseorang yang dibesarkan di gorong-gorong kehidupan paling sampah, aku sudah tahu gerak-gerik petarung amatir. Satu per satu mereka mencoba merubuhkan ku, dan satu per satu tumbang dan terus mencoba lagi. Sampai satu berhasil menusuk ku. Aku terjatuh dan membiarkan diriku "mati". Jantung ku sejenak berhenti jiwa ku rasanya terangkat. Lalu semua kembali seperti semula, jantung ku berdetak dengan cepat dan rasanya semua indra begitu sensitif. Aku berdiri kembali dan memukul ketua dari kelompok lelaki berandalan itu dengan begitu kencang sehingga gigi palsunya tercopot dan mulutnya berdarah. Mereka terkejut dan berlari. Kedua polisi itu sampai ketika aku mati dan bangkit lagi. Kedua polisi itu tercengang. Gadis yang menangis itu ketakutan. Aku mendekat dan bertanya. "Hei mengapa mereka mengusik mu?". Gadis itu masih terkejut. Aku mengulang pertanyaan ku kembali. "Karena aku berteman dengan gadis aneh di sekolah". Aku mempunyai firasat gadis itu adalah Akizuki Hana." Apakah Akizuki Hana adalah orang yang kau maksud?". Gadis itu mengangguk. Polisi yang bernama Akizuki mendekat dan bertanya. "Memangnya ada apa dengan Hana?"."Benda di sekitar Hana seringkali bergerak, dan orang-orang di sekolah sungguh takut, aku satu-satunya teman Hana, namun para gadis di sekolah tak suka hal itu dan mereka menyuruh para lelaki untuk mengancam ku". Gadis itu menjawab dengan tergesa-gesa. Sungguh klasik, cerita yang membosankan. "Kita harus mencari Hana, aku tahu cara membantunya. Tunjukan aku dimana dia!".
Kita tiba pada sebuah taman terbuka. Suasananya terlalu sepi. Tak ada bunyi jangkrik atau sayup-sayup angin, kedua polisi itu sepertinya masih tidak percaya sedangkan temannya Hana terlihat cemas. Jujur saya gugup, jika Hana mempunyai kekuatan seperti saya maka tidak menutup kemungkinan jika Hana belum bisa mengendalikannya, atau ia menggunakan kelebihannya untuk kejahatan, atau bahkan kekuatannya terlalu kuat untuk bisa dikendalikan. Kita mengitari dan memeriksa seluruh taman itu, sampai pada akhirnya kita bertemu dengan sekelompok warga yang terbaring tak berdaya di tanah. Kedua polisi itu segera memeriksa tubuh yang terbaring, sepertinya mereka baik-baik saja jika dilihat dari ekpresi lega para polisi itu. Kedua polisi itu menghampiri ku, salah satu dari mereka mengangkatku dan bertanya "Baiklah apa yang sedang terjadi!?!". Saya merasa tercekik, dengan suara pasrah saya menjawab "Saya adalah Eka, saya memiliki kekuatan yaitu tidak dapat mati! Saya dikirim kesini untuk bertemu Akizuki Hana". Polisi yang berdiri disamping yang sedang mencekik memperkenalkan diri. Dari tadi kek. "Saya adalah Akizuki Hojo. Saya adalah paman dari Hana. Sarutobi turunkanlah dia!". Jadi namanya Sarutobi toh. Tuan Sarutobi menurunkan ku secara keras. Bahkan tidak bisa disebut diturunkan malah itu disebut dibanting! Tuan Sarutobi membantingku dengan keras! Dari bayang-bayang muncul sebuah kelompok remaja SMP. Jumlahnya lebih banyak dari yang tadi saya pukuli, sepertinya mereka dalam satu kelompok. Salah satu dari mereka berteriak "ITU DIA, KAKAK YANG MEMUKULI KITA. TEMAN ANEHNYA HANA!!!". Mungkin mereka ada puluhan, sepertinya mereka juga membawa senjata. Tuan Sarutobi dan Tuan Hojo mengeluarkan pistol dari saku mereka, dan menodongkan kearah para remaja-remaja mecin itu. "PERGILAH NAK! INI ADALAH URUSAN RESMI NEGARA! JIKA KALIAN TIDAK PERGI KAMI AKAN MENGGUNAKAN KEKERASAN!". Wow polisi menodongkan pistol kepada segerombolan bocah ingusan,sungguh bijak. Saya gak komplain. Para remaja itu berlarian menuju kita. Saya bersiap-siap untuk bertarung, kedua polisi itu sudah siap untuk menembak tapi tampaknya mereka gugup. Sudah sangat terbaca. Keringat turun dari dahi mereka, jari mereka bergemetaran, posisi menembak yang kurang seimbang. Secara tiba-tiba satu per satu tumbang. Mata mereka putih dan sepertinya kesakitan secara mental. Kedua polisi itu terkejut dan menjatuhkan pistolnya. Teman Hana kemudian berteriak "ITU HANA!!". Sial. Kekuatan macam apa ini??. Saya berlari pada mencoba mencari sumber kekuatan ini. Semakin mendekat dengan para remaja saya mulai merasakan rasa pening. Rasa sakit kepala yang kuat. "JANGAN USIK AKU, JANGAN DEKATI AKU". Pesan itu terus berulang-ulang. Saya dapat merasakan rasa sakit dan kepedihan dalam kata-kata itu. Sepertinya ada satu cara dimana aku dapat menemukan Hana. Saya memungut sebuah belati dari seorang remaja yang terjatuh. Saya menusukan jantung saya dengan harapan saya dapat mengaktifkan kekuatan saya. Saya sudah menyimpulkan setiap kali saya dihidupkan indra saya menjadi 100 kali lipat indra biasa manusia. Saya dapat melihat secara detil,bergerak lebih cepat dan mendengar suara dengan secara jelas pada semua frekuensi. Seperti tadi, jiwaku merasa hilang, jantung dan semua fungsi badan mulai tidak terasa. Semua gelap. Jantung ku berdetak dengan kencang, Saya dapat merasakan semuanya dengan jelas. Disana, disitu, au ah. Rupanya tidak bekerja. Lalu semua berhenti. Tidak ada rasa sakit kepala, tidak ada pesan yang berputar di kepala ku. Seorang gadis berjalan menujuku dengan wajah terkejut. Dalam cerpen ini sudah berapa orang yang yang terkejut? Gadis itu memiliki rambut pendek hitam, gigi tidak teratur dan tinggi badan sekitar 159-162 cm. "K-kau tadi hilang. Aku tidak dapat merasakan pikiran mu, yang hanya dapat kurasakan hanyalah rasa dingin. Apakah mungkin k-k-kaum m-mati??". Gadis itu gugup sekali, lebih tepatnya takut. Sepertinya kekuatannya adalah dapat membaca pikiran. Bahaya ini, bayangkan ratusan bahkan jutaan privasi laki-laki terancam."Hana! Hentikan semua ini! Jangan sakiti mereka lagi". Seketika wajahnya memerah dan ia sepertinya marah. "Bersikap baik?? Pada mereka !?!? Apa yang mereka telah lakukan untukku sehingga mendapatkan simpati ku !?!?!". Air mata turun dari matanya, saya tahu persis mata itu. Mata mereka yang tertindas dan diasingkan oleh dunia, mata yang mati. "Bukan seperti ini caranya, saya tahu kau berbeda. Saya juga berbeda, kita berdua adalah orang-orang pinggiran, orang-orang yang tidak diinginkan oleh masyarakat ini.Mereka hanya takut pada kita". Wajahnya membara dengan amarah. "UNTUK APA AKU MEMBERI DUNIA SIMPATI JIKA DUNIALAH YANG MERENGUT JIWA DAN HATIMU DARI DIRIMU. MERENGUT SEGALANYA DARI DIRIMU SAMPAI KAU TIDAK BISA MERASAKAN RASA SAKIT KARENA SAKING TERBIASANYA KAU DISAKITI DI DUNIA INI. APA KAU TAHU RASANYA DIMANA KEDUA ORANG TUA MU MENINGGAL DI DEPAN MATAMU DAN SEMUA ORANG TIDAK SEMINIMALNYA MELIRIK DAN MERASA KASIHAN PADAMU?? TIDAK!! MEREKA HANYA MELEMPARIMU DAN MENUSUK HATIMU DENGAN KATA-KATA DAN TINDAKAN PERIH". Kata-kata itu tidak salah. Memang buat apa kita melakukan sesuatu yang baik pada mereka yang telah mengasingkan kita. "Saya tahu perasaan mu, maka itu saya bunuh diri. JIKA TAKDIR MEMANG INIGIN SAYA MATI MAKA DI DASAR SUNGAI ITU SAYA SUDAH MATI, KENYATAANNYA SAYA SEHARIAN TERBAWA ARUS SAMPAI TERDAMPAR DI PANTAI NEGARA JEPANG!!DITUSUK DAN DIPUKULI, DIPENJARA DAN MATI BERKALI-KALI, TAPI TETAP SAYA HIDUP DAN BERDIRI DISINI! Saya rasa, jika memang takdir tidak menginginkan dirimu sejak awal, kau sudah mati". Hana terjatuh berlutut di tanah. Ia menangis sekencang-kencangnya. Hujan mulai turun. Mainstream sekali settingan adegannya. Saya sadar baju saya sudah terkoyak pada titik sudah tidak layak diapakai. "Jika kau mau, kau bisa membantu ku dalam misiku untuk mencari orang-orang yang mempunyai kekuatan seperti kau dan aku". Hana berhenti menangis dan menghampiriku. Rupanya ia ingin meper ingusnya kepada bajuku. Sial. Sudah cukup di tusuk-tusuk, sekarang di peper ingus."Baiklah aku akan ikut dengan mu. Tapi janjilah satu hal!". Mukanya memerah malu."Janjilah jangan mengkhianatiku atau menyakiti hatiku, berjanjilah agar kita selalu bersama sebagai sesama orang aneh!". Saya mengangguk. Mukanya tersenyum.
Kita berdua berjalan menuju tepi laut. sembari mengenal satu sama lain."Vina!" saya berteriak dengan keras. Sebuah kepala muncul dari laut. "Apakah kau berhasil?". Saya mengangguk, dan memperlihatkan Hana. Vina terlihat puas. "Baiklah Eka, Hana. Tujuan selanjutnya kalian akan pergi ke India. Carilah anak bernama Vajra. Carilah Vajra dan akan kuberitahukan kepada kalian mengapa kalian dikumpulkan dan sumber kekuatan kalian". Saya bersemangat, walau Hana sepertinya tidak tampak sesemangat saya. Kita berpegangan tangan dan masuk kedalam lautan. Memulai perjalan kedua saya. Jika diluar sana jumlahnya banyak yang seperti saya maka saya hanya ingin mereka tahu mereka tidak sendiri.
Catatan: Penggunaan kata 'saya' dan 'aku' yang tidak konsisten memang disengejai sebagai ciri khas tokoh protagonis, untuk mengenang teman lama saya
Nama saya adalah Eka. Lahir dibawah jembatan ciliwung. Tidak ada akte kelahiran,dan selalu berpindah tempat. Ibu adalah seorang pelacur dan ayah adalah seorang penjual narkoba untuk sebuah organisasi mafia. Umur terakhir saya saat saya meninggal adalah 16 tahun, menduduki kelas satu SMA. Secara fisik saya berkulit hitam, kurus/ceking,dan ikal. Sehari-hari saya selalu memungut buku-buku buangan. Saya selalu membaca, karena menurut saya hanya itulah satu-satunya hal yang waras di hidup saya ini. Selain membaca saya juga senang bermain. Masalahnya saya tidak punya teman. Kabar angin selalu tersebar dengan cepat. Seringkali anak-anak lain tidak mau berteman dengan saya, dikarenakan pekerjaan ibu dan ayah, atau karena penampilan saya.
Pernah dulu ada satu anak. Ia bernama Jaya. Jaya adalah seorang anak pemulung. Ibunya mati kelaparan. Jaya bercerita pada suatu malam mereka tidak mengumpulkan cukup uang untuk membeli makanan yang cukup untuk Jaya dan orang tua nya. Ibunya rela agar hanya Jaya dan ayahnya yang makan. Jaya dan saya selalu bermain bersama, karena kita merasa kita mempunyai sebuah persamaan, yaitu kita adalah bagian dari orang-orang yang dapat melihat jalan keluar dari sebuah sistem yang rusak. Kita selalu berandai-andai dibawah pohon kelapa. Jaya adalah satu-satunya teman yang saya miliki. Yang mengerti dan memahami saya. Jika saya bersamanya, seakan waktu berhenti dan hanya ada canda dan tawa yang mewarnai dunia. Saat waktunya tiba untuk berpisah,karena saya harus selalu berpindah kota. Jaya memberi sebuah mainan dari kayu yang ia pungut sewaktu berumur lima tahun. Sebuah mainan yang ia simpan dan ia sayang karena mainan itu adalah satu-satunya benda yang mengingatkan Jaya dengan ibunya. Waktu itu kami masih berusia sebelas tahun, kami tak sabar untuk naik ke kelas enam dan tak sabar untuk berada di bangku SMP bersama. Tetapi tak semua mimpi terwujudkan dan inilah momen terpahit di hidup saya.
Saat saya menduduki kelas delapan SMP. Saya mulai kehilangan arah. Kata orang-orang SMP adalah masa-masa yang rawan. Kesalahan terbesar di hidup seseorang dapat terjadi pada masa-masa ini. Saat itu saya mulai tidak menyukai sekolah, buku yang dulu menggairahkan,kini tidak semenyenangkan seperti dulu. Saya mulai menghisap rokok. Sehari bisa sebungkus. Hampir setiap malam saya selalu berkelahi. Pada suatu malam saya berkelahi dengan anak dari seorang pengusaha ternama. Anak itu hampir meninggal. Malam itu juga saya dibawa ke kantor polisi. Pada malam itu saya bertemu sekali lagi dengan sebuah harapan. Seorang polwan membawa ayah ke kantor polisi. Rupanya ayah telah tertangkap dan terekspos. Polwan tersebut melihat saya dengan tatapan mata yang baru pertama kali saya lihat seumur hidup saya. Mata bercorak simpati. Tak pernah ada yang memberi tatapan itu kepada saya seumur hidup. Polwan itu bernama "Nur". Ibu Nur berumur 30 tahun. Suaminya meninggalkannya karena Bu Nur tidak dapat memiliki anak. Malam itu Bu Nur mengajak saya untuk bermalam dirumahnya. Ia menyiapkan makanan yang lengkap walau gajinya tak seberapa. Bu Nur tinggal di sebuah kos-kosan kecil dekat dengan sebuah sungai yang kumuh. Tetapi saya tidak peduli. Tidur di tempat Bu Nur masih lebih nyaman dibanding dengan tidur di sebuah rumah reot yang bau dengan berbagai macam lelaki. Bu Nur sudah seperti seorang ibu yang tak pernah saya miliki. Ia membiayai sekolah, memberi makan dan menyediakan tempat tidur. Walau sebenarnya saya agak merasa malu telah merepotkannya, tetapi sepertinya ia senang melakukan semua itu. Beliau begitu baik dan adil. Ia tak pernah menerima uang sogokan dan pekerjaan kotor, walau gajinya tak seberapa. Menurutnya keadilan dan kejujuran adalah sebuah kehormatan yang harus dijaga. Ia tak ingin kehormatannya ternodai. Setahun bersamanya berasa seperti menemukan 12 tahun yang hilang dari diri saya. Saat itu malam, pada hari ibu. Saya membeli sebuah kue ulang tahun untuk bu Nur. Saya sedang antusias untuk memberinya sebuah hadiah. Namun jiwa saya hancur, lalu kepingan jiwa itu diledakan dan lalu di jatuhakan nuklir. Belilau telah meninggal. Beliau mengidap kanker sejak usia 20 namun tak pernah berobat. Tekadnya untuk berbaktilah yang memotivasinya untuk terus hidup. Ia meninggal dengan posisi duduk dengan senyuman manis yang selalu ia kenakan.
Setelah kematian bu Nur saya kembali memburuk. Tak termotivasi untuk melakukan apapun. Pagi hari saya berdiri diatas sebuah jembatan. Saya sudah siap untuk melompat dan berharap sebuah kematian yang cepat. Sampai seorang orang gila menghampiriku. Orang gila itu tersenyum dan bersiap-siap untuk melompat. "Mas, ini mau lomba renang kan ya mas?" ucap orang gila itu. Saya menjawab dengan lantang "Saya mau bunuh diri, dunia sudah tidak ingin melihat saya lagi, lebih baik saya enyah dari dunia ini". Orang gila itu tertawa. "Yahilah mas, dikira ada orang di dunia ini yang mau saya mas. Dikira mas doang yang sengasara. Setiap hari saya dihina dan ditendangi loh mas, jarang saya makan. Mas harusnya bersyukur". Kata-katanya menggerakan hati saya. Saya mundur selangkah dan bertekad untuk hidup. Tetapi. Rasanya begitu cepat. Sebuah sentuhan yang kuat menyentuh diriku dari belakang sehingga mendorong saya. Badan saya telah terjatuh dari jembatan itu, mata saya tertuju pada batu yang ada didasar sungai ini. Orang gila tadi telah mendorong saya. Dari kejauhan saya mendengar "Tapi jika mas memang mau mati yasudahlan saya bantu". Berbagai ingatan dan kenangan kembali melintas di kepalaku. Sehingga pada akhirnya saya tak sadar diri. Sampai saya terbangun dan disinilah kita.
Biasanya ketika orang bangun dari pingsan, hal pertama yang ditanyakan adalah dimana mereka. Setidaknya di film-film seperti itu. Yang sekarang sedang saya pikirkan adalah"Jemuran sudah diangkat belum ya?". Sekarang saya sedang berfikir keras apa yang telah terjadi. Sekarang sudah jam berapa? Dimana ? Apa itu benda putih yang datang ke arah saya? Eh. Dari kejauhan terlihat benda putih yang datang melaju cepat, benda itu sepertinya mengkilap. Saya mempunyai firasat buruk. Semakin lama semakin jelas. Tidak mungkin! Apakah itu sebuah putri duyung? Benda itu mendekat dan menjumpai diriku. Ternyata benar, benda itu adalah putri duyung."Eka, apakah kamu Eka?". Ucap putri duyung itu dengan tergesa-gesa. "Bukan saya Bambang". Saya menjawab dengan sedikit rasa kecewa. Mengapa? Karena presentasi orang yang mayatnya terbawa arus sampai ke lautan terbuka sangat sedikit dan terlihat sepertinya hanya ada saya. "Oh yowes salah orang aku". Putri duyung itu berenang menjauh. Tunggu."Tunggu dulu saya bercanda, saya Eka!". Putri duyung itu kembali dengan wajah bosan. "Aku memang setengah ikan! Tapi gak juga nganggep kecerdasan ku sama dengan ikan!". Ia terlihat marah."Mbak putri duyung jangan marah-marah mbak nanti gak cantik lagi loh mbak". Mukanya mendatar setelah mendengar itu. Seakan sudah bosan. "Mas Eka saya gak punya kelamin mas. Saya bisa aja jadi cowok loh mas". Sekarang giliran saya yang mukanya jadi datar. Kekecewaan saya membesar. Lebih baik mati saja lah. Eh memang itu kan tujuan saya? Ah udah lupa.
"Sudahlah dengan basa-basinya saya ada kepentingan lain. Eka kamu memiliki sebuah kekuatan". Ucapnya dengan penuh semangat. Wow. Sudah berapa banyak novel,komik,dll cerita yang tokoh utamanya memiliki kekuatan. Sungguh tidak kreatif cerita ini. "Kekuatan apa putri duyung?". Sang putri duyung seketika mengeluarkan ekspresi terlupa sesuatu. "Maaf saya belum mengenalkan diri saya,tidak enak dipanggil putri duyung dari tadi. Sebenernya baru sekali sih tapi yowes. "Nama saya adalah, Putri Sulaiman Sulistiawati Suarip Supratman Supreme Ayu Farah Ningsih Wati Podomoro Hatta Vladimir Vladimirov Meliani. Panggil saja Vina". Yaksip terserah anda saja lah. "Eka kamu yang sangat menginginkan kematian, mempunyai kekuatan untuk tidak bisa mati. Jika kamu terbunuh kamu akan sembuh kembali". Kekuatan macam apa itu! Tidak bisa mati! Bohong ah. "Buktikan bahwa ini nyata!". Vina menggeleng-geleng kepalanya. "8 jam yang lalu kau terjatuh dari jembatan setinggi 8 meter dan terbawa arus dan kau sekarang hidup dan berbicara dengan aku". Betul juga sih. " Lantas kau ingin saya untuk apa?". Pertanyaan bodoh tentu untuk menyelamatkan dunia. Apalagi coba, terkadang saya suka mengeluarkan pertanyaan yang jelas jawabannya. "Aku ingin kau mencari orang-orang yang mempunyai kekuatan. Mereka disebut dengan anomali, sebagian dapat menggunakan kekuatan mereka dan sebagian tidak. Jika dibiarkan mereka dapat menghancurkan dunia, kau harus membawa mereka ke Atlantis agar dapat direhabilitasi, aku akan memberi mu sebuah hadiah nanti saat kau terbangun akan kau temukan hadiah itu". Vina mengeluarkan sebuah pisau. Ia bersiap-siap dan menusuk ku pas dijantung, ia menggoyang-goyangkan sampai akhirnya saya menutup mata dan rasanya nyawaku telah melayang.
Badan ku basah. Punggung ku terasa sakit dan penuh pasir di celana ku. Saat saya membuka mata dan melihat sekeliling saya berada di sebuah pantai. Saya tidak mengenali tempat ini. Ditangan ku ada sebuah batu, batu itu mempunyai sejumlah nama. Ada sebuah nama yang menyala pada batu ini, "Akizuki Hana". Mungkin saya harus mencarinya, apa susahnya. Saya melihat sekeliling saya lalu ada seorang anak. Anak itu bermata sipit dengang kulit coklat sawo, dan berkata "Konichiwa". Tidak mungkin. Apakah aku ada di jepang? Dalam pikiran ku akan susah mencari seseorang di tempat yang bahasanya sungguh berbeda dengan yang ku tahu. Di dalam celana ku saya menemukan sebuah permen dengan tulisan "Bahasa Jepang". Tanpa pikir panjang saya memakannya. Kepala ku pusing dan berdenyut seakan sedang mabuk. Banyak sekali suara-suara orang berbicara, namun aku mengerti. Saat pusing itu selesai aku bertanya kepada anak itu dengan bahasa Jepang."Adek kecil dimana aku?". Anak itu berlari sekencangnya dan aku pun juga sama. Saya mengejarnya dengan kencang bagaikan Usain Bolt. Anak itu berlari dengan kencang sekali sambil berteriak "TOLONG ADA PRIA ANEH YANG MENGEJARKU!!". Aku berlari sekencang-kencang sehingga ada bunyi DOR!!! yang kencang. Darah mengalir dari dadaku. Rupanya aku tertembak.
Saya bangun diatas kasur penjara. Rupanya saya telah dipenjara. Sampai pada titik ini sudah berapa kali aku sudah mati? Dua pria datang untuk mengintrogasi ku. Skenarionya bisa ada dua. Yang pertama dimana aku berkata jujur yang kemungkinan akan memperpanjang masalah, atau opsi kedua yaitu bertarung mati-matian dengan polisi disini. Polisi pertama bertanya hal-hal pribadi sementara polisi kedua bertanya hal spesifik. Apa pun itu dari tadi aku menjawab dengan "Aku tidak tahu". 2 jam berlalu. Mereka tetap mencoba untuk menerobosku. Sampai pada akhirnya salah satu polisi itu berdiri dan berkata "Aku ingin makan dulu, apa kau ingin sesuatu Pak Akizuki? Akizuki. Mungkin ia ada hubungan dengan orang yang sedang ku cari. Perut ku bersuara. Kedua polisi itu tertawa. "Sebaiknya anda ikut makan bersama kita, mungkin anda dapat menjawab pertanyaan kami setelah makan". Kami berjalan keluar dari kantor polisi, dan menuju sebuah tempat makan kecil. Seiring berjalan, aku mendengar segala sesuatu dengan jeli, melihat sesuatu dengan detil. Rasanya semua indra ku telah dimodifikasi. Mungkin kekuatan ku bukan hanya tak dapat mati. Indra super bisa jadi kekuatan ku juga. Kami duduk di sebuah restoran kecil yang menjual burger ikan. Kami memesan tiga burger ikan, dengan minuman soda. Polisi itu menyantap dengan lahap, dan mengucapkan rasa syukur. "Hei, kau tak makan makanan mu? Enak loh ini". Jujur baunya sungguh aneh. Aku mencoba menggigit sedikit dan rupannya ucapan polisi itu benar. "Jadi kau ingin mengenalkan dirimu atau tidak?". Aku sebenarnya cemas. Vina tidak memberi banyak penjelasan. Jujur aku tidak yakin dapat menyelesaikan tugas ini. "Andai saja saya tahu siapa saya, apa yang saya kerjakan,status saya,dan bagaimana saya sampai disini. kebenarannya saya memang tidak tahu". Dari seberang jalan aku mendengar suara tangisan, suara seseorang yang tidak tahu berbuat apa. Suara depresi, suara yang aku sangat kenal. Aku berdiri, dan berlari ke sumber suara. Saya berlari sekencang-kencangnya. Badan ku tergerak dengan sendirinya. Kedua polisi itu mengikuti ku dan mencoba menangkapku. Ketika sampai di TKP, saya melihat 4 orang laki-laki dan 1 orang perempuan. Sepertinya anak SMP. Saya maju dan memukul salah satu dari mereka. Mereka mengeluarkan pisau, dan mencoba menusuku. Untuk seseorang yang dibesarkan di gorong-gorong kehidupan paling sampah, aku sudah tahu gerak-gerik petarung amatir. Satu per satu mereka mencoba merubuhkan ku, dan satu per satu tumbang dan terus mencoba lagi. Sampai satu berhasil menusuk ku. Aku terjatuh dan membiarkan diriku "mati". Jantung ku sejenak berhenti jiwa ku rasanya terangkat. Lalu semua kembali seperti semula, jantung ku berdetak dengan cepat dan rasanya semua indra begitu sensitif. Aku berdiri kembali dan memukul ketua dari kelompok lelaki berandalan itu dengan begitu kencang sehingga gigi palsunya tercopot dan mulutnya berdarah. Mereka terkejut dan berlari. Kedua polisi itu sampai ketika aku mati dan bangkit lagi. Kedua polisi itu tercengang. Gadis yang menangis itu ketakutan. Aku mendekat dan bertanya. "Hei mengapa mereka mengusik mu?". Gadis itu masih terkejut. Aku mengulang pertanyaan ku kembali. "Karena aku berteman dengan gadis aneh di sekolah". Aku mempunyai firasat gadis itu adalah Akizuki Hana." Apakah Akizuki Hana adalah orang yang kau maksud?". Gadis itu mengangguk. Polisi yang bernama Akizuki mendekat dan bertanya. "Memangnya ada apa dengan Hana?"."Benda di sekitar Hana seringkali bergerak, dan orang-orang di sekolah sungguh takut, aku satu-satunya teman Hana, namun para gadis di sekolah tak suka hal itu dan mereka menyuruh para lelaki untuk mengancam ku". Gadis itu menjawab dengan tergesa-gesa. Sungguh klasik, cerita yang membosankan. "Kita harus mencari Hana, aku tahu cara membantunya. Tunjukan aku dimana dia!".
Kita tiba pada sebuah taman terbuka. Suasananya terlalu sepi. Tak ada bunyi jangkrik atau sayup-sayup angin, kedua polisi itu sepertinya masih tidak percaya sedangkan temannya Hana terlihat cemas. Jujur saya gugup, jika Hana mempunyai kekuatan seperti saya maka tidak menutup kemungkinan jika Hana belum bisa mengendalikannya, atau ia menggunakan kelebihannya untuk kejahatan, atau bahkan kekuatannya terlalu kuat untuk bisa dikendalikan. Kita mengitari dan memeriksa seluruh taman itu, sampai pada akhirnya kita bertemu dengan sekelompok warga yang terbaring tak berdaya di tanah. Kedua polisi itu segera memeriksa tubuh yang terbaring, sepertinya mereka baik-baik saja jika dilihat dari ekpresi lega para polisi itu. Kedua polisi itu menghampiri ku, salah satu dari mereka mengangkatku dan bertanya "Baiklah apa yang sedang terjadi!?!". Saya merasa tercekik, dengan suara pasrah saya menjawab "Saya adalah Eka, saya memiliki kekuatan yaitu tidak dapat mati! Saya dikirim kesini untuk bertemu Akizuki Hana". Polisi yang berdiri disamping yang sedang mencekik memperkenalkan diri. Dari tadi kek. "Saya adalah Akizuki Hojo. Saya adalah paman dari Hana. Sarutobi turunkanlah dia!". Jadi namanya Sarutobi toh. Tuan Sarutobi menurunkan ku secara keras. Bahkan tidak bisa disebut diturunkan malah itu disebut dibanting! Tuan Sarutobi membantingku dengan keras! Dari bayang-bayang muncul sebuah kelompok remaja SMP. Jumlahnya lebih banyak dari yang tadi saya pukuli, sepertinya mereka dalam satu kelompok. Salah satu dari mereka berteriak "ITU DIA, KAKAK YANG MEMUKULI KITA. TEMAN ANEHNYA HANA!!!". Mungkin mereka ada puluhan, sepertinya mereka juga membawa senjata. Tuan Sarutobi dan Tuan Hojo mengeluarkan pistol dari saku mereka, dan menodongkan kearah para remaja-remaja mecin itu. "PERGILAH NAK! INI ADALAH URUSAN RESMI NEGARA! JIKA KALIAN TIDAK PERGI KAMI AKAN MENGGUNAKAN KEKERASAN!". Wow polisi menodongkan pistol kepada segerombolan bocah ingusan,sungguh bijak. Saya gak komplain. Para remaja itu berlarian menuju kita. Saya bersiap-siap untuk bertarung, kedua polisi itu sudah siap untuk menembak tapi tampaknya mereka gugup. Sudah sangat terbaca. Keringat turun dari dahi mereka, jari mereka bergemetaran, posisi menembak yang kurang seimbang. Secara tiba-tiba satu per satu tumbang. Mata mereka putih dan sepertinya kesakitan secara mental. Kedua polisi itu terkejut dan menjatuhkan pistolnya. Teman Hana kemudian berteriak "ITU HANA!!". Sial. Kekuatan macam apa ini??. Saya berlari pada mencoba mencari sumber kekuatan ini. Semakin mendekat dengan para remaja saya mulai merasakan rasa pening. Rasa sakit kepala yang kuat. "JANGAN USIK AKU, JANGAN DEKATI AKU". Pesan itu terus berulang-ulang. Saya dapat merasakan rasa sakit dan kepedihan dalam kata-kata itu. Sepertinya ada satu cara dimana aku dapat menemukan Hana. Saya memungut sebuah belati dari seorang remaja yang terjatuh. Saya menusukan jantung saya dengan harapan saya dapat mengaktifkan kekuatan saya. Saya sudah menyimpulkan setiap kali saya dihidupkan indra saya menjadi 100 kali lipat indra biasa manusia. Saya dapat melihat secara detil,bergerak lebih cepat dan mendengar suara dengan secara jelas pada semua frekuensi. Seperti tadi, jiwaku merasa hilang, jantung dan semua fungsi badan mulai tidak terasa. Semua gelap. Jantung ku berdetak dengan kencang, Saya dapat merasakan semuanya dengan jelas. Disana, disitu, au ah. Rupanya tidak bekerja. Lalu semua berhenti. Tidak ada rasa sakit kepala, tidak ada pesan yang berputar di kepala ku. Seorang gadis berjalan menujuku dengan wajah terkejut. Dalam cerpen ini sudah berapa orang yang yang terkejut? Gadis itu memiliki rambut pendek hitam, gigi tidak teratur dan tinggi badan sekitar 159-162 cm. "K-kau tadi hilang. Aku tidak dapat merasakan pikiran mu, yang hanya dapat kurasakan hanyalah rasa dingin. Apakah mungkin k-k-kaum m-mati??". Gadis itu gugup sekali, lebih tepatnya takut. Sepertinya kekuatannya adalah dapat membaca pikiran. Bahaya ini, bayangkan ratusan bahkan jutaan privasi laki-laki terancam."Hana! Hentikan semua ini! Jangan sakiti mereka lagi". Seketika wajahnya memerah dan ia sepertinya marah. "Bersikap baik?? Pada mereka !?!? Apa yang mereka telah lakukan untukku sehingga mendapatkan simpati ku !?!?!". Air mata turun dari matanya, saya tahu persis mata itu. Mata mereka yang tertindas dan diasingkan oleh dunia, mata yang mati. "Bukan seperti ini caranya, saya tahu kau berbeda. Saya juga berbeda, kita berdua adalah orang-orang pinggiran, orang-orang yang tidak diinginkan oleh masyarakat ini.Mereka hanya takut pada kita". Wajahnya membara dengan amarah. "UNTUK APA AKU MEMBERI DUNIA SIMPATI JIKA DUNIALAH YANG MERENGUT JIWA DAN HATIMU DARI DIRIMU. MERENGUT SEGALANYA DARI DIRIMU SAMPAI KAU TIDAK BISA MERASAKAN RASA SAKIT KARENA SAKING TERBIASANYA KAU DISAKITI DI DUNIA INI. APA KAU TAHU RASANYA DIMANA KEDUA ORANG TUA MU MENINGGAL DI DEPAN MATAMU DAN SEMUA ORANG TIDAK SEMINIMALNYA MELIRIK DAN MERASA KASIHAN PADAMU?? TIDAK!! MEREKA HANYA MELEMPARIMU DAN MENUSUK HATIMU DENGAN KATA-KATA DAN TINDAKAN PERIH". Kata-kata itu tidak salah. Memang buat apa kita melakukan sesuatu yang baik pada mereka yang telah mengasingkan kita. "Saya tahu perasaan mu, maka itu saya bunuh diri. JIKA TAKDIR MEMANG INIGIN SAYA MATI MAKA DI DASAR SUNGAI ITU SAYA SUDAH MATI, KENYATAANNYA SAYA SEHARIAN TERBAWA ARUS SAMPAI TERDAMPAR DI PANTAI NEGARA JEPANG!!DITUSUK DAN DIPUKULI, DIPENJARA DAN MATI BERKALI-KALI, TAPI TETAP SAYA HIDUP DAN BERDIRI DISINI! Saya rasa, jika memang takdir tidak menginginkan dirimu sejak awal, kau sudah mati". Hana terjatuh berlutut di tanah. Ia menangis sekencang-kencangnya. Hujan mulai turun. Mainstream sekali settingan adegannya. Saya sadar baju saya sudah terkoyak pada titik sudah tidak layak diapakai. "Jika kau mau, kau bisa membantu ku dalam misiku untuk mencari orang-orang yang mempunyai kekuatan seperti kau dan aku". Hana berhenti menangis dan menghampiriku. Rupanya ia ingin meper ingusnya kepada bajuku. Sial. Sudah cukup di tusuk-tusuk, sekarang di peper ingus."Baiklah aku akan ikut dengan mu. Tapi janjilah satu hal!". Mukanya memerah malu."Janjilah jangan mengkhianatiku atau menyakiti hatiku, berjanjilah agar kita selalu bersama sebagai sesama orang aneh!". Saya mengangguk. Mukanya tersenyum.
Kita berdua berjalan menuju tepi laut. sembari mengenal satu sama lain."Vina!" saya berteriak dengan keras. Sebuah kepala muncul dari laut. "Apakah kau berhasil?". Saya mengangguk, dan memperlihatkan Hana. Vina terlihat puas. "Baiklah Eka, Hana. Tujuan selanjutnya kalian akan pergi ke India. Carilah anak bernama Vajra. Carilah Vajra dan akan kuberitahukan kepada kalian mengapa kalian dikumpulkan dan sumber kekuatan kalian". Saya bersemangat, walau Hana sepertinya tidak tampak sesemangat saya. Kita berpegangan tangan dan masuk kedalam lautan. Memulai perjalan kedua saya. Jika diluar sana jumlahnya banyak yang seperti saya maka saya hanya ingin mereka tahu mereka tidak sendiri.
Catatan: Penggunaan kata 'saya' dan 'aku' yang tidak konsisten memang disengejai sebagai ciri khas tokoh protagonis, untuk mengenang teman lama saya
0 comments:
Posting Komentar