Rani
Tak
seperti biasanya. Hari ini berbeda sekali dengan hari sebelumnya. Tak ada bulan
yang bersinar dan bintang yang berkerlap-kerlip dengan indahnya. Suara jangkrik
pun mulai terdengar bersahutan tanpa rima. Sesekali kendaraan bermotor melewati
jalan beraspal dengan kecepatan rendah.
Seorang pedagang jagung rebus
melewati jalan beraspal ini. Keriput diwajahnya terlihat sangat jelas, tetapi
semangatnya untuk mengais rezeki melunturkan kesan tua darinya. Badannya yang
kurus tidak menjadi penghalang untuk tetap mendorong sebuah gerobak kayu tua
yang berisi jagung-jagung manis yang sudah direbus dengan matang. Harum jagung
manis yang hangat, menggelitik indra pencium dan pengecapku. Tak sabar sekali
ingin mencicipinya.
Tukang jagung tersebut mulai
berjalan mendekati rumahku dan perlahan ia menghentikan gerobaknya di depan
pagar. Aku yang sedang duduk menikmati sejuknya malam di balkon kamar pun
langsung bergegas turun kebawah dan tak lupa mengambil beberapa lembar uang
ribuan.
“Eh neng Rani, kumaha damang?” dengan aksen
sunda dan senyumannya yang khas ia menyapaku ketika kubukakan gerbang untuknya.
“Alhamdulillah sehat. Pak Soleh sendiri?” ya,
penjual jagung rebus yang kulitnya mulai mengkerut ini bernama Pak Soleh.
Seperti namanya, ia selalu taat beribadah. Ketika adzan tiba, ia selalu
bergegas ke masjid terdekat dan menaruh gerobak di depan masjid.
“Alhamdulillah sehat. Keur naon sendirian
diatas?”
“Lagi ngaso, Pak. Hehe...” Jawabku dengan
cengiran yang lebar dan tangan yang tak lepas dari sekumpulan jangung untuk
memilih jagung yang paling besar.
“Hati-hati neng! Angin malem bahaya!” Pak Soleh
sudah seperti orangtuaku sendiri. Ia selalu mengingatkanku agar berhati-hati
atau sekedar mengingatkan makan malam. Ia juga sosok yang ramah. Pak Soleh
memiliki 2 anak. Perempuan dan laki-laki. Tapi anak laki-lakinya yang paling
besar pergi entah kemana dan tidak memberi kabar selama 2 tahun. Sedangkan anak
bungsunya, Avi, merupakan sahabat karibku sejak duduk dibangku kelas 2 SMP. Avi
dan kakaknya punya selisih umur 2 tahun. Aku tidak pernah melihat rupa anak
sulung Pak Soleh karena aku tidak pernah tahu rumah beliau dimana. Ketika aku
ingin mengunjunginya, Pak Soleh hanya berkata ‘Jangan nanti kamu menyesal’.
“Badan Rani mah kuat, Pak. Angin doang mah,
lewat!” badanku memang kecil, bisa dibilang kurus. Tapi aku jarang sakit.
Jika sedang musim hujan, mayoritas orang
terserang flu. Tapi aku tidak! Kata dokter, imunku kuat. Agak berbeda dari
anak-anak lain yang seumuran. Maka dari itu, jika hujan sedang turun dengan
lebat, aku suka sekali hujan-hujanan. Aku akan pamer ke teman-temanku dan
membuat mereka iri. Kecuali dengan Avi. Aku tidak pernah pamer ke dia. Avi
sejak kecil sudah sakit-sakitan. Sistem imunnya lemah sekali, setiap hari ia
harus banyak minum air putih, madu, dan buah-buahan. Terkadang aku iri dengan
Avi. Ia memiliki keluarga yang selalu perhatian dan selalu ada jika dibutuhkan.
Sedangkan aku? Ayah Bunda selalu pulang larut malam dan pergi lagi keesokan
paginya. Hari libur pun terkadang mereka habiskan untuk urusan pekerjaan.
Sedikit sekali waktu untuk kami berkumpul.
“Eleuh-elueh tambeng pisan kalo dibilangin”
aku hanya bisa tersenyum kuda ketika Pak Soleh menggeleng-gelengkan kepala.
Hujan mulai turun secara perlahan.
Pak Soleh segera membuka payungnya dan menutupi jagung-jagungnya dengan plastik
transparan. Ketika kuajak masuk ke rumah ia hanya menggelengkan kepala sembari
tersenyum. Aku pun menyerahkan dua lembar uang lima ribuan dan membawa 3 buah
jagung kedalam rumah.
Aku menikmati 3 buah jagung tersebut
di depan televisi. Aku terdiam ketika melihat berita tentang kasus korupsi setelah
itu disambung dengan berita tentang kemiskinan. Malangnya negeri ini ketika
rakyat susah untuk melahap sesuap nasi sedangkan para pejabat dengan senangnya
mengambil uang rakyat dan memasuki penjara dengan wajah tersenyum. Mereka
tersenyum lebar ketika hukum bisa
dibayar. Tetapi mereka bodoh, mereka tidak punya hati, kalau uang yang mereka
pakai adalah uang dari rakyat yang sampai banting tulang untuk membayar pajak
dan tidak peduli jika sesuap nasi tak dilahapnya.
Jagung pun sudah habis kulahap. Aku
mematikan tv dan pergi kekamar untuk segera istirahat. Ketika selimut
kunaikkan, kudengar suara mobil memasuki rumah. Itu pasti Ayah dan Bunda. Aku
pun kembali menutup wajahku dengan selimut dan segera mematikan lampu yang
terletak di samping tempat tidurku.
***
“Hei! Pelan-pelan dong jalannya!”
seorang laki-laki berseragam SMA menabrakku. Sepertinya ia satu sekolah
denganku, tapi aku tidak pernah melihatnya. Dia menoleh kebelakang dan
melihatku lalu tersenyum. Senyumannya
manis, gumamku. Hush apa yang
mengganggu pikiranku ini. Aku sedang bergegas ke UKS ingin melihat keadaan Avi.
Ketika olahraga ia pingsan. Pasti
kecapekan, gumamku. Aku membuka pintu UKS dan berjalan ke ruang perawatan.
Kulihat Avi terbaring lemah, wajahnya pucat pasi. Aku tidak tega melihatnya.
“Udah mendingan?” tanyaku sambil menutup
pintu UKS dengan pelan. Avi hanya menjawabnya dengan anggukan.
“Kenapa? Kok bisa pingsan? Udah sarapan
belum? Mau minum? Atau mau buah?”
“Kau ini tidak bisa satu-satu menanyakannya,”
Wajah Avi terlihat lebih baik, dia memang harus dihibur. “Aku belum sarapan,
tiba-tiba aku merasa pusing dan tubuhku jatuh seketika. Bisa tolong ambilkan
aku minum?”
Aku
menungkan segelas air untuknya. Tiba-tiba aku teringat dengan laki-laki itu,
dia siapa? Kakak kelas? Rasanya tidak mungkin. Wajahnya terlalu muda untuk jadi
kakak kelas.
“Hei!”
aku tersontak kaget. Avi membuyarkan lamunanku seketika dan air digelas pun
berceceran.
“Hmm maaf. Ini minumnya.” aku mulai
membersihkan meja dengan tisu dan terus memikirkan laki-laki itu. Aku tidak
sadar kalau tiba-tiba bibirku tersungging seketika. Aku tidak pernah melihat senyuman seindah itu.
“Mukamu
berseri-seri. Apa yang sedang kau pikirkan?” Avi mulai menegakkan tubuhnya dan
duduk menyender ke batang tempat tidur.
“Hah? Nggak, bukan apa-apa.” Jelas-jelas aku sedang memikirkan apa-apa.
Ayolah Avi tebak!
“Oh,” Avi
mulai meregangkan tubuhnya. Hening seketika. Aku tidak tahu apa yang harus
kubicarakan dengan Avi. Apa aku harus memberitahunya? Ah tidak! Itu hanya
kebetulan. Mungkin dia juga sudah lupa denganku.
“Pulang sekolah biar aku yang mengantarmu.
Nggak ada kegiatan apapun lagi!”
“Kau ini seperti Ibu saja. Atau seperti
pacar, mungkin.”
“Aku tidak lesbi ya. Sekalipun aku lesbi, aku
tidak ingin berpacaran denganmu.” Aku melenggang keluar meninggalkan Avi.
“Hei!” aku berhenti sejenak “Kau marah padaku? Ayolah Rani, aku hanya
bercanda.” aku meneruskan langkah kakiku dan meninggalkan Avi.
Sepenjang koridor mataku mencari
laki-laki itu. Siapa tahu saja aku bisa bertemu dengannya. Aku terus melangkah
sampai kelas walau harus melewati kantin, siapa tahu ia ada disana. Tapi
hasilnya nihil. Aku tidak menemukannya. Kelas begitu gaduh, beberapa dari
mereka sibuk menyalin tugas. Aku bingung apa yang harus kulakukan. Teman
sebangkuku laki-laki. Wali kelas yang mengaturnya. Aku tidak suka berbicara
dengannya. Bukan karena ia tidak tampan, tapi ia terlalu pintar dan tidak enak
dijadikan teman bicara.
***
Aku berjalan ke UKS untuk pulang
bersama Avi. Tapi ia tidak ada. Aku terus mencarinya disetiap sudut sekolah.
Tetap saja ia tidak ada. Apa Avi marah? Aku mengeluarkan handphone dan menulis sebuah pesan singkat untuk Avi, kalau aku
akan pulang sendiri. Saat aku menuju ke tempat parkir, kulihat Avi dijemput oleh
seorang pria. Aku mematikan handphone
dan segera pulang. Dalam perjalanan banyak sekali hal yang kupikirkan. Segitu
marahnya kah Avi padaku? Dan laki-laki itu...
Sebuah truk tiba-tiba melintasi
jalan dengan cepat, aku hilang kendali. Aku membanting stir dan melompat dari
motor. Aku terpental dan motorku entah kemana. Beberapa luka kecil menghiasi
tubuhku dan rok bagian lututku sobek karena bergesekan dengan aspal. Tapi untunglah aku masih hidup. Banyak warga
yang mengerumuniku. Aku pun menjelaskan bahwa aku tidak apa-apa. Seorang
bapak-bapak mengambil sepeda motorku dan menyerahkannya padaku. Aku bersikeras
bahwa aku bisa pulang sendiri dan tidak apa-apa tapi ia juga bersikeras untuk
mengantarkanku pulang. Kulihat dari raut mukanya ia mungkin orang baik. Aku pun
pasrah dan ia mengentarkanku pulang.
Bapak
itu heran rumahku sepi sekali. Aku pun menjelaskannya kalau kedua orangtuaku
sedang bekerja dan aku anak satu-satunya. Aku mengeluarkan dompet dan
memberinya beberapa puluhan rupiah sebagai rasa terimakasih. Bapak itu pergi
dan berlalu. Aku masuk kedalam rumah dan membersihkan luka-lukaku dengan
antiseptik. Aku berjalan ke meja makan berharap menemukan makanan. Tidak ada
makanan sama sekali. Kulihat ada sebuah memo di pintu kulkas dan aku berjalan
mendekati dengan tertatih-tatih
Bunda
sama Ayah pergi ke Korea untuk urusan bisnis ya. Rani dirumah aja. Nggak lama,
cuma seminggu. Nanti dibawain oleh-oleh. Kamu kalau makan pesan-antar saja. Ada
uang dikamar kamu. Cukup untuk seminggu. Salam sayang
Bunda
:*
Dengan perasaan kesal aku mencabut
memo itu dan merobeknya. Aku mengambil sekotak susu dan menuangnya ke dalam
gelas dan meneguknya dengan cepat.
***
Jam delapan malam. Pulas sekali
tidurku, masih memakai seragam pula. Aku turun ke bawah dan mendapati sebuah
pesan suara. Ternyata dari Bunda. Ia menanyakan apakah aku baik-baik saja.
Sudah seharusnya Bunda khawatir dan aku tidak baik-baik saja. Kupencet nomor
telepon Bunda. Tapi ponselnya tidak aktif. Segitu sibuknya kah sampai-sampai
ponsel pribadinya pun tidak aktif?
Aku membersihkan diri dan
mengganti pakaianku. Kulihat dari balkon, langit sedang cerah. Olahraga malam
mungkin bisa sedikit menghilangkan kebosananku. Aku jogging di sekitar kompleks. Kurasa tubuhku sudah mulai letih,
kulihat sebuah warung kecil menjajakan berbagi minuman dingin. Pas sekali, pikirku. Aku membeli sebuah
minuman isotonik. Ketika dijalan pulang, aku merasa ada yang mengikutiku. Aku
mempercepat langkahku bahkan sampai lari. Tapi orang itu terus memanggil namaku
dan mengejarku. Apa ia mengenalku? Pasti
hanya jebakan. Aku tidak menoleh sedikit pun. Tiba-tiba ada yang
mencengkram tanganku dari belakang. Oh Tuhan, lindungilah aku.
“Rani! Kenapa langkahmu makin cepat sekali
sih?” sepertinya aku kenal suara itu. Itu suara Avi.
“Avi? Sedang apa kau? Ini malam, seharusnya
kau ada dirumah.” Omelku.
“Rani sayang, kau ini bukan Ibu apalagi
pacarku. Jadi suka-suka aku dong mau kemana saja.”
“Terserahlah,” aku berjalan meninggalkan Avi.
Ia terus berjalan menyamai posisiku.
“Hei! Kau ini kenapa sih? Kau marah padaku?”
tanya Avi dengan jalan tergesa-gesa.
“Tidak.”
“Lalu?”
Aku
berbalik badan dan menatap Avi dengan sungguh-sungguh. “Aku... baik-baik saja,”
Avi terdiam tak mengerti. Aku terus berjalan meninggalkan Avi dalam
kebisuannya. Maafkan aku Avi...
***
Avi
Rani aneh. Seharian ini ia menjauh
dariku, aku tidak mengerti apa salahku. Saat ingin ke warung, aku melihat
seorang perempuan seperti Rani. Karena penasaran, aku ikuti dia. Benar itu
Rani! Aku lari mengikuti Rani dan memanggilnya. Kuabaikan tujuan utamaku ke
warung demi Rani. Ya, demi Rani! Kupanggil Rani dan berlari mengejarnya. Tapi
Rani semakin cepat. Tubuhku tidak kuat! Avi
harus kuat! Kupanggil Rani dengan sekuat tenagaku. Rani menoleh!
“Rani!
Kenapa langkahmu makin cepat sekali sih?” nafasku tersengal. Aku tidak boleh
terlihat lemah di depan Rani
“Avi? Sedang apa kau? Ini malam, seharusnya
kau ada dirumah.” Jawab Rani dengan ketus.
Aku
harus terlihat ceria dan kuat di depan Rani. Jangan sampai Rani tahu kondisiku
sekarang. “Rani sayang, kau ini bukan Ibu apalagi pacarku. Jadi suka-suka aku
dong mau kemana saja.” kataku dengan senyum memaksa.
“Terserahlah,” Rani berjalan meninggalkanku.
Aku terus mengejarnya.
“Hei! Kau ini kenapa sih? Kau marah padaku?” tanyaku
heran. Avi beritahuku apa yang sebenarnya
terjadi!
“Tidak.”
“Lalu?” Rani berhadapan denganku. Matanya
tajam. Aku tidak sanggup melihatnya.
“Aku... baik-baik saja,” aku tidak mengerti
apa maksud Rani. Ada apa dengannya? Pertanyaan mulai bermunculan dibenakku satu
persatu. Tiba-tiba aku tersadar akan sesuatu. Hubungan kami baik-baik saja
sejak aku melontarkan candaan “Kau ini
seperti Ibu saja. Atau seperti pacar, mungkin.” Mungkin itu penyebabnya.
Saat aku melontarkan candaan tadi pun sikap Rani sama. Ya itu penyebabnya.
Dengan nafas tersengal aku
berbalik ke arah jalan pulang. Aku mengatur nafasku agar bisa bertahan sampai
rumah. Jangan pingsan, Avi... Dalam
hati, aku terus menyesal akan perbuatanku itu. Baru kali ini Rani segitu
marahnya padaku. Rani sahabatku, maafkan
aku...
--Bersambung--
0 comments:
Posting Komentar