Rabu, 02 April 2014

WE’RE FRIENDS, RIGHT? [Part I]


Rani
Tak seperti biasanya. Hari ini berbeda sekali dengan hari sebelumnya. Tak ada bulan yang bersinar dan bintang yang berkerlap-kerlip dengan indahnya. Suara jangkrik pun mulai terdengar bersahutan tanpa rima. Sesekali kendaraan bermotor melewati jalan beraspal dengan kecepatan rendah.
            Seorang pedagang jagung rebus melewati jalan beraspal ini. Keriput diwajahnya terlihat sangat jelas, tetapi semangatnya untuk mengais rezeki melunturkan kesan tua darinya. Badannya yang kurus tidak menjadi penghalang untuk tetap mendorong sebuah gerobak kayu tua yang berisi jagung-jagung manis yang sudah direbus dengan matang. Harum jagung manis yang hangat, menggelitik indra pencium dan pengecapku. Tak sabar sekali ingin mencicipinya.
            Tukang jagung tersebut mulai berjalan mendekati rumahku dan perlahan ia menghentikan gerobaknya di depan pagar. Aku yang sedang duduk menikmati sejuknya malam di balkon kamar pun langsung bergegas turun kebawah dan tak lupa mengambil beberapa lembar uang ribuan.
  “Eh neng Rani, kumaha damang?” dengan aksen sunda dan senyumannya yang khas ia menyapaku ketika kubukakan gerbang untuknya.
  “Alhamdulillah sehat. Pak Soleh sendiri?” ya, penjual jagung rebus yang kulitnya mulai mengkerut ini bernama Pak Soleh. Seperti namanya, ia selalu taat beribadah. Ketika adzan tiba, ia selalu bergegas ke masjid terdekat dan menaruh gerobak di depan masjid.
  “Alhamdulillah sehat. Keur naon sendirian diatas?”
  “Lagi ngaso, Pak. Hehe...” Jawabku dengan cengiran yang lebar dan tangan yang tak lepas dari sekumpulan jangung untuk memilih jagung yang paling besar.
  “Hati-hati neng! Angin malem bahaya!” Pak Soleh sudah seperti orangtuaku sendiri. Ia selalu mengingatkanku agar berhati-hati atau sekedar mengingatkan makan malam. Ia juga sosok yang ramah. Pak Soleh memiliki 2 anak. Perempuan dan laki-laki. Tapi anak laki-lakinya yang paling besar pergi entah kemana dan tidak memberi kabar selama 2 tahun. Sedangkan anak bungsunya, Avi, merupakan sahabat karibku sejak duduk dibangku kelas 2 SMP. Avi dan kakaknya punya selisih umur 2 tahun. Aku tidak pernah melihat rupa anak sulung Pak Soleh karena aku tidak pernah tahu rumah beliau dimana. Ketika aku ingin mengunjunginya, Pak Soleh hanya berkata ‘Jangan nanti kamu menyesal’.
  “Badan Rani mah kuat, Pak. Angin doang mah, lewat!” badanku memang kecil, bisa dibilang kurus. Tapi aku jarang sakit. Jika  sedang musim hujan, mayoritas orang terserang flu. Tapi aku tidak! Kata dokter, imunku kuat. Agak berbeda dari anak-anak lain yang seumuran. Maka dari itu, jika hujan sedang turun dengan lebat, aku suka sekali hujan-hujanan. Aku akan pamer ke teman-temanku dan membuat mereka iri. Kecuali dengan Avi. Aku tidak pernah pamer ke dia. Avi sejak kecil sudah sakit-sakitan. Sistem imunnya lemah sekali, setiap hari ia harus banyak minum air putih, madu, dan buah-buahan. Terkadang aku iri dengan Avi. Ia memiliki keluarga yang selalu perhatian dan selalu ada jika dibutuhkan. Sedangkan aku? Ayah Bunda selalu pulang larut malam dan pergi lagi keesokan paginya. Hari libur pun terkadang mereka habiskan untuk urusan pekerjaan. Sedikit sekali waktu untuk kami berkumpul.
  “Eleuh-elueh tambeng pisan kalo dibilangin” aku hanya bisa tersenyum kuda ketika Pak Soleh menggeleng-gelengkan kepala.
            Hujan mulai turun secara perlahan. Pak Soleh segera membuka payungnya dan menutupi jagung-jagungnya dengan plastik transparan. Ketika kuajak masuk ke rumah ia hanya menggelengkan kepala sembari tersenyum. Aku pun menyerahkan dua lembar uang lima ribuan dan membawa 3 buah jagung kedalam rumah.
            Aku menikmati 3 buah jagung tersebut di depan televisi. Aku terdiam ketika melihat berita tentang kasus korupsi setelah itu disambung dengan berita tentang kemiskinan. Malangnya negeri ini ketika rakyat susah untuk melahap sesuap nasi sedangkan para pejabat dengan senangnya mengambil uang rakyat dan memasuki penjara dengan wajah tersenyum. Mereka tersenyum lebar ketika  hukum bisa dibayar. Tetapi mereka bodoh, mereka tidak punya hati, kalau uang yang mereka pakai adalah uang dari rakyat yang sampai banting tulang untuk membayar pajak dan tidak peduli jika sesuap nasi tak dilahapnya.
            Jagung pun sudah habis kulahap. Aku mematikan tv dan pergi kekamar untuk segera istirahat. Ketika selimut kunaikkan, kudengar suara mobil memasuki rumah. Itu pasti Ayah dan Bunda. Aku pun kembali menutup wajahku dengan selimut dan segera mematikan lampu yang terletak di samping tempat tidurku.
***
“Hei! Pelan-pelan dong jalannya!” seorang laki-laki berseragam SMA menabrakku. Sepertinya ia satu sekolah denganku, tapi aku tidak pernah melihatnya. Dia menoleh kebelakang dan melihatku lalu tersenyum. Senyumannya manis, gumamku. Hush apa yang mengganggu pikiranku ini. Aku sedang bergegas ke UKS ingin melihat keadaan Avi. Ketika olahraga ia pingsan. Pasti kecapekan, gumamku. Aku membuka pintu UKS dan berjalan ke ruang perawatan. Kulihat Avi terbaring lemah, wajahnya pucat pasi. Aku tidak tega melihatnya.
  “Udah mendingan?” tanyaku sambil menutup pintu UKS dengan pelan. Avi hanya menjawabnya dengan anggukan.
  “Kenapa? Kok bisa pingsan? Udah sarapan belum? Mau minum? Atau mau buah?”
  “Kau ini tidak bisa satu-satu menanyakannya,” Wajah Avi terlihat lebih baik, dia memang harus dihibur. “Aku belum sarapan, tiba-tiba aku merasa pusing dan tubuhku jatuh seketika. Bisa tolong ambilkan aku minum?”
Aku menungkan segelas air untuknya. Tiba-tiba aku teringat dengan laki-laki itu, dia siapa? Kakak kelas? Rasanya tidak mungkin. Wajahnya terlalu muda untuk jadi kakak kelas.
“Hei!” aku tersontak kaget. Avi membuyarkan lamunanku seketika dan air digelas pun berceceran.
  “Hmm maaf. Ini minumnya.” aku mulai membersihkan meja dengan tisu dan terus memikirkan laki-laki itu. Aku tidak sadar kalau tiba-tiba bibirku tersungging seketika. Aku tidak pernah melihat senyuman seindah itu.
  “Mukamu berseri-seri. Apa yang sedang kau pikirkan?” Avi mulai menegakkan tubuhnya dan duduk menyender ke batang tempat tidur.
  “Hah? Nggak, bukan apa-apa.” Jelas-jelas aku sedang memikirkan apa-apa. Ayolah Avi tebak!
  “Oh,” Avi mulai meregangkan tubuhnya. Hening seketika. Aku tidak tahu apa yang harus kubicarakan dengan Avi. Apa aku harus memberitahunya? Ah tidak! Itu hanya kebetulan. Mungkin dia juga sudah lupa denganku.
  “Pulang sekolah biar aku yang mengantarmu. Nggak ada kegiatan apapun lagi!”
  “Kau ini seperti Ibu saja. Atau seperti pacar, mungkin.”
  “Aku tidak lesbi ya. Sekalipun aku lesbi, aku tidak ingin berpacaran denganmu.” Aku melenggang keluar meninggalkan Avi. “Hei!” aku berhenti sejenak “Kau marah padaku? Ayolah Rani, aku hanya bercanda.” aku meneruskan langkah kakiku dan meninggalkan Avi.
            Sepenjang koridor mataku mencari laki-laki itu. Siapa tahu saja aku bisa bertemu dengannya. Aku terus melangkah sampai kelas walau harus melewati kantin, siapa tahu ia ada disana. Tapi hasilnya nihil. Aku tidak menemukannya. Kelas begitu gaduh, beberapa dari mereka sibuk menyalin tugas. Aku bingung apa yang harus kulakukan. Teman sebangkuku laki-laki. Wali kelas yang mengaturnya. Aku tidak suka berbicara dengannya. Bukan karena ia tidak tampan, tapi ia terlalu pintar dan tidak enak dijadikan teman bicara.

***
            Aku berjalan ke UKS untuk pulang bersama Avi. Tapi ia tidak ada. Aku terus mencarinya disetiap sudut sekolah. Tetap saja ia tidak ada. Apa Avi marah? Aku mengeluarkan handphone dan menulis sebuah pesan singkat untuk Avi, kalau aku akan pulang sendiri. Saat aku menuju ke tempat parkir, kulihat Avi dijemput oleh seorang pria. Aku mematikan handphone dan segera pulang. Dalam perjalanan banyak sekali hal yang kupikirkan. Segitu marahnya kah Avi padaku? Dan laki-laki itu...
            Sebuah truk tiba-tiba melintasi jalan dengan cepat, aku hilang kendali. Aku membanting stir dan melompat dari motor. Aku terpental dan motorku entah kemana. Beberapa luka kecil menghiasi tubuhku dan rok bagian lututku sobek karena bergesekan dengan aspal.  Tapi untunglah aku masih hidup. Banyak warga yang mengerumuniku. Aku pun menjelaskan bahwa aku tidak apa-apa. Seorang bapak-bapak mengambil sepeda motorku dan menyerahkannya padaku. Aku bersikeras bahwa aku bisa pulang sendiri dan tidak apa-apa tapi ia juga bersikeras untuk mengantarkanku pulang. Kulihat dari raut mukanya ia mungkin orang baik. Aku pun pasrah dan ia mengentarkanku pulang.
Bapak itu heran rumahku sepi sekali. Aku pun menjelaskannya kalau kedua orangtuaku sedang bekerja dan aku anak satu-satunya. Aku mengeluarkan dompet dan memberinya beberapa puluhan rupiah sebagai rasa terimakasih. Bapak itu pergi dan berlalu. Aku masuk kedalam rumah dan membersihkan luka-lukaku dengan antiseptik. Aku berjalan ke meja makan berharap menemukan makanan. Tidak ada makanan sama sekali. Kulihat ada sebuah memo di pintu kulkas dan aku berjalan mendekati dengan tertatih-tatih

Bunda sama Ayah pergi ke Korea untuk urusan bisnis ya. Rani dirumah aja. Nggak lama, cuma seminggu. Nanti dibawain oleh-oleh. Kamu kalau makan pesan-antar saja. Ada uang dikamar kamu. Cukup untuk seminggu. Salam sayang
Bunda :*
Dengan perasaan kesal aku mencabut memo itu dan merobeknya. Aku mengambil sekotak susu dan menuangnya ke dalam gelas dan meneguknya dengan cepat.
***
                Jam delapan malam. Pulas sekali tidurku, masih memakai seragam pula. Aku turun ke bawah dan mendapati sebuah pesan suara. Ternyata dari Bunda. Ia menanyakan apakah aku baik-baik saja. Sudah seharusnya Bunda khawatir dan aku tidak baik-baik saja. Kupencet nomor telepon Bunda. Tapi ponselnya tidak aktif. Segitu sibuknya kah sampai-sampai ponsel pribadinya pun tidak aktif?
                Aku membersihkan diri dan mengganti pakaianku. Kulihat dari balkon, langit sedang cerah. Olahraga malam mungkin bisa sedikit menghilangkan kebosananku. Aku jogging di sekitar kompleks. Kurasa tubuhku sudah mulai letih, kulihat sebuah warung kecil menjajakan berbagi minuman dingin. Pas sekali, pikirku. Aku membeli sebuah minuman isotonik. Ketika dijalan pulang, aku merasa ada yang mengikutiku. Aku mempercepat langkahku bahkan sampai lari. Tapi orang itu terus memanggil namaku dan mengejarku. Apa ia mengenalku? Pasti hanya jebakan. Aku tidak menoleh sedikit pun. Tiba-tiba ada yang mencengkram tanganku dari belakang. Oh Tuhan, lindungilah aku.
  “Rani! Kenapa langkahmu makin cepat sekali sih?” sepertinya aku kenal suara itu. Itu suara Avi.
  “Avi? Sedang apa kau? Ini malam, seharusnya kau ada dirumah.” Omelku.
  “Rani sayang, kau ini bukan Ibu apalagi pacarku. Jadi suka-suka aku dong mau kemana saja.”
  “Terserahlah,” aku berjalan meninggalkan Avi. Ia terus berjalan menyamai posisiku.
  “Hei! Kau ini kenapa sih? Kau marah padaku?” tanya Avi dengan jalan tergesa-gesa.
  “Tidak.”
  “Lalu?”
Aku berbalik badan dan menatap Avi dengan sungguh-sungguh. “Aku... baik-baik saja,” Avi terdiam tak mengerti. Aku terus berjalan meninggalkan Avi dalam kebisuannya. Maafkan aku Avi...

***
Avi
            Rani aneh. Seharian ini ia menjauh dariku, aku tidak mengerti apa salahku. Saat ingin ke warung, aku melihat seorang perempuan seperti Rani. Karena penasaran, aku ikuti dia. Benar itu Rani! Aku lari mengikuti Rani dan memanggilnya. Kuabaikan tujuan utamaku ke warung demi Rani. Ya, demi Rani! Kupanggil Rani dan berlari mengejarnya. Tapi Rani semakin cepat. Tubuhku tidak kuat! Avi harus kuat! Kupanggil Rani dengan sekuat tenagaku. Rani menoleh!
“Rani! Kenapa langkahmu makin cepat sekali sih?” nafasku tersengal. Aku tidak boleh terlihat lemah di depan Rani
  “Avi? Sedang apa kau? Ini malam, seharusnya kau ada dirumah.” Jawab Rani dengan ketus.
Aku harus terlihat ceria dan kuat di depan Rani. Jangan sampai Rani tahu kondisiku sekarang. “Rani sayang, kau ini bukan Ibu apalagi pacarku. Jadi suka-suka aku dong mau kemana saja.” kataku dengan senyum memaksa.
  “Terserahlah,” Rani berjalan meninggalkanku. Aku terus mengejarnya.
  “Hei! Kau ini kenapa sih? Kau marah padaku?” tanyaku heran. Avi beritahuku apa yang sebenarnya terjadi!
  “Tidak.”
  “Lalu?” Rani berhadapan denganku. Matanya tajam. Aku tidak sanggup melihatnya.
 “Aku... baik-baik saja,” aku tidak mengerti apa maksud Rani. Ada apa dengannya? Pertanyaan mulai bermunculan dibenakku satu persatu. Tiba-tiba aku tersadar akan sesuatu. Hubungan kami baik-baik saja sejak aku melontarkan candaan “Kau ini seperti Ibu saja. Atau seperti pacar, mungkin.” Mungkin itu penyebabnya. Saat aku melontarkan candaan tadi pun sikap Rani sama. Ya itu penyebabnya.
                Dengan nafas tersengal aku berbalik ke arah jalan pulang. Aku mengatur nafasku agar bisa bertahan sampai rumah. Jangan pingsan, Avi... Dalam hati, aku terus menyesal akan perbuatanku itu. Baru kali ini Rani segitu marahnya padaku. Rani sahabatku, maafkan aku...



--Bersambung--

0 comments:

Posting Komentar

Hubungi kami :

Twitter : @APAksara

Email : apaksara3@gmail.com

HP : 085773226995

Instagram: kapas3.aksara

Twitter

Translator