Kalo mau baca yang sebelumnya klik link disamping: bagian 1 bagian 2
Nah, selamat membaca. -Aries
=================
-bagian 3-
Aku semakin merasakannya. Mereka ada dimana-mana, merasuki tubuh dan
pikiranku. Tapi aku tidak tau siapa mereka sebernarnya, dan aku juga tidak
mengerti kenapa aku tidak mengenali tempat ini. Aku sebenarnya ada dimana? Dan
lagi… aku sebenarnya siapa?
“-ly! Oi Sally!” setelah beberapa
saat akhirnya Sally membuka matanya. “uhh… ada apa Eri? Kau berisik sekali,”
katanya sambil mengucek matanya. “kalau kamu kelelahan, istirahatlah di ruang
kesehatan. Biar disini aku yang menangani.” ‘menangani? Memangnya kau Polisi?’
kata Sally dalam hati. “aku baik-baik saja kok. Rasanya seperti kurang tidur,
padahal terakhir kali aku tidur larut malam itu seminggu yang lalu…” “yah, gak
heran kalau kamu merasa begitu. Selama persiapan ini banyak sekali yang
terjadi, kamu pasti kewalahan.” Sally tersenyum, lalu ia bangkit dari tempatnya
dan meregangkan otot-ototnya yang kaku karena tidur di kantin sekolah. Eri
masih diam di tempatnya, melihat Sally dari belakang, melihat rambutnya yang
lurus menjuntai kebawah hingga ke pundaknya. Rambut Sally coklat mengkilap terpantul sinar
lampu kantin yang anehnya saat itu tampak menyilaukan mata, padahal sebelumnya
cahayanya tampak redup, ‘mungkin baru diganti’ pikir Eri.
Tiba-tiba Sally membuyarkan
lamunannya. “Eri… Kurasa
kita harus mencari Anne. Bukankah kita sudah sepakat untuk menolong satu sama
lain?” kata Sally yang masih
tetap membelakangi Eri. Eri pun berdiri dan menggenggam tangan temannya. Ia
tersenyum, “aku tau dia dimana.”
***
Saat ini Anne sedang
menangis tersedu-sedu di taman dekat asrama. Disana sepi sekali karena semuanya
sibuk mempersiapkan festival. Hanya burung-burung yang menemaninya disana. Ia
tidak percaya kalau teman-temannya akan mengalami kecelakaan seperti itu. Rasa
takut menyelimutinya disaat ia memikirkan kapan dirinya menjadi korban kutukan.
“kutukan huh... sejak kapan aku jadi percaya hal-hal seperti itu...”
Ia melamun kembali.
Memikirkan masa-masa indahnya di SMP bersama Lock, Sally, Pearl dan Eri. Ia
teringat saat hari ulang tahunnya yang ke-14, mereka mengerjai Anne dengan
menghadiahkan kandang kecil yang berisi kupu-kupu. Anne benci kupu-kupu. Tapi
ternyata dibalik kejahilan teman-temannya, mereka sudah menyiapkan kue yang
sangat enak buatan mereka sendiri untuk Anne. Bagi Anne, itu adalah kejutan
terindah.
Lalu saat mereka
melakukan perjalanan ke desa Eibane menggunakan sepeda. Perjalanan itu sungguh
menyenangkan karena di jalan mereka banyak bertemu dengan orang-orang menarik.
Desa Eiben juga memiliki banyak tempat wisata alami. Mereka mengunjungi hampir
semua tempat terkenal disana.
Pokoknya banyak sekali
kenangan manis dan indah yang telah dirangkai dengan hati-hati oleh mereka
bersama-sama. Namun kenyataan telah menyayat hati Anne. Mengapa harus mereka
yang mengalami hal ini? Kenapa harus teman-temannya? Kenapa, kenapa, kata tanya
itu memenuhi pikiran Anne saat ini. Tak terkendali hingga ia menghampiri sebuah
pohon rindang yang memiliki sensasi seolah-olah menarik dirinya untuk mendekat.
Anne menatap
lekat-lekat pohon ginkgo tersebut. Pohon ini tampak seperti penyendiri karena
tak ada pohon besar lain disekitarnya. Kalau dilihat-lihat memang pohon ini
sudah sangat tua. Rasanya aneh melihat pohon besar dan tua di taman sekolahnya
yang masih baru. Anne menyadari hal itu. Mana mungkin ada pohon ginkgo tua di
lingkungan sekolah, karena dulunya, sebelum sekolah ini dibentuk, yang ada hanyalah
ladang rumput yang luas. Bahkan sebelum dibuat jalan besar, kota kecil ini
dulunya sebuah desa yang sebagian besar penduduknya berternak dan ladang rumput
yang luas itulah tempat mereka mendapatkan makanan alami untuk ternak mereka.
Hanya ladang rumput, tak ada pohon tua.
“benar-benar tak ada
pohon tua...” gumam Anne.
***
“Anne?” Tak tampak
siapapun disana. Padahal Eri yakin sekali ia melihat sosok Anne di taman dekat
asrama tadi–sebelum ia pergi menemui Sally. “kau yakin dia ada disini?” tanya
Sally sekali lagi meragukan ingatan maupun penglihatan Eri. Eri sedikit
tersinggung, ia yakin yang ia lihat bukanlah hantu. Mereka mengelilingi
taman sambil memanggil nama Anne. Namun
orang yang dituju tidak kunjung terlihat batang hidungnya. “mungkin ia pergi
keluar-” “tak mungkin! Apa yang ia lakukan di luar?” selak Eri.
Sally tak mendengarkan
bantahan temannya. Ia berjalan menuju gerbang, dan melewati pohon ginkgo di
sebelah kirinya. Entah apa yang membuatnya tertarik untuk menoleh kearah
kirinya, karena sebelumnya ia hanya tertuju pada kemungkinan bahwa Anne pergi
keluar. Bukan berarti ia tidak bersyukur karena menoleh–walaupun tidak bisa
dikatakan ‘bersyukur’ disaat seperti itu–malahan sebaliknya. Sally melihat
sosok Anne di pohon tua itu. Bukan sedang bersembunyi dan hendak mengatakan,
‘Sally kau menemukan ku!’, melainkan sosok Anne yang menggantung di ranting
pohon tua yang kokoh.
Sentak Sally berteriak
dan menghampiri Anne, membuat Eri yang sedang sedikit jengkel langsung berlari
panik kearahnya. Tak kalah kaget, wajah Eri pucat seketika. Pemandangan tersebut
lebih mengerikan dari kecelakaan yang menimpa Pearl. Tubuh Anne tergantung
dengan wajah pucat dan kesakitan. Matanya mengeluarkan air mata yang sudah
mengering di pipinya, mulutnya terbuka lebar seperti kelelahan megap-megap,
sedangkan di lehernya ada bekas kuku tangannya–yang menandakan bahwa ia
menyesal telah menendang kursi kayu yang tadinya digunakan untuk tempat pijakan
kakinya, dan sekarang sudah tergeletak di bawah. Tali tambang yang tersimpul di
ranting kokoh itu sudah merenggut nyawa Anne. Memang tidak akan ada yang
menyalahkan talinya sih.
Eri membetulkan posisi
kursi kayu yang tergeletak, lalu menaikinya. Ia melepaskan leher Anne dari
lubang yang telah memisahkan kehidupan mereka berdua, lalu merebahkan tubuh
Anne yang dingin di tanah. Sally mendekati mereka dengan air mata yang terus
mengalir tak ada henti-henti di wajahnya. Saat seperti ini Eri tidak menemukan
kata-kata apapun untuk menyemangati orang yang ia sukai, karena perasaannya
saat itu sudah membuat bendungan di matanya rusak, air matanya meluap dan
keluar dari tempatnya seperti banjir di Jakarta. Anne sudah meninggalkan
mereka.
Setelah lelah menangis,
Eri dapat menenangkan dirinya sendiri. Ia tau betul apa yang seharusnya
dilakukan olehnya dan Sally sejak tadi, yaitu melaporkan kejadian ini ke pihak
sekolah. Ia juga tidak mau Anne yang kulitnya sudah dingin malah semakin dingin
karena angin di musim gugur menghantam tubuhnya yang berbaring di tanah sampai
membuat rambutnya berterbangan itu.
Eri menenangkan Sally.
Meskipun belum sepenuhnya merasa tenang, Eri sadar kalau mereka berdua tidak
boleh membiarkan ini berlarut-larut. Eri mengangkat tubuh Anne, jangan salah,
ia laki-laki yang kuat, baik fisik maupun mental. Tangan Anne yang belum kaku,
terjatuh dari tubunya karena guncangan yang diakibatkan Eri saat mengangkat
tubuh Anne, membuat Sally melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh mereka berdua
sebelumnya.
“Eri! Lihat tangan
Anne!” katanya sambil mengangkat tangan Anne sehingga Eri dapat melihat apa
yang dilihat olehnya. Di lengan Anne yang putih dan dingin, tergores
huruf-huruf kecil berwarna merah darah yang membeku dan menyebabkan luka parah.
Huruf-huruf itu membuat ngilu karena sudah pasti Anne menancapkan benda yang
ujungnya runcing di dagingnya lalu menggoreskannya kebawah, keatas dan
kesamping sehingga terbentuk huruf-huruf yang seperti tulisan anak TK. Bahkan
jauh lebih mengerikan. Huruf-huruf itu jika dirangkai tertulis: WAKE UP ERI U
SHOULDN’T BE HERE 2008.
“apa ini?” wajah Eri tampak ngeri karena namanya
disebutkan di ‘surat wasiat’ sahabatnya. “apa maksudnya?” tanyanya sekali lagi
pada Sally yang jelas-jelas tidak tau-menau maksud tulisan tersebut. Akhirnya
mereka memutuskan untuk mempermasalahkan hal itu lain waktu, mereka ingin
cepat-cepat memberitaukan masalah itu ke pihak sekolah.
***
Hari itu tampak lebih
kelam dan kelabu dari biasanya. Matahari tak muncul, awan mendung menutupinya
namun tak keluar setitikpun air dari atas. Guntur pun tak ada, padahal sudah
cocok sekali dengan udara mencekam di bawah sini. Entah sejak kapan semuanya
jadi tampak tak bernyawa, tak memiliki tanda-tanda kehidupan. Orang-orang yang
berlalu-lalang seolah hanyalah seonggok benda berjalan berbalut kulit yang
sewarna dengan kulit manusia. Tak ada yang lebih janggal dari keadaan ini.
Siapa mereka?
Sally sendirian di
tengah-tengah benda-benda-tak-bernyawa-yang-bisa-jalan itu. Sejak kecelakaan
yang menimpa teman-temannya, ia jadi sering merasakan, melihat dan memikirkan
hal-hal aneh dan tak wajar. Ia juga bergumam sebelum tidur saat kelelahan,
padahal seingatnya ia tak pernah begitu. Sekolah dan asrama ini juga sangat
asing di matanya. Kenangan-kenangan mengenai perjalanan-perjalanan serta
keisengan yang ia pernah lakukan bersama Anne, Eri, Lock dan Pearl sangat kabur
di otaknya.
Kapan ia pernah
melakukan hal itu bersama mereka? Apa yang sebenarnya mereka lakukan? Dimana ia
saat kebahagiaan itu ada? Apa yang ia lakukan sebelum festival ini? Benar. Apa
yang ia lakukan sebelum festival ini? Satu pertanyaan itu adalah pertanyaan
paling sulit diantara semua pertanyaan sulit di benaknya. Ia tak mengingat
satupun kejadian membahagiakan yang ia sendiri yakin pernah merasakannya
sebelum hari dimana guru mengatakan bahwa setiap kelas harus menyiapkan apa
yang akan mereka buat di hari festival sekolah. Semua sebelum hari itu terasa
palsu.
Sebelumnya ia tidak
menyadari kalau ia tengah menutup matanya, lalu ia pun membuka kelopak matanya
dan akan menyikapi dirinya sendiri seolah pikiran-pikiran gelapnya tadi tidak
pernah terlintas di benaknya, seperti biasa. Namun yang ia lihat setelahnya bukanlah
benda-benda-tak-bernyawa-yang-bisa-jalan yang sebelumnya ia lihat, melainkan
asap atau kabut gelap yang semakin gelap di ujung lorong. Sally menelan
ludahnya yang sempat tertahan di kerongkongannya, “apa itu?” semakin menatap
gumpalan asap hitam itu semakin pikirannya melayang-layang. Ia merasa hampir
saja mengetahui yang sebenarnya, sampai suara Eri yang memanggil namanya memecah
fokusnya terhadap gumpalan asap itu. Seketika gumpalan itu hilang tak berbekas.
Ia membalikan badannya, melihat Eri yang diam terpaku di belakangnya.
“kau baik-baik saja?”
katanya dengan suaranya yang paling lembut. Wajahnya tampak sangat
mengkhawatirkan Sally. Bagaimana tidak? Saat itu ia melihat wajah orang yang ia
sukai penuh dengan kengerian. Sally melihat wajah Eri, hendak memarahinya
karena ia merasa kalau sebentar lagi ia pasti tau apa yang sebenarnya terjadi
di dunia ini, namun semuanya terlupakan saat Eri memanggil namanya sekali lagi.
“Sally...”
Rasa rindu menyelimuti
hatinya. Seolah ia tak pernah mendengar suara itu lagi selama bertahun-tahun. Kehangatan
nyata yang sebelumnya pernah ia rasakan kini ia rasakan kembali. Tak ada
kepalsuan di mata Eri, tak ada kepalsuan pada suaranya. Sally memeluknya erat,
ia tidak mau kehilangan Eri lagi, ia tidak mau.
Eri yang tidak mengerti
apa yang telah terjadi bertanya sekali lagi dalam kegugupan, “Sa-Sally ada
apa?” Sally menjawabnya dengan pelukan yang lebih erat. Belum pernah ia
merasakan kerinduan seperti ini. Tak terasa air mata mengalir lagi di pipinya,
imejnya yang kuat dan tangguh kini tergantikan dengan cengeng dan berhati
rapuh. Eri diam sebentar, lalu balik memeluk Sally. Saat ini ia juga merasakan
apa yang dirasakan Sally: rindu.
“Sally...”
“mm...?”
“jangan pergi lagi...”
***
“hah?! Kakak sadar!
Ayah! Ibu! Kakak sadar!!” teriak Josh sambil jingkrak-jingkrak di samping
kasur. Suaranya sangat berisik sampai membuat ngilu telinga. Seketika ruang
rawat inap nomer 276 menjadi penuh haru, tangisan dan kebahagiaan. “dimana
aku?” suara lemah dan parau itu memecah tangisan mereka. “kau di rumah sakit
anak ku,” nyonya Hudson menyentuh pipi anaknya yang pucat. Seorang ibu yang
sudah berkepala empat itu sangat menyayangi anaknya. Sebelumnya ia tak mengira
kalau ia nyaris kehilangan anaknya seperti itu.
Tiba-tiba matanya
terbelalak, “apakah aku di Rumah Sakit Manhatt?” “bukan, kau ada di Rumah Sakit
Elevhill...” jawab nyonya Hudson kebingungan. Memangnya ada Rumah Sakit
Manhatt?
“ah! Aku harus kembali
ke sekolah! Sally dalam keadaan gawat! Apa dia dirawat disini juga?” tanyanya
dalam panik. Josh menggenggam tangan kakaknya. “siapa Sally?” “temanku Josh!
Tadi ada gempa dahsyat di sekolah setelah ia pergi meninggalkanku, dimana dia?
Sekolahku bagaimana? Apa banyak korbannya?” semuanya menatap bingung kearahnya.
Mereka benar-benar tidak mengerti apa yang dikatakan olehnya. “gempa apa? Kakak
disini karena sebulan yang lalu kakak kecelakaan...” “sebulan?”
Kini ia benar-benar tak
terkendali. Infus yang menancap di lengannya langsung ia cabut seperti bukan
apa-apa untuknya. Dengan keadaan masih sempoyongan ia berjalan secepat yang ia
bisa, namun langsung dihalang oleh adiknya yang masih berumur 10 tahun itu. Ia
mencoba sekuat tenaganya untuk melepaskan diri dari adik kecilnya, namun tak
lama ia kehilangan seluruh tenaganya. Dan lagi-lagi masuk ke dalam dunianya
yang gelap.
***
6 tahun kemudian
Siapa yang menyangka
kakak ku akan mengakhiri sisa hidupnya di rumah sakit jiwa. Pikiran orang tua
ku sedang tidak terkendali saat mereka memutuskan untuk memasukan kakak ku ke
rumah sakit jiwa. Setelah ia berhasil kembali dari komanya selama sebulan, ia
langsung menceritakan mimpinya yang aneh dan tak wajar kepada kami. Berkali-kali
menanyakan Rumah Sakit Manhatt, keadaan SMU Purin, dan seorang cewek bernama
Sally.
Saat itu aku masih
dianggap anak-anak dan tak mengerti apa-apa jadi aku tidak sempat mendengarkan cerita
selengkapnya dari mimpi kakak ku yang menarik itu. Ia bilang teman-temannya
mengalami kutukan dan semacamnya. Ia juga menceritakan tentang teman-teman
dekatnya–yang menurutnya kami mengenal baik mereka, namun kenyataannya
orang-orang yang disebutkan kakak ku itu tidak nyata. Mereka tidak ada.
Di waktu SMP aku pernah
3 kali diam-diam datang ke rumah sakit untuk menjenguk kakak ku. Jujur saja,
aku percaya pada kakak ku. Ia orang yang baik, ramah, menyenangkan, asik, jago
olahraga, jago masak dan sangat bisa diandalkan. Aku sangat mengagumi kakak ku,
karena itu aku ingin membantu kakak ku keluar dari masalahnya.
Kakak menceritakan
semuanya padaku secara bertahap dalam 3 kali kunjungan itu. Terdengar sangat
nyata namun tidak wajar. Apa lagi endingnya.
***
Sally tersentak. Ia melepaskan
pelukannya dengan cepat dan kasar. “aku harus menghentikan ini!” katanya dengan
mata yang mencerminkan tekadnya yang bulat. “apa maksudnya? Jadi kau percaya kalau
ini semua kutukan?” “memangnya apa lagi?” Eri merasa kalau ini bukanlah waktu
yang tepat untuk memulai debat. Mereka sedang tidak dalam kelas bahasa Inggris.
Sally melanjutkan kalimatnya dengan nada yang lebih tenang, “aku merasa kalau
hanya aku yang bisa menyelesaikan ini. Maaf Eri, aku ingin sekali terus berada
di sisi mu. Ingin sekali, tapi ini bukanlah tempatku dan tempatmu. Entah kenapa
dan sejak kapan aku sadar kalau semua yang kita lakukan tidaklah nyata. Aku masih
tidak mengerti teka-teki ini, banyak juga hal-hal yang masih menjanggal di
pikiranku, tapi hanya satu hal yang ku yakini setelah mendengar ucapan mu, hanya
aku yang bisa menyelesaikan ini dengan sesegera mungkin.”
Sally diam sejenak,
mengatur napasnya. “Eri, kau tau?” lanjutnya, “sebenarnya sejak dulu aku sudah
jatuh cinta padamu.”
Eri masih terdiam,
tidak ingin mempercayai kata-kata Sally sedikitpun–kecuali bagian pernyataan cinta Sally kepadanya. Lebih tepatnya, ia tak
ingin kehilangan Sally untuk yang kedua kalinya. Apa? Kedua kali? Kata-kata itu
bagaikan kunci dari puzzle masalahnya
saat ini. Pikirannya langsung bekerja bagaikan mesin motor, Eri sedikit-sedikit
merasakan apa yang dirasakan Sally–tentu saja keduanya tak tau hal itu.
Sally melepaskan
genggaman tangan Eri. Ia tersenyum untuk yang terakhir kalinya dan berlari
secepat yang ia bisa menuju ujung lorong. Tiba-tiba gumpalan kabut hitam tadi
muncul lagi, dan kali ini Eri dapat melihatnya, ia bahkan dapat melihat sesosok
anak kecil berambut sebahu di dalam kabut hitam itu melambai kearahnya. Tubuhnya
reflek bergidik, ia ingin menahan lengan Sally, karena ia tau pilihannya
bukanlah hal yang tepat. Namun sayang, kakinya tak dapat bergerak seperti
biasanya. Bukan karena ketakutan, lebih tepatnya, ditahan.
Sally berlari lurus
kearah kabut hitam itu. Menatap lekat-lekat ke mata gadis kecil di dalamnya,
lalu sebelum ia sadari ia sudah masuk ke dalam kabut hitam itu. Gelap,
mengerikan, menyedihkan, menakutkan, dan ia juga merasakan kesepian. Lalu gadis
itu muncul lagi. Wajahnya tak jelas terlihat, hanya siluetnya saja. Ia terlihat
kecewa.
“sudah kuduga kau tidak akan bisa melukainya. Dasar
menyedihkan.”
“apa maksudmu?!”
“bahkan kau lupa apa tujuanmu sendiri membentuk ini
semua. Kau lupa karena terlalu asik berada di duniamu sendiri. Mati lah. Oh ya
lupa...”
“apa...?”
“heheh aku menyumpahi mu mati, padahal kita kan sudah
mati.”
***
“SALLY!!!!” teriak Eri
setelah Sally tiba-tiba ‘termakan’ oleh kabut hitam menyeramkan itu. Ia mencoba
sekali lagi untuk berdiri, dan ia bisa melakukannya. Ia langsung berlari menuju
ujung lorong, lalu memukul-mukulnya seperti akan terbuka kalau diperlakukan
seperti itu. Tapi apa yang ia lakukan sia-sia, dan Eri tau itu.
Tiba-tiba tanah
bergetar hebat, sementara Eri masih saja meneriaki nama Sally. Perlahan-lahan
dinding mulai retak karena gempa hebat yang tak ada habisnya. Dinding yang
dipukuli oleh Eri juga retak dan akhirnya runtuh. Nyaris menimpa Eri, ia
berhasil menghindari batu besar di depannya namun tak luput juga ia dari batu
lain yang lebih kecil ukurannya. Batu tersebut menimpa pelipis Eri dan
membuatnya kehilangan kendali.
Begitu lah yang
terjadi. Ending tak wajar yang
dimaksudkan oleh Josh. Sungguhan kah itu? Atau itu hanyalah lucid dream yang dialaminya? Atau bahkan
hanyalah karangan belaka? Baik Eri maupun adiknya, Josh, mereka sama-sama
meyakini bahwa itu adalah sungguhan.
***
Aku percaya pada kakak
ku. Akan ku bebaskan masalah yang mengikat pundak kakak yang ku kagumi. Aku sudah
berusaha keras, mencari informasi-informasi mengenai kutukan di internet. Selain
itu, aku juga sudah berusaha keras agar aku bisa masuk SMU Purin dan ‘merekonstruksi’
kejadian yang dialami kakak. Pasti ada jejak yang tertinggal.
***
Josh yang malang
mencoba memasuki dunia yang sama dengan kakaknya. Ia bahkan tak tau apakah
sebenarnya ia akan selamat atau tidak. Segitu besar cintanya pada kakaknya. Beruntunglah
Eri memiliki adik sepertinya.
Tapi mana mungkin ia
berhasil melakukannya.
Tamat!✿
0 comments:
Posting Komentar