Kamis, 10 April 2014

Festival Kutukan


Setelah hiatus selama beberapa minggu dari dunia penciptaan karya sastra (?), akhirnya bagian Festival Kutukan yang terakhir selesai juga. Mungkin kerasa perbedaan gaya ngetiknya. Heuheu.
Kalo mau baca yang sebelumnya klik link disamping: bagian 1   bagian 2
Nah, selamat membaca. -Aries


=================


-bagian 3-



Aku semakin merasakannya. Mereka ada dimana-mana, merasuki tubuh dan pikiranku. Tapi aku tidak tau siapa mereka sebernarnya, dan aku juga tidak mengerti kenapa aku tidak mengenali tempat ini. Aku sebenarnya ada dimana? Dan lagi… aku sebenarnya siapa?

“-ly! Oi Sally!” setelah beberapa saat akhirnya Sally membuka matanya. “uhh… ada apa Eri? Kau berisik sekali,” katanya sambil mengucek matanya. “kalau kamu kelelahan, istirahatlah di ruang kesehatan. Biar disini aku yang menangani.” ‘menangani? Memangnya kau Polisi?’ kata Sally dalam hati. “aku baik-baik saja kok. Rasanya seperti kurang tidur, padahal terakhir kali aku tidur larut malam itu seminggu yang lalu…” “yah, gak heran kalau kamu merasa begitu. Selama persiapan ini banyak sekali yang terjadi, kamu pasti kewalahan.” Sally tersenyum, lalu ia bangkit dari tempatnya dan meregangkan otot-ototnya yang kaku karena tidur di kantin sekolah. Eri masih diam di tempatnya, melihat Sally dari belakang, melihat rambutnya yang lurus menjuntai kebawah hingga ke pundaknya. Rambut Sally coklat mengkilap terpantul sinar lampu kantin yang anehnya saat itu tampak menyilaukan mata, padahal sebelumnya cahayanya tampak redup, ‘mungkin baru diganti’ pikir Eri.

Tiba-tiba Sally membuyarkan lamunannya. “Eri… Kurasa kita harus mencari Anne. Bukankah kita sudah sepakat untuk menolong satu sama lain?” kata Sally yang masih tetap membelakangi Eri. Eri pun berdiri dan menggenggam tangan temannya. Ia tersenyum, “aku tau dia dimana.”
***
Saat ini Anne sedang menangis tersedu-sedu di taman dekat asrama. Disana sepi sekali karena semuanya sibuk mempersiapkan festival. Hanya burung-burung yang menemaninya disana. Ia tidak percaya kalau teman-temannya akan mengalami kecelakaan seperti itu. Rasa takut menyelimutinya disaat ia memikirkan kapan dirinya menjadi korban kutukan. “kutukan huh... sejak kapan aku jadi percaya hal-hal seperti itu...”

Ia melamun kembali. Memikirkan masa-masa indahnya di SMP bersama Lock, Sally, Pearl dan Eri. Ia teringat saat hari ulang tahunnya yang ke-14, mereka mengerjai Anne dengan menghadiahkan kandang kecil yang berisi kupu-kupu. Anne benci kupu-kupu. Tapi ternyata dibalik kejahilan teman-temannya, mereka sudah menyiapkan kue yang sangat enak buatan mereka sendiri untuk Anne. Bagi Anne, itu adalah kejutan terindah.

Lalu saat mereka melakukan perjalanan ke desa Eibane menggunakan sepeda. Perjalanan itu sungguh menyenangkan karena di jalan mereka banyak bertemu dengan orang-orang menarik. Desa Eiben juga memiliki banyak tempat wisata alami. Mereka mengunjungi hampir semua tempat terkenal disana.

Pokoknya banyak sekali kenangan manis dan indah yang telah dirangkai dengan hati-hati oleh mereka bersama-sama. Namun kenyataan telah menyayat hati Anne. Mengapa harus mereka yang mengalami hal ini? Kenapa harus teman-temannya? Kenapa, kenapa, kata tanya itu memenuhi pikiran Anne saat ini. Tak terkendali hingga ia menghampiri sebuah pohon rindang yang memiliki sensasi seolah-olah menarik dirinya untuk mendekat.

Anne menatap lekat-lekat pohon ginkgo tersebut. Pohon ini tampak seperti penyendiri karena tak ada pohon besar lain disekitarnya. Kalau dilihat-lihat memang pohon ini sudah sangat tua. Rasanya aneh melihat pohon besar dan tua di taman sekolahnya yang masih baru. Anne menyadari hal itu. Mana mungkin ada pohon ginkgo tua di lingkungan sekolah, karena dulunya, sebelum sekolah ini dibentuk, yang ada hanyalah ladang rumput yang luas. Bahkan sebelum dibuat jalan besar, kota kecil ini dulunya sebuah desa yang sebagian besar penduduknya berternak dan ladang rumput yang luas itulah tempat mereka mendapatkan makanan alami untuk ternak mereka. Hanya ladang rumput, tak ada pohon tua.

“benar-benar tak ada pohon tua...” gumam Anne.
***
“Anne?” Tak tampak siapapun disana. Padahal Eri yakin sekali ia melihat sosok Anne di taman dekat asrama tadi–sebelum ia pergi menemui Sally. “kau yakin dia ada disini?” tanya Sally sekali lagi meragukan ingatan maupun penglihatan Eri. Eri sedikit tersinggung, ia yakin yang ia lihat bukanlah hantu. Mereka mengelilingi taman  sambil memanggil nama Anne. Namun orang yang dituju tidak kunjung terlihat batang hidungnya. “mungkin ia pergi keluar-” “tak mungkin! Apa yang ia lakukan di luar?” selak Eri.

Sally tak mendengarkan bantahan temannya. Ia berjalan menuju gerbang, dan melewati pohon ginkgo di sebelah kirinya. Entah apa yang membuatnya tertarik untuk menoleh kearah kirinya, karena sebelumnya ia hanya tertuju pada kemungkinan bahwa Anne pergi keluar. Bukan berarti ia tidak bersyukur karena menoleh–walaupun tidak bisa dikatakan ‘bersyukur’ disaat seperti itu–malahan sebaliknya. Sally melihat sosok Anne di pohon tua itu. Bukan sedang bersembunyi dan hendak mengatakan, ‘Sally kau menemukan ku!’, melainkan sosok Anne yang menggantung di ranting pohon tua yang kokoh.

Sentak Sally berteriak dan menghampiri Anne, membuat Eri yang sedang sedikit jengkel langsung berlari panik kearahnya. Tak kalah kaget, wajah Eri pucat seketika. Pemandangan tersebut lebih mengerikan dari kecelakaan yang menimpa Pearl. Tubuh Anne tergantung dengan wajah pucat dan kesakitan. Matanya mengeluarkan air mata yang sudah mengering di pipinya, mulutnya terbuka lebar seperti kelelahan megap-megap, sedangkan di lehernya ada bekas kuku tangannya–yang menandakan bahwa ia menyesal telah menendang kursi kayu yang tadinya digunakan untuk tempat pijakan kakinya, dan sekarang sudah tergeletak di bawah. Tali tambang yang tersimpul di ranting kokoh itu sudah merenggut nyawa Anne. Memang tidak akan ada yang menyalahkan talinya sih.

Eri membetulkan posisi kursi kayu yang tergeletak, lalu menaikinya. Ia melepaskan leher Anne dari lubang yang telah memisahkan kehidupan mereka berdua, lalu merebahkan tubuh Anne yang dingin di tanah. Sally mendekati mereka dengan air mata yang terus mengalir tak ada henti-henti di wajahnya. Saat seperti ini Eri tidak menemukan kata-kata apapun untuk menyemangati orang yang ia sukai, karena perasaannya saat itu sudah membuat bendungan di matanya rusak, air matanya meluap dan keluar dari tempatnya seperti banjir di Jakarta. Anne sudah meninggalkan mereka.

Setelah lelah menangis, Eri dapat menenangkan dirinya sendiri. Ia tau betul apa yang seharusnya dilakukan olehnya dan Sally sejak tadi, yaitu melaporkan kejadian ini ke pihak sekolah. Ia juga tidak mau Anne yang kulitnya sudah dingin malah semakin dingin karena angin di musim gugur menghantam tubuhnya yang berbaring di tanah sampai membuat rambutnya berterbangan itu.

Eri menenangkan Sally. Meskipun belum sepenuhnya merasa tenang, Eri sadar kalau mereka berdua tidak boleh membiarkan ini berlarut-larut. Eri mengangkat tubuh Anne, jangan salah, ia laki-laki yang kuat, baik fisik maupun mental. Tangan Anne yang belum kaku, terjatuh dari tubunya karena guncangan yang diakibatkan Eri saat mengangkat tubuh Anne, membuat Sally melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh mereka berdua sebelumnya.

“Eri! Lihat tangan Anne!” katanya sambil mengangkat tangan Anne sehingga Eri dapat melihat apa yang dilihat olehnya. Di lengan Anne yang putih dan dingin, tergores huruf-huruf kecil berwarna merah darah yang membeku dan menyebabkan luka parah. Huruf-huruf itu membuat ngilu karena sudah pasti Anne menancapkan benda yang ujungnya runcing di dagingnya lalu menggoreskannya kebawah, keatas dan kesamping sehingga terbentuk huruf-huruf yang seperti tulisan anak TK. Bahkan jauh lebih mengerikan. Huruf-huruf itu jika dirangkai tertulis: WAKE UP ERI U SHOULDN’T BE HERE 2008.

“apa ini?” wajah Eri tampak ngeri karena namanya disebutkan di ‘surat wasiat’ sahabatnya. “apa maksudnya?” tanyanya sekali lagi pada Sally yang jelas-jelas tidak tau-menau maksud tulisan tersebut. Akhirnya mereka memutuskan untuk mempermasalahkan hal itu lain waktu, mereka ingin cepat-cepat memberitaukan masalah itu ke pihak sekolah.
***
Hari itu tampak lebih kelam dan kelabu dari biasanya. Matahari tak muncul, awan mendung menutupinya namun tak keluar setitikpun air dari atas. Guntur pun tak ada, padahal sudah cocok sekali dengan udara mencekam di bawah sini. Entah sejak kapan semuanya jadi tampak tak bernyawa, tak memiliki tanda-tanda kehidupan. Orang-orang yang berlalu-lalang seolah hanyalah seonggok benda berjalan berbalut kulit yang sewarna dengan kulit manusia. Tak ada yang lebih janggal dari keadaan ini.

Siapa mereka?

Sally sendirian di tengah-tengah benda-benda-tak-bernyawa-yang-bisa-jalan itu. Sejak kecelakaan yang menimpa teman-temannya, ia jadi sering merasakan, melihat dan memikirkan hal-hal aneh dan tak wajar. Ia juga bergumam sebelum tidur saat kelelahan, padahal seingatnya ia tak pernah begitu. Sekolah dan asrama ini juga sangat asing di matanya. Kenangan-kenangan mengenai perjalanan-perjalanan serta keisengan yang ia pernah lakukan bersama Anne, Eri, Lock dan Pearl sangat kabur di otaknya.

Kapan ia pernah melakukan hal itu bersama mereka? Apa yang sebenarnya mereka lakukan? Dimana ia saat kebahagiaan itu ada? Apa yang ia lakukan sebelum festival ini? Benar. Apa yang ia lakukan sebelum festival ini? Satu pertanyaan itu adalah pertanyaan paling sulit diantara semua pertanyaan sulit di benaknya. Ia tak mengingat satupun kejadian membahagiakan yang ia sendiri yakin pernah merasakannya sebelum hari dimana guru mengatakan bahwa setiap kelas harus menyiapkan apa yang akan mereka buat di hari festival sekolah. Semua sebelum hari itu terasa palsu.

Sebelumnya ia tidak menyadari kalau ia tengah menutup matanya, lalu ia pun membuka kelopak matanya dan akan menyikapi dirinya sendiri seolah pikiran-pikiran gelapnya tadi tidak pernah terlintas di benaknya, seperti biasa. Namun yang ia lihat setelahnya bukanlah benda-benda-tak-bernyawa-yang-bisa-jalan yang sebelumnya ia lihat, melainkan asap atau kabut gelap yang semakin gelap di ujung lorong. Sally menelan ludahnya yang sempat tertahan di kerongkongannya, “apa itu?” semakin menatap gumpalan asap hitam itu semakin pikirannya melayang-layang. Ia merasa hampir saja mengetahui yang sebenarnya, sampai suara Eri yang memanggil namanya memecah fokusnya terhadap gumpalan asap itu. Seketika gumpalan itu hilang tak berbekas. Ia membalikan badannya, melihat Eri yang diam terpaku di belakangnya.

“kau baik-baik saja?” katanya dengan suaranya yang paling lembut. Wajahnya tampak sangat mengkhawatirkan Sally. Bagaimana tidak? Saat itu ia melihat wajah orang yang ia sukai penuh dengan kengerian. Sally melihat wajah Eri, hendak memarahinya karena ia merasa kalau sebentar lagi ia pasti tau apa yang sebenarnya terjadi di dunia ini, namun semuanya terlupakan saat Eri memanggil namanya sekali lagi. “Sally...”

Rasa rindu menyelimuti hatinya. Seolah ia tak pernah mendengar suara itu lagi selama bertahun-tahun. Kehangatan nyata yang sebelumnya pernah ia rasakan kini ia rasakan kembali. Tak ada kepalsuan di mata Eri, tak ada kepalsuan pada suaranya. Sally memeluknya erat, ia tidak mau kehilangan Eri lagi, ia tidak mau.

Eri yang tidak mengerti apa yang telah terjadi bertanya sekali lagi dalam kegugupan, “Sa-Sally ada apa?” Sally menjawabnya dengan pelukan yang lebih erat. Belum pernah ia merasakan kerinduan seperti ini. Tak terasa air mata mengalir lagi di pipinya, imejnya yang kuat dan tangguh kini tergantikan dengan cengeng dan berhati rapuh. Eri diam sebentar, lalu balik memeluk Sally. Saat ini ia juga merasakan apa yang dirasakan Sally: rindu.

“Sally...”
“mm...?”
“jangan pergi lagi...”
***
“hah?! Kakak sadar! Ayah! Ibu! Kakak sadar!!” teriak Josh sambil jingkrak-jingkrak di samping kasur. Suaranya sangat berisik sampai membuat ngilu telinga. Seketika ruang rawat inap nomer 276 menjadi penuh haru, tangisan dan kebahagiaan. “dimana aku?” suara lemah dan parau itu memecah tangisan mereka. “kau di rumah sakit anak ku,” nyonya Hudson menyentuh pipi anaknya yang pucat. Seorang ibu yang sudah berkepala empat itu sangat menyayangi anaknya. Sebelumnya ia tak mengira kalau ia nyaris kehilangan anaknya seperti itu.

Tiba-tiba matanya terbelalak, “apakah aku di Rumah Sakit Manhatt?” “bukan, kau ada di Rumah Sakit Elevhill...” jawab nyonya Hudson kebingungan. Memangnya ada Rumah Sakit Manhatt?

“ah! Aku harus kembali ke sekolah! Sally dalam keadaan gawat! Apa dia dirawat disini juga?” tanyanya dalam panik. Josh menggenggam tangan kakaknya. “siapa Sally?” “temanku Josh! Tadi ada gempa dahsyat di sekolah setelah ia pergi meninggalkanku, dimana dia? Sekolahku bagaimana? Apa banyak korbannya?” semuanya menatap bingung kearahnya. Mereka benar-benar tidak mengerti apa yang dikatakan olehnya. “gempa apa? Kakak disini karena sebulan yang lalu kakak kecelakaan...” “sebulan?”

Kini ia benar-benar tak terkendali. Infus yang menancap di lengannya langsung ia cabut seperti bukan apa-apa untuknya. Dengan keadaan masih sempoyongan ia berjalan secepat yang ia bisa, namun langsung dihalang oleh adiknya yang masih berumur 10 tahun itu. Ia mencoba sekuat tenaganya untuk melepaskan diri dari adik kecilnya, namun tak lama ia kehilangan seluruh tenaganya. Dan lagi-lagi masuk ke dalam dunianya yang gelap.
***
6 tahun kemudian
Siapa yang menyangka kakak ku akan mengakhiri sisa hidupnya di rumah sakit jiwa. Pikiran orang tua ku sedang tidak terkendali saat mereka memutuskan untuk memasukan kakak ku ke rumah sakit jiwa. Setelah ia berhasil kembali dari komanya selama sebulan, ia langsung menceritakan mimpinya yang aneh dan tak wajar kepada kami. Berkali-kali menanyakan Rumah Sakit Manhatt, keadaan SMU Purin, dan seorang cewek bernama Sally.

Saat itu aku masih dianggap anak-anak dan tak mengerti apa-apa jadi aku tidak sempat mendengarkan cerita selengkapnya dari mimpi kakak ku yang menarik itu. Ia bilang teman-temannya mengalami kutukan dan semacamnya. Ia juga menceritakan tentang teman-teman dekatnya–yang menurutnya kami mengenal baik mereka, namun kenyataannya orang-orang yang disebutkan kakak ku itu tidak nyata. Mereka tidak ada.

Di waktu SMP aku pernah 3 kali diam-diam datang ke rumah sakit untuk menjenguk kakak ku. Jujur saja, aku percaya pada kakak ku. Ia orang yang baik, ramah, menyenangkan, asik, jago olahraga, jago masak dan sangat bisa diandalkan. Aku sangat mengagumi kakak ku, karena itu aku ingin membantu kakak ku keluar dari masalahnya.

Kakak menceritakan semuanya padaku secara bertahap dalam 3 kali kunjungan itu. Terdengar sangat nyata namun tidak wajar. Apa lagi endingnya.
***
Sally tersentak. Ia melepaskan pelukannya dengan cepat dan kasar. “aku harus menghentikan ini!” katanya dengan mata yang mencerminkan tekadnya yang bulat. “apa maksudnya? Jadi kau percaya kalau ini semua kutukan?” “memangnya apa lagi?” Eri merasa kalau ini bukanlah waktu yang tepat untuk memulai debat. Mereka sedang tidak dalam kelas bahasa Inggris. Sally melanjutkan kalimatnya dengan nada yang lebih tenang, “aku merasa kalau hanya aku yang bisa menyelesaikan ini. Maaf Eri, aku ingin sekali terus berada di sisi mu. Ingin sekali, tapi ini bukanlah tempatku dan tempatmu. Entah kenapa dan sejak kapan aku sadar kalau semua yang kita lakukan tidaklah nyata. Aku masih tidak mengerti teka-teki ini, banyak juga hal-hal yang masih menjanggal di pikiranku, tapi hanya satu hal yang ku yakini setelah mendengar ucapan mu, hanya aku yang bisa menyelesaikan ini dengan sesegera mungkin.”


Sally diam sejenak, mengatur napasnya. “Eri, kau tau?” lanjutnya, “sebenarnya sejak dulu aku sudah jatuh cinta padamu.”


Eri masih terdiam, tidak ingin mempercayai kata-kata Sally sedikitpunkecuali bagian pernyataan cinta Sally kepadanya. Lebih tepatnya, ia tak ingin kehilangan Sally untuk yang kedua kalinya. Apa? Kedua kali? Kata-kata itu bagaikan kunci dari puzzle masalahnya saat ini. Pikirannya langsung bekerja bagaikan mesin motor, Eri sedikit-sedikit merasakan apa yang dirasakan Sally–tentu saja keduanya tak tau hal itu.



Sally melepaskan genggaman tangan Eri. Ia tersenyum untuk yang terakhir kalinya dan berlari secepat yang ia bisa menuju ujung lorong. Tiba-tiba gumpalan kabut hitam tadi muncul lagi, dan kali ini Eri dapat melihatnya, ia bahkan dapat melihat sesosok anak kecil berambut sebahu di dalam kabut hitam itu melambai kearahnya. Tubuhnya reflek bergidik, ia ingin menahan lengan Sally, karena ia tau pilihannya bukanlah hal yang tepat. Namun sayang, kakinya tak dapat bergerak seperti biasanya. Bukan karena ketakutan, lebih tepatnya, ditahan.

Sally berlari lurus kearah kabut hitam itu. Menatap lekat-lekat ke mata gadis kecil di dalamnya, lalu sebelum ia sadari ia sudah masuk ke dalam kabut hitam itu. Gelap, mengerikan, menyedihkan, menakutkan, dan ia juga merasakan kesepian. Lalu gadis itu muncul lagi. Wajahnya tak jelas terlihat, hanya siluetnya saja. Ia terlihat kecewa.

“sudah kuduga kau tidak akan bisa melukainya. Dasar menyedihkan.”

“apa maksudmu?!”

“bahkan kau lupa apa tujuanmu sendiri membentuk ini semua. Kau lupa karena terlalu asik berada di duniamu sendiri. Mati lah. Oh ya lupa...”

“apa...?”

“heheh aku menyumpahi mu mati, padahal kita kan sudah mati.”
***
“SALLY!!!!” teriak Eri setelah Sally tiba-tiba ‘termakan’ oleh kabut hitam menyeramkan itu. Ia mencoba sekali lagi untuk berdiri, dan ia bisa melakukannya. Ia langsung berlari menuju ujung lorong, lalu memukul-mukulnya seperti akan terbuka kalau diperlakukan seperti itu. Tapi apa yang ia lakukan sia-sia, dan Eri tau itu.

Tiba-tiba tanah bergetar hebat, sementara Eri masih saja meneriaki nama Sally. Perlahan-lahan dinding mulai retak karena gempa hebat yang tak ada habisnya. Dinding yang dipukuli oleh Eri juga retak dan akhirnya runtuh. Nyaris menimpa Eri, ia berhasil menghindari batu besar di depannya namun tak luput juga ia dari batu lain yang lebih kecil ukurannya. Batu tersebut menimpa pelipis Eri dan membuatnya kehilangan kendali.

Begitu lah yang terjadi. Ending tak wajar yang dimaksudkan oleh Josh. Sungguhan kah itu? Atau itu hanyalah lucid dream yang dialaminya? Atau bahkan hanyalah karangan belaka? Baik Eri maupun adiknya, Josh, mereka sama-sama meyakini bahwa itu adalah sungguhan.
***
Aku percaya pada kakak ku. Akan ku bebaskan masalah yang mengikat pundak kakak yang ku kagumi. Aku sudah berusaha keras, mencari informasi-informasi mengenai kutukan di internet. Selain itu, aku juga sudah berusaha keras agar aku bisa masuk SMU Purin dan ‘merekonstruksi’ kejadian yang dialami kakak. Pasti ada jejak yang tertinggal.
***
Josh yang malang mencoba memasuki dunia yang sama dengan kakaknya. Ia bahkan tak tau apakah sebenarnya ia akan selamat atau tidak. Segitu besar cintanya pada kakaknya. Beruntunglah Eri memiliki adik sepertinya.

Tapi mana mungkin ia berhasil melakukannya.


Tamat!


0 comments:

Posting Komentar

Hubungi kami :

Twitter : @APAksara

Email : apaksara3@gmail.com

HP : 085773226995

Instagram: kapas3.aksara

Twitter

Translator