Cahaya
mentari yang mengintip dari garis batas langit di ufuk timur kembali menemani langkahku. Mentari yang
dengan perlahan membiaskan cahaya keemasan pada langit biru nan kelam.
Membuatku kembali terdiam di satu titik untuk sekedar menikmati keindahannya.
Dulu, ada seseorang yang selalu lebih indah dari mentari pagi. Lebih bersinar
diantara yang lainnya. Dan satu-satunya yang ingin dilihat mata ini lebih dari
siapapun.
Aku
tidak mengerti kenapa aku menyukainya. Dia bukan orang yang memberi kesan baik
pada pertemuan pertama kami. Pandu, siswa pindahan yang secara tidak langsung
mengambil apa yang seharusnya menjadi hakku. Pada awal tahun ajaran baru
kelasku menjadi ganjil, berjumlah 41 siswa, karena kehadirannya. Aku tahu, bukan
salahnya bila aku tidak mendapatkan surat edaran dari komite, karena
masing-masing kelas hanya mendapat 40 surat dan kebetulan aku sedang duduk di
pojok belakang. Oh sial, tidak ada yang namanya kebetulan, semua ini sudah ada
yang mengatur. Beruntung setelah itu kelas diubah lagi, tentu saja aku senang
karena tak harus belajar dengan ketidak-sukaan pada seseorang. Kembali pada
fakta yang membingungkan bahwa aku menyukainya, aku menyerah untuk mencari tahu
alasannya. Karena aku pikir, bila hati ini yang memilih, aku takkan butuh lagi
sebuah alasan.
Seperti
kebanyakan remaja, hanya beberapa teman terdekatku yang mengetahui tentang
perasaanku ini. Dan, Milly, teman satu ekstrakulikulerku yang secara tiba-tiba
mengetahui rasa sukaku pada Pandu yang akhirnya menjadi teman sekelasnya.
Sungguh, ingin sekali aku mengunci rapat-rapat bibir Elsa agar tak pernah lagi
kelepasan membocorkan lebih banyak rahasiaku.Tak ada yang aneh dari sikap Milly
saat itu. Bahkan ia diam, cenderung tak ingin berkomentar.
Berbulan-bulan
lamanya Pandu sedikit menguasai pikiranku. Sudah hampir satu semester, dan
selama itu aku tidak lagi bisa mengingat berbagai peringatan yang dilontarkan
teman-temanku tentang Pandu. Selama itu aku tenggelam dalam
perasaan ini. Melakukan apapun agar bisa dekat dengan Pandu lebih dari seorang
teman. Melakukan apapun agar Pandu tahu dan mengerti tentang perasaan ini.
Hingga minggu lalu, saat hatiku, anganku, dan harapanku dihancurkan oleh
temanku sendiri, Milly. Minggu lalu, saat kami sibuk mempersiapkan
ekstrakulikuler kami untuk tampil pada pentas seni, saat itu semuanya terlihat
jelas. Ketika Milly dan Pandu tersipu malu saat digoda teman-temannya karena
Milly memberikan hadiah ulang tahun untuk Pandu.
Seketika
itu pula aku ingat ketika teman-temanku mengatakan kalau aku dan Pandu sangat
berbeda dan kami tidak cocok, dan saat itu yang bisa kuucapkan adalah “Karena
kami berbeda, aku ingin melengkapi kekurangannya dan aku ingin dia melengkapi
kekuranganku.” Kemudian mereka berkata, “Yuri, lebih baik kamu cari yang lain
deh. Aku tahu kamu, kamu ngga mau suka sama orang yang disukain sama banyak
peremuan kan? Nah, dia itu banyak yang suka, Ri“ lalu aku jawab lagi, “Masa
sih? Dia kan ngga begitu ganteng..” dan masih banyak lagi.
Sudah
satu
minggu, aku tak mempermasalahkan perasaan Milly pada Pandu atau
sebaliknya. Aku tak ingin kehilangan satu teman pun, apalagi hanya
karena masalah percintaan. Cinta mungkin mudah kutemukan, tapi teman
yang mampu
memahamiku takkan bisa kutemukan pada setiap orang yang kukenal. Milly
masih
menjadi temanku, aku tahu dia pun tersiksa karena harus terus
merahasiakan rasa
sukanya pada Pandu hanya untuk menjaga perasaanku. Sudahlah, semua ini
menyiksa. Selalu sesak napas mengingat bagaimana ini bisa terjadi dalam
hidupku. Kisah cinta yang rumit, aku tak pernah membayangkannya apalagi
menginginkannya.
“Yuri!”
teriak seseorang di belakangku. Aku kenal betul pemilik suara itu. Milly.
“Oh,
Hai!” balasku.
“Bareng
dong regisnya,” Jawabnya setengah berteriak.
“Ayo!”
Milly
mulai berlari mendekat ke arahku yang kini berada tepat di depan gerbang
sekolah. Hari ini puncak dari rangkaian kegiatan untuk memperingati hari jadi
sekolah kami, hari pentas seni yang telah lama kami persiapkan dan kami
nantikan dengan suka cita. Lapangan parkir masih sepi, tentu saja karena acara
baru akan dimulai pukul 9 sedangkan sekarang masih pukul 06.30. Aku, Milly dan
para pengisi acara lainnya harus datang sepagi ini hanya untuk gradi resik
Tidak ketinggalan para panitia pensi yang bertugas di meja registrasi tengah
bersiap di depan lobby.
Begitu
sampai di ruang pengisi acara, kami bertemu dengan Pandu dan anggota Oxy
lainnya, salah satu band sekolah dengan Pandu sebagai gitaris. Tak ada yang
aneh, mereka menyapa aku dan Milly, tak terkecuali Pandu. Aku pun berusaha
untuk bersikap biasa seolah rasa sukaku pada Pandu telah hilang.
Semua
telah siap, mulai dari latihan terakhir hingga persiapan kostum dan make up
telah selesai kami lakukan. Sudah banyak orang yang datang. Orang-orang yang
datang bukan hanya dari sekolahku, tidak sedikit dari mereka yang merupakan
siswa sekolah lain. Jantungku berdegup cepat melihat lapangan di depan panggung
sudah penuh. Akankah aku tampil maksimal hari ini? aku takut melakukan
kesalahan nantinya. Oh lihat! Bahkan orang tuaku menyempatkan datang sebelum
berangkat kerja. “Yuri!” kata seseorang sambil menepuk pundakku, mengejutkan,
dan membuat jantungku berdegup semakin cepat.
“Oh
ya ampun Pandu, kamu mengejutkanku!”
“Hehehe
maaf-maaf, habis kamu terlihat sangat gugup. Relax saja, Ri”
“Aku
hanya takut mengecewakan orang tuaku,”
Pandu
mengikuti arah mataku melihat, yang tertuju pada sosok suami istri yang
mewariskan sifat-sifatnya padaku. “Oh, positif thinking dong. Yang penting kamu
harus tenang dan tetap fokus, kamu pasti bisa kok.” Katanya sambil tersenyum.
Sungguh, mataku menolak untuk memalingkan pandangan dari senyum tulusnya yang
manis itu.
“I-iya,
makasih,” jawabku singkat seraya pergi dari sana. Aku tak sanggup bila harus
berlama-lama dengannya, apalagi dengan sikapnya yang seperti tadi. Aku tahu,
dia baik, tapi karena sikapnya yang sulit dimengertilah Pandu jadi disukai
banyak perempuan.
Laki-laki
yang satu ini terlihat agak dingin, namun penuh kehangatan dalam setiap
kata-kata dan motivasinya. Laki-laki yang terlihat acuh pada sekelilingnya,
namun penuh perhatian pada hal-hal kecil yang dirasa salah dan tidak pada
tempat yang semestinya. Laki-laki sederhana yang tak mau ambil pusing pada
penamilannya sendiri, namun mampu mencuri hati yang rapuh ini . Mungkin karena
kulinya yang cenderung putih bersih, pakaian yang paling sederhana pun tetap
membuatnya terlihat luar biasa.
“Yuri,
ayo siap-siap, habis ini kita tampil.” Kata Elsa mengingatkan.
“Oh,
iya-iya,”
Aku
kembali menarik napas panjang mencoba untuk tetap tenang dan fokus, seperti
kata Pandu. Perlahan dan pasti, aku melangkahkan kakiku mantap menuju panggung.
Sejenak kulihat kedua orang tuaku, tersenyum memberi semangat, sebelum aku
terfokus pada dirigen dan mulai bernyanyi. Dua lagu sukses kami nyanyikan. Aku
lihat dari kejauhan orang tuaku bertepuk tangan bangga, sebelum mereka memberi
isyarat pamit pergi ke kantor. Kemudian aku mencari sosok yang tak kalah
berjasa hari ini, Pandu. Dia berada di barisan penonton paling depan. Saat aku
melihatnya, dia sedang tersenyum pada Milly, kemudian baru menatapku. Aku tidak
sedih karena aku masih ingin menikmati perasaan bahagiaku ini. By the way,
Pandu mengacungkan dua jempolnya padaku bagaimana mungkin aku menginginkan yang
lebih dari ini dan menyakiti temanku sendiri?
Aku
dan Elsa bergegas mengganti pakaian dan langsung menghampiri teman-teman kami,
Tisya dan Anya. Mereka lantas memberikan komentar dan saran atas penampilanku
dan Elsa. Kemudian kami menonton pementasan selanjutnya dari bangku penonton.
Hingga tiba saatnya Oxy Band tampil. Satu persatu anggota naik ke panggung. Dia
juga di sana. Pandu, sang gitaris yang, entah sejak kapan seperti kehilangan
sinarnya dimataku. Tapi dia masih di sana. Mengisi ruang kosong nan sempit di hati
dan otakku.
Pandu
mulai memetik gitarnya, mengiringi Reza, sang vokalis, yang mulai mencuri dan
menguasai hati para penonton. Ya ampun, bukan vokalisnya, tapi gitarisnya yang
menguasai mata ini. aku tak bisa terus berada di sini. sudah satu minggu aku
bersusah payah menghilangkan perasaan ini dan aku tak ingin ia muncul lagi. Aku
hendak pergi ketika kemudian aku menangkap sepasang mata memandangku tak suka.
Milly, apa yang ia pikirkan saat memandangku seperti itu?
Di
sekolah yang luas ini tidak sulit mencari tempat sepi. Apalagi ketika semua
orang sedang berkumpul di lapangan, taman menjadi tempat yang cocok bila ingin
menghindari keramaian. Taman yang penuh dengan pohon-pohon rindang yang disusun
sedemikian rupa agar terlihat asri dan nyaman. Taman yang penuh dengan warna
hijau, dan warna-warni bunga di tepinya. Membuat setiap yang datang merasakan
kedamaian dan kesejukkan yang takkan mudah ditemukan bila kau tinggal di
tengah kota besar yang sesak dengan polusi. Begitu damai hingga aku tak sadar
bahwa tak terdengar lagi suara musik dari band Oxy.
Kedamaian
ini, bisakah menghapus segala yang terjadi? Semua konflik batin yang kualami
sangat melelahkan. Kusandarkan tubuhku pada bangku taman ini. Kupejamkan
mataku, membiarkan semilir angin membawa terbang beban ini dengan perlahan.
Sebenarnya,
apa yang kulakukan disini? Menghindar dari keramaian atau menghindari rasa
sakit yang mungkin aku ataupun Milly akan rasakan bila aku tetap di sana? Entahlah.
Kalah ataupun mengalah, keduanya sama saja. Pada akhirnya aku tak mungkin bisa
mendapatkan apa yang selama ini aku perjuangkan.
“Yuri!”
kata seseorang dari belakang yang berjalan ke arahku. “Hai, sendirian aja. Aku
temani ya?” katanya dan kemudian duduk di sebelahku. Dia? Kenapa ini? Kenapa
jantungku berdegup cepat saat ia muncul?
0 comments:
Posting Komentar