Rabu, 23 Juli 2014

About My Heart



Cahaya mentari yang mengintip dari garis batas langit di ufuk timur  kembali menemani langkahku. Mentari yang dengan perlahan membiaskan cahaya keemasan pada langit biru nan kelam. Membuatku kembali terdiam di satu titik untuk sekedar menikmati keindahannya. Dulu, ada seseorang yang selalu lebih indah dari mentari pagi. Lebih bersinar diantara yang lainnya. Dan satu-satunya yang ingin dilihat mata ini lebih dari siapapun.
Aku tidak mengerti kenapa aku menyukainya. Dia bukan orang yang memberi kesan baik pada pertemuan pertama kami. Pandu, siswa pindahan yang secara tidak langsung mengambil apa yang seharusnya menjadi hakku. Pada awal tahun ajaran baru kelasku menjadi ganjil, berjumlah 41 siswa, karena kehadirannya. Aku tahu, bukan salahnya bila aku tidak mendapatkan surat edaran dari komite, karena masing-masing kelas hanya mendapat 40 surat dan kebetulan aku sedang duduk di pojok belakang. Oh sial, tidak ada yang namanya kebetulan, semua ini sudah ada yang mengatur. Beruntung setelah itu kelas diubah lagi, tentu saja aku senang karena tak harus belajar dengan ketidak-sukaan pada seseorang. Kembali pada fakta yang membingungkan bahwa aku menyukainya, aku menyerah untuk mencari tahu alasannya. Karena aku pikir, bila hati ini yang memilih, aku takkan butuh lagi sebuah alasan.
Seperti kebanyakan remaja, hanya beberapa teman terdekatku yang mengetahui tentang perasaanku ini. Dan, Milly, teman satu ekstrakulikulerku yang secara tiba-tiba mengetahui rasa sukaku pada Pandu yang akhirnya menjadi teman sekelasnya. Sungguh, ingin sekali aku mengunci rapat-rapat bibir Elsa agar tak pernah lagi kelepasan membocorkan lebih banyak rahasiaku.Tak ada yang aneh dari sikap Milly saat itu. Bahkan ia diam, cenderung tak ingin berkomentar.
Berbulan-bulan lamanya Pandu sedikit menguasai pikiranku. Sudah hampir satu semester, dan selama itu aku tidak lagi bisa mengingat berbagai peringatan yang dilontarkan teman-temanku tentang Pandu. Selama itu aku tenggelam dalam perasaan ini. Melakukan apapun agar bisa dekat dengan Pandu lebih dari seorang teman. Melakukan apapun agar Pandu tahu dan mengerti tentang perasaan ini. Hingga minggu lalu, saat hatiku, anganku, dan harapanku dihancurkan oleh temanku sendiri, Milly. Minggu lalu, saat kami sibuk mempersiapkan ekstrakulikuler kami untuk tampil pada pentas seni, saat itu semuanya terlihat jelas. Ketika Milly dan Pandu tersipu malu saat digoda teman-temannya karena Milly memberikan hadiah ulang tahun untuk Pandu.
Seketika itu pula aku ingat ketika teman-temanku mengatakan kalau aku dan Pandu sangat berbeda dan kami tidak cocok, dan saat itu yang bisa kuucapkan adalah “Karena kami berbeda, aku ingin melengkapi kekurangannya dan aku ingin dia melengkapi kekuranganku.” Kemudian mereka berkata, “Yuri, lebih baik kamu cari yang lain deh. Aku tahu kamu, kamu ngga mau suka sama orang yang disukain sama banyak peremuan kan? Nah, dia itu banyak yang suka, Ri“ lalu aku jawab lagi, “Masa sih? Dia kan ngga begitu ganteng..” dan masih banyak lagi.
Sudah satu minggu, aku tak mempermasalahkan perasaan Milly pada Pandu atau sebaliknya. Aku tak ingin kehilangan satu teman pun, apalagi hanya karena masalah percintaan. Cinta mungkin mudah kutemukan, tapi teman yang mampu memahamiku takkan bisa kutemukan pada setiap orang yang kukenal. Milly masih menjadi temanku, aku tahu dia pun tersiksa karena harus terus merahasiakan rasa sukanya pada Pandu hanya untuk menjaga perasaanku. Sudahlah, semua ini menyiksa. Selalu sesak napas mengingat bagaimana ini bisa terjadi dalam hidupku. Kisah cinta yang rumit, aku tak pernah membayangkannya apalagi menginginkannya.
“Yuri!” teriak seseorang di belakangku. Aku kenal betul pemilik suara itu. Milly.
“Oh, Hai!” balasku.
“Bareng dong regisnya,” Jawabnya setengah berteriak.
“Ayo!”
Milly mulai berlari mendekat ke arahku yang kini berada tepat di depan gerbang sekolah. Hari ini puncak dari rangkaian kegiatan untuk memperingati hari jadi sekolah kami, hari pentas seni yang telah lama kami persiapkan dan kami nantikan dengan suka cita. Lapangan parkir masih sepi, tentu saja karena acara baru akan dimulai pukul 9 sedangkan sekarang masih pukul 06.30. Aku, Milly dan para pengisi acara lainnya harus datang sepagi ini hanya untuk gradi resik Tidak ketinggalan para panitia pensi yang bertugas di meja registrasi tengah bersiap di depan lobby.
Begitu sampai di ruang pengisi acara, kami bertemu dengan Pandu dan anggota Oxy lainnya, salah satu band sekolah dengan Pandu sebagai gitaris. Tak ada yang aneh, mereka menyapa aku dan Milly, tak terkecuali Pandu. Aku pun berusaha untuk bersikap biasa seolah rasa sukaku pada Pandu telah hilang.
Semua telah siap, mulai dari latihan terakhir hingga persiapan kostum dan make up telah selesai kami lakukan. Sudah banyak orang yang datang. Orang-orang yang datang bukan hanya dari sekolahku, tidak sedikit dari mereka yang merupakan siswa sekolah lain. Jantungku berdegup cepat melihat lapangan di depan panggung sudah penuh. Akankah aku tampil maksimal hari ini? aku takut melakukan kesalahan nantinya. Oh lihat! Bahkan orang tuaku menyempatkan datang sebelum berangkat kerja. “Yuri!” kata seseorang sambil menepuk pundakku, mengejutkan, dan membuat jantungku berdegup semakin cepat.
“Oh ya ampun Pandu, kamu mengejutkanku!”
“Hehehe maaf-maaf, habis kamu terlihat sangat gugup. Relax saja, Ri”
“Aku hanya takut mengecewakan orang tuaku,”
Pandu mengikuti arah mataku melihat, yang tertuju pada sosok suami istri yang mewariskan sifat-sifatnya padaku. “Oh, positif thinking dong. Yang penting kamu harus tenang dan tetap fokus, kamu pasti bisa kok.” Katanya sambil tersenyum. Sungguh, mataku menolak untuk memalingkan pandangan dari senyum tulusnya yang manis itu.
“I-iya, makasih,” jawabku singkat seraya pergi dari sana. Aku tak sanggup bila harus berlama-lama dengannya, apalagi dengan sikapnya yang seperti tadi. Aku tahu, dia baik, tapi karena sikapnya yang sulit dimengertilah Pandu jadi disukai banyak perempuan.
Laki-laki yang satu ini terlihat agak dingin, namun penuh kehangatan dalam setiap kata-kata dan motivasinya. Laki-laki yang terlihat acuh pada sekelilingnya, namun penuh perhatian pada hal-hal kecil yang dirasa salah dan tidak pada tempat yang semestinya. Laki-laki sederhana yang tak mau ambil pusing pada penamilannya sendiri, namun mampu mencuri hati yang rapuh ini . Mungkin karena kulinya yang cenderung putih bersih, pakaian yang paling sederhana pun tetap membuatnya terlihat luar biasa.
“Yuri, ayo siap-siap, habis ini kita tampil.” Kata Elsa mengingatkan.
“Oh, iya-iya,”
Aku kembali menarik napas panjang mencoba untuk tetap tenang dan fokus, seperti kata Pandu. Perlahan dan pasti, aku melangkahkan kakiku mantap menuju panggung. Sejenak kulihat kedua orang tuaku, tersenyum memberi semangat, sebelum aku terfokus pada dirigen dan mulai bernyanyi. Dua lagu sukses kami nyanyikan. Aku lihat dari kejauhan orang tuaku bertepuk tangan bangga, sebelum mereka memberi isyarat pamit pergi ke kantor. Kemudian aku mencari sosok yang tak kalah berjasa hari ini, Pandu. Dia berada di barisan penonton paling depan. Saat aku melihatnya, dia sedang tersenyum pada Milly, kemudian baru menatapku. Aku tidak sedih karena aku masih ingin menikmati perasaan bahagiaku ini. By the way, Pandu mengacungkan dua jempolnya padaku bagaimana mungkin aku menginginkan yang lebih dari ini dan menyakiti temanku sendiri?
Aku dan Elsa bergegas mengganti pakaian dan langsung menghampiri teman-teman kami, Tisya dan Anya. Mereka lantas memberikan komentar dan saran atas penampilanku dan Elsa. Kemudian kami menonton pementasan selanjutnya dari bangku penonton. Hingga tiba saatnya Oxy Band tampil. Satu persatu anggota naik ke panggung. Dia juga di sana. Pandu, sang gitaris yang, entah sejak kapan seperti kehilangan sinarnya dimataku. Tapi dia masih di sana. Mengisi ruang kosong nan sempit di hati dan otakku.
Pandu mulai memetik gitarnya, mengiringi Reza, sang vokalis, yang mulai mencuri dan menguasai hati para penonton. Ya ampun, bukan vokalisnya, tapi gitarisnya yang menguasai mata ini. aku tak bisa terus berada di sini. sudah satu minggu aku bersusah payah menghilangkan perasaan ini dan aku tak ingin ia muncul lagi. Aku hendak pergi ketika kemudian aku menangkap sepasang mata memandangku tak suka. Milly, apa yang ia pikirkan saat memandangku seperti itu?
Di sekolah yang luas ini tidak sulit mencari tempat sepi. Apalagi ketika semua orang sedang berkumpul di lapangan, taman menjadi tempat yang cocok bila ingin menghindari keramaian. Taman yang penuh dengan pohon-pohon rindang yang disusun sedemikian rupa agar terlihat asri dan nyaman. Taman yang penuh dengan warna hijau, dan warna-warni bunga di tepinya. Membuat setiap yang datang merasakan kedamaian dan kesejukkan yang takkan mudah ditemukan bila kau tinggal di tengah kota besar yang sesak dengan polusi. Begitu damai hingga aku tak sadar bahwa tak terdengar lagi suara musik dari band Oxy.
Kedamaian ini, bisakah menghapus segala yang terjadi? Semua konflik batin yang kualami sangat melelahkan. Kusandarkan tubuhku pada bangku taman ini. Kupejamkan mataku, membiarkan semilir angin membawa terbang beban ini dengan perlahan.
Sebenarnya, apa yang kulakukan disini? Menghindar dari keramaian atau menghindari rasa sakit yang mungkin aku ataupun Milly akan rasakan bila aku tetap di sana? Entahlah. Kalah ataupun mengalah, keduanya sama saja. Pada akhirnya aku tak mungkin bisa mendapatkan apa yang selama ini aku perjuangkan.
“Yuri!” kata seseorang dari belakang yang berjalan ke arahku. “Hai, sendirian aja. Aku temani ya?” katanya dan kemudian duduk di sebelahku. Dia? Kenapa ini? Kenapa jantungku berdegup cepat saat ia muncul?

0 comments:

Posting Komentar

Hubungi kami :

Twitter : @APAksara

Email : apaksara3@gmail.com

HP : 085773226995

Instagram: kapas3.aksara

Twitter

Translator