Selasa, 15 Juli 2014

CATATAN STEVEN - Secret of Steven's Puzzle


CATATAN STEVEN

           Hai. Mulai hari ini, akan kuceritakan hidupku. Aku Steven. Anak pertama dari dua bersaudara. Bersekolah di sebuah SMA ternama. Berpacaran dengan orang tercantik di dunia. Sejak aku berusia 12 tahun, aku mengidap penyakit jantung yang menyakitkan. Tapi itu sebelum aku mengenal Keisya. Pacarku. Orang terbaik dan tercantik di dunia.
Aduh! Sakit. Ini yang ketiga kalinya untuk minggu ini, dan ini baru hari selasa. Dulu rasanya tidak sesering ini. Penyakit jantung yang kuidap semakin lama semakin parah. Belum lama ini, aku ke dokter. Mungkin dokter sudah menyerah, mereka bilang kemungkinan sembuhku hanya 15%. Jujur saja, aku tak percaya, dan aku tak mau percaya. Aku mau berumur panjang. Mengalami semua suka duka bersama Keisya.
Keisya. Salah satu penyemangat hidupku. Kehidupannya membuatku ingin hidup. Aku ingin kami bisa bahagia bersamanya selamanya. Keisya adalah orang yang sangat kucintai. Bisa kubilang, nomor dua di dunia. Aku mencintai semua tentangnya, dan dia menerima semua milikku. Aku cinta dia. Sangat.
Beberapa bulan yang lalu, Keisya mengalami kecelakaan. Jujur saja, saat mendengar itu aku sangat panik. Hampir saja aku terkena serangan jantung. Dadaku sangat sakit saat itu. Nyawanya terancam. Aku sangat takut dan sedih. Merasa lemah, tak bisa melakukan apapun untuk menolongnya. Tapi esoknya, Keisya sadar.
“Gelap.” waktu itu Keisya menangis. Dia tak bisa melihat apa-apa. Dokter bilang, dia buta karena kecelakaan kemarin. Aku tak bisa membayangkannya. Dia pasti sangat takut! Bayangkan saja dunia yang hitam total, tak bisa melihat apapun, tak ada cahaya sedikitpun. Kalau aku, akan selalu merasa terancam. Maka saat itu juga aku berjanji, akan melindunginya dan menyemangatinya. Tapi saat aku meminta izin kepada orangtuaku untuk mendonorkan mataku padanya, aku dimarahi oleh ibu. “Kamu harus optimis!” katanya.
Aduh! Sakit.

Aku tak mengerti! Mengapa orang yang cacat tidak ditemani? Teman-teman kami di sekolah seolah tak bisa menerima cacatnya Keisya. Keisya diolok-olok. Bahkan teman dekatnya pun terlihat menjauh. Padahal Keisya tetap Keisya. Perempuan cantik paling baik hati di sekolah. Inilah kesalahan kita. Orang-orang yang kita jauhi sering membutuhkan perhatian kita. Dan lagi, manusia itu egois. Maunya senang sendiri. Tak mau menerima tapi mau diterima. Padahal, semua orang tau Keisya sangat baik. Maka aku berjanji, aku akan selalu menemani Keisya disaat dia butuh, dan menghiburnya disaat dia sedih. Dan sabtu depan, aku akan mengajaknya ke taman bunga.

Apa yang akan aku lakukan untuknya? Aku memikirkannya seharian. Kucoba ciptakan lagu dan puisi, aku tak berbakat. Seikat bunga saja aku tak puas. Aku memikirkannya selama beberapa hari. Akhirnya aku memilih untuk membuat sebuah puzzle. Aku membuatnya menggunakan kardus bekas yang kutumpuk dan kuplastikkan. Gambar dari puzzle aku gambar sendiri lalu dilaminating dan dipotong persegi  sempurna 2,5 x 2,5 cm. Dengan luas puzzle 4x8. Kutulis namaku dan Keisya, kugambar dunia seindah mungkin dengan warna cerah berwarna-warni. Kutaruh batu-batu mengkilap dan plastik untuk memperindah. Sekarang puzzlenya sudah siap. Terlihat seperti buatan toko. Malah lebih bagus.
Mengapa aku membuat ini untuk orang yang buta? Itu karena, aku merasa penyakitku sudah semakin parah. Pada hari rabu, aku pergi ke rumah sakit untuk mengecek jantungku. Seperti yang kuduga, semakin parah. Dokter bilang, kemungkinanku untuk sembuh sudah tidak ada. Maka aku memohon dengan sangat kepada orangtuaku. “Izinkan aku mendonorkan mataku kepada Keisya. Orang yang sangat aku cintai. Kalau aku memang akan mati, aku ingin ada bagian tubuhku yang bisa bermanfaat dan dikenang.”

Pagi tadi, aku membawa Keisya ke taman bunga. Pagi itu Keisya sangat cantik. Menggunakan sebuah one-piece yang bermotif bunga. Indah walau sederhana. Disana, aku menyerahkan puzzle itu kepadanya. Tapi aku sengaja memisahkan dua buah huruf dari namaku. Dua huruf E dari nama STEVEN. Aku bilang itu kubeli di toko, tapi dia pasti tau kalau melihatnya nanti. Tapi ini memang keliatan unik, sih, jadi mungkin saja dia percaya.
Keisya ditelpon ibunya. Menangis walau tertawa. Aku sudah bisa menebak apa yang dibicarakannya. Ibuku pasti sudah mengurus urusan donor mataku untuk Keisya. Dan benar. Keisya bilang, ibunya bilang, dokter bilang, telah ditemukan orang yang mau mendonorkan matanya untuk Keisya. Aku senang melihatnya senang. Walau sebenarnya aku selalu menahan sakit ini, aku tetap bahagia.

Keisya tidak masuk sekolah. Ada bangku kosong di kelas. Dia izin.

Sakit! Mengapa tuhan membuatku sesakit ini? Mengapa harus aku yang sakit? Sial!!

Aku diberi kabar oleh dokter. Operasi pencangkokan mataku akan dilaksanakan 3 hari lagi. Itu artinya Keisya akan bisa melihat dunia lagi. Biayanya ditanggung oleh orangtuaku dan Keisya. Tapi aku sudah membuat mereka berjanji tidak akan memberitahukan soal ini kepada Keisya.
Aku pun datang ke rumahnya. Mengajak ia pergi ke taman bunga yang kemarin. Keisya bilang, Ia akan di operasi 3 hari lagi. Aku juga bilang kalau aku akan di operasi 3 hari lagi. Sebenarnya agak sedih menipunya, tapi aku tidak bohong. Aku senang melihatnya bahagia. Keisya bilang, dia “senang, tapi agak takut”. Aku pun begitu. Pulangnya, kami berpegangan erat. Berharap akan bahagia selamanya.

Sakit! Berapa kalipun kurasakan, tetap sakit. Aku takut. Aku merasa ajalku sudah dekat. Maka pada hari ini juga, jam 6 pagi, kutulis sebuah surat untuk Keisya. Aku hampir menangis saat membuatnya. Lalu dengan bantuan keluargaku, aku membuat sebuah rumah pohon di taman biasa kami mengobrol. Aku sudah memikirkan ini sejak terakhir aku ke taman dengan Keisya. Tampaknya mereka semua merasa kalau aku memang sakit. Permintaanku yang satu ini diterima tanpa protes. Kutitipkan 2 keping dari puzzle yang kubuat, kepada adikku. Aku berikan dia sebuah misi rahasia. Walaupun dia protes dan mengatakan kalau aku harus semangat.

Hari ini hari operasi. Sebentar lagi aku akan kehilangan mataku dan mungkin tak bisa menulis ini lagi. Sejak pagi aku dibawa ke rumah sakit dan diisolasi. Hari ini Keisya akan bisa melihat lagi. Hanya itu yang aku pikirkan. Semua yang perlu dilakukan sudah dipersiapkan. Sekarang, tinggal menunggu Dimas melakukan pekerjaannya.

Ah. Aku tau. Tuhan memberi cobaan pada yang mampu. Maka ini adalah sebuah pujian. Aku dianggap mampu oleh tuhan.

Sudah waktunya operasi!

0 comments:

Posting Komentar

Hubungi kami :

Twitter : @APAksara

Email : apaksara3@gmail.com

HP : 085773226995

Instagram: kapas3.aksara

Twitter

Translator