CATATAN STEVEN
Hai. Mulai hari ini, akan kuceritakan hidupku. Aku Steven. Anak pertama
dari dua bersaudara. Bersekolah di sebuah SMA ternama. Berpacaran dengan orang
tercantik di dunia. Sejak aku berusia 12 tahun, aku mengidap penyakit jantung
yang menyakitkan. Tapi itu sebelum aku mengenal Keisya. Pacarku. Orang terbaik
dan tercantik di dunia.
Aduh! Sakit. Ini yang ketiga kalinya untuk minggu ini, dan ini baru hari selasa.
Dulu rasanya tidak sesering ini. Penyakit jantung yang kuidap semakin lama
semakin parah. Belum lama ini, aku ke dokter. Mungkin dokter sudah menyerah,
mereka bilang kemungkinan sembuhku hanya 15%. Jujur saja, aku tak percaya, dan
aku tak mau percaya. Aku mau berumur panjang. Mengalami semua suka duka bersama
Keisya.
Keisya. Salah satu penyemangat hidupku. Kehidupannya membuatku ingin hidup.
Aku ingin kami bisa bahagia bersamanya selamanya. Keisya adalah orang yang
sangat kucintai. Bisa kubilang, nomor dua di dunia. Aku mencintai semua
tentangnya, dan dia menerima semua milikku. Aku cinta dia. Sangat.
Beberapa bulan yang lalu, Keisya mengalami kecelakaan. Jujur saja, saat
mendengar itu aku sangat panik. Hampir saja aku terkena serangan jantung.
Dadaku sangat sakit saat itu. Nyawanya terancam. Aku sangat takut dan sedih.
Merasa lemah, tak bisa melakukan apapun untuk menolongnya. Tapi esoknya, Keisya
sadar.
“Gelap.” waktu itu Keisya menangis. Dia tak bisa melihat apa-apa. Dokter bilang, dia
buta karena kecelakaan kemarin. Aku tak bisa membayangkannya. Dia pasti sangat
takut! Bayangkan saja dunia yang hitam total, tak bisa melihat apapun, tak ada
cahaya sedikitpun. Kalau aku, akan selalu merasa terancam. Maka saat itu juga
aku berjanji, akan melindunginya dan menyemangatinya. Tapi saat aku meminta
izin kepada orangtuaku untuk mendonorkan mataku padanya, aku dimarahi oleh ibu.
“Kamu harus optimis!” katanya.
Aduh! Sakit.
Aku tak mengerti! Mengapa orang yang cacat tidak ditemani? Teman-teman kami
di sekolah seolah tak bisa menerima cacatnya Keisya. Keisya diolok-olok. Bahkan
teman dekatnya pun terlihat menjauh. Padahal Keisya tetap Keisya. Perempuan cantik
paling baik hati di sekolah. Inilah kesalahan kita. Orang-orang yang kita jauhi
sering membutuhkan perhatian kita. Dan lagi, manusia itu egois. Maunya senang
sendiri. Tak mau menerima tapi mau diterima. Padahal, semua orang tau Keisya
sangat baik. Maka aku berjanji, aku akan selalu menemani Keisya disaat dia
butuh, dan menghiburnya disaat dia sedih. Dan sabtu depan, aku akan mengajaknya
ke taman bunga.
Apa yang akan aku
lakukan untuknya? Aku memikirkannya seharian. Kucoba ciptakan lagu dan puisi, aku tak
berbakat. Seikat bunga saja aku tak puas. Aku memikirkannya selama beberapa
hari. Akhirnya aku memilih untuk membuat sebuah puzzle. Aku membuatnya menggunakan
kardus bekas yang kutumpuk dan kuplastikkan. Gambar dari puzzle aku gambar
sendiri lalu dilaminating dan dipotong persegi
sempurna 2,5 x 2,5 cm. Dengan luas puzzle 4x8. Kutulis namaku dan
Keisya, kugambar dunia seindah mungkin dengan warna cerah berwarna-warni. Kutaruh
batu-batu mengkilap dan plastik untuk memperindah. Sekarang puzzlenya sudah
siap. Terlihat seperti buatan toko. Malah lebih bagus.
Mengapa aku membuat ini untuk orang yang buta? Itu karena, aku merasa
penyakitku sudah semakin parah. Pada hari rabu, aku pergi ke rumah sakit untuk
mengecek jantungku. Seperti yang kuduga, semakin parah. Dokter bilang,
kemungkinanku untuk sembuh sudah tidak ada. Maka aku memohon dengan sangat
kepada orangtuaku. “Izinkan aku mendonorkan mataku kepada Keisya. Orang yang sangat
aku cintai. Kalau aku memang akan mati, aku ingin ada bagian tubuhku yang bisa
bermanfaat dan dikenang.”
Pagi tadi, aku membawa Keisya ke taman bunga. Pagi itu Keisya sangat
cantik. Menggunakan sebuah one-piece yang bermotif bunga. Indah walau
sederhana. Disana, aku menyerahkan puzzle itu kepadanya. Tapi aku sengaja
memisahkan dua buah huruf dari namaku. Dua huruf E dari nama STEVEN. Aku bilang
itu kubeli di toko, tapi dia pasti tau kalau melihatnya nanti. Tapi ini memang
keliatan unik, sih, jadi mungkin saja dia percaya.
Keisya ditelpon ibunya. Menangis walau tertawa. Aku sudah bisa menebak apa
yang dibicarakannya. Ibuku pasti sudah mengurus urusan donor mataku untuk
Keisya. Dan benar. Keisya bilang, ibunya bilang, dokter bilang, telah ditemukan
orang yang mau mendonorkan matanya untuk Keisya. Aku senang melihatnya senang.
Walau sebenarnya aku selalu menahan sakit ini, aku tetap bahagia.
Keisya tidak masuk sekolah. Ada bangku kosong di kelas. Dia izin.
Sakit! Mengapa tuhan membuatku sesakit ini? Mengapa harus aku yang sakit? Sial!!
Sakit! Mengapa tuhan membuatku sesakit ini? Mengapa harus aku yang sakit? Sial!!
Aku diberi kabar oleh dokter. Operasi pencangkokan mataku akan dilaksanakan
3 hari lagi. Itu artinya Keisya akan bisa melihat dunia lagi. Biayanya
ditanggung oleh orangtuaku dan Keisya. Tapi aku sudah membuat mereka berjanji
tidak akan memberitahukan soal ini kepada Keisya.
Aku pun datang ke rumahnya. Mengajak ia pergi ke taman bunga yang kemarin.
Keisya bilang, Ia akan di operasi 3 hari lagi. Aku juga bilang kalau aku akan
di operasi 3 hari lagi. Sebenarnya agak sedih menipunya, tapi aku tidak bohong.
Aku senang melihatnya bahagia. Keisya bilang, dia “senang, tapi agak takut”.
Aku pun begitu. Pulangnya, kami berpegangan erat. Berharap akan bahagia
selamanya.
Sakit! Berapa kalipun kurasakan, tetap sakit. Aku takut. Aku merasa ajalku sudah dekat. Maka pada
hari ini juga, jam 6 pagi, kutulis sebuah surat untuk Keisya. Aku hampir
menangis saat membuatnya. Lalu dengan bantuan keluargaku, aku membuat sebuah
rumah pohon di taman biasa kami mengobrol. Aku sudah memikirkan ini sejak terakhir aku ke taman dengan Keisya. Tampaknya mereka semua merasa kalau
aku memang sakit. Permintaanku yang satu ini diterima tanpa protes. Kutitipkan
2 keping dari puzzle yang kubuat, kepada adikku. Aku berikan dia sebuah misi
rahasia. Walaupun dia protes dan mengatakan kalau aku harus semangat.
Hari ini hari operasi. Sebentar lagi aku akan kehilangan mataku dan mungkin
tak bisa menulis ini lagi. Sejak pagi aku dibawa ke rumah sakit dan diisolasi.
Hari ini Keisya akan bisa melihat lagi. Hanya itu yang aku pikirkan. Semua yang
perlu dilakukan sudah dipersiapkan. Sekarang, tinggal menunggu Dimas melakukan
pekerjaannya.
Ah. Aku tau. Tuhan memberi cobaan pada yang mampu. Maka ini adalah sebuah pujian. Aku dianggap mampu oleh tuhan.
Ah. Aku tau. Tuhan memberi cobaan pada yang mampu. Maka ini adalah sebuah pujian. Aku dianggap mampu oleh tuhan.
Sudah waktunya operasi!
0 comments:
Posting Komentar