Ia hanyalah perempuan biasa. Keluarganya, caranya
berteman, tempat ia jalan-jalan juga biasa. Ia adalah anak yang akan belajar
untuk ujian, namun tetap mencontek di dalamnya. Anak yang akan pergi ke mall di
akhir pekan, untuk menonton bioskop, ataupun berbelanja dengan teman-temannya.
Bercita-cita untuk masuk Universitas favorit, tapi belum mempersiapkan diri
untuk itu.
Meskipun ibu dan ayahnya sudah lama bercerai, keluarganya
tidak perlu dibilang broken home. Karena memang, ia hidup dengan tentram di
keluarganya itu. Meski hanya berdua dengan ibunya dan benar-benar “hanya”
berdua dengan ibunya, mereka bahagia. Setidaknya
saat itu.
Tiga hari belakangan ini, setiap ia berangkat ke sekolah,
ia selalu membeli gorengan di tukang gorengan di depan rumahnya. Tukang
gorengan yang, memang baru tiga hari berjualan disana. Gadis itu memang ramah.
Tukang gorengan yang baru ia kenal, diperlakukan dengan sangat baik olehnya.
Mungkin, itu juga alasan tukang gorengan muda yang jarang senyum itu, tetap
berjualan di depan rumah sang gadis.
Angkutan kota adalah sahabat sang gadis. Hampir setiap
hari, dia bertransportasi menggunakan angkot, dengan tujuan yang berbeda. Tapi
yang paling sering adalah ke mall, pasar, dan sekolah. Meski ibunya mampu
membelikan motor, ia tidak mau putri satu-satunya mengendarai motor. Meski sang
putri pernah meminta sampai ngambek.
Supir
angkot yang satu itu selalu mengatur waktu untuk tiba tepat pukul 6.20 di depan
rumah itu. Karena pada jam segitu, sang gadis akan selalu menyetop angkotnya.
Sehingga ia mendapat teman mengobrol lagi.
Ia
tiba di sekolah tujuh menit sebelum gerbang ditutup. Tapi pernah juga lima
menit, tiga, bahkan satu. Tapi ia tak pernah terlambat untuk bertemu
teman-temannya.
Ia
masuk ke kubu perempuan baik tapi tidak terlalu gaul. Kubu dengan jumlah terkecil di kelasnya yang terdiri dari
berbagai kubu. Tapi ia tidak mempermasalahkannya. Gadis itu tetap senang berada
di tempat ia berada. Ah, mungkin lebih tepatnya, ia bersyukur.
Di
kelas, ia belajar seperti biasa. Untungnya, ia tidak termasuk orang-orang yang
tidak memperhatikan guru. Ia selalu memperhatikan guru, karena jujur saja, ia
sulit mengerti pelajaran-pelajaran sekolah. Hal-hal kognitif bukanlah
kelebihannya. Imajinasi adalah kekuatannya.
Tapi
sayangnya, ia tidak menggunakan imajinasi itu dengan maksimal. Khayalannya
hanya digunakan untuk bercerita hal-hal aneh kepada teman-temannya. Inilah yang
membuatnya menarik. Bagi teman-temannya, atau pria-pria, dan anak laki-laki,
yang ditolaknya.
Saat
bel pulang sekolah berbunyi, ia tidak pernah langsung pulang. Baru pada jam 5,
ia akan keluar gerbang bersama teman-temannya. Lalu berpisah tepat di depan
gerbang. Ia lurus, teman-temannya belok. Mereka naik angkot yang berbeda. Dan kali ini, sang gadis akan mengalami
perjalanan yang akan merubah hidupnya.
---
Seperti
biasa, angkotnya sepi. Pada jam pulang sekolah memang hanya sedikit orang yang
butuh transportasi. Para pekerja sedang bekerja, dan para orang rumah sedang
bermalas-malasan. Maka ia hanya berlima di angkot itu.
Tukang
gorengan di depan rumahnya ada di angkot itu. Seperti biasa, ia memasang wajah
datar. Seolah ia tidak mempunyai perasaan. Sang gadis yang ramah, menyapa
tukang gorengan muda itu. Tapi sang tukang gorengan itu hanya mengangguk.
Membuat sang gadis mengurungkan niatnya untuk mengobrol.
Belasan
menit telah terlewat. Dan beberapa waktu yang lalu, sang tukang gorengan telah
turun dari angkot. Meninggalkan sang gadis yang akan tertidur di dalam angkot
itu. Sehingga rumahnya lumayan jauh terlewati, membawa sang gadis yang tidak
tau, ke tempat yang ia tidak ketahui.
Belum
sampai di terminal, angkot itu berhenti. Supir angkot yang baik hati itu pun
membangunkan sang gadis. Meminta maaf karena tidak bisa mengantar sampai
terminal. Sang gadis yang menyadari kalau ia sudah pergi jauh setelah bertanya
kepada sang supir.
Kini
gadis itu bingung. Kepalanya agak pusing. Dengan setengah kesadarannya, ia
menyebrang jalan untuk menunggu angkot yang akan mengantarnya pulang. Dan di
seberang jalan, sang tukang gorengan berdiri. Lalu mengajak sang gadis
mengobrol.
Aku
mulai tidak mau menyebutnya sebagai tukang gorengan.
“Kamu
ngapain ke sini?” kata pemuda itu.
Tentu
saja, sang gadis bingung. ‘Harusnya aku
yang bertanya. Kenapa kamu ada disini? Jelas-jelas kamu turun dari angkot tidak
jauh dari sekolahku.’
“Emm…
Ketiduran di angkot. Hehe.” Jawab gadis itu, mencoba polos.
“Oh…
Kalau begitu kamu tenang aja.”
“Tenang
gimana maksudnya?”
“Ini
semua cuma mimpi.” Jawab pemuda itu, misterius. Lalu sang pemuda menjentikkan
jemarinya, membuat semua menjadi gelap bagi gadis itu.
---
Gadis itu terbangun di kasurnya. Terengah-engah. Ia masih
mengingatnya dengan jelas. Dan dengan jelas, kebingungan.
‘Cuma mimpi? Kenapa
aku bisa ada di rumah? Aku tadi pulang dari sekolah ‘kan?’ tanya gadis itu.
Entah pada siapa.
Gadis
itu mengecek waktu dan tanggal di handphonenya. Masih hari yang sama. Pukul 8
malam. Isi dari handphonenya tidak berubah. Masih ramai dari grup kelas yang
jarang ia isi, dan grup tidak jelas yang walau sepi, lebih berisi.
‘Apa tadi aku sudah
sampai ke rumah, tapi aku lupa? Lalu aku tidur dan mengalami Lucid Dream?’
tanya gadis itu lagi. Kali ini pada dirinya sendiri. ‘Yah. Anggap saja begitu.’
Gadis itu kemudian mencoba untuk tidur kembali. Tapi
tidak bisa. Ia menonton TV, tidak ada acara yang bagus. Cuma sinetron yang ia
tak suka ceritanya, tapi tetap ia hormati. Laptopnya
sedang dipinjam oleh saudaranya, dan handphonenya berkuota mahal. Jadi internet
surfing tidak ia lakukan. Ia pun membaca buku hingga ia bosan. Dibilang begitu,
ia membacanya hanya sekitar lima menit. Tapi semua tindakan yang ia lakukan, ia
tak pernah melakukannya dengan perasaan tenang. Pikirannya tak mungkin bisa
melupakan kejadian sebelumnya. Akhirnya, ia memilih untuk tidur. Sulit, memang.
Tapi setelah berlama-lama menutup mata tanpa bergerak dari kasur, ia pun
tertidur.
Jam 10, ibunya
belum pulang.
---
Gadis itu kini berada di dalam sebuah angkot. Jelas ia
bingung. Tapi entah kenapa, ia tetap tenang. Gadis itu menanyakan ke mana arah
angkot itu. Dan sang supir angkot pun menjawab kalau mereka sedang berjalan ke
arah, yang searah rumah gadis itu.
“Dari
tadi kamu tidur.” Kata supir angkot itu juga.
Diliputi
kebingungan, gadis itu berpikir: ‘Yang
tadi hanya mimpi? Aku benar-benar ketiduran di angkot saat pulang sekolah, lalu
kesasar dan… bertemu si tukang gorengan? Lalu kenapa aku ada di angkot lagi?”
“Bang,
tadi saya masuk angkotnya gimana?” tanya gadis itu.
“Maksudnya
gimana, dik?” tanya supir angkot itu, bingung.
“Saya
masuknya sadar apa dibawa orang, gitu…”
“Sadar,
lah dek. Kok bisa nanya gitu?” supir angkot itu kini benar-benar bingung.
Tapi
gadis itu lebih bingung lagi. Ia pun memutuskan untuk menganggap kalau memang
begitu kejadiannya.
“Enggak
kok, pak. Bercanda. Hehe.” Kata gadis itu. Bohong.
Akhirnya,
gadis itu sampai di rumahnya, langsung masuk ke kamar, lalu tidur.
---
Jam 5.30, seperti biasa ia
dibangunkan oleh ibunya untuk pergi sekolah. Ia pun menuruti perkataan ibunya
meski badannya malas. Ia sarapan, lalu mandi, lalu memakai seragam, lalu
salaman, lalu ke depan rumahnya dan menunggu angkot.
‘Tukang
gorengannya udah enggak ada, ya?’
Angkotnya datang. Supir yang sama
pada waktu yang sama. Mereka pun mengobrol seperti biasa. Waktu berlalu, kini
tidak seperti biasa. Setidaknya bagi gadis itu. Mungkin ini efek kekuatan
pikiran. Karena pikirannya tak tenang, ia jadi merasa kalau dunia yang ia
tempati tidak terasa nyata. Tapi ia mencoba mengabaikannya.
Setelah tiba di sekolah, ia masuk ke
dalam menuju gerbang, dan disana. Ia bertemu dengan si pemuda. Yang lagi-lagi
berkata: “Ini semua hanya mimpi.”
Pikiran sang gadis pun kacau. ‘Yang mana yang mimpi? Yang mana yang nyata?”
berkelebat di pikirannya. Dan saat ia ingin bertanya kepada sang pemuda, sang
pemuda menjentikkan jarinya. Memotong pertanyaan sang gadis, yang kini kembali
masuk ke dalam kegelapan.
---
Kini gadis itu berada di tempat dimana ia turun setelah ketiduran
di angkot untuk pertama kalinya. Di tempat yang ia tidak kenal. Kali ini ia tak
melihat sang pemuda ketika ingin menyeberang jalan.
’Kenapa aku ada
disini?’
Dan untuk kesekian kalinya, ia menemukan dirinya menaiki
sebuah angkot, untuk pulang ke rumahnya. Di dalam angkot tersebut, sang pemuda
duduk dan mengatakan hal yang sama lagi. “Tenang, ini semua hanya mimpi.”
Lalu menjentikkan jarinya lagi.
---
Lalu sang gadis kembali ada di rumahnya. Langit di luar
gelap. Pukul 10 malam, pasti. Ibunya belum pulang. Pikirannya sudah kacau. Ia
tidak bisa lagi berpikir dengan tenang. ‘Yang
mana yang mimpi? Yang mana yang nyata? Apa yang terjadi padaku?!’
Karena bingung, ia keluar dari rumahnya. Ia berlari
mengikuti jalan raya. Tanpa tujuan, meski ada arah. ‘Yang mana yang mimpi?! Yang mana yang nyata?!’
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARGH!!!!!!!” Ia
berteriak. Mulai merasa gila.
Saat itu, sang pemuda muncul.
“Kamu kenapa?” Tanya sang pemuda.
“Aku gila.” Jawab sang gadis. Asal.
“Mau ikut denganku?” Tanya sang pemuda.
“Kemana?” Sang gadis balik bertanya.
“Ke dalam mimpi. Tempat dimana kau akan bahagia.” Jawab
sang pemuda. “Jadi, mau ikut?”
“Ya.” Kata sang gadis tanpa pikir panjang. Ia sudah tidak
bisa membedakan mimpi dan kenyataan. Tak bisa lagi berpikir dengan jernih. Dan
memang begitu rencananya.
Lalu sang pemuda membawa sang gadis ke sebuah rumah.
Menyuntikkan sesuatu. Dan semenjak itu, sang gadis tidak pernah kembali ke
rumahnya.
---
‘Mudah sekali’. Pikir
sang pemuda.
Dan memang mudah. Dalam lima hari, ia bisa membuat
seorang perempuan menjadi gila, sehingga membiarkan sang pemuda untuk
menjualnya. Tanpa jejak sama sekali.
Yang pemuda itu lakukan hanyalah mengawasi rumah sang
gadis selama tiga hari, dan dua hari melakukan pengrusakan akal. ‘Target yang mudah. Dia terlalu sering
sendirian di rumahnya. Ibunya juga terlalu sering meninggalkannya.’
Setelah mengetahui keadaan rumahnya, sang pemuda langsung
memulai rencananya. Saat sang gadis pulang dari sekolah, ia masuk ke angkotnya
untuk membuat sang gadis tertidur di dalam angkot, lalu membuatnya terbangun
dan berada di tempat yang tak dikenal. Dan kemudian, berbicara dengan orang
yang tidak jelas yang mengatakan kalau itu semua hanyalah mimpi.
Ia memastikan kalau sang gadis akan meminum air yang
telah ia taburkan obat tidur ketika ia ada di angkot. Juga memastikan kalau
angkot itu akan berhenti sebelum sampai ke terminal. Lalu ia membalap angkot
itu dengan motor yang ia siapkan. Sehingga ia sampai di lokasi sebelum gadis
itu. Membuat efek teleport, dan menambahkan keanehan dengan mengatakan kalau
itu semua hanyalah mimpi.
‘Lalu hipnotis saja
dia. Takkan ada yang melihat. Dan kalaupun ada pasti tidak mempedulikam. Lalu kuantarkan
saja ke rumahnya. Kuncinya ada di sepatu paling kiri atas. Rumahnya kosong.
Takkan ada tetangga atau kerabat yang curiga. Mereka kurang bersosialisasi.
Lalu apabila ia bangun di rumahnya, ia akan benar-benar berpikir kalau yang ia
alami hanya mimpi. Setelah itu, ia akan dihancurkan oleh imajinasinya sendiri.’
Pikir sang pemuda di dalam ruangan hotelnya. Ia mempunyai banyak sekali
uang hasil penjualan manusia. Dan tentu saja, gadis yang tidak diketahui
namanya itu hanyalah satu dari banyak korban.
‘Dalam keadaan tidak tenang, alam
bawah sadarnya pasti akan mengungkit apa yang paling ia khawatirkan. Dengan
kata lain, mimpinya akan menjadi gabungan dari apa yang ia semua hal aneh yang
ia alami. Yaitu, saat ia kesasar dan mendengar kata-kataku.’
Pikir sang pemuda. Sambil mengisap sebatang rokok.
‘Lucid Dream. Mimpi yang nyata,
biasanya terjadi di saat seperti itu. Apalagi, gadis itu mempunyai imajinasi
yang menakutkan. Ia bisa membuat mimpi menjadi kenyataan, dan membuat kenyataan
menjadi seperti mimpi. Korban yang ideal.’
‘Lalu sebagai penutup, kutemui ia
lagi di sekolahnya. Dengan begitu, ia akan benar-benar rusak dan akan kacau
setelah ia melihat satu mimpi aneh lagi. Dan sesuai perkiraan, ia kabur dari
rumah.’
“Otak itu terlalu hebat untuk manusia.
Manusia yang tidak berlatih untuk mengendalikannya, akan dengan mudah
dikendalikan oleh otaknya sendiri.’
‘Kasihan…’
Pemuda itu adalah Zona Vita Sabela. Dikenal berdasarkan
inisialnya. ZVS, yang dibaca sebagai Zetvies. Ia adalah favorit orang-orang di
pasar gelap. Seorang psikopat, sekaligus psikolog.
‘Aku juga pernah
dijual. Dan aku ingin kalian, yang selalu merasa tenang dan senang, merasakan
hal yang sama.’
0 comments:
Posting Komentar