Rabu, 24 Desember 2014

Zetvies


            Ia hanyalah perempuan biasa. Keluarganya, caranya berteman, tempat ia jalan-jalan juga biasa. Ia adalah anak yang akan belajar untuk ujian, namun tetap mencontek di dalamnya. Anak yang akan pergi ke mall di akhir pekan, untuk menonton bioskop, ataupun berbelanja dengan teman-temannya. Bercita-cita untuk masuk Universitas favorit, tapi belum mempersiapkan diri untuk itu.

            Meskipun ibu dan ayahnya sudah lama bercerai, keluarganya tidak perlu dibilang broken home. Karena memang, ia hidup dengan tentram di keluarganya itu. Meski hanya berdua dengan ibunya dan benar-benar “hanya” berdua dengan ibunya, mereka bahagia. Setidaknya saat itu.

            Tiga hari belakangan ini, setiap ia berangkat ke sekolah, ia selalu membeli gorengan di tukang gorengan di depan rumahnya. Tukang gorengan yang, memang baru tiga hari berjualan disana. Gadis itu memang ramah. Tukang gorengan yang baru ia kenal, diperlakukan dengan sangat baik olehnya. Mungkin, itu juga alasan tukang gorengan muda yang jarang senyum itu, tetap berjualan di depan rumah sang gadis.

            Angkutan kota adalah sahabat sang gadis. Hampir setiap hari, dia bertransportasi menggunakan angkot, dengan tujuan yang berbeda. Tapi yang paling sering adalah ke mall, pasar, dan sekolah. Meski ibunya mampu membelikan motor, ia tidak mau putri satu-satunya mengendarai motor. Meski sang putri pernah meminta sampai ngambek.

Supir angkot yang satu itu selalu mengatur waktu untuk tiba tepat pukul 6.20 di depan rumah itu. Karena pada jam segitu, sang gadis akan selalu menyetop angkotnya. Sehingga ia mendapat teman mengobrol lagi.

Ia tiba di sekolah tujuh menit sebelum gerbang ditutup. Tapi pernah juga lima menit, tiga, bahkan satu. Tapi ia tak pernah terlambat untuk bertemu teman-temannya.

Ia masuk ke kubu perempuan baik tapi tidak terlalu gaul. Kubu dengan jumlah terkecil di kelasnya yang terdiri dari berbagai kubu. Tapi ia tidak mempermasalahkannya. Gadis itu tetap senang berada di tempat ia berada. Ah, mungkin lebih tepatnya, ia bersyukur.

Di kelas, ia belajar seperti biasa. Untungnya, ia tidak termasuk orang-orang yang tidak memperhatikan guru. Ia selalu memperhatikan guru, karena jujur saja, ia sulit mengerti pelajaran-pelajaran sekolah. Hal-hal kognitif bukanlah kelebihannya. Imajinasi adalah kekuatannya.

Tapi sayangnya, ia tidak menggunakan imajinasi itu dengan maksimal. Khayalannya hanya digunakan untuk bercerita hal-hal aneh kepada teman-temannya. Inilah yang membuatnya menarik. Bagi teman-temannya, atau pria-pria, dan anak laki-laki, yang ditolaknya.

Saat bel pulang sekolah berbunyi, ia tidak pernah langsung pulang. Baru pada jam 5, ia akan keluar gerbang bersama teman-temannya. Lalu berpisah tepat di depan gerbang. Ia lurus, teman-temannya belok. Mereka naik angkot yang berbeda. Dan kali ini, sang gadis akan mengalami perjalanan yang akan merubah hidupnya.
---
Seperti biasa, angkotnya sepi. Pada jam pulang sekolah memang hanya sedikit orang yang butuh transportasi. Para pekerja sedang bekerja, dan para orang rumah sedang bermalas-malasan. Maka ia hanya berlima di angkot itu.

Tukang gorengan di depan rumahnya ada di angkot itu. Seperti biasa, ia memasang wajah datar. Seolah ia tidak mempunyai perasaan. Sang gadis yang ramah, menyapa tukang gorengan muda itu. Tapi sang tukang gorengan itu hanya mengangguk. Membuat sang gadis mengurungkan niatnya untuk mengobrol.

Belasan menit telah terlewat. Dan beberapa waktu yang lalu, sang tukang gorengan telah turun dari angkot. Meninggalkan sang gadis yang akan tertidur di dalam angkot itu. Sehingga rumahnya lumayan jauh terlewati, membawa sang gadis yang tidak tau, ke tempat yang ia tidak ketahui.

Belum sampai di terminal, angkot itu berhenti. Supir angkot yang baik hati itu pun membangunkan sang gadis. Meminta maaf karena tidak bisa mengantar sampai terminal. Sang gadis yang menyadari kalau ia sudah pergi jauh setelah bertanya kepada sang supir.

Kini gadis itu bingung. Kepalanya agak pusing. Dengan setengah kesadarannya, ia menyebrang jalan untuk menunggu angkot yang akan mengantarnya pulang. Dan di seberang jalan, sang tukang gorengan berdiri. Lalu mengajak sang gadis mengobrol.

Aku mulai tidak mau menyebutnya sebagai tukang gorengan.

“Kamu ngapain ke sini?” kata pemuda itu.
Tentu saja, sang gadis bingung. ‘Harusnya aku yang bertanya. Kenapa kamu ada disini? Jelas-jelas kamu turun dari angkot tidak jauh dari sekolahku.’
“Emm… Ketiduran di angkot. Hehe.” Jawab gadis itu, mencoba polos.
“Oh… Kalau begitu kamu tenang aja.”
“Tenang gimana maksudnya?”
“Ini semua cuma mimpi.” Jawab pemuda itu, misterius. Lalu sang pemuda menjentikkan jemarinya, membuat semua menjadi gelap bagi gadis itu.
---
            Gadis itu terbangun di kasurnya. Terengah-engah. Ia masih mengingatnya dengan jelas. Dan dengan jelas, kebingungan.

            Cuma mimpi? Kenapa aku bisa ada di rumah? Aku tadi pulang dari sekolah ‘kan?’ tanya gadis itu. Entah pada siapa.

Gadis itu mengecek waktu dan tanggal di handphonenya. Masih hari yang sama. Pukul 8 malam. Isi dari handphonenya tidak berubah. Masih ramai dari grup kelas yang jarang ia isi, dan grup tidak jelas yang walau sepi, lebih berisi.

            ‘Apa tadi aku sudah sampai ke rumah, tapi aku lupa? Lalu aku tidur dan mengalami Lucid Dream?’ tanya gadis itu lagi. Kali ini pada dirinya sendiri. ‘Yah. Anggap saja begitu.’

            Gadis itu kemudian mencoba untuk tidur kembali. Tapi tidak bisa. Ia menonton TV, tidak ada acara yang bagus. Cuma sinetron yang ia tak suka ceritanya, tapi tetap ia hormati.            Laptopnya sedang dipinjam oleh saudaranya, dan handphonenya berkuota mahal. Jadi internet surfing tidak ia lakukan. Ia pun membaca buku hingga ia bosan. Dibilang begitu, ia membacanya hanya sekitar lima menit. Tapi semua tindakan yang ia lakukan, ia tak pernah melakukannya dengan perasaan tenang. Pikirannya tak mungkin bisa melupakan kejadian sebelumnya. Akhirnya, ia memilih untuk tidur. Sulit, memang. Tapi setelah berlama-lama menutup mata tanpa bergerak dari kasur, ia pun tertidur.

            Jam 10, ibunya belum pulang.
---
            Gadis itu kini berada di dalam sebuah angkot. Jelas ia bingung. Tapi entah kenapa, ia tetap tenang. Gadis itu menanyakan ke mana arah angkot itu. Dan sang supir angkot pun menjawab kalau mereka sedang berjalan ke arah, yang searah rumah gadis itu.

“Dari tadi kamu tidur.” Kata supir angkot itu juga.

Diliputi kebingungan, gadis itu berpikir: ‘Yang tadi hanya mimpi? Aku benar-benar ketiduran di angkot saat pulang sekolah, lalu kesasar dan… bertemu si tukang gorengan? Lalu kenapa aku ada di angkot lagi?”

“Bang, tadi saya masuk angkotnya gimana?” tanya gadis itu.
“Maksudnya gimana, dik?” tanya supir angkot itu, bingung.
“Saya masuknya sadar apa dibawa orang, gitu…”
“Sadar, lah dek. Kok bisa nanya gitu?” supir angkot itu kini benar-benar bingung.
Tapi gadis itu lebih bingung lagi. Ia pun memutuskan untuk menganggap kalau memang begitu kejadiannya.
“Enggak kok, pak. Bercanda. Hehe.” Kata gadis itu. Bohong.
Akhirnya, gadis itu sampai di rumahnya, langsung masuk ke kamar, lalu tidur.
---
            Jam 5.30, seperti biasa ia dibangunkan oleh ibunya untuk pergi sekolah. Ia pun menuruti perkataan ibunya meski badannya malas. Ia sarapan, lalu mandi, lalu memakai seragam, lalu salaman, lalu ke depan rumahnya dan menunggu angkot.

            ‘Tukang gorengannya udah enggak ada, ya?’

            Angkotnya datang. Supir yang sama pada waktu yang sama. Mereka pun mengobrol seperti biasa. Waktu berlalu, kini tidak seperti biasa. Setidaknya bagi gadis itu. Mungkin ini efek kekuatan pikiran. Karena pikirannya tak tenang, ia jadi merasa kalau dunia yang ia tempati tidak terasa nyata. Tapi ia mencoba mengabaikannya.

            Setelah tiba di sekolah, ia masuk ke dalam menuju gerbang, dan disana. Ia bertemu dengan si pemuda. Yang lagi-lagi berkata: “Ini semua hanya mimpi.”

            Pikiran sang gadis pun kacau. ‘Yang mana yang mimpi? Yang mana yang nyata?” berkelebat di pikirannya. Dan saat ia ingin bertanya kepada sang pemuda, sang pemuda menjentikkan jarinya. Memotong pertanyaan sang gadis, yang kini kembali masuk ke dalam kegelapan.
---
            Kini gadis itu berada di tempat dimana ia turun setelah ketiduran di angkot untuk pertama kalinya. Di tempat yang ia tidak kenal. Kali ini ia tak melihat sang pemuda ketika ingin menyeberang jalan.

            ’Kenapa aku ada disini?’

            Dan untuk kesekian kalinya, ia menemukan dirinya menaiki sebuah angkot, untuk pulang ke rumahnya. Di dalam angkot tersebut, sang pemuda duduk dan mengatakan hal yang sama lagi. “Tenang, ini semua hanya mimpi.”

            Lalu menjentikkan jarinya lagi.
---
            Lalu sang gadis kembali ada di rumahnya. Langit di luar gelap. Pukul 10 malam, pasti. Ibunya belum pulang. Pikirannya sudah kacau. Ia tidak bisa lagi berpikir dengan tenang. ‘Yang mana yang mimpi? Yang mana yang nyata? Apa yang terjadi padaku?!’

            Karena bingung, ia keluar dari rumahnya. Ia berlari mengikuti jalan raya. Tanpa tujuan, meski ada arah. ‘Yang mana yang mimpi?! Yang mana yang nyata?!’

            “AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARGH!!!!!!!” Ia berteriak. Mulai merasa gila.
            Saat itu, sang pemuda muncul.
            “Kamu kenapa?” Tanya sang pemuda.
            “Aku gila.” Jawab sang gadis. Asal.
            “Mau ikut denganku?” Tanya sang pemuda.
            “Kemana?” Sang gadis balik bertanya.
            “Ke dalam mimpi. Tempat dimana kau akan bahagia.” Jawab sang pemuda. “Jadi, mau ikut?”
            “Ya.” Kata sang gadis tanpa pikir panjang. Ia sudah tidak bisa membedakan mimpi dan kenyataan. Tak bisa lagi berpikir dengan jernih. Dan memang begitu rencananya.
            Lalu sang pemuda membawa sang gadis ke sebuah rumah. Menyuntikkan sesuatu. Dan semenjak itu, sang gadis tidak pernah kembali ke rumahnya.
---
            ‘Mudah sekali’. Pikir sang pemuda.

            Dan memang mudah. Dalam lima hari, ia bisa membuat seorang perempuan menjadi gila, sehingga membiarkan sang pemuda untuk menjualnya. Tanpa jejak sama sekali.

            Yang pemuda itu lakukan hanyalah mengawasi rumah sang gadis selama tiga hari, dan dua hari melakukan pengrusakan akal. ‘Target yang mudah. Dia terlalu sering sendirian di rumahnya. Ibunya juga terlalu sering meninggalkannya.’

            Setelah mengetahui keadaan rumahnya, sang pemuda langsung memulai rencananya. Saat sang gadis pulang dari sekolah, ia masuk ke angkotnya untuk membuat sang gadis tertidur di dalam angkot, lalu membuatnya terbangun dan berada di tempat yang tak dikenal. Dan kemudian, berbicara dengan orang yang tidak jelas yang mengatakan kalau itu semua hanyalah mimpi.

            Ia memastikan kalau sang gadis akan meminum air yang telah ia taburkan obat tidur ketika ia ada di angkot. Juga memastikan kalau angkot itu akan berhenti sebelum sampai ke terminal. Lalu ia membalap angkot itu dengan motor yang ia siapkan. Sehingga ia sampai di lokasi sebelum gadis itu. Membuat efek teleport, dan menambahkan keanehan dengan mengatakan kalau itu semua hanyalah mimpi.

            ‘Lalu hipnotis saja dia. Takkan ada yang melihat. Dan kalaupun ada pasti tidak mempedulikam. Lalu kuantarkan saja ke rumahnya. Kuncinya ada di sepatu paling kiri atas. Rumahnya kosong. Takkan ada tetangga atau kerabat yang curiga. Mereka kurang bersosialisasi. Lalu apabila ia bangun di rumahnya, ia akan benar-benar berpikir kalau yang ia alami hanya mimpi. Setelah itu, ia akan dihancurkan oleh imajinasinya sendiri.’ Pikir sang pemuda di dalam ruangan hotelnya. Ia mempunyai banyak sekali uang hasil penjualan manusia. Dan tentu saja, gadis yang tidak diketahui namanya itu hanyalah satu dari banyak korban.

            ‘Dalam keadaan tidak tenang, alam bawah sadarnya pasti akan mengungkit apa yang paling ia khawatirkan. Dengan kata lain, mimpinya akan menjadi gabungan dari apa yang ia semua hal aneh yang ia alami. Yaitu, saat ia kesasar dan mendengar kata-kataku.’ Pikir sang pemuda. Sambil mengisap sebatang rokok.

            ‘Lucid Dream. Mimpi yang nyata, biasanya terjadi di saat seperti itu. Apalagi, gadis itu mempunyai imajinasi yang menakutkan. Ia bisa membuat mimpi menjadi kenyataan, dan membuat kenyataan menjadi seperti mimpi. Korban yang ideal.’

            ‘Lalu sebagai penutup, kutemui ia lagi di sekolahnya. Dengan begitu, ia akan benar-benar rusak dan akan kacau setelah ia melihat satu mimpi aneh lagi. Dan sesuai perkiraan, ia kabur dari rumah.’

            “Otak itu terlalu hebat untuk manusia. Manusia yang tidak berlatih untuk mengendalikannya, akan dengan mudah dikendalikan oleh otaknya sendiri.’

            ‘Kasihan…’

            Pemuda itu adalah Zona Vita Sabela. Dikenal berdasarkan inisialnya. ZVS, yang dibaca sebagai Zetvies. Ia adalah favorit orang-orang di pasar gelap. Seorang psikopat, sekaligus psikolog.


            ‘Aku juga pernah dijual. Dan aku ingin kalian, yang selalu merasa tenang dan senang, merasakan hal yang sama.’

0 comments:

Posting Komentar

Hubungi kami :

Twitter : @APAksara

Email : apaksara3@gmail.com

HP : 085773226995

Instagram: kapas3.aksara

Twitter

Translator