Senin, 24 November 2014

Time Capsule





Aku tidak pernah menyangka sebelumnya kalau tulisan seorang anak kecil berumur 13 tahun bisa mempengaruhi keputusan dalam kehidupanku. Kalau saja aku tidak membacanya, kalau saja pada saat itu aku tidak membuatnya, aku pasti tidak akan pernah bisa hidup bahagia bersamanya.
Saat itu aku, yang sudah berumur 28 tahun, sedang mengalami rasa bimbang. Vira, seorang perempuan yang sejak kecil sudah bersama-sama denganku menyatakan kalau ia akan menikah dengan seorang lelaki bernama Mario. Sejak awal aku sudah tau kalau aku dan Vira tidak akan bisa bersama selamanya. Ya, aku suka Vira. Aku mencintainya. Vira juga memiliki perasaan yang sama. Tetapi keluarganya tidak akan pernah menerimaku, yang seorang pengangguran diusiaku ini.
Perasaan nyata yang kami rasakan tidak akan mengubah keputusan orang tuanya. Itu lah yang membuatku menyerah untuk menggapai Vira.
“kalau memang orang tuamu sudah memutuskannya, aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi.” kataku pada saat itu.
Vira menatapku dan dalam beberapa detik matanya berkaca-kaca. “hanya itu tanggapanmu?” tanyanya dengan bibirnya yang gemetar.
Aku mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaannya. Memangnya mau bagaimana lagi? Pikirku. Vira diam dalam waktu yang lama. Aku bingung dan hanya mematung di depannya.
“tapi laki-laki yang kusukai itu kamu.”
///
“tapi laki-laki yang kusukai itu kamu.” Bahkan sampai saat ini, setiap aku mengingat kalimat itu wajahku langsung memanas. Apalagi kalau mengingat matanya yang coklat mengkilat menatapku dengan isyarat: aku serius, Ar.
///
Vira bilang kalau pernikahannya dilaksanakan pada bulan Maret tahun depan. Masih lama. Lalu apa yang harus kulakukan sampai hari itu tiba?
“kau harus mendapatkan pekerjaan tahun ini, Ar. Kau tidak bisa selamanya tinggal bersama orang tuamu. Kau juga harus membentuk keluarga baru dan memberikan cucu kepada ayah dan ibumu ini.” keluh ibuku dari dapur.
Aku sudah berkali-kali mencoba melamar pekerjaan. Dan entah mengapa tidak ada satupun perusahaan yang mau menerimaku. Aku memang sedikit pemalas tapi bukan berarti aku mau uang tanpa usaha sendiri.
“aku sedang mengusahakannya.” kataku sambil mengunyah keripik di ruang tamu.
Kurasa jawaban itu membuat ibuku semakin sebal padaku, soalnya aku mendengar ucapan-ucapan yang malas kudengar. Memangnya mau bagaimana lagi? Pikirku.
///
“coba kak Ar rajin, pasti kak Ar bisa dapet ranking satu.”
Suaranya menggema lagi di kepalaku. Membuatku kembali teringat dengan sosoknya yang masih mengenakan seragam SMP dan sebuah kepangan di rambutnya.
“tidak ada yang membutuhkan peringkat satu, Vir. Yang dibutuhkan itu cuma naik kelas.”
Jawabanku saat itu membuatnya meremehkanku. “apaan tuh.” katanya sambil terkekeh.
"kalau kak Ar mau, pasti kak Ar bisa mendapatkannya."
Jujur saja saat itu aku sedikit kesal karena menyadari diriku sedang dinasihati oleh seorang anak SMP yang baru berumur 14 tahun beberapa minggu lalu itu. Saat itu aku menghadap ke langit, mencoba menikmati kehidupan SMA ku yang singkat dan mencoba untuk melupakan kalimat bijaknya Vira yang tadi.
///
Perlahan-lahan kehidupan di masa laluku, yang penuh dengan Vira, muncul di kepalaku. Meningkatkan kinerja otakku dalam mengingat hal-hal yang telah lama berlalu itu. Untuk menghilangkannya aku membenamkan wajahku ke bantal. Sialnya hal itu malah membuat kepalaku semakin sakit, karena ingatan-ingatan itu malah semakin jelas.
Aku berbisik pada diriku sendiri, “akan ku pastikan Vira tidak pernah mengetahui seberapa besar perasaanku padanya. Bisa-bisa dia menertawakanku.”
Ding dong.
Terdengar suara parau dari luar pintu, “permisi ada kiriman surat.” ucap suara itu.
Sebelum ibuku berteriak dan menyuruhku untuk mengambil surat itu, aku sudah beranjak dari sofa dan membuka pintu. Pengirim surat itu memberikan sebuah surat yang cukup tebal kepadaku.
Aku terkejut setelah melihat pengirimnya. Aku mendapatkan surat dari aku 15 tahun yang lalu.
"dari siapa Ar?" teriak ibuku yang masih sibuk dengan masakannya.
"time capsule.." jawabku pelan.
"HAH? SIAPA?" teriaknya lebih kencang lagi. Aku tidak menghiraukannya dan langsung masuk ke kamar.
Niatnya, setelah membaca surat memalukan ini aku akan membakarnya dan mengubur abunya di halaman belakang bersama bunga-bunga yang ditanam oleh ibuku. Tapi kenyataannya aku malah menyimpan surat itu sampai sekarang.

///

Hai, Ar. Wow aku tidak percaya aku akan melakukan hal seperti ini. Aku membuatnya karena desakan dari Vira. Dia bilang time capsule lagi ngetren saat ini. Vira itu anak perempuan cerewet yang tinggal di sebelah rumahku, eh maksudku kita, mungkin, kalau kau tidak pindah rumah. Kau masih ingat dengannya? Apa kalian masih bersama-sama saat kau membaca time capsule ini? Apa kau masih ingat janjimu pada dirimu sendiri? Janji untuk melindungi perempuan cerewet itu? Apa kau ingat? Tidak? Aku rasa kau tidak akan melupakannya.
Aku tertawa. Maaf Ar, aku lupa.
Saat ini aku sedang membayangkan diriku yang berumur 28 tahun. Pekerjaan apa yang sedang aku lakukan? Atau bahkan apakah aku sudah menikahi perempuan cerewet itu? Percayalah Ar, saat ini aku sedang tertawa terbahak-bahak memikirkan kalau setiap hari harus mendengar nasihat-nasihat darinya.
Aku juga ingin tertawa sekarang. Tapi kenyataannya, senyum pun tidak.
Ar, aku tidak tau apakah di masa depan nanti aku akan tetap bersama Vira atau dengan perempuan cerewet yang lainnya, tapi kumohon, jangan buat orang yang kau sukai menangis di depanmu lagi. Rasanya sudah cukup menyakiti Vira sekali saja karena tindakan pengecutmu.
Kau tidak mungkin lupa hari itu kan?
Hari ulang tahun Vira yang ke 11. Sore itu kau, maksudku aku, sama saja lah, merayakan hari ulang tahunnya berdua di halaman belakang rumah kita. Kau menanyakan apa yang ia inginkan, lalu dia menjawab kalau dia ingin aku, kau, menikahinya di masa depan. Kau tidak berani mengucapkan apapun untuk menjawab keinginannya. Setelah itu kau tertawa di depannya, kau sedang mencoba menyembunyikan rasa malu dan bahagia, yang sebenarnya telah melukai perasaannya.
Vira belum mengerti perasaanmu saat itu karena kau belum mengatakan tentang perasaanmu yang sebenarnya. Ia baru berumur 11 tahun, Ar. Perasaannya masih sangat sensitif. Harusnya hari itu kau mengerti ia akan berpikir kalau kau sedang menertawai keinginannya yang aneh.
Ya, saat itu Vira menangis. Ia berkali-kali mengatakan kalau dia membencimu.
Aku menyesal karena sudah tertawa saat itu, karena sekarang aku sudah tau bagaimana perasaannya kepadaku. Kau ini sebenarnya pintar Ar, hanya saja kau terlalu pengecut. Aku sadar kalau selama ini aku selalu berpikir begini: untuk apa berjuang keras kalau kau sudah tau apa yang ingin kau capai pasti akan tergapai? Dengan pikiran seperti itu aku menganggap kalau Vira sudah pasti menjadi milikku, karena kami sama-sama suka.
Kau ini pintar, tapi juga bodoh. Kau selalu menertawakan kenaifan orang lain dan bersikap sok dewasa, tapi cara berpikirmu sendiri masih kekanak-kanakan.
Jadi kumohon Ar, jangan buat siapapun menangis karena sikap pengecutmu.
Oh ayolah. Aku marah dan juga malu pada diriku sendiri saat ini. Menulis surat yang berisi nasihat untuk diriku diusia 28 tahun. Aku pasti sangat keanak-kanakan kan, Ar?



Dari dirimu,
Andhito Reynaldi (13 tahun)

///

Setelah membaca surat itu aku langsung tersungkur di depan pintu kamar. Mengingat-ingat kembali bagaimana perasaanku saat aku menulis surat ini.
Dan saat itu pula aku baru ingat, kalau aku belum pernah mengatakan ‘aku suka kamu Vir.’ atau kalimat sejenis itu sekalipun kepadanya. Bahkan sampai saat itu aku masih berpikir kalau Vira pasti mengerti perasaanku meskipun aku tidak mengatakannya kepadanya. Aku terlalu naif.
///
Sebelum aku menyadarinya, aku sudah berada di depan pintu rumah keluarganya saat itu. Berdiri di depan gerbang sambil mengatur nafas yang tidak teratur akibat berlari tak karuan. Belum sempat aku menekan bel rumahnya, aku melihat Vira keluar dari rumahnya, disusul dengan orang tuanya, juga dengan laki-laki berkepala botak yang bernama Mario.
“Ar? Apa yang kau lakukan disini?” tanyanya dengan wajah heran.
Karena aku tidak menjawab pertanyaannya, Vira bertanya lagi. “ada apa Ar? Maaf, tapi saat ini kami ingin pergi ke-“
“aku suka kamu Vir.”
Aku berhasil mengatakannya, dengan tubuh yang penuh keringat. Kalau saja Vira tidak pindah rumah, aku tidak perlu lari-larian begini dan juga bisa mengatakannya dengan keadaan yang lebih keren dari ini.
Sayangnya Mario orang pertama yang bereaksi  dengan pernyataanku. “apa yang kau katakan? Dasar pengangguran yang tidak tau diri.” Aku tidak peduli apa yang ia katakan saat itu.
Lalu ayahnya Vira maju selangkah dari tempatnya dan mengatakan, “Ar, tolong jangan ganggu hubungan Vira.” Jujur aku juga tidak terlalu peduli dengan apa yang ayahnya Vira katakan.
Saat itu aku hanya ingin dengar suara Vira. Aku hanya ingin lihat reaksi Vira. Tapi dia tetap diam di tempatnya. Mata coklatnya mengkilat lagi, tapi kali ini tidak sama seperti tatapan isyarat yang sebelumnya. Lebih tepatnya saat itu Vira sedang menatapku tak percaya.
“aku suka kamu Vira. Dan aku ingin mengabulkan permintaan ulang tahunmu 15 tahun yang lalu.”
Orang tua Vira, juga si botak Mario masih mengoceh di samping Vira yang masih juga tidak berkutik. Sepertinya aku menembak tepat ke hatinya.
Ia menunduk. Mata coklatnya tak lagi menatapku. Wajahnya tertutup oleh rambut hitamnya yang panjang. Aku tidak yakin apakah Vira menangis lagi atau tidak.
“Vira?” tanya ibunya sambil merangkul anak perempuannya yang manis itu.
Vira tidak menjawab, hanya saja aku bisa mendengar isakannya. Maaf Ar, aku membuatnya menangis lagi. Ini sudah yang ketiga kalinya kan.
Tiba-tiba terdengar tawa pelan dari Vira. “kalau dari dulu kak Ar mau, kau pasti sudah mendapatkanya dari dulu.”
Aku tidak yakin apa maksud kalimatnya, tapi akhirnya aku bisa melihat senyuman tersungging di wajahnya yang basah karena air mata. Aku tertawa sedikit, aku bahagia, juga malu.
“kenapa kau tertawa? Memangnya saat ini wajahku aneh?” tanyanya sedikit merajuk.
“sama seperti 15 tahun yang lalu, aku tertawa karena bahagia.. Dan juga malu.” Sekarang aku yang menatap mata coklatnya dengan tatapan yang mengisyaratkan: aku serius, Vir. Aku harap isyarat itu sampai kepadanya.
Kini aku melihat pipinya merah merona dan aku juga merasa pipiku memanas. Saat itu aku bertanya-tanya, apa dengan begini aku bisa mendapatkannya?
Jawabannya tentu saja tidak. Aku masih harus mencari pekerjaan yang layak agar orang tua Vira mau mengakui perasaan kami dan menyingkirkan si botak Mario dari sisi Vira.
///

Selesai.

0 comments:

Posting Komentar

Hubungi kami :

Twitter : @APAksara

Email : apaksara3@gmail.com

HP : 085773226995

Instagram: kapas3.aksara

Twitter

Translator