Aku tidak
pernah menyangka sebelumnya kalau tulisan seorang anak kecil berumur 13 tahun
bisa mempengaruhi keputusan dalam kehidupanku. Kalau saja aku tidak membacanya,
kalau saja pada saat itu aku tidak membuatnya, aku pasti tidak akan pernah bisa
hidup bahagia bersamanya.
Saat itu aku,
yang sudah berumur 28 tahun, sedang mengalami rasa bimbang. Vira, seorang
perempuan yang sejak kecil sudah bersama-sama denganku menyatakan kalau ia akan
menikah dengan seorang lelaki bernama Mario. Sejak awal aku sudah tau kalau aku
dan Vira tidak akan bisa bersama selamanya. Ya, aku suka Vira. Aku
mencintainya. Vira juga memiliki perasaan yang sama. Tetapi keluarganya tidak
akan pernah menerimaku, yang seorang pengangguran diusiaku ini.
Perasaan
nyata yang kami rasakan tidak akan mengubah keputusan orang tuanya. Itu lah
yang membuatku menyerah untuk menggapai Vira.
“kalau memang
orang tuamu sudah memutuskannya, aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi.” kataku
pada saat itu.
Vira
menatapku dan dalam beberapa detik matanya berkaca-kaca. “hanya itu
tanggapanmu?” tanyanya dengan bibirnya yang gemetar.
Aku
mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaannya. Memangnya mau bagaimana lagi?
Pikirku. Vira diam dalam waktu yang lama. Aku bingung dan hanya mematung di
depannya.
“tapi
laki-laki yang kusukai itu kamu.”
///
“tapi
laki-laki yang kusukai itu kamu.” Bahkan sampai saat ini, setiap aku mengingat kalimat itu
wajahku langsung memanas. Apalagi kalau mengingat matanya yang coklat mengkilat
menatapku dengan isyarat: aku serius, Ar.
///
Vira bilang
kalau pernikahannya dilaksanakan pada bulan Maret tahun depan. Masih lama. Lalu
apa yang harus kulakukan sampai hari itu tiba?
“kau harus
mendapatkan pekerjaan tahun ini, Ar. Kau tidak bisa selamanya tinggal bersama
orang tuamu. Kau juga harus membentuk keluarga baru dan memberikan cucu kepada
ayah dan ibumu ini.” keluh ibuku dari dapur.
Aku sudah
berkali-kali mencoba melamar pekerjaan. Dan entah mengapa tidak ada satupun
perusahaan yang mau menerimaku. Aku memang sedikit pemalas tapi bukan
berarti aku mau uang tanpa usaha sendiri.
“aku sedang
mengusahakannya.” kataku sambil mengunyah keripik di ruang tamu.
Kurasa
jawaban itu membuat ibuku semakin sebal padaku, soalnya aku mendengar
ucapan-ucapan yang malas kudengar. Memangnya mau bagaimana lagi?
Pikirku.
///
“coba kak
Ar rajin, pasti kak Ar bisa dapet ranking satu.”
Suaranya
menggema lagi di kepalaku. Membuatku kembali teringat dengan sosoknya yang
masih mengenakan seragam SMP dan sebuah kepangan di rambutnya.
“tidak ada
yang membutuhkan peringkat satu, Vir. Yang dibutuhkan itu cuma naik kelas.”
Jawabanku saat
itu membuatnya meremehkanku. “apaan tuh.” katanya sambil terkekeh.
"kalau
kak Ar mau, pasti kak Ar bisa mendapatkannya."
Jujur saja
saat itu aku sedikit kesal karena menyadari diriku sedang dinasihati oleh
seorang anak SMP yang baru berumur 14 tahun beberapa minggu lalu itu. Saat itu
aku menghadap ke langit, mencoba menikmati kehidupan SMA ku yang singkat dan
mencoba untuk melupakan kalimat bijaknya Vira yang tadi.
///
Perlahan-lahan
kehidupan di masa laluku, yang penuh dengan Vira, muncul di kepalaku.
Meningkatkan kinerja otakku dalam mengingat hal-hal yang telah lama berlalu
itu. Untuk menghilangkannya aku membenamkan wajahku ke bantal. Sialnya hal itu
malah membuat kepalaku semakin sakit, karena ingatan-ingatan itu malah semakin
jelas.
Aku berbisik
pada diriku sendiri, “akan ku pastikan Vira tidak pernah mengetahui seberapa
besar perasaanku padanya. Bisa-bisa dia menertawakanku.”
Ding dong.
Terdengar
suara parau dari luar pintu, “permisi ada kiriman surat.” ucap suara itu.
Sebelum ibuku
berteriak dan menyuruhku untuk mengambil surat itu, aku sudah beranjak dari
sofa dan membuka pintu. Pengirim surat itu memberikan sebuah surat yang cukup
tebal kepadaku.
Aku terkejut
setelah melihat pengirimnya. Aku mendapatkan surat dari aku 15 tahun
yang lalu.
"dari
siapa Ar?" teriak ibuku yang masih sibuk dengan masakannya.
"time
capsule.." jawabku pelan.
"HAH?
SIAPA?" teriaknya lebih kencang lagi. Aku tidak menghiraukannya dan
langsung masuk ke kamar.
Niatnya,
setelah membaca surat memalukan ini aku akan membakarnya dan mengubur abunya di
halaman belakang bersama bunga-bunga yang ditanam oleh ibuku. Tapi kenyataannya
aku malah menyimpan surat itu sampai sekarang.
///
Hai, Ar.
Wow aku tidak percaya aku akan melakukan hal seperti ini. Aku membuatnya karena
desakan dari Vira. Dia bilang time capsule lagi ngetren saat ini. Vira itu anak
perempuan cerewet yang tinggal di sebelah rumahku, eh maksudku kita, mungkin,
kalau kau tidak pindah rumah. Kau masih ingat dengannya? Apa kalian masih
bersama-sama saat kau membaca time capsule ini? Apa kau masih ingat janjimu
pada dirimu sendiri? Janji untuk melindungi perempuan cerewet itu? Apa kau
ingat? Tidak? Aku rasa kau tidak akan melupakannya.
Aku tertawa.
Maaf Ar, aku lupa.
Saat ini
aku sedang membayangkan diriku yang berumur 28 tahun. Pekerjaan apa yang sedang
aku lakukan? Atau bahkan apakah aku sudah menikahi perempuan cerewet itu?
Percayalah Ar, saat ini aku sedang tertawa terbahak-bahak memikirkan kalau
setiap hari harus mendengar nasihat-nasihat darinya.
Aku juga
ingin tertawa sekarang. Tapi kenyataannya, senyum pun tidak.
Ar, aku
tidak tau apakah di masa depan nanti aku akan tetap bersama Vira atau dengan
perempuan cerewet yang lainnya, tapi kumohon, jangan buat orang yang kau sukai
menangis di depanmu lagi. Rasanya sudah cukup menyakiti Vira sekali saja karena
tindakan pengecutmu.
Kau tidak
mungkin lupa hari itu kan?
Hari ulang
tahun Vira yang ke 11. Sore itu kau, maksudku aku, sama saja lah, merayakan
hari ulang tahunnya berdua di halaman belakang rumah kita. Kau menanyakan apa
yang ia inginkan, lalu dia menjawab kalau dia ingin aku, kau, menikahinya di
masa depan. Kau tidak berani mengucapkan apapun untuk
menjawab keinginannya. Setelah itu kau tertawa di depannya, kau sedang
mencoba menyembunyikan rasa malu dan bahagia, yang sebenarnya telah melukai
perasaannya.
Vira belum
mengerti perasaanmu saat itu karena kau belum mengatakan tentang perasaanmu
yang sebenarnya. Ia baru berumur 11 tahun, Ar. Perasaannya masih sangat
sensitif. Harusnya hari itu kau mengerti ia akan berpikir kalau kau sedang
menertawai keinginannya yang aneh.
Ya, saat
itu Vira menangis. Ia berkali-kali mengatakan kalau dia membencimu.
Aku
menyesal karena sudah tertawa saat itu, karena sekarang aku sudah tau bagaimana
perasaannya kepadaku. Kau ini sebenarnya pintar Ar, hanya saja kau terlalu
pengecut. Aku sadar kalau selama ini aku selalu berpikir begini: untuk apa
berjuang keras kalau kau sudah tau apa yang ingin kau capai pasti akan
tergapai? Dengan pikiran seperti itu aku menganggap kalau Vira sudah pasti
menjadi milikku, karena kami sama-sama suka.
Kau ini
pintar, tapi juga bodoh. Kau selalu menertawakan kenaifan orang lain dan
bersikap sok dewasa, tapi cara berpikirmu sendiri masih kekanak-kanakan.
Jadi
kumohon Ar, jangan buat siapapun menangis karena sikap pengecutmu.
Oh ayolah.
Aku marah dan juga malu pada diriku sendiri saat ini. Menulis surat yang berisi
nasihat untuk diriku diusia 28 tahun. Aku pasti sangat keanak-kanakan kan, Ar?
Dari dirimu,
Andhito Reynaldi (13 tahun)
///
Setelah
membaca surat itu aku langsung tersungkur di depan pintu kamar. Mengingat-ingat
kembali bagaimana perasaanku saat aku menulis surat ini.
Dan saat itu
pula aku baru ingat, kalau aku belum pernah mengatakan ‘aku suka kamu Vir.’
atau kalimat sejenis itu sekalipun kepadanya. Bahkan sampai saat itu aku masih
berpikir kalau Vira pasti mengerti perasaanku meskipun aku tidak mengatakannya
kepadanya. Aku terlalu naif.
///
Sebelum aku
menyadarinya, aku sudah berada di depan pintu rumah keluarganya saat itu.
Berdiri di depan gerbang sambil mengatur nafas yang tidak teratur akibat
berlari tak karuan. Belum sempat aku menekan bel rumahnya, aku melihat Vira
keluar dari rumahnya, disusul dengan orang tuanya, juga dengan laki-laki
berkepala botak yang bernama Mario.
“Ar? Apa yang
kau lakukan disini?” tanyanya dengan wajah heran.
Karena aku
tidak menjawab pertanyaannya, Vira bertanya lagi. “ada apa Ar? Maaf, tapi saat
ini kami ingin pergi ke-“
“aku suka
kamu Vir.”
Aku berhasil
mengatakannya, dengan tubuh yang penuh keringat. Kalau saja Vira tidak pindah
rumah, aku tidak perlu lari-larian begini dan juga bisa mengatakannya dengan
keadaan yang lebih keren dari ini.
Sayangnya
Mario orang pertama yang bereaksi dengan
pernyataanku. “apa yang kau katakan? Dasar pengangguran yang tidak tau diri.” Aku
tidak peduli apa yang ia katakan saat itu.
Lalu ayahnya
Vira maju selangkah dari tempatnya dan mengatakan, “Ar, tolong jangan ganggu
hubungan Vira.” Jujur aku juga tidak terlalu peduli dengan apa yang ayahnya
Vira katakan.
Saat itu aku
hanya ingin dengar suara Vira. Aku hanya ingin lihat reaksi Vira. Tapi dia
tetap diam di tempatnya. Mata coklatnya mengkilat lagi, tapi kali ini tidak
sama seperti tatapan isyarat yang sebelumnya. Lebih tepatnya saat itu Vira
sedang menatapku tak percaya.
“aku suka
kamu Vira. Dan aku ingin mengabulkan permintaan ulang tahunmu 15 tahun yang
lalu.”
Orang tua
Vira, juga si botak Mario masih mengoceh di samping Vira yang masih juga
tidak berkutik. Sepertinya aku menembak tepat ke hatinya.
Ia menunduk.
Mata coklatnya tak lagi menatapku. Wajahnya tertutup oleh rambut hitamnya yang
panjang. Aku tidak yakin apakah Vira menangis lagi atau tidak.
“Vira?” tanya
ibunya sambil merangkul anak perempuannya yang manis itu.
Vira tidak
menjawab, hanya saja aku bisa mendengar isakannya. Maaf Ar, aku
membuatnya menangis lagi. Ini sudah yang ketiga kalinya kan.
Tiba-tiba terdengar
tawa pelan dari Vira. “kalau dari dulu kak Ar mau, kau pasti sudah
mendapatkanya dari dulu.”
Aku tidak
yakin apa maksud kalimatnya, tapi akhirnya aku bisa melihat senyuman
tersungging di wajahnya yang basah karena air mata. Aku tertawa sedikit, aku
bahagia, juga malu.
“kenapa kau
tertawa? Memangnya saat ini wajahku aneh?” tanyanya sedikit merajuk.
“sama seperti
15 tahun yang lalu, aku tertawa karena bahagia.. Dan juga malu.” Sekarang aku yang
menatap mata coklatnya dengan tatapan yang mengisyaratkan: aku serius, Vir.
Aku harap isyarat itu sampai kepadanya.
Kini aku
melihat pipinya merah merona dan aku juga merasa pipiku memanas. Saat itu aku
bertanya-tanya, apa dengan begini aku bisa mendapatkannya?
Jawabannya
tentu saja tidak. Aku masih harus mencari pekerjaan yang layak agar orang tua
Vira mau mengakui perasaan kami dan menyingkirkan si botak Mario dari sisi
Vira.
///
Selesai.
0 comments:
Posting Komentar