PADA
suatu pagi, disaat virus ebola sedang menyerang dunia, Ukraina berselisih
dengan Rusia, dan Amerika sibuk melawan obesitas, aku terduduk di pojok kamarku
dengan laptop yang terpangku manis di paha untuk menikmati akhir pekanku
sebelum hari senin-laknat datang kembali selagi menunggu ibu menyerukan, “Luhan~ sarapan sudah siap~”. Aku sedang
serius membaca sebuah komik kreatif yang dibuat orang-orang iseng internet yang
entah kenapa kali ini begitu menyentuh,
Aku semakin memfokuskan kedua mata penasaranku pada
layar persegi laptop.
“Karena
kita berpikir, menunjukkan kelemahan adalah hanya untuk perempuan.”
Aku terenyuh, kusandarkan punggungku yang mendadak
lemas ke dinding kamar.
”Karena
kita berpikir, tidak memiliki badan kekar ataupun tubuh tinggi itu tidak keren.”
Hatiku tertusuk begitu dalam.
“Karena
berbagai ejekkan yang menimpa kita, menghilangkan segala sisi maskulin.”
Sedihnya, aku turut berduka bagi pembuat komik ini.
“Karena
mengungkapkan diri kita terluka, membuat harga diri kita sirna.”
Apa ini? Tiba-tiba genangan air menutupi mataku. Tanpa
kusadari aku jadi ingin menangis…
“Karena
begitu memalukkan bagi kita, untuk turut menjadi lemah seperti
perempuan.”
…dan begitu kusadar, mataku sudah mengeluarkan seluruh
air mata yang tak terbendung lagi, aku mengucaknya, mencoba menghapusnya dengan
segera. Namun tak bisa, ia tetap mengalir dan kini membuatku ‘hiks’ terisak, ‘hiks’ menyedihkan. ‘hiks’
“Luhan, sarapannya
sudah-“ Tiba-tiba pintu kamar terbuka lebar, terlihat sesosok laki-laki tinggi,
bertubuh atletis, memiliki leher kokoh dengan jakun yang menonjol, juga dengan
mata yang dibuat sok keren padahal bagiku justru terlihat menjengkelkan seperti
minta ditonjok. Yang jelas, dia bukan ibuku. Awalnya aku tidak menyadari
kedatangannya karena masih asik menangis sebelum akhirnya tau bahwa sesuatu
seperti hawa kegelapan datang sedang termenung, terpaku, dan terdiam memperhatikanku.
Dialah Rin Fujisaki, harus kuakui dengan rasa sesal bahwa dia adalah kakakku,
orang pertama yang akan kusabotase bila hari kejayaan adik dimulai. Aku segera
berhenti menari dan memandangnya dengan ganas, “KAU MELIHATNYA BUKAN?!” ucapku
setengah teriak kemudian menutup laptopku dan menghampirinya sembari berusaha
keras menyeka kedua mataku walaupun kurasa pasti terlihat sedikit memerah dan
berkaca-kaca.
“Tidak, tidak. Aku tidak
lihat, sudah teruskan saja. Serius, aku tidak melihatnya.” ucapnya kemudian
bersiap membalikan tubuhnya untuk beranjak pergi sambil melupakan tujuan
utamanya menghampiri kamarku dan membuka pintunya tanpa diketuk- tunggu,
sepertinya walaupun diketuk aku tidak akan mendengarkan suara ketukannya.
“Bohhooonng!!” kataku
yang entah kenapa jadi garang dan seketika menubruk tubuh besarnya sampai dia
terjatuh kemudian menduduki perutnya dan membuat ancang-ancang ingin
menonjoknya dengan segenap tenaga yang kumiliki. Makan apa sih orang ini?
Menubruknya saja sudah membuat badanku sakit,
“Kenapa kau tidak mengetuk
pintu?!”
“Aku sudah mengetuknya,
tapi kau tidak dengar karena sibuk menangis! Kau depresi ya?!”
“Oh? Kau mengetuknya ya?
Hmm..” aku berpikir sejenak, “Hei! Kau tau aku menangis berarti kau
melihatnya!!”
“Luhan-chan!” tiba-tiba
terdengar suara ibu memanggil namaku, dia menaiki tangga dan menghampiri kami.
Ya, seperti yang kau baca, dia benar memanggilku dengan embel-embel “-chan” padahal kan- argghh sudahlah.
“Rin! Jangan membiarkan Luhan-chan menonjokmu! Kalau tangannya terluka
bagaimana?” kami tidak memperdulikan omongan ibu yang justru membuatku sakit
hati nantinya, disaat kami masih berdebat tentang siapa yang salah tiba-tiba
ayah ikut menghampiri kami, “Hei Rin, aku pikir sedikit luka lebam di mata akan
membuatmu makin keren saat main bisbol!”
Terimakasih
ayah, aku akan membuat Rin lebam kok! Dimana saja boleh. Oh iya, itulah
alasanku membenci Rin, dia menyebalkan. Selain itu, Rin juga sangat sempurna,
nilainya bagus dan jago olahraga. Main basket bisa shoot 3 point, main bola 10 menit 2 gol, main bisbol bisa homerun dan lain lain. Sedangkan aku,
hanya jago bermain sepak bola, itupun kalau hoki doang. Dan alasan terakhir aku
membencinya-ah sulit diakui-karena dia ganteng. Bila dibandingkan dengannya,
aku merasa seperti sayuran kering yang menempel di tutup bungkus mie cup yang
sudah di seduh alias… tak berguna.
Ibu, maafkan aku, kau
sudah memperingatkanku sesuatu yang benar adanya namun aku menyangkalnya,
sungguh maaf. Padahal kemarin aku sudah memukul wajah Rin lebih dari 10 kali
namun tidak menghasilkan bekas apapun! Pantas saja dia terlihat “damai” saat
ingin kutonjok, kini yang ada tanganku justru sedikit memerah. Sedikit loh ya!
Sedikit.
Pagi ini, kami menjalani
hukuman akibat insiden kemarin pagi. Yaitu–ehm, persiapkan dirimu!-DILARANG
PAKAI KAMAR MANDI UTAMA. Aku tidak mengerti apa maksudnya, tapi itu efektif
menghukum kami yang kini sedang berada di kamar mandi kecil yang terletak di
lantai dua berdua. Eits! Jangan berpikiran hal aneh, meskipun namanya kamar mandi
namun pagi ini kami hanya menggunakannya untuk gosok gigi dan cuci muka, buat
apa mandi? Yang penting aku sudah tampan dari lahir.
Aku melirik Rin
diam-diam, dia sedang mendengus sambil menatap pisau cukurnya yang rusak.
Baguslah rusak, aku iri dengannya yang bisa ditumbuhi kumis dan janggut. Haha!
Sebenarnya pisau cukurnya rusak akibat kemarin baru saja kupakai untuk mengupas
kulit wortel. Aku berdiri bersampingan–atau tepatnya berhimpitan-dengan Rin,
badannya yang gagah membuatku merasa sempit apalagi begitu kami berebut memakai
wastafel ataupun bayangan wajahku di
cermin sengaja ditutupi oleh badannya. Omong-omong cermin disini awalnya adalah
cermin kamarku, lalu kupindahkan begitu aku sadar bahwa memajang poster bola
jauh lebih keren daripada menggantung cermin sebesar setengah pintu di kamarku.
“Turut berduka cita, Tuan
Pisau Cukur. Semoga kekal di alam sana.” ucapku miris kemudian lari.
“Fujisaki Luhan, sialan!”
Senin
pagi yang indah, burung-burung berkicau merdu. Aku menaikki bus kota bersama
Rin yang duduk di sampingku. Perkenalkan, namaku Fujisaki Luhan. Aku seorang
siswa kelas 2 dari SMA Seirin, umurku 16 tahun, rambutku bermodel pantat-ayam
supaya terlihat keren, dan dari namaku tentu kalian sudah menebak kalau aku
tinggal di Jepang, tepatnya Tokyo, sebuah kota glamour yang harus bersyukur bahwa kota ini memiliki remaja tampan
bebas narkoba sepertiku. Sadarkah kalian kalau namaku sedikit aneh? Yeah, hanya marga keluargaku yang
Jepang-banget sedangkan nama panggilanku sedikit aneh, karena ini bukan Bahasa
Jepang. Entah apa yang melimpungi pikiran ayahku sehabis menemani ibu yang
lelah melahirkan. Nama Luhan berasal dari Bahasa Mandarin, kata ayah–dengan
ekspresinya yang sungguh takjub dan berapi-api, aku tak bohong-Luhan berasal
dari karakter “Lu” yang berarti “rusa kecil” dan “Han” yang berarti “sebelum
subuh” –mungkin karena aku lahir sebelum subuh. Dan sebenarnya bukan hanya
namaku yang aneh, nama Rin juga agak ganjil-ada apasih dengan orangtua kami?-,
sebenarnya “Rin” lebih lumrah sebagai
nama seorang gadis, tapi karena Rin yang memiliki nama itu, entah kenapa nama
itu jadi sangat keren! Dulu kata ayah–dia masih memancarkan ekspresi yang sama-“Rin” berarti “iblis”. Oh Tuhan, tepat sekali! Dia MEMANG iblis, tapi itu jauh
lebih keren daripada berarti rusa. Dan sebaliknya, dibandingkan nama Rin yang
justru jadi keren, nama Luhan justru menjadi terlalu imut bagiku! Anak-anak
cewek biasa memanggilku “Lulu”
alasannya nama “Lulu” lebih familiar
daripada “Luhan” dan ibu juga memanggilku
“Luhan-chan” padahal embel-embel “-chan” biasa digunakan untuk anak kecil
dan gadis saja. Aku hanya bisa mendengus, berhubung aku cowok, jadi mengomeli
perempuan bukan sifatku.
Masih bersama Rin, kali
ini aku berjalan menuju gerbang sekolah dan terpaksa pergi sekolah bersamanya
karena kami satu sekolah dan dia juga merangkap sebagai kakak kelasku di kelas
3, sementara aku ada di kelas 2. Alasan lain adalah karena bila aku pergi
bersamanya, Rin akan sok baik membayarkan ongkos naik bus. Begitu sampai di
depan pagar sekolah, aku menatapnya dalam, dia menatapku dalam. Kami saling
bertatapan. Mengacungkan jari kelingking bersama-sama kemudian saling
mengaitkannya, “Setelah melewati pagar sekolah, lupakan tali persaudaraan!”
kata kami dengan tegas mengucapkan ikrar sakral.
Kami kemudian lari dengan
arah yang berlawanan, saling menjauhi agar… tidak dikira homo.
“Hei! Luhaan! Aku punya
kabar tentang Kak Himeka!” langkah kakiku yang sedang berlari tiba-tiba
berhenti dengan refleksnya begitu mendengar seorang cowok yang kulewati berkata
seperti itu, kulirik dia dengan penuh harap, ternyata hanya si Takumi Usui,
sobat karibku yang begitu menyebalkan-namun kadang dia berguna. “SUNGGUH?!”
tanyaku dengan mata berbinar, tersenyum lebar, kemudian memegang kedua bahunya
dengan erat mengharapkan jawaban jelas.
“Iya, serius. Besok saat
pelajaran olahraga kelas 2-A dengan kelas 3-A akan duel match loh!” terangnya sambil menyebut kelas Himeka dan
kelasku.
Berhubung aku ini cowok,
jadi bukankah wajar bila aku sedang sangat menyukai seorang perempuan? Aku jadi
mengingat kejadian pertama kali yang membuatku menyukai Himeka, atau lengkapnya
Haruhi Himeka. Aku ingat saat itu Rin membawa beberapa temannya ke rumah
termaksud Himeka-sial dia beruntung sekali bisa sekelas dengan wanita
sesempurna itu. Pertemuan pertama kami terjadi ketika Himeka sedang di toilet
rumahku dan kehabisan tisu toilet dan aku memberikannya tisu yang baru. Aku
ingat ketika dia membuka pintu toilet dengan malu-malu kemudian menjulurkan
lengannya kepadaku, tangan kami saling bersentuhan. Setelah itu, dia keluar
kemudian berkata “Terimakasih~” dengan suara yang sangat manis dan pipi yang
memerah. Romantis sekali.
“Whoaaahh… kau ini siapa sih? Seseorang yang
mirip Usui ya?” kataku dengan kegirangan sambil menggoyahkan bahunya dengan
kencang dan penuh semangat, “Hei, Tuan Takumi! Pagi ini kau baik sekali,
rumahmu baru saja tertimpa meteor ya?”
“Tapi omong-omong, Luhan,
pertandingannya itu tanding basket.”
“SUNGGUUHH?!” tanyaku
lagi dengan sangat semangat dan mungkin api-api yang kini memenuhi pupilku. Sampai
akhirnya terdiam dan mencoba berpikir dengan steril, “Usui, aku tak jago main
basket.”
Disaat aku berkata
seperti itu, kusadari Usui sedang meletakan telapak tangan kanannya di puncak
kepalaku kemudian dapat kurasakan usapan lembutnya, apakah dia sedang prihatin
denganku? Baiklah aku hargai bentuk simpatinya. Namun tak lama kemudian, dia
segera menyejajarkan telapak tangannya itu dari kepalaku-yang sedang menengadah
memperhatikan rautnya-menuju puncak kepalanya, “Fujisaki Luhan, ternyata selama
liburan musim panas, kau tidak tambah tinggi ya?” ujarnya sambil tersenyum
lebar seolah itu adalah motivasi terbesar dalam hidup yang pernah dia berikan
pada seseorang remaja berusia 16 tahun yang normal sepertiku, “Kau tadi bilang
apa? Tidak jago main basket? Pantas kau tidak tinggi-tinggi.” timpalnya lagi
yang sama-sama tidak memberi dampak positif apapun. Bagaimana mungkin
iblis-neraka-dasar-terdalam-dengan-siksa-terpedih seperti dia dapat mengatakan
hal seperti itu dengan senyum lebar yang tersimpul dengan sempurna berikut
matanya yang menunjukan cahaya tulus? Oh, oke. Itu adalah senyuman memikat bila
orang lain yang melihatnya, namun tak lain hanyalah seringaian menyeramkan
bagiku.
“Takumi Usui, kau Takumi
Usui. Tidak salah lagi.” kataku dengan datar.
Sepanjang hari ini, aku
terlalu risau dan gelisah memikirkan hari esok. Belajar tidak tenang–aku salah
membaca Fisika menjadi Matematika, padahal beda jauh-, mengacuhkan perkataan
Usui–dia bilang mataku lucu seperti mata anak rusa, berhubung aku cowok jadi
aku menganggapnya hinaan-, serta makan dengan tergesa–padahal entah kena
hembusan apa Rin menraktirku makanan paling mahal di kantin. Parahnya selama
seharian ini aku tidak melihat Himeka sedikitpun. Ujung hidungnya saja tidak,
miris sekali. Akupun masih gugup untuk pelajaran olahraga besok, aku tidak bisa
bermain basket. Terakhir kali main, bola basket sukses membuat kepalaku benjol.
Dan tanpa terasa, bel
pulang berbunyi. Biasanya aku akan keluar kelas sambil berlari dan
berloncat-loncat riang, tapi tidak kali ini. Aku menghabiskan waktu jam
pelajaran terakhir dengan termenung sambil menengok keluar jendela, berharap
siapa tau ada Himeka yang sedang membantu penjaga sekolah memotong rumput
ataupun pengumuman mengubah duel match
besok menjadi pertandingan DotA –game
favoritku sepanjang masa yang membuat nilai logaritmaku anjlok. Kini aku juga
masih termenung, bertopang dagu tanpa bergeming sedikitpun sementara tangan
kiriku sedang memainkan pulpen berwarna hitamku–berhubung aku cowok, jadi aku
tidak mau memiliki pulpen berwarna-warni. Usui mungkin menyadari kegelisahanku,
wajarlah, dia adalah teman yang paling memahami dan dekat denganku meskipun
kadang bersikap bodoh. Karena duduk tepat di belakangku, Usui berkali-kali
menusuk punggungku dengan pulpennya, sampai sekarang.
“Hei, hei! Luhan! Kau
marah padaku kan? Maaf sudah berkata matamu mirip anak rusa.” Ucap Usui sembari
terus menerus menusuk punggungku. Aku menoleh kearahnya dengan tatapan seperti zombie dalam game Resident Evil. Kerja bagus Tuan Takumi, padahal aku baru saja
memujimu sebagai orang yang paling memahamiku, “Tak apa, tidak usah dipikirkan
lagi.”
“Luhan, aku akan
meralatnya! Kau-kau-kau…” ucapnya dengan gugup padaku, “…kau, matamu sama
sekali tidak mirip anak rusa. Matamu hanya mirip anak rusa jantan saja, kok!”
ucapnya dengan lantang yang kini mendapatkan pandangan ganas dariku, “Jenius
sekali, Takumi Usui. JENIUS.”
“Anu, permisi. Lulu-san…”
tiba-tiba terdengar suara seorang gadis yang memanggil namaku berikut
embel-embel sesopan “-san”,
“HWAAAHHH!” aku dan Usui seketika berteriak serempak begitu menyadari bahwa
kami bukan satu-satunya orang yang masih menghuni kelas ini. Dia menghampiriku,
aku menatap gadis itu berikut juga seorang teman yang juga bersamanya dengan
penasaran. Mereka berdua sama-sama membawa sebuah bungkusan yang entah isinya
apa, namun aku dapat dengan sangat jelas mencium aroma cokelat dari sana. Aku
melirik Usui sejenak, yang ternyata sedang membatu dengan mulutnya yang
ternganga. Hei! Itu artinya Usui kagum padaku bukan? Dia kagum bahwa aku bisa
dihampiri dua gadis yang akan memberiku cokelat.
Tanpa banyak berkata
lagi, kedua gadis itu menyodorkan bungkusan yang mereka bawa ke arahku, aku
meliriknya sebentar, kemudian tentunya segera mengambilnya. “Terimakasih, ya.”
sebutku seiring dengan dua wajah gadis di hadapanku yang memerah bersamaan.
“Ternyata Lulu-san, beda
ya kalau dilihat dari dekat.” ujar seseorang dari mereka yang disusul anggukan
temannya.
“Bolehkah aku menyentuh
kulitmu?” kata gadis satu yang kemudian kubalas anggukan kecil, diapun
menyentuh kulit punggung tanganku dengan halus.
“Bolehkah aku mengelus
rambutmu?” kata gadis dua yang tentunya juga kuperbolehkan, “Bo-boleh…” segera
kurasakan tangan kecilnya yang sedang mengelus kepalaku dengan perlahan.
“Lulu-ssi, body lotion apa yang kau gunakan?”
“Lulu-ssi, conditioner apa yang kau pakai?”
“Apakah kau mengenakan lipbalm?”
“Apakah kau banyak
mengonsumsi makanan bervitamin E, vitamin C, dan antioksidan?”
BAHASA APA YANG MEREKA
GUNAKAN? Aku terdiam. Mereka bicara apa, aku tak paham sama sekali. Para gadis
banyak tau istilah-istilah asing ya? Aku hanya tertunduk malu, daripada memaksa
menjawab dan akhirnya salah.
“Luhan, sama sekali tidak
memakai hal-hal seperti itu.” Oh Usui, kau dewa penyelamatku! Aku berjanji akan
memberikanmu ice cream sundae! Aku
tatap kembali kedua gadis itu dengan tatapan keren -berhubung aku ini cowok,
perilaku menunduk malu tadi kuakui kurang keren. Mereka menunduk ala Jepang
dihadapanku, menunjukan rasa hormat dan sopan santun mungkin juga
berterimakasih karena sudah memperbolehkan mereka menyentuhku meskipun aku tak
mengerti apa yang memotivasi mereka melakukannya. Tapi yang jelas, jujur saja,
aku jauh lebih berterimakasih atas cokelat yang mereka berikan. Sebelum mereka
beranjak pergi, aku memberanikan diri untuk bertanya demi menjawab rasa
penasaranku. Sebelum sempat membuka mulut, Usui sudah memberiku kode untuk
tidak usah berbuat apapun. Dia menggigit bibir bawahnya sambil menggelengkan
kepala berikut dengan matanya yang terlihat cemas. Sedang apa sih dia? Aku tak
peduli.
“Tunggu!” kedua gadis itu
menghentikan langkahnya kemudian menatapku dengan penuh harap, “Tadi kalian
berkata, aku berbeda kalau dilihat dari dekat. Apa maksudnya?” Usui terlihat
frustasi, kini dia menenggelamkan seleruh wajahnya di atas meja, terlihat
frustasi. Mereka tersenyum lebar, kemudian menjawab, “KARENA… KALAU DILIHAT
DARI DEKAT LULU-SAN JAUH LEBIH MANIS!!”
‘Deg’ salah, maksudku, ‘Jleb’.
Terasa ada sesuatu yang menikam jantungku dengan teramat dalam. Mereka telah
pergi tanpa bertanggung jawab. Mulutku ternganga dengan sendirinya dan mataku
mengeluarkan tatapan kosong sekosong-kosongnya. Nenek buyut? Kakek buyut? Saat
ini aku ingin sekali menyusul kalian ke surga.
“Hei! Hei! Luhan,
sadarlah! Luhan kau membuatku takut!” kurasakan tangan Usui yang menggoyangkan
bahuku dengan keras serta merta memasang airmuka cemas yang menyedihkan itu.
Apa yang kualami tadi bukanlah ilusi belaka. Aku dianggap manis. Image keren
yang selama ini kubuat, justru diruntuhkan begitu saja dengan kata “manis”.
“Diam, Tamaki Usui. Aku…
sudah melihat.. malaikat pencabut nyawa menghampiriku.”
“HIII! Luhan! Luhaaannn…!
Luhan? Bila kau mati..”
“Ya?”
“Bila kau mati… PS4 mu
untukku saja ya!” katanya. Aku seketika refleks menjitak kepalanya. Si bodoh
ini! Benar-benar membuatku jengkel.
Angin sore berhembus
dengan halus. Meniup rambutku dalam alunan kesejukannya. Untunglah kali ini aku
sudah tersadarkan. Usui berada di sampingku, kami sedang menunggu kedatangan
bus di halte. Baru kusadari, aku memiliki sebuah problematika terbesar dalam
hidup yang lebih gawat dari global
warming atau virus ebola
sekalipun. AKU DIANGGAP MANIS. Kulitku halus, rambutku lembut, mataku berbinar,
badanku langsing, tubuhku pendek, bibir tipisku berwarna merah muda, aku tidak
bisa ditumbuhi kumis dan aku seorang adik dari Fujisaki Rin! -lupakan point
terakhir. Jadi inilah alasannya, mengapa ibu masih memanggilku dengan
embel-embel “–chan”, mengapa
anak-anak cewek lebih suka memanggilku Lulu daripada Luhan, atau jangan-jangan
alasan rasa prihatin Rin sehingga dia membayarkan ongkos busku setiap hari.
“Luhan, kau mau jus?”
tiba-tiba tangan besar Usui menyodorkan sekaleng minuman ke dadaku. Di saat aku
melamun barusan, ternyata dia menyempatkan diri membeli minuman di vending machine yang berada di belakang
kami. Aku menerimanya dengan senang hati, “Mau.” Tangan Usui terasa besar
sekali, lebih besar dari tanganku yang kurus.
Aku berpikir keras sambil
menyeruput minuman kaleng yang diberikan Usui padaku. Besok adalah kesempatanku
menunjukan diri pada Himeka. Bila aku tidak mengubah diri sama sekali,
bagaimana bisa dia menganggapku spesial? Aku harus bertekad, aku harus berhasil
dianggap keren oleh semua orang. Aku kan bukan anak kecil yang patut dibilang
manis! Umurku sudah 16 tahun, aku mungkin sudah boleh memiliki SIM untuk
menyetir truk tronton. Aku menelan ludah kemudian mempersiapkan mental untuk
berbicara, melirik Usui perlahan dan berkata dengan lirih, “Tuan Tamaki,
jadilah guruku!”
“Hah?” tanyanya dengan
wajah bingung, meminta pengulangan dari kata-kataku. Aku menelan ludah,
melepaskan berbagai harga diri yang terpaut dalam tubuhku kemudian segera
membungkuk 90 derajat tepat di hadapannya, “TAKUMI USUI, JADILAH GURUKU!”
Aku segera menegapkan
tubuh. Usui membentuk eye-smilenya,
dia tersenyum. Tersenyum lebar. Memberi secercah harapan dalam diriku. Mataku
yang sudah berbinar, makin berbinar lagi. Dia menatapku dalam lalu memegang
kedua bahuku dengan erat. Aku menggigit bibir bawahku menunggu pelajaran yang
akan dia ucapkan. Masih dalam simpulan senyumnya, dia membuka mulut dan
berkata, “GAK AH~” diliputi nada riang.
Ya Tuhan. Sekilas, aku
bersyukur tak salah telah menganggapnya bodoh sedari tahun pertama di SMA.
Selepas itu, Usui telah membuatku frustasi, aku berjongkok dan menatap ke arah
tanah kemudian melirik semut-semut yang masuk ke lubangnya sambil membawa
remahan roti diatas otot tubuh mereka yang kuat. Wahai Tuan Semut, apakah
kalian memiliki hormon testosteron yang bekerja dengan baik?
“Tuan
Takumi, aku tidak sedang memintamu mengajariku trik mengambil jus secara gratis
dari vending machine.”
“Ohh…
lalu? Kau ingin aku ambilkan rasa lain?”
Hai! Aku Fujisaki Luhan!
Seorang pria yang sudah tampan sejak lahir, memiliki tinggi 180 minus 15 cm,
menyukai sepak bola dan Haruhi Himeka. Eh? Mengapa aku memperkenalkan diri dari
lagi? Karena, hari ini aku berpenampilan sangat keren, bisa dibilang keren
kuadrat ataupun keren kubik dari penampilanku yang biasanya. Aku mencatat semua
perkataan Usui yang nyaris tanpa spasi:
“Fujisaki Luhan, coba pakai gel
rambut untuk menaikan rambutmu agar kau terlihat tinggi. Pakai sunblock agar
kulitmu tidak memerah. Pakai juga sepatu sport yang solnya tinggi. Oh iya, matamu
juga terlalu halus, pakai contact lens warna onyx bagaimana? Jangan lupa,
jangan pernah merunduk saat kau merasa malu. Tersenyumlah sambil menunjukan
gigi-gigimu, kau terlalu terlihat manis saat tersenyum menunjukan lesung
pipitmu. Ayo! Latihan basket untuk besookk!”
Kuakui, aku mengikuti
SEMUA saran Usui dan beragam saran untuk bersikap keren. Hasilnya? Ibuku tidak
memanggilku dengan embel-embel “-chan”, tadi pagi Rin jaga jarak denganku–mungkin
takut kalah ganteng-, para perempuan di kelasku berkali-kali melirikku dengan
kagum dan satu lagi yang terpenting gadis terpenting dalam kehidupan SMAku,
Haruhi Himeka tersenyum padaku.
Saat ini kelas kami,
beserta kelas 3-A telah berkumpul di lapangan belakang sekolah untuk melakukan duel match olahraga basket. Cuaca cerah
dan terik melingkupi kami, untunglah aku memakai sunblock -anehnya ibu malah
memberikanku syal karena yakin cuaca hari ini tidak bagus, tapi sepertinya
mustahil. Pertandingan telah usai, tentu saja kelas kami tidak menang kalau
dibandingkan dengan anak-anak kelas 3-A semacam Rin. Meski begitu, Pak Guru memuji
permainan kelas kami. Walaupun peluit tanda pertandingan berakhir telah
dibunyikan, para pemain termaksud aku dan Usui masih berada di lapangan.
Sedikit berbincang, menangkap air mineral yang dilemparkan teman-teman sekelas
kepada kami, iseng melempar bola ke ring dan hal lainnya.
Aku melirik Himeka.
Cantik sekali. Rambut ponytail hitamnya,
mata sayunya, dan bibir manisnya, membuatku terpukau. Rasanya seperti menonton
video slowmotion disaat aku menatap
setiap detik geriknya. Disaat aku masih melihatnya, dia menatapku kembali
kemudian melambaikan tangan sambil berkata “Selamat~” dengan lucu, yang tentu
saja langsung ku balas lambaiannya tinggi tinggi dengan riang.
“AWAAASSS!” suara Usui
menggelegar di telingaku, mengalihkan pandanganku yang sedang asik berbincang
isyarat tanpa kata-kata dengan Himeka. Dasar, perusak kesenangan orang lain.
Kulihat sebuah bola basket yang meluncur dengan cepat. Usui menarik tubuhku
dari tempatku berdiri, dia menggeserku sehingga aku tepat berada di depannya.
Sebelum berhasil membayangkan bagaimana rasanya bila bola itu menubruk tulang
hidung orang, aku sudah mengenainya terlebih dulu.
“SSAAAKKIIITTT!!”
pekikku. Meneriaki Usui yang dengan segala tipu muslihatnya yang keji justru
menjadikanku tameng.
“Eh? Maaf ya, refleks
manusia! Hampir saja aku kena.” balasnya dengan polos.
Giliranku membeli 2 kotak
minuman untukku dan Usui, aku membelikan diriku sekotak kopi –agar terlihat manly- dan membelikan Usui susu stroberi
–agar terlihat tak manly. Sudah
kuduga, dia menagih balasan atas minuman yang kemarin dia berikan padaku.
Menyebalkan. Oh iya, untuk luka hasil dari insiden bola basket tadi, dia
bertanggung jawab. Usui menempelkan 2 plester luka di tulang hidung dan
keningku yang sedikit memar dan terluka. Disaat aku berjalan menuju lapangan
lagi, untuk menonton pertandingan lainnya. Kusadari sesosok Himeka kini berada
di hadapanku, dia terduduk di kursi panjang yang berada di bawah pohon beringin
sekolah. Terlihat dirinya yang menikmati hembusan angin, memejamkan mata sambil
bernafas dalam merasakan udara disekitarnya. Aku mendekatinya, berusaha
menyapanya untuk alasan kesopanan –sekaligus modus juga.
“Kak Hime, tidak ikut
menonton?” ucapku tipis. Seperti yang kalian lihat, aku memanggilnya “Hime” bukan “Himeka” karena begitulah caraku memujinya, “Hime” berasal dari kata “Ohime”
yang berarti “Tuan Putri”, indah kan?
Tapi sayang, aku rasa dia tak menyadarinya. Kutatap caranya perlahan membuka
mata, kemudian tersenyum tipis ketika melihatku dihadapannya, “Tidak, aku sudah
menonton apa yang ingin kutonton.”
“Oh, begitu…” ucapku
datar tak berani menatap matanya lagi, bahkan tak sanggup mencerna kata-kata
yang terucap olehnya. Tanpa sadar, aku menyodorkan susu stroberiku yang seharusnya
menjadi jatah Usui kepada Himeka, “Mau?”
“Terimakasih.” katanya
kemudian mengambilnya, menusukan sedotan dan meminumnya, “Luhan suka susu?”
tanyanya yang disertai anggukanku. Aku tidak mengerti mengapa aku malah
mengangguk, mungkin mengucapkan kata “ya”
terlalu berat sampai-sampai membuat bibirku beku apabila kukatakan padanya.
Lagipula, siapa yang tidak suka susu? Satu-satunya yang kutahu tidak menyukai
susu adalah anjing Rin yang tewas satu tahun lalu akibat diare berat.
“Berarti benar.” Himeka
menundukkan kepalanya dengan gugup.
“Benar apa?” tanyaku
penasaran.
“Bukan apa apa..”
lanjutnya, “Habisnya Luhan sangat lucu!” dia tersenyum lebar padaku dengan nada
suara yang begitu tercantol di otakku. Ya tuhan, aku rasa aku harus segera
pergi dari tempat ini sebelum aku mati konyol akibat gadis manis ini dan
ambulans rumah sakit terdekat menggiringku ke UGD, “Kak Hime, aku duluan.”
“Oke, sampai ketemu.” ucapnya
yang tak mampu kubalas lagi berikut kedua tanganku yang sudah bergetar ini.
Bodohnya aku, kenapa malah tidak bersikap manly
di saat tidak tepat? Namun sebelum sempat melangkah lebih jauh lagi, sebuah
pertanyaan terbesit di benakku, membuatku membalikan badan kembali, menegapkan
tubuh dan bertanya dengan sungguh-sungguh padanya. Pada Himeka. Orang yang
membuatku rela berkorban melakukan semua hal yang membuatku terlihat manly.
“Kak Hime! Apa ada
sesuatu yang berubah dari diriku?” tanyaku dengan tegas dihadapan wajah
cantiknya. Menatapnya dalam. Berharap dia mengetahui segala jerih payah yang
kulakukan.
“Hmmm…” kulihat wajahnya
yang sedang berusaha berpikir, manis sekali. Tunggu, sudah berapa kali sih aku
menyebutnya manis?
“Tidak ada, sama sekali
tak berbeda.” ujarnya singkat. Kuubah senyuman harapanku menjadi sebuah wajah kaku.
Mengerti bagaimana rasanya? Sakit sekali, lebih sakit daripada menyadari
biskuitmu jatuh ke dasar gelas ketika kau mencelupkannya ke dalam teh. Himeka
kenapa? Apa dia terlalu lelah? Mungkin dia lapar? Atau dia butuh donor ginjal?–tidak,
sepertinya tidak!. Aku alihkan langkahku pergi dari Himeka, “DAH!” ucapku
mengatakan salam yang begitu singkat. Bisa-bisanya, orang yang ingin kutunjukan
padanya betapa besar usahaku agar membuatnya terpincut denganku, malah sama
sekali tak menyadarinya.
Aku merasa kesal. Aku
merasa bodoh.
Aku merasa benar-benar
bodoh.
Sangat bodoh.
Dan akhirnya, langkahku
berubah begitu saja. Sekotak kopi yang kupegang tadi sudah berubah menjadi
sampah akibat kuremas-remas demi menumpahkan kekesalanku. Kini aku mencuci
tanganku sekaligus membasuhi wajahku yang merasa kepanasan sekalipun sudah
memakai sunblock di toilet pria. Untuk apa kugunakan contact lense onyx yang tidak nyaman? Sunblock yang lengket di kulit? Gel rambut dengan aroma yang tak
kusukai? Sepatu sport yang akhirnya
membuat langkahku berat? Kalau semua ini akhirnya sia-sia.
Kutatap cermin yang
merefleksikan bayangan wajahku, yang kurasa tidak seperti aku walaupun terlihat
lebih keren dari aku yang biasanya. Memandang wajah kesal di cermin, berhubung
aku ini cowok jadi mustahil bagiku untuk menangis. Merasakan dinginnya air,
mungkin sudah membuat kemarahanku sedikit teratasi.
TUNGGU…
Aku makin memandangi
wajahku di cermin. Bukan, bukan! Bukan karena aku baru sadar betapa tampannya
diriku. Namun, ada yang aneh dari wajahku. Tepatnya, ada yang aneh dari 2
plester luka yang tertempel di wajahku. Yang baru saja beberapa menit lalu Usui
tempelkan. Kulihat lebih jeli, terdapat goresan tulisan dari spidol hitam yang
tertulis di permukaannya.
‘Luhan
bego’
‘Luhan
suka Himeka’
TTTAAAKKKUUUMIII USSSSSUUUII!!!
“AW!” ucap Usui begitu
aku berhasil menemukannya yang sedang disuruh untuk membereskan bola basket di
ruang olahraga, berhasil juga kulemparkan sebuah bola hingga mengenai kepala
batunya, “Balasan untuk yang tadi!” kataku. Dia menolehkan kepala ke arahku,
mengumbar senyum dan menyapaku dengan ramah, “Eh Luhan.. lho? Kok plester
lukanya dilepas?”
“Jangan bercanda. Kau,
tindakanmu tidak lucu!” ujarku dengan berat, menekan suaraku agar tak berteriak
membentaknya sekaligus memasang wajah seriusku. Aku marah. Memikirkan apa yang
Himeka pikirkan tentangku hanya karena plester bodoh itu. Pantas saja dia menyebutku
“lucu” aku kira itu pujian, ternyata tak lebih dari menanggapi lelucon Usui,
bukan?
“HAHAHA, Kau
menyadarinya-“ sebelum dia tertawa lebih banyak lagi, aku berjalan menghampiri
Usui. Menatapnya dengan tajam, berusaha memberitahunya kalau ini bukan
main-main, “Seharusnya aku tidak usah mengikuti segala saranmu.” kalimat itu
keluar begitu saja dari bibirku, tanpa kusadari. Kupandang air muka Usui yang
berubah dingin, “Itu kan, kau yang memintanya!”
Aku sadar, aku
menyakitinya. Namun mulutku masih tak bisa diajak diam. “HIME! Tapi- Kak
HIMEKA!! Himeka tak tampak menyukainya. Kau membuatku terlihat bodoh di
hadapannya!”
“Kenapa kau jadi aneh?
Kau siapa? Seseorang yang mirip Fujisaki Luhan ya?” dia mendekatiku, menatapku
jijik kemudian mendorong dadaku.
“Bodoh! Apa aku salah
kalau menjadi keren dihadapan orang yang kusukai!!”
“Fujisaki Luhan yang
kukenal, tidak memaksakan dirinya seperti ini. Berapa kalipun aku mengejekmu
manis ataupun pendek, bukan berarti aku bilang kalau manis itu kelemahan kan?
Memangnya apa yang salah dengan cowok menggemaskan? Tidak akan dipenjarakan
juga.”
Aku terdiam. Tak bisa
berkata lagi.
“Huh. Setidaknya itu
lebih baik daripada menjadi orang lain yang bukan dirimu.”
Inilah Usui, masih dengan
kalimatnya yang tajam dan hampir selalu benar. Aku sudah melakukan hal tak
benar, ini bukan hal yang tepat untuk dilakukan. Aku menundukan kepala,
menyadari kesalahan dan berkata dengan lirih, “Maaf.” kemudian mendapati sebuah
kepalan tangan yang menghantam bahuku, berusaha memberiku semangat. “Aku tak
marah. Aku bisa menebak ekspresi apa yang ada di matamu saat ini bila kau tak
memakai contact lens. Kejar dia.”
‘Hatchih!’
Sulit dipercaya. Setelah
sedikit bertengkar karena hal bodoh dan Usui yang mendadak memberi semangat
serta khotbah selama hampir 30 menit, seharian itu aku tidak melihat Himeka
lagi. Kini aku melangkah sendiri menyusuri jalan menuju rumah. Diliputi dengan
cuaca mendung dan angin dingin, serta aku yang sedikit pulang telat akibat
permainan aneh Usui yang membuatku menghirup lada–karena kalah bermain Get Rich-dan membuatku masih
bersin-bersin sampai sekarang.
‘Hatchih!’
Apa kabar Himeka? Entahlah. Tapi, aku sudah melepas
segala penampilan yang membuatku tak nyaman. Aku merasa lebih baik sekarang.
‘HATCHIH!’
“KAU BERSIN JUGA???”
tanyaku ketika menyadari seseorang yang berpapasan denganku juga bersin disaat
yang sama, dan ternyata kami juga melontarkan pertanyaan yang sama bersamaan.
Aku meliriknya, dia juga melirikku. Kami menghentikan langkah sejenak. “Kak
Hime!/Luhan!” sebut kami berbarengan. Tak lama, kami tersadar dan suasana
menjadi agak canggung. “Kakak, habis darimana?” tanyaku iseng. “Dari suatu tempat.”
Balasnya dengan tak lupa memberikan senyuman. Tetapi senyumannya terlihat
sedikit berbeda dan agak kaku daripada tadi pagi, “Luhan, kau membenciku?”
“Ti-tid-tidak.” Ucapku
pelan dan sedikit gemetar. Aku lupa meminta maaf padanya, atas perilakuku yang
terlalu gegabah, “Maaf.”
“Ini bukan salahmu,
seharusnya aku yang-“ Himeka terdiam, menghentikan kalimatnya. Akupun tak ingin
membiarkannya bicara lebih banyak lagi, tak tega melihatnya meminta maaf dan
merasa bersalah karenaku. Dia menatapku dalam, aku tak peduli karena aku merasa
melakukan hal yang benar. Aku mengalungkan syal yang ibu berikan padaku sebelum
berangkat sekolah tadi di lehernya yang terlihat kedinginan. Masa bodo dengan
tubuhnya yang tinggi dan membuatku tidak terlihat keren karena sampai berjinjit
untuk melakukannya. Aku mencintai Himeka, aku berusaha membuatnya nyaman dan
aman. “Seorang gadis harusnya sampai rumah sebelum gelap, iyakan Kak?” ucapku
dengan senang hati padanya. Aku takut hujan dingin akan menimpanya sebelum
sampai rumah, kalau aku sih rumahku sudah dekat dari sini.
“Fujisaki Luhan,
terimakasih.” dapat kudengar suara halus Himeka, kemudian tanpa kuduga dia
mencium pipiku dengan lembutnya. Kemudian berlari menjauh dan melambaikan
tangan sebagai salam sampai ketemu. Aku hanya terdiam dan membatu. Tak mengira
hal seperti ini terjadi.
Aku… tidak akan… mencuci
muka selama seminggu.
“Fujisaki Luhaaannn!!”
panggilnya setengah berteriak agar aku bisa mendengarnya. Oh Himeka, sejauh
apapun kau aku yakin pasti masih bisa mendengar suara lucumu itu. “Periksalah
isi kulkasmu!!!”
‘DEG’
Apa artinya ini? Himeka
mengetahui isi kulkasku? Himeka mengetahui kalau setiap akhir bulan ibu suka
beli cheese cake? Atau aku kembali
salah meletakkan sepatu di freezer
karena frustasi nilai Kimia yang rendah? Hm, apakah- Ya Tuhan! Bodohnya diriku.
Ah aku terlalu naïf, aku menganggap pertemuan ini sebagai kebetulan. Memangnya
kota Tokyo hanya sebesar panggung AKB48? Sebelum aku memikirkan beragam hal
bodoh tak masuk akal lainnya, aku segera berlari dengan cepat. Sangat cepat.
Menuju rumah secepatnya.
“Luhan? Kok pulang telat?
Padahal tadi Himeka-“
“AKU TAHU!” kataku
memotong ucapan Rin yang entah kenapa malah sedang memberi makan ikan di depan
pintu masuk. Aku membuka sepatu beserta kaus kakinya, berlari melewati semua
ruangan sampai-sampai menjatuhkan kalender dinding dan kelingking kakiku
menubruk kaki meja. SAAKKITT. Meski begitu, aku akhirnya berhasil memegang daun
pintu kulkas kemudian membukanya dengan penuh harap.
Terlihat sebuah pudding
susu yang tertata rapih di atas loyang dan terbungkus dengan kotak plastik
bening. Tak lupa, ada sebuah nota berwarna kuning yang tertempel di bungkus
plastiknya yang kubaca sambil tersenyum disertai perasaan geli di perutku yang
kini membuatku berguling-guling sambil tertawa kegirangan di lantai.
“Tidak
ada yang berubah dari Luhan. Sama sekali tidak ada.
Karena
kau selalu terlihat tampan bagiku. Aku suka Fujisaki Luhan.
-Haruhi
Himeka”
Untuk sesaat, aku tak
menyesal lahir di Jepang dengan budaya dimana cewek yang harus “menembak
duluan” dan juga untuk sesaat aku tak merutukki nasibku dimana lebih terlihat
manis dibandingkan keren.
Bodohnya aku. Haruhi
Himeka, terima kasih. Berhubung aku ini cowok, jadi tak kusangka pemikiranku
sebagai cowok salah mengenai menjadi laki-laki yang dicintai perempuan. “Suka”
tidak butuh gel rambut untuk membuatmu lebih ganteng. “Suka” juga tidak memilih
keren atau manis, bukan? Rasanya senang
sekali sampai-sampai tidak tega memakannya. Tak lama, Rin menghampiri kulkas
untuk mengambil air. Dia mendelikkan matanya, melirikku yang masih tertawa
sambil memegangi perut dengan tajam, “IBU, LUHAN SAKIT JIWA!”
Karya Siti Nur Khodijah.
X IIS 5
0 comments:
Posting Komentar