Sabtu, 01 November 2014

Berhubung aku cowok, jadi...


            PADA suatu pagi, disaat virus ebola sedang menyerang dunia, Ukraina berselisih dengan Rusia, dan Amerika sibuk melawan obesitas, aku terduduk di pojok kamarku dengan laptop yang terpangku manis di paha untuk menikmati akhir pekanku sebelum hari senin-laknat datang kembali selagi menunggu ibu menyerukan, “Luhan~ sarapan sudah siap~”. Aku sedang serius membaca sebuah komik kreatif yang dibuat orang-orang iseng internet yang entah kenapa kali ini begitu menyentuh,
“Karena kita laki-laki, tertindas oleh sebab lemah.”
Aku semakin memfokuskan kedua mata penasaranku pada layar persegi laptop.
“Karena kita berpikir, menunjukkan kelemahan adalah hanya untuk perempuan.”
Aku terenyuh, kusandarkan punggungku yang mendadak lemas ke dinding kamar.
”Karena kita berpikir, tidak memiliki badan kekar ataupun tubuh tinggi itu tidak keren.”
Hatiku tertusuk begitu dalam.
“Karena berbagai ejekkan yang menimpa kita, menghilangkan segala sisi maskulin.”
Sedihnya, aku turut berduka bagi pembuat komik ini.
“Karena mengungkapkan diri kita terluka, membuat harga diri kita sirna.”
Apa ini? Tiba-tiba genangan air menutupi mataku. Tanpa kusadari aku jadi ingin menangis…
“Karena begitu memalukkan bagi kita, untuk turut menjadi lemah seperti perempuan.”
…dan begitu kusadar, mataku sudah mengeluarkan seluruh air mata yang tak terbendung lagi, aku mengucaknya, mencoba menghapusnya dengan segera. Namun tak bisa, ia tetap mengalir dan kini membuatku ‘hiks’ terisak, ‘hiks’ menyedihkan. ‘hiks’
“Luhan, sarapannya sudah-“ Tiba-tiba pintu kamar terbuka lebar, terlihat sesosok laki-laki tinggi, bertubuh atletis, memiliki leher kokoh dengan jakun yang menonjol, juga dengan mata yang dibuat sok keren padahal bagiku justru terlihat menjengkelkan seperti minta ditonjok. Yang jelas, dia bukan ibuku. Awalnya aku tidak menyadari kedatangannya karena masih asik menangis sebelum akhirnya tau bahwa sesuatu seperti hawa kegelapan datang sedang termenung, terpaku, dan terdiam memperhatikanku. Dialah Rin Fujisaki, harus kuakui dengan rasa sesal bahwa dia adalah kakakku, orang pertama yang akan kusabotase bila hari kejayaan adik dimulai. Aku segera berhenti menari dan memandangnya dengan ganas, “KAU MELIHATNYA BUKAN?!” ucapku setengah teriak kemudian menutup laptopku dan menghampirinya sembari berusaha keras menyeka kedua mataku walaupun kurasa pasti terlihat sedikit memerah dan berkaca-kaca.
“Tidak, tidak. Aku tidak lihat, sudah teruskan saja. Serius, aku tidak melihatnya.” ucapnya kemudian bersiap membalikan tubuhnya untuk beranjak pergi sambil melupakan tujuan utamanya menghampiri kamarku dan membuka pintunya tanpa diketuk- tunggu, sepertinya walaupun diketuk aku tidak akan mendengarkan suara ketukannya.
“Bohhooonng!!” kataku yang entah kenapa jadi garang dan seketika menubruk tubuh besarnya sampai dia terjatuh kemudian menduduki perutnya dan membuat ancang-ancang ingin menonjoknya dengan segenap tenaga yang kumiliki. Makan apa sih orang ini? Menubruknya saja sudah membuat badanku sakit,
“Kenapa kau tidak mengetuk pintu?!”
“Aku sudah mengetuknya, tapi kau tidak dengar karena sibuk menangis! Kau depresi ya?!”
“Oh? Kau mengetuknya ya? Hmm..” aku berpikir sejenak, “Hei! Kau tau aku menangis berarti kau melihatnya!!”
“Luhan-chan!” tiba-tiba terdengar suara ibu memanggil namaku, dia menaiki tangga dan menghampiri kami. Ya, seperti yang kau baca, dia benar memanggilku dengan embel-embel “-chan” padahal kan- argghh sudahlah. “Rin! Jangan membiarkan Luhan-chan menonjokmu! Kalau tangannya terluka bagaimana?” kami tidak memperdulikan omongan ibu yang justru membuatku sakit hati nantinya, disaat kami masih berdebat tentang siapa yang salah tiba-tiba ayah ikut menghampiri kami, “Hei Rin, aku pikir sedikit luka lebam di mata akan membuatmu makin keren saat main bisbol!”
Terimakasih ayah, aku akan membuat Rin lebam kok! Dimana saja boleh. Oh iya, itulah alasanku membenci Rin, dia menyebalkan. Selain itu, Rin juga sangat sempurna, nilainya bagus dan jago olahraga. Main basket bisa shoot 3 point, main bola 10 menit 2 gol, main bisbol bisa homerun dan lain lain. Sedangkan aku, hanya jago bermain sepak bola, itupun kalau hoki doang. Dan alasan terakhir aku membencinya-ah sulit diakui-karena dia ganteng. Bila dibandingkan dengannya, aku merasa seperti sayuran kering yang menempel di tutup bungkus mie cup yang sudah di seduh alias… tak berguna.


Ibu, maafkan aku, kau sudah memperingatkanku sesuatu yang benar adanya namun aku menyangkalnya, sungguh maaf. Padahal kemarin aku sudah memukul wajah Rin lebih dari 10 kali namun tidak menghasilkan bekas apapun! Pantas saja dia terlihat “damai” saat ingin kutonjok, kini yang ada tanganku justru sedikit memerah. Sedikit loh ya! Sedikit.
Pagi ini, kami menjalani hukuman akibat insiden kemarin pagi. Yaitu–ehm, persiapkan dirimu!-DILARANG PAKAI KAMAR MANDI UTAMA. Aku tidak mengerti apa maksudnya, tapi itu efektif menghukum kami yang kini sedang berada di kamar mandi kecil yang terletak di lantai dua berdua. Eits! Jangan berpikiran hal aneh, meskipun namanya kamar mandi namun pagi ini kami hanya menggunakannya untuk gosok gigi dan cuci muka, buat apa mandi? Yang penting aku sudah tampan dari lahir.
Aku melirik Rin diam-diam, dia sedang mendengus sambil menatap pisau cukurnya yang rusak. Baguslah rusak, aku iri dengannya yang bisa ditumbuhi kumis dan janggut. Haha! Sebenarnya pisau cukurnya rusak akibat kemarin baru saja kupakai untuk mengupas kulit wortel. Aku berdiri bersampingan–atau tepatnya berhimpitan-dengan Rin, badannya yang gagah membuatku merasa sempit apalagi begitu kami berebut memakai wastafel ataupun bayangan wajahku di cermin sengaja ditutupi oleh badannya. Omong-omong cermin disini awalnya adalah cermin kamarku, lalu kupindahkan begitu aku sadar bahwa memajang poster bola jauh lebih keren daripada menggantung cermin sebesar setengah pintu di kamarku.
“Turut berduka cita, Tuan Pisau Cukur. Semoga kekal di alam sana.” ucapku miris kemudian lari.
“Fujisaki Luhan, sialan!”


            Senin pagi yang indah, burung-burung berkicau merdu. Aku menaikki bus kota bersama Rin yang duduk di sampingku. Perkenalkan, namaku Fujisaki Luhan. Aku seorang siswa kelas 2 dari SMA Seirin, umurku 16 tahun, rambutku bermodel pantat-ayam supaya terlihat keren, dan dari namaku tentu kalian sudah menebak kalau aku tinggal di Jepang, tepatnya Tokyo, sebuah kota glamour yang harus bersyukur bahwa kota ini memiliki remaja tampan bebas narkoba sepertiku. Sadarkah kalian kalau namaku sedikit aneh? Yeah, hanya marga keluargaku yang Jepang-banget sedangkan nama panggilanku sedikit aneh, karena ini bukan Bahasa Jepang. Entah apa yang melimpungi pikiran ayahku sehabis menemani ibu yang lelah melahirkan. Nama Luhan berasal dari Bahasa Mandarin, kata ayah–dengan ekspresinya yang sungguh takjub dan berapi-api, aku tak bohong-Luhan berasal dari karakter “Lu” yang berarti “rusa kecil” dan “Han” yang berarti “sebelum subuh” –mungkin karena aku lahir sebelum subuh. Dan sebenarnya bukan hanya namaku yang aneh, nama Rin juga agak ganjil-ada apasih dengan orangtua kami?-, sebenarnya “Rin” lebih lumrah sebagai nama seorang gadis, tapi karena Rin yang memiliki nama itu, entah kenapa nama itu jadi sangat keren! Dulu kata ayah–dia masih memancarkan ekspresi yang sama-“Rin” berarti “iblis”. Oh Tuhan, tepat sekali! Dia MEMANG iblis, tapi itu jauh lebih keren daripada berarti rusa. Dan sebaliknya, dibandingkan nama Rin yang justru jadi keren, nama Luhan justru menjadi terlalu imut bagiku! Anak-anak cewek biasa memanggilku “Lulu” alasannya nama “Lulu” lebih familiar daripada “Luhan” dan ibu juga memanggilku “Luhan-chan” padahal embel-embel “-chan” biasa digunakan untuk anak kecil dan gadis saja. Aku hanya bisa mendengus, berhubung aku cowok, jadi mengomeli perempuan bukan sifatku.
Masih bersama Rin, kali ini aku berjalan menuju gerbang sekolah dan terpaksa pergi sekolah bersamanya karena kami satu sekolah dan dia juga merangkap sebagai kakak kelasku di kelas 3, sementara aku ada di kelas 2. Alasan lain adalah karena bila aku pergi bersamanya, Rin akan sok baik membayarkan ongkos naik bus. Begitu sampai di depan pagar sekolah, aku menatapnya dalam, dia menatapku dalam. Kami saling bertatapan. Mengacungkan jari kelingking bersama-sama kemudian saling mengaitkannya, “Setelah melewati pagar sekolah, lupakan tali persaudaraan!” kata kami dengan tegas mengucapkan ikrar sakral.
Kami kemudian lari dengan arah yang berlawanan, saling menjauhi agar… tidak dikira homo.
“Hei! Luhaan! Aku punya kabar tentang Kak Himeka!” langkah kakiku yang sedang berlari tiba-tiba berhenti dengan refleksnya begitu mendengar seorang cowok yang kulewati berkata seperti itu, kulirik dia dengan penuh harap, ternyata hanya si Takumi Usui, sobat karibku yang begitu menyebalkan-namun kadang dia berguna. “SUNGGUH?!” tanyaku dengan mata berbinar, tersenyum lebar, kemudian memegang kedua bahunya dengan erat mengharapkan jawaban jelas.
“Iya, serius. Besok saat pelajaran olahraga kelas 2-A dengan kelas 3-A akan duel match loh!” terangnya sambil menyebut kelas Himeka dan kelasku.
Berhubung aku ini cowok, jadi bukankah wajar bila aku sedang sangat menyukai seorang perempuan? Aku jadi mengingat kejadian pertama kali yang membuatku menyukai Himeka, atau lengkapnya Haruhi Himeka. Aku ingat saat itu Rin membawa beberapa temannya ke rumah termaksud Himeka-sial dia beruntung sekali bisa sekelas dengan wanita sesempurna itu. Pertemuan pertama kami terjadi ketika Himeka sedang di toilet rumahku dan kehabisan tisu toilet dan aku memberikannya tisu yang baru. Aku ingat ketika dia membuka pintu toilet dengan malu-malu kemudian menjulurkan lengannya kepadaku, tangan kami saling bersentuhan. Setelah itu, dia keluar kemudian berkata “Terimakasih~” dengan suara yang sangat manis dan pipi yang memerah. Romantis sekali.
 “Whoaaahh… kau ini siapa sih? Seseorang yang mirip Usui ya?” kataku dengan kegirangan sambil menggoyahkan bahunya dengan kencang dan penuh semangat, “Hei, Tuan Takumi! Pagi ini kau baik sekali, rumahmu baru saja tertimpa meteor ya?”
“Tapi omong-omong, Luhan, pertandingannya itu tanding basket.”
“SUNGGUUHH?!” tanyaku lagi dengan sangat semangat dan mungkin api-api yang kini memenuhi pupilku. Sampai akhirnya terdiam dan mencoba berpikir dengan steril, “Usui, aku tak jago main basket.”
Disaat aku berkata seperti itu, kusadari Usui sedang meletakan telapak tangan kanannya di puncak kepalaku kemudian dapat kurasakan usapan lembutnya, apakah dia sedang prihatin denganku? Baiklah aku hargai bentuk simpatinya. Namun tak lama kemudian, dia segera menyejajarkan telapak tangannya itu dari kepalaku-yang sedang menengadah memperhatikan rautnya-menuju puncak kepalanya, “Fujisaki Luhan, ternyata selama liburan musim panas, kau tidak tambah tinggi ya?” ujarnya sambil tersenyum lebar seolah itu adalah motivasi terbesar dalam hidup yang pernah dia berikan pada seseorang remaja berusia 16 tahun yang normal sepertiku, “Kau tadi bilang apa? Tidak jago main basket? Pantas kau tidak tinggi-tinggi.” timpalnya lagi yang sama-sama tidak memberi dampak positif apapun. Bagaimana mungkin iblis-neraka-dasar-terdalam-dengan-siksa-terpedih seperti dia dapat mengatakan hal seperti itu dengan senyum lebar yang tersimpul dengan sempurna berikut matanya yang menunjukan cahaya tulus? Oh, oke. Itu adalah senyuman memikat bila orang lain yang melihatnya, namun tak lain hanyalah seringaian menyeramkan bagiku.
“Takumi Usui, kau Takumi Usui. Tidak salah lagi.” kataku dengan datar.


Sepanjang hari ini, aku terlalu risau dan gelisah memikirkan hari esok. Belajar tidak tenang–aku salah membaca Fisika menjadi Matematika, padahal beda jauh-, mengacuhkan perkataan Usui–dia bilang mataku lucu seperti mata anak rusa, berhubung aku cowok jadi aku menganggapnya hinaan-, serta makan dengan tergesa–padahal entah kena hembusan apa Rin menraktirku makanan paling mahal di kantin. Parahnya selama seharian ini aku tidak melihat Himeka sedikitpun. Ujung hidungnya saja tidak, miris sekali. Akupun masih gugup untuk pelajaran olahraga besok, aku tidak bisa bermain basket. Terakhir kali main, bola basket sukses membuat kepalaku benjol.
Dan tanpa terasa, bel pulang berbunyi. Biasanya aku akan keluar kelas sambil berlari dan berloncat-loncat riang, tapi tidak kali ini. Aku menghabiskan waktu jam pelajaran terakhir dengan termenung sambil menengok keluar jendela, berharap siapa tau ada Himeka yang sedang membantu penjaga sekolah memotong rumput ataupun pengumuman mengubah duel match besok menjadi pertandingan DotA –game favoritku sepanjang masa yang membuat nilai logaritmaku anjlok. Kini aku juga masih termenung, bertopang dagu tanpa bergeming sedikitpun sementara tangan kiriku sedang memainkan pulpen berwarna hitamku–berhubung aku cowok, jadi aku tidak mau memiliki pulpen berwarna-warni. Usui mungkin menyadari kegelisahanku, wajarlah, dia adalah teman yang paling memahami dan dekat denganku meskipun kadang bersikap bodoh. Karena duduk tepat di belakangku, Usui berkali-kali menusuk punggungku dengan pulpennya, sampai sekarang.
“Hei, hei! Luhan! Kau marah padaku kan? Maaf sudah berkata matamu mirip anak rusa.” Ucap Usui sembari terus menerus menusuk punggungku. Aku menoleh kearahnya dengan tatapan seperti zombie dalam game Resident Evil. Kerja bagus Tuan Takumi, padahal aku baru saja memujimu sebagai orang yang paling memahamiku, “Tak apa, tidak usah dipikirkan lagi.”
“Luhan, aku akan meralatnya! Kau-kau-kau…” ucapnya dengan gugup padaku, “…kau, matamu sama sekali tidak mirip anak rusa. Matamu hanya mirip anak rusa jantan saja, kok!” ucapnya dengan lantang yang kini mendapatkan pandangan ganas dariku, “Jenius sekali, Takumi Usui. JENIUS.”
“Anu, permisi. Lulu-san…” tiba-tiba terdengar suara seorang gadis yang memanggil namaku berikut embel-embel sesopan “-san”, “HWAAAHHH!” aku dan Usui seketika berteriak serempak begitu menyadari bahwa kami bukan satu-satunya orang yang masih menghuni kelas ini. Dia menghampiriku, aku menatap gadis itu berikut juga seorang teman yang juga bersamanya dengan penasaran. Mereka berdua sama-sama membawa sebuah bungkusan yang entah isinya apa, namun aku dapat dengan sangat jelas mencium aroma cokelat dari sana. Aku melirik Usui sejenak, yang ternyata sedang membatu dengan mulutnya yang ternganga. Hei! Itu artinya Usui kagum padaku bukan? Dia kagum bahwa aku bisa dihampiri dua gadis yang akan memberiku cokelat.
Tanpa banyak berkata lagi, kedua gadis itu menyodorkan bungkusan yang mereka bawa ke arahku, aku meliriknya sebentar, kemudian tentunya segera mengambilnya. “Terimakasih, ya.” sebutku seiring dengan dua wajah gadis di hadapanku yang memerah bersamaan.
“Ternyata Lulu-san, beda ya kalau dilihat dari dekat.” ujar seseorang dari mereka yang disusul anggukan temannya.
“Bolehkah aku menyentuh kulitmu?” kata gadis satu yang kemudian kubalas anggukan kecil, diapun menyentuh kulit punggung tanganku dengan halus.
“Bolehkah aku mengelus rambutmu?” kata gadis dua yang tentunya juga kuperbolehkan, “Bo-boleh…” segera kurasakan tangan kecilnya yang sedang mengelus kepalaku dengan perlahan.
“Lulu-ssi, body lotion apa yang kau gunakan?”
“Lulu-ssi, conditioner apa yang kau pakai?”
“Apakah kau mengenakan lipbalm?”
“Apakah kau banyak mengonsumsi makanan bervitamin E, vitamin C, dan antioksidan?”
BAHASA APA YANG MEREKA GUNAKAN? Aku terdiam. Mereka bicara apa, aku tak paham sama sekali. Para gadis banyak tau istilah-istilah asing ya? Aku hanya tertunduk malu, daripada memaksa menjawab dan akhirnya salah.
“Luhan, sama sekali tidak memakai hal-hal seperti itu.” Oh Usui, kau dewa penyelamatku! Aku berjanji akan memberikanmu ice cream sundae! Aku tatap kembali kedua gadis itu dengan tatapan keren -berhubung aku ini cowok, perilaku menunduk malu tadi kuakui kurang keren. Mereka menunduk ala Jepang dihadapanku, menunjukan rasa hormat dan sopan santun mungkin juga berterimakasih karena sudah memperbolehkan mereka menyentuhku meskipun aku tak mengerti apa yang memotivasi mereka melakukannya. Tapi yang jelas, jujur saja, aku jauh lebih berterimakasih atas cokelat yang mereka berikan. Sebelum mereka beranjak pergi, aku memberanikan diri untuk bertanya demi menjawab rasa penasaranku. Sebelum sempat membuka mulut, Usui sudah memberiku kode untuk tidak usah berbuat apapun. Dia menggigit bibir bawahnya sambil menggelengkan kepala berikut dengan matanya yang terlihat cemas. Sedang apa sih dia? Aku tak peduli.
“Tunggu!” kedua gadis itu menghentikan langkahnya kemudian menatapku dengan penuh harap, “Tadi kalian berkata, aku berbeda kalau dilihat dari dekat. Apa maksudnya?” Usui terlihat frustasi, kini dia menenggelamkan seleruh wajahnya di atas meja, terlihat frustasi. Mereka tersenyum lebar, kemudian menjawab, “KARENA… KALAU DILIHAT DARI DEKAT LULU-SAN JAUH LEBIH MANIS!!”
‘Deg’ salah, maksudku, ‘Jleb’. Terasa ada sesuatu yang menikam jantungku dengan teramat dalam. Mereka telah pergi tanpa bertanggung jawab. Mulutku ternganga dengan sendirinya dan mataku mengeluarkan tatapan kosong sekosong-kosongnya. Nenek buyut? Kakek buyut? Saat ini aku ingin sekali menyusul kalian ke surga.
“Hei! Hei! Luhan, sadarlah! Luhan kau membuatku takut!” kurasakan tangan Usui yang menggoyangkan bahuku dengan keras serta merta memasang airmuka cemas yang menyedihkan itu. Apa yang kualami tadi bukanlah ilusi belaka. Aku dianggap manis. Image keren yang selama ini kubuat, justru diruntuhkan begitu saja dengan kata “manis”.
“Diam, Tamaki Usui. Aku… sudah melihat.. malaikat pencabut nyawa menghampiriku.”
“HIII! Luhan! Luhaaannn…! Luhan? Bila kau mati..”
“Ya?”
“Bila kau mati… PS4 mu untukku saja ya!” katanya. Aku seketika refleks menjitak kepalanya. Si bodoh ini! Benar-benar membuatku jengkel.


Angin sore berhembus dengan halus. Meniup rambutku dalam alunan kesejukannya. Untunglah kali ini aku sudah tersadarkan. Usui berada di sampingku, kami sedang menunggu kedatangan bus di halte. Baru kusadari, aku memiliki sebuah problematika terbesar dalam hidup yang lebih gawat dari global warming atau virus ebola sekalipun. AKU DIANGGAP MANIS. Kulitku halus, rambutku lembut, mataku berbinar, badanku langsing, tubuhku pendek, bibir tipisku berwarna merah muda, aku tidak bisa ditumbuhi kumis dan aku seorang adik dari Fujisaki Rin! -lupakan point terakhir. Jadi inilah alasannya, mengapa ibu masih memanggilku dengan embel-embel “–chan”, mengapa anak-anak cewek lebih suka memanggilku Lulu daripada Luhan, atau jangan-jangan alasan rasa prihatin Rin sehingga dia membayarkan ongkos busku setiap hari.
“Luhan, kau mau jus?” tiba-tiba tangan besar Usui menyodorkan sekaleng minuman ke dadaku. Di saat aku melamun barusan, ternyata dia menyempatkan diri membeli minuman di vending machine yang berada di belakang kami. Aku menerimanya dengan senang hati, “Mau.” Tangan Usui terasa besar sekali, lebih besar dari tanganku yang kurus.
Aku berpikir keras sambil menyeruput minuman kaleng yang diberikan Usui padaku. Besok adalah kesempatanku menunjukan diri pada Himeka. Bila aku tidak mengubah diri sama sekali, bagaimana bisa dia menganggapku spesial? Aku harus bertekad, aku harus berhasil dianggap keren oleh semua orang. Aku kan bukan anak kecil yang patut dibilang manis! Umurku sudah 16 tahun, aku mungkin sudah boleh memiliki SIM untuk menyetir truk tronton. Aku menelan ludah kemudian mempersiapkan mental untuk berbicara, melirik Usui perlahan dan berkata dengan lirih, “Tuan Tamaki, jadilah guruku!”
“Hah?” tanyanya dengan wajah bingung, meminta pengulangan dari kata-kataku. Aku menelan ludah, melepaskan berbagai harga diri yang terpaut dalam tubuhku kemudian segera membungkuk 90 derajat tepat di hadapannya, “TAKUMI USUI, JADILAH GURUKU!”
Aku segera menegapkan tubuh. Usui membentuk eye-smilenya, dia tersenyum. Tersenyum lebar. Memberi secercah harapan dalam diriku. Mataku yang sudah berbinar, makin berbinar lagi. Dia menatapku dalam lalu memegang kedua bahuku dengan erat. Aku menggigit bibir bawahku menunggu pelajaran yang akan dia ucapkan. Masih dalam simpulan senyumnya, dia membuka mulut dan berkata, “GAK AH~” diliputi nada riang.
Ya Tuhan. Sekilas, aku bersyukur tak salah telah menganggapnya bodoh sedari tahun pertama di SMA. Selepas itu, Usui telah membuatku frustasi, aku berjongkok dan menatap ke arah tanah kemudian melirik semut-semut yang masuk ke lubangnya sambil membawa remahan roti diatas otot tubuh mereka yang kuat. Wahai Tuan Semut, apakah kalian memiliki hormon testosteron yang bekerja dengan baik?


“Tuan Takumi, aku tidak sedang memintamu mengajariku trik mengambil jus secara gratis dari vending machine.”
“Ohh… lalu? Kau ingin aku ambilkan rasa lain?”


Hai! Aku Fujisaki Luhan! Seorang pria yang sudah tampan sejak lahir, memiliki tinggi 180 minus 15 cm, menyukai sepak bola dan Haruhi Himeka. Eh? Mengapa aku memperkenalkan diri dari lagi? Karena, hari ini aku berpenampilan sangat keren, bisa dibilang keren kuadrat ataupun keren kubik dari penampilanku yang biasanya. Aku mencatat semua perkataan Usui yang nyaris tanpa spasi:
“Fujisaki Luhan, coba pakai gel rambut untuk menaikan rambutmu agar kau terlihat tinggi. Pakai sunblock agar kulitmu tidak memerah. Pakai juga sepatu sport yang solnya tinggi. Oh iya, matamu juga terlalu halus, pakai contact lens warna onyx bagaimana? Jangan lupa, jangan pernah merunduk saat kau merasa malu. Tersenyumlah sambil menunjukan gigi-gigimu, kau terlalu terlihat manis saat tersenyum menunjukan lesung pipitmu. Ayo! Latihan basket untuk besookk!”
Kuakui, aku mengikuti SEMUA saran Usui dan beragam saran untuk bersikap keren. Hasilnya? Ibuku tidak memanggilku dengan embel-embel “-chan”,  tadi pagi Rin jaga jarak denganku–mungkin takut kalah ganteng-, para perempuan di kelasku berkali-kali melirikku dengan kagum dan satu lagi yang terpenting gadis terpenting dalam kehidupan SMAku, Haruhi Himeka tersenyum padaku.
Saat ini kelas kami, beserta kelas 3-A telah berkumpul di lapangan belakang sekolah untuk melakukan duel match olahraga basket. Cuaca cerah dan terik melingkupi kami, untunglah aku memakai sunblock -anehnya ibu malah memberikanku syal karena yakin cuaca hari ini tidak bagus, tapi sepertinya mustahil. Pertandingan telah usai, tentu saja kelas kami tidak menang kalau dibandingkan dengan anak-anak kelas 3-A semacam Rin. Meski begitu, Pak Guru memuji permainan kelas kami. Walaupun peluit tanda pertandingan berakhir telah dibunyikan, para pemain termaksud aku dan Usui masih berada di lapangan. Sedikit berbincang, menangkap air mineral yang dilemparkan teman-teman sekelas kepada kami, iseng melempar bola ke ring dan hal lainnya.
Aku melirik Himeka. Cantik sekali. Rambut ponytail hitamnya, mata sayunya, dan bibir manisnya, membuatku terpukau. Rasanya seperti menonton video slowmotion disaat aku menatap setiap detik geriknya. Disaat aku masih melihatnya, dia menatapku kembali kemudian melambaikan tangan sambil berkata “Selamat~” dengan lucu, yang tentu saja langsung ku balas lambaiannya tinggi tinggi dengan riang.
“AWAAASSS!” suara Usui menggelegar di telingaku, mengalihkan pandanganku yang sedang asik berbincang isyarat tanpa kata-kata dengan Himeka. Dasar, perusak kesenangan orang lain. Kulihat sebuah bola basket yang meluncur dengan cepat. Usui menarik tubuhku dari tempatku berdiri, dia menggeserku sehingga aku tepat berada di depannya. Sebelum berhasil membayangkan bagaimana rasanya bila bola itu menubruk tulang hidung orang, aku sudah mengenainya terlebih dulu.
“SSAAAKKIIITTT!!” pekikku. Meneriaki Usui yang dengan segala tipu muslihatnya yang keji justru menjadikanku tameng.
“Eh? Maaf ya, refleks manusia! Hampir saja aku kena.” balasnya dengan polos.


Giliranku membeli 2 kotak minuman untukku dan Usui, aku membelikan diriku sekotak kopi –agar terlihat manly- dan membelikan Usui susu stroberi –agar terlihat tak manly. Sudah kuduga, dia menagih balasan atas minuman yang kemarin dia berikan padaku. Menyebalkan. Oh iya, untuk luka hasil dari insiden bola basket tadi, dia bertanggung jawab. Usui menempelkan 2 plester luka di tulang hidung dan keningku yang sedikit memar dan terluka. Disaat aku berjalan menuju lapangan lagi, untuk menonton pertandingan lainnya. Kusadari sesosok Himeka kini berada di hadapanku, dia terduduk di kursi panjang yang berada di bawah pohon beringin sekolah. Terlihat dirinya yang menikmati hembusan angin, memejamkan mata sambil bernafas dalam merasakan udara disekitarnya. Aku mendekatinya, berusaha menyapanya untuk alasan kesopanan –sekaligus modus juga.
“Kak Hime, tidak ikut menonton?” ucapku tipis. Seperti yang kalian lihat, aku memanggilnya “Hime” bukan “Himeka” karena begitulah caraku memujinya, “Hime” berasal dari kata “Ohime” yang berarti “Tuan Putri”, indah kan? Tapi sayang, aku rasa dia tak menyadarinya. Kutatap caranya perlahan membuka mata, kemudian tersenyum tipis ketika melihatku dihadapannya, “Tidak, aku sudah menonton apa yang ingin kutonton.”
“Oh, begitu…” ucapku datar tak berani menatap matanya lagi, bahkan tak sanggup mencerna kata-kata yang terucap olehnya. Tanpa sadar, aku menyodorkan susu stroberiku yang seharusnya menjadi jatah Usui kepada Himeka, “Mau?”
“Terimakasih.” katanya kemudian mengambilnya, menusukan sedotan dan meminumnya, “Luhan suka susu?” tanyanya yang disertai anggukanku. Aku tidak mengerti mengapa aku malah mengangguk, mungkin mengucapkan kata “ya” terlalu berat sampai-sampai membuat bibirku beku apabila kukatakan padanya. Lagipula, siapa yang tidak suka susu? Satu-satunya yang kutahu tidak menyukai susu adalah anjing Rin yang tewas satu tahun lalu akibat diare berat.
“Berarti benar.” Himeka menundukkan kepalanya dengan gugup.
“Benar apa?” tanyaku penasaran.
“Bukan apa apa..” lanjutnya, “Habisnya Luhan sangat lucu!” dia tersenyum lebar padaku dengan nada suara yang begitu tercantol di otakku. Ya tuhan, aku rasa aku harus segera pergi dari tempat ini sebelum aku mati konyol akibat gadis manis ini dan ambulans rumah sakit terdekat menggiringku ke UGD, “Kak Hime, aku duluan.”
“Oke, sampai ketemu.” ucapnya yang tak mampu kubalas lagi berikut kedua tanganku yang sudah bergetar ini. Bodohnya aku, kenapa malah tidak bersikap manly di saat tidak tepat? Namun sebelum sempat melangkah lebih jauh lagi, sebuah pertanyaan terbesit di benakku, membuatku membalikan badan kembali, menegapkan tubuh dan bertanya dengan sungguh-sungguh padanya. Pada Himeka. Orang yang membuatku rela berkorban melakukan semua hal yang membuatku terlihat manly.
“Kak Hime! Apa ada sesuatu yang berubah dari diriku?” tanyaku dengan tegas dihadapan wajah cantiknya. Menatapnya dalam. Berharap dia mengetahui segala jerih payah yang kulakukan.
“Hmmm…” kulihat wajahnya yang sedang berusaha berpikir, manis sekali. Tunggu, sudah berapa kali sih aku menyebutnya manis?
“Tidak ada, sama sekali tak berbeda.” ujarnya singkat. Kuubah senyuman harapanku menjadi sebuah wajah kaku. Mengerti bagaimana rasanya? Sakit sekali, lebih sakit daripada menyadari biskuitmu jatuh ke dasar gelas ketika kau mencelupkannya ke dalam teh. Himeka kenapa? Apa dia terlalu lelah? Mungkin dia lapar? Atau dia butuh donor ginjal?–tidak, sepertinya tidak!. Aku alihkan langkahku pergi dari Himeka, “DAH!” ucapku mengatakan salam yang begitu singkat. Bisa-bisanya, orang yang ingin kutunjukan padanya betapa besar usahaku agar membuatnya terpincut denganku, malah sama sekali tak menyadarinya.
Aku merasa kesal. Aku merasa bodoh.
Aku merasa benar-benar bodoh.
Sangat bodoh.
Dan akhirnya, langkahku berubah begitu saja. Sekotak kopi yang kupegang tadi sudah berubah menjadi sampah akibat kuremas-remas demi menumpahkan kekesalanku. Kini aku mencuci tanganku sekaligus membasuhi wajahku yang merasa kepanasan sekalipun sudah memakai sunblock di toilet pria. Untuk apa kugunakan contact lense onyx yang tidak nyaman? Sunblock yang lengket di kulit? Gel rambut dengan aroma yang tak kusukai? Sepatu sport yang akhirnya membuat langkahku berat? Kalau semua ini akhirnya sia-sia.
Kutatap cermin yang merefleksikan bayangan wajahku, yang kurasa tidak seperti aku walaupun terlihat lebih keren dari aku yang biasanya. Memandang wajah kesal di cermin, berhubung aku ini cowok jadi mustahil bagiku untuk menangis. Merasakan dinginnya air, mungkin sudah membuat kemarahanku sedikit teratasi.
TUNGGU…
Aku makin memandangi wajahku di cermin. Bukan, bukan! Bukan karena aku baru sadar betapa tampannya diriku. Namun, ada yang aneh dari wajahku. Tepatnya, ada yang aneh dari 2 plester luka yang tertempel di wajahku. Yang baru saja beberapa menit lalu Usui tempelkan. Kulihat lebih jeli, terdapat goresan tulisan dari spidol hitam yang tertulis di permukaannya.
‘Luhan bego’
‘Luhan suka Himeka’
TTTAAAKKKUUUMIII USSSSSUUUII!!!


“AW!” ucap Usui begitu aku berhasil menemukannya yang sedang disuruh untuk membereskan bola basket di ruang olahraga, berhasil juga kulemparkan sebuah bola hingga mengenai kepala batunya, “Balasan untuk yang tadi!” kataku. Dia menolehkan kepala ke arahku, mengumbar senyum dan menyapaku dengan ramah, “Eh Luhan.. lho? Kok plester lukanya dilepas?”
“Jangan bercanda. Kau, tindakanmu tidak lucu!” ujarku dengan berat, menekan suaraku agar tak berteriak membentaknya sekaligus memasang wajah seriusku. Aku marah. Memikirkan apa yang Himeka pikirkan tentangku hanya karena plester bodoh itu. Pantas saja dia menyebutku “lucu” aku kira itu pujian, ternyata tak lebih dari menanggapi lelucon Usui, bukan?
“HAHAHA, Kau menyadarinya-“ sebelum dia tertawa lebih banyak lagi, aku berjalan menghampiri Usui. Menatapnya dengan tajam, berusaha memberitahunya kalau ini bukan main-main, “Seharusnya aku tidak usah mengikuti segala saranmu.” kalimat itu keluar begitu saja dari bibirku, tanpa kusadari. Kupandang air muka Usui yang berubah dingin, “Itu kan, kau yang memintanya!”
Aku sadar, aku menyakitinya. Namun mulutku masih tak bisa diajak diam. “HIME! Tapi- Kak HIMEKA!! Himeka tak tampak menyukainya. Kau membuatku terlihat bodoh di hadapannya!”
“Kenapa kau jadi aneh? Kau siapa? Seseorang yang mirip Fujisaki Luhan ya?” dia mendekatiku, menatapku jijik kemudian mendorong dadaku.
“Bodoh! Apa aku salah kalau menjadi keren dihadapan orang yang kusukai!!”
“Fujisaki Luhan yang kukenal, tidak memaksakan dirinya seperti ini. Berapa kalipun aku mengejekmu manis ataupun pendek, bukan berarti aku bilang kalau manis itu kelemahan kan? Memangnya apa yang salah dengan cowok menggemaskan? Tidak akan dipenjarakan juga.”
Aku terdiam. Tak bisa berkata lagi.
“Huh. Setidaknya itu lebih baik daripada menjadi orang lain yang bukan dirimu.”
Inilah Usui, masih dengan kalimatnya yang tajam dan hampir selalu benar. Aku sudah melakukan hal tak benar, ini bukan hal yang tepat untuk dilakukan. Aku menundukan kepala, menyadari kesalahan dan berkata dengan lirih, “Maaf.” kemudian mendapati sebuah kepalan tangan yang menghantam bahuku, berusaha memberiku semangat. “Aku tak marah. Aku bisa menebak ekspresi apa yang ada di matamu saat ini bila kau tak memakai contact lens. Kejar dia.”


‘Hatchih!’
Sulit dipercaya. Setelah sedikit bertengkar karena hal bodoh dan Usui yang mendadak memberi semangat serta khotbah selama hampir 30 menit, seharian itu aku tidak melihat Himeka lagi. Kini aku melangkah sendiri menyusuri jalan menuju rumah. Diliputi dengan cuaca mendung dan angin dingin, serta aku yang sedikit pulang telat akibat permainan aneh Usui yang membuatku menghirup lada–karena kalah bermain Get Rich-dan membuatku masih bersin-bersin sampai sekarang.
‘Hatchih!’
Apa kabar Himeka? Entahlah. Tapi, aku sudah melepas segala penampilan yang membuatku tak nyaman. Aku merasa lebih baik sekarang.
‘HATCHIH!’
“KAU BERSIN JUGA???” tanyaku ketika menyadari seseorang yang berpapasan denganku juga bersin disaat yang sama, dan ternyata kami juga melontarkan pertanyaan yang sama bersamaan. Aku meliriknya, dia juga melirikku. Kami menghentikan langkah sejenak. “Kak Hime!/Luhan!” sebut kami berbarengan. Tak lama, kami tersadar dan suasana menjadi agak canggung. “Kakak, habis darimana?” tanyaku iseng. “Dari suatu tempat.” Balasnya dengan tak lupa memberikan senyuman. Tetapi senyumannya terlihat sedikit berbeda dan agak kaku daripada tadi pagi, “Luhan, kau membenciku?”
“Ti-tid-tidak.” Ucapku pelan dan sedikit gemetar. Aku lupa meminta maaf padanya, atas perilakuku yang terlalu gegabah, “Maaf.”
“Ini bukan salahmu, seharusnya aku yang-“ Himeka terdiam, menghentikan kalimatnya. Akupun tak ingin membiarkannya bicara lebih banyak lagi, tak tega melihatnya meminta maaf dan merasa bersalah karenaku. Dia menatapku dalam, aku tak peduli karena aku merasa melakukan hal yang benar. Aku mengalungkan syal yang ibu berikan padaku sebelum berangkat sekolah tadi di lehernya yang terlihat kedinginan. Masa bodo dengan tubuhnya yang tinggi dan membuatku tidak terlihat keren karena sampai berjinjit untuk melakukannya. Aku mencintai Himeka, aku berusaha membuatnya nyaman dan aman. “Seorang gadis harusnya sampai rumah sebelum gelap, iyakan Kak?” ucapku dengan senang hati padanya. Aku takut hujan dingin akan menimpanya sebelum sampai rumah, kalau aku sih rumahku sudah dekat dari sini.
“Fujisaki Luhan, terimakasih.” dapat kudengar suara halus Himeka, kemudian tanpa kuduga dia mencium pipiku dengan lembutnya. Kemudian berlari menjauh dan melambaikan tangan sebagai salam sampai ketemu. Aku hanya terdiam dan membatu. Tak mengira hal seperti ini terjadi.
Aku… tidak akan… mencuci muka selama seminggu.
“Fujisaki Luhaaannn!!” panggilnya setengah berteriak agar aku bisa mendengarnya. Oh Himeka, sejauh apapun kau aku yakin pasti masih bisa mendengar suara lucumu itu. “Periksalah isi kulkasmu!!!”
‘DEG’
Apa artinya ini? Himeka mengetahui isi kulkasku? Himeka mengetahui kalau setiap akhir bulan ibu suka beli cheese cake? Atau aku kembali salah meletakkan sepatu di freezer karena frustasi nilai Kimia yang rendah? Hm, apakah- Ya Tuhan! Bodohnya diriku. Ah aku terlalu naïf, aku menganggap pertemuan ini sebagai kebetulan. Memangnya kota Tokyo hanya sebesar panggung AKB48? Sebelum aku memikirkan beragam hal bodoh tak masuk akal lainnya, aku segera berlari dengan cepat. Sangat cepat. Menuju rumah secepatnya.


“Luhan? Kok pulang telat? Padahal tadi Himeka-“
“AKU TAHU!” kataku memotong ucapan Rin yang entah kenapa malah sedang memberi makan ikan di depan pintu masuk. Aku membuka sepatu beserta kaus kakinya, berlari melewati semua ruangan sampai-sampai menjatuhkan kalender dinding dan kelingking kakiku menubruk kaki meja. SAAKKITT. Meski begitu, aku akhirnya berhasil memegang daun pintu kulkas kemudian membukanya dengan penuh harap.
Terlihat sebuah pudding susu yang tertata rapih di atas loyang dan terbungkus dengan kotak plastik bening. Tak lupa, ada sebuah nota berwarna kuning yang tertempel di bungkus plastiknya yang kubaca sambil tersenyum disertai perasaan geli di perutku yang kini membuatku berguling-guling sambil tertawa kegirangan di lantai.
“Tidak ada yang berubah dari Luhan. Sama sekali tidak ada.
Karena kau selalu terlihat tampan bagiku. Aku suka Fujisaki Luhan.
-Haruhi Himeka”
Untuk sesaat, aku tak menyesal lahir di Jepang dengan budaya dimana cewek yang harus “menembak duluan” dan juga untuk sesaat aku tak merutukki nasibku dimana lebih terlihat manis dibandingkan keren.
Bodohnya aku. Haruhi Himeka, terima kasih. Berhubung aku ini cowok, jadi tak kusangka pemikiranku sebagai cowok salah mengenai menjadi laki-laki yang dicintai perempuan. “Suka” tidak butuh gel rambut untuk membuatmu lebih ganteng. “Suka” juga tidak memilih keren atau manis, bukan?  Rasanya senang sekali sampai-sampai tidak tega memakannya. Tak lama, Rin menghampiri kulkas untuk mengambil air. Dia mendelikkan matanya, melirikku yang masih tertawa sambil memegangi perut dengan tajam, “IBU, LUHAN SAKIT JIWA!”

Karya  Siti Nur Khodijah.
X IIS 5

0 comments:

Posting Komentar

Hubungi kami :

Twitter : @APAksara

Email : apaksara3@gmail.com

HP : 085773226995

Instagram: kapas3.aksara

Twitter

Translator