Bel sekolah akhirnya
berdering. Murid-murid terlihat beramai-ramai keluar kelas. Di antara hiruk
pikuk sekolah, terlihat empat murid sedang membicarakan sesuatu di pinggir
lapangan.
“Ah, masa libur
panjang kita tidak pergi ke mana-mana!”, keluh Ricky, salah seorang dari
keempat murid itu.
“Hmm bagaimana kalau
menginap di rumahku?”, sahut Darma.
“Ide bagus!”, ujar Nizam dan Faiz.
“Kita kan sekarang
sulit bertemu, paling kita hanya ketemu saat istirahat di kantin dan saat
pulang sekolah, makanya kita harus manfaatkan libur ini.”, ujar Ricky.
“Benar tuh !”, sahut
Darma
Mereka
sudah bersahabat sejak SMP. Mereka saling kenal karena sempat sekelas saat SMP.
Namun saat ini di SMA, mereka tidak satu kelas lagi. Apalagi mereka sibuk
dengan tugas-tugas sekolah. Maka dari itu mereka jarang bertemu walaupun berada
di dalam satu lingkungan sekolah. Tetapi tidak pernah terlintas dalam pikiran
mereka untuk melupakan satu sama lain. Mereka selalu meluangkan waktu walaupun
hanya sebentar saja untuk berkumpul disela-sela kesibukkan sehari-hari.
Langit
sudah berubah warna menjadi jingga. Sang Raja Siang sudah hampir tidak
menampakkan dirinya lagi. Sekolah pun akhirnya sepi. Keempat sahabat itu juga
pulang ke rummah mereka masing-masing. Keesokan harinnya, mereka bersiap-siap
untuk berkumpul ke rumah darma. Darma sudah menyiapkan tempat tidur untuk
teman-temannya. Ibunya juga sudah membuatkan roti bakar untuk teman-teman
Darma, namun ketiga sahabatnya tak kunjung datang.
“Katanya
teman-temanmu mau menginap di sini, Dar. Kok jam segini belum ada yang datang?",
”anya ibu Darma.
“Iya Bu, katanya sih
mereka mau berangkat sama-sama. Mungkin mereka kesiangan.”, ujar Darma.
Beberapa menit
kemuadian, terdengar suara deru mesin mobil di depan rumah darma disusul dengan
suara ketiga temannya memanggil Darma.
“Itu mereka, Bu!”,
seru Darma. Tanpa berlama-lama, Darma langsung melesat menuju ke halaman
rumahnya. Ketiga temannya terlihat berdiri di depan pagar rumah Darma, di dalam
mobil terlihat Ibunya Ricky.
“Ayo masuk !”, ujar
Darma kepada teman-temannya. Sementara mereka berempat masuk rumah, ibu Darma
mengobrol dengan ibu Ricky di halaman rumah.
“Kalian sudah sarapan
belum?” Ibuku sudah membuatkan roti bakar untuk kalian”, kata Darma.
“Aduh jadi merepotkan
nih, Dar”, sahut Ricky. “Aku sudah sarapan kok”, lanjutnya.
“Ah bohong, perut
besarmu biasanya masih kuat menampung makanan tuh”, sindir Faiz. Nizam dan
Darma tertawa terbahak-bahak.
Tidak terasa mereka
sudah hampir menghabiskan satu hari di rumah Darma. Mereka sudah bersiap untuk
tidur. Sementara itu, Nizam terlihat sedang memikirkan sesuatu. Ketika yang
lain hampir memejamkan matanya, Nizam malah membangunkan mereka.
“Eh eh, sebentar
jangan tidur dulu !”, ujar Nizam
“Ada apa sih
memangnya?”, tanya Ricky
“Entahlah, aku sedang
tidak bisa tidur.”, balas Nizam. “Aku punya ide cemerlang !”, lanjutnya.
“Ide apa?”, tanya
Darma.
“Dalam beberapa tahun
ke depan kita kan tidak bisa menjamin kalau nanti kita akan kuliah dalam satu
universitas atau bekerja dalam satu perusahaan, nah bagaimana kalau kita
tentukan tempat dan waktu untuk berkumpul 15 tahun ke depan setelah kita lulus SMA tanpa
harus mengingatkan satu sama lain, untuk membuktikan saja kalau masih ingat
persahabatan kita berempat”, ujar Nizam
“Wow, ide mu keren
juga”, takjub Faiz
“Tapi di mana dan
kapan ?”, tanya Darma
“Nah coba kalian
pikirkan tempat yang cocok untuk berkumpul”, ujar Nizam
“Bagaimana kalau di
restoran di suatu mall ?”, sahut Darma
“Itu mah biasa, bagaimana
kalau di puncak?”, balas Ricky
“Bagaimana kalau kita
bertemu di toilet dalam suatu mall?”, saran Faiz
“Itu tidak lucu
Faiz....”, ujar Nizam. “Bagaimana kalau tanggal 1 Januari di taman dekat
rumahku, tempat kita biasa berkumpul itu lhoo”, lanjut Nizam
“Setuju !”, balas
ketiganya.
“Catat ya, jangan
sampai terlupakan !”, ujar Nizam
Hari
demi hari berlalu. Tidak terasa akhirnya mereka lulus SMA dan masuk ke
universitas. Namun tidak ada salah satu dari mereka yang berkuliah di
universitas yang sama. Ada yang memilih untuk berkuliah di luar negeri, ada
pula yang melanjutkan kuliah di negeri sendiri. Beberapa tahun kemudian, mereka
akhirnya masuk dalam dunia kerja. Setelah 15 tahun mereka lewati, mereka
melakukan kesalahan. Ada sesuatu yang mereka lupakan. Ya, perjanjian untuk
bertemu kambali.
Dalam
keramaian di suatu mall, terlihat pria bertubuh gemuk menggunakan kemeja sedang
sibuk menelepon sambil berjalan ke arah toilet.
“Ya.
Iya, Pak. Akan segera saya kirim. Ya. Terima kasih.”, terdengar percakapannya
dalam telepon. Pria itu masuk ke dalam toilet lalu bergegas masuk ke dalam WC. Sementara terlihat
dua orang pria mengenakan jas hitam dengan dasi rapi sedang mencuci tangan
mereka di wastafel.
Ketika
pria yang satu melihat wajah pria di sebelahnya yang sedang mencuci tangan, ia
terkejut.
“Darma !”, seru pria
itu.
“Hey! kau Faiz ya ?”,
balasnya
Mereka
langsung menjabat tangan lalu
berpelukan.
“Apa kabarmu, Dar?
Haha sudah lama sekali kita tidak bertemu!”, ujar Faiz
Tiba-tiba seorang
pria tinggi berpakaian kerja merangkul mereka dari belakang
“Apakah kalian masih
ingat aku? Aku Nizam!”, ujar pria itu
“Nizam !”, seru Darma
dan Faiz
Mendengar percakapan
itu pria gemuk tadi langsung keluar dari WC.
“Ricky ! Kau kah
itu?” ujar Darma
“Ah akhirnya kita
bertemu setelah sekian lamanya! Aku lupa dengan janji yang kita buat waktu
itu”, balas Ricky sambil menjabat tangan mereka
“Apa yang aku katakan
benar kan?”, ujar Faiz “Kita akan bertemu di dalam toilet di suatu mall!”,
lanjutnya
Mereka diam sejenak
lalu tertawa terbahak-bahak
Oleh: M. Fauzan Noor (X MIA 6)
0 comments:
Posting Komentar