Jumat, 31 Oktober 2014

15 Tahun Kemudian




Bel sekolah akhirnya berdering. Murid-murid terlihat beramai-ramai keluar kelas. Di antara hiruk pikuk sekolah, terlihat empat murid sedang membicarakan sesuatu di pinggir lapangan.
“Ah, masa libur panjang kita tidak pergi ke mana-mana!”, keluh Ricky, salah seorang dari keempat murid itu.
“Hmm bagaimana kalau menginap di rumahku?”, sahut Darma.
 “Ide bagus!”, ujar Nizam dan Faiz.
“Kita kan sekarang sulit bertemu, paling kita hanya ketemu saat istirahat di kantin dan saat pulang sekolah, makanya kita harus manfaatkan libur ini.”, ujar Ricky.
“Benar tuh !”, sahut Darma

Mereka sudah bersahabat sejak SMP. Mereka saling kenal karena sempat sekelas saat SMP. Namun saat ini di SMA, mereka tidak satu kelas lagi. Apalagi mereka sibuk dengan tugas-tugas sekolah. Maka dari itu mereka jarang bertemu walaupun berada di dalam satu lingkungan sekolah. Tetapi tidak pernah terlintas dalam pikiran mereka untuk melupakan satu sama lain. Mereka selalu meluangkan waktu walaupun hanya sebentar saja untuk berkumpul disela-sela kesibukkan sehari-hari.
Langit sudah berubah warna menjadi jingga. Sang Raja Siang sudah hampir tidak menampakkan dirinya lagi. Sekolah pun akhirnya sepi. Keempat sahabat itu juga pulang ke rummah mereka masing-masing. Keesokan harinnya, mereka bersiap-siap untuk berkumpul ke rumah darma. Darma sudah menyiapkan tempat tidur untuk teman-temannya. Ibunya juga sudah membuatkan roti bakar untuk teman-teman Darma, namun ketiga sahabatnya tak kunjung datang.
“Katanya teman-temanmu mau menginap di sini, Dar. Kok jam segini belum ada yang datang?", ”anya ibu Darma.
“Iya Bu, katanya sih mereka mau berangkat sama-sama. Mungkin mereka kesiangan.”, ujar Darma.
Beberapa menit kemuadian, terdengar suara deru mesin mobil di depan rumah darma disusul dengan suara ketiga temannya memanggil Darma.
“Itu mereka, Bu!”, seru Darma. Tanpa berlama-lama, Darma langsung melesat menuju ke halaman rumahnya. Ketiga temannya terlihat berdiri di depan pagar rumah Darma, di dalam mobil terlihat Ibunya Ricky.
“Ayo masuk !”, ujar Darma kepada teman-temannya. Sementara mereka berempat masuk rumah, ibu Darma mengobrol dengan ibu Ricky di halaman rumah.
“Kalian sudah sarapan belum?” Ibuku sudah membuatkan roti bakar untuk kalian”, kata Darma.
“Aduh jadi merepotkan nih, Dar”, sahut Ricky. “Aku sudah sarapan kok”, lanjutnya.
“Ah bohong, perut besarmu biasanya masih kuat menampung makanan tuh”, sindir Faiz. Nizam dan Darma tertawa terbahak-bahak.
Tidak terasa mereka sudah hampir menghabiskan satu hari di rumah Darma. Mereka sudah bersiap untuk tidur. Sementara itu, Nizam terlihat sedang memikirkan sesuatu. Ketika yang lain hampir memejamkan matanya, Nizam malah membangunkan mereka.
“Eh eh, sebentar jangan tidur dulu !”, ujar Nizam
“Ada apa sih memangnya?”, tanya Ricky
“Entahlah, aku sedang tidak bisa tidur.”, balas Nizam. “Aku punya ide cemerlang !”, lanjutnya.
“Ide apa?”, tanya Darma.
“Dalam beberapa tahun ke depan kita kan tidak bisa menjamin kalau nanti kita akan kuliah dalam satu universitas atau bekerja dalam satu perusahaan, nah bagaimana kalau kita tentukan tempat dan waktu untuk berkumpul 15  tahun ke depan setelah kita lulus SMA tanpa harus mengingatkan satu sama lain, untuk membuktikan saja kalau masih ingat persahabatan kita berempat”, ujar Nizam
“Wow, ide mu keren juga”, takjub Faiz
“Tapi di mana dan kapan ?”, tanya Darma
“Nah coba kalian pikirkan tempat yang cocok untuk berkumpul”, ujar Nizam
“Bagaimana kalau di restoran di suatu mall ?”, sahut Darma
“Itu mah biasa, bagaimana kalau di puncak?”, balas Ricky
“Bagaimana kalau kita bertemu di toilet dalam suatu mall?”, saran Faiz
“Itu tidak lucu Faiz....”, ujar Nizam. “Bagaimana kalau tanggal 1 Januari di taman dekat rumahku, tempat kita biasa berkumpul itu lhoo”, lanjut Nizam
“Setuju !”, balas ketiganya.
“Catat ya, jangan sampai terlupakan !”, ujar Nizam
Hari demi hari berlalu. Tidak terasa akhirnya mereka lulus SMA dan masuk ke universitas. Namun tidak ada salah satu dari mereka yang berkuliah di universitas yang sama. Ada yang memilih untuk berkuliah di luar negeri, ada pula yang melanjutkan kuliah di negeri sendiri. Beberapa tahun kemudian, mereka akhirnya masuk dalam dunia kerja. Setelah 15 tahun mereka lewati, mereka melakukan kesalahan. Ada sesuatu yang mereka lupakan. Ya, perjanjian untuk bertemu kambali.
Dalam keramaian di suatu mall, terlihat pria bertubuh gemuk menggunakan kemeja sedang sibuk menelepon sambil berjalan ke arah toilet.
“Ya. Iya, Pak. Akan segera saya kirim. Ya. Terima kasih.”, terdengar percakapannya dalam telepon. Pria itu masuk ke dalam toilet lalu  bergegas masuk ke dalam WC. Sementara terlihat dua orang pria mengenakan jas hitam dengan dasi rapi sedang mencuci tangan mereka di wastafel.
Ketika pria yang satu melihat wajah pria di sebelahnya yang sedang mencuci tangan, ia terkejut.
“Darma !”, seru pria itu.
“Hey! kau Faiz ya ?”, balasnya
Mereka langsung menjabat  tangan lalu berpelukan.
“Apa kabarmu, Dar? Haha sudah lama sekali kita tidak bertemu!”, ujar Faiz
Tiba-tiba seorang pria tinggi berpakaian kerja merangkul mereka dari belakang
“Apakah kalian masih ingat aku? Aku Nizam!”, ujar pria itu
“Nizam !”, seru Darma dan Faiz
Mendengar percakapan itu pria gemuk tadi langsung keluar dari WC.
“Ricky ! Kau kah itu?” ujar Darma
“Ah akhirnya kita bertemu setelah sekian lamanya! Aku lupa dengan janji yang kita buat waktu itu”, balas Ricky sambil menjabat tangan mereka
“Apa yang aku katakan benar kan?”, ujar Faiz “Kita akan bertemu di dalam toilet di suatu mall!”, lanjutnya
Mereka diam sejenak lalu tertawa terbahak-bahak


 

Oleh: M. Fauzan Noor (X MIA 6)


0 comments:

Posting Komentar

Hubungi kami :

Twitter : @APAksara

Email : apaksara3@gmail.com

HP : 085773226995

Instagram: kapas3.aksara

Twitter

Translator