Angin
laut bertiup melewati sela-sela rambutku. Terik mentari mulai meredup di ufuk
timur. Seperti biasanya aku menanti di pinggir bibir pantai putih ini untuk
memberi salam pada sang surya, sang pencerah bagi alam semesta ini. Entah
mengapa aku selalu menikmati detik-detik pergantian waktu seperti ini,
pergantian terang menuju gelap. Karena di saat seperti ini aku merasa ada suatu
hal menenangkan menembus hatiku. Mentari pun mulai menghilang perlahan-lahan
dengan indah, lembut, dan mempesona, sungguh menggentarkan hati ini. Tinggal
menunggu hitungan detik, bumi ini akan berubah menjadi gelap gulita. “Lima…
empat… tiga… dua… satu… Selamat tinggal Mentari, terima kasih untuk cahaya di
hari ini. Sampaikan salamku pada Tuhan yang Maha Arif dan Bijaksana itu, dan
aku tunggu kehadiran-mu esok.” Ucap Rasya sambil membentuk bulan sabit indah di
bibir mungilnya. Rasya memang sangat senang meliahat mentari terbenam, bahkan
karena sangat senangnya setiap senja ia selalu membawa kursi roda tuanya itu ke
bibir pantai untuk menyampaikan rasa syukurnya kepada sang maha pencipta akan
hari-hari yang bisa ia lewati. Langit pun berubah ,hitam kelam gelap gulita.
Tiba-tiba bayang-bayang itu, bayang-bayang akan masa lalunya merasuki alam
bawah sadarnya kembali. Memang usia Rasya kali ini baru menginjak 12 tahun,
tetapi dalam hidupnya yang masih singkat itu, ia sudah dihadapkan dengan cobaan
yang sungguh berat bagi gadis cilik seusianya. Bayang-bayang itu masuk lagi,
semakin dalam nyata dan menyita seluruh pikirannya.
Lima tahun lalu, disaat ia dan
keluarganya sedang berlibur di daerah pegunungan. Mereka melewati jalan yang
berlika-liku, naik-turun dan terkadang undakan yang benar-benar terjal, seperti
jalan pegunungan biasanya kanan kiri jalan desa dihiasi dengan berbagai
pemandangan yang sangat indah, bagaikan surga yang diturunkan ke dunia. Rasya dan sang kakak tak henti-hentinya
berdecak kagum dan melontarkan pertanyaan khas anak-anak yang mengundang tawa
bagi kedua orang tuanya. Bahkan dengan polosnya Rasya bertanya kepada sang mama
ketika melewati kerbau yang sedang diberi makan, “Mama memang rumput itu enak
ya?”, dengan suara imut dan cadel khasnya. Mama pun bi rungung dengan
pertanyaan Rasya “loh memang kenapa Rasya?, mama tidak tahu harus menjawab apa.
“iya Ma, abis kerbau itu makan rumput, banyak bangat lagi. Berarti rumput itu
enak kan Ma?” Raya bertanya masih dengan polosnya. Mama dan Papa pun tertawa
mendengar ucapan polos gadis ciliknya itu, “gini Sya, kerbau itu makanannya
memang rumput, justru kalau dia dikasih makan ayam malah muntah soalnya kerbau
ga suka ayam. Kaya Rasya kalo makan sayur muntah terus, jadi kerbau itu makan
rumput karena dia suka, kaya Rasya makan ayam yang Rasya suka.” jawab Mama
dengan lembutnya. Rasya pun mengangguk-angguk tanda ia mengerti. Rasya pun
mulai mulai berceloteh lagi dengan sang kakak, Ryan. Apa saja yang mereka lihat
pasti mereka bincangkan, dan ada satu hal yang paling menyita perhatian mereka,
matahari terbenam. Indahnya pemandangan itu membuat seisi mobil sedan mini itu
takjub, dan mungkin dari sinilah Rasya sangat senang melihat mentari terbenam
di bibir pantai. Tetapi keadaan hening dan suka cita di sedan mini itu tak lama
berubah menjadi mencekam. “Ma, kok mobilnya tidak bisa di rem ya?”, ucap Papa
panic dengan keadaan mobilnya. “Papa jangan bercanda deh, ga lucu ya pa!”,
tangkas Mama panik. “serius Ma, ini tidak bisa di rem!”, jawab Papa dengan nada
tinggi karena panik. “Astaghfirullah, coba Pa rem lagi!” teriak Mama karena
takut. Rasya dan Ryan yang tidak mengerti perbincangan orang tuanya hanya duduk
terpaku di jok belakang, diam-membisu dan saling berpelukan. Sedan mini itu pun
melesat kencang menelusuri jalan pedesaan itu. “Papa, mama takut paa.. ”, Mama
semakin histeris dan tak kuasa menahan tangisnya. Melihat mama yang menangis ,
Rasya dan Ryan pun ikut menangis. “Mama, kita ga akan kenapa-napa kan?”, tanya
Rasya lagi-lagi dengan polosnya. “Mama tidak apa-apa kok sayang, kalian tenang
ya”, Mama mencoba menenangkan. Tapi tetap suasana di mobil itu tidak tenang
jua, penuh dengan suara tangis dan jeritan. Bahkan suara itu semakin
menjadi-jadi ketika Papa menyadari suatu hal, “Mama, JURANG!!!!!!" ________________________________________
Tepat
ketika delapan mata itu mengarah ke kaca mobil, sedan mini itu jatuh, jatuh ke
dasar jurang yang sangat mematikan. Seketika semua hening dan berhenti, mobil
berhenti, teriakan berhenti, isak tangis berhenti, detak jantung berhenti, dan
seluruh nafas berhenti. Semua penghuni sedan mini itu berhenti melihat,
mendengar, dan merasakan keindahan
dunia. Mereka semua kembali ke pangkuan yang maha kuasa kecuali Rasya,gadis
kecil itu masih terselamatkan dengan tangan dan kaki yang tergencet pintu mobil
serta wajah yang penuh dengan darah, ia menyaksikan secara langsung kematian
Papa, Mama, dan Kak Ryan. Yang sebelum kematiannya Mama berpesan kepada Rasya
“Rasya kamu harus menjadi bidadari cilik Mama ya sayang”. Walaupun Rasya tidak
mengerti maksud dari perkataan sang mama, tetapi ia terus mengingat perkataan
itu sampai detik ini.
Kehilangan sanak keluarga bukanlah
hal yang mudah bagi Rasya. Apalagi ia harus kehilangan tangan dan kakinya di
usia sekecil itu. Rasya yang sekarang adalah gadis cilik cacat tanpa kedua kaki
dan tangannya karena harus diamputasi akibat kecelakaan yang ia alami. Tuhan
telah merenggut segalanya, segala yang gadis kecil itu miliki. Rasya yang masih
kecil pun tak mengerti dengan kenyataan ini. Yang ia rasakan kali ini hanyalah
kerinduan akan mama, papa, Kak Ryan, serta kedua tangan dan kakinya. Tersiksa, itulah
yang ia rasakan kali ini. Kali ini ia hidup dengan sang paman. Tetapi hanya
berselang waktu satu minggu sang paman membuang Rasya yang sedang terlelap
tidur karena merasa malu memiliki keponakan yang cacat seperti Rasya. Ketika
Rasya terbangun dari tidur lelapnya, ia kaget karena ia sudah tergeletak di
pinggiran jalan yang sangat asing baginya bukan di kamar merah jambu yang super
nyaman itu. Karena tak bisa melakukan apa-apa akhirnya Rasya pun hanya bisa
menangis. Dalam tangisnya itu akhirnya ada nenek tua yang tersentuh hatinya
akan kondisi Rasya saat itu. Ia pun lalu menggendongnya dan membawanya ke
rumah. Rumah di dekat bibir pantai yang sangat sederhana dengan bilik-bilik
sebagai dindingnya. Disanalah rumah kedua bagi Rasya. “Hai, Nak. Siapa namamu?”
tanya sang nenek kepada Rasya sambil meneteskan air mata. “Rasya”, jawab Rasya
singkat karena bingung akan siapa perempuan tua dihadapannya itu dan mengapa ia
menangis. “Rasya., mengapa keadaan kamu seperti ini, nak? Oh tuhan malang
sekali nasib gadis kecil ini, dengan segala kekurangannya ini ia harus
ditelantarkan oleh orang tuanya.” Sang nenek kembali meneteskan air matanya,
bahkan lebih banyak dari sebelumnya. “Yasudahlah sekarang kamu istirahat dulu
saja ya, nak. Kamu pasti lelah menempuh perjalanan hari ini.” Rasya pun terlelap di atas kasur lepek itu.
Keesokan harinya Rasya terbangun, ia mencoba untuk mengangkat seluruh tubuhnya
untuk berdiri. Ia terus mencoba, sekali, dua kali, tiga kali, sepuluh kali, dua
puluh kali, lima puluh kali, seratus kali. Ia lelah, putus asa dan kesal.
Kenapa ia tidak bisa seperti dulu lagi, berdiri, menulis, dan sebagainya. Ia
rindu akan hal itu. Ia pun menangis, seperti mengadu kepada tuhan akan
penderitaannya itu. “kenapa kamu menangis, nak?”, tanya sang nenek dengan suara
yang amat lembut khas keibuannya. “Nek, kenapa tangan sama kaki Rasya ga ada?
Rasya mau jalan, Nek.”, ucap Rasya sambil menahan tangisnya. “Yang sabr ya nak,
memang kenapa tangan sama kaki Rasya bisa ga ada? Dan kemana kedua orang tua
kamu, nak?” “Papa, mama dan Kak Ryan meninggal waktu kami melihat gunung.
Soalnya mobil kita jatuh ke hutan. Terus sewaktu Rasya bangun akibat kecelakaan
itu, tiba-tiba tangan sama kaki Rasya udah ga ada nek” Rasya bercerita dengan
sangat polosnya yang membuat nenek semakin terharu akan nasibnya itu. Nenek pun
langsung memeluk Rasya, “yang sabar ya, nak. Nenek yakin kamu bisa menghadapi
semua cobaan ini sayang”. Waktu pun mengalir bagaikan air. Di lingkungannya
sekarang ini Rasya memiliki banyak teman. Tetapi tidak sedikit dari mereka yang
selalu meledek Rasya dengan memberi julukan “Si Buntung”. Dimana pun Rasya
berada pasti ada saja yang mencemoohnya dengan Julia uan itu. Awalnya Rasya
sangat sakit hati, sampai-sampai ia tidak mau keluar rumah. Tetapi nenek selalu
memberi semangat kepada Rasya dan Rasya harus bersabar, karena di balik semua
ini pasti ada hikmahnya. Dan ia harus membuktikan kepada semua orang bahwa ia
bisa lebih baik disbanding orang normal sekali pun. Mendengar perkataan sang
nenek Rasya bagaikan ban yang sedang di pompa, dipompa dengan semangat yang
sangat bergelora. Sejak itu pun ia bertekad untuk menjadi manusia yang mandiri.
Setiap bangun tidur ia selalu berusaha mengangkat tubuhnya sendiri.
Berkali-kali ia mencoba, sekali, dua kali, tiga kali, sepuluh kali, dua puluh
kali, lima puluh kali,satu bula, dua bulan. Tetapi sia-sia ia belum bisa
mengangkat dirinya sendiri. Bahkan sangat sering ia terjatuh dari kasurnya
ketika mencoba untuk berdiri. Sang nenek selalu memintanya untuk tidak
memaksakan diri, tetapi semangat yang tinggi membuat Rasya tidak pernah
menyerah, bahkan ia selalu menjawab permintaan sang nenek “Nek, Rasya yakin
Rasya bisa. Rasya pasti bisa mandiri, rasya tidak mau menyusahkan nenek terus.
Dan Rasya punya tujuan, nek. Rasya harus bisa menjadi orang besar dibalik
segala keterbatasan Rasya. Rasya tahu Rasya memang cacat, tidak punya kaki
ataupun tangan. Tetapi Rasya yakin, Tuhan tidak tidur nek. Tuhan pasti melihat
usaha Rasya, dan Rasya percaya, Tuhan akan memudahkan jalan Rasya nek, kalau
Rasya tidak pantang menyerah, kalau Rasya terus berusaha dan berdoa. Supaya
kelak, ketika Rasya dewasa Rasya bisa tersenyum nek, bisa juga membaut nenek
bangga. Karena Rasya yang penuh keterbatasn ini bisa bermanfaat bagi orang lain
dan bisa sukses seperti orang normal lainnya.” Tangkas Rasya dengan penuh
semangat dan terus mencoba. Sehingga pada suatu hari Rasya pun berteriak
“Nenek, kesini nek!!!”, panggil Rasya dengan girangnya. “Ada apa Rasya?”, nenek
setengah berlari mendengar teriakan Rasya yang tidak seperti biasanya. “Nek,
lihat ini nek.”, Rasya memperagakan cara ia berdiri. Hal yang selama ini ia
nanti-nantikan. “Rasya bisa berdiri sendiri, nek. Akhirnya tuhan mendengar
doa-doa Rasya”, seru Rasya riang. “Selamat ya, nak. Nenek tahu kamu bisa, kamu
punya semangat yang tinggi, dan nenek yakin kamu bisa mewujudkan
cita-citamumenjadi orang sukses dan orang yang bermanfaat bagi orang lain.”,
senyum nenek semakin membuat Rasya terpacu untuk mewujudkan tekadnya itu.
Keesokan harinya ia terus belajar. Belajar berjalan, sungguh sulit seperti saat
ia mecoba untuk berdiri bahkan lebih sulit dari pada berdiri. Untuk
hal ini ia hampir frustasi karena sudah
mencoba hampir setahun penuh tetapi belum ada titik terang terlihat akan
keajaiban itu. Dan kali ini Rasya benar-benar frustasi, ia sudah tida8k tahu cara apa yang ia bisa
lakukan agar ia bisa berjalan sendiri. Ia pun memutuskan untuk berhenti, berhenti mencoba yang menandakan puncak dari
kefrustasiannya. Melihat perubahan pada anak asuhnya itu nenek pun segera menanyakan hal itu pada
Rasya. "Sya ,kok nenek perhatikan belakangan ini kamu tidak berlatih lagi.
Ada apa, nak?", tanya nenek sangat lembut. "Rasya capek nek. Sudah
setahun belakangan ini Rasya mencoba nek, tapi belum ada hasilnya sedikit
pun.", jawab Rasya dengan nada frustasi. Melihat Rasya sudah dipuncak
keputusasaannya, nenek sangat sedih. Memang benar apa yang Rasya katakan,
Tuhan belum memberi jawaban akan segala
usahanya selama satu tahun belakangan ini. Tetapi Rasya tidak boleh berhenti,
ia hanya membutuhkan dukungan dan pacuan semangat yang lebih kali ini. Karena
nenek tidak tega kalau masa depan Rasya hanya akan berpangku tangan kepada
orang lain. "Rasya, nenk mau tanya
sama kamu. Sebenarnya cita-cita kamu apa sayang ?", sang nenek mengawali.
"Rasya mau jadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, nek.",jawab
Rasya polos khas kekanakannya. Tetapi jawaban yang sangat tua untuk anak
seusianya. Ya nenek sadar bahwa Rasya memang berbeda, ia memiliki intelligent
yang lebih dibandingkan dengan anak seusianya. Mungkin inilah maksud lain dari
Tuhan. “lalu untuk mewujudkan itu semua apa yang harus kamu lakukan Rasya?”,
tanya nenek lagi. “usaha dan berdoa untuk mencapai cita-cita Rasya, nek.”,
jawab Rasya polos. “Terus kenapa sekarang kamu berhenti berusaha Rasya?”, tanya
nenek. Rasya merenung, berpikir, dan akhirnya menangis. “Rasya capek nek.
Sampai saat ini Tuhan belum menjawa segala usaha dan doa Rasya. Rasya frustasi
nek, Rasya lelah sama semua ini.”, ucap Raya penuh emosi. Merasakan luapan emosi
dari Rasya, nenek pun berkata dengan lembutnya “nenek tahu sya, Rasya lelah,
capek, sakit, bingung, nenek tahu Rasya. Tapi kamu harus semangat, nenek
percaya kamu bisa, kamu anak yang hebat, cerdas, kamu beda dengan anak-anak
lain di luar sana Sya, kamu spesial. Kamu punya cita-cita yang sangat mulia,
kamu anak yang baik. Dan nenek yakin kamu pasti bisa. Kamu tidak boleh
menyerah, wujudkan segala mimpimu, nak.” Nenek pun tak kuasa menahan air
matanya. “percuma nek, Tuhan tidak mendengar usaha Rasya, Tuhan tidak melihat
usaha Rasya, Nek!”. Suara tangis pun tak terhindarkan diantara mereka. “Rasya
kamu harus percaya Tuhan punya rencana yang lebih baik bagi kamu. Bukan berarti
sekarang Tuhan belum mengabulkan segala yang kamu usaha dan doakan, berarti ia tidak
mendengar semua doa-doa mu, sayang. Mungkin Tuhan ingin melihat Rasya berusa
lebih keras lagi, lebih giat lagi. Ayo sayang nenek yakin kamu bisa. Rasya yang
nenek kenal adalah Rasya yang penuh semangat, optimis, tidak pantang menyerah.
Ayo Sya, tunjukkan kepada semua orang bahwa kamu bisa., lanjutkan semua usaha
kamu yang selama ini kamu rajut, Sya.”. Nenek terus memberi motivasi kepada
Rasya dan mencoba menyulut semangat Rasya kembali. Rasya pun bingung, ia tahu
apa yang diucapkan nenek sangatlah benar, dan akhirnya ia pun mulai mencoba,
mencoba kembali untuk melanjutkan benang-benang merah usahanya yang terputus.
“Baik nek, nenek benar Tuhan pasti punya rencana lain yang lebih baik untuk
Rasya. Rasya harus coba lagi nek, Rasya pasti bisa.” Rasya langsung mencoba,
mencoba bangkit dari duduknya lalu mencoba untuk berjalan, sekali, dua kali,
tiga kali, sepuluh kali, seratus kali, tak ada tanda-tanda keajaiban itu akan
datang. “Ayo Rasya pasti bisa, wujudkan masa depan kamu Sya, wujudkan semua
impianmu..”, ucap Rasya seperti sedang memotivasi dirinya sendiri. “Ayo Sya,
kamu pasti bisa.”, nenek member semangat. Rasya pun memberi semyum manisnya
kepada sang nenek. Ia mencoba lagi dan lagi. Dan akhirnya rahmat sang kuasa pun
turun di rumah bilik bibir pantai itu, Rasya berhasil. “Nenek, Rasya bisa
nek!”, teriak Rasya dengan girangnya. “Rasya bisa jalan nek!!”, seru Rasya
lagi. Nenek pun terharu bahagia melihat anak yang ia besarkan itu bisa bahagia.
Mulai saat ini Rasya selalu percaya
diri, sampai akhirnya ia tidak malu lagi untuk keluar dari rumah. Semua yang
telah ia bisa ia tujukkan kepada teman-temannya. Walaupun tetap masih ada saja
orang yang mencemoohnya, Rasya tidak peduli. Kali ini ia hanya tahu ia harus
berusah lebih, mulai belajar lebih banyak lagi agar ia bisa menjadi orang yang
bermanfaat bagi orang lain kelak. Segala hal ia pelajari di kampong bibir
pantai itu, dari belajar membaca, menulis dengan menggunakan mulutnya,
bernyanyi, bahkan renang ia pelajari. Dan anehnya ia tidak memiliki kesulitan
untuk belajar renang. Padahal untuk anak yang memiliki keterbatasan seperti dia,
sangat mustahil untuk melakukan itu semua. Sehingga hal ini pun membuat semua
penduduk bibir pantai itu tercengang, bahkan ada salah seorang mahasisiwi yang sedang
melakukan obsevasi terharu ketika melihat Rasya berenang di pantai pada suatu
waktu. “Hai, renang kamu bagus sekali. Siapa yang mengajari?”. “Makasih ka,
belajar sendiri.”, jawab Rasya dengan senyum tulus karena akhirnya ada orang
yang memuji hasil usaha kerasnya. “waah, hebat sekali. Oya nama kamu siapa?”,
tanya sang mahasiswi. “Rasya, kalau kakak?”, tanya Rasya balik. “oh Rasya, nama
kakak Velly. Panggil aja kak Velly. Oh ya, kakak boleh main ke rumah kamu ga?”,
tanya Velly kepada Raya. Karena Rasya pun tidak keberatan akhirnya mereka pun
menuju rumah Rasya. Velly sangat terenyuh melihat Rasya yang berjalan penuh
dengan semangat tanpa kedua kakinya. Ia pun memanjatka doa dalam batinnya, ya
Tuhan bantulah anak ini mengejar cita-citanya, jadikanlah dia orang yang sukses
kelak. Gadis kecil ini memiliki semangat yang sangat tinggi, bantulah ia Tuhan.
Tak lama akhirnya mereka pun sampai, Kak Velly langsung berbincang-bincang
dengan nenek sementara Rasya bermain dengan teman-temannya. “Rasya itu anak
yang cerdas mba, dia juga punya potensi yang melebihi anak-anak seusianya.
nenek sudah memperhatikan sejak ia kecil sekali, ia sudah memiliki keninginan
yang tinggi dan semangat yang sangat tinggi pula, sampai akhirnya ia bisa
mandiri seperti sekarang ini.”, ucap nenek kepada Velly. “iya nek, saya tadi
juga lihat Rasya memiliki kemampuan renang yang sangat baik untuk anak
berketerbatasan seperti dia. Dan dia memiliki semangat yang sangat tinggi untuk
maju nek. Maka dari itu maksud kedatangan saya kesini, saya ingin membantu
Rasya. Melihat kemampuannya yang sangat baik, mungkin jika diasah terus ia akan
bisa menjadi lebih baik lagi. Kebetulan saya punya teman yang memang bekerja
menaungi anak-anak yang berketerbatasan seperti Rasya, dan setelah saya lihat
anak-anak yang dia latih selalu sukses di bidangnya nek. Maka dari itu mungkin
jika Rasya bisa dilatih olehnya, masa depan Rasya bisa lebih terjamin, nek.”,
ucap Velly sangat menggebu-gebu. “Nak Velly yang benar mau membantu Rasya?
Nenek sangat senang kalau memang ada orang yang ingin membantu Rasya. Akhirnya
nenek tahu, inilah rencana baik Tuhan untuk
Rasya. “Tetapi nek, Rasya harus ikut saya ke kota. Karena teman saya itu
ada di kota.”, ucap Velly sangat hati-hati karena takut nenek tidak setuju akan
hal itu. “nenk percaya kok sama mba Velly, saya mau Rasya sukses mba, kalau
memang ia harus berpisah sementara dengan saya, saya tidak keberatan.”, ucap
nenek sangat bijaksana walaupun ada nada-nada ketidakrelaaannya untuk melepas
Rasya. Akhirnya Rasya pun pergi ke kota bersama Velly. Sesampainya di kota
Rasya berkenalan denga Kak Reno yang merupakan teman Velly. Kak Reno sangat
baik dan penuh pengertian, dengan sabar ia melatih Rasya. Semua hal Rasya
pelajari bersamanya. Siang-malam tak henti-hentinya ia belajar. Tak lupa
doa-doa pun ia panjatkan kepada Tuhan yang maha kuasa agar segala usahanya ini
dapat menemui titik cerah yang lebih cerah dari saat ini. Karena kak Reno melihat potensi yang menonjol
dalam renang pada diri Rasya, ia pun melatih Rasya secara lebih dominan pada
bidang olahraga yang satu itu. Rasya pun mulai mengikuti berbagai kompetisi
renang bagi orang-orang cacat sepertinya. Dan ia pun bisa menjuarai
komptisi-kompetisi tersebut. Rasya sangat bahagia, akhirnya ia bisa menunjukkan
kemampuannya kepada semua orang. “Terima kasih tuhan,engkau sangat baik kepada
hambamu ini. Kau mengabulkan segala doa-doa hamba. Usaha hamba dahulu bagaikan
penderitaan-penderitaan manis kali ini. Terima kasih tuhan, terima kasih atas
semua kebaikanmu.”, Rasya pun menitikkan air matanya, ia sangat bahagia karena
akhirnya semua usahanya terbayar kali ini. Rasya menjadi sang juara dalam
kompetisi renang terbesar se-dunia bagi kalangannya. Yang merupakan kompetisi
paling bergengsi bagi semua orang berketerbatasan sepertinya. Kali ini Rasya
sudah membuktikan bahwa segala keterbatasan bukanlah penghalang bagi kesuksesan
dimasa depan.
Oleh: Rizky Nursya’bania (XII IPA 5)
0 comments:
Posting Komentar