Kamis, 30 Oktober 2014

Gadis Malang Sang Pemenang





Angin laut bertiup melewati sela-sela rambutku. Terik mentari mulai meredup di ufuk timur. Seperti biasanya aku menanti di pinggir bibir pantai putih ini untuk memberi salam pada sang surya, sang pencerah bagi alam semesta ini. Entah mengapa aku selalu menikmati detik-detik pergantian waktu seperti ini, pergantian terang menuju gelap. Karena di saat seperti ini aku merasa ada suatu hal menenangkan menembus hatiku. Mentari pun mulai menghilang perlahan-lahan dengan indah, lembut, dan mempesona, sungguh menggentarkan hati ini. Tinggal menunggu hitungan detik, bumi ini akan berubah menjadi gelap gulita. “Lima… empat… tiga… dua… satu… Selamat tinggal Mentari, terima kasih untuk cahaya di hari ini. Sampaikan salamku pada Tuhan yang Maha Arif dan Bijaksana itu, dan aku tunggu kehadiran-mu esok.” Ucap Rasya sambil membentuk bulan sabit indah di bibir mungilnya. Rasya memang sangat senang meliahat mentari terbenam, bahkan karena sangat senangnya setiap senja ia selalu membawa kursi roda tuanya itu ke bibir pantai untuk menyampaikan rasa syukurnya kepada sang maha pencipta akan hari-hari yang bisa ia lewati. Langit pun berubah ,hitam kelam gelap gulita. Tiba-tiba bayang-bayang itu, bayang-bayang akan masa lalunya merasuki alam bawah sadarnya kembali. Memang usia Rasya kali ini baru menginjak 12 tahun, tetapi dalam hidupnya yang masih singkat itu, ia sudah dihadapkan dengan cobaan yang sungguh berat bagi gadis cilik seusianya. Bayang-bayang itu masuk lagi, semakin dalam nyata dan menyita seluruh pikirannya.

            Lima tahun lalu, disaat ia dan keluarganya sedang berlibur di daerah pegunungan. Mereka melewati jalan yang berlika-liku, naik-turun dan terkadang undakan yang benar-benar terjal, seperti jalan pegunungan biasanya kanan kiri jalan desa dihiasi dengan berbagai pemandangan yang sangat indah, bagaikan surga yang diturunkan ke dunia.  Rasya dan sang kakak tak henti-hentinya berdecak kagum dan melontarkan pertanyaan khas anak-anak yang mengundang tawa bagi kedua orang tuanya. Bahkan dengan polosnya Rasya bertanya kepada sang mama ketika melewati kerbau yang sedang diberi makan, “Mama memang rumput itu enak ya?”, dengan suara imut dan cadel khasnya. Mama pun bi rungung dengan pertanyaan Rasya “loh memang kenapa Rasya?, mama tidak tahu harus menjawab apa. “iya Ma, abis kerbau itu makan rumput, banyak bangat lagi. Berarti rumput itu enak kan Ma?” Raya bertanya masih dengan polosnya. Mama dan Papa pun tertawa mendengar ucapan polos gadis ciliknya itu, “gini Sya, kerbau itu makanannya memang rumput, justru kalau dia dikasih makan ayam malah muntah soalnya kerbau ga suka ayam. Kaya Rasya kalo makan sayur muntah terus, jadi kerbau itu makan rumput karena dia suka, kaya Rasya makan ayam yang Rasya suka.” jawab Mama dengan lembutnya. Rasya pun mengangguk-angguk tanda ia mengerti. Rasya pun mulai mulai berceloteh lagi dengan sang kakak, Ryan. Apa saja yang mereka lihat pasti mereka bincangkan, dan ada satu hal yang paling menyita perhatian mereka, matahari terbenam. Indahnya pemandangan itu membuat seisi mobil sedan mini itu takjub, dan mungkin dari sinilah Rasya sangat senang melihat mentari terbenam di bibir pantai. Tetapi keadaan hening dan suka cita di sedan mini itu tak lama berubah menjadi mencekam. “Ma, kok mobilnya tidak bisa di rem ya?”, ucap Papa panic dengan keadaan mobilnya. “Papa jangan bercanda deh, ga lucu ya pa!”, tangkas Mama panik. “serius Ma, ini tidak bisa di rem!”, jawab Papa dengan nada tinggi karena panik. “Astaghfirullah, coba Pa rem lagi!” teriak Mama karena takut. Rasya dan Ryan yang tidak mengerti perbincangan orang tuanya hanya duduk terpaku di jok belakang, diam-membisu dan saling berpelukan. Sedan mini itu pun melesat kencang menelusuri jalan pedesaan itu. “Papa, mama takut paa.. ”, Mama semakin histeris dan tak kuasa menahan tangisnya. Melihat mama yang menangis , Rasya dan Ryan pun ikut menangis. “Mama, kita ga akan kenapa-napa kan?”, tanya Rasya lagi-lagi dengan polosnya. “Mama tidak apa-apa kok sayang, kalian tenang ya”, Mama mencoba menenangkan. Tapi tetap suasana di mobil itu tidak tenang jua, penuh dengan suara tangis dan jeritan. Bahkan suara itu semakin menjadi-jadi ketika Papa menyadari suatu hal, “Mama, JURANG!!!!!!" ________________________________________
Tepat ketika delapan mata itu mengarah ke kaca mobil, sedan mini itu jatuh, jatuh ke dasar jurang yang sangat mematikan. Seketika semua hening dan berhenti, mobil berhenti, teriakan berhenti, isak tangis berhenti, detak jantung berhenti, dan seluruh nafas berhenti. Semua penghuni sedan mini itu berhenti melihat, mendengar, dan merasakan  keindahan dunia. Mereka semua kembali ke pangkuan yang maha kuasa kecuali Rasya,gadis kecil itu masih terselamatkan dengan tangan dan kaki yang tergencet pintu mobil serta wajah yang penuh dengan darah, ia menyaksikan secara langsung kematian Papa, Mama, dan Kak Ryan. Yang sebelum kematiannya Mama berpesan kepada Rasya “Rasya kamu harus menjadi bidadari cilik Mama ya sayang”. Walaupun Rasya tidak mengerti maksud dari perkataan sang mama, tetapi ia terus mengingat perkataan itu sampai detik ini.
            Kehilangan sanak keluarga bukanlah hal yang mudah bagi Rasya. Apalagi ia harus kehilangan tangan dan kakinya di usia sekecil itu. Rasya yang sekarang adalah gadis cilik cacat tanpa kedua kaki dan tangannya karena harus diamputasi akibat kecelakaan yang ia alami. Tuhan telah merenggut segalanya, segala yang gadis kecil itu miliki. Rasya yang masih kecil pun tak mengerti dengan kenyataan ini. Yang ia rasakan kali ini hanyalah kerinduan akan mama, papa, Kak Ryan, serta kedua tangan dan kakinya. Tersiksa, itulah yang ia rasakan kali ini. Kali ini ia hidup dengan sang paman. Tetapi hanya berselang waktu satu minggu sang paman membuang Rasya yang sedang terlelap tidur karena merasa malu memiliki keponakan yang cacat seperti Rasya. Ketika Rasya terbangun dari tidur lelapnya, ia kaget karena ia sudah tergeletak di pinggiran jalan yang sangat asing baginya bukan di kamar merah jambu yang super nyaman itu. Karena tak bisa melakukan apa-apa akhirnya Rasya pun hanya bisa menangis. Dalam tangisnya itu akhirnya ada nenek tua yang tersentuh hatinya akan kondisi Rasya saat itu. Ia pun lalu menggendongnya dan membawanya ke rumah. Rumah di dekat bibir pantai yang sangat sederhana dengan bilik-bilik sebagai dindingnya. Disanalah rumah kedua bagi Rasya. “Hai, Nak. Siapa namamu?” tanya sang nenek kepada Rasya sambil meneteskan air mata. “Rasya”, jawab Rasya singkat karena bingung akan siapa perempuan tua dihadapannya itu dan mengapa ia menangis. “Rasya., mengapa keadaan kamu seperti ini, nak? Oh tuhan malang sekali nasib gadis kecil ini, dengan segala kekurangannya ini ia harus ditelantarkan oleh orang tuanya.” Sang nenek kembali meneteskan air matanya, bahkan lebih banyak dari sebelumnya. “Yasudahlah sekarang kamu istirahat dulu saja ya, nak. Kamu pasti lelah menempuh perjalanan hari ini.”  Rasya pun terlelap di atas kasur lepek itu. Keesokan harinya Rasya terbangun, ia mencoba untuk mengangkat seluruh tubuhnya untuk berdiri. Ia terus mencoba, sekali, dua kali, tiga kali, sepuluh kali, dua puluh kali, lima puluh kali, seratus kali. Ia lelah, putus asa dan kesal. Kenapa ia tidak bisa seperti dulu lagi, berdiri, menulis, dan sebagainya. Ia rindu akan hal itu. Ia pun menangis, seperti mengadu kepada tuhan akan penderitaannya itu. “kenapa kamu menangis, nak?”, tanya sang nenek dengan suara yang amat lembut khas keibuannya. “Nek, kenapa tangan sama kaki Rasya ga ada? Rasya mau jalan, Nek.”, ucap Rasya sambil menahan tangisnya. “Yang sabr ya nak, memang kenapa tangan sama kaki Rasya bisa ga ada? Dan kemana kedua orang tua kamu, nak?” “Papa, mama dan Kak Ryan meninggal waktu kami melihat gunung. Soalnya mobil kita jatuh ke hutan. Terus sewaktu Rasya bangun akibat kecelakaan itu, tiba-tiba tangan sama kaki Rasya udah ga ada nek” Rasya bercerita dengan sangat polosnya yang membuat nenek semakin terharu akan nasibnya itu. Nenek pun langsung memeluk Rasya, “yang sabar ya, nak. Nenek yakin kamu bisa menghadapi semua cobaan ini sayang”. Waktu pun mengalir bagaikan air. Di lingkungannya sekarang ini Rasya memiliki banyak teman. Tetapi tidak sedikit dari mereka yang selalu meledek Rasya dengan memberi julukan “Si Buntung”. Dimana pun Rasya berada pasti ada saja yang mencemoohnya dengan Julia uan itu. Awalnya Rasya sangat sakit hati, sampai-sampai ia tidak mau keluar rumah. Tetapi nenek selalu memberi semangat kepada Rasya dan Rasya harus bersabar, karena di balik semua ini pasti ada hikmahnya. Dan ia harus membuktikan kepada semua orang bahwa ia bisa lebih baik disbanding orang normal sekali pun. Mendengar perkataan sang nenek Rasya bagaikan ban yang sedang di pompa, dipompa dengan semangat yang sangat bergelora. Sejak itu pun ia bertekad untuk menjadi manusia yang mandiri. Setiap bangun tidur ia selalu berusaha mengangkat tubuhnya sendiri. Berkali-kali ia mencoba, sekali, dua kali, tiga kali, sepuluh kali, dua puluh kali, lima puluh kali,satu bula, dua bulan. Tetapi sia-sia ia belum bisa mengangkat dirinya sendiri. Bahkan sangat sering ia terjatuh dari kasurnya ketika mencoba untuk berdiri. Sang nenek selalu memintanya untuk tidak memaksakan diri, tetapi semangat yang tinggi membuat Rasya tidak pernah menyerah, bahkan ia selalu menjawab permintaan sang nenek “Nek, Rasya yakin Rasya bisa. Rasya pasti bisa mandiri, rasya tidak mau menyusahkan nenek terus. Dan Rasya punya tujuan, nek. Rasya harus bisa menjadi orang besar dibalik segala keterbatasan Rasya. Rasya tahu Rasya memang cacat, tidak punya kaki ataupun tangan. Tetapi Rasya yakin, Tuhan tidak tidur nek. Tuhan pasti melihat usaha Rasya, dan Rasya percaya, Tuhan akan memudahkan jalan Rasya nek, kalau Rasya tidak pantang menyerah, kalau Rasya terus berusaha dan berdoa. Supaya kelak, ketika Rasya dewasa Rasya bisa tersenyum nek, bisa juga membaut nenek bangga. Karena Rasya yang penuh keterbatasn ini bisa bermanfaat bagi orang lain dan bisa sukses seperti orang normal lainnya.” Tangkas Rasya dengan penuh semangat dan terus mencoba. Sehingga pada suatu hari Rasya pun berteriak “Nenek, kesini nek!!!”, panggil Rasya dengan girangnya. “Ada apa Rasya?”, nenek setengah berlari mendengar teriakan Rasya yang tidak seperti biasanya. “Nek, lihat ini nek.”, Rasya memperagakan cara ia berdiri. Hal yang selama ini ia nanti-nantikan. “Rasya bisa berdiri sendiri, nek. Akhirnya tuhan mendengar doa-doa Rasya”, seru Rasya riang. “Selamat ya, nak. Nenek tahu kamu bisa, kamu punya semangat yang tinggi, dan nenek yakin kamu bisa mewujudkan cita-citamumenjadi orang sukses dan orang yang bermanfaat bagi orang lain.”, senyum nenek semakin membuat Rasya terpacu untuk mewujudkan tekadnya itu. Keesokan harinya ia terus belajar. Belajar berjalan, sungguh sulit seperti saat ia  mecoba untuk berdiri  bahkan lebih sulit dari pada berdiri. Untuk hal ini ia hampir frustasi karena  sudah mencoba hampir setahun penuh tetapi belum ada titik terang terlihat akan keajaiban itu. Dan kali ini Rasya benar-benar frustasi,  ia sudah tida8k tahu cara apa yang ia bisa lakukan agar ia bisa berjalan sendiri. Ia pun memutuskan untuk berhenti,  berhenti mencoba yang menandakan puncak dari kefrustasiannya. Melihat perubahan pada anak asuhnya itu  nenek pun segera menanyakan hal itu pada Rasya. "Sya ,kok nenek perhatikan belakangan ini kamu tidak berlatih lagi. Ada apa, nak?", tanya nenek sangat lembut. "Rasya capek nek. Sudah setahun belakangan ini Rasya mencoba nek, tapi belum ada hasilnya sedikit pun.", jawab Rasya dengan nada frustasi. Melihat Rasya sudah dipuncak keputusasaannya, nenek sangat sedih. Memang benar apa yang Rasya katakan, Tuhan  belum memberi jawaban akan segala usahanya selama satu tahun belakangan ini. Tetapi Rasya tidak boleh berhenti, ia hanya membutuhkan dukungan dan pacuan semangat yang lebih kali ini. Karena nenek tidak tega kalau masa depan Rasya hanya akan berpangku tangan kepada orang lain. "Rasya,  nenk mau tanya sama kamu. Sebenarnya cita-cita kamu apa sayang ?", sang nenek mengawali. "Rasya mau jadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, nek.",jawab Rasya polos khas kekanakannya. Tetapi jawaban yang sangat tua untuk anak seusianya. Ya nenek sadar bahwa Rasya memang berbeda, ia memiliki intelligent yang lebih dibandingkan dengan anak seusianya. Mungkin inilah maksud lain dari Tuhan. “lalu untuk mewujudkan itu semua apa yang harus kamu lakukan Rasya?”, tanya nenek lagi. “usaha dan berdoa untuk mencapai cita-cita Rasya, nek.”, jawab Rasya polos. “Terus kenapa sekarang kamu berhenti berusaha Rasya?”, tanya nenek. Rasya merenung, berpikir, dan akhirnya menangis. “Rasya capek nek. Sampai saat ini Tuhan belum menjawa segala usaha dan doa Rasya. Rasya frustasi nek, Rasya lelah sama semua ini.”, ucap Raya penuh emosi. Merasakan luapan emosi dari Rasya, nenek pun berkata dengan lembutnya “nenek tahu sya, Rasya lelah, capek, sakit, bingung, nenek tahu Rasya. Tapi kamu harus semangat, nenek percaya kamu bisa, kamu anak yang hebat, cerdas, kamu beda dengan anak-anak lain di luar sana Sya, kamu spesial. Kamu punya cita-cita yang sangat mulia, kamu anak yang baik. Dan nenek yakin kamu pasti bisa. Kamu tidak boleh menyerah, wujudkan segala mimpimu, nak.” Nenek pun tak kuasa menahan air matanya. “percuma nek, Tuhan tidak mendengar usaha Rasya, Tuhan tidak melihat usaha Rasya, Nek!”. Suara tangis pun tak terhindarkan diantara mereka. “Rasya kamu harus percaya Tuhan punya rencana yang lebih baik bagi kamu. Bukan berarti sekarang Tuhan belum mengabulkan segala yang kamu usaha dan doakan, berarti ia tidak mendengar semua doa-doa mu, sayang. Mungkin Tuhan ingin melihat Rasya berusa lebih keras lagi, lebih giat lagi. Ayo sayang nenek yakin kamu bisa. Rasya yang nenek kenal adalah Rasya yang penuh semangat, optimis, tidak pantang menyerah. Ayo Sya, tunjukkan kepada semua orang bahwa kamu bisa., lanjutkan semua usaha kamu yang selama ini kamu rajut, Sya.”. Nenek terus memberi motivasi kepada Rasya dan mencoba menyulut semangat Rasya kembali. Rasya pun bingung, ia tahu apa yang diucapkan nenek sangatlah benar, dan akhirnya ia pun mulai mencoba, mencoba kembali untuk melanjutkan benang-benang merah usahanya yang terputus. “Baik nek, nenek benar Tuhan pasti punya rencana lain yang lebih baik untuk Rasya. Rasya harus coba lagi nek, Rasya pasti bisa.” Rasya langsung mencoba, mencoba bangkit dari duduknya lalu mencoba untuk berjalan, sekali, dua kali, tiga kali, sepuluh kali, seratus kali, tak ada tanda-tanda keajaiban itu akan datang. “Ayo Rasya pasti bisa, wujudkan masa depan kamu Sya, wujudkan semua impianmu..”, ucap Rasya seperti sedang memotivasi dirinya sendiri. “Ayo Sya, kamu pasti bisa.”, nenek member semangat. Rasya pun memberi semyum manisnya kepada sang nenek. Ia mencoba lagi dan lagi. Dan akhirnya rahmat sang kuasa pun turun di rumah bilik bibir pantai itu, Rasya berhasil. “Nenek, Rasya bisa nek!”, teriak Rasya dengan girangnya. “Rasya bisa jalan nek!!”, seru Rasya lagi. Nenek pun terharu bahagia melihat anak yang ia besarkan itu bisa bahagia.
            Mulai saat ini Rasya selalu percaya diri, sampai akhirnya ia tidak malu lagi untuk keluar dari rumah. Semua yang telah ia bisa ia tujukkan kepada teman-temannya. Walaupun tetap masih ada saja orang yang mencemoohnya, Rasya tidak peduli. Kali ini ia hanya tahu ia harus berusah lebih, mulai belajar lebih banyak lagi agar ia bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain kelak. Segala hal ia pelajari di kampong bibir pantai itu, dari belajar membaca, menulis dengan menggunakan mulutnya, bernyanyi, bahkan renang ia pelajari. Dan anehnya ia tidak memiliki kesulitan untuk belajar renang. Padahal untuk anak yang memiliki keterbatasan seperti dia, sangat mustahil untuk melakukan itu semua. Sehingga hal ini pun membuat semua penduduk bibir pantai itu tercengang, bahkan ada salah seorang mahasisiwi yang sedang melakukan obsevasi terharu ketika melihat Rasya berenang di pantai pada suatu waktu. “Hai, renang kamu bagus sekali. Siapa yang mengajari?”. “Makasih ka, belajar sendiri.”, jawab Rasya dengan senyum tulus karena akhirnya ada orang yang memuji hasil usaha kerasnya. “waah, hebat sekali. Oya nama kamu siapa?”, tanya sang mahasiswi. “Rasya, kalau kakak?”, tanya Rasya balik. “oh Rasya, nama kakak Velly. Panggil aja kak Velly. Oh ya, kakak boleh main ke rumah kamu ga?”, tanya Velly kepada Raya. Karena Rasya pun tidak keberatan akhirnya mereka pun menuju rumah Rasya. Velly sangat terenyuh melihat Rasya yang berjalan penuh dengan semangat tanpa kedua kakinya. Ia pun memanjatka doa dalam batinnya, ya Tuhan bantulah anak ini mengejar cita-citanya, jadikanlah dia orang yang sukses kelak. Gadis kecil ini memiliki semangat yang sangat tinggi, bantulah ia Tuhan. Tak lama akhirnya mereka pun sampai, Kak Velly langsung berbincang-bincang dengan nenek sementara Rasya bermain dengan teman-temannya. “Rasya itu anak yang cerdas mba, dia juga punya potensi yang melebihi anak-anak seusianya. nenek sudah memperhatikan sejak ia kecil sekali, ia sudah memiliki keninginan yang tinggi dan semangat yang sangat tinggi pula, sampai akhirnya ia bisa mandiri seperti sekarang ini.”, ucap nenek kepada Velly. “iya nek, saya tadi juga lihat Rasya memiliki kemampuan renang yang sangat baik untuk anak berketerbatasan seperti dia. Dan dia memiliki semangat yang sangat tinggi untuk maju nek. Maka dari itu maksud kedatangan saya kesini, saya ingin membantu Rasya. Melihat kemampuannya yang sangat baik, mungkin jika diasah terus ia akan bisa menjadi lebih baik lagi. Kebetulan saya punya teman yang memang bekerja menaungi anak-anak yang berketerbatasan seperti Rasya, dan setelah saya lihat anak-anak yang dia latih selalu sukses di bidangnya nek. Maka dari itu mungkin jika Rasya bisa dilatih olehnya, masa depan Rasya bisa lebih terjamin, nek.”, ucap Velly sangat menggebu-gebu. “Nak Velly yang benar mau membantu Rasya? Nenek sangat senang kalau memang ada orang yang ingin membantu Rasya. Akhirnya nenek tahu, inilah rencana baik Tuhan untuk  Rasya. “Tetapi nek, Rasya harus ikut saya ke kota. Karena teman saya itu ada di kota.”, ucap Velly sangat hati-hati karena takut nenek tidak setuju akan hal itu. “nenk percaya kok sama mba Velly, saya mau Rasya sukses mba, kalau memang ia harus berpisah sementara dengan saya, saya tidak keberatan.”, ucap nenek sangat bijaksana walaupun ada nada-nada ketidakrelaaannya untuk melepas Rasya. Akhirnya Rasya pun pergi ke kota bersama Velly. Sesampainya di kota Rasya berkenalan denga Kak Reno yang merupakan teman Velly. Kak Reno sangat baik dan penuh pengertian, dengan sabar ia melatih Rasya. Semua hal Rasya pelajari bersamanya. Siang-malam tak henti-hentinya ia belajar. Tak lupa doa-doa pun ia panjatkan kepada Tuhan yang maha kuasa agar segala usahanya ini dapat menemui titik cerah yang lebih cerah dari saat ini.  Karena kak Reno melihat potensi yang menonjol dalam renang pada diri Rasya, ia pun melatih Rasya secara lebih dominan pada bidang olahraga yang satu itu. Rasya pun mulai mengikuti berbagai kompetisi renang bagi orang-orang cacat sepertinya. Dan ia pun bisa menjuarai komptisi-kompetisi tersebut. Rasya sangat bahagia, akhirnya ia bisa menunjukkan kemampuannya kepada semua orang. “Terima kasih tuhan,engkau sangat baik kepada hambamu ini. Kau mengabulkan segala doa-doa hamba. Usaha hamba dahulu bagaikan penderitaan-penderitaan manis kali ini. Terima kasih tuhan, terima kasih atas semua kebaikanmu.”, Rasya pun menitikkan air matanya, ia sangat bahagia karena akhirnya semua usahanya terbayar kali ini. Rasya menjadi sang juara dalam kompetisi renang terbesar se-dunia bagi kalangannya. Yang merupakan kompetisi paling bergengsi bagi semua orang berketerbatasan sepertinya. Kali ini Rasya sudah membuktikan bahwa segala keterbatasan bukanlah penghalang bagi kesuksesan dimasa depan.




Oleh: Rizky Nursya’bania (XII IPA 5)


0 comments:

Posting Komentar

Hubungi kami :

Twitter : @APAksara

Email : apaksara3@gmail.com

HP : 085773226995

Instagram: kapas3.aksara

Twitter

Translator