Kamis, 30 Oktober 2014

Sapu Tangan




Kesedihan tiada batas terpampang jelas pada mimik wajah orang-orang itu, orang-orang yang datang untuk sekedar mengucapkan bela sungkawa. Dapat dilihat disana, seorang wanita paruh baya menangis histeris, tampak Ia masih belum bisa menerima apa yang baru saja Ia alami. Tidak jauh dari sana, terdapat seorang remaja perempuan memegang sapu tangan dan menatapnya dengan tatapan kosong. Suasana duka benar-benar kental terasa. Karena Ahmad, telah tiada.

***

Jam berbentuk lingkaran terbuat dari kayu itu terpasang pada sebuah dinding putih nan kokoh. Kedua jarum jam mengarah ke angka dua belas. Cahaya matahari terpampang jelas di ruangan itu. Ruangan yang dipenuhi nuansa putih, dengan aroma obat-obatan yang menusuk indra penciuman. Di ruangan itu, Ahmad terbaring lemah. Ia memandang langit-langit ruangan dengan tatapan kosong.
“Ng.. Ayah?” Sapa seorang anak perempuan guna memecahkan keheningan di ruangan itu.
“Ah, Lidia. Kau sudah datang.” Jawab Ahmad sembari menatap sang anak bungsunya tersebut.
“Uh.. Iya, Ayah. Tapi aku tidak bisa berlama-lama di sini. Sebentar lagi aku akan menghadapi Ujian Tengah Semester.” Sesal Lidia.
“Ya, tidak apa-apa. Lagipula untuk apa berlama-lama disini?”.Canda Ahmad.
.“Karena itu, Ayah harus cepat sembuh!” Lidia berkata sedikit kesal.
“Iya, iya. Sudah sana pulang. Disini sudah ada Ibu, Kak Nisa, Kak Dika, Bibi Yosi, dan yang lainnya. Mereka yang akan menjaga Ayah disini.” Usir sang ayah lembut sembari mengelus rambut sang bungsu.
“Ingat apa yang ayah katakan padamu, ya. Hiduplah seperti sapu tangan.” Lanjut Ahmad, dengan senyum tulus di wajahnya.
“… Iya, Ayah. Aku pulang dulu.” Jawab Lidia pelan, Ia mencium tangan Ahmad.
Lidia berjalan keluar dari ruangan tersebut. Langkah kakinya Ia percepat, wajahnya memerah, matanya terasa panas. Dengan cepat Ia menyenderkan tubuhnya di pojok ruangan sepi. Air mata yang sedari tadi Ia tahan pun tumpah juga. Lidia terisak pelan. Sungguh, Stroke yang diderita sang Ayah benar-benar menyayat hatinya. Persentasi kesembuhan Ahmad sudah meminim, bahkan bisa dikatakan mustahil. Kalaupun Ahmad sembuh, Ia tidak akan kembali seperti semula.

.
.
.
.

“Cepatlah sembuh, Ayah…” Ucapnya lirih.

***

Bel tiga kali telah dibunyikan di bangunan tua nan besar itu. Banyak remaja berbondong-bondong keluar dari ruangan masing-masing. Ada yang menuju tempat ibadah, ada yang menuju kantin, ada pula yang menuju kamar kecil.
Lidia terdiam menatap langit dengan tatapan yang tidak dapat diartikan. Sedari tadi, perasaannya tidak menentu. Ia gelisah, perasaannya tidak enak. Ia yakin itu bukan faktor dari ulangan Matematika yang baru saja Ia laksanakan tadi. Lidia menghela nafas pelan. Berharap itu dapat menghilangkan perasaan gelisahnya, barang sedikit saja.
“Eh, Lidia. Bagaimana dengan ulangan tadi?” Tanya Putri kepada temannya, Lidia.
“Satu kata, Susah!” Jawab Lidia dengan kesal.
“Hahahaha! Sudahlah. Yang penting kita sudah berusaha. Kita ke kantin. Yuk!” Ajak perempuan berambut ikal itu dengan semangat.
“Ayo.” Balas Lidia malas. Ia berjalan mengikuti Putri sembari mengedarkan pandangan ke arah sekitarnya. Tertangkap dalam tatapan matanya, seorang perempuan empat puluh tahunan, berperawakan tinggi namun kurus, tampak panik seperti mencari seseorang. Lidia pun membulatkan matanya. Perempuan itu ialah Yosi, bibi nya!
“Bibi? Kenapa Bibi ada di sekolah ku?” Sapa Lidia dengan tatapan heran.
“Lidia! Ayo ikut bibi! Kita pulang sekarang!” Tarik Yosi dengan paksa. Dapat dilihat oleh Lidia raut kesedihan di wajah Yosi.
“Memangnya ada apa?” Tanya Lidia panik.
“Sudah. Ikut dulu saja.” Balas Yosi.

*

Lidia segera memasuki mobilnya, dan dengan cepat mobil itu begerak entah kemana. Lidia hanya bisa terdiam menatap Yosi dengan tatapan bingung. Dalam hatinya, Ia bertanya-tanya apa gerangan yang telah terjadi.
“Lidia.. Yang sabar ya.” Ucap Yosi memecah keheningan.
“M-memangnya ada apa?”
“Ayahmu.. Ayahmu kritis, Lidia.” Jawab Yosi sambil menundukkan kepalanya.
Lidia membulatkan matanya tak percaya. Air matanya jatuh tak tertahankan. Bagai dihantam batu besar, Kepalanya pening tidak terkira. Lidia berharap semua ini hanya mimpi. Sebuah mimpi buruk yang menghantui hidupnya.

*

“Ayah..” Sapa Lidia.
Ia menatap miris kearah sang Ayah. Baru beberapa hari yang lalu Lidia bertemu sang ayah, dan ayahnya pun masih dalam keadaan baik. Tetapi sekarang, berbagai alat kesehatan sudah menempel di tubuh Ahmad, alat penunjang hidupnya. Tidak terbayang dalam pikiran Lidia, jika semua alat itu dicabut dari tubuh sang Ayah. Melayang sudah nyawa ayah tersayangnya itu.
“Lidia..” Sapa Asri, sang ibu.
“Sampaikan salam perpisahanmu kepada ayah.. Katakan kalau kamu sudah ikhlas akan semuanya, ya.” Lanjut Asri dengan air mata yang sudah tidak dapat ditahannya. Ia menatap nanar ke arah sang suami yang sudah tidak sadarkan diri.
“… Ayah.. Lidia sudah ikhlas dengan semuanya. Ayah sudah berjuang dengan baik. Apapun yang Allah takdirkan, Lidia sudah ikhlas, Ayah.” Bisik Lidia tepat disamping telinga Ahmad. Lidia yakin, walaupun sang Ayah tidak bisa menjawabnya, tapi Ia pasti mendengar apa yang Lidia ucapkan.
“Lidia, kamu pulang saja ya. Istirahat di rumah dengan Kak Nisa. Nanti kalau ada sesuatu, ibu akan memberikan kabar.”
Lidia hanya menganggukan kepalanya. Perlahan Ia mencium kening sang Ayah dan mengucapkan salam.

*

Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Matahari sudah terbenam, tergantikan oleh sang bulan. Lidia terduduk di kasurnya. Ia menangis dalam diam, memikirkan keadaan Ahmad, sang Ayah. Tidak henti-hentinya do’a selalu Ia panjatkan untuk kesembuhan sang Ayah. Batinnya bergejolak. Lidia memang berkata bahwa Ia sudah ikhlas. Tetapi, apakah Ia benar-benar sudah ikhlas?
“Lidia..” Sapaan Kak Nisa memecahkan lamunan Lidia.
“Jangan menangis. Kita sudah berbuat yang terbaik untuk Ayah. Dan Ayah pasti akan berjuang dengan sekuat tenaga. Karena itu, jangan sedih lagi ya.”
“Iya. Terima kasih, Kak Nisa.” Balas Lidia sembari tersenyum miris.

*

“Lidia, Nisa!” Ucapan Bibi Yosi mengagetkan Lidia dan sang kakak.
“Ya, bi?” Jawab Kak Nisa seadanya.
“Kalian.. yang tabah ya. Ayah kalian.. Ahmad… Sudah di sisi Allah, sayang.”

Tangis Lidia pecah saat itu juga. Dunia ini bagaikan runtuh. Mimpi buruk yang Ia takuti selama ini benar-benar menjadi kenyataan. Lidia menutup kedua telinganya, menolak semua realita yang ada. Ayahnya, Ayah yang paling Ia sayangi, sudah pergi meninggalkannya. Bukan untuk sehari, sebulan, ataupun setahun. Tetapi untuk selamanya. Dan Ahmad, tidak akan kembali lagi ke sisi Lidia dan keluarganya.

***

Isak tangis mengiringi kepergian Ahmad. Pemakaman yang dilaksanakan pada hari Jumat itu, didatangi banyak orang yang kehilangan Ahmad. Lelaki murah senyum, ramah, dan humoris itu benar-benar meninggalkan banyak kesan yang berarti bagi mereka yang ditinggalkan. Tidak terkecuali Lidia, sang anak.
Lidia meratapi kepergian Ahmad. Masih belum terbayangkan dalam benaknya, bahwa sang Ayah, akan meninggalkannya secepat ini. Bahkan Lidia merasa belum membuat Ayahnya bangga. Ia belum kuliah, belum menikah, dan belum memiliki anak. Ia ingin sang Ayah melihatnya menjadi orang yang sukses. Tapi, pupus sudah harapannya.
Dipegang dengan erat sebuah sapu tangan cokelat muda dengan corak kotak-kotak di setiap sisinya. Sapu tangan yang sangat sederhana, tetapi sangat bermakna. Sapu tangan pemberian sang Ayah tercinta.
Diusapkan air matanya dengan sapu tangan itu. Lidia menatap sapu tangan itu dalam diam. Pegangan tangan pada sapu tangan itu mengerat. Ia, Lidia, telah menentukan pilihan. Bahwa hidupnya harus berubah. Seperti sapu tangan..

***

Suasana ruang kelas terbilang sepi. Waktu masih menunjukkan pukul enam pagi. Lidia menghela nafasnya pelan. Benar dugaan Lidia, bahwa Ia datang ke sekolah terlalu cepat. Guna mengisi waktu, Lidia pun mengeluarkan sebuah buku dan membacanya.
“Lidia! Lidia! Dengar!” Teriak Putri pada Lidia, sembari menggoyang-goyangkan bahu Lidia.
“Kau membuatku kaget saja! Ada apa?” Tanya Lidia. Ia mengelus dadanya dan mendelik sinis ke arah Putri.
“Hehe, Maafkan aku. Dengar, aku hanya akan mengatakan ini sekali saja!”
“Aku.. Menang dalam kejuaraan yang aku ikuti!” Lanjut Putri dengan air mata bahagia nya. Terbaca jelas dalam matanya, bahwa Ia benar-benar bahagia. Usaha yang Ia lakukan selama ini tidak sia-sia begitu saja.
“Eh?! Benarkah? Selamat! Jangan lupa traktir aku ya!” Respon Lidia sembari tertawa. Ia mengusapkan air mata Putri dengan sapu tangan cokelat miliknya.
“Siap, leader! Kau juga, semakin hari semakin rajin belajar saja. Sepertinya kelas kita akan mendapat juara kelas baru nih!” Goda Putri sembari bersiul.

*

“Lidia..” Rengek Rara sambil menarik-narik baju Lidia.
“Kenapa lagi, Ra?” Tanya Lidia heran.
“Aku baru saja putus dengan pacarku!” Jerit Rara frustasi, air matanya tumpah, Ia memeluk Lidia erat.
“Yaampun.. Kukira ada apa.” Respon Lidia. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Persoalan remaja memang tiada habisnya. Lidia tak habis pikir, bagaimana hanya karena putus cinta dapat membuat seseorang sangat frustasi. Lidia menghela nafas, perlahan Ia menghapus air mata Rara dengan sapu tangan pemberian mendiang Ahmad, Ayahnya.
“Sudah jangan sedih lagi. Bagaimana kalau.. kutraktir makan?” Tawar Lidia.
Owkayy, sir!”

***

Tepat empat puluh hari yang lalu, Ahmad berpulang ke sisi Allah. Kepergian Ahmad untuk selamanya itu, meninggalkan duka yang mendalam bagi siapa saja yang mengenal Ahmad dengan baik. Ia merupakan suami, ayah, tetangga, bahkan atasan yang terkenal ramah. Semua kenangan tentang Ahmad tidak dapat dilupakan oleh keluarganya. Tetapi, mereka paham bahwa tidak boleh pula terlarut dalam kesedihan. Begitu juga dengan Lidia, sang anak bungsu dari Ahmad.
Lidia tersenyum tipis di pusara sang Ayah. Ia menaruh bunga dan membersihkan makam Ayah tersayangnya. Tidak lupa pula Ia memanjatkan do’a kepada Allah, Do’a untuk Ahmad, sang Ayah.
“Ayah! Apa kabar? Aku datang, Ayah. Apa ayah baik-baik saja disana?” Tanya Lidia entah kepada siapa.
“Kabarku disini baik, Ayah. Ayah harus dengar ini, Aku.. Sudah berusaha menjadi seperti sapu tangan. Itu seperti apa yang ayah inginkan, kan? Aku akan selalu berusaha, Ayah. Lihat aku dari sana, ya!”
Lidia tersenyum simpul kearah langit. Angin membelai rambutnya dengan lembut, seolah menyemangati Lidia. Perlahan, tapak kaki kecilnya berjalan meninggalkan pusara Ahmad. 

.

.

.

.

.


“Lidia, Jadilah seperti sapu tangan. Disaat orang lain berusaha dan bersusah payah, Kau akan menyeka keringat mereka. Dan disaat orang lain menangis, Kau akan menghapus air mata mereka.”






Oleh: Arrum Shafa Maulidiazmi Umar (XI MIA 6)


0 comments:

Posting Komentar

Hubungi kami :

Twitter : @APAksara

Email : apaksara3@gmail.com

HP : 085773226995

Instagram: kapas3.aksara

Twitter

Translator