Kesedihan
tiada batas terpampang jelas pada mimik wajah orang-orang itu, orang-orang yang
datang untuk sekedar mengucapkan bela sungkawa. Dapat dilihat disana, seorang
wanita paruh baya menangis histeris, tampak Ia masih belum bisa menerima apa
yang baru saja Ia alami. Tidak jauh dari sana, terdapat seorang remaja
perempuan memegang sapu tangan dan menatapnya dengan tatapan kosong. Suasana duka
benar-benar kental terasa. Karena Ahmad, telah tiada.
***
Jam
berbentuk lingkaran terbuat dari kayu itu terpasang pada sebuah dinding putih
nan kokoh. Kedua jarum jam mengarah ke angka dua belas. Cahaya matahari
terpampang jelas di ruangan itu. Ruangan yang dipenuhi nuansa putih, dengan
aroma obat-obatan yang menusuk indra penciuman. Di ruangan itu, Ahmad terbaring
lemah. Ia memandang langit-langit ruangan dengan tatapan kosong.
“Ng.. Ayah?” Sapa seorang
anak perempuan guna memecahkan keheningan di ruangan itu.
“Ah, Lidia. Kau sudah
datang.” Jawab Ahmad sembari menatap sang anak bungsunya tersebut.
“Uh.. Iya, Ayah. Tapi aku
tidak bisa berlama-lama di sini. Sebentar lagi aku akan menghadapi Ujian Tengah
Semester.” Sesal Lidia.
“Ya, tidak apa-apa. Lagipula
untuk apa berlama-lama disini?”.Canda Ahmad.
.“Karena itu, Ayah harus
cepat sembuh!” Lidia berkata sedikit kesal.
“Iya, iya. Sudah sana
pulang. Disini sudah ada Ibu, Kak Nisa, Kak Dika, Bibi Yosi, dan yang lainnya.
Mereka yang akan menjaga Ayah disini.” Usir sang ayah lembut sembari mengelus
rambut sang bungsu.
“Ingat apa yang ayah katakan
padamu, ya. Hiduplah seperti sapu tangan.” Lanjut Ahmad, dengan senyum tulus di
wajahnya.
“… Iya, Ayah. Aku pulang
dulu.” Jawab Lidia pelan, Ia mencium tangan Ahmad.
Lidia
berjalan keluar dari ruangan tersebut. Langkah kakinya Ia percepat, wajahnya
memerah, matanya terasa panas. Dengan cepat Ia menyenderkan tubuhnya di pojok
ruangan sepi. Air mata yang sedari tadi Ia tahan pun tumpah juga. Lidia terisak
pelan. Sungguh, Stroke yang diderita
sang Ayah benar-benar menyayat hatinya. Persentasi kesembuhan Ahmad sudah
meminim, bahkan bisa dikatakan mustahil. Kalaupun Ahmad sembuh, Ia tidak akan
kembali seperti semula.
.
.
.
.
“Cepatlah sembuh, Ayah…”
Ucapnya lirih.
***
Bel tiga
kali telah dibunyikan di bangunan tua nan besar itu. Banyak remaja
berbondong-bondong keluar dari ruangan masing-masing. Ada yang menuju tempat
ibadah, ada yang menuju kantin, ada pula yang menuju kamar kecil.
Lidia
terdiam menatap langit dengan tatapan yang tidak dapat diartikan. Sedari tadi,
perasaannya tidak menentu. Ia gelisah, perasaannya tidak enak. Ia yakin itu
bukan faktor dari ulangan Matematika yang baru saja Ia laksanakan tadi. Lidia
menghela nafas pelan. Berharap itu dapat menghilangkan perasaan gelisahnya,
barang sedikit saja.
“Eh, Lidia. Bagaimana dengan
ulangan tadi?” Tanya Putri kepada temannya, Lidia.
“Satu kata, Susah!” Jawab
Lidia dengan kesal.
“Hahahaha! Sudahlah. Yang
penting kita sudah berusaha. Kita ke kantin. Yuk!” Ajak perempuan berambut ikal
itu dengan semangat.
“Ayo.” Balas Lidia malas. Ia
berjalan mengikuti Putri sembari mengedarkan pandangan ke arah sekitarnya.
Tertangkap dalam tatapan matanya, seorang perempuan empat puluh tahunan,
berperawakan tinggi namun kurus, tampak panik seperti mencari seseorang. Lidia
pun membulatkan matanya. Perempuan itu ialah Yosi, bibi nya!
“Bibi? Kenapa Bibi ada di
sekolah ku?” Sapa Lidia dengan tatapan heran.
“Lidia! Ayo ikut bibi! Kita
pulang sekarang!” Tarik Yosi dengan paksa. Dapat dilihat oleh Lidia raut
kesedihan di wajah Yosi.
“Memangnya ada apa?” Tanya
Lidia panik.
“Sudah. Ikut dulu saja.”
Balas Yosi.
*
Lidia
segera memasuki mobilnya, dan dengan cepat mobil itu begerak entah kemana.
Lidia hanya bisa terdiam menatap Yosi dengan tatapan bingung. Dalam hatinya, Ia
bertanya-tanya apa gerangan yang telah terjadi.
“Lidia.. Yang sabar ya.”
Ucap Yosi memecah keheningan.
“M-memangnya ada apa?”
“Ayahmu.. Ayahmu kritis,
Lidia.” Jawab Yosi sambil menundukkan kepalanya.
Lidia
membulatkan matanya tak percaya. Air matanya jatuh tak tertahankan. Bagai
dihantam batu besar, Kepalanya pening tidak terkira. Lidia berharap semua ini
hanya mimpi. Sebuah mimpi buruk yang menghantui hidupnya.
*
“Ayah..” Sapa Lidia.
Ia
menatap miris kearah sang Ayah. Baru beberapa hari yang lalu Lidia bertemu sang
ayah, dan ayahnya pun masih dalam keadaan baik. Tetapi sekarang, berbagai alat
kesehatan sudah menempel di tubuh Ahmad, alat penunjang hidupnya. Tidak
terbayang dalam pikiran Lidia, jika semua alat itu dicabut dari tubuh sang
Ayah. Melayang sudah nyawa ayah tersayangnya itu.
“Lidia..” Sapa Asri, sang
ibu.
“Sampaikan salam
perpisahanmu kepada ayah.. Katakan kalau kamu sudah ikhlas akan semuanya, ya.”
Lanjut Asri dengan air mata yang sudah tidak dapat ditahannya. Ia menatap nanar
ke arah sang suami yang sudah tidak sadarkan diri.
“… Ayah.. Lidia sudah ikhlas
dengan semuanya. Ayah sudah berjuang dengan baik. Apapun yang Allah takdirkan,
Lidia sudah ikhlas, Ayah.” Bisik Lidia tepat disamping telinga Ahmad. Lidia
yakin, walaupun sang Ayah tidak bisa menjawabnya, tapi Ia pasti mendengar apa
yang Lidia ucapkan.
“Lidia, kamu pulang saja ya.
Istirahat di rumah dengan Kak Nisa. Nanti kalau ada sesuatu, ibu akan
memberikan kabar.”
Lidia hanya menganggukan
kepalanya. Perlahan Ia mencium kening sang Ayah dan mengucapkan salam.
*
Waktu
menunjukkan pukul tujuh malam. Matahari sudah terbenam, tergantikan oleh sang
bulan. Lidia terduduk di kasurnya. Ia menangis dalam diam, memikirkan keadaan
Ahmad, sang Ayah. Tidak henti-hentinya do’a selalu Ia panjatkan untuk
kesembuhan sang Ayah. Batinnya bergejolak. Lidia memang berkata bahwa Ia sudah
ikhlas. Tetapi, apakah Ia benar-benar sudah ikhlas?
“Lidia..” Sapaan Kak Nisa
memecahkan lamunan Lidia.
“Jangan menangis. Kita sudah
berbuat yang terbaik untuk Ayah. Dan Ayah pasti akan berjuang dengan sekuat
tenaga. Karena itu, jangan sedih lagi ya.”
“Iya. Terima kasih, Kak
Nisa.” Balas Lidia sembari tersenyum miris.
*
“Lidia, Nisa!” Ucapan Bibi
Yosi mengagetkan Lidia dan sang kakak.
“Ya, bi?” Jawab Kak Nisa
seadanya.
“Kalian.. yang tabah ya.
Ayah kalian.. Ahmad… Sudah di sisi Allah, sayang.”
Tangis
Lidia pecah saat itu juga. Dunia ini bagaikan runtuh. Mimpi buruk yang Ia
takuti selama ini benar-benar menjadi kenyataan. Lidia menutup kedua
telinganya, menolak semua realita yang ada. Ayahnya, Ayah yang paling Ia
sayangi, sudah pergi meninggalkannya. Bukan untuk sehari, sebulan, ataupun
setahun. Tetapi untuk selamanya. Dan Ahmad, tidak akan kembali lagi ke sisi
Lidia dan keluarganya.
***
Isak
tangis mengiringi kepergian Ahmad. Pemakaman yang dilaksanakan pada hari Jumat
itu, didatangi banyak orang yang kehilangan Ahmad. Lelaki murah senyum, ramah,
dan humoris itu benar-benar meninggalkan banyak kesan yang berarti bagi mereka
yang ditinggalkan. Tidak terkecuali Lidia, sang anak.
Lidia
meratapi kepergian Ahmad. Masih belum terbayangkan dalam benaknya, bahwa sang
Ayah, akan meninggalkannya secepat ini. Bahkan Lidia merasa belum membuat
Ayahnya bangga. Ia belum kuliah, belum menikah, dan belum memiliki anak. Ia
ingin sang Ayah melihatnya menjadi orang yang sukses. Tapi, pupus sudah
harapannya.
Dipegang
dengan erat sebuah sapu tangan cokelat muda dengan corak kotak-kotak di setiap
sisinya. Sapu tangan yang sangat sederhana, tetapi sangat bermakna. Sapu tangan
pemberian sang Ayah tercinta.
Diusapkan
air matanya dengan sapu tangan itu. Lidia menatap sapu tangan itu dalam diam.
Pegangan tangan pada sapu tangan itu mengerat. Ia, Lidia, telah menentukan
pilihan. Bahwa hidupnya harus berubah. Seperti
sapu tangan..
***
Suasana
ruang kelas terbilang sepi. Waktu masih menunjukkan pukul enam pagi. Lidia
menghela nafasnya pelan. Benar dugaan Lidia, bahwa Ia datang ke sekolah terlalu
cepat. Guna mengisi waktu, Lidia pun mengeluarkan sebuah buku dan membacanya.
“Lidia! Lidia! Dengar!”
Teriak Putri pada Lidia, sembari menggoyang-goyangkan bahu Lidia.
“Kau membuatku kaget saja!
Ada apa?” Tanya Lidia. Ia mengelus dadanya dan mendelik sinis ke arah Putri.
“Hehe, Maafkan aku. Dengar,
aku hanya akan mengatakan ini sekali saja!”
“Aku.. Menang dalam
kejuaraan yang aku ikuti!” Lanjut Putri dengan air mata bahagia nya. Terbaca
jelas dalam matanya, bahwa Ia benar-benar bahagia. Usaha yang Ia lakukan selama
ini tidak sia-sia begitu saja.
“Eh?! Benarkah? Selamat! Jangan
lupa traktir aku ya!” Respon Lidia sembari tertawa. Ia mengusapkan air mata
Putri dengan sapu tangan cokelat miliknya.
“Siap, leader! Kau juga, semakin hari semakin rajin belajar saja.
Sepertinya kelas kita akan mendapat juara kelas baru nih!” Goda Putri sembari
bersiul.
*
“Lidia..” Rengek Rara sambil
menarik-narik baju Lidia.
“Kenapa lagi, Ra?” Tanya
Lidia heran.
“Aku baru saja putus dengan
pacarku!” Jerit Rara frustasi, air matanya tumpah, Ia memeluk Lidia erat.
“Yaampun.. Kukira ada apa.”
Respon Lidia. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Persoalan remaja memang
tiada habisnya. Lidia tak habis pikir, bagaimana hanya karena putus cinta dapat
membuat seseorang sangat frustasi. Lidia menghela nafas, perlahan Ia menghapus
air mata Rara dengan sapu tangan pemberian mendiang Ahmad, Ayahnya.
“Sudah jangan sedih lagi.
Bagaimana kalau.. kutraktir makan?” Tawar Lidia.
“Owkayy, sir!”
***
Tepat
empat puluh hari yang lalu, Ahmad berpulang ke sisi Allah. Kepergian Ahmad
untuk selamanya itu, meninggalkan duka yang mendalam bagi siapa saja yang
mengenal Ahmad dengan baik. Ia merupakan suami, ayah, tetangga, bahkan atasan
yang terkenal ramah. Semua kenangan tentang Ahmad tidak dapat dilupakan oleh
keluarganya. Tetapi, mereka paham bahwa tidak boleh pula terlarut dalam
kesedihan. Begitu juga dengan Lidia, sang anak bungsu dari Ahmad.
Lidia
tersenyum tipis di pusara sang Ayah. Ia menaruh bunga dan membersihkan makam
Ayah tersayangnya. Tidak lupa pula Ia memanjatkan do’a kepada Allah, Do’a untuk
Ahmad, sang Ayah.
“Ayah! Apa kabar? Aku
datang, Ayah. Apa ayah baik-baik saja disana?” Tanya Lidia entah kepada siapa.
“Kabarku disini baik, Ayah.
Ayah harus dengar ini, Aku.. Sudah berusaha menjadi seperti sapu tangan. Itu
seperti apa yang ayah inginkan, kan? Aku akan selalu berusaha, Ayah. Lihat aku
dari sana, ya!”
Lidia
tersenyum simpul kearah langit. Angin membelai rambutnya dengan lembut, seolah
menyemangati Lidia. Perlahan, tapak kaki kecilnya berjalan meninggalkan pusara
Ahmad.
.
.
.
.
.
“Lidia, Jadilah seperti sapu tangan.
Disaat orang lain berusaha dan bersusah payah, Kau akan menyeka keringat
mereka. Dan disaat orang lain menangis, Kau akan menghapus air mata mereka.”
Oleh:
Arrum Shafa Maulidiazmi Umar (XI MIA 6)
0 comments:
Posting Komentar