Kamis, 30 Oktober 2014

SABAR




BRAKK!!!

Aku menutup pintu sekencang-kencangnya lalu menghempaskan tasku di sembarang tempat. Napasku memburu. Sambil berusaha keras menahan air mataku yang sepertinya sudah mengalir, aku menjatuhkan diriku di atas kasur. Aku menutupi wajahku dengan sebuah bantal berbentuk hati. Di kamar ini, di atas kasur ini, aku sudah tak perlu menyembunyikan semuanya lagi. Air mataku dengan leluasa mengalir. 

Sejak di sekolah  tadi aku berusaha keras menahan kristal bening ini berham-buran. Pasti malu rasanya menangis di depan umum, tapi mau bagaimana lagi? beginilah rasanya dikecewakan. Tapi untungnya aku bisa menahan diri sampai di rumah. Meskipun ibuku agaknya merasakan ada yang aneh padaku. 

Biasanya aku tak pernah seperti ini. Sepulang sekolah, aku selalu mengucapkan salam dan melepas sepatu lalu menaruhnya dengan rapi di rak, kemudian melenggang santai ke tangga menuju kamarku. Tapi kali ini berbeda. Setibanya di rumah, yang kulakukan malah melepaskan sepatuku dengan kasar, kubiarkan kedua sepatuku terkapar lesu di teras. Dan dengan gontai aku memasuki rumahku—tanpa salam. Peristiwa tadi siang begitu menohok ulu hatiku, hingga terbiarkan bayang-bayang itu menghantui pikiranku dalam setiap langkah yang kuambil.

Dengan posisi tengkurap, aku membangkitkan wajahku dari bantal hati yang sekarang ikut basah terkena air mataku. Aku meremas bantal itu kuat-kuat. Kupandangi sekeliling kamarku: ada meja belajarku, dia penuh dengan buku-buku dan berbagai piala pencapaianku yang membanggakan. Karena tak cukup tempat, ibuku mengambil beberapa dari mereka untuk dipajang di atas rak kaca di ruang tamu. Lalu di dinding kamar, tergantung tak kurang dari 5 medali dan pelbagai piagam penghargaan yang kuterima. Mereka disandingkan dengan rapi pada sisi dinding kamar yang paling mudah dilihat tamu. 

Semuanya, semua medali dan penghargaan itu, sekarang terlihat sama sekali tak bernilai, monokrom, lebih tepatnya bagi Ina. Aih, aku benar-benar benci sekali pada anak itu!

Bayangkan saja, sekolah kami mengadakan lomba cerdas cermat. Setiap kelas diharapkan ikut berpartisipasi dalam kegiatan sekolah tahunan dengan mengirim 3 anak untuk mengikuti lomba cerdas cermat itu. Di kelasku, aku adalah salah satu kandidat yang langsung terpilih karena telah banyak mengikuti berbagai ajang perlombaan.

“Rifa ‘kan pinter banget, kenapa gak dia aja yang mewakili kelas kita?” usul salah satu kawanku, yang belum semenit sudah ditanggapi dengan anggukan dan berbagai kalimat persetujuan oleh murid-murid lainnya.

Selain aku, ada Ina dan Fahmi yang ikut mewakili kelasku. Mereka berdua juga tak kalah pintar dariku. Fahmi sangat gesit dalam menjawab persoalan matematika. Dia juga pandai dalam menggunakan Bahasa Inggris. Sedangkan Ina, aku mengenalnya karena tahun lalu ia berhasil memenangkan lomba jurnalistik di sekolah lama kami. Dan kudengar ia juga pandai dalam urusan fisika dan kimia. Karena perpaduan yang menarik itu, akhirnya kami bertiga sepakat untuk  menempatkan Ina di posisi tengah dan menjadi juru bicara saat lomba cerdas cermat. Kenapa tidak? Ia sangat pandai dalam hal berbicara. Kemampuannya dalam hal mengolah kata tak perlu diragukan lagi. Kemenangannya dalam lomba jurnalistik membuktikan itu. Tidak sepertiku. Pendiam, tak pandai berbicara. Jelas saja temanku sedikit.

Tapi Ina sangat sibuk. Dia sering mengabaikan ajakanku untuk ikut belajar bersama sebagai persiapan lomba besok. Aku tahu jadwalnya penuh karena ia harus bimbel sepulang sekolah. Sebenarnya aku bisa saja memakluminya, untuk semua kesibukannya yang amat padat, itu jika dia tidak bicara lebih kasar dari ini:

“Elah, gua juga tau kali mesti belajar apa! Lo takutan amat sih, Rif! Gua juga udah sering kali ikut lomba kayak beginian. Lo mau ngeremehin gua hah? Di bimbel gua juga belajarr, jadi gausah bawel lagi nanya-nanya ‘belajar’ ke gua. Semua udah beres, oke?”

Dan tanpa menunggu jawaban dariku ia langsung mengambil iphonenya dan melenggang santai ke luar kelas. Aku hanya bisa menghela napas dalam-dalam. Berusaha sabar atas perilakunya yang sulit diajak bicara baik-baik.

Tentu saja bukan perlakuan dia tadi yang semata membuat hariku berantakan seperti ini. Aku rasa dia tidak menyukaiku. Ya, aku sudah lama mengetahuinya. Untuk teman-teman yang lain, Ina adalah seoorang siswi yang menyenangkan. Dia ramah dan supel sekali, kata teman-temanku. Sebaliknya bagiku, dia terlihat arogan dan sulit bekerja sama. Semuanya semakin jelas setiap aku mengajaknya untuk berdiskusi tentang LCT yang akan kami ikuti nanti. Dia tak pernah, sekalipun tak pernah, terlihat sedikit pun menghargaiku. Beberapa temanku bilang Ina membenciku karena dia iri padaku. Namun, aku kurang percaya tentang hal itu. Dia cantik, tinggi, cerdas, dan berasal dari keluarga kalangan berada. Teman-temannya juga banyak. Aku jarang melihatnya berjalan sendirian, entah ke kantin atau perpustakaan. Semuanya lengkap ia miliki, apa lagi yang kurang?

Tapi sekarang aku tahu kenapa dia membenciku. Semuanya berawal dari saat jam kosong. Kala itu aku memutuskan untuk pergi ke wastafel karena tanganku masih kotor setelah jam sebelumnya kami sekelas diberi tugas untuk melukis kaleng untuk dijadikan pot tanaman. Wastafel terdekat ada di tengah-tengah taman di depan kelasku. Di belakangnya terdapat perpustakaan. Dengan santai aku mengusapkan sabun ke tanganku, kemudian menaruhnya di bawah kran air yang mengalir, sambil menikmati udara semilir dari taman. Nikmatnya udara sore, batinku. Kalau dihitung-hitung, kesibukanku di sekolah mengurangi waktuku untuk menikmati alam bebas. Maka kegiatan seperti ini juga bisa dibilang rekreasi kecil-kecilan.

Kran pun kututup. Aku mengeringkan telapak tanganku lalu berjalan pelan menuju kelas. Sayup-sayup terdengar suara yang memunggungiku,”Sebenarnya aku juga mau ikut lomba cerdas cermat kayak kamu, Na.”

“Lho, kenapa gak bilang dari awal?” aku juga mendengar suara Ina.

Aku menoleh ke belakang, rupanya Ina dan Arin—teman sekelasku, sedang terduduk di teras perpustakaan. Arin merupakan salah satu teman dekat Ina, mereka sering menghabiskan waktu bersama. Mereka berdua duduk memunggungiku, jadi sepertinya mereka tak melihatku. Maka aku berjalan lebih lambat. Aku rasa ini ada hubungannya dengan aku.

Dan benar saja,”Kalo sejak awal lu ngajuin diri buat ikut, ya pasti si Rifa gak bakal ikut lah,” cetus Ina.

“Ya gapapa sih. Bukannya itu udah keputusan kelas? Tapi kok lu kayaknya benci banget sih sama si Rifa?” Arin dengan lugu bertanya.

Sambil mendengus pelan, Ina yang sedikit memelankan suaranya berkata,”Iya, habisnya, dia belagu banget sih, pake nyuruh-nyuruh gua belajar segala. Kesannya kayak ngeremehin gitu dah. Mana sekelas cuma tau kalo yang pinter itu Rifa sama Fahmi aja.”

“Cuma tau gimana? Kita semua juga tau kali lu pinter,” kata Arin mencoba memuji Ina. Dan belum sampai lima detik Arin bertanya lagi.

“Atau mungkin lu iri ya sama Rifa?”

“Ih, gak banget! Lu pikir dong, Rin, Masa cewek kampungan kayak dia merintah gua. Apa banget!”

“I.. iya juga sih,” ucap Arin ragu-ragu.

“Pokoknya gini aja deh, kita bilang aja ke Wahyu—ketua kelas, kalo lu bakal gantiin Rifa buat ikut cerdas cermat, tapi jangan bilang ke Rifanya sampai hari-H, okee?”

“Emang boleh sama Wahyu?” kata Arin semakin ragu. Aku mendengar ada sedikit nada bersalah dari kata-katanya.

“Udah pokoknya lu tenang aja, Wahyu ‘kan deket sama gua.”

“Hm, yaudah deh.” Jawab Arin mengiyakan.

Apa?? Mereka berdua mau menjatuhkanku dari belakang?

Aku tak dapat mempercayai ini. Ina sangat sombong. Memangnya tidak boleh anak dari kampung ikut lomba?

Aku tahu anak-anak kampung selalu terlihat kurang pintar dibanding mereka yang tinggal di kota, tapi bukan berarti kami semua bodoh! Ini jelas perlakuan diskriminasi!

Aku berusaha menahan air mataku keluar. Belum pernah aku dibenci orang lain hingga seperti ini. Karena itu aku tak tahan lagi sesampainya di rumah. Aku menangis sepuasnya.

Ingin rasanya aku menghajarnya saat itu juga!

Tapi, hei! Di antara medali-medali itu sepertinya aku melihat sesuatu. Apa ya?

Seketika aku tersadar. Itu adalah sebuah tulisan arab.

Man shabara zhafira

Kata-kata itu seperti berkaitan dengan apa yang kurasakan sekarang. Sedetik kemudian aku merasakan aliran listrik mengaliri seluruh tubuhku. Tiba-tiba saja, semua medali dan penghargaan itu, terlihat mudah saja jika disandingkan dengan kalimat ini.

Itu dia kuncinya.

Sambil tersenyum aku menghapus air mataku.

Bukankah Tuhan selalu bersama orang-orang yang sabar?
                                                ******
Hari ini terlihat lebih indah. Teman-teman dan guru-guru tak henti-hentinya megucapkan selamat pada kami. Aku tersenyum bahagia dan mengerling pada teman seperjuanganku, Fahmi dan Hilya. Ina tak bisa masuk. Dia sedang dirawat di rumah sakit. Kena tyfus katanya. Jadi Hilyalah yang menggantikan Ina. Kuharap dia bisa cepat sembuh. Untunglah Wahyu tak menanggapi hasutannya bersama Arin dua minggu yang lalu.

Kini, semuanya terlihat lebih indah.

“Rifa, boleh bicara sebentar gak?” tanya suara kecil di belakangku. Aku berbalik.

Ternyata Arin. Dia tersenyum malu-malu padaku.

“Maafin Ina ya, Rif. Maafin aku juga. Kami pernah bersekongkol buat ngejatuhin kamu. Sebenernya aku gak tega ngelakuin ini, tapi aku gak bisa ngelak saat Ina ngusulin itu. Kamu mau maafin kami ‘kan?” ujarnya penuh penyesalan.

“Iya, aku udah tau kok dari awal. Pasti aku maafin kok,” kataku halus.

“Tadi aku ditelepon Ina. Dia bilang kondisinya udah membaik sekarang. Dia juga minta maaf karena gak bisa ikut lomba. Yah, kukira dengan dia gak masuk mendadak begini kelas kita pasti kalah. Ternyata enggak. Kamu emang pinter, Rif. Kami salah udah ngeremehin kamu,” kata Arin malu-malu.

“Ah, gak juga kok. Ini ‘kan karena usaha juga. Justru dengan setiap kalimat remehan itu aku jadi makin bersemangat buat ngebuktiin kalo aku bisa. Jadi, jangan terlalu bersalah juga,” jawabku tenang.

“Mm, jadi dimaafin nih?” katanya sambil menglurkan tangannya.

Aku menyambut uluran tangannya.

“Iya, bilangin juga ke Ina, kalo aku minta maaf kalau keberadaan aku kurang berkenan di hatinya,” kataku.

“Pasti,” Arin tersenyum.

Perseteruan kami pun berakhir di siang berawan yang damai.





Oleh: Shofa Syahidah (X MIA 4)


0 comments:

Posting Komentar

Hubungi kami :

Twitter : @APAksara

Email : apaksara3@gmail.com

HP : 085773226995

Instagram: kapas3.aksara

Twitter

Translator