BRAKK!!!
Aku menutup pintu sekencang-kencangnya lalu
menghempaskan tasku di sembarang tempat. Napasku memburu. Sambil berusaha keras
menahan air mataku yang sepertinya sudah mengalir, aku menjatuhkan diriku di
atas kasur. Aku menutupi wajahku dengan sebuah bantal berbentuk hati. Di kamar
ini, di atas kasur ini, aku sudah tak perlu menyembunyikan semuanya lagi. Air
mataku dengan leluasa mengalir.
Sejak di sekolah
tadi aku berusaha keras menahan kristal bening ini berham-buran. Pasti
malu rasanya menangis di depan umum, tapi mau bagaimana lagi? beginilah rasanya
dikecewakan. Tapi untungnya aku bisa menahan diri sampai di rumah. Meskipun ibuku
agaknya merasakan ada yang aneh padaku.
Biasanya aku tak pernah seperti ini. Sepulang sekolah,
aku selalu mengucapkan salam dan melepas sepatu lalu menaruhnya dengan rapi di
rak, kemudian melenggang santai ke tangga menuju kamarku. Tapi kali ini berbeda.
Setibanya di rumah, yang kulakukan malah melepaskan sepatuku dengan kasar,
kubiarkan kedua sepatuku terkapar lesu di teras. Dan dengan gontai aku memasuki
rumahku—tanpa salam. Peristiwa tadi siang begitu menohok ulu hatiku, hingga
terbiarkan bayang-bayang itu menghantui pikiranku dalam setiap langkah yang
kuambil.
Dengan posisi tengkurap, aku membangkitkan wajahku
dari bantal hati yang sekarang ikut basah terkena air mataku. Aku meremas
bantal itu kuat-kuat. Kupandangi sekeliling kamarku: ada meja belajarku, dia
penuh dengan buku-buku dan berbagai piala pencapaianku yang membanggakan.
Karena tak cukup tempat, ibuku mengambil beberapa dari mereka untuk dipajang di
atas rak kaca di ruang tamu. Lalu di dinding kamar, tergantung tak kurang dari
5 medali dan pelbagai piagam penghargaan yang kuterima. Mereka disandingkan
dengan rapi pada sisi dinding kamar yang paling mudah dilihat tamu.
Semuanya, semua medali dan penghargaan itu, sekarang
terlihat sama sekali tak bernilai, monokrom, lebih tepatnya bagi Ina. Aih, aku
benar-benar benci sekali pada anak itu!
Bayangkan saja, sekolah kami mengadakan lomba cerdas
cermat. Setiap kelas diharapkan ikut berpartisipasi dalam kegiatan sekolah
tahunan dengan mengirim 3 anak untuk mengikuti lomba cerdas cermat itu. Di kelasku,
aku adalah salah satu kandidat yang langsung terpilih karena telah banyak
mengikuti berbagai ajang perlombaan.
“Rifa ‘kan pinter banget, kenapa gak dia aja yang
mewakili kelas kita?” usul salah satu kawanku, yang belum semenit sudah
ditanggapi dengan anggukan dan berbagai kalimat persetujuan oleh murid-murid
lainnya.
Selain aku, ada Ina dan Fahmi yang ikut mewakili
kelasku. Mereka berdua juga tak kalah pintar dariku. Fahmi sangat gesit dalam
menjawab persoalan matematika. Dia juga pandai dalam menggunakan Bahasa
Inggris. Sedangkan Ina, aku mengenalnya karena tahun lalu ia berhasil
memenangkan lomba jurnalistik di sekolah lama kami. Dan kudengar ia juga pandai
dalam urusan fisika dan kimia. Karena perpaduan yang menarik itu, akhirnya kami
bertiga sepakat untuk menempatkan Ina di
posisi tengah dan menjadi juru bicara saat lomba cerdas cermat. Kenapa tidak?
Ia sangat pandai dalam hal berbicara. Kemampuannya dalam hal mengolah kata tak
perlu diragukan lagi. Kemenangannya dalam lomba jurnalistik membuktikan itu.
Tidak sepertiku. Pendiam, tak pandai berbicara. Jelas saja temanku sedikit.
Tapi Ina sangat sibuk. Dia sering mengabaikan ajakanku
untuk ikut belajar bersama sebagai persiapan lomba besok. Aku tahu jadwalnya
penuh karena ia harus bimbel sepulang sekolah. Sebenarnya aku bisa saja
memakluminya, untuk semua kesibukannya yang amat padat, itu jika dia tidak
bicara lebih kasar dari ini:
“Elah, gua juga tau kali mesti belajar apa! Lo takutan
amat sih, Rif! Gua juga udah sering kali ikut lomba kayak beginian. Lo mau
ngeremehin gua hah? Di bimbel gua juga belajarr, jadi gausah bawel lagi
nanya-nanya ‘belajar’ ke gua. Semua udah beres, oke?”
Dan tanpa menunggu jawaban dariku ia langsung
mengambil iphonenya dan melenggang
santai ke luar kelas. Aku hanya bisa menghela napas dalam-dalam. Berusaha sabar
atas perilakunya yang sulit diajak bicara baik-baik.
Tentu saja bukan perlakuan dia tadi yang semata
membuat hariku berantakan seperti ini. Aku rasa dia tidak menyukaiku. Ya, aku
sudah lama mengetahuinya. Untuk teman-teman yang lain, Ina adalah seoorang
siswi yang menyenangkan. Dia ramah dan supel sekali, kata teman-temanku.
Sebaliknya bagiku, dia terlihat arogan dan sulit bekerja sama. Semuanya semakin
jelas setiap aku mengajaknya untuk berdiskusi tentang LCT yang akan kami ikuti
nanti. Dia tak pernah, sekalipun tak pernah, terlihat sedikit pun menghargaiku.
Beberapa temanku bilang Ina membenciku karena dia iri padaku. Namun, aku kurang
percaya tentang hal itu. Dia cantik, tinggi, cerdas, dan berasal dari keluarga kalangan
berada. Teman-temannya juga banyak. Aku jarang melihatnya berjalan sendirian,
entah ke kantin atau perpustakaan. Semuanya lengkap ia miliki, apa lagi yang
kurang?
Tapi sekarang aku tahu kenapa dia membenciku. Semuanya
berawal dari saat jam kosong. Kala itu aku memutuskan untuk pergi ke wastafel
karena tanganku masih kotor setelah jam sebelumnya kami sekelas diberi tugas
untuk melukis kaleng untuk dijadikan pot tanaman. Wastafel terdekat ada di
tengah-tengah taman di depan kelasku. Di belakangnya terdapat perpustakaan.
Dengan santai aku mengusapkan sabun ke tanganku, kemudian menaruhnya di bawah
kran air yang mengalir, sambil menikmati udara semilir dari taman. Nikmatnya udara sore, batinku. Kalau
dihitung-hitung, kesibukanku di sekolah mengurangi waktuku untuk menikmati alam
bebas. Maka kegiatan seperti ini juga bisa dibilang rekreasi kecil-kecilan.
Kran pun kututup. Aku mengeringkan telapak tanganku
lalu berjalan pelan menuju kelas. Sayup-sayup terdengar suara yang
memunggungiku,”Sebenarnya aku juga mau ikut lomba cerdas cermat kayak kamu,
Na.”
“Lho, kenapa gak bilang dari awal?” aku juga mendengar
suara Ina.
Aku menoleh ke belakang, rupanya Ina dan Arin—teman
sekelasku, sedang terduduk di teras perpustakaan. Arin merupakan salah satu
teman dekat Ina, mereka sering menghabiskan waktu bersama. Mereka berdua duduk
memunggungiku, jadi sepertinya mereka tak melihatku. Maka aku berjalan lebih
lambat. Aku rasa ini ada hubungannya dengan aku.
Dan benar saja,”Kalo sejak awal lu ngajuin diri buat
ikut, ya pasti si Rifa gak bakal ikut lah,” cetus Ina.
“Ya gapapa sih. Bukannya itu udah keputusan kelas?
Tapi kok lu kayaknya benci banget sih sama si Rifa?” Arin dengan lugu bertanya.
Sambil mendengus pelan, Ina yang sedikit memelankan
suaranya berkata,”Iya, habisnya, dia belagu banget sih, pake nyuruh-nyuruh gua
belajar segala. Kesannya kayak ngeremehin gitu dah. Mana sekelas cuma tau kalo
yang pinter itu Rifa sama Fahmi aja.”
“Cuma tau gimana? Kita semua juga tau kali lu pinter,”
kata Arin mencoba memuji Ina. Dan belum sampai lima detik Arin bertanya lagi.
“Atau mungkin lu iri ya sama Rifa?”
“Ih, gak banget! Lu pikir dong, Rin, Masa cewek
kampungan kayak dia merintah gua. Apa banget!”
“I.. iya juga sih,” ucap Arin ragu-ragu.
“Pokoknya gini aja deh, kita bilang aja ke Wahyu—ketua
kelas, kalo lu bakal gantiin Rifa buat ikut cerdas cermat, tapi jangan bilang
ke Rifanya sampai hari-H, okee?”
“Emang boleh sama Wahyu?” kata Arin semakin ragu. Aku mendengar
ada sedikit nada bersalah dari kata-katanya.
“Udah pokoknya lu tenang aja, Wahyu ‘kan deket sama
gua.”
“Hm, yaudah deh.” Jawab Arin mengiyakan.
Apa??
Mereka berdua mau menjatuhkanku dari belakang?
Aku tak dapat mempercayai ini. Ina sangat sombong. Memangnya tidak boleh anak dari kampung ikut
lomba?
Aku
tahu anak-anak kampung selalu terlihat kurang pintar dibanding mereka yang tinggal
di kota, tapi bukan berarti kami semua bodoh! Ini jelas perlakuan diskriminasi!
Aku berusaha menahan air mataku keluar. Belum pernah
aku dibenci orang lain hingga seperti ini. Karena itu aku tak tahan lagi
sesampainya di rumah. Aku menangis sepuasnya.
Ingin rasanya aku menghajarnya saat itu juga!
Tapi, hei! Di antara medali-medali itu sepertinya aku
melihat sesuatu. Apa ya?
Seketika aku tersadar. Itu adalah sebuah tulisan arab.
Man
shabara zhafira
Kata-kata itu seperti berkaitan dengan apa yang
kurasakan sekarang. Sedetik kemudian aku merasakan aliran listrik mengaliri
seluruh tubuhku. Tiba-tiba saja, semua medali dan penghargaan itu, terlihat
mudah saja jika disandingkan dengan kalimat ini.
Itu dia kuncinya.
Sambil tersenyum aku menghapus air mataku.
Bukankah
Tuhan selalu bersama orang-orang yang sabar?
******
Hari ini terlihat lebih indah. Teman-teman dan guru-guru
tak henti-hentinya megucapkan selamat pada kami. Aku tersenyum bahagia dan
mengerling pada teman seperjuanganku, Fahmi dan Hilya. Ina tak bisa masuk. Dia
sedang dirawat di rumah sakit. Kena tyfus
katanya. Jadi Hilyalah yang menggantikan Ina. Kuharap dia bisa cepat sembuh.
Untunglah Wahyu tak menanggapi hasutannya bersama Arin dua minggu yang lalu.
Kini, semuanya terlihat lebih indah.
“Rifa, boleh bicara sebentar gak?” tanya suara kecil
di belakangku. Aku berbalik.
Ternyata Arin. Dia tersenyum malu-malu padaku.
“Maafin Ina ya, Rif. Maafin aku juga. Kami pernah
bersekongkol buat ngejatuhin kamu. Sebenernya aku gak tega ngelakuin ini, tapi
aku gak bisa ngelak saat Ina ngusulin itu. Kamu mau maafin kami ‘kan?” ujarnya
penuh penyesalan.
“Iya, aku udah tau kok dari awal. Pasti aku maafin kok,”
kataku halus.
“Tadi aku ditelepon Ina. Dia bilang kondisinya udah
membaik sekarang. Dia juga minta maaf karena gak bisa ikut lomba. Yah, kukira
dengan dia gak masuk mendadak begini kelas kita pasti kalah. Ternyata enggak.
Kamu emang pinter, Rif. Kami salah udah ngeremehin kamu,” kata Arin malu-malu.
“Ah, gak juga kok. Ini ‘kan karena usaha juga. Justru
dengan setiap kalimat remehan itu aku jadi makin bersemangat buat ngebuktiin
kalo aku bisa. Jadi, jangan terlalu bersalah juga,” jawabku tenang.
“Mm, jadi dimaafin nih?” katanya sambil menglurkan
tangannya.
Aku menyambut uluran tangannya.
“Iya, bilangin juga ke Ina, kalo aku minta maaf kalau
keberadaan aku kurang berkenan di hatinya,” kataku.
“Pasti,” Arin tersenyum.
Perseteruan kami pun berakhir di siang berawan yang
damai.
Oleh: Shofa
Syahidah (X MIA 4)
0 comments:
Posting Komentar