Terdengar gema azan di surau membangunkan
Lani yang masih setengah tertidur. Hingga suara Arai yang benar-benar membuat
Lani terbangun “Abang berisiiiiiiiik, sudah tahu Lani sudah bangun, tak perlu
dibangunkan lagi“ ucap Lani kesal “ohya? Wah maaf Abang tidak tahu“ balas Arai
meledek Lani.
Begitulah rutinitas sebuah keluarga
kecil di gubuk saat pagi hari. Sebuah keluarga yang beranggotakan empat orang.
Ayah, ibu, Arai dan Lani. Kehidupan sederhana benar-benar tidak menyurutkan
semangat Arai dan Lani untuk bersekolah. Arai kini duduk dibangku 2 SMA,
sedangkan Lani duduk dibangku 1 SMP. Setiap harinya Arai dan Lani pergi ke
sekolah bersama dengan sepeda birunya yang mereka namakan Sedak. Sekolah mereka
berdekatan, sehingga tak sulit untuk mereka berangkat dan pulang bersama.
“eh eh eh” suara sepeda jatuh mengalahkan
suara Lani. “aduh, apa-apaan sih dia. Tidak hati-hati sekali jalannya” ucap
Lani mengaduh. Sebuah Honda Jazz 90an
berhenti tepat disamping sepeda mereka yang kini tergolek, Arai melihat kaki
yang turun perlahan dari mobil itu. Segera Ia bangkit berdiri. Seorang gadis
cantik kini tepat dihadapannya, membuat Arai terdiam dan segera beristighfar.
“aduh, maaf ya. Maafkan supirku yang ceroboh ini. Kalian tidak apa-apa?” tanya
gadis itu. Belum sempat Arai menjawab, Lani berkata “tidak apa-apa bagaimana?
Lihat ini, baju kami jadi kotor! Ini, lihat! Tanganku juga jadi luka.” “ssst
Lani! Tidak baik bicara seperti itu. Menyampaikan sesuatu itu harus dengan cara
yang baik. Kamu lupa pesan ayah?” kata Arai mengingatkan “maafkan aku ya,
kalian mau kemana? Sebagai permintaan maaf aku dan supirku akan mengantarkan
kalian ke tempat tujuan kalian” kata gadis itu lembut. “tidak, tidak perlu.
Kami bisa pergi sendiri. Terima kasih” tolak Arai cepat sebelum Lani menyelak
perkataan Arai lagi. Seketika Lani berbisik pada Arai “Bang, kenapa tidak
diterima saja tawarannya? Lani kan ingin mencoba naik mobil. Lagipula ini sudah
jam berapa bang, nanti kita telat masuk sekolahnya” bujuk Lani “aku sangat berterima
kasih jika kalian ingin naik ke mobilku. Naiklah“ ucap gadis itu. Mereka pun
akhirnya mengalah dan naik ke mobil gadis cantik itu, kemudian di antarnya
sampai ke sekolah masing-masing.
***
“huh lama sekali sih bang Arai” keluh Lani di
tempat biasa Ia menunggu, warung depan sekolah Arai. “Lani, masih menunggu bang
Arai?” terdengar suara serak yang sudah Ia kenali, Tiur. “belum nih, bang Arai
lama sekali” kata Lani “ yasudah, aku duluan ya Lani” pamit Tiur “iya,
hati-hati ya Tiur” balas Lani. Suara bel Sedak terdengar memekik. Lani langsung
menoleh, dilihatnya Arai dan Sedak sedang menuju ke arah Lani. “maaf ya lama
menunggu” kata Arai “kebiasaan” balas Lani cemberut “sengaja, supaya kamu bisa
kebiasaan juga memaafkan orang lain“ kata Arai sedikit tertawa. “dan kebiasaan
juga bang Arai meledek Lani, sudah ah ayo kita pulang, Ibu pasti sudah
menunggu” kata Lani. “iya, ayo cepat naik” kata Arai.
Ðitengah perjalanan seperti biasa Lani pasti
bercerita tentang disekolahnya hari itu “bang, Lani tidak suka deh, masa orang
yang tidak bisa menggambar dituntut untuk bisa. Seperti tadi. Lani kan tidak
bisa menggambar tapi ibu gurunya tidak mau tau gitu. Lani diam saja. Saat ibu
guru seperti itu. Lagipula memangnya Lani harus berbuat apa, sudah tau Lani
tidak bisa. Ya tidak bisa. Menurut bang Arai Lani harus bagaimana?” tanya Lani
di akhir ceritanya. Tetapi pertanyaan Lani tak digubris oleh Arai yang nyatanya
Arai sudah melamun sejak Lani bercerita. “bang… abang… bang Arai…” panggil Lani
sambil menarik baju Arai. “eh eh eh haduh Lani, kenapa sih kamu” tanya Arai
yang panik sepedanya mengguncang “Abang tuh yang kenapa. Lani bertanya tidak di
jawab” kata Lani sebal “memangnya kamu bertanya apa? Abang tidak dengar” Kata
Arai “jadi, daritadi Lani bercerita jangan-jangan bang Arai juga tidak dengar?”
tanya Lani “tidak, memangnya kamu bercerita ya?” kata Arai balik bertanya.
“bang Araaaaiii” teriak Lani yang kali ini menarik-narik tas Arai “aduh aduh maaf
Lani, abang kan tidak tau.” “makanya jangan melamun. Memangnya bang Arai
memikirkan apa sih?” tanya Lani “tidak. Tidak memikirkan apa-apa kok” kata Arai
“hmm pasti bang Arai bohong kan? Pasti bang Arai sedang memikirkan sesuatu kan?
Jangan-jangan bang Arai memikirkan kakak cantik yang tadi pagi itu ya? Hayo
mengaku saja” kata Lani “ abang penasaran saja Lan, tadi pagi abang tidak
sempat tanya namanya.” “nah kan Lani benar. Jangan-jangan abang suka ya dengan
kakak itu? Kali ini pasti Lani benar lagi” kata Lani dengan bangga. “halah sok
tau kamu” sanggah Arai.
***
Waktu menunjukkan pukul 5 sore. Arai dan Lani
baru saja selesai membantu ibu mengolah adonan membuat kue untuk jualan besok
di balai bambunya diberanda rumah. “Arai Lani ayo masuk sudah mau masuk waktu
maghrib” panggil ibu yang lebih dulu masuk ke dalam rumah “iya bu” kata Lani
“bang, ayo masuk” ajak Lani. “abang…” kata Lani yang kini tengah berteriak ditelinga Arai, membuat Arai kaget
dan sedikit gusar. “makanya kalau di ajak bicara jangan melamun terus! Itu tidak baik” kata Lani yang masih berteriak
ditelinga Arai, tak memperdulikan Arai yang semakin gusar. Lani kemudian
berlari masuk ke dalam rumah, takut kalau-kalau Arai balik berteriak
ditelinganya. Tapi Arai tak juga masuk mengikuti Lani. Dalam benaknya Ia masih
berpikir apakah Ia dapat bertemu dengan gadis itu sekedar untuk bertanya
namanya. “Arai, kamu sedang apa? Kok belum masuk?” kata ibu dibadan pintu “iya,
bu ini Arai sudah mau masuk hehe” jawab Arai yang masih terngiang akan
pertanyaannya sendiri. Akankah Ia dapat
mengetahui nama gadis itu? Pikirnya.
Oleh: Bilqisthi (XI IIS 3)
0 comments:
Posting Komentar