Kamis, 30 Oktober 2014

Senja di Ufuk Barat





Terdengar gema azan di surau membangunkan Lani yang masih setengah tertidur. Hingga suara Arai yang benar-benar membuat Lani terbangun “Abang berisiiiiiiiik, sudah tahu Lani sudah bangun, tak perlu dibangunkan lagi“ ucap Lani kesal “ohya? Wah maaf Abang tidak tahu“ balas Arai meledek Lani.

            Begitulah rutinitas sebuah keluarga kecil di gubuk saat pagi hari. Sebuah keluarga yang beranggotakan empat orang. Ayah, ibu, Arai dan Lani. Kehidupan sederhana benar-benar tidak menyurutkan semangat Arai dan Lani untuk bersekolah. Arai kini duduk dibangku 2 SMA, sedangkan Lani duduk dibangku 1 SMP. Setiap harinya Arai dan Lani pergi ke sekolah bersama dengan sepeda birunya yang mereka namakan Sedak. Sekolah mereka berdekatan, sehingga tak sulit untuk mereka berangkat dan pulang bersama.


“eh eh eh” suara sepeda jatuh mengalahkan suara Lani. “aduh, apa-apaan sih dia. Tidak hati-hati sekali jalannya” ucap Lani mengaduh. Sebuah Honda  Jazz 90an berhenti tepat disamping sepeda mereka yang kini tergolek, Arai melihat kaki yang turun perlahan dari mobil itu. Segera Ia bangkit berdiri. Seorang gadis cantik kini tepat dihadapannya, membuat Arai terdiam dan segera beristighfar. “aduh, maaf ya. Maafkan supirku yang ceroboh ini. Kalian tidak apa-apa?” tanya gadis itu. Belum sempat Arai menjawab, Lani berkata “tidak apa-apa bagaimana? Lihat ini, baju kami jadi kotor! Ini, lihat! Tanganku juga jadi luka.” “ssst Lani! Tidak baik bicara seperti itu. Menyampaikan sesuatu itu harus dengan cara yang baik. Kamu lupa pesan ayah?” kata Arai mengingatkan “maafkan aku ya, kalian mau kemana? Sebagai permintaan maaf aku dan supirku akan mengantarkan kalian ke tempat tujuan kalian” kata gadis itu lembut. “tidak, tidak perlu. Kami bisa pergi sendiri. Terima kasih” tolak Arai cepat sebelum Lani menyelak perkataan Arai lagi. Seketika Lani berbisik pada Arai “Bang, kenapa tidak diterima saja tawarannya? Lani kan ingin mencoba naik mobil. Lagipula ini sudah jam berapa bang, nanti kita telat masuk sekolahnya” bujuk Lani “aku sangat berterima kasih jika kalian ingin naik ke mobilku. Naiklah“ ucap gadis itu. Mereka pun akhirnya mengalah dan naik ke mobil gadis cantik itu, kemudian di antarnya sampai ke sekolah masing-masing.

***

“huh lama sekali sih bang Arai” keluh Lani di tempat biasa Ia menunggu, warung depan sekolah Arai. “Lani, masih menunggu bang Arai?” terdengar suara serak yang sudah Ia kenali, Tiur. “belum nih, bang Arai lama sekali” kata Lani “ yasudah, aku duluan ya Lani” pamit Tiur “iya, hati-hati ya Tiur” balas Lani. Suara bel Sedak terdengar memekik. Lani langsung menoleh, dilihatnya Arai dan Sedak sedang menuju ke arah Lani. “maaf ya lama menunggu” kata Arai “kebiasaan” balas Lani cemberut “sengaja, supaya kamu bisa kebiasaan juga memaafkan orang lain“ kata Arai sedikit tertawa. “dan kebiasaan juga bang Arai meledek Lani, sudah ah ayo kita pulang, Ibu pasti sudah menunggu” kata Lani. “iya, ayo cepat naik” kata Arai.

Ðitengah perjalanan seperti biasa Lani pasti bercerita tentang disekolahnya hari itu “bang, Lani tidak suka deh, masa orang yang tidak bisa menggambar dituntut untuk bisa. Seperti tadi. Lani kan tidak bisa menggambar tapi ibu gurunya tidak mau tau gitu. Lani diam saja. Saat ibu guru seperti itu. Lagipula memangnya Lani harus berbuat apa, sudah tau Lani tidak bisa. Ya tidak bisa. Menurut bang Arai Lani harus bagaimana?” tanya Lani di akhir ceritanya. Tetapi pertanyaan Lani tak digubris oleh Arai yang nyatanya Arai sudah melamun sejak Lani bercerita. “bang… abang… bang Arai…” panggil Lani sambil menarik baju Arai. “eh eh eh haduh Lani, kenapa sih kamu” tanya Arai yang panik sepedanya mengguncang “Abang tuh yang kenapa. Lani bertanya tidak di jawab” kata Lani sebal “memangnya kamu bertanya apa? Abang tidak dengar” Kata Arai “jadi, daritadi Lani bercerita jangan-jangan bang Arai juga tidak dengar?” tanya Lani “tidak, memangnya kamu bercerita ya?” kata Arai balik bertanya. “bang Araaaaiii” teriak Lani yang kali ini menarik-narik tas Arai “aduh aduh maaf Lani, abang kan tidak tau.” “makanya jangan melamun. Memangnya bang Arai memikirkan apa sih?” tanya Lani “tidak. Tidak memikirkan apa-apa kok” kata Arai “hmm pasti bang Arai bohong kan? Pasti bang Arai sedang memikirkan sesuatu kan? Jangan-jangan bang Arai memikirkan kakak cantik yang tadi pagi itu ya? Hayo mengaku saja” kata Lani “ abang penasaran saja Lan, tadi pagi abang tidak sempat tanya namanya.” “nah kan Lani benar. Jangan-jangan abang suka ya dengan kakak itu? Kali ini pasti Lani benar lagi” kata Lani dengan bangga. “halah sok tau kamu” sanggah Arai.

***

Waktu menunjukkan pukul 5 sore. Arai dan Lani baru saja selesai membantu ibu mengolah adonan membuat kue untuk jualan besok di balai bambunya diberanda rumah. “Arai Lani ayo masuk sudah mau masuk waktu maghrib” panggil ibu yang lebih dulu masuk ke dalam rumah “iya bu” kata Lani “bang, ayo masuk” ajak Lani. “abang…” kata Lani yang kini tengah  berteriak ditelinga Arai, membuat Arai kaget dan sedikit gusar. “makanya kalau di ajak bicara jangan melamun terus! Itu  tidak baik” kata Lani yang masih berteriak ditelinga Arai, tak memperdulikan Arai yang semakin gusar. Lani kemudian berlari masuk ke dalam rumah, takut kalau-kalau Arai balik berteriak ditelinganya. Tapi Arai tak juga masuk mengikuti Lani. Dalam benaknya Ia masih berpikir apakah Ia dapat bertemu dengan gadis itu sekedar untuk bertanya namanya. “Arai, kamu sedang apa? Kok belum masuk?” kata ibu dibadan pintu “iya, bu ini Arai sudah mau masuk hehe” jawab Arai yang masih terngiang akan pertanyaannya sendiri. Akankah Ia dapat mengetahui nama gadis itu? Pikirnya.



Oleh: Bilqisthi (XI IIS 3)


0 comments:

Posting Komentar

Hubungi kami :

Twitter : @APAksara

Email : apaksara3@gmail.com

HP : 085773226995

Instagram: kapas3.aksara

Twitter

Translator