Masa
depan mungkin adalah misteri yang tak terjawab. Namun, ketika masa depan
terungkap didalam fikiranmu saat waktu bahkan belum memberi jawabannya, akankah
itu menjadi sebuah anugerah? Atau, kutukan?.
Awalnya
gadis itu hanya melihat peristiwa-peristiwa kecil.
“Mamah,
gelasnya jatuh” Ucapnya sambil menunjuk gelas yang nampak baik-baik saja diatas
meja.
“Gelas
itu tidak jatuh Anari sayang ” Ucap ibunya lembut. Tak lama seekor kucing
melompat ke atas meja dan menjatuhkan gelas itu dengan ekornya.
Kejadian-kejadian
semacam itu sering terjadi membuat orangtunya khawatir hingga membawa dia ke
dokter dan para ahli namun tidak membuahkan hasil apapun pada gadis malang itu.
Sampai
akhirnya hal buruk pun dilihat oleh gadis kecil itu. Kematian orangtuanya
sendiri.
Orangtua
Anari mendapat kabar bahwa Anita bibi dari Anari sedang sakit dan memutuskan
untuk menjenguknya. Namun, saat Anari mencium tangan ibunya Anari mendapatkan
sebuah penglihatan dimana mobil orangtuanya terguling dan meledak, lalu setelah
Anari sadar dari penglihatannya dia langsung menangis sambil merengek dan
melarang orangtuanya pergi.
“Ayah
ibu jangan pergi ” Ucap Anari sambil menangis dan menarik tangan orangtuanya.
“Sayang
mamah janji nanti langsung pulang ” Kata-kata itu tetap tak menenangkan Anari. Dan
tak lama berselang kejadian itu terjadi. Mobil orangtuanya kecelakaan dan
meledak membuat orangtua gadis itu tewas ditempat.
Sejak
hari itu Anari yang berusia 9 tahun tinggal bersama bibi Anita dan sejak saat
itu pula serangkaian kejadian buruk sering kali di lihatnya sebelum semua
terjadi seperti kematian seseorang atau kecelakaan. Anari awalnya memberitau apa
yang dia lihat pada orang lain disekitarnya, namun hal itu membuat dia dijauhi
oleh teman-temannya yang takut akan kemampuannya.
Ketika
kelas 5 sd Anari memiliki teman sekelas bernama Karo. Saat itu pulang sekolah,
Anari menatap Karo dengan lekat dan dia melihat anak laki-laki itu tertabrak
mobil kemudian ada acara pemakaman dimana nama anak itu tertulis dibatu
nisanya.
Dikelas
sudah sepi hanya mereka berdua. Karo yang tadinya duduk didekat jendela bersebelahan
dengan meja Anari, berdiri dan membentuk bayangan siluet dirinya karena sinar
matahari sore yang masuk melalui jendela kelas yang masih terbuka.
“Tu..tunggu!
Kau akan kecelakaan lalu.. Lalu kau akan mati” Ucapnya sambil menundukan kepala
dan tampak berusaha memberanikan diri.
“Kau
fikir aku takut? Aku akan bertaruh kalau aku tidak akan mati” Ucapnya dengan
santai lalu beranjak dari kelas.
Anari
yang entah kenapa cemas pun mengikuti anak itu, dan terjadi. Dia kecelakaan.
1
minggu sudah berlalu sejak kecelakaan itu dan masih tak ada kabar apapun.
Setelah 1 bulan Anari dikejutkan dengan kehadiran anak itu dikelas.
Saat
melihat Anari terdiam di ambang pintu kelas Karo menghampirinya.
“Kau
benar aku kecelakaan tapi lihatkan aku masih hidup” Ucapnya sambil tersenyum
melihat wajah Anari yang nampak tak percaya.
“Ba..Bagaimana
mungkin ? Tanganmu ?” Anari menunjuk tangan Karo yang terbalut gips
“Hanya
patah dan sempat sekarat tapi aku masih hidupkan?” Ucapnya sambil tertawa
seakan dia tidak pernah hampir bertemu malaikat maut.
Saat
pulang sekolah Anari pergi ketaman
belakang sekolah seperti biasa dengan buku gambarnya. Seorang anak laki-laki
tiba-tiba membuatnya kaget dan tertawa puas seolah mendapat kemenangan besar,
Anari yang tak terbiasa bersosialisasi tak menanggapinya. Tak mendapatkan
tanggapan dari Anari anak laki-laki itu kembali menjailinya dengan berpura-pura
tangan kirinya yang terbalut gips kesakitan dan cara itu berhasil membuat Anari
menanggapinya. Mereka pun mulai berbincang.
“Itu
gambar apa ?” Tanya Karo saat melihat buku gambar di pangkuan Anari
“Yang
aku lihat. Aku tidak bisa bercerita pada siapapun karena akan membuat mereka
takut jadi aku menggambarnya saja , sebaiknya kau tak lihat ini bukan
gambar-gambar yang indah, mungkin mengerikan”Ucap Anari sambil beranjak pergi
meninggalkan Karo.
“Tapi
aku tak ketakutan kan saat kau bilang aku akan mati , mungkin aku pengecualian
dari kata ‘mereka’ yang kau ucapkan” Mendengar kata-kata itu Anari akhirnya
mengizinkan Karo melihatnya. Sejak saat itu Anari tak lagi kesepian dia
memiliki seorang teman yang mau menerima keanehannya.
Namun
setelah lulus Karo akan pindah keluar kota bersama keluarganya.
Anari
menangis saat bertemu Karo untuk yang terakhirkalinya, dia sangat sedih karena
baginya Karo adalah satu-satunya temannya .
Anari
pun masuk di sebuah SMP swasta dan butuh waktu hampir 1 tahun bagi Anari untuk
mendapatkan seorang teman dekat. Icha , dia adalah teman Anari saat ini.
Bersama Icha Anari memiliki kehidupan yang lebih normal dari sebelumnya, mereka
berteman dekat hingga lulus dan masuk ke satu SMA yang sama lagi.
Sejak
berteman dengan Icha, Anari mengerti yang dia harus lakukan untuk mendapatkan
kehidupan normal hanyalah satu, jangan beritahu siapapun tentang apa yang kau
lihat.
Matahari
telah condong kebarat menciptakan sinar merah diantara awan yang membuat langit
seakan terbakar, suasana senja yang indah. Anari hampir tak pernah
melewatkannya, senja disebuh bukit kecil dengan hamparan rumput hijau yang
menyegarkan. Ditempat itulah dulu Anari dan Karo sering menghabiskan waktu.
Anari terus mengingat masa-masa itu yang mungkin juga merupakan satu-satunya
hal baik di masa kecilnya yang penuh kesendirian.
Anari yang terduduk diatara hamparan rumput
hijau berdiri dan beranjak dari sana, rambut sepundaknya tertiup hembusan angin
senja yang dingin.
Anari
berjalan diantara jalan yang ramai sendirian. Saat berada dipinggir jalan Anari
melihat 2 orang anak kecil yang sedang bermain dan ibu mereka yang nampak sibuk
dengan telphone nya. Seorang diantara anak itu berlari hingga kejalan raya
tepat saat sebuah truk melintas hingga membuatnya tertabrak dan tewas seketika.
Nafas Anari memburu, dia melihat keadaan sekitar yang nampak baik-baik saja dan
didepannya 2 orang anak tadi masih baik-baik saja, namun selang beberapa detik
satu orang diantarnya lari kejalan raya dan sebuah truk besar lewat. Anari yang
tak mampu melihat hal itu menutup matanya dan saat dia membuka matanya, anak
itu selamat. Dia berada di sebrang jalan bersama seorang pria seusia Anari.
Setelah mengamati dengan sesamak Anari menyadari siapa pria itu. Karo, teman
masa kecilnya yang tidah pernah dia lupakan. Anari berlari ke sebrang jalan
hingga nyaris tertabrak mobil.
“Gadis
ceroboh” Ucap Karo setelah Anari sampai disebrang jalan
“Kau
melakukannya lagi. Bagaimana mungkin? Apa kau bisa mengubah takdir?” Anari
menatap lekat ke wajah Karo yang dihiasi sebuah senyum simpul dan mata cokeat
yang selalu meyakinkan Anari semuanya akan baik-baik saja.
“Sudah
kubilang, kau itu bukan peramal yang handal. Dan lihat tinggimu bahkan kau sepundak
ku sekarang” Ucapnya memecah tawa dan menepiskan sebuah kerinduan yang telah
lama meradang.
Setelah
sampai dirumah Anari masih tak percaya bahwa dia baru saja bertemu lagi dengan
Karo. Dia membuka buku gambarnya dan menggambar seperti 6 tahun lalu dimana
Karo selalu ada didalam gambarnya sebagai seorang pahlawan yang seakan mengubah
takdir.
“Anari,
bibi mau bicara. Bibi tunggu didepan ya” Ucap Bibi Anita dibalik pintu kamar
Anari yang seketika memecah lamunan kebahagian Anari.
“Ada
apa bi ?” Anari penasaran karena tak biasanya Bibi Anita mengajaknya bicara
“Bibi
mau cerita sesuatu, ini tentang keluarga kita. Tentang kutukan yang kau miliki”
Anari mendengarkan dengan sesamak.
“Bibi
tau sesuatu ?”
“Itu
adalah warisan dari nenekmu. Yang hanya bisa diwariskan pada cucu dari anak pertamanya.
Jadi sebenarnya kutukan itu sudah ada sejak dulu dikeluarga kita, nenekmu juga
mendapatkannya dari neneknya dulu” Penjelasan bibi Anita membuat Anari bingung
“Jadi
ini keturunan? Tidak bisakah dihilangkan?” Ucap Anari penuh harap
“Iya,
kau tak bisa menghilangkannya tapi bisa kau kontrol saat kau bersama takdirmu.”
“Takdirku?”
“Orang
yang mampu mematahkan apa yang kau lihat. Dimalam pergantian usiamu nanti yang
menginjak 17 kutukanmu berada pada titik tertinggi dimana kau dapat memilih
akan melanjutkan memilikinya atau melepaskannya” Ucap bibi Anita dengan sebuah
senyum tipis yang aneh.
“Maksud
bibi aku bisa menghilangkan kemampuan ini ?”
“Nanti
kau akan mengerti, sebaiknya kau pergi tidur” Ucapnya sambil meninggalkan Anari
dalam kebingungan.
Pagi
yang hangat bagi Karo setelah lama tak merasakan kehangatan pagi dikota ini.
Dia menyusuri jalan yang masih sunyi sendirian, hingga tiba disebuah pertigaan
dia melihat sosok gadis dengan senyum yang terukir manis diwajahnya dan poni lurus yang menutupi keningnya.Anari,
mereka berangkat bersama karena arah sekolah mereka yang masih satu arah.
Disepanjang jalan Anari menceritakan tentang yang diucapkan bibinya malam tadi,
dan menurut Karo sebaiknya Anari berhati-hati.
Satu
minggu hampir berlalu, besok adalah ulangtahun Anari. Anari merasa semakin
cemas dan takut tapi dia sendiri tak mengerti akan firasat buruk yang dia
rasakan. Tak ada penglihatan yang datang tentang besok.
Hari
sudah larut tapi rasa khawatir Anari membuatnya tetap terjaga, berkali-kali dia
melihat jam dan merasa waktu berjalan begitu lambat.
Namun
akhirnya Anari ketiduran juga setelah menenggak segelas susu hangatnya
Jam
menunjukan pukul 2.37 . Anari terbangun karena haus yang memaksanya kedapur
untuk mengambil air.
Lampu
ruangan dimatikan dan hanya ada beberapa penerangan dari lampu remang. Saat
kembali dari mengambil minum, Anari terhenti dikamar bibinya dan mendengar
suara bibinya tertawa dan seperti berbicara pada seseorang.
“Lihat
saja, sebentar lagi kekuatan itu akan jadi milikku” Ucap Bibi Anita sambil
tertawa
“Bagaimana
dengan gadis itu” Tanya sebuah suara yang entah siapa pemiliknya
“Kau
akan melihat jasadnya besok pagi”
Ucapan
itu membuat Anari tersentak dan menjatuhkan gelasnya. Anari yang panik pun
berlari dia mencoba keluar dari rumah itu namun semua pintu dan jendela
terkunci. Anari bersembunyi disebuah lemari di kamar tua lalu mengambil ponsel
dikantungnya untuk menelphone Karo berharap dia bisa datang dan membantunya.
“Karo
tolong aku cepat kesini aku mohon” Ucap Anari dengan suara bergetar di ujung
telphone
“Ada
apa?”Ucap Karo namun tak sempat terjawab karena telphone putus.
Bibi
Anita mencari Anari, hingga akhirnya sampai kekamar tempat Anari bersembunyi.
Bibinya nampak berbeda seperti biasanya, rambut keriting bibinya yang biasanya
diikat rapih namun kini dibiarkan tergerai selain itu dia juga menggunakan
sebuah gaun hitam dengan garis merah disisinya yang tak pernah dia pakai atau
mungkin lebih tepatnya tak pernah Anari lihat.
“Kau
fikir bisa bersembunyi dariku gadis kecil..Hahaha” Seketika dia membuka pintu
lemari dan menyeret Anari keluar dengan paksa.
“Kenapa
bibi melakukan ini?” Ucap Anari yang ketakutan
“Karena
aku menginginkan kemampuanmu itu dan aku hanya bisa memilikinya ketika kau
mati, dan apa kau mau tau siapa yang membunuh orangtuamu ?”
Bibi
Anita mengeluarkan belati dan mengangkatnya untuk menusukkan belati kejantung
Anari. Namun Anari berhasil menghindar dan lari, saat menuruni tangga Anari
menabrak seorang wanita dengan rambut panjang yang tergerai lurus. Icha, Anari
kaget melihat Icha dirumahnya. Tapi ada sesuatu yang berbeda.
“Kau
tidak bisa lari” Nada suaranya menyeramkan
Anari
merasa dia akan berakhir disini.
Brukk
Tiba-tiba
ada seseorang yang memukul punggung Icha.
“Karo”
Anari langsung memeluk erat dan menangis
“Drama
yang indah, tapi harus segera berakhir” Mata Bibi Anita melotot membuat
wajahnya yang biasa lembut jadi menyeramkan.
Karo
dan Anari lari ke atab rumah yang cukup luas, hari masih gelap hanya ada
bintang-bintang sebagai penerangnya.
Mereka
terjebak tak ada jalan untuk mereka lari lagi. Dan Bibi Anita sudah ada
dibelakang mereka memegang sebuah belati yang akan digunakan untuk menusuk
jantung Anari.
Karo
berfikir untuk lepas dari situasi bahaya ini. Dia melihat sebuah tongkat dari
besi disampingnya, Karo melemparkan ponselnya ke wajah Bibi Anita untuk
mengalihkan perhatiannya kemudian saat wanita itu lengah Karo segera berlari
dan menyerang wanita jahat itu.
Bibi
Anita semakin marah dan berlari untuk menikam dua remaja yang berada di ujungatap,
beruntung Karo sigap menarik Anari dari sana untuk menghindari tikaman pisau
dari Bibinya. Karena Anari menghindar Bibi Anita pun jatuh dan tewas seketika.
Anari yang teringat Icha segera berlari kebawah tangga dan melihat Icha yang
mulai sadar
“Anari
apa yang terjadi kenapa aku disini ?”Ucapnya
“Kau
tidak ingat ?”Anari nampak bingung.
“Dia
dirasuki oleh roh jahat yang bekerja sama dengan wanita jahat itu, sebenarnya
aku sudah tau hal ini makannya aku kembali kesini” Karo menjawab pertanyaan
Anari.
“Katakan
apa yang sedang terjadi?” Anari nampak bingung.
“Aku
memiliki tugas untuk melindungimu, Ibuku adalah orang yang berhutang budi pada nenekmu dan nenekmu Nyonya Lea sudah tau akan jadi
begini dan meminta ibuku untuk menugaskan ku melindungimu”
Setelah
kejadian itu Anari tinggal dengan keluarga Karo yang keesokan harinya datang
dan memutuskan untuk tinggal kembali disana.
“Jadi
kau masih memiliki kutukan itu?”Karo menggandeng tangan Anari disepanjang jalan
kesekolah
“Iya,
tapi kan karena ada Karo aku akan jadi peramal payah, Karo takdirku” Ucap Anari
dengan senyum bahagia
“Kau
bilang apa ?” Karo menanyakan hal yang dia sebenarnya dengar
“Bukan
apa-apa” Ucap Anari sambil lari didepan Karo.
TAMAT
Oleh: Siti Rizqi Shofiana (X
MIA 8)
0 comments:
Posting Komentar