Jumat, 31 Oktober 2014

Kutukan?




Masa depan mungkin adalah misteri yang tak terjawab. Namun, ketika masa depan terungkap didalam fikiranmu saat waktu bahkan belum memberi jawabannya, akankah itu menjadi sebuah anugerah? Atau, kutukan?.
Awalnya gadis itu hanya melihat peristiwa-peristiwa kecil.
“Mamah, gelasnya jatuh” Ucapnya sambil menunjuk gelas yang nampak baik-baik saja diatas meja.
“Gelas itu tidak jatuh Anari sayang ” Ucap ibunya lembut. Tak lama seekor kucing melompat ke atas meja dan menjatuhkan gelas itu dengan ekornya.
Kejadian-kejadian semacam itu sering terjadi membuat orangtunya khawatir hingga membawa dia ke dokter dan para ahli namun tidak membuahkan hasil apapun pada gadis malang itu.
Sampai akhirnya hal buruk pun dilihat oleh gadis kecil itu. Kematian orangtuanya sendiri.
Orangtua Anari mendapat kabar bahwa Anita bibi dari Anari sedang sakit dan memutuskan untuk menjenguknya. Namun, saat Anari mencium tangan ibunya Anari mendapatkan sebuah penglihatan dimana mobil orangtuanya terguling dan meledak, lalu setelah Anari sadar dari penglihatannya dia langsung menangis sambil merengek dan melarang orangtuanya pergi.
“Ayah ibu jangan pergi ” Ucap Anari sambil menangis dan menarik tangan orangtuanya.
“Sayang mamah janji nanti langsung pulang ” Kata-kata itu tetap tak menenangkan Anari. Dan tak lama berselang kejadian itu terjadi. Mobil orangtuanya kecelakaan dan meledak membuat orangtua gadis itu tewas ditempat.
Sejak hari itu Anari yang berusia 9 tahun tinggal bersama bibi Anita dan sejak saat itu pula serangkaian kejadian buruk sering kali di lihatnya sebelum semua terjadi seperti kematian seseorang atau kecelakaan. Anari awalnya memberitau apa yang dia lihat pada orang lain disekitarnya, namun hal itu membuat dia dijauhi oleh teman-temannya yang takut akan kemampuannya.

Ketika kelas 5 sd Anari memiliki teman sekelas bernama Karo. Saat itu pulang sekolah, Anari menatap Karo dengan lekat dan dia melihat anak laki-laki itu tertabrak mobil kemudian ada acara pemakaman dimana nama anak itu tertulis dibatu nisanya.
Dikelas sudah sepi hanya mereka berdua. Karo yang tadinya duduk didekat jendela bersebelahan dengan meja Anari, berdiri dan membentuk bayangan siluet dirinya karena sinar matahari sore yang masuk melalui jendela kelas yang masih terbuka.
“Tu..tunggu! Kau akan kecelakaan lalu.. Lalu kau akan mati” Ucapnya sambil menundukan kepala dan tampak berusaha memberanikan diri.
“Kau fikir aku takut? Aku akan bertaruh kalau aku tidak akan mati” Ucapnya dengan santai lalu beranjak dari kelas.
Anari yang entah kenapa cemas pun mengikuti anak itu, dan terjadi. Dia kecelakaan.
1 minggu sudah berlalu sejak kecelakaan itu dan masih tak ada kabar apapun. Setelah 1 bulan Anari dikejutkan dengan kehadiran anak itu dikelas.
Saat melihat Anari terdiam di ambang pintu kelas Karo menghampirinya.
“Kau benar aku kecelakaan tapi lihatkan aku masih hidup” Ucapnya sambil tersenyum melihat wajah Anari yang nampak tak percaya.
“Ba..Bagaimana mungkin ? Tanganmu ?” Anari menunjuk tangan Karo yang terbalut gips
“Hanya patah dan sempat sekarat tapi aku masih hidupkan?” Ucapnya sambil tertawa seakan dia tidak pernah hampir bertemu malaikat maut.

Saat pulang sekolah Anari pergi  ketaman belakang sekolah seperti biasa dengan buku gambarnya. Seorang anak laki-laki tiba-tiba membuatnya kaget dan tertawa puas seolah mendapat kemenangan besar, Anari yang tak terbiasa bersosialisasi tak menanggapinya. Tak mendapatkan tanggapan dari Anari anak laki-laki itu kembali menjailinya dengan berpura-pura tangan kirinya yang terbalut gips kesakitan dan cara itu berhasil membuat Anari menanggapinya. Mereka pun mulai berbincang.
“Itu gambar apa ?” Tanya Karo saat melihat buku gambar di pangkuan Anari
“Yang aku lihat. Aku tidak bisa bercerita pada siapapun karena akan membuat mereka takut jadi aku menggambarnya saja , sebaiknya kau tak lihat ini bukan gambar-gambar yang indah, mungkin mengerikan”Ucap Anari sambil beranjak pergi meninggalkan Karo.
“Tapi aku tak ketakutan kan saat kau bilang aku akan mati , mungkin aku pengecualian dari kata ‘mereka’ yang kau ucapkan” Mendengar kata-kata itu Anari akhirnya mengizinkan Karo melihatnya. Sejak saat itu Anari tak lagi kesepian dia memiliki seorang teman yang mau menerima keanehannya.
Namun setelah lulus Karo akan pindah keluar kota bersama keluarganya.
Anari menangis saat bertemu Karo untuk yang terakhirkalinya, dia sangat sedih karena baginya Karo adalah satu-satunya temannya .
Anari pun masuk di sebuah SMP swasta dan butuh waktu hampir 1 tahun bagi Anari untuk mendapatkan seorang teman dekat. Icha , dia adalah teman Anari saat ini. Bersama Icha Anari memiliki kehidupan yang lebih normal dari sebelumnya, mereka berteman dekat hingga lulus dan masuk ke satu SMA yang sama lagi.
Sejak berteman dengan Icha, Anari mengerti yang dia harus lakukan untuk mendapatkan kehidupan normal hanyalah satu, jangan beritahu siapapun tentang apa yang kau lihat.

Matahari telah condong kebarat menciptakan sinar merah diantara awan yang membuat langit seakan terbakar, suasana senja yang indah. Anari hampir tak pernah melewatkannya, senja disebuh bukit kecil dengan hamparan rumput hijau yang menyegarkan. Ditempat itulah dulu Anari dan Karo sering menghabiskan waktu. Anari terus mengingat masa-masa itu yang mungkin juga merupakan satu-satunya hal baik di masa kecilnya yang penuh kesendirian.
 Anari yang terduduk diatara hamparan rumput hijau berdiri dan beranjak dari sana, rambut sepundaknya tertiup hembusan angin senja yang dingin.
Anari berjalan diantara jalan yang ramai sendirian. Saat berada dipinggir jalan Anari melihat 2 orang anak kecil yang sedang bermain dan ibu mereka yang nampak sibuk dengan telphone nya. Seorang diantara anak itu berlari hingga kejalan raya tepat saat sebuah truk melintas hingga membuatnya tertabrak dan tewas seketika. Nafas Anari memburu, dia melihat keadaan sekitar yang nampak baik-baik saja dan didepannya 2 orang anak tadi masih baik-baik saja, namun selang beberapa detik satu orang diantarnya lari kejalan raya dan sebuah truk besar lewat. Anari yang tak mampu melihat hal itu menutup matanya dan saat dia membuka matanya, anak itu selamat. Dia berada di sebrang jalan bersama seorang pria seusia Anari. Setelah mengamati dengan sesamak Anari menyadari siapa pria itu. Karo, teman masa kecilnya yang tidah pernah dia lupakan. Anari berlari ke sebrang jalan hingga nyaris tertabrak mobil.
“Gadis ceroboh” Ucap Karo setelah Anari sampai disebrang jalan
“Kau melakukannya lagi. Bagaimana mungkin? Apa kau bisa mengubah takdir?” Anari menatap lekat ke wajah Karo yang dihiasi sebuah senyum simpul dan mata cokeat yang selalu meyakinkan Anari semuanya akan baik-baik saja.
“Sudah kubilang, kau itu bukan peramal yang handal. Dan lihat tinggimu bahkan kau sepundak ku sekarang” Ucapnya memecah tawa dan menepiskan sebuah kerinduan yang telah lama meradang.
Setelah sampai dirumah Anari masih tak percaya bahwa dia baru saja bertemu lagi dengan Karo. Dia membuka buku gambarnya dan menggambar seperti 6 tahun lalu dimana Karo selalu ada didalam gambarnya sebagai seorang pahlawan yang seakan mengubah takdir.

“Anari, bibi mau bicara. Bibi tunggu didepan ya” Ucap Bibi Anita dibalik pintu kamar Anari yang seketika memecah lamunan kebahagian Anari.
“Ada apa bi ?” Anari penasaran karena tak biasanya Bibi Anita mengajaknya bicara
“Bibi mau cerita sesuatu, ini tentang keluarga kita. Tentang kutukan yang kau miliki” Anari mendengarkan dengan sesamak.
“Bibi tau sesuatu ?”
“Itu adalah warisan dari nenekmu. Yang hanya bisa diwariskan pada cucu dari anak pertamanya. Jadi sebenarnya kutukan itu sudah ada sejak dulu dikeluarga kita, nenekmu juga mendapatkannya dari neneknya dulu” Penjelasan bibi Anita membuat Anari bingung
“Jadi ini keturunan? Tidak bisakah dihilangkan?” Ucap Anari penuh harap
“Iya, kau tak bisa menghilangkannya tapi bisa kau kontrol saat kau bersama takdirmu.”
“Takdirku?”
“Orang yang mampu mematahkan apa yang kau lihat. Dimalam pergantian usiamu nanti yang menginjak 17 kutukanmu berada pada titik tertinggi dimana kau dapat memilih akan melanjutkan memilikinya atau melepaskannya” Ucap bibi Anita dengan sebuah senyum tipis yang aneh.
“Maksud bibi aku bisa menghilangkan kemampuan ini ?”
“Nanti kau akan mengerti, sebaiknya kau pergi tidur” Ucapnya sambil meninggalkan Anari dalam kebingungan.

Pagi yang hangat bagi Karo setelah lama tak merasakan kehangatan pagi dikota ini. Dia menyusuri jalan yang masih sunyi sendirian, hingga tiba disebuah pertigaan dia melihat sosok gadis dengan senyum yang terukir manis diwajahnya  dan poni lurus yang menutupi keningnya.Anari, mereka berangkat bersama karena arah sekolah mereka yang masih satu arah. Disepanjang jalan Anari menceritakan tentang yang diucapkan bibinya malam tadi, dan menurut Karo sebaiknya Anari berhati-hati.

Satu minggu hampir berlalu, besok adalah ulangtahun Anari. Anari merasa semakin cemas dan takut tapi dia sendiri tak mengerti akan firasat buruk yang dia rasakan. Tak ada penglihatan yang datang tentang besok.
Hari sudah larut tapi rasa khawatir Anari membuatnya tetap terjaga, berkali-kali dia melihat jam dan merasa waktu berjalan begitu lambat.
Namun akhirnya Anari ketiduran juga setelah menenggak segelas susu hangatnya
Jam menunjukan pukul 2.37 . Anari terbangun karena haus yang memaksanya kedapur untuk mengambil air.
Lampu ruangan dimatikan dan hanya ada beberapa penerangan dari lampu remang. Saat kembali dari mengambil minum, Anari terhenti dikamar bibinya dan mendengar suara bibinya tertawa dan seperti berbicara pada seseorang.
“Lihat saja, sebentar lagi kekuatan itu akan jadi milikku” Ucap Bibi Anita sambil tertawa
“Bagaimana dengan gadis itu” Tanya sebuah suara yang entah siapa pemiliknya
“Kau akan melihat jasadnya besok pagi”
Ucapan itu membuat Anari tersentak dan menjatuhkan gelasnya. Anari yang panik pun berlari dia mencoba keluar dari rumah itu namun semua pintu dan jendela terkunci. Anari bersembunyi disebuah lemari di kamar tua lalu mengambil ponsel dikantungnya untuk menelphone Karo berharap dia bisa datang dan membantunya.
“Karo tolong aku cepat kesini aku mohon” Ucap Anari dengan suara bergetar di ujung telphone
“Ada apa?”Ucap Karo namun tak sempat terjawab karena telphone putus.
Bibi Anita mencari Anari, hingga akhirnya sampai kekamar tempat Anari bersembunyi. Bibinya nampak berbeda seperti biasanya, rambut keriting bibinya yang biasanya diikat rapih namun kini dibiarkan tergerai selain itu dia juga menggunakan sebuah gaun hitam dengan garis merah disisinya yang tak pernah dia pakai atau mungkin lebih tepatnya tak pernah Anari lihat.
“Kau fikir bisa bersembunyi dariku gadis kecil..Hahaha” Seketika dia membuka pintu lemari dan menyeret Anari keluar dengan paksa.
“Kenapa bibi melakukan ini?” Ucap Anari yang ketakutan
“Karena aku menginginkan kemampuanmu itu dan aku hanya bisa memilikinya ketika kau mati, dan apa kau mau tau siapa yang membunuh orangtuamu ?”
Bibi Anita mengeluarkan belati dan mengangkatnya untuk menusukkan belati kejantung Anari. Namun Anari berhasil menghindar dan lari, saat menuruni tangga Anari menabrak seorang wanita dengan rambut panjang yang tergerai lurus. Icha, Anari kaget melihat Icha dirumahnya. Tapi ada sesuatu yang berbeda.
“Kau tidak bisa lari” Nada suaranya menyeramkan
Anari merasa dia akan berakhir disini.
Brukk
Tiba-tiba ada seseorang yang memukul punggung Icha.
“Karo” Anari langsung memeluk erat dan menangis
“Drama yang indah, tapi harus segera berakhir” Mata Bibi Anita melotot membuat wajahnya yang biasa lembut jadi menyeramkan.
Karo dan Anari lari ke atab rumah yang cukup luas, hari masih gelap hanya ada bintang-bintang sebagai penerangnya.
Mereka terjebak tak ada jalan untuk mereka lari lagi. Dan Bibi Anita sudah ada dibelakang mereka memegang sebuah belati yang akan digunakan untuk menusuk jantung Anari.
Karo berfikir untuk lepas dari situasi bahaya ini. Dia melihat sebuah tongkat dari besi disampingnya, Karo melemparkan ponselnya ke wajah Bibi Anita untuk mengalihkan perhatiannya kemudian saat wanita itu lengah Karo segera berlari dan menyerang wanita jahat itu.
Bibi Anita semakin marah dan berlari untuk menikam dua remaja yang berada di ujungatap, beruntung Karo sigap menarik Anari dari sana untuk menghindari tikaman pisau dari Bibinya. Karena Anari menghindar Bibi Anita pun jatuh dan tewas seketika. Anari yang teringat Icha segera berlari kebawah tangga dan melihat Icha yang mulai sadar
“Anari apa yang terjadi kenapa aku disini ?”Ucapnya
“Kau tidak ingat ?”Anari nampak bingung.
“Dia dirasuki oleh roh jahat yang bekerja sama dengan wanita jahat itu, sebenarnya aku sudah tau hal ini makannya aku kembali kesini” Karo menjawab pertanyaan Anari.
“Katakan apa yang sedang terjadi?” Anari nampak bingung.
“Aku memiliki tugas untuk melindungimu, Ibuku adalah orang yang berhutang budi pada nenekmu  dan nenekmu Nyonya Lea sudah tau akan jadi begini dan meminta ibuku untuk menugaskan ku melindungimu”
Setelah kejadian itu Anari tinggal dengan keluarga Karo yang keesokan harinya datang dan memutuskan untuk tinggal kembali disana.
“Jadi kau masih memiliki kutukan itu?”Karo menggandeng tangan Anari disepanjang jalan kesekolah
“Iya, tapi kan karena ada Karo aku akan jadi peramal payah, Karo takdirku” Ucap Anari dengan senyum bahagia
“Kau bilang apa ?” Karo menanyakan hal yang dia sebenarnya dengar
“Bukan apa-apa” Ucap Anari sambil lari didepan Karo.


TAMAT





Oleh: Siti Rizqi Shofiana (X MIA 8)




0 comments:

Posting Komentar

Hubungi kami :

Twitter : @APAksara

Email : apaksara3@gmail.com

HP : 085773226995

Instagram: kapas3.aksara

Twitter

Translator