Kamis, 30 Oktober 2014

Permainan Takdir




Title: Permainan Takdir
Sinopsis: Hanya sebuah kisah klasik tentang pengawal dan majikannya. Hanya sebuah kisah romansa biasa tidak sefenomenal Romeo dan Juliet. Hanya sebuah kisah dimana Gale Harden dan Nathalia Seraphine Madison percaya bahwa takdir membencinya. Sebuah cerita tentang delusi, realitas, dan reinkarnasi. Apa mereka dapat bersama di kehidupan selanjutnya?
Catatan: diharapkan membaca cerita ini sambil mendengarkan lagu. Katy Perri – The One that got away yang di cover Tiffany Alvord—bisa di dengarkan di soundcloud, The Temper Trap – Sweet Disposition, Christina Perri – A Thousand Years dan The Paper Kites – Bloom. Karena penulis mendengarkan lagu ini sambil menulis cerita ini, semoga bisa menambah feelsnya;)
Terimakasih.


Langit yang cerah, tidak terlalu panas ataupun mendung. Damai, sangat tentram disertai angin yang berhembus menerbangkan dedaunan kering.

Petang hari ini aku duduk di bawah pohon yang rindang, dengan sebuah novel klasik yang terbuka di halaman tengahnya. Oh, jangan lupakan earphone yang menyumpal telingaku. Sebuah instrumen yang sangat menenangkan pikiran.

Aku teringat akan sesuatu. Saat itu, cuaca sedang tenang seperti ini. Teramat tenang, sampai memabukkan beberapa manusia tanpa tahu bahwa badai akan datang. 

Heh, aku mempunyai firasat sesuatu yang besar akan terjadi.

Hei, biar kuceritakan sebuah kisah. Hanya sebuah kisah klasik antara pelayan dan majikannya. Hanya sebuah cerita romansa biasa tidak sefenomenal Romeo dan Juliet. Hanya sebuah cerita yang terjadi di masa saat kerajaan dan perbudakan masih eksis.

Jadi, boleh aku bercerita?
___________________________________________________________________

The day when we met.

Saat aku hampir merenggang nyawaku di situlah aku menemukan sosokmu. Terpikat begitu saja, dengan gaun kebangsaan yang indah kau begitu memukau.
Gadis dihadapanku memiliki rambut sepunggung, berwarna pirang ke emasan berkibar diterpa angin. Netranya sewarna permata Emerlad, memancarkan sinar intelejensi dan keteduhan.

"Dia menarik." Kau berujar suaramu sangat merdu, penuh dengan kebijaksanaan. "Boleh kubeli dia?"

Aku tak fokus dengan apa yang terjadi setelahnya, yang kuingat adalah senyumanmu dan tanganmu yang terulur kearahku.

"Mulai sekarang kau bekerja untukku." Ia tersenyum lebar kemudian melanjutkan. "Mulai sekarang, namamu adalah Gale Harden."

.
.

Sudah lima bulan aku bekerja di istana ini, menjadi pengawal pribadi Putri kerajaan ini. Putri Nathalia Seraphine Madison adalah namanya. Putri yang kukagumi sekaligus penyelamatku.

Awalnya aku berpikir ia adalah Putri yang lembut. Ternyata kebalikannya, ia sangat suka berkuda, berlatih pedang, dan memanah. Bahkan dengan kecerdasannya ia ikut membantu urusan politik kerajaannya. Namun tak jarang ia melakukan kegiatan seperti merajut, dan memasak.

Menurutku ia adalah putri yang sempurna, percampuran feminitas dan tomboyish.

"GALEEEEEEEEE~~~~~"

Selain itu Putri Nathalia sangat berisik dan juga bawel. Lihat saja, ia berteriak memanggilku dan berlari kearahku.

"Hm?" Aku hanya menengok singkat, pun ia sadar bahwa afeksiku sepenuhnya tertuju kepadanya.

"Ayo berlatih pedang denganku!" Ia tersenyum lebar di sertai pedang yang teracung kearahku.

"Mohon maaf Putri, anda baru pulang dari perjalanan anda. Saya yakin anda lelah dengan perjalan ini."  Ujarku menolak, disertai tanganku yang mengarahkan pedangnya kebawah.

"Gale! Sudah kubilang kalau kita sedang berdua hilangkan semua ucapan formalmu. Panggil aku Nathalie." Ia merengut kesal.

"Maafkan saya Putri, saya tidak bisa." Aku tersenyum lembut kearahnya.

Aku tak bisa menampiknya, aku mencintai Nathalia Seraphine Madison. Meskipun, kemungkinan kita bersama adalah kecil. Namun perasaanku ini tak akan terucapkan, karena aku sangat menyadari posisi kita. 

"Mouuu, kalau kau tak mau memanggilku seperti itu. Aku akan marah denganmu." 

"Dengan syarat, anda tidak boleh berlatih pedang saat ini."

"Hei!" Ia berteriak kesal lalu mengerucutkan bibirnya sebal. "Baiklah, kau menang Gale. Kau menang."

Aku menyeringai senang lalu berjalan mendahuluinya menuju sebuah pohon rindang. Seketika aku merasa bahwa Nathalie tak mengikutiku lagi, aku menoleh ke belakang dan mendapati ia sedang berdiam diri dengan wajah yang bersemu.

Eh, wajahnya bersemu? Padahal matahari tidak bersinar terik. Lantas, karena apa?

"Hei, Nathalie!" Aku berteriak memanggilnya, ia tersadar dari lamunannya dan berlari dengan senyum yang memukau.

Aku berharap, semoga ada suatu keajaiban yang bisa membuatku bersamanya.

.

Aku sedang membaca buku, Nathalie sedang tiduran di pahaku. Entah apa yang ia lakukan.

"Hei, Gale." Ia memanggilku. 

Aku menutup buku-ku dan menatapnya tepat di matanya disertai senyum tipis. "Ya?"

Ia terdiam sejenak, kemudian wajahnya bersemu. "Hei, aku tak sadar kau bisa berubah setampan itu." Ia tertawa kecil.

"Jangan bercanda." Aku menyentil dahinya main-main, aku melupakan segala pembatas antara aku dan Nathalie.

Ia malah tertawa sambil memegang dahinya. "Apa kau percaya dengan reinkarnasi?"

"Huh?" Aku mengernyitkan dahi bingung dengan pertanyaannya.

Ia menatapku serius. Heh, sepertinya ia serius dengan pertanyaan konyolnya. "Gale, apa kau percaya dengan reinkarnasi?"

Aku menghela napas. "Tidak. Aku tidak percaya dengan hal konyol seperti itu." Jawabku jujur.

Ia hanya tersenyum, senyum yang berbeda dari biasanya. Ada sesuatu yang lain di senyuman itu. Kesedihan, tentram, indah, tulus? Aku tidak bisa mendeskripsikannya.

Aku merasakan firasat buruk melihat senyumnya. 

Aku tersentak ketika tangan Nathalie, mengusap pipiku. Aku membeku. Berbagai spekulasi terlintas di benakkku akan tindakannya.

"Gale, aku mencintaimu."

Suara angin membawa suara indahnya. Membuatku terpaku sejenak, dan ketika aku tersedar aku melihat Nathalie menangis.

Aku merasakan sakit di dadaku. Melihat gadis yang kucinta menangis di depanku. Seperti ada sesuatu yang menyubit dadaku, sangat sesak sampai aku tak dapat bernapas.

Aku mengulum senyum pahit. Heh, ketika perasaanku berbalas kasta membatasi. Aku tak dapat berbuat apa pun lagi.

Aku membelai pipinya lembut. "Terlalu banyak perbedaan, your majesty." Aku berucap pedih, mengingatkannya akan kenyatan. Menyadarkannya dari dunia delusinya.

Petang hari itu, untuk pertama kalinya Lady Nathalia Seraphine Madison gadis yang kucinta menangis di depanku, dan itu semua karena Gale Harden.

Pada akhirnya yang bisa kulakukan adalah tersenyum pilu. Mengutuk takdir yang begitu kejam.

.
.

Sudah dua puluh satu hari sejak kejadian tabu itu. Kami kembali ke rutinitas biasa. Tidak ada yang berbeda hanya kita yang saling menjauh. Sebagai usaha untuk menjaga hati dari pahitnya dunia realita.

Karena sampai hari itu, aku dan Nathalia menutup mata dari dunia realita. Terjebak dalam dunia delusi. 

Namun sekarang berbeda, butuh waktu memang untuk merangkak dari dunia delusi menuju kejamnya kenyataan. Namun jika tak seperti itu kita tak akan bisa maju.

Hari ini aku sedang berlatih pedang. Aku harus bertambah kuat demi melindungi Nathalie.

"Bunuh. Bunuh. Bunuh."

Aku menebas angin membayangkan jika di depanku adalah musuh yang harus di basmi.

"Sedang berlatih rupanya." 

Sebuah suara menarikku dari khayalan. Suara itu berasal dari pintu. Ah, suara Nathalie.

"Seperti yang kau lihat."

Ia melangkah ke hadapanku. Tanpa kata-kata. Hanya saling menatap. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Rindu. Seandainya kasta tidaklah eksis aku pasti langsung memeluknya erat. 

"Ada apa, My Lady? Tidak biasanya anda ke sini. Apa pekerjaan anda sudah selesai." Aku bertanya, memecah keheningan ini.

Ia menghela napas kemudian berujar. "Ada yang ingin aku bicarakan, Gale." 

Jarang, ini sangat jarang. Nathalie tak memintaku melepaskan tata bicara formal ketika sedang bersamanya. Syukurlah, ia perlahan mulai bergerak ke depan.

"Silakan, My Lady." Aku tersenyum  sebagai bentuk formalitas.

"Gale." Ia menatapku serius. Terlihat ia sedikit ragu untuk melanjutkan kalimatnya. 

Dan kalimat Nathalie selanjutnya membuatku membeku.

"Minggu depan aku akan bertunangan dengan Pangeran Charles."

Ketika Nathalie sudah keluar dari dunia delusi, aku malah terjebak di dalamnya. Berharap ini adalah mimpi. Berharap ketika aku terbangun nanti aku bisa bersamanya.

Heh. Duniaku memang menyedihkan. Putri dengan pangeran, terdengar cocok sekali. Sedangkan aku hanya pengawal. Persetan dengan dunia ini. 

.
.
.

Hari pertunangan Nathalie dengan Pangeran Charles berlangsung malam ini. Muak. Aku tidak ingin menghadiri pertunangan ini. Jika Nathalie tidak memintaku pada malam itu\malam terakhir kami bersama. Aku tak akan datang.

Proses pertunangan berlangung khidmat. Nathalie tersenyum, entah senyum tulus atau formalitas aku sudah tak dapan mengenalinya lagi.

Mereka bertukar cincin. Para tamu kerajaan berseru 'cium. Cium. Cium.' Sial, aku tak kuat melihatnya.

Aku mengalihkan pandangan ketika melihat Pangeran Charles mencium gadis yang aku cinta. Tanganku meremas kuat baju di bagian dada. Sesak. Tak sanggup bernapas.

Hahaha, bahkan dunia tak berpihak kepadaku.

Seharusnya aku yang berada di situ.

Seharusnya aku yang mencium Nathalie.

Seharusnya aku yang menjadi tunangan Nathalie.

Haah. Sial. Sial. Sial. Untuk kali ini aku menyesal telah mengenal Nathalie. Aku menyesal di selamatkan olehnya.

Pesta sedang berlangsung. Dalam keremangan pesta aku dapat merasakan suara tapak kaki mendekat kearahku.

"Gale."

"Ah My Lady, selamat atas pertunangannya."

Ia tak membalas. "Apa yang kau lakukan di sini." Ia mengalihkan pembicaraan.

"Berjaga, seperti yang anda lihat My Lady." Jawabku tanpa menatapnya.

Karena menatapnya membuatku semakin membenci takdir dan diriku. 

"Gale, lihat aku."

Aku tak melihatnya, meskipun aku ingin.

"Gale, jangan mendiamiku."

Aku diam tak bergeming.

"Hiks." Kutebak ia menangis sekarang, hahaha. Aku memang lelaki payah, hanya bisa membuat Nathalie menangis.

"Gale, hiks. Kumohon lihat aku." Ia menggenggam jemariku.

Aku masih mengabaikannya. Tak berani memandangnya.

"Gale, bagaimana hiks perasaanmu?"

Ketika aku ingin menjawab, suara tembakan mengejutkanku. Nathalie terkejut. Seorang tentara kerajaan menghampiri kami, membawa kabar buruk.

"Musuh sudah menguasai istana. Lindungi tuan putri! Bawa ia pergi dari sini." Wajahnya telihat panik, aku hanya mengangguk singkat.

"Gale--"

"Jangan sekarang. Ayo, ikuti aku." Dengan sigap aku menarik tangannya. Prioritasku adalah membawa Nathalie keluar dari sini.

Kami terus berlari. Mengambil jalan memutar, melewati gerbang belakang, jika ingin melewati gerbang belakang harus melalui taman belakang.

Cih, ternyata musuh sudah sampai di taman belakang. Suara senapan terdengar jelas sekali, aku menambah kesiagaan menjaga Putri.

"Nathalie, apa kau membawa peralatan memanahmu?" Aku bertanya. Lupakan formalitas, menjaga Nathalie ada keharusan. Aku berumpah akan mengeluarkan Nathalie dari kerajaan ini meskipun nyawa taruhanku.

"Tidak, dan rok ini menghalangiku!" Ia berseru panik.

Aku berdecak sebal, lalu memberikan senapanku ke arahnya, disambut oleh tatapan tanya.

"Biar aku yang urus, jika ada yang mendekat tembak tanpa ragu." Aku menatapnya tajam, ia mengangguk penuh keyakinan.

Aku berjongkok lalu mengeluarkan pisau lipat dari saku-ku. Tanganku mulai bekerja merobek gaunnya.

Dor. Dor. Dor.

Heeh, Nathalie sudah mulai menembak rupanya. Aku melirik kearahnya, bagus ia tak kehilangan fokus. Aku tersenyum tipis.

"Gale! Aku berhasil membunuh mereka yang mendekat kearah sini! Aku menembak kepalanya!" Ia berseru senang.

Aku mendengus kecil. "Ya, bagus."

Breeeet.

Sebuah tarikan panjang adalah tahap terakhir merusak gaunnya. Tapi, itu semua berbuah hasil gaunnya jadi di atas lutut dan itu memudahkannya berlari.

Nathalie mengembalikan senapanku, kami kembali berlari. Dengan Nathalie yang memimpin, aku di belakangnya sibuk menembaki musuh yang mendekat.

"Gale! Kita butuh kuda!"

"Kurasa sudah di siapkan oleh penjaga di belakang." Sahutku. Berusaha bersikap tenang dan tak kehilangan fokus.


Kami berlari sekuat tenaga, tentara kerajaan berusaha melindungi kami dan membuka jalan. Pemandangan yang sangat mengerikan.

Di bawah sinar rembulan, taman belakang menjadi saksi bisu pertumpahan darah. Tanganku mengepal erat, mencoba meredam emosi yang bergejolak.

"Sial, sial." Aku berdesis emosi.

Nathalie menoleh kearahku, aku menatapnya datar. Tangangku memberi aba-aba agar ia tak menghiraukan peperangan yang terjadi.

Ia mengangguk di sertai air mata yang mengalir. Ia sedih dan marah tentu saja, aku pun merasakan hal yang sama. 

Mereka mempertaruhkan nyawa mereka demi melindungi sang Putri.

"Aku akan membunuh mereka." Ia berujar tegas, tangannya menyeka air matanya kasar.

Aku menatapnya tajam, lalu berujar dengan nada dingin. "Kau tak perlu mengotori tanganmu. Biar aku yang melakukannya karena aku adalah kaki tanganmu."

Untuk kali ini ia menatapku galak, ia membantah. "Aku pun bisa membunuh mereka semua, Gale! Demi Tuhan! Apa kau meremehkanku? Apa kau tak percaya pada kemampuanku?!" Ia setengah berteriak, efek panik serta emosi mungkin. Harga dirinya terlalu tinggi.

Aku membuang senapan ke tanah--pelurunya sudah habis, lalu mengeluarkan pedang dan menhibaskannya ke samping. Aku menatapnya tajam, lebih tajam dari yang tadi. "Shut up and be protected." Aku menyeringai kejam.

Ia membelalakkan matanya, ia mengangguk pelan. "Kau bisa bicara seperti itu juga."

Aku membalasnya dengan dengusan.

Kita sudah melewati gerbang belakang. Keadaannya di sini lebih parah. Mereka semua saling menebaskan pedangnya.

Prediksiku melenceng, tidak ada kuda di sini. Aku mengerang kesal. Nathalie panik.

Aku melihat keadaan. Sial, pasukan kami telah dihabiskan oleh musuh. Mereka semua menatap kearah Nathalie, aku menggeram kesal. Bagaimana cara kami melarikan diri di keadaan terdesak seperti ini.

Suara tapak kuda menghampiri kami. Ah, Azzura datang\pelayan kepercayaan Nathalie. Sebuah pemikiran terlintas di benakku.

Aku berdiri di depan Nathalie, memasang postur melindungi. Berpuluh pasang mata menatap kami bak serigala kelaparan, aku menggertakan gigi geram.

'Dor!'

Aku memeluk Nathalie sebagai usaha melindunginya dari tembakan, pada akhirnya tembakan itu terkena tanganku.

Sial, aku lengah.

Dor.

Tembakan kedua mengenai bahuku, aku mengerang sakit. Nathalie tampak shock, terlihat dari dia yang membeku selama beberapa detik.

"Gale kau tidak apa?" Ia menatapku khawatir nada suaranya terdengar sangat panik.

Aku mengelus rambutnya, napasku memburu\menahan sakit. Aku makin mengeratkan pelukanku.

Untuk saat ini aku ingin mempercayai reinkarnasi, meskipun hal itu memang konyol namun aku sangat berharap bila hal konyol itu memang benar terjadi.

"Naa, Nathalie." Aku berbisik di telinganya. Suaraku terdengar bergetar akibat menahan sakit.

Nathalie menangis panik karena tidak dapat berbuat apa pun. "Gale! Gale sudah jangan bicara, simpan tenagamu!" Ia menutup luka tembakku, tapi perbuatannya sia-sia.

Aku meringis sakit. Aku harus menahan para sampah itu, dan membiarkan Nathalie pergi dengan Azzura. Namun, dengan kondisi ini apa mungkin?

Aku menaruh kepalaku di pundak Nathalie, mengendus baunya—mencoba mengingat setiap wangi yang menguar--- karena aku yakin ini akan menjadi pertemuan terakhir kami.

Aku membelai lembut wajah Nathalie, “Nathalie, aku mencintaimu. Sangat.”

Nathalie menangis ketika aku mengatakan hal seperti itu. “Gale—apa pun yang ada di pikiranmu jangan kau lakukan, kumohon.”

Heh. Seperti ia bisa membaca pikiranku saja.

“Nathalie, dengar.” Aku melirik Azzura memberinya kode lewat tatapan mata, Azzura pun mengangguk. “Kau pergilah duluan, aku akan menyusul setelah mengatasi mereka. Aku akan mengulur waktu, kau pergi secepat yang kau bisa.”

“Jangen bercanda! Aku akan di sini, ikut berperang denganmu!” Nathalie menggeleng kuat, air matanya tak berhenti mengalir.

Aku menggenggam jemarinya, lalu kubawa ke depan mulutku dan kukecup lembut. “Nathalie, aku pasti akan menyusulmu.” Aku menekankan kata pasti agar ia percaya, ia sedikit meluluh. 
 Karena ia tahu aku selalu menepati perkataanku.

“Aku akan menunggumu, Gale. Jadi cepat habisi mereka.” Nathalie berujar pasrah, lalu berlari menghampiri Azzura.

“Hei, Nathalie.” Aku memanggilnya untuk yang terakhir kalinya. “Aku percaya pada reinkarnasi.”

Nathalie menoleh, dan tersenyum tipis. Senyum terindah yang pernah kulihat. “Aku menunggumu besok dan 3500 tahun mendatang, kalau kau memang percaya reinkarnasi.”
Aku menyeringai.
.
Pada akhirnya Gale tidak menepati janjinya, ia tidak menyusul Nathalie. Hal ini menyebabkan Nathalie sangat terpukul, dan akhirnya ia hanya berharap di kehidupan yang mendatang ia bisa bersama Gale—selamanya.
Namun, siapa yang tahu akan rencana Sang Takdir, itu semua terserah padanya.

Yeah, begitulah ceritanya. Konyol, eh? Mau tahu apa yang lebih konyol lagi? Ya, aku adalah reinkarnasi Gale Harden. Sudah setahun lebih aku mendapat mimpi bersambung. Tentang istana, aku di masa lalu, dan Nathalia Seraphine Madison. Awalnya aku tak percaya, terkesan mengabaikan malah. Namun aku menyerah.

Aku mulai percaya reinkarnasi, perlahan ingatan itu pulih bukan sekedar mimpi lagi—semakin percaya bahwa namaku tak berubah. Entah, aku bersyukur bahwa aku dilahirkan kembali. Namun, aku tak ingin naif, terdapat lima puluh persen aku tak menemukan Nathalie, dan lima puluh persennya adalah kita tak bisa bersama.

Aku menunggumu 3500 tahun dari sekarang, kalau kau memang percaya reinkarnasi.’

Che. Kalimat itu kembali terngiang di benakku. Pada akhirnya aku yang menunggumu. Pada saat kita bertemu aku berharap tidak ada tembok yang akan membatasi untuk kedua kalinya.
Aku melirik arloji yang melingkari tanganku. Ah, sudah pukul lima. Sepertinya aku harus segera pulang.

Aku berdiri dari posisi dudukku, merapikan bajuku yang agak berantakan. Menatap pohon besar yang sedari tadi menaungi. Entah, aku sangat suka suasana senja kala ini.

“Nathalia Seraphine Madison, berapa lama lagi aku harus menunggumu?” tanpa sadar kalimat itu terlepas begitu saja.

“Ya, itu namaku.”

Dapat kurasakan sebuah suara terdengar dari belakang. Aku menoleh horror, dan saat itu aku merasakan waktu membeku.

Dia disana, Nathalie berdiri di hadapanku. Rambut pirang keemasan, serta netra emeraldnya yang teduh, tak dapat kulupakan.

Aku berjalan pelan menghampirinya. Aku segera memeluknya erat, tak ingin melepaskannya lagi. Tidak akan pernah aku melepasnya lagi.

“Eh?” ia terkejut.

“Akhirnya kita kembali bertemu, ternyata reinkarnasi memang benar ada.” Aku berujar penuh rasa syukur.

Namun ucapan Nathalie selanjutnya seakan menghantamku. Ia mendorongku secara paksa lalu berujar. “Kau siapa? Apa aku pernah mengenalmu. Wajahmu sangat familiar. Ugh.” Ia memegang kepalanya, ekspresi wajahnya kesakitan.

Sial. Ketika aku kembali bertemu Nathalie ia melupakanku.

Hahaha. Tuhan, apa kau sangat membenciku? Apa ini hukuman untukku?

Namun—

Ia adalah Gale Harden, jika Nathalie melupakan masa lalu mereka, maka biarkanlah. Karena masa lalu adalah masa lalu yang tak perlu di ingat lagi. Jika Nathalie melupakan Gale, maka tugas Gale adalah membuat Nathalie mengingatnya kembali dan menciptakan sejarah mereka di masa kini, dan Gale untuk kali ini tidak akan menyerah mendapatkan gadis yang dicintainya di masa lalu dan masa kini.
Gale menyeringai akan pemikirannya sendiri.
TAMAT





Oleh: Putri Daninra (X IIS 1)




0 comments:

Posting Komentar

Hubungi kami :

Twitter : @APAksara

Email : apaksara3@gmail.com

HP : 085773226995

Instagram: kapas3.aksara

Twitter

Translator