Kamis, 30 Oktober 2014

Someone Beside You




Tak ada yang aneh pagi ini. Matahari pun masih membantu semua makhluk menyelesaikan tugasnya. Begitu pun di salah satu kelas di Universitas Unicorn. Kegiatan belajar-mengajar masih berlangsung walau ada sesuatu yang berbeda. Tiar, sang murid teladan yang tak pernah absen dari kelasnya walau ia dalam keadaan sakit, hari ini tidak terlihat sama sekali.
"Neo, apa kau bersama Tiar seharian ini?" Tanya Nawa, teman sekelas Tiar pada Neo, kekasih Tiar.
"Tidak. Memangnya dia tidak masuk kelas?"
"Tidak. Dia juga tidak bersama Gladis dan lainnya, sebenarnya ada apa dengan Tiar? Apa semalam kita membuatnya terlalu lelah sampai ia tidak masuk hari ini?"
"Entahlah. Menurutku sebaiknya kita ke rumahnya selesai kelas terakhir."
Baiklah."

Pukul dua siang, mereka sampai di rumah kos Tiar. Namun mereka terkejut dengan kehadiran Reika di sana. Pasalnya Reika terkenal sinis dan tidak terlalu menyukai Tiar dan teman-temannya. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Neo pada Reika.
"Hanya ingin menyelesaikan urusanku dengan Tiar, tapi sepertinya dia tidak di rumah."
"Hey! Bau apa ini? Kalian menciumnya? Bau.. Bau amis!" Kata Kyla tiba-tiba sambil menutup hidungnya. Mendengar ucapa Kyla, Neo segera mmengetuk-ngetuk pintu rumah Tiar. Bayangan-bayangan buruk yang bermunculan di otaknya semakin membuatnya panik dan tanpa sadar berusaha mendobrak pintu yang terkunci itu.
Semuanya langsung masuk begitu pintunya terbuka. Semuanya mencari dengan hati-hati, dan bau amis pun semakin tercium jelas di hidung mereka.
"Aaaaaaaa....." suara jeritan Gladis yang melengking mengejutkan yang lain. Semua pandangan langsung tertuju pada sesosok gadis yang duduk tersandar di depan meja makan. Terlihat bekas darah segar mengalir dari perutnya. Tersumber dari bagian yang tertusuk pisau.
●●●
Suara sirine mobil ambulance dan mobil polisi seakan saling bersahutan siang ini, membawa kabar duka. Kenyataan yang membuat pecah tangis orang-orang terkasih. Kenyataan yang memilukan saat orang yang begitu disayangi, bahkan sangat berarti, tewas mengenaskan. Masih jelas dalam ingatan teman-teman Tiar bagaimana bahagianya kemarin saat ia berulang tahun. Saat tak ada yang menyangka bahwa senyuman yang ada dalam foto-foto yang mereka ambil kemarin takkan bisa lagi mereka lihat.
Jasadnya telah dibawa untuk diotopsi, namun penyelidikan masih berlanjut. Neo, Gladis, Kyla, Nawa, dan Reika terpaksa ditahan di tempat kejadian perkara untuk dimintai keterangan. "Tidak, ini jelas bukan kasus bunuh diri. Korban telah dibunuh oleh seseorang dengan motif tertentu." kata seorang penyelidik tiba-tiba. Ardhi, penyelidik handal yang analisisnya terkenal sangat akurat bahkan sampai mendekati 99% berdasarkan kejadian sebenarnya.
"Tapi, anggota penyelidik yang lain telah memperkirakan kejadian yang dialami saudari Tiar adalah bunuh diri. Bahkan dengan melihat posisi tubuh dan posisi tangannya yang berada di dekat pisau sudah cukup membuktikan bahwa ini kasus bunuh diri" kata rekannya.
"Itulah yang diinginkan pelaku. Ia berhasil menjalankan rencananya dengan sangat rapi hingga kita nyaris tak menyadarinya." jawab Ardhi.
"Tiar dibunuh? siapa orang yang tega melakukannya?" kata Gladis sambil setengah berbisik pada teman-temannya setelah mendengar percakapan Ardhi dan rekannya.
"Mungkinkah..." jawab Kyla sambil melihat ke arah Reika diikuti yang lainnya.
Reika yang terkejut langsung menghapus air mata yang sedari tadi ia tahan dan berkata, "Apa? Kalian pikir aku yang melakukannya?"
"Bukankah kau selama ini sangat membenci Tiar karena menjadi sainganmu?" balas Gladis.
"Kalau aku memang sebenci itu padanya aku pasti sudah membunuhnya sejak lama. Jangan pernah menuduh orang tanpa bukti." Reika membela diri.
"Lalu, apa kau bisa menyebutkan orang yang mungkin membunuh Tiar selainmu?" balas Kyla.
"Kalau ini bukan kasus bunuh diri, aku yakin pembunuhnya pasti orang luar. Karena, seperti yang kalian tahu, Tiar berhati malaikat. Dia cerdas, suka menolong dan tak pernah membeda-bedakan teman, nyaris sempurna. Semua yang mengenalnya akan sangat rugi bila kehilangan teman seperti Tiar. Jadi tidak mungkin bila orang-orang terdekatnya yang melakukan pembunuhan ini."
"Bagaimana Nawa, kau ingin mengatakan sesuatu tentang kematian Tiar? atau hatimu tengah bergembira ria karena rencanamu berjalan sempurna?" kata Ardhi yang tentu saja mengejutkan semua orang. Bagaimana tidak? seorang "detektif" seperti Ardhi secara terang-terangan mengatakan bahwa Nawalah pelaku yang membunuh Tiar.
"Ap-apa yang Anda katakan? Anda pikir aku yang melakukannya?"
"Bagaimana bisa kau menuduh Nawa yang melakukannya? Ia tak pernah macam-macam pada Tiar. Bahkan Tiar menemaninya saat tak ada yang mau menerimanya." bela Kyla.
"Aku menuduh bukan tanpa bukti. Kau mau menjelaskannya sendiri kepada teman-temanmu, Nawa?"
"A-aku masih tak mengerti apa yang kau katakan. Seperti yang kau dengar sendiri, Tiar sangat baik padaku jadi aku tak mungkin membunuhnya."
"Jadi kau ingin aku yang menjelaskannya? Baiklah," katanya sambil menggaruk dagunya kasar. "Tentu saja membunuh Tiar adalah hal yang sangat mudah. Seperti yang kalian katakan, Tiar adalah orang yang ramah, karena terlalu ramah ia bisa saja menerima semua temannya di rumah ini bahkan saat tengah malam. Semalam, tepat saat semua penghuni rumah kos ini tengah tertidur lelap, kau datang ke rumah Tiar."
"Tapi ia pulang bersama kami semalam, tepat setelah kejutan ulang tahun untuk Tiar yang sudah kami susun terlaksana." jawab Gladis.
"Tidak, ia tidak benar-benar pulang bersama kami semalam. dia memisahkan diri di perempatan jalan ke arah yang berlawanan dengan kami," tegas Neo. "Apa kau bisa menlanjutkan analisismu, Pak?" lanjutnya.
Ardhi yang mendengar penjelasan Neo tersenyum sinis pada Nawa. "Kau datang dengan alasan ada barangmu yang tertinggal disini. Jadi Tiar mempersilahkanmu masuk dan mencarinya. Tiar juga ikut membantumu, tapi ketika ia sedang mencari barangmu kau malah mempersiapkan pisau yang ada di tasmu itu. Kemudian kau membunuhnya dan pergi."
"Atas dasar apa kau mengarang cerita seperti itu? Semua jendela dan pintu bahkan terkunci dari dalam saat kami datang. Bahkan dengan hal ini akan lebih masuk akal bila kau mengatakan Tiar bunuh diri." Nawa membela diri.
"Kau ingin lihat sesuatu? Perhatikan lantai dekat pintu itu saat aku keluar." Lalu ia keluar dan menutup pintunya. Tak lama kemudian sebuah kunci melintasi celah kecil di bawah pintu, seperti sengaja dilempar dan tepat berhenti di bawah kursi yang terletak disamping pintu itu. "Kemarilah, kalian bisa lihat sendiri apa yang ada di bawah kursi ini selain kunciku." kata Ardhi pada anak-anak setelah pintu itu terbuka.
Mereka menuruti perkataan Ardhi dan terkejut ketika melihat ada dua kunci di sana. Neo mengambil keduanya dan mencoba kunci yang satu pada pintu rumah Tiar. Cocok. "Tepat sekali! Nawa melempar kunci itu tepat seperti yang aku lakukan setelah urusannya selesai." kata Ardhi kemudian.
"Lalu bagaimana kau menjelaskan keberadaan mayat Tiar? bukankah ia harusnya berada di dekat sini, bukannya di dapur?" tanya Kyla.
"Itu sangat mudah. Noda merah pada tasmu, itu noda darah 'kan, Nawa? Kau mungkin tak menyadarinya saat kau dengan susah payah memindahkan mayat Tiar dengan menggeretnya ke dapur. Setelah itu ia bersihkan noda darah yang ada dilantai, membiarkan pisau itu ternancap pada perutnya dan memindahkan tangan Tiar agar seolah dialah yang menancapkan pisau itu pada perutnya. Aku sudah menyelidiki semuanya, memang dari satu set pisau yang ada di dapur Tiar, tidak terdapat satu pisau tapi pisau itu sebenarnya berada di washtuffle bersama tumpukan piring yang telah kalian gunakan untuk berpesta semalam. Lagi pula pisau yang digunakan untuk membunuh Tiar adalah pisau murahan yang sama sekali berbeda dengan pisau yang dimiliki Tiar." jelas Ardhi.
"B-ba-bagaimana bisa kau mengetahui semuanya?" Semua orang langsung menengok kearah Nawa setelah ia dengan tidak langsung mengakui bahwa dialah pelakunya.
Plakkkk....
Satu tamparan dari Gladis mendarat tepat di pipi Nawa, meninggalkan bekas merah di sana. "Bagaimana bisa kau melakukan itu pada orang yang telah berbuat baik padamu? Bahkan kau telah menjadi bagian dari kami karena Tiar!" kata Gladis penuh amuk pada Nawa. Semua yang melihat kejadian itu sama sekali tak berkutik. Semua, termasuk Reika, membeku mengetahui ada orang yang tega membunuh orang yang sangat baik.
"Aku iri! Aku iri padanya! Aku dan Tiar bukan orang yang aktif bersosialisasi apalagi di dunia maya, tapi kenapa selalu ada orang di sampingnya? Kenapa selalu ada yang menemaninya saat ia kesepian? Sedangkan aku? Orang tuaku telah meninggal, aku miskin dan semakin miskin saat tak ada orang yang ingin berteman denganku, entah apa alasannya. Reika, bukankah kau senang? Kini kau bisa menjadi nomor satu, akankah kau menjadi temanku?" Jawab Nawa dalam tangisnya.
Plakkk...
Satu tamparan lagi dari Reika pada pipi Nawa. "Bagaimana bisa aku menjadi nomor satu bila orang yang telah menjadi motivatorku dan selalu menjadi pengajarku telah tiada? Dan bagaimana bisa kau berpikir aku mau berteman dengan seorang pembunuh?" jawab Reika penuh amarah.
"Pak, tolong masukkan orang ini ke dalam penjara. Aku sudah muak melihat wajahnya." kata Neo kemudian. Ardhi pun segera memberi isyarat pada anak buahnya untuk membawa Nawa. Ia pun dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.




Oleh: Azzah Farah Fadiyah (XI MIA 4)


0 comments:

Posting Komentar

Hubungi kami :

Twitter : @APAksara

Email : apaksara3@gmail.com

HP : 085773226995

Instagram: kapas3.aksara

Twitter

Translator