Tak ada yang aneh pagi ini. Matahari pun
masih membantu semua makhluk menyelesaikan tugasnya. Begitu pun di salah satu
kelas di Universitas Unicorn. Kegiatan belajar-mengajar masih berlangsung walau
ada sesuatu yang berbeda. Tiar, sang murid teladan yang tak pernah absen dari
kelasnya walau ia dalam keadaan sakit, hari ini tidak terlihat sama sekali.
"Neo, apa kau bersama Tiar seharian
ini?" Tanya Nawa, teman sekelas Tiar pada Neo, kekasih Tiar.
"Tidak. Memangnya dia tidak masuk
kelas?"
"Tidak. Dia juga tidak bersama Gladis
dan lainnya, sebenarnya ada apa dengan Tiar? Apa semalam kita membuatnya
terlalu lelah sampai ia tidak masuk hari ini?"
"Entahlah. Menurutku sebaiknya kita ke
rumahnya selesai kelas terakhir."
”Baiklah."
Pukul dua siang, mereka sampai di rumah kos
Tiar. Namun mereka terkejut dengan kehadiran Reika di sana. Pasalnya Reika
terkenal sinis dan tidak terlalu menyukai Tiar dan teman-temannya. "Apa
yang kau lakukan di sini?" tanya Neo pada Reika.
"Hanya ingin menyelesaikan urusanku
dengan Tiar, tapi sepertinya dia tidak di rumah."
"Hey! Bau apa ini? Kalian menciumnya?
Bau.. Bau amis!" Kata Kyla tiba-tiba sambil menutup hidungnya. Mendengar
ucapa Kyla, Neo segera mmengetuk-ngetuk pintu rumah Tiar. Bayangan-bayangan
buruk yang bermunculan di otaknya semakin membuatnya panik dan tanpa sadar
berusaha mendobrak pintu yang terkunci itu.
Semuanya langsung masuk begitu pintunya
terbuka. Semuanya mencari dengan hati-hati, dan bau amis pun semakin tercium
jelas di hidung mereka.
"Aaaaaaaa....." suara jeritan
Gladis yang melengking mengejutkan yang lain. Semua pandangan langsung tertuju
pada sesosok gadis yang duduk tersandar di depan meja makan. Terlihat bekas
darah segar mengalir dari perutnya. Tersumber dari bagian yang tertusuk pisau.
●●●
Suara sirine mobil ambulance dan mobil polisi
seakan saling bersahutan siang ini, membawa kabar duka. Kenyataan yang membuat
pecah tangis orang-orang terkasih. Kenyataan yang memilukan saat orang yang
begitu disayangi, bahkan sangat berarti, tewas mengenaskan. Masih jelas dalam
ingatan teman-teman Tiar bagaimana bahagianya kemarin saat ia berulang tahun.
Saat tak ada yang menyangka bahwa senyuman yang ada dalam foto-foto yang mereka
ambil kemarin takkan bisa lagi mereka lihat.
Jasadnya telah dibawa untuk diotopsi, namun
penyelidikan masih berlanjut. Neo, Gladis, Kyla, Nawa, dan Reika terpaksa
ditahan di tempat kejadian perkara untuk dimintai keterangan. "Tidak, ini
jelas bukan kasus bunuh diri. Korban telah dibunuh oleh seseorang dengan motif
tertentu." kata seorang penyelidik tiba-tiba. Ardhi, penyelidik handal
yang analisisnya terkenal sangat akurat bahkan sampai mendekati 99% berdasarkan
kejadian sebenarnya.
"Tapi, anggota penyelidik yang lain
telah memperkirakan kejadian yang dialami saudari Tiar adalah bunuh diri.
Bahkan dengan melihat posisi tubuh dan posisi tangannya yang berada di dekat
pisau sudah cukup membuktikan bahwa ini kasus bunuh diri" kata rekannya.
"Itulah yang diinginkan pelaku. Ia
berhasil menjalankan rencananya dengan sangat rapi hingga kita nyaris tak
menyadarinya." jawab Ardhi.
"Tiar dibunuh? siapa orang yang tega
melakukannya?" kata Gladis sambil setengah berbisik pada teman-temannya
setelah mendengar percakapan Ardhi dan rekannya.
"Mungkinkah..." jawab Kyla sambil
melihat ke arah Reika diikuti yang lainnya.
Reika yang terkejut langsung menghapus air
mata yang sedari tadi ia tahan dan berkata, "Apa? Kalian pikir aku yang
melakukannya?"
"Bukankah kau selama ini sangat membenci
Tiar karena menjadi sainganmu?" balas Gladis.
"Kalau aku memang sebenci itu padanya
aku pasti sudah membunuhnya sejak lama. Jangan pernah menuduh orang tanpa
bukti." Reika membela diri.
"Lalu, apa kau bisa menyebutkan orang
yang mungkin membunuh Tiar selainmu?" balas Kyla.
"Kalau ini bukan kasus bunuh diri, aku
yakin pembunuhnya pasti orang luar. Karena, seperti yang kalian tahu, Tiar
berhati malaikat. Dia cerdas, suka menolong dan tak pernah membeda-bedakan
teman, nyaris sempurna. Semua yang mengenalnya akan sangat rugi bila kehilangan
teman seperti Tiar. Jadi tidak mungkin bila orang-orang terdekatnya yang
melakukan pembunuhan ini."
"Bagaimana Nawa, kau ingin mengatakan
sesuatu tentang kematian Tiar? atau hatimu tengah bergembira ria karena
rencanamu berjalan sempurna?" kata Ardhi yang tentu saja mengejutkan semua
orang. Bagaimana tidak? seorang "detektif" seperti Ardhi secara
terang-terangan mengatakan bahwa Nawalah pelaku yang membunuh Tiar.
"Ap-apa yang Anda katakan? Anda pikir
aku yang melakukannya?"
"Bagaimana bisa kau menuduh Nawa yang
melakukannya? Ia tak pernah macam-macam pada Tiar. Bahkan Tiar menemaninya saat
tak ada yang mau menerimanya." bela Kyla.
"Aku menuduh bukan tanpa bukti. Kau mau
menjelaskannya sendiri kepada teman-temanmu, Nawa?"
"A-aku masih tak mengerti apa yang kau
katakan. Seperti yang kau dengar sendiri, Tiar sangat baik padaku jadi aku tak
mungkin membunuhnya."
"Jadi kau ingin aku yang menjelaskannya?
Baiklah," katanya sambil menggaruk dagunya kasar. "Tentu saja
membunuh Tiar adalah hal yang sangat mudah. Seperti yang kalian katakan, Tiar adalah
orang yang ramah, karena terlalu ramah ia bisa saja menerima semua temannya di
rumah ini bahkan saat tengah malam. Semalam, tepat saat semua penghuni rumah
kos ini tengah tertidur lelap, kau datang ke rumah Tiar."
"Tapi ia pulang bersama kami semalam,
tepat setelah kejutan ulang tahun untuk Tiar yang sudah kami susun
terlaksana." jawab Gladis.
"Tidak, ia tidak benar-benar pulang
bersama kami semalam. dia memisahkan diri di perempatan jalan ke arah yang
berlawanan dengan kami," tegas Neo. "Apa kau bisa menlanjutkan
analisismu, Pak?" lanjutnya.
Ardhi yang mendengar penjelasan Neo tersenyum
sinis pada Nawa. "Kau datang dengan alasan ada barangmu yang tertinggal
disini. Jadi Tiar mempersilahkanmu masuk dan mencarinya. Tiar juga ikut
membantumu, tapi ketika ia sedang mencari barangmu kau malah mempersiapkan
pisau yang ada di tasmu itu. Kemudian kau membunuhnya dan pergi."
"Atas dasar apa kau mengarang cerita
seperti itu? Semua jendela dan pintu bahkan terkunci dari dalam saat kami
datang. Bahkan dengan hal ini akan lebih masuk akal bila kau mengatakan Tiar
bunuh diri." Nawa membela diri.
"Kau ingin lihat sesuatu? Perhatikan
lantai dekat pintu itu saat aku keluar." Lalu ia keluar dan menutup
pintunya. Tak lama kemudian sebuah kunci melintasi celah kecil di bawah pintu,
seperti sengaja dilempar dan tepat berhenti di bawah kursi yang terletak
disamping pintu itu. "Kemarilah, kalian bisa lihat sendiri apa yang ada di
bawah kursi ini selain kunciku." kata Ardhi pada anak-anak setelah pintu
itu terbuka.
Mereka menuruti perkataan Ardhi dan terkejut
ketika melihat ada dua kunci di sana. Neo mengambil keduanya dan mencoba kunci
yang satu pada pintu rumah Tiar. Cocok. "Tepat sekali! Nawa melempar kunci
itu tepat seperti yang aku lakukan setelah urusannya selesai." kata Ardhi
kemudian.
"Lalu bagaimana kau menjelaskan
keberadaan mayat Tiar? bukankah ia harusnya berada di dekat sini, bukannya di
dapur?" tanya Kyla.
"Itu sangat mudah. Noda merah pada
tasmu, itu noda darah 'kan, Nawa? Kau mungkin tak menyadarinya saat kau dengan
susah payah memindahkan mayat Tiar dengan menggeretnya ke dapur. Setelah itu ia
bersihkan noda darah yang ada dilantai, membiarkan pisau itu ternancap pada
perutnya dan memindahkan tangan Tiar agar seolah dialah yang menancapkan pisau
itu pada perutnya. Aku sudah menyelidiki semuanya, memang dari satu set pisau
yang ada di dapur Tiar, tidak terdapat satu pisau tapi pisau itu sebenarnya
berada di washtuffle bersama tumpukan piring yang telah kalian gunakan untuk
berpesta semalam. Lagi pula pisau yang digunakan untuk membunuh Tiar adalah
pisau murahan yang sama sekali berbeda dengan pisau yang dimiliki Tiar."
jelas Ardhi.
"B-ba-bagaimana bisa kau mengetahui
semuanya?" Semua orang langsung menengok kearah Nawa setelah ia dengan
tidak langsung mengakui bahwa dialah pelakunya.
Plakkkk....
Satu tamparan dari Gladis mendarat tepat di
pipi Nawa, meninggalkan bekas merah di sana. "Bagaimana bisa kau melakukan
itu pada orang yang telah berbuat baik padamu? Bahkan kau telah menjadi bagian
dari kami karena Tiar!" kata Gladis penuh amuk pada Nawa. Semua yang
melihat kejadian itu sama sekali tak berkutik. Semua, termasuk Reika, membeku
mengetahui ada orang yang tega membunuh orang yang sangat baik.
"Aku iri! Aku iri padanya! Aku dan Tiar
bukan orang yang aktif bersosialisasi apalagi di dunia maya, tapi kenapa selalu
ada orang di sampingnya? Kenapa selalu ada yang menemaninya saat ia kesepian?
Sedangkan aku? Orang tuaku telah meninggal, aku miskin dan semakin miskin saat
tak ada orang yang ingin berteman denganku, entah apa alasannya. Reika,
bukankah kau senang? Kini kau bisa menjadi nomor satu, akankah kau menjadi
temanku?" Jawab Nawa dalam tangisnya.
Plakkk...
Satu tamparan lagi dari Reika pada pipi Nawa.
"Bagaimana bisa aku menjadi nomor satu bila orang yang telah menjadi
motivatorku dan selalu menjadi pengajarku telah tiada? Dan bagaimana bisa kau
berpikir aku mau berteman dengan seorang pembunuh?" jawab Reika penuh
amarah.
"Pak, tolong masukkan orang ini ke dalam
penjara. Aku sudah muak melihat wajahnya." kata Neo kemudian. Ardhi pun
segera memberi isyarat pada anak buahnya untuk membawa Nawa. Ia pun dijatuhi
hukuman penjara seumur hidup.
Oleh: Azzah Farah
Fadiyah (XI MIA 4)
0 comments:
Posting Komentar