Hangatnya sinar mentari pagi, mengantarkanku
mengawali hari. Semua sibuk dengan aktifitasnya masing-masing, kecuali Zaki,
adikku yang masih tertidur pulas, tak peduli sekitarnya gaduh, bahkan volume TV
sudah di perbesar sengaja agar ia lekas bangun, tapi tak kunjung bangun.
“Zaki! Bangun dek, udah siang!” teriak Mama
suaranya yang nyaring membuat gaduh seisi rumah. Setelah di teriaki begitu,
Zaki paling hanya berubah posisi tidurnya, tanpa membuka matanya.
Mama ku yang paling repot, tentu lah sebagai
seorang istri dengan dua anak, dan juga wanita karir, Mamaku merangkap
tugasnya, setelah urusan pagi hari selesai, giliran Ia yang harus bersiap-siap,
menderek troli, dan mengantarkan pack-pack botol minuman kesehatan kepada para
pelanggannya.
“Cepetan kak, udah jam berapa nih?”
“Cepetan udah siang!”
Itu ocehan Ayah yang setiap hari ku dengar, Ia
mengantarku sekolah sekalian berangkat bekerja. Tak pernah bosan-bosannya
mengomel jika gerakanku lambat selama bersiap-siap, tak ayal tiap harinya aku
tekanan batin. Buru-buru aku memakai jilbabku yang terkadang asal, sepatu pun hanya
di-selop saja. Mama yang sibuk
menyiapkan sarapan, berkutat di dapur, walau terkadang Kami tak sempat sarapan,
selanjutnya mengemas nasi dan lauk
pauknya ke dalam kotak bekal ku, dan hal yang sama di lakukan lalu di bungkus
kertas nasi, untuk bekal Ayah.
“Yaa...” ujarku seraya menyambar tas ku.
“Ma berangkat!”
“Iya...”
“Assalamu`alaikum,” ujarku seraya mencium
tangan.
Kalau
sudah kesiangan begini, Ayah tak santai lagi mengendarai motornya, dengan
sekali tancap gas Ia meng-geber sepeda
motornya, yang di paksa berselap-selip, karena memotong jalan melewati
gang-gang.
Di perjalanan, hiruk pikuk pasar tradisional,
suasana pagi yang mungkin akan ku rindukan suatu hari nanti.Yang mungkin ketika
aku dewasa akan ku ceritakan kepada anakku dan cucuku, bahwa ketika SMA aku
belum bisa mandiri, tiap pagi aku di antar Ayah, mengendarai sepeda motor, di
mana aku sering menyusahkan membuat Ayah sering terlambat bekerja karena bangun
kesiangan, membuatnya harus extra sabar karena aku pasti menangis kalau sampai
tidak di antar sampai sekolah, dan Ayah rela mengantarku bahkan memastikan aku
sudah masuk gerbang padahal ia sudah terlambat. Jika Ayahku terlambat
paling-paling Mama yang mengoceh karena Ayah tak dapat uang perangsang hadir,
karena di nilai tidak di siplin. Dan aku mencetak rekor bagi diriku sendiri
,bahwa selama hampir 2 tahun, saat berangkat sekolah selama 30 menit perjalanan
aku tak bicara sepatah katapun, aku memang tak banyak bicara dengan orang tua. kecuali
saat sudah sampai, kata yang selalu terucap oleh Ayah, yakni “Hati-hati.”
Ujarnya, sementara aku mencium tangannya.
Setiap pagi pula, aku melihat seorang kakek
tua renta pedagang buah di pasar. Kakek itu sudah bongkok, kulitnya tentu sudah
keriput, bajunya lusuh dengan celana bahan hitam lengkap dengan kopiahnya.
Dengan perlalan ia memindahkan satu persatu buah, untuk di tata di atas meja
dagangnya.
Dagangannya tak menentu kadang ia menjual
jambu biji, kadang belimbing, kadang juga ia menjual pepaya, atau bahkan sayur
kangkung dan bayam-bayaman. Ia membuka lapak kecil, berjejer bersama pedagang
lainnya dengan meja kayu keropos yang di alasi koran di atasnya.
Pasar yang cukup ramai, strategis berada di
pinggir jalan. Yang ku lihat adalah jejeran pedagang baju, seragam dan
kerudung, lalu jejeran penjual sayuran dan buah-buahan, seterusnya di paling
pojok ada para pedagang hewan peliharaan kelinci, hamster, dan ayam, toko pakan
unggas dengan unggasnya. Semakin siang
makin ramai, tak ayal aku sering terjebak macet di pasar jika berangkat
kesiangan.
Dua pekan belakangan ini, aku mengamati kakek
itu, setiap pulang dan pergi.
Sering kali, aku memperhatikan kakek pedagang
buah itu ketika pulang sekolah, selagi
melintas menaiki angkutan umum. Hanya sekilas aku melihatnya,
mengibas-ngibaskan kopiahnya dianggapnya seperti kipas, terkadang ia hanya
memperhatikan jalan dengan tatapan yang penuh harap kepada orang-orang yang
lalu lalang. Tak jarang kulihat dagangannya masih tersisa, bahkan rasanya tak
berkurang dari yang ku lihat tadi pagi.
Dan
yang ada dalam pikiranku, kemana keluarganya? Kenapa sih kakek itu masih harus
berdagang, apa dia nggak punya anak? Jauh dalam benakku rasa penasaran akan hal
itu.
Ingin ku beli dagangannya, tapi apa daya
hampir tak pernah uang saku ku tersisa banyak, aku mengutuk diriku yang boros
ini, aku paham sulitnya mencari uang, namun karena belum pernah merasakannya,
rasanya tak peduli, yah namanya juga remaja `kan?
Seorang gadis remaja yang sedang mencari jati
diri, selalu ingin di puji, egois dalam segala hal dan ingin semua hal berjalan
sukses berkat dirinya, terlalu sombong, dan pada akhirnya rasa sombong itu
menghancurkannya, itulah aku.
Tak percaya pada harapan. Apa artinya sebuah
harapan? Aku sempat bertanya-tanya mengenai itu.
Ketika kita terlalu berharap pada sesuatu,
yakinilah harapan mu itu tak akan terwujud, justru yang terjadi adalah
sebaliknya, aku yakin itu. Jangan pernah berlebihan, jangan percaya terhadap
sesuatu yang tak pasti, jangan percaya harapan, jangan pernah berharap. Karena
tak seorang pun yang mengerti aku, bahkan kedua orang tua ku, bahkan di rumah
jarang sekali ada obrolan hangat antar anggota keluarga, aku berbicara hanya
seperlunya, orang tua ku pun rasanya acuh pada diriku, waktu ku banyak di
habiskan di sekolah, atau bahkan aku merasa tak punya rumah, aku lah orang
terakhir yang meninggalkan sekolah, di saat yang lain sudah sedari tadi tiba di
rumah, akulah yang ketika di ajak pulang selalu berkata, “Nanti aja ya”.
Mungkin itu juga yang membuatku tak akrab dengan orang tua ku, waktuku terlalu
banyak di habiskan di sekolah di banding di rumah.
Pernah suatu hari aku pulang
lebih awal dari biasanya, aku tiba di rumah sebelum magrib tiba, tidak seperti
biasanya. Aku baru saja tiba, melihat troli berwarna merah terparkir di teras
rumahku, troli yang tak asing lagi.
“Ma,
mau jualan lagi?” tanyaku, ketika baru sampai di rumah. Biasanya Mama belum
pulang, tapi sepertinya ia juga mau pergi lagi. Lengkap dengan seragam `dinas`
serba merah.
Aku
lihat Mama dengan sedikit terburu-buru, menata kembali alat sholat, mukena dan
sajadah. Kerudungnya terlihat lepek, kemungkinan
besar akibat air wudhu, jadi ku simpulkan Ia belum lama tiba di rumah, untuk
menunaikan sholat.
“Sebentar doang, ada yang mesen,” ujarnya seraya
bergegas merapikan pack-pack botol, memasukkannya satu persatu ke dalam troli.
Aku memperhatikan wajahnya yang bersinar akibat rutin sholat dhuha, Mama ku
cantik.
Ia sudah
lelah tapi ia tetap harus berangkat lagi.
Aku meletakkan tas sekolah ku yang cukup
berat, dan pergi ke dapur untuk minum. Aku melihat tumpukan baju kotor menunggu
untuk di cuci.
“Kak nanti nyuci ya,” Ujar Mama, sudah ku
duga.
“Mama pergi ya...”
“Ma... mau ikut,” pintaku.
“Mau ikut?” Tanya Mama heran.
Aku tak menjawab, segera aku memakai sepatu
lagi, tetap memakai seragam yang belum sempat aku ganti.
“Kunci pintunya kak...” perintah Mama. Aku
menurutinya.
Tanpa aba-aba aku mengikuti Mama yang
terlebih dulu jalan. Ada perasaaan haru yang menyelimutiku, perasaan bahwa kali
ini aku akan merasakan perjuangan yang Mama rasakan setiap hari.
“Ma, tau nggak kenapa aku mau ikut?” tanyaku
memecah suasana.
“Kenapa?” Tanya Mama sumringah, aku tak
pernah mendapatkan respon seperti ini sebelumnya, dan kau tau aku jarang sekali
berbicara pada orang tua ku.
“Aku mau jajan,” Ujarku ragu.
“Mau jajan?”
“Iya, bosen juga di rumah” jawabku asal.
Cukup lama kami berjalan kaki, letak rumahku
yang lumayan jauh dari jalan raya, harus melewati jalan yang menanjak,
terkadang aku iba mau menangis rasanya. Awalnya aku berjalan beriringan tepat
di samping Mama, lama-kelamaan aku tenggelam, aku mundur dan berjalan di
belakang Mama, rasanya kalau harus menangis tak memungkinkan dengan banyaknya
orang yang melihat.
“Ma, aku aja yang bawa trolinya,” ujarku
menawarkan.
“Berat, nanti aja kalau pulang.”
Aku diam. Mau apa lagi?
Pada akhirnya kami sampai di tempat yang di
tuju, Mama sempat bertanya ke sebuah salon, aku pikir itu tempat pelanggan yang
memesan, ternyata bukan. Mama lalu
celingukan ke beberapa rumah di belakang salon tersebut, aku mengikuti
Mama.
“Udah tutup.”
“Apanya?”
“Warung pelanggan yang mesen,” ujarnya lesu.
Aku melihat raut kecewa ada pada wajah Mama,
sudah berjalan jauh, tapi tak ada hasil yang di dapat. Tapi ia tak mengeluh, seketika
aku salut dan bangga. Seperti kata seorang teman, Orang tua adalah inpirasi
bagi anaknya.
“Mau jajan apa?”
Sontak aku tersadar akan alasan yang ku
gunakan, agar dapat ikut dengan wanita paruh baya di sampingku, wanita yang
melahirkanku, Ia kini juga harus berjuang untuk menyekolahkan ku, tapi apa yang
telah aku perbuat? Jika di suruh, aku yang terus saja menolak, dengan alasan
aku lelah, padahal Mamaku lebih lelah. Bahkan aku menggerutu, aku takut menjadi
durhaka.
“Terserah
Mama.” Aku tak minat lagi. Bagaimana mungkin aku meminta jajan, sedang dagangan
Mama tak jadi terjual.
“Mama kenyang.”
“Di rumah ada lauk apa?”
“Nggak ada apa-apa, mau beli apa?”
Aku terdiam. Hening, tak ada suara burung
atau hembusan angin, tak ada deru kendaraan bermotor atau suara bising mesin.
Yang ada pada saat itu hanya suara gesekkan roda trolli dengan aspal, di sebuah
jalan kecil, yang kedua sisinya di batasi oleh dinding yang lembab, di balik
dinding itu tumbuh pepohonan yang rindang, senja hari yang bersejarah dalam
hidupku. Mama mengajakku untuk segera pulang, karena hari semakin gelap, Kami
berjalan berdampingan.
“Nggak jadi jajan?”
Aku menggeleng.
Ma, tak akan ku kecewakan kau, dan membiarkan
perjuangan mu sia-sia, aku cukup menyusahkan, sudah cukup menjadi beban. Aku
menangis dalam hati.
***
“Kek, jambunya se-kilo berapa?” tanyaku pada
Kakek tua di pasar, kakek yang belakangan ini menginspirasi ku, entah
sebenarnya apa hubungannya dengan harapan dan motivasi diriku. Namun itulah
inspirasi, bisa di temukan kapan dan dimana saja.
“Sepuluh ribu, pilih sendiri aja,” jawabnya dengan
suara yang lemah. Tangan tuanya yang telah keriput memegang dagangannya yang
hingga sore ini tak kunjung habis terjual. Akhirnya setelah berjuang, aku bisa
lebih hemat, menggunakan uang hasil kerja keras Mama untuk yang lebih berguna.
Senja hari, menghapus indahnya langit biru, berganti
dengan langit yang mulai mulai gelap. Aku bergegas menyebrang jalan, untuk
menunggu mobil angkutan umum dengan menenteng kresek hitam berisi se-kilo jambu biji, dengan masih mengenakan
seragam putih abu-abu.
Aku belajar tentang sedikit makna kehidupan,
aku banyak menyimpulkan uraian kejadian yang terjadi, akibat yang akan di
timbulkan ketika kita melakukan suatu hal yang buruk dan yang baik, proses
mencari jati diri, dan uraian kisah lain. Aku belajar banyak tentang harapan. Kalau
kau tak punya harapan yang harus di perjuangkan untuk apa hidup?.
Bahwa harapanku memicuku untuk belajar dengan
giat, bahwa motivasi membanggakan kedua orang tuaku menjadikanku tak patah
semangat, bahwa perhatian kedua orang tuaku yang tak pernah ku sadari, mereka
motivasiku, pembangkit harapanku, harapan, impianku, aku harus sukses!
Kakek setua itu saja masih terus berusaha, ia
tak mengemis atau meminta belas kasih orang lain. Apa yang menyebabkan itu?
Harapan.
Ia percaya bahwa usaha kecilnya sedikit
banyak menghasilkan uang yang cukup untuk makannya sehari-hari, ia selalu
berharap bahwa ketika dagangannya laku, ia punya peluang untuk tetap berjualan
besok, ia punya bayangan ke depan untuk tetap bertahan hidup.
Aku tak ingin berhenti berharap. Berharap
bahwa kedua orang tuaku akan memaafkanku, memaafkan segala kesalahan dan
kurangajar seorang anak. Tak mau berbicara pada orang tua adalah sesuatu yang
fatal, aku tak membayangkan betapa menyesalnya diriku ketika orang tuaku sudah
meninggal. Aku mungkin tak ingin hidup lagi, tak ada yang memotivasiku untuk
terus belajar dan mengejar cita-cita, apakah arti hidup lagi, dan apakah aku masih
punya harapan?
Akhir bulan, yang bersejarah dalam hidupku,
setelah konflik batin yang ku alami. Banyak tetes air mata yang jatuh, yang
sepertinya tanpa sebab, namun sebenarnya penuh alasan.
Dari lubuk hatiku yang paling dalam, maaf
Mama, maaf Ayah…
Oleh: Wulan Azahra
Khairunisa (XI IIS 1)
0 comments:
Posting Komentar