Kamis, 30 Oktober 2014

Butir Makna




Hangatnya sinar mentari pagi, mengantarkanku mengawali hari. Semua sibuk dengan aktifitasnya masing-masing, kecuali Zaki, adikku yang masih tertidur pulas, tak peduli sekitarnya gaduh, bahkan volume TV sudah di perbesar sengaja agar ia lekas bangun, tapi tak kunjung bangun.

“Zaki! Bangun dek, udah siang!” teriak Mama suaranya yang nyaring membuat gaduh seisi rumah. Setelah di teriaki begitu, Zaki paling hanya berubah posisi tidurnya, tanpa membuka matanya.

Mama ku yang paling repot, tentu lah sebagai seorang istri dengan dua anak, dan juga wanita karir, Mamaku merangkap tugasnya, setelah urusan pagi hari selesai, giliran Ia yang harus bersiap-siap, menderek troli, dan mengantarkan pack-pack botol minuman kesehatan kepada para pelanggannya.

“Cepetan kak, udah jam berapa nih?”

“Cepetan udah siang!”

Itu ocehan Ayah yang setiap hari ku dengar, Ia mengantarku sekolah sekalian berangkat bekerja. Tak pernah bosan-bosannya mengomel jika gerakanku lambat selama bersiap-siap, tak ayal tiap harinya aku tekanan batin. Buru-buru aku memakai jilbabku yang terkadang asal, sepatu pun hanya di-selop saja. Mama yang sibuk menyiapkan sarapan, berkutat di dapur, walau terkadang Kami tak sempat sarapan, selanjutnya  mengemas nasi dan lauk pauknya ke dalam kotak bekal ku, dan hal yang sama di lakukan lalu di bungkus kertas nasi, untuk bekal Ayah.

“Yaa...” ujarku seraya menyambar tas ku.

“Ma berangkat!”

“Iya...”

“Assalamu`alaikum,” ujarku seraya mencium tangan.

 Kalau sudah kesiangan begini, Ayah tak santai lagi mengendarai motornya, dengan sekali tancap gas Ia meng-geber sepeda motornya, yang di paksa berselap-selip, karena memotong jalan melewati gang-gang.

Di perjalanan, hiruk pikuk pasar tradisional, suasana pagi yang mungkin akan ku rindukan suatu hari nanti.Yang mungkin ketika aku dewasa akan ku ceritakan kepada anakku dan cucuku, bahwa ketika SMA aku belum bisa mandiri, tiap pagi aku di antar Ayah, mengendarai sepeda motor, di mana aku sering menyusahkan membuat Ayah sering terlambat bekerja karena bangun kesiangan, membuatnya harus extra sabar karena aku pasti menangis kalau sampai tidak di antar sampai sekolah, dan Ayah rela mengantarku bahkan memastikan aku sudah masuk gerbang padahal ia sudah terlambat. Jika Ayahku terlambat paling-paling Mama yang mengoceh karena Ayah tak dapat uang perangsang hadir, karena di nilai tidak di siplin. Dan aku mencetak rekor bagi diriku sendiri ,bahwa selama hampir 2 tahun, saat berangkat sekolah selama 30 menit perjalanan aku tak bicara sepatah katapun, aku memang tak banyak bicara dengan orang tua. kecuali saat sudah sampai, kata yang selalu terucap oleh Ayah, yakni “Hati-hati.” Ujarnya, sementara aku mencium tangannya.

Setiap pagi pula, aku melihat seorang kakek tua renta pedagang buah di pasar. Kakek itu sudah bongkok, kulitnya tentu sudah keriput, bajunya lusuh dengan celana bahan hitam lengkap dengan kopiahnya. Dengan perlalan ia memindahkan satu persatu buah, untuk di tata di atas meja dagangnya.

Dagangannya tak menentu kadang ia menjual jambu biji, kadang belimbing, kadang juga ia menjual pepaya, atau bahkan sayur kangkung dan bayam-bayaman. Ia membuka lapak kecil, berjejer bersama pedagang lainnya dengan meja kayu keropos yang di alasi koran di atasnya.

Pasar yang cukup ramai, strategis berada di pinggir jalan. Yang ku lihat adalah jejeran pedagang baju, seragam dan kerudung, lalu jejeran penjual sayuran dan buah-buahan, seterusnya di paling pojok ada para pedagang hewan peliharaan kelinci, hamster, dan ayam, toko pakan unggas dengan unggasnya.  Semakin siang makin ramai, tak ayal aku sering terjebak macet di pasar jika berangkat kesiangan.

Dua pekan belakangan ini, aku mengamati kakek itu, setiap pulang dan pergi.

Sering kali, aku memperhatikan kakek pedagang buah itu ketika pulang sekolah,  selagi melintas menaiki angkutan umum. Hanya sekilas aku melihatnya, mengibas-ngibaskan kopiahnya dianggapnya seperti kipas, terkadang ia hanya memperhatikan jalan dengan tatapan yang penuh harap kepada orang-orang yang lalu lalang. Tak jarang kulihat dagangannya masih tersisa, bahkan rasanya tak berkurang dari yang ku lihat tadi pagi.
  
Dan yang ada dalam pikiranku, kemana keluarganya? Kenapa sih kakek itu masih harus berdagang, apa dia nggak punya anak? Jauh dalam benakku rasa penasaran akan hal itu.

Ingin ku beli dagangannya, tapi apa daya hampir tak pernah uang saku ku tersisa banyak, aku mengutuk diriku yang boros ini, aku paham sulitnya mencari uang, namun karena belum pernah merasakannya, rasanya tak peduli, yah namanya juga remaja `kan?

Seorang gadis remaja yang sedang mencari jati diri, selalu ingin di puji, egois dalam segala hal dan ingin semua hal berjalan sukses berkat dirinya, terlalu sombong, dan pada akhirnya rasa sombong itu menghancurkannya, itulah aku.

Tak percaya pada harapan. Apa artinya sebuah harapan? Aku sempat bertanya-tanya mengenai itu.

Ketika kita terlalu berharap pada sesuatu, yakinilah harapan mu itu tak akan terwujud, justru yang terjadi adalah sebaliknya, aku yakin itu. Jangan pernah berlebihan, jangan percaya terhadap sesuatu yang tak pasti, jangan percaya harapan, jangan pernah berharap. Karena tak seorang pun yang mengerti aku, bahkan kedua orang tua ku, bahkan di rumah jarang sekali ada obrolan hangat antar anggota keluarga, aku berbicara hanya seperlunya, orang tua ku pun rasanya acuh pada diriku, waktu ku banyak di habiskan di sekolah, atau bahkan aku merasa tak punya rumah, aku lah orang terakhir yang meninggalkan sekolah, di saat yang lain sudah sedari tadi tiba di rumah, akulah yang ketika di ajak pulang selalu berkata, “Nanti aja ya”. Mungkin itu juga yang membuatku tak akrab dengan orang tua ku, waktuku terlalu banyak di habiskan di sekolah di banding di rumah.

Pernah suatu hari aku pulang lebih awal dari biasanya, aku tiba di rumah sebelum magrib tiba, tidak seperti biasanya. Aku baru saja tiba, melihat troli berwarna merah terparkir di teras rumahku, troli yang tak asing lagi.

 “Ma, mau jualan lagi?” tanyaku, ketika baru sampai di rumah. Biasanya Mama belum pulang, tapi sepertinya ia juga mau pergi lagi. Lengkap dengan seragam `dinas` serba merah.
Aku lihat Mama dengan sedikit terburu-buru, menata kembali alat sholat, mukena dan sajadah. Kerudungnya terlihat lepek, kemungkinan besar akibat air wudhu, jadi ku simpulkan Ia belum lama tiba di rumah, untuk menunaikan sholat.

“Sebentar doang, ada yang mesen,” ujarnya seraya bergegas merapikan pack-pack botol, memasukkannya satu persatu ke dalam troli. Aku memperhatikan wajahnya yang bersinar akibat rutin sholat dhuha, Mama ku cantik.

 Ia sudah lelah tapi ia tetap harus berangkat lagi.

Aku meletakkan tas sekolah ku yang cukup berat, dan pergi ke dapur untuk minum. Aku melihat tumpukan baju kotor menunggu untuk di cuci.

“Kak nanti nyuci ya,” Ujar Mama, sudah ku duga.

“Mama pergi ya...”

“Ma... mau ikut,” pintaku.

“Mau ikut?” Tanya Mama heran.

Aku tak menjawab, segera aku memakai sepatu lagi, tetap memakai seragam yang belum sempat aku ganti.

“Kunci pintunya kak...” perintah Mama. Aku menurutinya.

Tanpa aba-aba aku mengikuti Mama yang terlebih dulu jalan. Ada perasaaan haru yang menyelimutiku, perasaan bahwa kali ini aku akan merasakan perjuangan yang Mama rasakan setiap hari.

“Ma, tau nggak kenapa aku mau ikut?” tanyaku memecah suasana.

“Kenapa?” Tanya Mama sumringah, aku tak pernah mendapatkan respon seperti ini sebelumnya, dan kau tau aku jarang sekali berbicara pada orang tua ku.

“Aku mau jajan,” Ujarku ragu.

“Mau jajan?”

“Iya, bosen juga di rumah” jawabku asal.

Cukup lama kami berjalan kaki, letak rumahku yang lumayan jauh dari jalan raya, harus melewati jalan yang menanjak, terkadang aku iba mau menangis rasanya. Awalnya aku berjalan beriringan tepat di samping Mama, lama-kelamaan aku tenggelam, aku mundur dan berjalan di belakang Mama, rasanya kalau harus menangis tak memungkinkan dengan banyaknya orang yang melihat.

“Ma, aku aja yang bawa trolinya,” ujarku menawarkan.

“Berat, nanti aja kalau pulang.”

Aku diam. Mau apa lagi?

Pada akhirnya kami sampai di tempat yang di tuju, Mama sempat bertanya ke sebuah salon, aku pikir itu tempat pelanggan yang memesan, ternyata bukan. Mama lalu celingukan ke beberapa rumah di belakang salon tersebut, aku mengikuti Mama.

“Udah tutup.”

“Apanya?”

“Warung pelanggan yang mesen,” ujarnya lesu.

Aku melihat raut kecewa ada pada wajah Mama, sudah berjalan jauh, tapi tak ada hasil yang di dapat. Tapi ia tak mengeluh, seketika aku salut dan bangga. Seperti kata seorang teman, Orang tua adalah inpirasi bagi anaknya.

“Mau jajan apa?”

Sontak aku tersadar akan alasan yang ku gunakan, agar dapat ikut dengan wanita paruh baya di sampingku, wanita yang melahirkanku, Ia kini juga harus berjuang untuk menyekolahkan ku, tapi apa yang telah aku perbuat? Jika di suruh, aku yang terus saja menolak, dengan alasan aku lelah, padahal Mamaku lebih lelah. Bahkan aku menggerutu, aku takut menjadi durhaka.

 “Terserah Mama.” Aku tak minat lagi. Bagaimana mungkin aku meminta jajan, sedang dagangan Mama tak jadi terjual.

“Mama kenyang.”

“Di rumah ada lauk apa?”

“Nggak ada apa-apa, mau beli apa?”

Aku terdiam. Hening, tak ada suara burung atau hembusan angin, tak ada deru kendaraan bermotor atau suara bising mesin. Yang ada pada saat itu hanya suara gesekkan roda trolli dengan aspal, di sebuah jalan kecil, yang kedua sisinya di batasi oleh dinding yang lembab, di balik dinding itu tumbuh pepohonan yang rindang, senja hari yang bersejarah dalam hidupku. Mama mengajakku untuk segera pulang, karena hari semakin gelap, Kami berjalan berdampingan.

“Nggak jadi jajan?”

Aku menggeleng.

Ma, tak akan ku kecewakan kau, dan membiarkan perjuangan mu sia-sia, aku cukup menyusahkan, sudah cukup menjadi beban. Aku menangis dalam hati.
***
“Kek, jambunya se-kilo berapa?” tanyaku pada Kakek tua di pasar, kakek yang belakangan ini menginspirasi ku, entah sebenarnya apa hubungannya dengan harapan dan motivasi diriku. Namun itulah inspirasi, bisa di temukan kapan dan dimana saja.

“Sepuluh ribu, pilih sendiri aja,” jawabnya dengan suara yang lemah. Tangan tuanya yang telah keriput memegang dagangannya yang hingga sore ini tak kunjung habis terjual. Akhirnya setelah berjuang, aku bisa lebih hemat, menggunakan uang hasil kerja keras Mama untuk yang lebih berguna.

Senja hari, menghapus indahnya langit biru, berganti dengan langit yang mulai mulai gelap. Aku bergegas menyebrang jalan, untuk menunggu mobil angkutan umum dengan menenteng kresek hitam berisi se-kilo jambu biji, dengan masih mengenakan seragam putih abu-abu.

Aku belajar tentang sedikit makna kehidupan, aku banyak menyimpulkan uraian kejadian yang terjadi, akibat yang akan di timbulkan ketika kita melakukan suatu hal yang buruk dan yang baik, proses mencari jati diri, dan uraian kisah lain. Aku belajar banyak tentang harapan. Kalau kau tak punya harapan yang harus di perjuangkan untuk apa hidup?.

Bahwa harapanku memicuku untuk belajar dengan giat, bahwa motivasi membanggakan kedua orang tuaku menjadikanku tak patah semangat, bahwa perhatian kedua orang tuaku yang tak pernah ku sadari, mereka motivasiku, pembangkit harapanku, harapan, impianku, aku harus sukses!

Kakek setua itu saja masih terus berusaha, ia tak mengemis atau meminta belas kasih orang lain. Apa yang menyebabkan itu? Harapan.

Ia percaya bahwa usaha kecilnya sedikit banyak menghasilkan uang yang cukup untuk makannya sehari-hari, ia selalu berharap bahwa ketika dagangannya laku, ia punya peluang untuk tetap berjualan besok, ia punya bayangan ke depan untuk tetap bertahan hidup.

Aku tak ingin berhenti berharap. Berharap bahwa kedua orang tuaku akan memaafkanku, memaafkan segala kesalahan dan kurangajar seorang anak. Tak mau berbicara pada orang tua adalah sesuatu yang fatal, aku tak membayangkan betapa menyesalnya diriku ketika orang tuaku sudah meninggal. Aku mungkin tak ingin hidup lagi, tak ada yang memotivasiku untuk terus belajar dan mengejar cita-cita, apakah arti hidup lagi, dan apakah aku masih punya harapan?

Akhir bulan, yang bersejarah dalam hidupku, setelah konflik batin yang ku alami. Banyak tetes air mata yang jatuh, yang sepertinya tanpa sebab, namun sebenarnya penuh alasan.

Dari lubuk hatiku yang paling dalam, maaf Mama, maaf Ayah…





Oleh: Wulan Azahra Khairunisa (XI IIS 1)

0 comments:

Posting Komentar

Hubungi kami :

Twitter : @APAksara

Email : apaksara3@gmail.com

HP : 085773226995

Instagram: kapas3.aksara

Twitter

Translator