Sabtu, 01 November 2014

Saat Terakhir


Dengan langkah geram aku membuka pintu rumah, melempar sepatu dan tas ku dengan asal. Aku mengedarkan pandanganku kesekililing, tidak ku temukan lelaki tua itu. Cuih, desis ku kesal. Kemana lelaki tua itu, ingin rasanya aku melampiaskan kekesalan ku padanya, ini semua gara-gara dirinya, desis ku geram.
            “Heh brengsek. Gue tuh malu punya ayah kayak lo. Yang kerjaan nya cuma niup balon sana sini. Gue capek tau gak capek. Disekolah gue diejek karna sepatu gue udah berlubang gini, tas gue juga kumel. Pokoknya gue mau lo beliin tas dan sepatu baru buat gue.” teriak ku kesal didepan muka lelaki tua ini. Well, aku ga mau nyebut dirinya sebagai ayah, karna menurut pandangan ku ia tak layak dipanggil ayah. Ia hanya membuat aku malu. Kalian ingin bertanya kemana ibuku? Hah, dia sudah pergi dengan lelaki yang lebih kaya raya dan meninggalkan ku sendirian dengan lelaki tua bangka ini. Hidupku sangat menderita.
            “ Ayah tidak mempunyai cukup uang nak.” jawab Ayah lesu. Lalu ia tetap melanjutkan pekerjaan nya dengan meniup balon untuk ia jual sehingga dapat menafkahi anak satu-satunya yaitu Rina.
            “Pokoknya Rina gak mau tau! Besok harus udah ada tas sama sepatu barunya. Lo usaha dong, tiup tuh balon yang banyak terus lo jualin. Jangan pulang kalau ga dapet sepatu dan tas baru buat Rina.” teriak ku kesal sambil menghentakkan kaki. Aku pun melenggang masuk kamar sambil membanting pintu dengan keras. Terlihat ia tersentak kaget sambil memegangi dadanya.
            “Ayo semangat semangat. Aku harus membelikan sepatu dan tas baru buat anakku tersayang.” ucap Pak Rian pelan sambil menyemangati dirinya sendiri. Ia dengan semangat yang berkobar terus meniup balon lalu akan dijualnya agar mendapatkan sepatu dan tas baru buat Rina. Dengan susah payah ia terus meniup balon itu, mengingat umurnya yang sudah tua sehingga tidak sekuat dahulu. Setelah dirasa cukup, ia pun mulai mengemasi balon-balon tersebut keatas sepedanya yang sudah dimodif sedemikian rupa sehingga dapat menjadi tempat berjualan balon. Ia mengayuh sepeda nya dengan semangat, walau ia letih tatapi ia selalu mengulang-ngulang kata-kata yang sama..
            “Demi sepatu dan tas baru buat Rina. Aku harus mendapatkan banyak uang.” ucap Pak Rian berkali-kali. Setelah itu ia sampai ditaman dimana tempat bermain anak-anak. Terlihat sinar matahari terang benderang, membuat peluh Pak Rian menetes dengan deras. Untuk memenuhi permintaan anak kesayangan nya tersebut dilawan lah rasa letih dan panas yang ia rasakan. Yang ia pikirkan hanyalah cara membuat Rina bahagia. Hanya itu. Sebaris kalimat yang singkat mengandung makna yang tulus didalamnya, makna seorang Ayah untuk membahagiakan anaknya.
            “Ayo ayo dibeli balon. Balon lucu berwarna-warni. Ayo murah kok murah...!” teriak Pak Rian ditengah keramaian taman tersebut. Terlihat anak-anak berlarian kesana kemari, ada juga yang sedang bermain layangan ditaman, lalu terlihat anak kecil bertubuh gemuk sedang menangis karna sang kakak merebut es krimnya. Terlihat pembeli mulai berdatangan untuk membeli balon, dengan semangat Pak Rian menawari dagangan nya. Yang ia pikirkan hanya Rina dan Rina.
            “Ayo dibeli balon, untuk anak kesayangan anda. Murah loh murah.” teriak Pak Rian sekali lagi dengan semangat. Tak terasa hari semakin larut, terlihat perlahan-lahan matahari terbenam. Anak-anak yang terlihat tadi perlahan menghilang dan pulang bersama orang tuanya. Senyuman tipis menghiasi wajah Pak Rian saat melihat dagangan tersisa sedikit. Tampak dirinya sangat kelelahan, lalu ia pun sangat lapar. Ingin sekali rasanya ia makan sebentar lalu beristirahat sejenak. Tapi segera pikiran itu ditepisnya, uang ini hanya ia persembahkan buat Rina untuk membeli sepatu dan tas baru. Terbayang dibenaknya melihat Rina tersenyum bahagia dan memeluknya saat melihat sepatu dan tas baru yang dibelikan hasil keringatnya. Ia duduk sebentar ditaman lalu mulai menghitung uang yang telah didapatkan nya. Totalnya mencapai Rp 150.000 , ia bertanya tanya dalam hati apakah uang ini cukup.
            “Semoga saja uang ini cukup untuk membeli tas dan sepatu buat Rina. Aku sangat tidak sabar melihat anak ku yang bahagia melihat jerih payahku.” harap Pak Rian pelan sambil menuntun sepedanya menuju pasar malam dimana disana menjual tas dan sepatu yang harganya cukup terjangkau. Setelah sampai dipasar itu ia melihat sepatu dan tas yang sangat cantik.
            “Ini pasti sangat cocok buat Rina. Ah betapa aku menyayanginya.” ucap Pak Rian girang, ia menuntun sepatu kearah toko yang ia lihat tadi.
            “Bu, sepatu dan tas itu harganya berapa?” tanya Pak Rian sambil menunjuk sepatu hitam bermotif cantik dan tas berwarna biru. Warna biru adalah warna kesukaan Rina, jadi ia tak mungkin salah pilih.
            “Oh yang ini, ini harganya Rp 300.000 pak.” Jawab ibu-ibu penjual toko tersebut.
            “Uang ku tidak cukup.” desah Pak Rian kecewa. Ia menunduk sedih, terhapus sudah bayangan dibenak nya akan kecantikan Rina saat memakai sepatu dan tas itu
            “Memang bapak mempunyai uang berapa?” tanya ibu itu.
            “Hanya ada Rp 150.000 bu.” jawab Pak Rian dengan semangat. Ada secercah harapan dihatinya bahwa ibu itu dapat menurun nya harga nya.
            “Oh, maaf pak. Tidak bisa harga segitu. Mungkin ini dapat saya jual dengan harga Rp 250.000 khusus bapak.” jawab ibu itu dengan ragu.
            “Yasudah terimakasih bu.” jawab Pak Rian dengan lesu. Ia sangat ingin membelikan tas dan sepatu itu untuk dikenakan oleh Rina anaknya. Lalu ia berjalan dengan menuntun sepedanya sambil memikirkan bagaimana caranya agar ia mendapatkan tambahan uang Rp 100.000 . Lalu tiba-tiba petir datang bertautan, hujan pun turun dengan deras. Dengan sigap, Pak Rian berlari kearah halte untuk meneduh. Ia pun duduk dihalte sambil merenung. Balon yang ada disepedanya tersisa sedikit, tidak mungkin balon ini dapat dijualnya dengan harga Rp 100.000 . Ia pun mengusap wajahnya dengan kasar, sedih. Itulah yang menggambarkan perasaan nya kini. Ia mulai merasa menjadi ayah yang tak berguna bagi Rina, pantas saja selama ini Rina tak pernah memanggilnya ayah. Ingin rasanya ia menangis, meluapkan semua perasaan yang terpendam. Ia tak mengerti mengapa anaknya sangat membencinya karna dirinya berjualan balon. Ia tau pekerjaan ini memalukan anaknya, tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Tak ada pekerjaan lain yang dapat dilakukan olehnya untuk menafkahi anaknya. Ingin rasanya ia mengucapkan kata maaf berkali kali karna terlahir mempunyai ayah seperti dirinya, yang tidak berguna, yang ditinggal pergi oleh istrinya. Ingin rasanya mati saja dari dunia ini, tapi tak mungkin. Karna ia sangat menyayangi Rina, Rina adalah harta kebahagian dirinya. Tak pernah ada rasa marah atau kesal saat Rina memarahi atau menghina dirinya. Tanpa sadar, mobil sport berhenti didepan nya. Terlihat pemuda yang tampan turun dari mobil itu, walaupun parasnya sangat tampan tapi terpancar kesedihan dari matanya.
            “Apa bapak berjualan balon?” tanya pemuda itu.
            “ Iya, iya! Apa kamu ingin membeli nak?” jawab Pak Rian dengan senang, ia merasa tuhan telah mendengarkan hatinya yang sedang resah ini.
            “Saya akan membeli balon itu semua, bapak boleh menyebutkan berapa biaya nya..akan saya sanggupi semua. Tapi dengan suatu syarat...” ucap pemuda itu gantung, telihat ia sangat ragu melanjutkan kalimatnya.
            “Apapun syarat nya akan saya lakukan nak!” jawab Pak Rian riang. Secercah harapan mulai muncul, ia ragu akan pemuda ini. Tapi segera ditepisnya keraguan itu, apapun akan ia lakukan untuk Rina dengan cara yang halal.
            “hm..mm..hm.... anak saya dirawat di Rumah Sakit. Ia sangat membutuhkan donor jantung, karna jantung nya yang sangat lemah. Saya sebagai ayah sudah berusaha mencari pendonor yang sudah mati ataupun sudah hidup, tetapi tidak ada. Saya sangat berharap bapak dapat menonolong anak saya, berapapun akan saya kasih. Saya mohon” harap pemuda itu, terlihat matanya sudah berkaca-kaca. Tanpa sadar ia sudah berlutut dihadapan Pak Rian. Pak Rian sangat kaget, ia tak habis pikir bahwa harus mendonorkan jantungnya, itu artinya ia akan meninggal? Lalu bagaimana dengan Rina? Siapa yang mengurusinya kalau dirinya sudah tidak ada? Tapi bagaimana....tidak ada cara lain untuk menambahkan uangnya agar dapat membeli sepatu dan tas itu. Ia ingin sekali Rina bahagia karna memiliki tas dan sepatu yang baru...tapi syarat ini sungguh sulit.
            “Tolong anak saya pak...saya mohon..” ucap pemuda itu pelan. Ia menitikkan air matanya. Tanpa terasa bajunya sedikit basah karna kecipratan air hujan.
Demi anaknya..demi anakku. Mungkin ini cara tuhan membalas doa ku
            “Baiklah..tapi tolong belikan sepatu dan tas buat Rina ya. Tolong berdiri jangan seperti ini.” ucap Pak Rian.
            “Alhamdulillah, terimakasih ya Allah. Iya pak apapun saya berikan! Lebih dari sepatu dan tas pun akan saya sanggupi. Terimakasih pak terimakasih” balas pemuda itu, ia bangkit lalu memeluk Pak Rian dengan haru.
            “Yaudah Pak sekarang aja kita ke Rumah Sakit, anak saya sangat membutuhkan jantung itu” lanjut pemuda itu “Sepedanya letakkan disini saja dulu, biar nanti saya suruh seseorang untuk mengambilnya.”
            “Tapi..tapi saya ingin bertemu Rina dulu.” jawab Pak Rian terbata-bata. Ia ragu, apakah saat ia meninggal Rina akan menangisinya?merindukan nya? Apakah ia dianggap cukup berharga olehnya? Ingin sekali disaat saat seperti ini ia memeluk Rina dan mengucapkan rasa sayangnya.
            “Tidak usah pak, anak saya sudah kritis. Saya mohon. Nanti saja bapak tulis surat dimobil saya selama sedang perjalanan ke Rumah Sakit.”ucap Pemuda itu
            “Oh baiklah” desah Pak Rian kecewa.


-------

Terlihat mobil sport terparkir di Rumah Sakit Pelita, turunlah pemuda tampan dengan seorang lelaki tua yaitu Pak Rian.
            “Apakah saya boleh makan dulu sebelum masuk kedalam?” tanya Pak Rian ragu. Terlihat ia sangat kelaparan karna seharian ini yang ia pikirkan hanya Rina dan Rina
            “Oh boleh pak. Bapak kekantin aja lalu temui saya nanti diruangan Dr. Yuni.” jawab pemudia itu sambil menyerahkan beberapa lembar uang. Pak Rian pun bergegas ke kantin. Ia sangat lapar. Ia melihat kearah luar, dimana anak-anak sedang menyebrang. Dengan langkah pasti, ia menghampiri anak-anak itu yang terlihat kesulitan menyebrang. Tanpa disadari Pak Rian, mobil melaju kencang dari arah berlawanan.
            “Awas pakkk awasss........!!!” teriak salah satu anak kecil tersebut. Pak Rian mendelik bingung, tak terdengar suara anak kecil tersebut. Ia tetap melanjutkan langkahnya untuk membantu anak-anak tersebut agar mudah menyebrang.
            “BBBBBRRRAAAAKKKKKKKKK” bunyi hantaman keras pun terdengar keras. Tubuh Pak Rian terpelanting jauh, terlihat darah banyak mengucur dari tubuhnya. Pemuda yang mendengarkan suara yang sangat keras tersebut seketika menoleh, ia terlihat kaget. Pak Rian yang akan mendonorkan jantungnya malah terbujur kaku diaspal, tulang nya terlihat remuk. Pemuda itu segera menghampiri, terlihat Pak Rian masih membuka matanya
            “Tolong sampaikan kepada anak saya Rina, bahwa saya sangat mencintai dan menyanyangi dia. Ia adalah harta terindah yang diberikan Tuhan.” Ucap Pak Rian dengan terbata-bata, perlahan-lahan Pak Rian menutup matanya sambil menghembuskan nafas terakhirnya. Tercetak senyuman dibibirnya.
            “DOKTER TOLONG BELIAU! TOLONG DONORKAN JANTUNGNYA KEPADA ANAK SAYA! CEPATTTT!” teriak pemuda itu. Ia berjanji akan menepati janjinya kepada Pak Rian.


------

3 Hari kemudian

            “Tok..tok..tok” ketuk salah satu petugas pengantar kiriman. Terlihat gadis cantik dengan wajah jutek membuka pintunya, keningnya mengerut.
            “Siapa ya?” tanya gadis itu dengan nada tidak suka.
            “Ini ada kiriman, mohon di tanda tangan terlebih dahulu.” ucap petugas itu sambil menyerahkan selembar kertas kepada gadis itu. Dengan acuh gadis tersebut mengambil kertasnya, dan membubuhkan tanda tangan nya. Gadis ini yaitu Rina.
            “Terimakasih” ucap petugas itu setelah menyerahkan bingkisan yang sangat besar. Dengan cuek Rina mengambil bingkisan itu lalu menutup pintu rumahnya. Ia bawa bingkisan itu kedalam kamar, dan mulai membukanya. Ia tercengang kaget, terdapat berbagai sepatu dan tas dengan merk terkenal. Ia berdecak kagum.
            “Uhhhhh indahnya. Dari siapa ya? Gamungkin dari lelaki tua itu kan? Huh sudah 3 hari ini ia tidak pulang. Ah bodoamat deh.” ucap Rina kepada diri sendiri. Lalu terlihat sepucuk surat terdapat dipinggiran tas dan sepatu tersebut. Perlahan-lahan ia membukanya, tanpa sadar jantungnya berdegup kencang..

Dear Rina...
Anakku tersayang. Ayah bangga sekali sama kamu nak. Kamu cantik, pintar dan tumbuh menjadi seorang anak yang bisa ayah banggakan kepada teman ayah maupun ke tetangga kita. Sejak ibu  pergi meninggalkan kita, kamu bisa tumbuh dengan baik walaupun kekurangan kasih sayang dari seorang ibu. Mudah-mudahan kamu sehat selalu ya nak dan bisa mencapai cita-cita apa yang kamu inginkan.
Maafin ayah ya nak tidak bisa menjadi orang tua yang baik buat kamu dan juga tidak bisa memenuhi semua kebutuhan serta keinginan kamu semuanya. Ayah sayang sekali sama kamu nak, kamu lah harta ayah satu-satunya di dunia ini. Ayah akan berusaha untuk memenuhi semua keinginan kamu walaupun nyawa ayah harus dikorbankan asalkan kamu  senang dan  bahagia  selalu.
Sesuai dengan permintaan kamu nak ayah akan membelikan sepatu dan tas seperti yang kamu minta. Bagaimana nak bagus gak kiriman dari ayah ini? Mudah-mudahan kamu suka ya nak. Ayah berharap sekali suatu saat kamu bisa memanggil orang tua ini dengan sebutan ayah. Alangkah senang dan bahagia nya hati ini nak apabila kamu memanggil dengan sebutan ayah walaupun cuman satu kali saja.  Mungkin pas kamu terima surat ini ayah sudah tidak ada lagi di dunia ini tapi ayah senang sekali detik-detik terakhir hidup ayah masih bisa membuat kamu senang dengan memenuhi semua permintaan kamu nak. Terima kasih ya nak telah hadir dihidup ayah. Ayah sayang banget dan bangga sama kamu nak.

            Dengan bergetar Rina meletakkan suratnya kembali, perlahan-lahan air matanya turun dengan deras. Ia terisak hebat, bahu nya terguncang. Tiba-tiba Rina merasakan pandangan nya kabur dan gelap seketika.


                        ------------------------------------END------------------------------------------
Noverlyn Ersa

X MIA 7

0 comments:

Posting Komentar

Hubungi kami :

Twitter : @APAksara

Email : apaksara3@gmail.com

HP : 085773226995

Instagram: kapas3.aksara

Twitter

Translator