Dengan langkah geram aku membuka pintu rumah,
melempar sepatu dan tas ku dengan asal. Aku mengedarkan pandanganku
kesekililing, tidak ku temukan lelaki tua itu. Cuih, desis ku kesal. Kemana
lelaki tua itu, ingin rasanya aku melampiaskan kekesalan ku padanya, ini semua
gara-gara dirinya, desis ku geram.
“Heh
brengsek. Gue tuh malu punya ayah kayak lo. Yang kerjaan nya cuma niup balon
sana sini. Gue capek tau gak capek. Disekolah gue diejek karna sepatu gue udah
berlubang gini, tas gue juga kumel. Pokoknya gue mau lo beliin tas dan sepatu
baru buat gue.” teriak ku kesal didepan muka lelaki tua ini. Well, aku ga mau
nyebut dirinya sebagai ayah, karna menurut pandangan ku ia tak layak dipanggil
ayah. Ia hanya membuat aku malu. Kalian ingin bertanya kemana ibuku? Hah, dia
sudah pergi dengan lelaki yang lebih kaya raya dan meninggalkan ku sendirian
dengan lelaki tua bangka ini. Hidupku sangat menderita.
“
Ayah tidak mempunyai cukup uang nak.” jawab Ayah lesu. Lalu ia tetap
melanjutkan pekerjaan nya dengan meniup balon untuk ia jual sehingga dapat
menafkahi anak satu-satunya yaitu Rina.
“Pokoknya
Rina gak mau tau! Besok harus udah ada tas sama sepatu barunya. Lo usaha dong,
tiup tuh balon yang banyak terus lo jualin. Jangan pulang kalau ga dapet sepatu
dan tas baru buat Rina.” teriak ku kesal sambil menghentakkan kaki. Aku pun
melenggang masuk kamar sambil membanting pintu dengan keras. Terlihat ia
tersentak kaget sambil memegangi dadanya.
“Ayo
semangat semangat. Aku harus membelikan sepatu dan tas baru buat anakku
tersayang.” ucap Pak Rian pelan sambil menyemangati dirinya sendiri. Ia dengan
semangat yang berkobar terus meniup balon lalu akan dijualnya agar mendapatkan
sepatu dan tas baru buat Rina. Dengan susah payah ia terus meniup balon itu,
mengingat umurnya yang sudah tua sehingga tidak sekuat dahulu. Setelah dirasa
cukup, ia pun mulai mengemasi balon-balon tersebut keatas sepedanya yang sudah
dimodif sedemikian rupa sehingga dapat menjadi tempat berjualan balon. Ia
mengayuh sepeda nya dengan semangat, walau ia letih tatapi ia selalu
mengulang-ngulang kata-kata yang sama..
“Demi
sepatu dan tas baru buat Rina. Aku harus mendapatkan banyak uang.” ucap Pak
Rian berkali-kali. Setelah itu ia sampai ditaman dimana tempat bermain
anak-anak. Terlihat sinar matahari terang benderang, membuat peluh Pak Rian menetes
dengan deras. Untuk memenuhi permintaan anak kesayangan nya tersebut dilawan
lah rasa letih dan panas yang ia rasakan. Yang ia pikirkan hanyalah cara
membuat Rina bahagia. Hanya itu. Sebaris kalimat yang singkat mengandung makna
yang tulus didalamnya, makna seorang Ayah untuk membahagiakan anaknya.
“Ayo
ayo dibeli balon. Balon lucu berwarna-warni. Ayo murah kok murah...!” teriak
Pak Rian ditengah keramaian taman tersebut. Terlihat anak-anak berlarian kesana
kemari, ada juga yang sedang bermain layangan ditaman, lalu terlihat anak kecil
bertubuh gemuk sedang menangis karna sang kakak merebut es krimnya. Terlihat
pembeli mulai berdatangan untuk membeli balon, dengan semangat Pak Rian
menawari dagangan nya. Yang ia pikirkan hanya Rina dan Rina.
“Ayo
dibeli balon, untuk anak kesayangan anda. Murah loh murah.” teriak Pak Rian
sekali lagi dengan semangat. Tak terasa hari semakin larut, terlihat
perlahan-lahan matahari terbenam. Anak-anak yang terlihat tadi perlahan
menghilang dan pulang bersama orang tuanya. Senyuman tipis menghiasi wajah Pak
Rian saat melihat dagangan tersisa sedikit. Tampak dirinya sangat kelelahan,
lalu ia pun sangat lapar. Ingin sekali rasanya ia makan sebentar lalu
beristirahat sejenak. Tapi segera pikiran itu ditepisnya, uang ini hanya ia
persembahkan buat Rina untuk membeli sepatu dan tas baru. Terbayang dibenaknya
melihat Rina tersenyum bahagia dan memeluknya saat melihat sepatu dan tas baru
yang dibelikan hasil keringatnya. Ia duduk sebentar ditaman lalu mulai
menghitung uang yang telah didapatkan nya. Totalnya mencapai Rp 150.000 , ia bertanya
tanya dalam hati apakah uang ini cukup.
“Semoga
saja uang ini cukup untuk membeli tas dan sepatu buat Rina. Aku sangat tidak
sabar melihat anak ku yang bahagia melihat jerih payahku.” harap Pak Rian pelan
sambil menuntun sepedanya menuju pasar malam dimana disana menjual tas dan
sepatu yang harganya cukup terjangkau. Setelah sampai dipasar itu ia melihat
sepatu dan tas yang sangat cantik.
“Ini
pasti sangat cocok buat Rina. Ah betapa aku menyayanginya.” ucap Pak Rian
girang, ia menuntun sepatu kearah toko yang ia lihat tadi.
“Bu,
sepatu dan tas itu harganya berapa?” tanya Pak Rian sambil menunjuk sepatu
hitam bermotif cantik dan tas berwarna biru. Warna biru adalah warna kesukaan
Rina, jadi ia tak mungkin salah pilih.
“Oh
yang ini, ini harganya Rp 300.000 pak.” Jawab ibu-ibu penjual toko tersebut.
“Uang
ku tidak cukup.” desah Pak Rian kecewa. Ia menunduk sedih, terhapus sudah
bayangan dibenak nya akan kecantikan Rina saat memakai sepatu dan tas itu
“Memang
bapak mempunyai uang berapa?” tanya ibu itu.
“Hanya
ada Rp 150.000 bu.” jawab Pak Rian dengan semangat. Ada secercah harapan
dihatinya bahwa ibu itu dapat menurun nya harga nya.
“Oh,
maaf pak. Tidak bisa harga segitu. Mungkin ini dapat saya jual dengan harga Rp
250.000 khusus bapak.” jawab ibu itu dengan ragu.
“Yasudah
terimakasih bu.” jawab Pak Rian dengan lesu. Ia sangat ingin membelikan tas dan
sepatu itu untuk dikenakan oleh Rina anaknya. Lalu ia berjalan dengan menuntun
sepedanya sambil memikirkan bagaimana caranya agar ia mendapatkan tambahan uang
Rp 100.000 . Lalu tiba-tiba petir datang bertautan, hujan pun turun dengan
deras. Dengan sigap, Pak Rian berlari kearah halte untuk meneduh. Ia pun duduk
dihalte sambil merenung. Balon yang ada disepedanya tersisa sedikit, tidak
mungkin balon ini dapat dijualnya dengan harga Rp 100.000 . Ia pun mengusap
wajahnya dengan kasar, sedih. Itulah yang menggambarkan perasaan nya kini. Ia
mulai merasa menjadi ayah yang tak berguna bagi Rina, pantas saja selama ini Rina
tak pernah memanggilnya ayah. Ingin rasanya ia menangis, meluapkan semua
perasaan yang terpendam. Ia tak mengerti mengapa anaknya sangat membencinya
karna dirinya berjualan balon. Ia tau pekerjaan ini memalukan anaknya, tetapi
ia tak bisa berbuat apa-apa. Tak ada pekerjaan lain yang dapat dilakukan
olehnya untuk menafkahi anaknya. Ingin rasanya ia mengucapkan kata maaf berkali
kali karna terlahir mempunyai ayah seperti dirinya, yang tidak berguna, yang
ditinggal pergi oleh istrinya. Ingin rasanya mati saja dari dunia ini, tapi tak
mungkin. Karna ia sangat menyayangi Rina, Rina adalah harta kebahagian dirinya.
Tak pernah ada rasa marah atau kesal saat Rina memarahi atau menghina dirinya.
Tanpa sadar, mobil sport berhenti didepan nya. Terlihat pemuda yang tampan
turun dari mobil itu, walaupun parasnya sangat tampan tapi terpancar kesedihan
dari matanya.
“Apa
bapak berjualan balon?” tanya pemuda itu.
“
Iya, iya! Apa kamu ingin membeli nak?” jawab Pak Rian dengan senang, ia merasa
tuhan telah mendengarkan hatinya yang sedang resah ini.
“Saya
akan membeli balon itu semua, bapak boleh menyebutkan berapa biaya nya..akan
saya sanggupi semua. Tapi dengan suatu syarat...” ucap pemuda itu gantung,
telihat ia sangat ragu melanjutkan kalimatnya.
“Apapun
syarat nya akan saya lakukan nak!” jawab Pak Rian riang. Secercah harapan mulai
muncul, ia ragu akan pemuda ini. Tapi segera ditepisnya keraguan itu, apapun
akan ia lakukan untuk Rina dengan cara yang halal.
“hm..mm..hm....
anak saya dirawat di Rumah Sakit. Ia sangat membutuhkan donor jantung, karna
jantung nya yang sangat lemah. Saya sebagai ayah sudah berusaha mencari
pendonor yang sudah mati ataupun sudah hidup, tetapi tidak ada. Saya sangat
berharap bapak dapat menonolong anak saya, berapapun akan saya kasih. Saya
mohon” harap pemuda itu, terlihat matanya sudah berkaca-kaca. Tanpa sadar ia
sudah berlutut dihadapan Pak Rian. Pak Rian sangat kaget, ia tak habis pikir
bahwa harus mendonorkan jantungnya, itu artinya ia akan meninggal? Lalu
bagaimana dengan Rina? Siapa yang mengurusinya kalau dirinya sudah tidak ada?
Tapi bagaimana....tidak ada cara lain untuk menambahkan uangnya agar dapat
membeli sepatu dan tas itu. Ia ingin sekali Rina bahagia karna memiliki tas dan
sepatu yang baru...tapi syarat ini sungguh sulit.
“Tolong
anak saya pak...saya mohon..” ucap pemuda itu pelan. Ia menitikkan air matanya.
Tanpa terasa bajunya sedikit basah karna kecipratan air hujan.
Demi anaknya..demi anakku. Mungkin ini cara
tuhan membalas doa ku
“Baiklah..tapi
tolong belikan sepatu dan tas buat Rina ya. Tolong berdiri jangan seperti ini.”
ucap Pak Rian.
“Alhamdulillah,
terimakasih ya Allah. Iya pak apapun saya berikan! Lebih dari sepatu dan tas
pun akan saya sanggupi. Terimakasih pak terimakasih” balas pemuda itu, ia
bangkit lalu memeluk Pak Rian dengan haru.
“Yaudah
Pak sekarang aja kita ke Rumah Sakit, anak saya sangat membutuhkan jantung itu”
lanjut pemuda itu “Sepedanya letakkan disini saja dulu, biar nanti saya suruh
seseorang untuk mengambilnya.”
“Tapi..tapi
saya ingin bertemu Rina dulu.” jawab Pak Rian terbata-bata. Ia ragu, apakah
saat ia meninggal Rina akan menangisinya?merindukan nya? Apakah ia dianggap
cukup berharga olehnya? Ingin sekali disaat saat seperti ini ia memeluk Rina
dan mengucapkan rasa sayangnya.
“Tidak
usah pak, anak saya sudah kritis. Saya mohon. Nanti saja bapak tulis surat
dimobil saya selama sedang perjalanan ke Rumah Sakit.”ucap Pemuda itu
“Oh
baiklah” desah Pak Rian kecewa.
-------
Terlihat mobil sport terparkir di Rumah Sakit
Pelita, turunlah pemuda tampan dengan seorang lelaki tua yaitu Pak Rian.
“Apakah
saya boleh makan dulu sebelum masuk kedalam?” tanya Pak Rian ragu. Terlihat ia
sangat kelaparan karna seharian ini yang ia pikirkan hanya Rina dan Rina
“Oh
boleh pak. Bapak kekantin aja lalu temui saya nanti diruangan Dr. Yuni.” jawab
pemudia itu sambil menyerahkan beberapa lembar uang. Pak Rian pun bergegas ke
kantin. Ia sangat lapar. Ia melihat kearah luar, dimana anak-anak sedang
menyebrang. Dengan langkah pasti, ia menghampiri anak-anak itu yang terlihat
kesulitan menyebrang. Tanpa disadari Pak Rian, mobil melaju kencang dari arah
berlawanan.
“Awas
pakkk awasss........!!!” teriak salah satu anak kecil tersebut. Pak Rian mendelik
bingung, tak terdengar suara anak kecil tersebut. Ia tetap melanjutkan
langkahnya untuk membantu anak-anak tersebut agar mudah menyebrang.
“BBBBBRRRAAAAKKKKKKKKK”
bunyi hantaman keras pun terdengar keras. Tubuh Pak Rian terpelanting jauh,
terlihat darah banyak mengucur dari tubuhnya. Pemuda yang mendengarkan suara
yang sangat keras tersebut seketika menoleh, ia terlihat kaget. Pak Rian yang
akan mendonorkan jantungnya malah terbujur kaku diaspal, tulang nya terlihat
remuk. Pemuda itu segera menghampiri, terlihat Pak Rian masih membuka matanya
“Tolong
sampaikan kepada anak saya Rina, bahwa saya sangat mencintai dan menyanyangi
dia. Ia adalah harta terindah yang diberikan Tuhan.” Ucap Pak Rian dengan
terbata-bata, perlahan-lahan Pak Rian menutup matanya sambil menghembuskan
nafas terakhirnya. Tercetak senyuman dibibirnya.
“DOKTER
TOLONG BELIAU! TOLONG DONORKAN JANTUNGNYA KEPADA ANAK SAYA! CEPATTTT!” teriak
pemuda itu. Ia berjanji akan menepati janjinya kepada Pak Rian.
------
3 Hari kemudian
“Tok..tok..tok”
ketuk salah satu petugas pengantar kiriman. Terlihat gadis cantik dengan wajah
jutek membuka pintunya, keningnya mengerut.
“Siapa
ya?” tanya gadis itu dengan nada tidak suka.
“Ini
ada kiriman, mohon di tanda tangan terlebih dahulu.” ucap petugas itu sambil
menyerahkan selembar kertas kepada gadis itu. Dengan acuh gadis tersebut
mengambil kertasnya, dan membubuhkan tanda tangan nya. Gadis ini yaitu Rina.
“Terimakasih”
ucap petugas itu setelah menyerahkan bingkisan yang sangat besar. Dengan cuek Rina
mengambil bingkisan itu lalu menutup pintu rumahnya. Ia bawa bingkisan itu
kedalam kamar, dan mulai membukanya. Ia tercengang kaget, terdapat berbagai
sepatu dan tas dengan merk terkenal. Ia berdecak kagum.
“Uhhhhh
indahnya. Dari siapa ya? Gamungkin dari lelaki tua itu kan? Huh sudah 3 hari
ini ia tidak pulang. Ah bodoamat deh.” ucap Rina kepada diri sendiri. Lalu
terlihat sepucuk surat terdapat dipinggiran tas dan sepatu tersebut.
Perlahan-lahan ia membukanya, tanpa sadar jantungnya berdegup kencang..
Dear
Rina...
Anakku
tersayang. Ayah bangga sekali sama kamu nak. Kamu cantik, pintar dan tumbuh
menjadi seorang anak yang bisa ayah banggakan kepada teman ayah maupun ke
tetangga kita. Sejak ibu pergi
meninggalkan kita, kamu bisa tumbuh dengan baik walaupun kekurangan kasih
sayang dari seorang ibu. Mudah-mudahan kamu sehat selalu ya nak dan bisa
mencapai cita-cita apa yang kamu inginkan.
Maafin
ayah ya nak tidak bisa menjadi orang tua yang baik buat kamu dan juga tidak
bisa memenuhi semua kebutuhan serta keinginan kamu semuanya. Ayah sayang sekali
sama kamu nak, kamu lah harta ayah satu-satunya di dunia ini. Ayah akan
berusaha untuk memenuhi semua keinginan kamu walaupun nyawa ayah harus
dikorbankan asalkan kamu senang dan bahagia
selalu.
Sesuai
dengan permintaan kamu nak ayah akan membelikan sepatu dan tas seperti yang
kamu minta. Bagaimana nak bagus gak kiriman dari ayah ini? Mudah-mudahan kamu
suka ya nak. Ayah berharap sekali suatu saat kamu bisa memanggil orang tua ini
dengan sebutan ayah. Alangkah senang dan bahagia nya hati ini nak apabila kamu
memanggil dengan sebutan ayah walaupun cuman satu kali saja. Mungkin pas kamu terima surat ini ayah sudah
tidak ada lagi di dunia ini tapi ayah senang sekali detik-detik terakhir hidup
ayah masih bisa membuat kamu senang dengan memenuhi semua permintaan kamu nak.
Terima kasih ya nak telah hadir dihidup ayah. Ayah sayang banget dan bangga
sama kamu nak.
Dengan
bergetar Rina meletakkan suratnya kembali, perlahan-lahan air matanya turun
dengan deras. Ia terisak hebat, bahu nya terguncang. Tiba-tiba Rina merasakan
pandangan nya kabur dan gelap seketika.
------------------------------------END------------------------------------------
Noverlyn Ersa
X MIA 7
0 comments:
Posting Komentar