SURAT
CINTA TERSEMBUNYI: NO. 1
Seluruh dunia ini diatur sedemikian
rupa agar kita meragu. Meragu agar salah. Salah agar takut. Takut agar berubah.
Berubah agar kuat. Kuat agar tak perlu meragu. Tapi semuanya selalu kembali ke
pernyataan pertama. Dunia pasti akan membuat kita ragu, se-benar apapun yang
kita lakukan.
“Karena itu, lebih baik kita tidak
ragu untuk meragu ‘kan?” pikirku suatu hari. Karena selalu ada kemungkinan kalau kita salah, kan? Satu-satunya yang pasti adalah ketiadaan kepastian di dunia ini.
-
Hanya ada sebuah papan catur diatas meja itu: meja yang diterangi oleh
satu-satunya cahaya di ruang itu. Papan catur itu tidak berdebu. Tidak juga
bidak-bidaknya yang sudah lama menunggu. Sudah hampir jelas bahwa Juliette yang
hampir setiap sore datang, selalu mengelapnya.
Siang ini, Arsa yang tau bahwa ruangan itu kosong, masuk dan mengintip apa
yang ada di bawah papan catur itu, lalu menyelipkan sebuah lipatan kertas. Dan
dengan cepat ia pun pergi. Meninggalkan papan catur yang senang: bisa
melihatnya lagi setelah sekian lama.
Juliette, yang datang lebih sore, tidak bisa menahan rasa kecewanya
ketika melihat kertas milik Arsa di bawah papan catur itu. Ia sungguh berharap
kalau kertas miliknya akan ada disana lebih dulu. Tapi sepertinya kali ini ia
tidak terlalu mempermasalahkan soal itu. Ia senang. Akhirnya, malam ini ia bisa
kembali bertemu dengan Arsa: melampiaskan semua kekesalannya selama ini.
Papan catur itu ditinggalkan lagi. Kini oleh Juliette yang mengerti kalau
percuma menanti. Sebab, permainan baru akan dimulai jam 7 malam nanti: 3 jam 25 menit lagi.
-
Derit suara pintu terbuka, seolah memberitahukan kepada seluruh udara di
ruang itu: “mereka telah datang! Ubah
suasana menjadi mencekam!”. Dan mereka patuh. Seketika, semua sunyi. Angin
pun seolah tak ingin mengganggu mereka. Seolah tak ada getaran yang berani
mendistorsi gerakan mereka yang tanpa suara;
bahkan ketika bangku kayu itu diangkat mundur sejauh 15 centimeter.
“Terima kasih.” Kata Juliette
Arsa menerjemahkan kata sama-sama
menjadi sebuah senyuman; karena ia tau Juliette akan mengerti. Lalu untuknya,
ia menggunakan jarak 20 centimeter.
Itu adalah posisi paling nyaman bagi mereka.
“Mau main aturan berapa detik?” tanya Arsa.
“Aku tidak ingin berlama-lama. Bagaimana kalau 15 detik saja?”
“Oke.” Arsa setuju. “Soal stalemate,
mau berapa langkah? 50?”
“50 moves, rule.”
“As punny as ever.” Arsa
tersenyum.
“Siapa yang jalan pertama?” Kali ini Juliette bertanya.
“Sepertinya, kali ini bisa dengan suit, ly.” Arsa biasa memanggilnya
July. Karena menurutnya, pemanggilan dengan jul
atau yet itu tidak indah. “Yang
satu kali menang jalan pertama.” Tambahnya
Arsa bilang kali ini, karena biasanya, mereka menggunakan cara lain.
Karena entah kenapa, mereka selalu seri jika suit. Selalu. Tapi, seperti dugaan Arsa, kali ini berbeda. Pada suit yang
kedua, setelah yang pertama seri, Arsa kalah.
“1, 2, 3!” Ujar Arsa. Kalau Juliette biasanya menghitungnya dari 3 ke 1.
Yah, sebenarnya tidak akan terlalu berbeda. Karena, menurut aturan yang mereka
buat, mereka akan mulai menyalakan timernya saat angka ke-3 selesai disebutkan.
Permainan catur mereka memiliki beberapa aturan tambahan:
Pertama, giliran mereka melangkah dibatasi hingga waktu yang telah
ditentukan. Yang mana dalam permainan kali ini, harus dilakukan dalam 15 detik,
dan baru boleh melangkah setelah 2/3 dari waktu yang ditentukan sudah lewat.
Dalam permainan kali ini, setelah 10 detik. Apabila melewati waktu yang
ditentukan, akan dianggap kalah.
Kedua, mereka harus saling mengobrol. Yang mendapat giliran pertama akan
menanyakan pertanyaan terlebih dahulu. Lalu yang mendapat giliran kedua, harus
menjawab pertanyaan sebelum waktu yang ditentukan. Apabila pada waktu yang
ditentukan belum mengatakan apapun, akan dianggap kalah.
Timer pun dimulai. Juliette pun mulai mengajak Arsa mengobrol.
“Yang mengirim Surat Cinta itu
kamu ‘kan?”
“Nggak basa-basi dulu nih?”
“Gak usah. Aku lagi nggak mau berlama-lama.”
“Hehe, iya. Itu aku yang buat.” Kata Arsa. “Bagaimana menurut kamu?”
“Yaa kreatif, sih. Pesannya tersembunyi begitu. Tapi sebenarnya aku akan
jauh lebih suka kalau pesannya tidak dikirim ke polisi. Dan, tidak perlu
dibarengi pesan dari pembunuh berantai.”
Tak lama setelah detik ke-10, Juliette melangkahkan pion hitamnya untuk
maju. Lalu me-reset timer.
“Sebenarnya nggak terlalu seperti pembunuh, sih. Aku ‘kan hanya
mengatakan kalau di tempat itu terjadi pembunuhan.”
Lalu tanpa bicara, Juliette mengambil sebuah gulungan surat dari tasnya.
Sebuah gulungan kertas agak tebal dengan pita merah yang diikat model tali
sepatu. Ia pun menarik pita merah itu untuk memperlihatkan isi suratnya. “Terjadi pembunuhan di Perumahan Anggrek Blok
A6 No. 12. Tolong pecahkan.“ Juliette mengutip tulisan yang ada di surat
itu. “Sekiranya semua orang yang baca itu akan berpikir kalau itu dari pembunuh
berantai. Apalagi kalau surat seperti itu dikirim setiap minggu.” Katanya lagi.
“Yah, memang dimaksudkan untuk begitu, sih.” Kata Arsa. “Lalu, bagaimana
reaksi para polisi? Bagaimana kondisi kasusnya sekarang?” tanya Arsa.
“Penyelidikan masih terus berlanjut. Semuanya bingung. Seperti
harapanmu.” Kata Juliette. “Kalau aku tidak mengenalmu, mungkin selamanya kasus
ini takkan pernah kupecahkan.” Katanya lagi. “Kenapa kamu melakukan ini, Sa?
Iseng?” kali ini Juliette bertanya.
“Bisa jadi.” Kata Arsa sambil menggerakkan kuda miliknya. “Kalau aku
beritahu alasannya, memangnya kamu akan percaya?” tanya Arsa. Tersenyum. Dan
mulai sekarang, aku tidak akan mengatakan langkah yang mereka lakukan.
“Bukannya kita sudah janji untuk tidak berbohong?” Tanya Juliette.
Retoris. ”Aku ingin percaya pada janji itu.” Katanya, dengan sebuah senyuman
yang sedih. Arsa yang menyadari ini langsung menganggap kalau Juliette tidak
mempercayainya. Yah, itu salahnya, sih.
“Aku cuma mau tau: Kamu percaya padaku atau tidak?” kata Arsa. "Aku benar-benar ingin bersamamu, tapi bagaimana aku bisa tau kalau memang harus denganmu? Karena jodoh itu tak ada, July. Yang ada hanya mereka yang siap untuk berpura-pura! Perlu rasa percaya dan komitmen untuk terus bersama. Aku harus mengujimu."
“Dengan cara ini?”
“Yah, ini cara paling efektif ‘kan? Untuk menguji sesuatu, kita harus menempatkannya di kondisi ekstrim."
“Mungkin. Tapi aku tidak suka cara ini.” Kata Juliette. "Kamu benar-benar tidaj memikirkan perasaanku, Sa. Kenapa sih, kamu begitu meremehkanku?" Juliette terlihat sedih. “Tadi katamu kamu
ingin tau kalau aku percaya padamu atau tidak, ‘kan?” lalu sedikit sunyi.
“Jawabannya, aku tidak percaya padamu. Aku masih berpikir kalau kamu membunuh
orang-orang itu.” Katanya lagi.
“Kalau begitu kenapa tidak langsung kamu laporkan ke polisi saja?” tanya
Arsa. “Kamu takut ditangkap?” ia tersenyum. “Yah, yang memberitahukanku cara
membunuh mereka ‘kan, kamu.” Kata Arsa sambil memainkan handphonenya. Membuka
aplikasi rekaman lalu mencari sebuah rekaman dari 4 bulan yang lalu. Setelah ia
menekan tombol play, terdengar mereka berdialog:
“Ly, kamu ‘kan seorang detektif
hebat. Berarti kamu tahu ‘kan, cara membunuh orang yang aman? Kira-kira
bagaimana, ya? Cara membunuh yang bisa dilakukan kapan saja, dimana saja, oleh
siapa saja, kepada siapa saja. Tapi tidak akan ketahuan! Setidaknya, apabila
ketahuan, tidak akan bisa diketahui caranya!” Arsa
mengawali dialog itu.
“Hmm. Kalau memang mau tidak
ketahuan, sih, lebih baik kamu tidak usah membunuh, Sa. Cari saja orang yang
kebetulan meninggal karena serangan jantung. Lalu kamu bilang ke polisi kalau
itu adalah pembunuhan. Selesai, deh. Pembunuhan tanpa bukti.” Juliette
menjawab. “Memangnya buat apa?” tanya
Juliette.
“Ada seseorang yang mau kubunuh.”
Kata Arsa sambil tersenyum. Senyum yang sama yang ia gunakan saat bercanda.
Saat itu nada yang digunakan pun ceria. Wajar saja kalau Juliette menganggapnya
bercanda.
“Kalau mau, aku tau sebuah racun
yang menyebabkan serangan jantung.” Kata Juliette. “Organik. Ketika masuk ke tubuh tidak akan terdeteksi. Sudah lama juga
aku meneliti ini.”
Lalu Arsa menekan tombol stop.
Ia masih tersenyum.
“Menyebalkan. Kamu benar-benar seperti stalker, deh. Semua selalu ada
rekamannya.” Kata Juliette. “Padahal tadinya aku sudah percaya padamu. Tapi
sekarang aku ragu lagi. Kamu jahat, sih.” Katanya lagi. “Yah, kamu sudah pernah
bilang, sih.” Tambahnya.
“Jadi aku tidak salah ‘kan? Aku jujur.” Kata Arsa, dengan senyuman yang
rutin ia gunakan. Juliette tetap diam. Ia tak bisa menyangkal. “Eh, coba
ceritakan lebih lanjut, deh, soal Polisi. Soal pemberitaannya terutama.” Pinta
Arsa.
“Kamu mau tau yang kamu pikir terjadi atau tidak ‘kan?” tebak Juliette.
Ini kebiasaan mereka: mengira-ngira masa depan. “Polisi tidak berani mengatakan
kalau ini adalah pembunuhan. Karena penyebab kematiannya memang serangan
jantung. Waktu kasus pertama ‘kan si Jerry sempat ke rumah korban, tapi
kesannya benar-benar merusak suasana. Yaa bayangkan saja kalau ada kerabatmu
yang meninggal karena serangan jantung. Ketika kamu sedang mengaji, tiba-tiba
ada polisi bilang kalau ini adalah pembunuhan.” Jelas Juliette. “Jadi sesuai
harapanmu, ini kasus intern polisi. Walaupun korbannya sudah banyak, sih.”
Katanya lagi.
“Sok tahu, nih. Belum tentu aku sudah merencanakan itu.” Kata Arsa. “Tapi
kalau begitu kamu sadar ‘kan? Kalau aku tidak terlalu ingin mengganggumu? Aku cuma
mau tau kalau kamu percaya padaku atau tidak.” Katanya lagi.
“Tapi percaya padamu bukan kemungkinan terbaik. Kita tidak bisa
membuktikan kamu membunuh mereka atau tidak. Dan aku tidak tau kalau kamu sudah
membunuh orang selain mereka atau tidak. Dan ‘kalau’ ternyata kamu benar-benar
seorang pembunuh dan aku percaya padamu, sama saja aku melindungi seorang
pembunuh berantai. Tidak mungkin aku melakukan itu.” Kata Juliette. “Aku tidak
bisa percaya padamu.” Katanya lagi.
“Tidak bisa atau tidak mau?” tanya Arsa. “Dan sepertinya kamu lupa
menambahkan, bahwa satu-satunya cara untuk menangkapku adalah dengan
menyatakan: bahwa kamulah yang memberitahuku cara melakukan ini. Dan, bahwa
kamu diam-diam membuat racun berbahaya.” Sebuah pernyataan.
“Jahat.” Kata Juliette. “Bagaimana aku bisa percaya padamu kalau kamu
sejahat ini?”
“Kita sudah berjanji untuk takkan bohong. Bukankah itu cukup?” tanya
Arsa.
“Janji itu bisa diingkari.” Balas Juliette. “Dan memang biasa diingkari,
sih.”
“Apa aku pernah ingkar janji? Bohong saja aku tak pernah. Kamunya saja
yang tidak percaya.” Kata Arsa.
“Karena kamu orangnya tidak jelas. Siapa yang akan menganggapmu serius
kalau kamu bilang hal seperti ‘Ada
seseorang yang mau kubunuh’?” kata Juliette. “Eh, kalau kamu bilang kamu
tidak pernah bohong, berarti kamu benar-benar membunuh, dong?” katanya lagi.
Dengan nada santai ber-emosi.
“Eits, aku bilangnya ‘ada seseorang
yang mau kubunuh’. Kamu juga pasti ada ‘kan? Aku sama sekali tidak bilang
aku akan membunuhnya.” Kata Arsa.
“Ada. Kamu, kadang-kadang.” Kata Juliette.
“Aih. Se-benci itukah?” tanya Arsa.
“Aku tidak benci. Hanya kesal. Nyatanya, aku cinta padamu. Hanya saja
saat ini aku ingin kamu mati.” Kata Juliette.
“Serius? Apa kamu benar-benar mau hidup tanpaku?” tanya Arsa. “Bukannya
hidup akan jadi membosankan? Aku sendiri tidak mau hidup tanpamu. Yah, karena cuma
kamu yang bisa mengerti apa yang aku pikirkan.” Katanya lagi.
“Yah, keberadaanmu biasanya memang menyenangkan. Tapi tidak sekarang. Aku
benar-benar ingin kamu mati. Sederhana, ada kemungkinan kalau kamu adalah
pembunuh. Kalaupun tidak, kamu sudah mengganggu kepolisian dengan mengirimkan
surat seperti itu.” Kata Juliette.
“Padahal katanya kamu cinta padaku. Tapi kamu mau membunuhku. Agak lucu,
ya?” Arsa tersenyum. “Yasudah kita selesaikan saja. Sekarang kita pikirkan
jalan keluarnya. Aku hanya akan memberikan satu solusi, dan kamu boleh menolak
solusi itu. Aku janji akan melakukan apapun keputusanmu.” Katanya lagi. Lalu
setelah jeda, berkata lagi “Sekarang, aku bersumpah kalau aku tidak membunuh
orang-orang itu. Aku hanya menulis surat setelah tau kalau mereka meninggal
karena serangan jantung. Dan sungguh. Aku berupaya sekeras mungkin agar apa
yang kulakukan tidak menimbulkan terlalu banyak masalah. Setidaknya, hanya
padamu. Sekarang, solusi dariku adalah: maafkan aku. Dengan begitu, aku akan
percaya padamu. Dan aku janji akan melakukan apa yang kau inginkan. Dan aku
akan meninggalkan apa yang selama ini kuyakini. Begitu.” Arsa menjelaskan
dengan panjang tentang apa yang benar-benar ia inginkan.
Dengan ini, cerita ini tiba ke fase penyelesaian masalah. Permainan catur
pun sudah selesai. Arsa kalah.
“Aku kesal padamu. Harusnya kamu mengerti seberapa kesalnya aku karena
apa yang kamu lakukan.”
“Maaf.” Arsa terlihat menyesal.
“Aku ingin kamu mati.”
“Serius?”
“Ya.”
“Kalau begitu aku akan bunuh diri, deh.” Arsa bersiap mengambil suntikan
di tasnya.
“Jangan. Jangan dulu.”
“Oke.”
“Cuma kamu yang bisa pahami aku.”
“Sama. Yah, kita mirip, sih.”
“Jangan dibalas. Aku sedang bicara.”
Arsa diam.
“Kalau aku memaafkanmu, kamu akan berubah menjadi apa yang aku inginkan,
ya? Tapi, aku tidak mau berubah. Apa kamu tetap akan menerimaku?”
Arsa diam.
“Sekarang boleh jawab.”
“Kalau kamu mau memaafkanku, berarti kamu sudah berubah.”
“Aku kesal padamu.”
“Maaf.”
“Aku tidak bisa memaafkanmu.”
“Tapi mau?”
Juliette diam.
“Masih bingung di bagian mana? Soal penyelesaian kasus? Dari tadi kamu
selalu memikirkan kemungkinan ‘kalau’ ternyata aku benar-benar pembunuh.
Bagaimana kalau kita ubah pola pikir itu. Aku tidak membunuh sama sekali. Aku
hanya menulis surat setelah mereka meninggal karena serangan jantung. Lalu
penyelesaiannya? Kamu bilang kalau surat-surat itu hanyalah perbuatan iseng
seseorang. Polisi pasti percaya padamu.” Arsa menjelaskan dengan serius.
“Bukan soal itu!” kata Juliette.
Lalu sunyi.
“Aku tidak tau apa-apa tentangmu. Terlalu banyak rahasia! Aku tidak tau
apa pekerjaanmu. Kenapa, sih, kamu selalu pergi? Kenapa kita hanya bisa bertemu
beberapa bulan sekali? Aku sulit untuk tidak ragu!” katanya lagi.
“Aku tidak mau kamu terlibat.”
“Berarti kamu juga tidak percaya padaku!”
Lalu sunyi.
“Kenapa tidak kita hadapi bersama saja, Sa?”
“Aku belum percaya padamu.”
Juliette baru mengerti.
“Jadi, kalau aku memaafkanmu kali ini, kamu baru akan menjelaskan
semuanya? Jadi ini tes untuk menjadi partnermu? Selama ini kamu meragukanku?”
“Maaf.”
“Harusnya aku yang minta maaf, Sa.” Kata Juliette. “Aku tak mau hidup
tanpamu. Sungguh. Tapi, aku harus tetap pada pendirianku. Semua hal yang salah
harus diadili. Semua hal harus tetap pasti. Semua harus tetap sebagaimana
mestinya.” Katanya lagi. “Ada 50% kemungkinan kalau kamu bersalah. Kamu
berbahaya.” Katanya lagi. “Soal solusimu, aku tidak mau menutup-nutupi apa-apa
dari polisi. Itu tidak sesuai dengan harga diri-ku.” Katanya lagi. “Dan, maaf.
Aku tidak mau mengambil resiko untuk dianggap penjahat. Jadi aku tidak mau
menangkapmu. Karena kalau kamu tertangkap, kamu harus memberitahukan kalau aku
yang membuat racun itu. Mungkin kesannya sombong, tapi kalau tidak ada aku,
kejahatan akan jauh bertambah.” Katanya lagi.
“Jadi bagaimana penyelesaian yang kamu inginkan?” tanya Arsa.
“Aku ingin kamu pergi. Kemanapun di seluruh negeri ini. Lagipula kamu
memang suka begitu ‘kan?” Kali ini Juliette yang tersenyum. “Jangan coba
bertemu denganku. Biar aku yang mencarimu lagi. Buatlah kode-kode seperti saat
aku pertama mengenalmu. Aku akan memecahkan kode itu lagi. Kita akan bisa
bertemu lagi. Dan kalau aku bisa bertemu denganmu, aku tidak akan mau
menangkapmu.” Kata Juliette. “Setelah ini, aku akan mengatakan kepada polisi
kalau kamulah pengirim ‘Surat Cinta’ itu. Dengan begitu, aku sudah melakukan
sebagaimana seharusnya.” Kata Juliette. “Karena itu, jangan tertangkap. Menghilanglah
seperti biasa. Tetap menjadi orang yang tidak ada. Menjadi ‘inexistant’.” Tambah Juliette.
“Padahal aku kira, kalau kamu tidak memintaku untuk mati, aku harus
menjadi orang normal. Aku sudah mulai berpikir kalau aku tidak harus menjadi inexistant. Aku sudah mempersiapkan diri
untuk tinggal dan bertemu setiap hari, lho!” Arsa tersenyum kembali. “Tapi oke,
deh. Aku sudah janji untuk mengikuti apapun yang kamu minta. Setelah ini, aku
takkan kembali lagi kepadamu. Kamulah yang harus memecahkan kode-ku kalau ingin
kita bertemu lagi.” Arsa tampak semangat kali ini.
“Jadikan! Walaupun sebenarnya kita bisa menjadi normal kalau kamu tidak
mengirim surat cinta itu, sih.” Kata Juliette.
“Maaf.” Arsa menyesal
“Tapi, terima kasih, deh, untuk surat cintanya. Aku suka kata-katanya.
Walaupun aku masih akan lebih suka kalau tidak usah dibarengi surat dari
pembunuh berantai. Dan dengan begini, pertemuan kita akan jauh lebih seru!
Lagipula tidak akan beda jauh ‘kan? Memang biasanya kita bertemu beberapa bulan
sekali.” Arsa dan Juliette kini tersenyum.
“Yasudah. Fix, ya? Kalau begitu kita tutup saja permainan malam ini.”
Kata Arsa dengan senyuman khas-nya.
“Kertasnya? Prediksi aku, sih, benar.” Juliette tersenyum.
“Sama.” Arsa mengambil kertas di bawah papan catur itu. Diatasnya
tergambar posisi bidak catur mereka saat Juliette menang.
“Kamu sengaja kalah?” Tanya Juliette.
“Tidak, kok.” Arsa tersenyum. “Yasudah, untuk mengakhiri permainan malam
ini, ayo kita baca janji kita lagi.” Katanya.
Udara sadar kalau suasana harus dijadikan ceria. Dengan penyelesaian yang
tidak jelas karena, yah, pada dasarnya mereka memang tidak normal.
Lalu pada akhirnya, seperti mantra, mereka membaca janji mereka.
-
believeiled
Pembukaan:
kami,
inexistants, berjanji:
tidak akan
berbohong,
dan akan
saling percaya,
dari awal,
hingga awal yang lain.
-
“Besok lari, yuk? Sebelum aku lari?”
“Yuk.”
-
Lalu keesokan harinya, mereka mengobrol tentang banyak hal. Tentang Arsa, lalu
Juliette. Tentang masa lalu, lalu masa depan. Mereka berjalan-jalan ke berbagai
tempat. Lalu berhenti di sebuah toko es krim dan mengobrol.
“Sa, selama ini kamu kerjanya apa?” tanya Juliette kala itu.
“Memberantas kejahatan dari dalam.” Jawab Arsa.
“Maksudnya?” Juliette bingung.
“Menjadi orang jahat. Jahat pada penjahat.” Kata Arsa.
“Aku ubah pertanyaannya. Selama pergi apa yang kamu lakukan?” tanya
Juliette.
“Main handphone. Seringnya, sih, nonton video.” Kata Arsa sambil senyum.
“Video apa?” tanya Juliette. Karena ia tau Arsa jujur.
“Oiya, kamu sering ‘kan tanya, kenapa aku bisa tau soal berbagai hal? Ini
rahasianya.” Kata Arsa sambil menunjukkan kamera kecil. “Aku pasang ini di
tempat yang kurasa perlu diawasi. Kebanyakan, sih, di tempat yang sering
didatangi penjahat. Tapi aku juga pasang satu di basecamp kita, sih. Makanya
aku tau kalau kamu hampir setiap hari datang.” Arsa meledek.
“Sebal, ah.” Kata Juliette. “Jadi kamu pergi-pergian terus untuk memasang
kamera baru, apa bagaimana?” tebak Juliette.
“Itu salah satunya, tapi yang paling utama, sih, aku memberikan kode-kode
dan informasi kepada polisi agar penjahat itu bisa tertangkap.” Jelas Arsa.
“Oh, kalau kamu beritahu langsung nanti akan ditanya-tanya ya?”
“Yap.” Kata Arsa. “Pekerjaanku lumayan penting, ‘kan?”
“Ya.” Juliette yang merupakan seorang detektif sangat merasakannya.
“Nyaman rasanya kalau tau ada petunjuk. Jadi kamu tau tentang lokasi orang yang
meninggal karena serangan jantung dari sini ya?”
“Yap. Menurutku, masalah utama kita sebenarnya adalah bahwa kita tidak
tau kalau ada kesalahan. Karena itu, sebisa mungkin aku ingin tau apa yang
terjadi.” Kata Arsa.
“Kameranya tersambung ke internet? Servernya dari mana? Pasti mahal, kan?
Untuk file sebesar itu.” Tanya Juliette.
“Buat sendiri, lah! Uangnya pinta saja ke para penjahat. Sebagai jaminan keamanan.”
Kata Arsa.
“Jahat.” Juliette tersenyum.
“Memang. Oiya, besok kamu akan melaporkanku ya?” tanya Arsa.
“Ya.” Jawab Juliette. “Siap, ‘kan?”
“Always.”
“Kali ini jangan sengaja mengalah.”
-
Juliette menerima sebuah surat dalam
sebuah kertas tebal. Dari luar, tidak ada yang aneh dari kertas itu: kertas tebal yang
melengkung karena digulung. Tapi setelah Juliette menggunting satu sisi di
pinggir kertas itu, kertas itu menjadi seperti sebuah amplop. Dua buah kertas
yang ditumpuk. Di dalamnya, ada surat cinta dari Arsa.
-
SURAT CINTA
TERSEMBUNYI: NO. 16
Ternyata aku memang harus meragu.
Terimakasih telah meyakinkanku. Aku harap, kita akan sesuai dengan believeiled
(bukan beliefailed). Happy first anniversary, July! Aku membuat video untukmu.
Cepat temui aku!
0 comments:
Posting Komentar