Catatan: Sarah itu orangnya tidak jelas. Dan ini cerita dia yang buat. Jadi yang sabar saja.
Halo! Aku Sarah.
Apa kamu kenal aku?
Pasti tidak, kan? Aku jamin, pasti tidak!
Apa kamu kenal aku?
Pasti tidak, kan? Aku jamin, pasti tidak!
Hanya karena kamu tau namaku,
bukan berarti kamu mengenalku, lho. Dan sebaliknya, aku juga (hampir) tidak kenal
siapa-siapa di dunia ini! Yah, aku memang tidak ingin mengenal terlalu jauh.
Yang penting bisa melakukan simbiosis mutualisme kan? Kalau terlalu kenal,
nanti malah terikat. Dan kalau terikat, kalau ada perasaan khusus, perpisahannya
akan menjadi sedih. Dan aku juga tidak mau ada yang sedih. Hehe.
Selain itu! Kalau terlalu kenal,
nanti kita kecewa! Karena seringnya, perhiasan itu hanya emas di luarnya saja!
Semua orang ‘kan selalu ingin terlihat menarik, meskipun sebenarnya tidak
terlalu. (Aku sih tidak begitu, yaa~) Jadi kita akan bisa menikmati dunia
dengan lebih baik jika kita tidak terlalu mengenal seseorang, ‘kan? Kita hanya
akan tau sisi menariknya!
Hmm. Jadi begini, aku diminta
temanku untuk menulis cerpen tentang pengalamanku (yang membuatku jadi begini).
Selama ini, aku selalu menolaknya. Karena, yah, ini ‘kan rahasia! Lagipula,
kalau orang-orang tau mungkin akan merasa aneh. Malah mungkin akan kasihan.
Tapi, yah, kata temanku, ceritakan saja! Soalnya tidak akan ada yang percaya
kalau ini pengalamanku. Haha.
Flashback sebentar.
Jadi, sejak kecil, aku adalah
anak yang pendiam. Katanya sejak aku berumur 3 tahun, aku (hampir) tidak pernah
menangis! Aku juga jarang meminta apa-apa ke orang lain. Biasanya aku melakukan
apapun sendiri. Belajar, main, dan belajar juga sendiri. Yah, kalau pakai
bahasa orang, sih, aku bisa dibilang anti sosial. Tapi semua berubah ketika
kelas 8 menyerang!
Maksudnya bukan diserang sama
anak Kelas 8 ya~! Maksudnya aku berubah waktu aku Kelas 8 ya~!
Latar kejadiannya adalah di tempat les. Aku adalah anak yang suka nge-les. Dan waktu itu, aku nge-les-nya sih, belajar bahasa Inggris. Jujur saja, aku sebal. Dari lahir bule tidak ada yang bisa bahasa Indonesia. Makanya waktu bule itu menemuiku (menemui ibuku sih), si bule tidak mengerti apa yang kuucapkan. Yasudah, karena kasihan (mereka susah ngomong bahasa Indonesia), makanya aku belajar bahasa Inggris. Baik, kan? Haha.
Tapi bohong. Aku disuruh oleh
ibuku. Katanya bahasa Inggris itu penting.
Jadi, aku les disana untuk
beberapa waktu. Memulai dari dasar. Mendaki gunung. Lewati lembah. Berputar-putar
7 kali lalu menempongi patung batu.
Hingga akhirnya, levelku naik! Kini aku sudah tidak di dasar lagi. Aku sudah
level 5. Hehe.
Disana, aku sebenarnya tidak
banyak mengobrol. Aku biasanya hanya merespon dengan satu kalimat. Dulu aku
selalu bingung harus bicara apa. Karena aku selalu takut salah bicara. Takut
kalau aku tidak akan ditemani lagi. Takut kalau apa yang kukatakan tidak menarik.
Pokoknya, aku penakut! Tapi itu dulu. Sekarang tidak. Aku minum, air!
Tau tidak. Aku hampir berhenti
menulis di paragraf diatas. Soalnya aku sebal kenapa tulisanku tidak jelas banget!
Jadi malas sendiri bacanya. Haft. Tapi kata temanku, ia sangat senang membaca
ini. Makanya ia memohon-mohon supaya aku lanjutkan. Katanya dia mau post di
blognya. Tapi enggak aku bolehin. Makanya kalau ini ada di blog seseorang,
berarti ini dicuri! Yasudah, demi dia, aku terusin deh~
Singkat cerita, ada anak baru.
Dari penampilan, sih, dia cakep. Orangnya ceria! Dia langsung punya banyak
teman di tempat les. Pokoknya, dia keren! Tapi dulu sih, aku tidak peduli sama
sekali sama dia. Aku bahkan tidak tau kalau ada dia. Seperti biasa, aku memang
tidak ahli dalam menjalin hubungan silaturahmi dengan orang lain. I’m not a
communist! I don’t communicate!
Tapi! Tapi! Akhirnya aku kenal
sama dia! Waktu itu dia yang mengajakku kenalan, lho! Bayangkan saja, kalau
kamu biasanya sendirian, terus ada orang keren yang ngajak kamu kenalan. Pasti
akan kepikiran kan? Waktu itu, aku, yang merupakan seorang senpai di tempat les, men-notice
dia. Dia di-notice senpai lho! Sedikit terlalu banyak, malah!
Oiya, jangan salah paham, yaa~
Aku menceritakan ini dengan semangat hanya karena aku orangnya semangat.
Sekarang, bisa dibilang aku benci dia. Haha.
Dia itu unik! Jujur, itu pertama
kalinya aku bertemu dengan orang se-ramah dia. Yah, meskipun dibilang ramah,
sebenarnya dia hanya mengajak berteman ke siapa saja. (Mungkin ke aku juga cuma
begitu. Emot sedih.) Jadi, ya, setiap aku les, aku selalu mendengar suaranya.
Mengobrol ke orang yang berbeda setiap saatnya. Dan dia selalu ceria. Dan dia
selalu senyum. Dan sering juga, dia senyum ketika mengobrol (satu arah)
denganku!
Tapi waktu itu aku biasa saja ke
dia. Seperti aku biasa ke orang lain. Harusnya tetap begitu, tapi tiba-tiba dia
bilang kalau dia cinta sama aku! Serius. Itu pertama kalinya ada yang bilang
begitu. (Atau setelah kupikir-pikir, sepertinya cuma pernyataan dari dia yang
aku akui.) Aaaa! Pikiranku melayang seperti layangan singit! Mau naik sedikit,
langsung miring dan turun. Lalu naik lagi, lalu miring lagi. Pusing! Terlalu
banyak rotasi!
Ngomong-ngomong, kalian juga
harus tau, deh. Sebelumnya, aku tidak pernah suka sama orang. Tidak pernah juga
merasa kalau cinta itu diperlukan. Jadi sebelumnya hidupku sedikit monoton.
Tidak punya perasaan. Hidupku seperti boneka kugutsu. Dikendalikan oleh hero
Puppeteer.
Tapi bohong. Hehe. Itu, sih
temanku. Aku sering iri kok sama temanku yang punya pacar. Karena, yah, aku ‘kan
jomblo akut. Orang-orang yang mau deketin aku akhirnya pergi. Yah, karena itu
tadi. Aku enggak jago ngobrol.
Kembali ke cerita. Setelah dia
bilang suka ke aku, aku jadi senaaaang sekali. Aku jadi sering senyum, jalan
dengan senang, bahkan acara TV yang dulu menurutku tidak jelas, jadi bisa aku
nikmati! I learned a new skill: to see
the happy side of life. Tau artinya, gak? Makanya les bahasa Inggris. Di
tempatku, kalau daftar, gratis jatuh cinta. Huehe.
Dia selalu mengajak aku ngobrol.
Banyaaak banget yang kita obrolin. Kebanyakan dia yang ngomong, sih. Nah! Disini,
nih, turning point-nya!
Jadi, karena aku enggak bisa
ngobrol, aku jadi enggak enak sama dia. Oiya aku belum kasih tau namanya ya? Umm, sebut saja dia... Kalau mawar kan
untuk perempuan, kalau untuk laki-laki apa ya? Hmm. Yasudahlah. Pokoknya, aku
jadi enggak enak sama dia. Makanya aku berpikir, “aku harus belajar berbicara
yang menarik!” Gitu.
Nah. Setelah itu, aku terus mencoba
mengobrol dengan teman di sekolahku. Waktu itu aku pernah berpikir begini “Masih
ada waktu 3 hari sampai ketemu dia lagi. Aku harus latihan dengan keras.” Lebay
memang. Haha. Tapi ternyata waktu aku coba mengobrol, aku sedikit ketularan dia, lho. Entah kenapa, aku
jadi ikut ceria! Teman-temanku di sekolah banyak yang bingung. Entah kenapa juga,
aku jadi suka memberikan contekan ke teman-temanku. (Biasanya aku sangat pelit
soal pelajaran.) Yah, mungkin karena dengan begitu bisa menjadi lebih akrab.
Disini, aku sedikit mengerti arti kata berteman. (Dan baru mengerti disini.)
Sebelum saya jatuh cinta, saya
sering merasa kesulitan dalam berkomunikasi. Tapi setelah saya coba jatuh
cinta, saya jadi ceria! Terima kasih, jatuh cinta! Oiya, disini, aku mulai
merasa kalau aku suka juga sama dia. Dia sudah merubahku, soalnya~
Akhirnya! Aku bisa mengobrol dan
bercanda dengan dia. Kami jadi dekat. Semua pengajar di tempat les kami juga
tau. (Dia memang ember mulutnya.) Pokoknya, kami menjadi dekat. Aku sudah tidak
lagi pendiam. Aku sering baca buku sama dia. Padahal seringnya kami enggak
ngerti apa isi bukunya! (Soalnya pakai bahasa Inggris). Tapi seru! Aku mendapatkan
sebuah kenyataan tak terelakkan. “Seringkali, hal yang tidak jelas itu
menyenangkan.” Begitu.
Mungkin, itu adalah saat paling
menyenangkan dalam hidupku. Kita jatuh cinta dan tau kalau dia (orang yang kita
suka) juga cinta sama kita. Kalau itu bukan saat paling menyenangkan, terus apa!?
Yah, mungkin memang ada, sih. Tapi anggap saja tidak ada supaya lebih romantis.
Mohon kerjasamanya. Haha.
Oiya, I’m a human with a good taste. (Anak les bahasa Inggris mah bebas. Haha.)
Seenggaknya, aku sering (dulu sih hampir selalu) berpikir kalau selera aku
bagus. Lagu yang aku dengarkan bukan lagu-lagu alay seperti yang didengarkan
oleh teman-teman aku! Aku sebal sama teman aku yang suka dengar lagu-lagu itu. Tapi,
tau, gak? Dia suka lagu-lagu alay itu. Tapi tau, gaak? Aku enggak masalah! Malah
aku jadi mau tau lagunya kayak gimana. Sial!
Aku senang jika bahagia. Dan
jujur saja, aku membayangkan kalau kebahagiaan ini akan bertahan selamanya!
Wahai tuan delusi, Anda benar-benar luar biasa! Kemampuan Anda untuk membuatku
membayangkan masa 50 tahun ke depan sangat pantas dikagumi. Aku memang
pengkhayal, tapi tidak pernah khayalanku sejauh itu! Aku dan dia sebagai
pasangan? Menikah, punya 3 anak, lalu tua bersama? Dia melamarku di bawah pohon
dengan langit berbintang (padahal cincinnya tidak kelihatan)? Aku baru tau
kalau potensi khayalanku bisa sehebat ini! Sungguh!
Tapi aku bodoh. Bodoh. Bodoh.
Bodoh. Bodoh bodoh bodoh bodoh bodooooh!!! AKU SANGAT BODOH!! AKU SANGAT
BODOOH!! AAAAAAARGHH!
Tau tidak? Tadinya aku mau hapus
paragraf diatas. Aku terhenti beberapa lama untuk memutuskan apa ini perlu dikasih
lihat ke kalian. Aku nangis, masa~ Hehehehe.
Aku enggak tau kenapa. Kalau ini
yang namanya salting, mungkin aku sudah melakukan salting terbodoh yang pernah
ada. Aku tulis kalau “’dia’ adalah orang yang paling kubenci” di buku paket
les-ku. Aku enggak tau kenapa. Serius. Aku enggak tau. (emot sedih banget.)
Terus kan kita lagi bercanda, ya? Padahal kita asik banget bercanda-nya. Terus
aku bilang “Jangan lihat halaman depan buku paket aku ya!” Gituuu. Kan dia
malah makin penasaraaan. Aaaa! Terus kan aku bilang “jangan! Jangan!” gitu ‘kan
ya? Tapi akhirnya dia baca. Sip. Mati aku. Game over. Dead end.
Suasana mendadak jadi aneh. Waktu
dia tanya “ini maksudnya apa?”, aku cuma bisa jawab kalau “itu cuma iseng.” Soalnya
aku enggak tau cara lain buat menjawab itu!! ‘Kan aneh kalau aku bilang “aku
juga gak tau kenapa aku bisa nulis itu”. Serius. Waktu itu aku sedih banget. Mulut
aku sering banget otomatis bilang “Kenapa aku bodoh banget, siih!?” Tapi serius.
Aku sedih banget.
Tadi nangis lagi masa~ Hehe. Eh! Maaf banget, ya? Jadi curhat nih! Waduh. Awan emang bahaya banget. Harusnya semua ini aku lupain loh! Tapi! Tapi! Tanggung... Sebentar lagi bagian paling serunya. Ternyata cerita itu seru ya? Huaha.
Lanjut yak. Setelah itu, ternyata
dia benar-benar jauhi aku (emot sediiih banget). Dia jadi benci aku kayaknya.
Dia enggak pernah ngajak aku ngobrol lagi. Dia enggak pernah senyum di depan
aku lagi. Sebenarnya aku sudah punya teman di tempat les, tapi tanpa dia, ada
yang kurang. Waktu di sekolah juga aku sedih. Aku jadi lebih pendiam (lagi). Aku
masih sering berpikir “aku bodoh! Aku bodoh!” gitu! Tapi serius. Aku memang
sangat bodoh.
Ceritanya udah mau ending nih~ Jadi
singkat cerita, aku minta maaf ke dia. Aku bilang “waktu itu aku salah nulis.
Sebenarnya aku cinta sama kamu.” Begitu. Sumpah. Aku degdegan banget waktu itu. Aku hampir tidak terpikir betapa tidak
logisnya alasan “salah tulis”. Aku cuma mau baikan sama dia. Tapi tau gak, dia
bilang apa? Enggak kan? Iyalah. Dia bilang “Aku tau pasti begitu. Aku juga
cinta sama kamu, Sar. Mau gak kamu jadi pacar aku?” Aaaaaaa.... (Dari nada
tinggi ke nada rendah)
Tapi bohong. Hehe. Dia bilang “Aku
udah gak cinta sama kamu lagi.” Yap. Itu katanya. Aku sedih lho, waktu itu.
Sedih banget.
Setelah itu, kita, eh, kami,
memutus tali silaturahmi diantara kami. Harusnya kan kalau tali silaturahmi
diputus, umur dia pendek, tapi entah kenapa, dia malah tumbuh terus di ingatan
aku. (Sekarang jadi ingat lagi, deh. Haft.) Para pengajar berkata “kamu marahan
ya, sama dia?” dan aku jawab “iya.” Padahal mah, dianya aja yang marah sama
aku. Aku mah enggak! Aku mah masih suka sama dia! Tapi dianya benci sama aku
kayaknya.
Dia jadi jahat. Mentang-mentang tau kalau aku suka sama
dia, dia ingin banget buat aku cemburu! Tau gak? Dia pernah bilang “Shania mana
ya?” (Shania itu nama cewek terkenal
disana) di depan aku! Sambil melirik sinis ke aku! Terus dia juga pernah ketemu
aku di depan tempat les terus bilang “yah kok aku ketemu kamu lagi, sih? Bosen,
deh.” Gitu! Kan gak usah gitu yaa? (emot sedih) Aku ‘kan jadi sedih!
Sejak itu, aku sering bilang “Aku
benci dia! Dia itu bego! Mati aja kamu!” Padahal, setiap ada dia, aku selalu
lihat dia. Walaupun dia sering (sengaja) buat aku kesal, aku suka dia! Walaupun
dia mengucapkan “selamat ulang tahun” untuk meledek aku, aku tetap senang! Aku
bodoh kan? Hehe.
Kayaknya itu pertama kalinya aku merasa se-sedih itu. Aku merasa kalau aku aneh banget bisa merasa sampai sebegitunya. Aku jadi sering menangis. Selalu sedih ketika melihat dia bercanda dengan orang (perempuan) lain. Selalu nunggu dia datang dan mengisi bangkunya yang kosong (kalau dia telat). Selalu berharap dia mau maafin aku. (Padahal aku enggak terlalu salah, ‘kan? Haft.)
Kalau ada lagu yang bisa menggambarkan perasaan aku saat itu, maka lagu Queen-Love of My Life (salah satu lagu favorit aku), itu cocok banget! Liriknya begini.
Love of my liiife, you’ve huuurt meee!
You’ve broken my heaaart and now youu leaave me!
Love of my life can’t you seeeee???
Bring it baack, bring it baack,
Don’t take it awaay from me because youu doon’t knoow what it means to meee.
You’ve broken my heaaart and now youu leaave me!
Love of my life can’t you seeeee???
Bring it baack, bring it baack,
Don’t take it awaay from me because youu doon’t knoow what it means to meee.
You will remember!
When this is blown over!
And everything’s all, by the waaay.
When I grew older,
I will be there at your side to remind you how I still love you,
I still love you...
When this is blown over!
And everything’s all, by the waaay.
When I grew older,
I will be there at your side to remind you how I still love you,
I still love you...
Masih ada terusannya, sih. Tapi
nanti jadi panjang. Yang penting tersampaikan, 'kan?
Huaha, aku berasa menjadi alayers
paling elit, nih! Ngomong-ngomong, dia benar-benar tinggalkan aku, lho! Tidak lama
setelah itu, dia enggak pernah ke tempat les lagi! Awalnya aku kira dia malas
atau izin. Tapi setelah beberapa lama, akhirnya kutanyakan ke pengajar disana.
Katanya dia sudah keluar. Yang artinya, aku tidak akan bisa menemuinya lagi.
(Dan ini bagus!)
Dia keluar saat aku level 8, dan
aku keluar saat level 13. Dan dari level 8 ke level 13, aku selalu merasa
seperti kelinci di kutub selatan. Kecil, kedinginan (memang AC-nya dingin),
kesepian, menunggu mati (ini sih lebay). Dan tau gak? Waktu dia udah keluar,
aku mendapat bakat baru. Stalking.
(emot like a boss) Aku jadi tau dia dari sekolah mana, temannya kayak gimana,
statusnya se-alay apa (soalnya dia suka banget boyband alay), et cetera. Dan for your information, dia pernah masuk
TV! Acara kecil sih, tapi waktu itu aku pikirnya itu keren banget! Dan yang paling penting, dia pernah menghina aku di social media-nya. Hikz.
Dah. Peran dia di cerita ini
sudah selesai. Aku sebagai dalang memecatnya keluar dari pewayangan hidupku.
Dan sangat berhasil! Kini aku sudah bisa melupakannya.
Gak percaya ya? Hehe. Jangan. Aku
memang suka bohong.
Pernah enggak? Ngerasain cinta
yang benar-benar sepihak? Kayak ketika kita stalking facebooknya setiap hari,
dia bahkan gak terpikir tentang kita? Kayak waktu dia post foto waktu dia baru
masuk SMP, kita yang masih suka sama dia sampai mau buat kaos pakai muka dia?
Kayak ketika main game online, kepikiran membuat nickname dengan nama dia dan
mencoba jadi peringkat 1 di leaderboard, supaya dia tau kalau kita ada (kadang pakai cheat)? Aku
pernah membuat namanya jadi password hampir semua social media yang aku punya. Aku pernah mengalami itu semua, tanpa
satu pun teman untuk bercerita. Seenggaknya untuk bilang kalau aku menderita.
Karena itu, aku benci cinta. Aku
juga benci dia. Aku tau rasanya menderita karena cinta. Aku tidak mau ada orang
lain yang mengalami hal yang sama. Setidaknya, jangan karena aku. Makanya aku
pernah menjadi aneh. Supaya tidak ada orang yang suka padaku.
Hehe. Di akhir aku jadi enggak
terlalu bersemangat, ya? Jangan kasihan ya, sama aku? Walaupun waktu itu aku
sedih banget, aku juga dapat banyak pelajaran. Ternyata berkomunikasi itu mudah
kalau kita percaya diri. Ternyata aku ini (lumayan) hebat. Ternyata curhat itu penting. Gak tau kenapa,
rasanya nyaman banget setelah ngetik ini semua. Sekarang aku jadi ngerti kenapa
temanku suka menulis cerpen. Haha.
Sudah kuduga, aku memang suka
sama dia (temanku)!
0 comments:
Posting Komentar