Minggu, 31 Januari 2016

SODRIEW - Part 3


Yow. Wana disini. Maaf baru nge-publish SODRIEW lagi. Melawan rasa malas itu lebih sulit dari yang dikira. Maaf gua meremehkan lu, tuan setan. Anyway, selamat baca SODRIEW Part 3. Pesan dari gua: jangan percaya. Karena, yah, di dunia ini gak ada yang pasti. Terakhir, selamat membaca!

Arsa, Sarah, dan Awan semakin sering berkumpul. Kini sebagai sebuah kesatuan: SODRIEW namanya. Itu nama yang Arsa berikan. Artinya, kebalikan dari WEIRDOS: orang-orang aneh. Arsa sudah menceritakan rencananya secara umum. Kini, SODRIEW telah bergerak untuk “bermain” di sekolah itu. Secara diam-diam tentunya.

Sarah, yang memiliki kemampuan komunikasi yang paling baik, diangkat menjadi humas. Ia belum berubah. Masih seorang cewek yang periang dan tidak jelas. Tugasnya adalah, mencari orang yang butuh bantuan, atau teman. Ia membuat koneksi dengan mereka. Sekaligus merekrut orang-orang yang sejenis, dalam tingkatan yang sama. Saat itu, Sarah memanfaatkan ekskulnya untuk berkenalan dengan orang dari berbagai kalangan. Tapi tidak yang terlalu eksis – kecuali harus.
Arsa waktu itu bilang: “SODRIEW, kita, akan melakukan eksperimen terhadap perasaan. Terhadap kesan! Kita akan mempermainkan perasaan orang. Membuat mereka mempertanyakan kesan apa yang harus diberikan kepada kita. Karena itu...”
Karena itu Sarah selalu memberikan kesan pertama yang tidak baik, tapi tidak buruk. Hanya, aneh. Penjelasan Arsa: “Kesan pertama itu seringkali tidak penting! Karena selalu ada kesempatan untuk merubah kesan seseorang terhadap kita. Yang penting adalah: seberapa berkesan kita kepada orang itu!” Jadi, karena menurut Sarah, ia tak mungkin memberikan kesan baik yang kuat ke setiap orang, ia memilih kesan lain. Secara konsisten, memperkenalkan dirinya sebagai seorang freak. Dan kata Arsa, “kalau sudah berkesan, akan mudah untuk mengubah kesan buruk menjadi kesan baik. Kalau kertas hitam terkena tinta putih sedikit saja, akan terlihat dengan jelas!”
Dan Arsa tau: Sarah akan sangat menikmati perannya.
Setelah beberapa lama, usaha Sarah membuahkan hasil. Ia pun terkenal sebagai orang paling aneh yang ada di sekolah itu. Kini ia sudah mencapai sebuah checkpoint bagi keseluruhan rencana SODRIEW. Part-1, menjadi dikenal oleh seluruh anak sekolah, kini sudah selesai. Ketika itu tugas Arsa dan Awan masih sedikit. Sehingga mereka jarang muncul. Mereka lebih sering istirahat dan main ketika Sarah bekerja. Dan Sarah tidak masalah dengan itu. Karena Arsa bilang: semua akan mendapat bagian.
-
“Gimana, Sar? Rasanya dianggap sebagai orang aneh?” Arsa bertanya. Pada Sabtu pagi yang berawan, mereka mengobrol sambil duduk di samping gedung Balai Kota. Angin sepoi-sepoi dan suara kereta sesekali datang. Itu salah satu tempat yang biasa Arsa datangi.
“Menyenangkan! Orang-orang benar-benar percaya kalau aku se-aneh itu!” jawab Sarah dengan semangat. Dalam hati, Arsa benar-benar ingin mengatakan: kamu sih memang aneh beneran! Tapi ditahan. “Coba saja, Sa. Enak lho, ketika orang-orang meremehkan kita. Rasanya lucu. Selalu terpikir: ‘mereka akan berpikir apa ya kalau aku mencoba serius?’ Begitu.” Tambahnya.
“Tapi kamu sadar ‘kan kalau banyak orang yang ngomongin kamu? Ngomongin yang gak bener loh. Kamu dikata-katain tau. Malah sering juga orang-orang ngehina orang lain pakai nama kamu.” Kata Awan. “Aku sedikit kurang nyaman sebenarnya. Soalnya kamu tidak seperti yang mereka bilang, Sar.” Katanya lagi.
“Huahaha! Santai bos! Aku sama sekali tidak peduli! Huehe!” kedua tangan Sarah menyilang dan membentuk pose seperti fans Persikabo. Ia memang terlihat tidak peduli. Tapi entah bagaimana sebenarnya. “Aku percaya pada kak Arsa. Ia akan mengembalikan nama baikku!” Sarah melakukan spin.
“Kak?” Arsa tertawa kecil. “Sebenarnya nanti kamu sendiri yang akan memperbaiki nama baikmu, Sar. Nanti kamu sendiri akan memperlihatkan sisi baikmu.” Katanya.
“Kalau aku tidak mau?” tanya Sarah. “Aku sudah nyaman begini, kak.”
“Mau tidak mau. Suasana, maksudku, situasinya akan membuatmu berubah.” Jawab Arsa. “Kamu juga, Wan, pasti akan berubah.” Katanya sambil melihat Awan yang melihat awan.
“Memangnya kamu bisa buat aku berubah? Aku saja tidak bisa merubah diriku sendiri.” Awan masih menatap langit. “Aku jamin, pasti akan sulit, Sa.” Ia lalu menengok ke Arsa.
“Aku tidak akan melakukannya sendiri. Aku akan meminta bantuan alam.” Jelas Arsa.
“Sebegitunya.” Awan sedikit terkekeh. Agak merasa kalau itu tidak jelas. “Memangnya mau merubahku jadi seperti apa? Jadi orang baik?” tanya Awan.
“Bukan, kok. Kalau soal baik, kamu sudah lebih baik dari kebanyakan orang.” Arsa jujur. Yah, menurutnya, orang-orang yang ‘bisa’ terbawa perasaan itu tidak baik. Jawaban ini sedikit membuat Awan senang. Tapi ia sedikit berpikir kalau Arsa tidak serius.
“Lalu? Aku harus berubah jadi seperti apa?” tanya Awan. Ia melihat Arsa dengan tatapan yang serius, walau dengan senyum. Senyum yang sampai kapan pun, akan terlihat sinis.
Arsa tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Ia melihat ke langit yang kelabu untuk beberapa waktu. Menyusun kata-katanya sambil melakukan pernafasan rutinnya. Lalu ia mengatakan yang selama ini ia pikirkan: “Kamu yang sekarang tidak terlalu hidup. Tidak punya alasan, tidak punya tujuan,” lalu jeda. Lalu dilanjutkan, “kamu seperti robot! Aku tidak suka itu.” Kata Arsa. “Yang ingin kuubah darimu, adalah ‘ketidakmampuanmu untuk percaya’. Aku ingin kamu bisa percaya pada sesuatu. Apapun itu.”
Sarah yang tidak biasa dengan percakapan sulit macam ini hanya bisa tertegun. Dalam hatinya berkata: “Wiih Arsa kereeen!!” Ia tersenyum sambil mengangguk kecil.
Sebagai informasi, karena kalian belum mengenal Awan, aku akan memperkenalkannya sedikit.
Awan adalah orang yang sangat melankolis. Orang yang sangat peka. Tapi setelah mengalami kecelakaan kereta yang sangat janggal, ia menjadi seorang peragu yang andal. Ia tidak bisa lagi percaya pada apapun. Ia selalu melihat ketidakpastian dalam suatu kemungkinan. Walaupun peluang berhasilnya lebih besar, ia selalu melihat kemungkinan terburuknya: gagal. Karena itu juga ia tidak mau berharap -- meskipun selalu berharap. Kini ia masih berjalan di dunia abu-abu. Merasa kalau ia belum menemukan ‘satu kebenaran sejati’, dimana objektivitas dan subjektivitas tidak berlaku.
“Memangnya perlu percaya pada sesuatu, Sa? Kemungkinan untuk kita mempercayai hal yang benar itu hampir selalu lebih kecil, lho. Bagaimana kalau kita mempercayai hal yang salah?” tanya Awan. Agak sinis.
“Terkadang, menurutku tidak apa-apa. Tujuan utama kita hidup adalah untuk mencapai tujuan kita kan? Kalau tidak punya tujuan, kita tidak akan memiliki batasan. Tidak ada batasan berarti tidak adanya kejelasan. Untuk apa melakukan kehidupan yang tidak jelas?” tanya Arsa.
Ah, Arsa memang pandai bicara. Padahal ia sendiri tidak punya tujuan. Ia bahkan tidak merasakan apa-apa. Lebih parah dari Awan yang masih bisa merasa sedih dan galau. Apa ia tidak sadar? Huft.
            “Aku tidak yakin kalau kamu benar-benar mengerti apa yang aku maksud, Sa.” Kata Awan. “By the way, aku memang berpikir kalau dunia ini tidak memiliki kejelasan, sih. Mau bagaimana lagi?” kata Awan. 
            “Aku justru yakin kalau kamu tidak mengerti apa yang aku maksud. Kenapa aku ingin kamu berubah.” Arsa tersenyum.
            "Oke, begini saja. Aku akan menanyakan pertanyaan-pertanyaan. Pertanyaan pertama: Apa itu kenyataan?" tanya Awan. Sebenarnya, itu pertanyaan retoris, sih.
            "Hmm. Segala sesuatu yang benar-benar terjadi?" Jawab Arsa dengan nada seperti bertanya.
            "Yap. Tidak salah. Tapi apa yang benar-benar terjadi? Belum tentu yang bisa ditangkap oleh indera kita, 'kan?" tanya Awan lagi.
            "Yap." Jawab Arsa.
            "Lalu, kenyataan itu harus objektif kan?" tanya Awan lagi.
            "Pastinya." Jawab Arsa.
            "Lalu, apa itu objektivitas?" tanya Awan lagi.
            "Hmm. Sesuatu yang sesuai dengan kenyataan?" Jawab Arsa.
            "Kenyataan versi siapa? 'Kan kenyataan tidak pernah hanya satu versi." Tanya Awan.
            "Yaa yang dianggap benar menurut lebih banyak orang, mungkin?" Arsa bertanya balik.
            "Kalau mengikuti pendapat orang, berarti kenyataan itu subjektif, 'kan? Hanya sebuah subjektivitas massal?" Tanya Awan.
            Arsa berpikir.
            "Kalau begitu, berarti tidak ada yang objektif, 'kan? Sedangkan kalau tidak objektif, tidak bisa disebut kenyataan, 'kan? Dunia ini sudah jelas tidak jelas, Sa!" kata Awan lagi.
            "Mungkin memang begitu." kata Arsa.
            "Kalau begitu, apa yang bisa dipercaya? Bagaimana jika subjektivitas massal itu salah? Bagaimana jika aku yang salah? Bagaimana jika semua salah dan satu kebenaran sejati belum ditemukan? Bukankah semua yang kita lakukan akan sia-sia? Apakah hidup kita bertujuan untuk menyingkap kebenaran? Tapi apa itu kebenaran? Apakah kebenaran kita benar-benar kebenaran? Bagaimana cara mencari tau tingkat kebenaran dari kebenaran? Apakah hanya dengan dipikirkan kita bisa menyimpulkan? Apakah pemikiran kita itu sendiri merupakan kebenaran? Apakah sesuatu yang dianggap benar oleh kebanyakan orang adalah kebenaran? Apakah hanya itu caranya? Semua terlalu abstrak! Bagaimana caranya aku bisa tidak ragu, kalau keadaannya seperti ini?" Rem di mulut Awan sedikit blong. Dan melihat Arsa yang terlihat sedang berpikir, ia benar-benar merasa kalau Arsa belum berpikir sejauh itu.
            Tapi lalu Arsa bertanya: “Kalau kamu merasa kalau hidup itu sudah pasti tidak jelas, kenapa kamu memilih untuk hidup?” tanya Arsa. Pasti ada suatu hal yang membuatmu berpikir kalau hidup pantas dilakukan, 'kan? pikir Arsa.
            “Yaa itu karena-“
            “Karena mati jauh lebih tidak jelas kan?” Sarah memotong pembicaraan. “Kalau ngumpul begini semuanya harus ngobrol, laah~ Aku dicuekin terus, nih! Kapan mau mulai rapat strategi selanjutnya? Sebentar lagi aku Paskib.” kata Sarah. Ia berpura-pura ngambek.
            “Hehe maaf ya, Sar. Yasudah kita mulai, ya. Tolong semuanya duduk.” Arsa dan Awan memperbaiki posisi duduk mereka. Sarah yang sejak tadi berputar-putar juga duduk. Meski tidak diam. “Sarah, kamu ‘kan cerdas, nih. Salah satu yang paling cerdas di sekolah ini. Tolong nanti ikut tes IQ yang diadakan sekolah ini. Kalau bisa, dapatkan nilai yang tinggi. Ini penting untuk merubah pemikiran anak sekolah. Ketika mereka mulai meragukan pemikiran mereka tentangmu, kita akan sangat mudah menanamkan pemikiran baru.” Jelas Arsa. “Dan merubah pemikiran mereka semua, adalah rencana part-2 kita.” Lalu Arsa melihat ke arah Awan lalu berkata: “Awan, saatnya kamu muncul.”
            Semua pandangan tertuju pada Awan. Sarah sangat senang mendengarnya. Ia mengucapkan sebuah “wiii...iiih” yang tidak berhenti sampai 10 detik. Sedangkan Awan tampak lebih tenang. Dan dengan pembawaan yang calm, hanya mengatakan satu kata: “Okay.”
            Setelah itu, rapat pun berlanjut. Setelah mendengar secara lengkap rencana Arsa, Awan, seperti biasa, tidak terlalu percaya. Tetapi jauh di dalam dirinya timbul doa:
Semoga rencana Arsa benar-benar bisa merubahnya.

0 comments:

Posting Komentar

Hubungi kami :

Twitter : @APAksara

Email : apaksara3@gmail.com

HP : 085773226995

Instagram: kapas3.aksara

Twitter

Translator