Jumat, 08 Januari 2016

Untuk Temanku yang Hebat


Aku punya seorang teman. Jujur, dibilang teman pun sebenarnya kami jarang berkomunikasi. Aku ingat terakhir kali aku berkomunikasi dengannya itu saat tahun baru kemari, hanya sekedar mengucapkan selamat tahun baru dan sebagainya. Anak ini berasal dari pulau sebrang, tempat yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya. Sekarang ia tinggal dengan saudaranya. Disini aku tidak akan bercerita banyak tentangnya, karena jujur, sebagai teman aku tidak banyak tau tentang dirinya.

          Dulu aku mengenalnya sebagai anak yang hebat, anak yang memiliki pemikiran luar biasa, anak baik-baik dari keluarga yang baik-baik. Dan sampai saat ini aku masih mengenalnya seperti itu. Aku ingat sekali dulu dia pernah bilang kalau selama ia tinggal dengan ayah dan ibunya disana, ia tidak pernah minum minuman bersoda atau junk food. Saat mendengarnya aku langsung bereaksi "wow" walaupun hanya didalam hati.

          Seingatku dia kesini karena ingin membuktikan sesuatu ke ayahnya. Membuktikan kalau dia bisa mandiri, bisa sukses disini. Baru kali ini kutemukan tujuan besar seperti itu di anak remaja yang masih labil berusia 15-16 tahun seperti ini.

          Tapi ini kota yang keras, teman.

          Dengan beberapa bulan, secara perlahan-lahan aku tau kau tergoda dengan kesenangan di kota ini. Meskipun ini bukanlah kota metropolitan seperti ibukota. Kau terbawa teman-teman nakalmu yang sampai sekarang aku sama sekali tidak rela membiarkanmu dipengaruhi mereka.Yang membuatku setiap bertemu denganmu melontarkan kalimat-kalimat sarkastik, yang aku sendiri sadar, itu menyakiti perasaanmu.

          Tapi teman percayalah, aku mengatakannya karena aku menyayangkan dirimu yang sudah terpengaruh oleh mereka.

          Sebenarnya aku sangat berharap kau membaca ini. Sebenarnya pula tujuanku membuat ini untuk menghiburmu, tapi sepertinya malah berubah menjadi menasihatimu (lagi). Sekarang aku ingin benar-benar menghiburmu. Bacalah dengan baik. Jangan remehkan satu katapun yang kutuliskan, karena tulisan ini berasal dari seseorang yang berpengalaman. Ketahuilah teman, aku sudah mengalaminya dua kali. Jadi tolong jangan remehkan aku.

          Apa yang sudah diambil oleh Tuhan tidak akan kembali lagi. Apa yang sudah termakan oleh waktu juga tidak akan dimuntahkan lagi. Hidup ini tidaklah seperti video player yang bisa di rewind.

          Aku mengerti sekali perasaanmu saat ini. Kata-kata penghibur seperti itu terasa hambar di telinga, karena kau merasa tidak ada yang mengerti betapa sedihnya dirimu, karena kau merasa tidak ada orang yang pernah mengalami bagaimana jadi dirimu. Tapi ingatlah teman, masih banyak di bumi yang dihuni oleh milyaran manusia ini mengalami hal yang lebih buruk daripada dirimu. Kau tidak akan pernah tau, kalau ada beberapa orang di sekitarmu yang telah melewati masa yang lebih sulit dari dirimu.

          Karena sekarang aku sudah menyadarkanmu, jadi bacalah lagi kata-kata itu dan cernalah. Aku yakin kau merasakan penyesalah yang menumpuk. Meskipun teman-teman nakalmu sudah mempengaruhi dirimu, aku tau kau masih memiliki perasaan tanggung jawab kepada orang tuamu didalam hati kecilmu itu. Aku bisa merasakannya setiap kali kau berbicara denganku. Membicarakan dirimu yang sedikit demi sedikit, meskipun sangat sedikit, berusaha untuk mengurangi kenakalanmu itu demi ibumu yang sedang menunggu kabar kesuksesanmu di rumah.

          Aku ingin kau terus mengingat penyesalanmu itu. Dengan penyesalan itu, aku ingin kau berubah menjadi lebih baik. Gunakan penyesalan itu sebagai tongkat untuk berjalan. Gunakan penyesalan itu sebagai papan untuk berseluncur. Gunakan penyesalan itu sebagai roket yang mengantarkanmu ke bulan.

          Aku sudah mengalaminya dua kali, teman. Dan aku memiliki banyak penyesalan untuk keduanya. Aku tidak ingin penyesalan seperti ini bertambah banyak, jujur aku tidak sanggup memikulnya. Karena itu aku menjadi seperti ini. Menjadi manusia yang, mudah-mudahan, tidak akan meninggalkan penyesalan jika salah satu orang yang kusayangi diambil lagi dari kehidupanku. Atau mungkin aku duluan yang meninggalkan mereka.

          Sepertinya aku malah berakhir menasihatimu lagi bukannya malah menghibur. Kalau begitu ingatlah aku sebagai teman yang cerewet menasihatimu.

          Aku bukanlah seorang penghibur yang baik. Meng-copy paste di grup angkatan saja aku tidak berani. Aku tau kau sudah memiliki seorang perempuan yang akhir-akhir ini menghiasi hidupmu, yang bisa menghiburmu lebih baik dari diriku. Aku juga tau kau memiliki banyak teman yang bisa membuatmu merasa lebih baik. Meskipun begitu aku ini tetap temanmu. Sebagai teman, aku tidak bisa diam saja tanpa mengatakan apapun. Tapi hanya inilah yang bisa kukatakan kepadamu di situasi seperti ini.

Cepatlah kembali FEP dan buktikan bahwa kau bisa merubah dirimu menjadi lebih baik, menjadi manusia yang hidup tanpa menambah penyesalan yang ada.




0 comments:

Posting Komentar

Hubungi kami :

Twitter : @APAksara

Email : apaksara3@gmail.com

HP : 085773226995

Instagram: kapas3.aksara

Twitter

Translator