Kamis, 21 Januari 2016

Sedikit Tentangku


Terima kasih. Berpuluh terima kasih untuk stop kontak rusak yang telah berbaik hati untuk tidak rusak malam ini. Beratus terima kasih untuk semua ucapan duka dari semua teman maupun orang yang ku kenal. Beribu terima kasih untuk sahabat yang selalu ada buatku, walaupun aku sulit untuk melakukan hal yang sama. Berjuta terima kasih untuk keluarga yang selalu bersamaku dalam suka dan duka. Bermiliar terima kasih untuk orang yang sangat peduli sampai-sampai menulis tentang diriku yang kuanggap sebagai hiburan paling berkesan dalam duka ini. Dan tidak lupa, terima kasih tak berbatas kepada Tuhan Yang Maha Adil yang memberikan banyak pelajaran hidup dimanapun aku berada. Terima kasih.
Sedikit Tentangku. Tak banyak yang harus aku ketik tentang diriku. Tulisan ini mungkin lebih berfungsi sebagai jembatan aku dan anda. Aku menulis ini agar mereka yang menulis tentangku tetap percaya. Tetap percaya bahwa aku adalah aku. Kau menuliskan tentangku itu terlalu baik teman. Aku tak sebaik apa yang kau kira. Aku juga tak seburuk apa yang kau pikir. Aku adalah aku. Tapi jujur, tulisanmu indah. Membawa aku terbang kedepan dan kembali meraba mimpiku yang hampir hilang. Terima kasih lagi.
Hampir 18 tahun aku hidup. Menemukan banyak kecurangan, kejahatan, kepahitan, kesedihan, kebahagiaan, canda tawa, tantangan dan banyak hal tak ternilai lainnya. Mereka melebur bersama hembusan nafas yang pada akhirnya sekarang membentuk diriku. Semua hal membuatku belajar. Sangat banyak belajar. Bahkan aku yakin, pelajaran ini jauh lebih penting dari apa yang ku dapat dari sekolah. Terlalu berharga.
Hari itu, hari dimana aku mulai memikirkan masa depan. Aku terpaku di depan TV dan membayangkan apa aku akan tetap disini. Terpaku dalam segalam macam kemudahan yang mungkin akhirnya membunuhku. Merenung dan berpikir, apakah dunia ini akan sama tanpa mereka. Setidaknya tanpa sosok mereka yang selalu menjagaku dari mulai aku hadir dalam goresan test pack. Pikiran-pikiran semacam itu yang akhirnya menerbangkanku kesini. Ke pulau seberang. Mencari jati diri laki-laki dalam diriku sebagai khalifah di dunia yang tak lagi punya telinga. Bermimpi terlalu tinggi hingga aku lupa, aku terlalu mandiri.
Mungkin banyak orang yang berpikir mandiri itu baik. Bagiku, apapun yang berlebihan akan berujung tak baik. Sama halnya dengan terlalu mandiri. Terbuai dengan kesendirian dan melupakan arti penting keluarga. Jarang mengangkat telpon mereka dan malah seringnya menelpon mereka ketika butuh sesuatu. Aku mengidap jenis kemandirian yang tak baik. Hingga akhirnya aku bertemu dengan fakta pahit, aku benar-benar tak akan bisa lagi mendengar suara salah satu dari mereka.
Beberapa temanku tahu (beberapa tahu benar) tentang bagaimana hubunganku dengan Ayah. Salah satu alasan aku berani mandiri adalah dia. Membuktikan padanya bahwa aku bukan anak biasa. Tak seperti anak lain, kasih sayang kepada Ayah bagiku tak  harus seperti menanyakan kepadanya arti hidup, selalu mendengar nasihatnya, menanyakan pelajaran yang tak dimengerti, ataupun pergi menonton bersama ke Mall. Bagiku, ada hal yang jauh lebih baik. Pergi menuntut ilmu sejauh ini adalah bukti kasih sayangku kepadanya. Dan membiarkan ku pergi adalah bukti dia menyayangiku.
Kini, gilirannya membuktikan kasih sayang dengan cara yang tak biasa. Dia pergi dengan tenang dan membiarkanku menanggung tanggung jawabnya kepada keluarga yang selama ini dia emban tanpa keluh. Rasa sayang itu kini menusukku jauh dalam hingga aku tersedak. Tersedak kasih sayang. Aku pun menangis.
Aku percaya di dunia ini ada rasa sayang yang kekal. Aku percaya karena sekarang aku merasakannya. Lebih dari terasa di dalam dada. Lebih dalam dari lubuk hatiku. Yang memaksaku kini untuk menggali jauh lebih dalam. Agar tak kalah dalam dari rasa sesal.
Duhai teman yang baik hatinya, kau benar. Hidup ini tak seperti video player yang dapat di rewind. Apa yang sudah ditelan waktu takkan dimuntahkannya lagi. Apa yang sudah diambil Tuhan takkan dikembalikan lagi. Tapi ada satu hal yang kau lewatkan teman. Ketika Tuhan bersama waktu telah mengambil satu hal dari kita, sebenar-benarnya Ia telah memberikan beribu hal sebagai gantinya. Tangisan adalah janji-Nya untuk kebahagiaan tak terkira, penyesalan adalah anugerah yang selalu kita pikir membunuh, dan rasa sakit mendalam adalah bukti bahwa Pena-Nya tengah menulis takdir indah yang harus kita baca. Terdengar klise, tapi aku berharap aku, kau dan mereka yang senasib dengan kita bisa merasakannya.
Tentang bagaimana aku bergaul memang tedengar sedikit mengejutkan. Aku memilih ini karena memang aku telah terbuai. Aku lupa batas dimana aku memijak. Batas yang telah digoreskan keluarga dari dulu. Aku telah menginjak luar batas sedikit demi sedikit. Aku bahkan tak sadar dengan apa yang telah terjadi dengan batas itu sekarang. Batas yang dulu sempat memburam kini tergores lebih dalam lagi. Membuatku sadar aku sudah kelewatan. Aku terbuai teman. Tapi belum terlalu mabuk untuk sadar.
Tentang diriku yang sekarang. Aku sedang berdiri di atas kuda yang kakinya pincang. Kuda itu matanya bengkak. Hidungnya berair. Bahkan rambutnya kusut. Tak jauh dari depan kami, ada sebuah lubang dalam. Aku dan kudaku berhenti sebentar. Aku turun dan berbisik padanya. “Kita tak kalah hanya karena satu kesalahan. Kita tak mati hanya karena separuh dari kita kini tak bernyawa. Kita tidak menyerah pada lubang itu. Kita tak tahu apa yang kita hadapi di depan. Yang jelas kita pasti berhasil ! ”

Semangat ini semoga tertular kepada siapapun yang bernasib sama sepertiku. Tak banyak berharap, semoga justru semua yang membaca tertular. Ketika kita kehilangan banyak orang yang disayang. Ketika kita merasa benar-benar sendiri di dunia. Jangan pernah menahan air mata, rasa sesal dan rasa sakit itu. Biarkan mereka bebas di alam ini. Dan kembali ingat, mereka akan tumbuh bersamamu dan membentuk dirimu yang lebih baik dari orang biasa. 

0 comments:

Posting Komentar

Hubungi kami :

Twitter : @APAksara

Email : apaksara3@gmail.com

HP : 085773226995

Instagram: kapas3.aksara

Twitter

Translator