Terima kasih. Berpuluh terima
kasih untuk stop kontak rusak yang telah berbaik hati untuk tidak rusak malam
ini. Beratus terima kasih untuk semua ucapan duka dari semua teman maupun orang
yang ku kenal. Beribu terima kasih untuk sahabat yang selalu ada buatku,
walaupun aku sulit untuk melakukan hal yang sama. Berjuta terima kasih untuk keluarga
yang selalu bersamaku dalam suka dan duka. Bermiliar terima kasih untuk orang
yang sangat peduli sampai-sampai menulis tentang diriku yang kuanggap sebagai
hiburan paling berkesan dalam duka ini. Dan tidak lupa, terima kasih tak
berbatas kepada Tuhan Yang Maha Adil yang memberikan banyak pelajaran hidup
dimanapun aku berada. Terima kasih.
Sedikit Tentangku. Tak banyak
yang harus aku ketik tentang diriku. Tulisan ini mungkin lebih berfungsi
sebagai jembatan aku dan anda. Aku menulis ini agar mereka yang menulis
tentangku tetap percaya. Tetap percaya bahwa aku adalah aku. Kau menuliskan
tentangku itu terlalu baik teman. Aku tak sebaik apa yang kau kira. Aku juga
tak seburuk apa yang kau pikir. Aku adalah aku. Tapi jujur, tulisanmu indah.
Membawa aku terbang kedepan dan kembali meraba mimpiku yang hampir hilang.
Terima kasih lagi.
Hampir 18 tahun aku hidup.
Menemukan banyak kecurangan, kejahatan, kepahitan, kesedihan, kebahagiaan, canda
tawa, tantangan dan banyak hal tak ternilai lainnya. Mereka melebur bersama
hembusan nafas yang pada akhirnya sekarang membentuk diriku. Semua hal
membuatku belajar. Sangat banyak belajar. Bahkan aku yakin, pelajaran ini jauh
lebih penting dari apa yang ku dapat dari sekolah. Terlalu berharga.
Hari itu, hari dimana aku mulai
memikirkan masa depan. Aku terpaku di
depan TV dan membayangkan apa aku akan tetap disini. Terpaku dalam segalam
macam kemudahan yang mungkin akhirnya membunuhku. Merenung dan berpikir, apakah
dunia ini akan sama tanpa mereka. Setidaknya tanpa sosok mereka yang selalu
menjagaku dari mulai aku hadir dalam goresan test pack. Pikiran-pikiran semacam itu yang akhirnya menerbangkanku
kesini. Ke pulau seberang. Mencari jati diri laki-laki dalam diriku sebagai
khalifah di dunia yang tak lagi punya telinga. Bermimpi terlalu tinggi hingga
aku lupa, aku terlalu mandiri.
Mungkin banyak orang yang
berpikir mandiri itu baik. Bagiku, apapun yang berlebihan akan berujung tak
baik. Sama halnya dengan terlalu mandiri. Terbuai dengan kesendirian dan
melupakan arti penting keluarga. Jarang mengangkat telpon mereka dan malah
seringnya menelpon mereka ketika butuh sesuatu. Aku mengidap jenis kemandirian
yang tak baik. Hingga akhirnya aku bertemu dengan fakta pahit, aku benar-benar
tak akan bisa lagi mendengar suara salah satu dari mereka.
Beberapa temanku tahu (beberapa
tahu benar) tentang bagaimana hubunganku dengan Ayah. Salah satu alasan aku
berani mandiri adalah dia. Membuktikan padanya bahwa aku bukan anak biasa. Tak seperti
anak lain, kasih sayang kepada Ayah bagiku tak harus seperti menanyakan kepadanya arti hidup,
selalu mendengar nasihatnya, menanyakan pelajaran yang tak dimengerti, ataupun
pergi menonton bersama ke Mall. Bagiku, ada hal yang jauh lebih baik. Pergi
menuntut ilmu sejauh ini adalah bukti kasih sayangku kepadanya. Dan membiarkan
ku pergi adalah bukti dia menyayangiku.
Kini, gilirannya membuktikan
kasih sayang dengan cara yang tak biasa. Dia pergi dengan tenang dan membiarkanku
menanggung tanggung jawabnya kepada keluarga yang selama ini dia emban tanpa
keluh. Rasa sayang itu kini menusukku jauh dalam hingga aku tersedak. Tersedak
kasih sayang. Aku pun menangis.
Aku percaya di dunia ini ada rasa
sayang yang kekal. Aku percaya karena sekarang aku merasakannya. Lebih dari
terasa di dalam dada. Lebih dalam dari lubuk hatiku. Yang memaksaku kini untuk
menggali jauh lebih dalam. Agar tak kalah dalam dari rasa sesal.
Duhai teman yang baik hatinya,
kau benar. Hidup ini tak seperti video
player yang dapat di rewind. Apa
yang sudah ditelan waktu takkan dimuntahkannya lagi. Apa yang sudah diambil
Tuhan takkan dikembalikan lagi. Tapi ada satu hal yang kau lewatkan teman.
Ketika Tuhan bersama waktu telah mengambil satu hal dari kita, sebenar-benarnya
Ia telah memberikan beribu hal sebagai gantinya. Tangisan adalah janji-Nya
untuk kebahagiaan tak terkira, penyesalan adalah anugerah yang selalu kita
pikir membunuh, dan rasa sakit mendalam adalah bukti bahwa Pena-Nya tengah menulis takdir indah yang harus kita baca.
Terdengar klise, tapi aku berharap aku, kau dan mereka yang senasib dengan kita
bisa merasakannya.
Tentang bagaimana aku bergaul
memang tedengar sedikit mengejutkan.
Aku memilih ini karena memang aku telah terbuai. Aku lupa batas dimana aku
memijak. Batas yang telah digoreskan keluarga dari dulu. Aku telah menginjak
luar batas sedikit demi sedikit. Aku bahkan tak sadar dengan apa yang telah
terjadi dengan batas itu sekarang. Batas yang dulu sempat memburam kini tergores
lebih dalam lagi. Membuatku sadar aku sudah kelewatan. Aku terbuai teman. Tapi
belum terlalu mabuk untuk sadar.
Tentang diriku yang sekarang. Aku
sedang berdiri di atas kuda yang kakinya pincang. Kuda itu matanya bengkak.
Hidungnya berair. Bahkan rambutnya kusut. Tak jauh dari depan kami, ada sebuah
lubang dalam. Aku dan kudaku berhenti sebentar. Aku turun dan berbisik padanya.
“Kita tak kalah hanya karena satu
kesalahan. Kita tak mati hanya karena separuh dari kita kini tak bernyawa. Kita
tidak menyerah pada lubang itu. Kita tak tahu apa yang kita hadapi di depan.
Yang jelas kita pasti berhasil ! ”
Semangat ini semoga tertular
kepada siapapun yang bernasib sama sepertiku. Tak banyak berharap, semoga
justru semua yang membaca tertular. Ketika kita kehilangan banyak orang yang disayang.
Ketika kita merasa benar-benar sendiri di dunia. Jangan pernah menahan air
mata, rasa sesal dan rasa sakit itu. Biarkan mereka bebas di alam ini. Dan
kembali ingat, mereka akan tumbuh bersamamu dan membentuk dirimu yang lebih
baik dari orang biasa.
0 comments:
Posting Komentar