Rencana
SODRIEW kini masuk ke tahap dua. Tapi sebelum kita sampai kesana, aku ingin
sedikit menjelaskan peran Sarah di sekolah. Karena tanpa perannya di semester
satu - aku yakin - hasil dari SODRIEW akan berbeda sangat jauh. Sepertinya
mulai sekarang ia akan jarang muncul, jadi aku akan menjelaskannya disini.
Sebenarnya sangat sederhana.
Sarah pernah mengambil spidol dan membuat lingkaran besar di papan tulis kelas,
lalu menulis: “Pintu masuk ke dunia spidol! Kecepatan minimal 80 km/jam!” Di
kelas, Sarah pernah bertanya pada guru sejarah tentang hal yang bisa
membuktikan kalau semua yang mereka pelajari adalah benar dan bukan hoax.
Berpikir untuk membuat tempat minum dari kain, sengaja memperkenalkan diri
dengan nama yang salah, ikut banyak ekskul, selalu berkeliling sekolah, suka
menyendiri di tempat ramai, dan berteman dengan orang-orang yang, maaf, diremehkan.
Secara umum, cuma itu yang ia lakukan untuk menjadi aneh. Dan semua itu
dieksekusi dengan gerakan yang meyakinkan. Yah, seperti yang pernah Arsa
bilang, Sarah memang berbakat jadi aneh.
-
Tapi,
ini yang tidak banyak diketahui orang: Sarah tidak memilih untuk menjadi aneh
sejak awal masuk sekolah. Mungkin, dulu ia termasuk salah satu yang paling
semangat untuk sukses di sekolah. Seperti pada saat masa orientasi, misalnya.
Ia mengerjakan semua tugasnya sendiri. Walaupun memakan waktu berjam-jam, ia
tetap semangat. Seolah itu adalah hal paling menyenangkan di dunia. Ini adalah
sesuatu yang ditertawakan oleh tantenya. Dan sekarang, olehnya. Karena mungkin ialah
yang paling berharap mendapatkan pengalaman yang menarik; jauh lebih menarik
daripada SMP kecilnya dulu. Dan berharap ia akan mendapatkan kisah yang indah.
Yang bisa membuatnya lupa tentang tempat les-nya dulu.
Maka ia
pun melakukan semuanya dengan semangat. Ia mengerjakan tugas dengan serius.
Belajar lebih banyak, dan mencoba berteman dengan siapapun. Walaupun, sejauh
ini ia tidak menemukan teman yang ia inginkan; yang bisa diajak melakukan hal
keren apapun, bersama. Karena tak ditemukan, ia mencari. “Kalau di ekskul yang
eksis pasti orangnya biasa-biasa saja. Mungkin di ekskul yang peminatnya sedikit,
aku bisa menemukan yang keren?” Pikirnya. Tapi sepertinya, kualifikasi yang
Sarah pikirkan terlalu tinggi. Karena itu, ia terus mencari.
Dulu
Sarah itu ambisius. Ia ingin menjadi pemimpin. Saat kelas sementara, ia tidak
sengaja menjadi ketua kelas. Dan saat itu, sangat semangat menjalaninya. Ia
pikir, dengan begitu ia akan menjadi keren dan bisa berteman dengan orang yang
lebih keren. Sarah, dengan semangat, mencoba mewujudkan impian masa SMA yang selalu
ia bayangkan. Begitulah.
Tapi sebenarnya
Sarah bosan. Ia mengalami culture shock. Ia tidak mengerti cara bercanda di
sekolah ini. Permainan yang ada benar-benar berbeda dengan saat SMP. Karakter
orang-orangnya juga sangat jauh berbeda. Teman SMP-nya jauh lebih aneh (dan
seru). Dan diantara orang-orang yang sejak awal sudah berkelompok, Sarah datang
sendiri ke sekolah ini. Yah. Pada dasarnya, Sarah memang tidak terbiasa
berkomunikasi, tapi keterasingan ini semakin membuatnya merasa payah. Tapi ia
terus mencoba untuk serius. “Aku harus dan bisa berubah.” Pikirnya.
Tapi
semakin lama Sarah semakin bosan. Ia tidak menikmati kehidupan di sekolahnya.
Meskipun sering mendapat nilai sempurna untuk tugas dan ulangan harian, ia tidak bisa
merasa puas. Maka ia menjalani hari demi hari dengan bosan. Hingga suatu hari,
ia berdialog:
“Sebenarnya organisasi itu lebih
penting dari pelajaran, tau.” Kata temannya.
“Kalau begitu, ikut organisasi
aja kan?? Nggak usah belajar.” Kata Sarah, semangat.
“Kamu aja sendiri.” Kata temannya,
sinis.
Dan karena Sarah benar-benar
dalam keadaan negatif, kalimat tadi sudah cukup untuk membuatnya
benar-benar berpikir: “Mungkin memang lebih baik kalau aku sendiri.” Sebenarnya
agak bodoh, tapi benar-benar cuma karena ini.
Maka sesederhana itu Sarah
berubah. Ia lebih suka sendirian. Walaupun terus berteman dengan berbagai orang
dari berbagai ekskul, ia tak pernah mau membuka diri. Ia sekedar bercanda dan
mengobrol. Tak mau menjadi dekat. Tapi ia tetap ceria. Semakin terlihat ceria,
malah. Ia lebih suka mengobrol dengan dirinya sendiri dan hampir berhasil
membuat teman khayalan. Sarah juga sering mengomeli dirinya sendiri: “Jangan
berharap! Jangan sedih! Jadi ceria saja! Jangan sampai ada orang yang tau!”
Katanya. Maka ia terus begitu. Sarah pun seolah tak memikirkan apa-apa. Hanya
menjalani hari demi hari sesukanya. Dan karena itu, mulai aneh.
Lalu ia bertemu dengan Arsa dan
merasa cocok. Semakin ia kenal dengan Arsa, ia semakin melupakan impian masa
SMA-nya yang indah. Ia ingin seperti Arsa yang tidak merasakan apa-apa. Dan
cukup berhasil. Seminggu setelah mengenal Arsa, Sarah sudah tidak peduli
tentang sekolah sama sekali. Ia tak pernah belajar ataupun mengerjakan tugas
lagi (kecuali benar-benar harus). Bahkan isi tasnya pun hampir selalu kosong.
Karena ia ingin membuktikan pada temannya, kalau ia benar-benar tidak akan
belajar selama di SMA. Ia akan fokus bermain dengan berbagai kegiatan. Dan
karena berpikir seperti ini, ia menjadi semakin tidak sedih; meski tidak juga
bahagia. Karena, seperti Arsa, ia mulai mengabaikan perasaannya.
Karena pada dua bulan terakhir
semester satu Sarah tidak belajar sama sekali, ia hanya mendapatkan ranking 4
di kelas. Tapi meskipun begitu, Sarah mulai bisa menikmati sekolah lagi.
Meskipun sebenarnya, seolah tanpa bersekolah. “Tidak apa kan? Yang penting
tidak bosan.” Pikirnya. Maka sebenarnya saat SODRIEW terbentuk dan Arsa
menyatakan rencananya, Sarah-lah yang paling senang: akan ada hal yang bisa
menggantikan impian masa SMA-nya. Dan dengan semangat, ia selalu berpikir:
“Rencana ini harus kuselesaikan dengan sempurna!”
Dan harap diingat: semua yang
tertulis tentang Sarah diatas, ia lakukan dengan ceria.
-
Flashback
selesai. Sarah sudah dikenal oleh seluruh sekolah sebagai orang aneh – sesuai
rencana. Sederhananya, tahap kedua dari rencana adalah untuk mengubah kesan
negatif itu menjadi positif. Dan salah satu hal penting yang membuat ini
berhasil dilakukan adalah: pengumuman hasil tes IQ. Menurut tes itu, IQ Sarah
adalah yang tertinggi kedua di sekolah. Dan karena selama ini Sarah sudah
menjadi bahan pembicaraan, informasi ini pun menyebar dengan cepat. Dan setelah
itu, cara orang melihat Sarah berubah secara signifikan. Ia masih dianggap
aneh, tapi tidak aneh kalau dia aneh. Semua keanehannya jadi dianggap wajar,
karena mereka mulai berpikir: “Sarah itu sebenarnya jenius.”
Ini
sesuai dengan rencana Arsa. Ia pun menjelaskan: “Orang-orang selalu suka
melebih-lebihkan. Juga selalu suka membicarakan orang yang dianggap berbeda
dengan mereka, padahal mereka tidak benar-benar tau. Karena itu, kita akan
mudah memanipulasi kesan yang mereka punya. Sebenarnya mereka tidak tau harus
berikan kesan apa untuk kamu. Karena mereka tidak akan mengenal kamu, mereka
hanya bisa bertanya-tanya dan mengarang. Dan satu lembar kertas ini, karena
jelas, akan mereka anggap sebagai jawaban. Ini akan sangat berkesan. Dan dengan
ini, kesan negatif yang kamu punya akan dinetralkan, hampir secara total.”
Katanya pada Sarah.
Tidak
sampai dua minggu, keanehan Sarah sudah dapat diterima oleh semuanya. Dan
sesuai keinginan Sarah, ia bisa melakukan apapun semaunya. Semaunya, karena
apapun ia lakukan adalah wajar. Dan dengan efek tambahan yang semakin jelas:
orang yang mau dekat dengan Sarah, hanyalah orang yang payah, baik hati, atau
aneh. Tepat seperti yang Sarah mau. Dan dengan ini, Arsa telah memenuhi janjinya.
-
“Jadi
apa yang akan kita lakukan selanjutnya? Peranku apa?” Tanya Awan. Sarah juga
penasaran.
“Kita
akan mencari teman dan akan berinteraksi dengan orang lain.” Kata Arsa. “Sudah
saatnya kita merambah ke dunia nyata. Ini tahap paling penting dan harus
dijalani dengan hati-hati.” Katanya lagi.
“Kamu belum
menjawab pertanyaanku, loh.” Kata Awan.
“Oiya,
ya. Maaf.” Arsa tertawa kecil. “Nanti kamu tinggal melakukan yang biasa kamu
lakukan, kok. Buat saja apapun yang mau kamu buat. Kita akan menunjukkan ke
teman-teman kalau kita itu ‘berbakat’.” Kata Arsa. “Tapi sebelum itu, boleh aku
bertanya?” katanya lagi.
Awan
sebenarnya ingin berkomentar, tapi ia menahannya. “Silakan.” Katanya.
“Apa
saat ini ada orang yang kamu suka di sekolah ini?” tanya Arsa.
“Hah?” Awan
sedikit terkejut. “Ada sih. Tapi sepertinya sebentar lagi akan hilang.” Kata Awan.
Lalu Arsa
tersenyum. “Boleh kita diskusikan?” tanya Arsa. Retoris, seperti biasa. Karena dengannya, pilihan hampir tak pernah tersedia.
"Sebentar." Kata Sarah. "Peranku sudah mau habis ya?" Ia bertanya.
"Tidak akan pernah habis, Sar. Kamu itu inti dari SODRIEW. Lambang kita. Dan mulai sekarang pun, kamulah yang akan banyak berurusan dengan orang-orang!" Arsa menjelaskan.
"Heue.." Sarah lalu terdiam. "Aku perlu minta maaf tidak, sih? Sepertinya aku mengganggu kalian. Seharusnya kalian jadi lebih keren dari ini. Dengan menjadi temanku, kalian akan sulit juga mendapat teman, loh!" Katanya kemudian. "Bagaimana ya? Setelah benar-benar ada di keadaan ini, aku malah tidak ingin begini. Ah, bagaimana jelaskannya ya? Begitu deh intinya."
"Santai, Sar." Kata Awan. "Saat ini, aku memang tidak butuh teman."
"Dan ini masih bagian awal rencana, sih. Nanti akhirnya akan lebih nyaman kok." Kata Arsa. "Justru aku mau berterima kasih. Kalau tidak ada kamu, hal yang bisa kulakukan di sekolah ini pasti sedikit sekali!" Arsa tersenyum.
"Heue.." Sarah lalu tersenyum. "Terima kasih juga!!" Katanya. "Kalau tidak ada kalian, aku pasti sangat bosaan sekali! Cuma kalian yang mau menerima aku!" Sarah memasang wajah ngambek. "Kalau tidak ada kalian, aku bisa rusak!" Katanya lagi.
"Drama banget." Kata Awan, meledek.
"Biarin lah, Wan. Kan seru kalau ada drama?" Kata Arsa. "Nanti akan ada lebih banyak drama, kok. Aku jamin." Arsa masih tersenyum.
"Wiih kayaknya seru, tuh! Kapan, Sa??" Tanya Sarah.
"Kayaknya sih, waktu kita kelas 11. Sekarang aku mau fokus ke imej kita dulu." Jelas Arsa.
"Enak banget ya. Menentukan nasib kita semaunya." Awan menyindir. "Tapi karena sejauh ini hasilnya memuaskan, akan aku biarkan."
"Harus banget pakai rima, ya?" Arsa meledek.
"Rima menggambarkan kepribadian! Iya kan, Wan??"
Lalu mereka mengobrol seperti biasa. Membicarakan pemikiran secara spontan. Tidak ada yang disembunyikan. Dan karena itu, menjadi nyaman.
"Terima kasih." Katanya.
"Sebentar." Kata Sarah. "Peranku sudah mau habis ya?" Ia bertanya.
"Tidak akan pernah habis, Sar. Kamu itu inti dari SODRIEW. Lambang kita. Dan mulai sekarang pun, kamulah yang akan banyak berurusan dengan orang-orang!" Arsa menjelaskan.
"Heue.." Sarah lalu terdiam. "Aku perlu minta maaf tidak, sih? Sepertinya aku mengganggu kalian. Seharusnya kalian jadi lebih keren dari ini. Dengan menjadi temanku, kalian akan sulit juga mendapat teman, loh!" Katanya kemudian. "Bagaimana ya? Setelah benar-benar ada di keadaan ini, aku malah tidak ingin begini. Ah, bagaimana jelaskannya ya? Begitu deh intinya."
"Santai, Sar." Kata Awan. "Saat ini, aku memang tidak butuh teman."
"Dan ini masih bagian awal rencana, sih. Nanti akhirnya akan lebih nyaman kok." Kata Arsa. "Justru aku mau berterima kasih. Kalau tidak ada kamu, hal yang bisa kulakukan di sekolah ini pasti sedikit sekali!" Arsa tersenyum.
"Heue.." Sarah lalu tersenyum. "Terima kasih juga!!" Katanya. "Kalau tidak ada kalian, aku pasti sangat bosaan sekali! Cuma kalian yang mau menerima aku!" Sarah memasang wajah ngambek. "Kalau tidak ada kalian, aku bisa rusak!" Katanya lagi.
"Drama banget." Kata Awan, meledek.
"Biarin lah, Wan. Kan seru kalau ada drama?" Kata Arsa. "Nanti akan ada lebih banyak drama, kok. Aku jamin." Arsa masih tersenyum.
"Wiih kayaknya seru, tuh! Kapan, Sa??" Tanya Sarah.
"Kayaknya sih, waktu kita kelas 11. Sekarang aku mau fokus ke imej kita dulu." Jelas Arsa.
"Enak banget ya. Menentukan nasib kita semaunya." Awan menyindir. "Tapi karena sejauh ini hasilnya memuaskan, akan aku biarkan."
"Harus banget pakai rima, ya?" Arsa meledek.
"Rima menggambarkan kepribadian! Iya kan, Wan??"
Lalu mereka mengobrol seperti biasa. Membicarakan pemikiran secara spontan. Tidak ada yang disembunyikan. Dan karena itu, menjadi nyaman.
"Terima kasih." Katanya.
0 comments:
Posting Komentar