Malam ini, di pukul 20:00, akan kukisahkan sebuah perjalanan seorang anak manusia dalam
mengenal dunianya. Kalian tidak perlu banyak bepikir, silahkan nikmati saja
sambil minum teh. Sebenarnya aku tidak pandai bercerita, tapi akan kulakukan
sebaik mungkin agar kalian tidak kecewa.
Sebelumnya kalian harus mengenal terlebih dahulu siapa orangnya. Ah,
sebenarnya aku tidak boleh menyebut namanya, tapi kita bisa memanggilnya
Bintang.
‘kenapa?’ hahaha. Bukankah sudah kukatakan kalian tidak perlu berpikir? Haruskan
kalian bertanya alasanku menyebutnya Bintang? Kalian pasti sudah tau alasannya
kan? Tentu saja karena saat kalian melihatnya, ia sudah lama mati.
# # #
Saat itu Bintang berada di sebuah
ruangan yang hitam pekat. Ia tak tau sudah berapa lama ia berada disana. Bintang
terus berjalan mengelilingi ruangan itu. Dari apa yang ia sentuh, ruangan itu
memiliki empat buah sudut, tidak ada pintu, juga tidak ada jendela. Ia bahkan tak
tau bagaimana bisa ia berada disana. Ia terus berjalan hingga ia akhirnya mulai
berpikir bahwa sebenarnya ia tidak mengelilingi sebuah ruangan sama sekali.
Suatu ketika terpancar setitik cahaya
tak jauh darinya, mungkin lebih tepatnya di tengah-tengah ruangan gelap itu. Awalnya
Bintang tidak yakin apakah itu pertanda baik atau buruk. Pikirannya yang
terlalu rumit membuatnya diam membatu di tempatnya berdiri. Otaknya memutar
segala akibat yang mungkin terjadi jika ia mendekati cahaya itu. Kepalanya seperti
akan pecah. Rasa penasaran lah yang menggerakan kakinya mendekati lubang kecil
yang berpendar itu. Perlahan-lahan ia mendekati lubang itu, ingin rasanya ia
berbalik menuju dinding tadi, tapi ia takut cahaya itu menghilang jika ia
berbalik. Rasa takut lah yang membuat matanya tertuju hanya pada cahaya itu.
Kini ia sudah berada di dekat cahaya
itu. Karena terlalu terang, ia mencoba menutupinya. Dalam beberapa saat cahayanya
meredup, cahayanya yang sangat terang menembus daging jari telunjuk Bintang,
cahayanya jadi agak kuning kemerahan. Ya, hanya dalam beberapa saat saja karena
tiba-tiba saja cahaya itu melebar. Cahaya itu merambat ke seluruh lantai yang
seketika berubah jadi putih terang, lalu berambat ke dinding ruangan. Cahaya putih
itu bersinar terlalu terang hingga Bintang tak bisa melihat lagi dinding yang
selama ini ia sentuh.
Ruangan itu, entahlah bisa dikatakan
ruangan atau tidak, sangat amat luas hingga tak terlihat lagi ujungnya. Bintang
melihat keatas, ia yakin sekali ruangan tadi memiliki atap tapi kini yang ia
lihat adalah langit, karena ia tak tau lagi apakah ada batasannya atau tidak. Ia
terus melihat keatas mencari ujung atapnya itu sampai lehernya sakit karena
terlalu lama. Bintang berhenti melihat ke atas dan tiba-tiba di depannya sudah
ramai orang-orang.
“siapa kalian?” tanya Bintang setengah gemetar
setengah berteriak.
Salah satu diantara orang-orang itu
maju ke depan. “kami juga tidak tau,” katanya dengan tenang.
“kau sendiri siapa?” tanyanya kemudian.
“Bintang. Kau?”
“sudah kukatakan tidak tau. Ngomong-ngomong
Bintang, apa kau merasakannya?” ia mendekati Bintang dan berdiri di depannya.
“merasakan apa?”
“hm.. entahlah. Aku juga tidak mengerti, tapi
kurasa kita ini mirip.”
Bintang terkejut. “maksudmu?”
“entah. Kau mau pergi denganku?” tanyanya
tiba-tiba. Ia menawarkan tangannya yang putih dan sedikit lebih besar dari
tangan Bintang itu .
“kemana?”
“kau menyebalkan sekali. Sejak tadi yang kau
lakukan adalah bertanya dan bertanya. Tidak bisakah kau memikirkannya sendiri? Mau
ikut atau tidak?” tanya orang itu sekali lagi.
Bintang benar-benar tidak mengerti
apa yang sebenarnya sedang terjadi. Semuanya terjadi begitu cepat dan secara
tiba-tiba. Tapi, dalam situasi seperti ini, orang yang baru pertama kali ia
lihat itu bisa memaksanya menuruti kata-katanya dengan tenang dan tanpa
kecurigaan apapun. Semenjak Bintang menggenggam tangan orang itu, muncul sesuatu
dalam diri Bintang yang ia sendiri tidak tau bagaimana mengungkapkannya. Yang akhirnya
ia ketahui setelah perjalanan mereka berakhir, bahwa yang muncul dalam dirinya
itu adalah ‘ketergantungan’.
# # #
Perjalanan mereka sangat amat jauh,
butuh 12 tahun untuk menyelesaikannya. Dari perjalanan itu, Bintang mempelajari
banyak hal. Seperti bagaimana rasanya berada di dekat orang yang tak bisa ia
lampaui, bagaimana ia menyelesaikan pertengkaran pertamanya, bagaimana rasanya
sendirian, seperti apa rasanya ‘iri’ itu, seperti apa rasanya ‘kebahagiaan’
itu, seperti apa rasanya bisa memiliki seseorang yang bisa kau andalkan,
seperti apa rasanya ‘mandiri’ itu, seperti apa rasanya menjadi ‘seseorang yang spesial’,
seperti apa rasanya menjadi ‘bukan siapa-siapa’, bagaimana rasanya mencoba berubah,
bagaimana rasanya mengalami perubahan, bagaimana caranya menyimpan rahasia,
juga seperti apa rasa ‘sakit’ itu.
Semua itu ia pelajari dari
pengalamannya bergandengan tangan dengan orang itu. Dan sebenarnya masih banyak
lagi.
“kurasa sampai disini saja perjalanan kita.” Katanya
tiba-tiba sambil menghentikan langkah kakinya yang terasa semakin berat.
Bintang menatapnya lama. “benar-benar
sudah tidak bisa maju lagi?” tanyanya putus asa.
Orang itu tertawa kecil. “kau bodoh? Kau
pikir aku bisa menahan sakitnya menggenggam tanganmu lebih jauh lagi? Lihat! Bahkan
tanganmu penuh luka dan darah. Kau harus melepaskannya. Jalan yang kita ambil
menjadi bertolak sangat jauh. Aku tak mau demi berjalan sambil bergandengan
tangan denganmu, aku harus keluar dari jalanku. Aku juga tidak mau kau keluar
dari jalanmu demi diriku.”
Bintang tak membalasnya. Ia diam. Dirinya
penuh keraguan. Ia juga tak mau bertahan seperti orang bodoh.
“terima kasih,” ucap Bintang sambil menatap
mata orang itu. “kau tau? Karena dirimu aku bisa belajar banyak hal. Kau orang
yang hebat dan aku sama sekali tidak malu mengatakannya dengan lantang begini
langsung kepadamu. Aku tidak ingin menjadi dirimu, tapi setidaknya biarkan aku
menjadikanmu sebagai seseorang yang istimewa dalam hidupku.”
Orang itu langsung mengendus remeh. Ia
membuang wajahnya, tak ingin membuat Bintang melihat matanya yang berkaca-kaca.
“ingat ucapanku saat pertama kali kita bertemu?” tanyanya.
“yang mana?”
“yang kita ini mirip. Lagi-lagi, kau bahkan
tidak berusaha untuk mengingatnya dan langsung bertanya! Apa kau sudah merasakannya
sekarang?”
Bintang mengangguk. “awalnya aku sama
sekali tidak mengerti apa yang kau katakan,”
“aku juga sempat berpikir bahwa sebenarnya kita
ini sama sekali tidak mirip.” sambung orang itu.
“haha tentu saja. Kita ini sangat dekat tapi
tidak terlalu dekat. Rasanya seperti ada tembok besar yang kokoh di hadapan
kita,”
“tapi tentu saja ada lubang-lubang kecil di
tembok itu! Kadang-kadang aku yang melubanginya, kadang-kadang kau.”
“iya benar. Tembok itu kan yang membuatmu
berpikir kalau kita tidak mirip?”
Orang itu mengangguk. “tapi setelah
melihat lubang-lubang kecil itu, aku sadar kita ini sebenarnya terlalu mirip. Kau
pernah dengar kalau dua orang yang sangat mirip biasanya tidak bisa berhubungan
dengan baik? Kau tau mengapa?”
“karena terlalu mirip makanya jadi kesal, karena
rasanya seperti melihat diri sendiri.”
“tepat. Kau pikir aku mau disamakan olehmu?”
“tentu saja tidak. Karena aku juga tidak.”
Mereka kembali diam, mata mereka
sudah jauh ke depan tapi jari mereka masih terpaut satu sama lain.
“kau tidak mau melepaskannya duluan?” tanya
Bintang.
“kenapa tidak kau saja yang duluan? Selama ini
aku selalu menjadi yang pertama berusaha melepaskannya, sesekali kau lah.” Jawab
orang itu masih melihat ke depan.
“kau tau sendiri aku tidak pandai dalam
hal-hal seperti itu.”
Orang itu diam lagi.
“aku Bintang,” kata Bintang akhirnya memecah
keheningan. “dan kau adalah Gunung.”
Mendengarnya membuat orang itu melihat
kearah Bintang. “kenapa aku Gunung?”
“karena Gunung memiliki puncak. Karena Gunung
itu hawanya dingin. Karena Gunung itu teduh. Karena ke Gunung itu harus
melewati jalan yang berkelok-kelok, terjal dan penuh bebatuan.”
“itu yang kau lihat dariku? Setelah 12 tahun
ini?”
Bintang tersenyum puas. “aku akan
melepaskannya duluan. Setelah itu aku akan berlari tanpa melihat kearahmu lagi.”
Katanya dengan percaya diri.
“akhirnya.. cepatlah. Tanganku sakit.” orang
itu tersenyum melihat Bintang. Ia tak percaya bahwa orang yang sedang ia lihat
ini adalah orang yang sama dengan orang tak percaya diri, pemalu dan tak
memiliki keberanian yang ia temui dulu.
“karena kita sudah bersama-sama selama 12
tahun, ayo terus bersama-sama selama 50 tahun lagi.”
Bintang mengatakannya dengan wajah
serius. Tanpa senyum, tanpa kerutan apapun di dahinya. Lalu melepas tangannya
dan berlari ke depan.
Setelah itu ia tak pernah lagi mendengar
suara Gunung.
# # #
Begitulah kisahnya. Aku harap kisah Bintang tak begitu membosankan. Aku harap
juga kisah Bintang tak terdengar aneh dan menyedihkan di telinga kalian karena
aku tak begitu pandai menceritakannya. Dari kisah ini aku harap kalian tidak
seperti Bintang dan Gunung, karena mereka baru mengungkapkan kejujuran mereka
satu sama lain di akhir perjalanan mereka.
Bagaimana kisah kalian?
Bagaimana kisah kalian?
0 comments:
Posting Komentar