Minggu, 31 Juli 2016

Manusia dan Gunung




Malam ini, di pukul 20:00, akan kukisahkan sebuah perjalanan seorang anak manusia dalam mengenal dunianya. Kalian tidak perlu banyak bepikir, silahkan nikmati saja sambil minum teh. Sebenarnya aku tidak pandai bercerita, tapi akan kulakukan sebaik mungkin agar kalian tidak kecewa.

Sebelumnya kalian harus mengenal terlebih dahulu siapa orangnya. Ah, sebenarnya aku tidak boleh menyebut namanya, tapi kita bisa memanggilnya Bintang.

‘kenapa?’ hahaha. Bukankah sudah kukatakan kalian tidak perlu berpikir? Haruskan kalian bertanya alasanku menyebutnya Bintang? Kalian pasti sudah tau alasannya kan? Tentu saja karena saat kalian melihatnya, ia sudah lama mati.

# # #



          Saat itu Bintang berada di sebuah ruangan yang hitam pekat. Ia tak tau sudah berapa lama ia berada disana. Bintang terus berjalan mengelilingi ruangan itu. Dari apa yang ia sentuh, ruangan itu memiliki empat buah sudut, tidak ada pintu, juga tidak ada jendela. Ia bahkan tak tau bagaimana bisa ia berada disana. Ia terus berjalan hingga ia akhirnya mulai berpikir bahwa sebenarnya ia tidak mengelilingi sebuah ruangan sama sekali.

          Suatu ketika terpancar setitik cahaya tak jauh darinya, mungkin lebih tepatnya di tengah-tengah ruangan gelap itu. Awalnya Bintang tidak yakin apakah itu pertanda baik atau buruk. Pikirannya yang terlalu rumit membuatnya diam membatu di tempatnya berdiri. Otaknya memutar segala akibat yang mungkin terjadi jika ia mendekati cahaya itu. Kepalanya seperti akan pecah. Rasa penasaran lah yang menggerakan kakinya mendekati lubang kecil yang berpendar itu. Perlahan-lahan ia mendekati lubang itu, ingin rasanya ia berbalik menuju dinding tadi, tapi ia takut cahaya itu menghilang jika ia berbalik. Rasa takut lah yang membuat matanya tertuju hanya pada cahaya itu.

          Kini ia sudah berada di dekat cahaya itu. Karena terlalu terang, ia mencoba menutupinya. Dalam beberapa saat cahayanya meredup, cahayanya yang sangat terang menembus daging jari telunjuk Bintang, cahayanya jadi agak kuning kemerahan. Ya, hanya dalam beberapa saat saja karena tiba-tiba saja cahaya itu melebar. Cahaya itu merambat ke seluruh lantai yang seketika berubah jadi putih terang, lalu berambat ke dinding ruangan. Cahaya putih itu bersinar terlalu terang hingga Bintang tak bisa melihat lagi dinding yang selama ini ia sentuh.

          Ruangan itu, entahlah bisa dikatakan ruangan atau tidak, sangat amat luas hingga tak terlihat lagi ujungnya. Bintang melihat keatas, ia yakin sekali ruangan tadi memiliki atap tapi kini yang ia lihat adalah langit, karena ia tak tau lagi apakah ada batasannya atau tidak. Ia terus melihat keatas mencari ujung atapnya itu sampai lehernya sakit karena terlalu lama. Bintang berhenti melihat ke atas dan tiba-tiba di depannya sudah ramai orang-orang.

           “siapa kalian?” tanya Bintang setengah gemetar setengah berteriak.

          Salah satu diantara orang-orang itu maju ke depan. “kami juga tidak tau,” katanya dengan tenang.

           “kau sendiri siapa?” tanyanya kemudian.

           “Bintang. Kau?”

           “sudah kukatakan tidak tau. Ngomong-ngomong Bintang, apa kau merasakannya?” ia mendekati Bintang dan berdiri di depannya.

           “merasakan apa?”

           “hm.. entahlah. Aku juga tidak mengerti, tapi kurasa kita ini mirip.”

          Bintang terkejut. “maksudmu?”
           
           “entah. Kau mau pergi denganku?” tanyanya tiba-tiba. Ia menawarkan tangannya yang putih dan sedikit lebih besar dari tangan Bintang itu .

           “kemana?”

           “kau menyebalkan sekali. Sejak tadi yang kau lakukan adalah bertanya dan bertanya. Tidak bisakah kau memikirkannya sendiri? Mau ikut atau tidak?” tanya orang itu sekali lagi.

          Bintang benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Semuanya terjadi begitu cepat dan secara tiba-tiba. Tapi, dalam situasi seperti ini, orang yang baru pertama kali ia lihat itu bisa memaksanya menuruti kata-katanya dengan tenang dan tanpa kecurigaan apapun. Semenjak Bintang menggenggam tangan orang itu, muncul sesuatu dalam diri Bintang yang ia sendiri tidak tau bagaimana mengungkapkannya. Yang akhirnya ia ketahui setelah perjalanan mereka berakhir, bahwa yang muncul dalam dirinya itu adalah ‘ketergantungan’.

# # #

          Perjalanan mereka sangat amat jauh, butuh 12 tahun untuk menyelesaikannya. Dari perjalanan itu, Bintang mempelajari banyak hal. Seperti bagaimana rasanya berada di dekat orang yang tak bisa ia lampaui, bagaimana ia menyelesaikan pertengkaran pertamanya, bagaimana rasanya sendirian, seperti apa rasanya ‘iri’ itu, seperti apa rasanya ‘kebahagiaan’ itu, seperti apa rasanya bisa memiliki seseorang yang bisa kau andalkan, seperti apa rasanya ‘mandiri’ itu, seperti apa rasanya menjadi ‘seseorang yang spesial’, seperti apa rasanya menjadi ‘bukan siapa-siapa’, bagaimana rasanya mencoba berubah, bagaimana rasanya mengalami perubahan, bagaimana caranya menyimpan rahasia, juga seperti apa rasa ‘sakit’ itu.

          Semua itu ia pelajari dari pengalamannya bergandengan tangan dengan orang itu. Dan sebenarnya masih banyak lagi.

           “kurasa sampai disini saja perjalanan kita.” Katanya tiba-tiba sambil menghentikan langkah kakinya yang terasa semakin berat.

          Bintang menatapnya lama. “benar-benar sudah tidak bisa maju lagi?” tanyanya putus asa.

          Orang itu tertawa kecil. “kau bodoh? Kau pikir aku bisa menahan sakitnya menggenggam tanganmu lebih jauh lagi? Lihat! Bahkan tanganmu penuh luka dan darah. Kau harus melepaskannya. Jalan yang kita ambil menjadi bertolak sangat jauh. Aku tak mau demi berjalan sambil bergandengan tangan denganmu, aku harus keluar dari jalanku. Aku juga tidak mau kau keluar dari jalanmu demi diriku.”

          Bintang tak membalasnya. Ia diam. Dirinya penuh keraguan. Ia juga tak mau bertahan seperti orang bodoh.

           “terima kasih,” ucap Bintang sambil menatap mata orang itu. “kau tau? Karena dirimu aku bisa belajar banyak hal. Kau orang yang hebat dan aku sama sekali tidak malu mengatakannya dengan lantang begini langsung kepadamu. Aku tidak ingin menjadi dirimu, tapi setidaknya biarkan aku menjadikanmu sebagai seseorang yang istimewa dalam hidupku.”

          Orang itu langsung mengendus remeh. Ia membuang wajahnya, tak ingin membuat Bintang melihat matanya yang berkaca-kaca. “ingat ucapanku saat pertama kali kita bertemu?” tanyanya.

           “yang mana?”

           “yang kita ini mirip. Lagi-lagi, kau bahkan tidak berusaha untuk mengingatnya dan langsung bertanya! Apa kau sudah merasakannya sekarang?”

          Bintang mengangguk. “awalnya aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau katakan,”

           “aku juga sempat berpikir bahwa sebenarnya kita ini sama sekali tidak mirip.” sambung orang itu.

           “haha tentu saja. Kita ini sangat dekat tapi tidak terlalu dekat. Rasanya seperti ada tembok besar yang kokoh di hadapan kita,”

           “tapi tentu saja ada lubang-lubang kecil di tembok itu! Kadang-kadang aku yang melubanginya, kadang-kadang kau.”

           “iya benar. Tembok itu kan yang membuatmu berpikir kalau kita tidak mirip?”

          Orang itu mengangguk. “tapi setelah melihat lubang-lubang kecil itu, aku sadar kita ini sebenarnya terlalu mirip. Kau pernah dengar kalau dua orang yang sangat mirip biasanya tidak bisa berhubungan dengan baik? Kau tau mengapa?”

           “karena terlalu mirip makanya jadi kesal, karena rasanya seperti melihat diri sendiri.”

           “tepat. Kau pikir aku mau disamakan olehmu?”

           “tentu saja tidak. Karena aku juga tidak.”

          Mereka kembali diam, mata mereka sudah jauh ke depan tapi jari mereka masih terpaut satu sama lain.

           “kau tidak mau melepaskannya duluan?” tanya Bintang.

           “kenapa tidak kau saja yang duluan? Selama ini aku selalu menjadi yang pertama berusaha melepaskannya, sesekali kau lah.” Jawab orang itu masih melihat ke depan.

           “kau tau sendiri aku tidak pandai dalam hal-hal seperti itu.”

          Orang itu diam lagi.

           “aku Bintang,” kata Bintang akhirnya memecah keheningan. “dan kau adalah Gunung.”

          Mendengarnya membuat orang itu melihat kearah Bintang. “kenapa aku Gunung?”

           “karena Gunung memiliki puncak. Karena Gunung itu hawanya dingin. Karena Gunung itu teduh. Karena ke Gunung itu harus melewati jalan yang berkelok-kelok, terjal dan penuh bebatuan.”

           “itu yang kau lihat dariku? Setelah 12 tahun ini?”

          Bintang tersenyum puas. “aku akan melepaskannya duluan. Setelah itu aku akan berlari tanpa melihat kearahmu lagi.” Katanya dengan percaya diri.

           “akhirnya.. cepatlah. Tanganku sakit.” orang itu tersenyum melihat Bintang. Ia tak percaya bahwa orang yang sedang ia lihat ini adalah orang yang sama dengan orang tak percaya diri, pemalu dan tak memiliki keberanian yang ia temui dulu.

           “karena kita sudah bersama-sama selama 12 tahun, ayo terus bersama-sama selama 50 tahun lagi.”

          Bintang mengatakannya dengan wajah serius. Tanpa senyum, tanpa kerutan apapun di dahinya. Lalu melepas tangannya dan berlari ke depan.

          Setelah itu ia tak pernah lagi mendengar suara Gunung.

# # #

Begitulah kisahnya. Aku harap kisah Bintang tak begitu membosankan. Aku harap juga kisah Bintang tak terdengar aneh dan menyedihkan di telinga kalian karena aku tak begitu pandai menceritakannya. Dari kisah ini aku harap kalian tidak seperti Bintang dan Gunung, karena mereka baru mengungkapkan kejujuran mereka satu sama lain di akhir perjalanan mereka.

Bagaimana kisah kalian?









0 comments:

Posting Komentar

Hubungi kami :

Twitter : @APAksara

Email : apaksara3@gmail.com

HP : 085773226995

Instagram: kapas3.aksara

Twitter

Translator