“aku masih ingat dengan jelas kenangan yang kita buat
bersama 20 tahun yang lalu. Duh rasanya jadi ingin tertawa.” Kataku sambil
menahan tawa.
“ah mas Farhan!” seru Bunga padaku. “bagiku itu adalah
salah satu kenangan termanis yang pernah terjadi dalam hidupku, jadi tolong
jangan ditertawakan.”
“masa sih? Kan masih banyak yang lebih manis saat kita
masih muda dulu.”
Wajah Bunga langsung memerah karena mengingat kembali
masa mudanya. Ia langsung minum es kopi untuk menutupi pipinya yang sudah
semerah tomat itu. Bahkan dengan kerutan-kerutan yang mulai muncul di wajahnya
itu, dia tetap terlihat manis kalau sedang malu-malu begitu. Sejak dulu, wanita
cantik berambut panjang yang ada di depanku ini kalau malu wajahnya memang langsung
memerah. Kulitnya yang begitu putih bersih tak bisa menutupi rasa malunya itu.
Dan hal itu adalah salah satu alasan kenapa aku bisa jatuh cinta padanya.
# # #
Saat itu sedang liburan akhir tahun. Aku dan Bunga yang
tidak memiliki rencana liburan apapun hanya bersantai sambil makan semangka di
rumahnya. Saat itu meskipun aku sudah kelas dua SMA sedangkan Bunga kelas satu,
tapi pikiran kami masih seperti anak-anak. Sudah hampir 2 bulan aku menyatakan
perasaanku padanya dan setelah itu juga kami mulai pacaran, tapi keadaannya
sama sekali tidak ada yang berubah dari sebelum kami pacaran. Kami sama sekali
tidak mengerti seperti apa berpacaran yang benar. Jadi kami hanya melakukannya
seperti biasa.
Karena sudah 9 tahun lebih aku tinggal di sebelah
rumahnya, hubungan kami jadi sangat dekat seperti saudara sendiri. Meski sekarang
hubungan kami sudah lebih dari ‘teman main sejak kecil’ dan ‘tetangga dekat’, namun
sepertinya kami tidak bisa lebih dekat lagi.
Maksudku, teman-temanku bilang berpacaran itu biasanya
jalan-jalan berduaan sambil berpegangan tangan, tapi kami sudah terbiasa
melakukannya jauh sebelum aku menyadari perasaanku padanya. Apalagi sejak kecil
aku ini buta arah, jadi kalau pergi kemana-mana harus ada yang memegang
tanganku agar tidak nyasar. Bahkan kadang saat pulang sekolah, sebelum kami menyadarinya,
tangan kami sudah saling bergandengan. Selain itu juga kata teman-temanku
berpacaran itu biasanya dengan makan berduaan. Kalau itu sih hampir setiap
hari. Malah sejak awal aku pindah kesini, Bude Ari (bundanya Bunga) minta
tolong padaku untuk menyuapi Bunga. Awalnya aku sempat kesal karena harus
mengurusi cewek manja yang hanya lebih muda setahun dariku itu, tapi kata ibu,
Bude Ari saat itu sedang kesulitan jadi aku harus membantunya. Memang benar
sih. Bunga punya 3 kakak dan 1 adik yang umurnya masing-masing hanya berjarak
satu tahun. Pasti sangat sulit membesarkan 5 anak sekaligus seperti itu.
“Bung, mancing yuk.” Kataku setelah menghabiskan potongan
buah semangka yang kedelapan.
“ngga ah, bosan.”
“ngga kok! Yuk! Mas ambil peralatannya dulu di rumah,
kamu ganti baju aja yang bisa buat kotor-kotoran. Oh iya, jangan ajak
siapa-siapa. Kita berdua aja.”
Tanpa mendengar jawaban darinya, aku langsung berlari ke
rumah dan mengambil barang-barang yang kuperlukan. Sekalian ambil dua topi di
kamar karena pasti disana panas. Setelah mengumpulkan semuanya, aku langsung
keluar rumah dan melihat Bunga sudah siap dengan jaring yang biasa digunakan
ayahnya memancing. Setelah menyadari aku tidak membawa pancingan, wajahnya
langsung merengut.
“pancingannya mana?” katanya bingung dan agak kesal
karena aku sudah memaksanya keluar dari rumah. Padahal aku yakin sekali
sebenarnya dia juga senang aku ajak pergi berdua. Kalau tidak, dia tidak akan
keluar secepat itu dengan jaring ayahnya.
“ngga perlu.” Kataku sambil memakaikan topi padanya. Wajahnya
mulai memerah saat aku menyentuh rambutnya. Yah, bagaimanapun juga, pasti ada
beberapa hal sepele yang membuat kami canggung.
Melihatnya malu-malu begitu membuatku gemas. Kalau berani
aku ingin sekali memeluknya. Padahal dulu aku bisa melakukannya tanpa perlu
mengkhawatirkan apapun. Waktu itu aku sudah bertekad untuk tidak macam-macam
padanya sebelum aku resmi menikahinya, jadi kuurungkan niatku. Dulu ayahku
pernah mengajariku kalau laki-laki tidak boleh sembarangan kepada perempuan
yang disukainya sebelum menikahinya. Dan sekarang ajaran ayahku itu sudah
kuwariskan kepada anakku, Regan.
Tak tahan melihatnya menggemaskan begitu, aku buru-buru
berbalik dan membawa peralatannya. “ayo mancing di sungai!” kataku sambil jalan
duluan.
Bunga tiba-tiba menarik lenganku. Untuk sepersekian detik
jantungku berdebar yang aku sendiri tak yakin kenapa.
“mas, salah jalan.” Katanya kemudian.
# # #
Bunga meletakan es kopinya. “mas, ingat yang kita mancing
ke sungai pas liburan tahun baru itu?”
Aku mengangguk. Bagaimana aku bisa lupa?
Kenangan-kenangan itu baru saja kubaca beberapa jam yang lalu. Membuatku
terbawa kembali ke masa lalu.
“mas keren banget!” katanya dengan nada mengejek.
“haha itu pujian atau bukan?”
Ia tertawa kecil lalu tersenyum tulus yang membuat lesung
pipi sebelah kanannya muncul. “pujian lah! Aku serius.” katanya sambil
menatapku.
# # #
Sampai sana kami langsung menggulung lengan baju dan
menyimpan sandal di pinggiran sungai. Siang itu sinar matahari lumayan terik,
air sungainya yang dangkal jernih membuatku ingin langsung berendam. Namun ikan
yang terlihat berenang disana-sini langsung memicu insting memburuku. Dengan
berhati-hati aku turun ke sungai melewati batu-batu besar sambil membawa jaring
yang sudah kutempeli umpan-umpan. Bunga mengikutiku pelan-pelan.
“Bung, kamu diam disitu. Lihat caranya dulu, oke? Jangan
buat ikan-ikannya takut .” Kataku masih terfokus pada ikan-ikannya.
Aku tidak memperhatikannya, tapi sepertinya Bunga menuruti
kata-kataku karena dia tidak mengeluarkan suara apapun. Pelan-pelan kumasukan
jaring ke dalam air yang tak jauh dari ikan incaranku. Entah ikan apa itu
jenisnya. Aku berjalan menyesuaikan arus secara perlahan agar tidak membuat
ikannya kabur. Lalu saat sudah cukup dekat, ikannya mulai berenang mendekati
jaring karena mencium bau umpan. Dengan cepat aku mengunci jalur keluar si ikan
dan mengangkatnya keluar air. Air cipratannya langsung membasahi bajuku, tapi
aku tidak peduli. Dengan bangganya aku langsung berbalik, ingin kuperlihatkan
hasil tangkapanku ke Bunga.
Sayangnya dia malah sedang asik sendiri berburu
udang-udang di balik batu kali. “sialan,” umpatku dalam hati. Padahal aku ingin
terlihat keren di depannya tadi. Aku berjalan kembali ke pinggir sungai untuk
memindahkan ikannya ke ember, karena menahannya agar tidak keluar jaring sangat
sulit.
“MAS! MAS! ADA KEPITING!”
Rasa kesalku langsung hilang saat mendengar teriakannya.
Kumasukan ikan tadi ke ember yang sudah kuisi air, lalu buru-buru aku menghampiri
Bunga. Saat kudekati, wajahnya sudah belepotan tanah. Dia langsung
memperlihatkan hasil tangkapannya padaku sambil tersenyum puas.
“mas! Kepiting! Gede!” katanya dengan wajah senang dan
bangga. Matanya bulat bersinar. Senyumnya lebar memperlihatkan giginya yang
putih. Lesung pipinya yang biasanya hanya terlihat sebelah, kini dua-duanya
menghiasi wajah manisnya. Meskipun wajahnya belepotan tanah, tapi ia masih
tetap terlihat cantik bagiku.
# # #
Itu adalah
yang kesekian kalinya kau jatuh cinta padanya hahaha. Tapi sungguh, aku sangat
beruntung bisa melihat wajahnya itu. Dan kuharap aku bisa melihatnya lagi dan
lagi di masa yang akan datang. Bagaimana? Sudah 20 tahun berlalu, menurutmu
yang mana senyuman terbaiknya?
# # #
Tentu saja senyum terbaiknya ia tunjukan saat pernikahan.
Juga saat pertama kali ia melahirkan. Aku yakin semua pria pasti iri karena
melihat wanita cantik itu tersenyum bukan karena mereka. Memang sejak jaman
sekolah dulu Bunga selalu dinobatkan sebagai ‘Pemilik Senyum Termanis’. Itulah
mengapa banyak laki-laki yang berlomba-lomba membuatnya bahagia. Salah satunya
diriku.
“aku juga tidak akan lupa tahun baru pertama kita sebagai
pasangan.” Katanya dengan malu-malu lagi. Ya Tuhan, bagaimana bisa Engkau
mempertahankan kecantikan wanita ini bahkan saat umurnya sudah hampir kepala
empat?
# # #
“Han, mas beli petasan yang gede buat nanti.” Bisik mas
Rehan, kakak kedua Bunga, padaku saat kami sedang menyiapkan perlengkapan untuk
berkemah.
Aku melihat sekeliling dan memastikan tidak ada orang
yang mendengar perbincangan kami. “serius mas? Nanti kalau ketauan mas Rian
gimana? Pasti sama mas Rian langsung disita.” kataku ikut bisik-bisik.
Mas Rehan langsung merangkulku erat-erat. “makanya kamu
jangan kasih tau siapa-siapa. Nanti malam pas mas Rian lagi bakar-bakar jagung,
baru mas keluarin. Kan kalau udah terlanjur dikeluarin, mas Rian ngga bisa
nyita lagi petasannya.” Katanya sambil ketawa cekikikan.
Tahun itu kami merayakannya sambil berkemah di halaman vila
neneknya Bunga yang sangat luas. Rumah neneknya berada di atas bukit dan tepat
di bawahnya adalah kota kecil tempat kami tinggal. Karena keluargaku sudah
sangat dekat dengan keluarganya, jadi kami juga ikut diajak. Para orang tua
merayakan tahun baru sambil berbincang-bincang di dalam rumah, sedangkan yang
muda-muda berkemah di luar.
Sudah dari sore kami semua sibuk menyiapkan perlengkapan
untuk nanti malam. Saat langit sudah gelap dan jam menunjukan pukul 8 malam, tenda-tenda
sudah siap, perlengkapan untuk tidur dan bakar-bakar juga sudah siap, api
unggun juga sudah dinyalakan. Sambil menunggu tengah malam, kami memainkan banyak
permainan seperti benteng, bola tangan dan lain-lain. Setelah kira-kira 2 jam
lebih bermain, kami mengakhirinya dengan bernyanyi bersama, mas Budi sepupu
Bunga yang lebih tua 1 tahun dari mas Rian itu memainkan gitarnya. Saudara-saudara
Bunga yang sudah lebih dewasa juga menyiapkan jagung untuk dibakar.
Bunga yang tadinya ikut membantu, kini menghampiri kami
yang sedang asik bernyanyi ‘Kisah Kasih Di Sekolah’ sambil membawa susu panas.
Sepertinya dia lelah membantu disana. Bunga datang dan langsung duduk di
sebelahku. Aku bergeser sedikit mendekatinya dan melebarkan selimut yang sedang
kupakai kepadanya. Saat itu yang lain terlalu asik hingga tak ada yang mempedulikan
kami yang menggunakan satu selimut berdua. Di balik selimut, aku menyelipkan
tanganku padanya dan dia menerimanya. Bunga dan aku sadar kalau kami tidak bisa
terang-terangan memperlihatkan hubungan kami di depan keluarga besarnya.
“gimana mas? Ngga seburuk yang mas kira kan?” katanya
sambil minum susu dengan tangan kiri.
“Ngga. Menyenangkan malah. Sekarang mas bisa ngerasain
punya saudara itu seperti apa. Selama ini mas jarang kumpul sama keluarga besar
karena kerjaan ayah dan lagi mas anak tunggal, bisa deket sama keluarga kamu
itu suatu keberuntungan bagi mas.”
“hehehe iya dong.”
Aku memperhatikan wajahnya dari dekat dan dia langsung
malu. Tangannya terasa hangat dan juga berkeringat. Aku mendekati wajahnya lagi
dan berbisik, “dan aku sangat beruntung bisa milikin kamu.”
Wajahnya langsung semerah tomat. Aku sangat senang bisa
melihatnya malu-malu seperti itu. Namun tiba-tiba ia menendang kakiku. Secara
spontan aku menahan teriakanku.
“hey sakit tau.” Kataku sambil mengusap-usap bagian yang
ia tendang.
“abisnya mas ngeledekin aku mulu. Kalau mas begini terus,
bisa-bisa aku... jadi makin suka sama mas Farhan.” Suaranya yang tadinya kasar
karena kesal tiba-tiba melembut. Saat itu aku jadi berpikir, sejak kapan gadis
manja nyebelin yang dulu aku suapin itu bisa berubah menjadi seimut ini. Aku
tertawa karena malu mendengarnya. Dan lagi-lagi Bunga menendang kakiku karena
kesal sudah ditertawakan.
“Bung, aku suka banget sama kamu.” Kataku dengan nada
serius.
“Bunga juga suka banget sama mas Farhan.”
“kalau udah dewasa dan punya penghasilan, mas mau nikahin
kamu.”
Saat itu Bunga tidak langsung menjawab pernyataanku, tapi
tangannya langsung menggenggam erat tanganku.
“Bunga tunggu.”
# # #
Kau
ingat? Malam itu adalah malam terindah dalam hidupku saat ini. Sebelum
menyadari perasaanku padanya, aku sama sekali tidak pernah berpikir bahwa jatuh
cinta kepada seseorang bisa seindah ini. Juga tidak pernah berpikir kalau aku
bisa sangat bersemangat hanya dengan mendengar namanya. Mungkin ini terlihat
sangat menggelikan bagimu yang sudah berumur 37 tahun untuk membaca
pemikiran-pemikiran mu dulu yang sangat kekanak-kanakan. Awalnya juga aku tidak
ingin menuruti permintaan Bunga, tapi setelah dipikir-pikir lagi, ini adalah
kesempatan bagiku untuk mengingatkanmu bahwa orang sesederhana dirimu, yang tak
memiliki sesuatu yang spesial dalam dirimu (yah kecuali soal buta arah), juga
pernah mengalami kehidupan yang menyenangkan.
Sejak
itu kau memutuskan untuk belajar mati-matian supaya bisa cepat dapat kerjaan.
Bunga adalah satu-satunya motivasi terbesarmu untuk berkutat dengan buku-buku
pelajaran yang kau benci itu. Sebesar itu rasa cintamu padanya, Farhan.
Aku
jadi sangat penasaran seperti apa kehidupanku selama 20 tahun mendatang. Apa
menyenangkan? Apa pada akhirnya aku bisa mewujudkan janjiku padanya? Pekerjaan
apa yang sedang kau lakukan di tahun-tahun ini? Berapa gajimu? Lebih banyak
dari gaji ayah? Bagaimana keadaan ayah dan ibu? Apakah mereka sehat-sehat saja?
Berapa anakmu? Sudah berapa tahun umurnya? Apakah sudah seumur diriku saat ini?
Siapa namanya? Laki-laki atau perempuan? Umur berapa kalian menikah?
Menulis
time
capsule ini membuatku frustasi. Aku
benar-benar tidak sabar menunggu masa depan. Dan lagi aku tidak mengerti, kenapa
harus 20 tahun? Bukankah terlalu memalukan membaca surat-surat sentimental
seperti ini saat kau sudah berumur 37 tahun? Ah, aku tidak peduli.
Aku
nyaris lupa. Bunga bilang, katanya kau harus menemuinya kalau sudah membaca
surat ini. Dan katanya dia juga akan menuliskan hal itu di suratnya. Dia bilang
padaku kalau dia sangat penasaran semalu apa dia nanti setelah membaca
suratnya. Sekarang aku malah jadi penasaran dengan apa yang ia tulis. Bisakah
kau menanyakan itu padanya?
Ya
Tuhan aku tidak percaya ini sudah lembar kelimaku. Kurasa aku akan
mengakhirinya sampai disini saja. Tolong sampaikan padanya bahwa aku sangat
mencintainya.
Dari
Farhan (17 tahun)
Untuk
Farhan (37 tahun)
# # #
“ngomong-ngomong, suratnya mas apain?” tanya Bunga
mengaburkan lamunanku.
Saat kami sedang membicarakan hadiah yang kuberikan
padanya di acara ulang tahunnya yang ke-17, tiba-tiba saja kepikiran kalimat
terakhir yang kutulis di surat sialan itu. Aku tidak yakin harus mengatakannya
atau tidak.
Aku menghela napas dan menjawabnya dengan wajah datar, “mas
bakar.”
Bunga langsung tertawa terbahak-bahak. Sepertinya dia
mengira aku bercanda, padahal serius aku bakar suratnya. Surat itu seperti
tumpukan aib yang seharusnya tidak kuingat. Berkali-kali kucoba untuk
merobeknya saat sedang membacanya, tapi aku penasaran dengan apa saja yang
kutulis saat itu.
“beneran mas bakar loh.” Kataku mencoba meyakinkannya
kalau aku serius melakukannya.
“iya percaya kok. Soalnya aku juga.”
Aku langsung ikut tertawa mendengarnya. Ternyata kami
sepemikiran saat membacanya.
“lagian juga kalau dibaca mas Eddy bisa-bisa dia salah
paham. Jadi lebih baik aku bakar.”
“aku juga menyembunyikannya dari Linda. Awalnya mas
sempet deg-degan, pas ingat yang nerima surat tadi pagi itu dia, tapi pas mas
tanya lagi dia ngga ingat pengirimnya siapa.” kataku sambil sesekali minum
kopi.
Setelah itu kami mulai membicarakan keluarga kami
masing-masing. Tidak, kami tidak membicarakan hal-hal buruk tentang suami atau
istri kami. Kami malah menceritakan seberapa besar cinta kami kepada mereka,
kepada anak-anak kami.
# # #
Jadi begitulah Farhan,
akhir ceritanya tidak seperti yang kau
harapkan. Kau bertanya tentang
bagaimana kehidupanmu 20 tahun
mendatang kan? Aku akan menjawabnya satu persatu.
Apa
menyenangkan?
Ya, tapi tidak juga. Bagaimana
aku menyimpulkannya ya? Sudah 20 tahun berlalu dan banyak hal terjadi. Kadang
senang, kadang sedih. Bahkan baru saja 4 tahun berlalu setelah kau menuliskan surat itu, kau sudah tak lagi berpacaran dengan
satu-satunya motivasimu untuk mempelajari
buku-buku yang kau benci itu. Kau bahkan butuh waktu selama hampir 3
tahun untuk menyadari bahwa Bunga bukanlah jodohmu. Bahwa ia telah berbahagia dengan pria lain. Tapi disamping itu,
kau akhirnya bertemu dengan sosok
wanita lain yang lebih cantik dari Bunga, lebih hebat darinya, lebih bisa
mengerti dirimu daripada dia. Dan itu
merupakan suatu kebahagiaan yang kau
sendiri tidak akan pernah percaya kalau tidak ada lagi hal yang bisa membuatmu lebih bahagia dibandingkan dengan
bisa menikahi wanita hebat itu.
Apa pada akhirnya aku bisa mewujudkan
janjiku padanya?
Tidak. Punya kesempatanpun tidak.
Dan aku tidak mau mengatakannya kepadamu
alasannya.
Pekerjaan
apa yang sedang kau lakukan di tahun-tahun ini?
Kau tidak akan percaya bahwa mimpimu untuk membangun real estate elit baru bisa kau wujudkan setelah 10 tahun bekerja di
bidang ini. Pekerjaan ini tidak semudah yang kau pikirkan anak muda. Jadi tolong jangan sombong dulu dengan
kemampuanmu itu.
Berapa
gajimu? Lebih banyak dari gaji ayah?
Tentu saja gajiku lebih besar
dari ayah! Haha!
Bagaimana
keadaan ayah dan ibu?
Mereka baik-baik saja tinggal di
kampung halaman ibu.
Apakah
mereka sehat-sehat saja?
Sebenarnya, saat kau sudah mulai dewasa kau akan menyadari bahwa kata ‘sehat’
itu sangat relatif. Mereka sudah sangat tua jadi tidak mungkin kalau mereka
bisa bebas dari penyakit. Tapi bisa dibilang kalau mereka baik-baik saja.
Berapa
anakmu?
Kau tidak akan percaya bahwa wanita yang akan kau nikahi di masa depan menginginkan 4
orang anak. Tapi karena aku tau sesulit apa mengurusi 5 orang anak, aku
berhasil membuatnya menuruti permintaanku. Jadi kami hanya memiliki 2 orang
anak.
Sudah
berapa tahun umurnya? Apakah sudah seumur diriku saat ini?
Aku jadi ingin bertanya pada
diriku sendiri saat menuliskan pertanyaan ini. Apa saat itu kau benar-benar berpikir bahwa kau bisa menikahi Bunga diumur 20 tahun?
Pertanyaan ini sungguh bodoh. Kau sendiri
bahkan baru menikah di usia 28 tahun. Anak tertuamu baru akan berulang tahun yang ke-9 3 bulan lagi. Sedangkan anak
terakhirmu baru saja menginjak umur 7
tahun minggu lalu.
Siapa
namanya? Laki-laki atau perempuan?
Kakaknya laki-laki bernama Regan,
adiknya perempuan bernama Reina.
Umur
berapa kalian menikah?
Kalau kata ‘kalian’ disini
merujuk pada diriku dan Bunga, sayangnya kau
tidak menikahnya. Bunga menikah diumur ke 26 tahun. Suaminya bernama Eddy,
lebih tua 3 tahun darinya. Mereka pertama kali bertemu saat kuliah dan pria
bernama Eddy ini sudah menyukai Bunga sejak pandangan pertama. Dan kau memberikannya kesempatan untuk
mencuri hati Bunga saat kau
menyakitinya. Tapi kau tidak perlu
menyesalinya berlama-lama karena pada akhirnya kau dipertemukan dengan Linda, wanita yang lebih berharga dari
apapun di dunia ini.
Lalu pertanyaan tentang “kenapa 20 tahun?” jawabannya
adalah aku tidak tau.
Untuk permintaanmu
yang menanyakan isi surat Bunga, aku menolaknya karena itu memalukan.
Juga permintaan terakhirmu itu, maaf aku tidak bisa
mengatakannya karena saat ini ada wanita hebat yang sedang menungguku di rumah.
Dan aku tidak ingin mengecewakannya.
0 comments:
Posting Komentar