Senin, 15 Agustus 2016

Jawaban Untuk Farhan (17)




“aku masih ingat dengan jelas kenangan yang kita buat bersama 20 tahun yang lalu. Duh rasanya jadi ingin tertawa.” Kataku sambil menahan tawa.

“ah mas Farhan!” seru Bunga padaku. “bagiku itu adalah salah satu kenangan termanis yang pernah terjadi dalam hidupku, jadi tolong jangan ditertawakan.”

“masa sih? Kan masih banyak yang lebih manis saat kita masih muda dulu.”

Wajah Bunga langsung memerah karena mengingat kembali masa mudanya. Ia langsung minum es kopi untuk menutupi pipinya yang sudah semerah tomat itu. Bahkan dengan kerutan-kerutan yang mulai muncul di wajahnya itu, dia tetap terlihat manis kalau sedang malu-malu begitu. Sejak dulu, wanita cantik berambut panjang yang ada di depanku ini kalau malu wajahnya memang langsung memerah. Kulitnya yang begitu putih bersih tak bisa menutupi rasa malunya itu. Dan hal itu adalah salah satu alasan kenapa aku bisa jatuh cinta padanya.

# # #

Saat itu sedang liburan akhir tahun. Aku dan Bunga yang tidak memiliki rencana liburan apapun hanya bersantai sambil makan semangka di rumahnya. Saat itu meskipun aku sudah kelas dua SMA sedangkan Bunga kelas satu, tapi pikiran kami masih seperti anak-anak. Sudah hampir 2 bulan aku menyatakan perasaanku padanya dan setelah itu juga kami mulai pacaran, tapi keadaannya sama sekali tidak ada yang berubah dari sebelum kami pacaran. Kami sama sekali tidak mengerti seperti apa berpacaran yang benar. Jadi kami hanya melakukannya seperti biasa.

Karena sudah 9 tahun lebih aku tinggal di sebelah rumahnya, hubungan kami jadi sangat dekat seperti saudara sendiri. Meski sekarang hubungan kami sudah lebih dari ‘teman main sejak kecil’ dan ‘tetangga dekat’, namun sepertinya kami tidak bisa lebih dekat lagi.

Maksudku, teman-temanku bilang berpacaran itu biasanya jalan-jalan berduaan sambil berpegangan tangan, tapi kami sudah terbiasa melakukannya jauh sebelum aku menyadari perasaanku padanya. Apalagi sejak kecil aku ini buta arah, jadi kalau pergi kemana-mana harus ada yang memegang tanganku agar tidak nyasar. Bahkan kadang saat pulang sekolah, sebelum kami menyadarinya, tangan kami sudah saling bergandengan. Selain itu juga kata teman-temanku berpacaran itu biasanya dengan makan berduaan. Kalau itu sih hampir setiap hari. Malah sejak awal aku pindah kesini, Bude Ari (bundanya Bunga) minta tolong padaku untuk menyuapi Bunga. Awalnya aku sempat kesal karena harus mengurusi cewek manja yang hanya lebih muda setahun dariku itu, tapi kata ibu, Bude Ari saat itu sedang kesulitan jadi aku harus membantunya. Memang benar sih. Bunga punya 3 kakak dan 1 adik yang umurnya masing-masing hanya berjarak satu tahun. Pasti sangat sulit membesarkan 5 anak sekaligus seperti itu.

“Bung, mancing yuk.” Kataku setelah menghabiskan potongan buah semangka yang kedelapan.

“ngga ah, bosan.”

“ngga kok! Yuk! Mas ambil peralatannya dulu di rumah, kamu ganti baju aja yang bisa buat kotor-kotoran. Oh iya, jangan ajak siapa-siapa. Kita berdua aja.”

Tanpa mendengar jawaban darinya, aku langsung berlari ke rumah dan mengambil barang-barang yang kuperlukan. Sekalian ambil dua topi di kamar karena pasti disana panas. Setelah mengumpulkan semuanya, aku langsung keluar rumah dan melihat Bunga sudah siap dengan jaring yang biasa digunakan ayahnya memancing. Setelah menyadari aku tidak membawa pancingan, wajahnya langsung merengut.

“pancingannya mana?” katanya bingung dan agak kesal karena aku sudah memaksanya keluar dari rumah. Padahal aku yakin sekali sebenarnya dia juga senang aku ajak pergi berdua. Kalau tidak, dia tidak akan keluar secepat itu dengan jaring ayahnya.

“ngga perlu.” Kataku sambil memakaikan topi padanya. Wajahnya mulai memerah saat aku menyentuh rambutnya. Yah, bagaimanapun juga, pasti ada beberapa hal sepele yang membuat kami canggung.

Melihatnya malu-malu begitu membuatku gemas. Kalau berani aku ingin sekali memeluknya. Padahal dulu aku bisa melakukannya tanpa perlu mengkhawatirkan apapun. Waktu itu aku sudah bertekad untuk tidak macam-macam padanya sebelum aku resmi menikahinya, jadi kuurungkan niatku. Dulu ayahku pernah mengajariku kalau laki-laki tidak boleh sembarangan kepada perempuan yang disukainya sebelum menikahinya. Dan sekarang ajaran ayahku itu sudah kuwariskan kepada anakku, Regan.

Tak tahan melihatnya menggemaskan begitu, aku buru-buru berbalik dan membawa peralatannya. “ayo mancing di sungai!” kataku sambil jalan duluan.

Bunga tiba-tiba menarik lenganku. Untuk sepersekian detik jantungku berdebar yang aku sendiri tak yakin kenapa.

“mas, salah jalan.” Katanya kemudian.

# # #

Bunga meletakan es kopinya. “mas, ingat yang kita mancing ke sungai pas liburan tahun baru itu?”

Aku mengangguk. Bagaimana aku bisa lupa? Kenangan-kenangan itu baru saja kubaca beberapa jam yang lalu. Membuatku terbawa kembali ke masa lalu.

“mas keren banget!” katanya dengan nada mengejek.

“haha itu pujian atau bukan?”

Ia tertawa kecil lalu tersenyum tulus yang membuat lesung pipi sebelah kanannya muncul. “pujian lah! Aku serius.” katanya sambil menatapku.

# # #

Sampai sana kami langsung menggulung lengan baju dan menyimpan sandal di pinggiran sungai. Siang itu sinar matahari lumayan terik, air sungainya yang dangkal jernih membuatku ingin langsung berendam. Namun ikan yang terlihat berenang disana-sini langsung memicu insting memburuku. Dengan berhati-hati aku turun ke sungai melewati batu-batu besar sambil membawa jaring yang sudah kutempeli umpan-umpan. Bunga mengikutiku pelan-pelan.

“Bung, kamu diam disitu. Lihat caranya dulu, oke? Jangan buat ikan-ikannya takut .” Kataku masih terfokus pada ikan-ikannya.

Aku tidak memperhatikannya, tapi sepertinya Bunga menuruti kata-kataku karena dia tidak mengeluarkan suara apapun. Pelan-pelan kumasukan jaring ke dalam air yang tak jauh dari ikan incaranku. Entah ikan apa itu jenisnya. Aku berjalan menyesuaikan arus secara perlahan agar tidak membuat ikannya kabur. Lalu saat sudah cukup dekat, ikannya mulai berenang mendekati jaring karena mencium bau umpan. Dengan cepat aku mengunci jalur keluar si ikan dan mengangkatnya keluar air. Air cipratannya langsung membasahi bajuku, tapi aku tidak peduli. Dengan bangganya aku langsung berbalik, ingin kuperlihatkan hasil tangkapanku ke Bunga.

Sayangnya dia malah sedang asik sendiri berburu udang-udang di balik batu kali. “sialan,” umpatku dalam hati. Padahal aku ingin terlihat keren di depannya tadi. Aku berjalan kembali ke pinggir sungai untuk memindahkan ikannya ke ember, karena menahannya agar tidak keluar jaring sangat sulit.

“MAS! MAS! ADA KEPITING!”

Rasa kesalku langsung hilang saat mendengar teriakannya. Kumasukan ikan tadi ke ember yang sudah kuisi air, lalu buru-buru aku menghampiri Bunga. Saat kudekati, wajahnya sudah belepotan tanah. Dia langsung memperlihatkan hasil tangkapannya padaku sambil tersenyum puas.

“mas! Kepiting! Gede!” katanya dengan wajah senang dan bangga. Matanya bulat bersinar. Senyumnya lebar memperlihatkan giginya yang putih. Lesung pipinya yang biasanya hanya terlihat sebelah, kini dua-duanya menghiasi wajah manisnya. Meskipun wajahnya belepotan tanah, tapi ia masih tetap terlihat cantik bagiku.

# # #

Itu adalah yang kesekian kalinya kau jatuh cinta padanya hahaha. Tapi sungguh, aku sangat beruntung bisa melihat wajahnya itu. Dan kuharap aku bisa melihatnya lagi dan lagi di masa yang akan datang. Bagaimana? Sudah 20 tahun berlalu, menurutmu yang mana senyuman terbaiknya?

# # #

Tentu saja senyum terbaiknya ia tunjukan saat pernikahan. Juga saat pertama kali ia melahirkan. Aku yakin semua pria pasti iri karena melihat wanita cantik itu tersenyum bukan karena mereka. Memang sejak jaman sekolah dulu Bunga selalu dinobatkan sebagai ‘Pemilik Senyum Termanis’. Itulah mengapa banyak laki-laki yang berlomba-lomba membuatnya bahagia. Salah satunya diriku.

“aku juga tidak akan lupa tahun baru pertama kita sebagai pasangan.” Katanya dengan malu-malu lagi. Ya Tuhan, bagaimana bisa Engkau mempertahankan kecantikan wanita ini bahkan saat umurnya sudah hampir kepala empat?

# # #

“Han, mas beli petasan yang gede buat nanti.” Bisik mas Rehan, kakak kedua Bunga, padaku saat kami sedang menyiapkan perlengkapan untuk berkemah.

Aku melihat sekeliling dan memastikan tidak ada orang yang mendengar perbincangan kami. “serius mas? Nanti kalau ketauan mas Rian gimana? Pasti sama mas Rian langsung disita.” kataku ikut bisik-bisik.

Mas Rehan langsung merangkulku erat-erat. “makanya kamu jangan kasih tau siapa-siapa. Nanti malam pas mas Rian lagi bakar-bakar jagung, baru mas keluarin. Kan kalau udah terlanjur dikeluarin, mas Rian ngga bisa nyita lagi petasannya.” Katanya sambil ketawa cekikikan.

Tahun itu kami merayakannya sambil berkemah di halaman vila neneknya Bunga yang sangat luas. Rumah neneknya berada di atas bukit dan tepat di bawahnya adalah kota kecil tempat kami tinggal. Karena keluargaku sudah sangat dekat dengan keluarganya, jadi kami juga ikut diajak. Para orang tua merayakan tahun baru sambil berbincang-bincang di dalam rumah, sedangkan yang muda-muda berkemah di luar.

Sudah dari sore kami semua sibuk menyiapkan perlengkapan untuk nanti malam. Saat langit sudah gelap dan jam menunjukan pukul 8 malam, tenda-tenda sudah siap, perlengkapan untuk tidur dan bakar-bakar juga sudah siap, api unggun juga sudah dinyalakan. Sambil menunggu tengah malam, kami memainkan banyak permainan seperti benteng, bola tangan dan lain-lain. Setelah kira-kira 2 jam lebih bermain, kami mengakhirinya dengan bernyanyi bersama, mas Budi sepupu Bunga yang lebih tua 1 tahun dari mas Rian itu memainkan gitarnya. Saudara-saudara Bunga yang sudah lebih dewasa juga menyiapkan jagung untuk dibakar.

Bunga yang tadinya ikut membantu, kini menghampiri kami yang sedang asik bernyanyi ‘Kisah Kasih Di Sekolah’ sambil membawa susu panas. Sepertinya dia lelah membantu disana. Bunga datang dan langsung duduk di sebelahku. Aku bergeser sedikit mendekatinya dan melebarkan selimut yang sedang kupakai kepadanya. Saat itu yang lain terlalu asik hingga tak ada yang mempedulikan kami yang menggunakan satu selimut berdua. Di balik selimut, aku menyelipkan tanganku padanya dan dia menerimanya. Bunga dan aku sadar kalau kami tidak bisa terang-terangan memperlihatkan hubungan kami di depan keluarga besarnya.

“gimana mas? Ngga seburuk yang mas kira kan?” katanya sambil minum susu dengan tangan kiri.

“Ngga. Menyenangkan malah. Sekarang mas bisa ngerasain punya saudara itu seperti apa. Selama ini mas jarang kumpul sama keluarga besar karena kerjaan ayah dan lagi mas anak tunggal, bisa deket sama keluarga kamu itu suatu keberuntungan bagi mas.”

“hehehe iya dong.”

Aku memperhatikan wajahnya dari dekat dan dia langsung malu. Tangannya terasa hangat dan juga berkeringat. Aku mendekati wajahnya lagi dan berbisik, “dan aku sangat beruntung bisa milikin kamu.”

Wajahnya langsung semerah tomat. Aku sangat senang bisa melihatnya malu-malu seperti itu. Namun tiba-tiba ia menendang kakiku. Secara spontan aku menahan teriakanku.

“hey sakit tau.” Kataku sambil mengusap-usap bagian yang ia tendang.

“abisnya mas ngeledekin aku mulu. Kalau mas begini terus, bisa-bisa aku... jadi makin suka sama mas Farhan.” Suaranya yang tadinya kasar karena kesal tiba-tiba melembut. Saat itu aku jadi berpikir, sejak kapan gadis manja nyebelin yang dulu aku suapin itu bisa berubah menjadi seimut ini. Aku tertawa karena malu mendengarnya. Dan lagi-lagi Bunga menendang kakiku karena kesal sudah ditertawakan.

“Bung, aku suka banget sama kamu.” Kataku dengan nada serius.

“Bunga juga suka banget sama mas Farhan.”

“kalau udah dewasa dan punya penghasilan, mas mau nikahin kamu.”

Saat itu Bunga tidak langsung menjawab pernyataanku, tapi tangannya langsung menggenggam erat tanganku.

“Bunga tunggu.”

# # #

Kau ingat? Malam itu adalah malam terindah dalam hidupku saat ini. Sebelum menyadari perasaanku padanya, aku sama sekali tidak pernah berpikir bahwa jatuh cinta kepada seseorang bisa seindah ini. Juga tidak pernah berpikir kalau aku bisa sangat bersemangat hanya dengan mendengar namanya. Mungkin ini terlihat sangat menggelikan bagimu yang sudah berumur 37 tahun untuk membaca pemikiran-pemikiran mu dulu yang sangat kekanak-kanakan. Awalnya juga aku tidak ingin menuruti permintaan Bunga, tapi setelah dipikir-pikir lagi, ini adalah kesempatan bagiku untuk mengingatkanmu bahwa orang sesederhana dirimu, yang tak memiliki sesuatu yang spesial dalam dirimu (yah kecuali soal buta arah), juga pernah mengalami kehidupan yang menyenangkan.

Sejak itu kau memutuskan untuk belajar mati-matian supaya bisa cepat dapat kerjaan. Bunga adalah satu-satunya motivasi terbesarmu untuk berkutat dengan buku-buku pelajaran yang kau benci itu. Sebesar itu rasa cintamu padanya, Farhan.

Aku jadi sangat penasaran seperti apa kehidupanku selama 20 tahun mendatang. Apa menyenangkan? Apa pada akhirnya aku bisa mewujudkan janjiku padanya? Pekerjaan apa yang sedang kau lakukan di tahun-tahun ini? Berapa gajimu? Lebih banyak dari gaji ayah? Bagaimana keadaan ayah dan ibu? Apakah mereka sehat-sehat saja? Berapa anakmu? Sudah berapa tahun umurnya? Apakah sudah seumur diriku saat ini? Siapa namanya? Laki-laki atau perempuan? Umur berapa kalian menikah?

Menulis time capsule ini membuatku frustasi. Aku benar-benar tidak sabar menunggu masa depan. Dan lagi aku tidak mengerti, kenapa harus 20 tahun? Bukankah terlalu memalukan membaca surat-surat sentimental seperti ini saat kau sudah berumur 37 tahun? Ah, aku tidak peduli.

Aku nyaris lupa. Bunga bilang, katanya kau harus menemuinya kalau sudah membaca surat ini. Dan katanya dia juga akan menuliskan hal itu di suratnya. Dia bilang padaku kalau dia sangat penasaran semalu apa dia nanti setelah membaca suratnya. Sekarang aku malah jadi penasaran dengan apa yang ia tulis. Bisakah kau menanyakan itu padanya?

Ya Tuhan aku tidak percaya ini sudah lembar kelimaku. Kurasa aku akan mengakhirinya sampai disini saja. Tolong sampaikan padanya bahwa aku sangat mencintainya.




Dari Farhan (17 tahun)
Untuk Farhan (37 tahun)

# # #

“ngomong-ngomong, suratnya mas apain?” tanya Bunga mengaburkan lamunanku.

Saat kami sedang membicarakan hadiah yang kuberikan padanya di acara ulang tahunnya yang ke-17, tiba-tiba saja kepikiran kalimat terakhir yang kutulis di surat sialan itu. Aku tidak yakin harus mengatakannya atau tidak.

Aku menghela napas dan menjawabnya dengan wajah datar, “mas bakar.”

Bunga langsung tertawa terbahak-bahak. Sepertinya dia mengira aku bercanda, padahal serius aku bakar suratnya. Surat itu seperti tumpukan aib yang seharusnya tidak kuingat. Berkali-kali kucoba untuk merobeknya saat sedang membacanya, tapi aku penasaran dengan apa saja yang kutulis saat itu.

“beneran mas bakar loh.” Kataku mencoba meyakinkannya kalau aku serius melakukannya.

“iya percaya kok. Soalnya aku juga.”

Aku langsung ikut tertawa mendengarnya. Ternyata kami sepemikiran saat membacanya.

“lagian juga kalau dibaca mas Eddy bisa-bisa dia salah paham. Jadi lebih baik aku bakar.”

“aku juga menyembunyikannya dari Linda. Awalnya mas sempet deg-degan, pas ingat yang nerima surat tadi pagi itu dia, tapi pas mas tanya lagi dia ngga ingat pengirimnya siapa.” kataku sambil sesekali minum kopi.

Setelah itu kami mulai membicarakan keluarga kami masing-masing. Tidak, kami tidak membicarakan hal-hal buruk tentang suami atau istri kami. Kami malah menceritakan seberapa besar cinta kami kepada mereka, kepada anak-anak kami.

# # #

Jadi begitulah Farhan, akhir ceritanya tidak seperti yang kau harapkan. Kau bertanya tentang bagaimana kehidupanmu 20 tahun mendatang kan? Aku akan menjawabnya satu persatu.


Apa menyenangkan?
Ya, tapi tidak juga. Bagaimana aku menyimpulkannya ya? Sudah 20 tahun berlalu dan banyak hal terjadi. Kadang senang, kadang sedih. Bahkan baru saja 4 tahun berlalu setelah kau menuliskan surat itu, kau sudah tak lagi berpacaran dengan satu-satunya motivasimu untuk mempelajari buku-buku yang kau benci itu. Kau bahkan butuh waktu selama hampir 3 tahun untuk menyadari bahwa Bunga bukanlah jodohmu. Bahwa ia telah berbahagia dengan pria lain. Tapi disamping itu, kau akhirnya bertemu dengan sosok wanita lain yang lebih cantik dari Bunga, lebih hebat darinya, lebih bisa mengerti dirimu daripada dia. Dan itu merupakan suatu kebahagiaan yang kau sendiri tidak akan pernah percaya kalau tidak ada lagi hal yang bisa membuatmu lebih bahagia dibandingkan dengan bisa menikahi wanita hebat itu.


 Apa pada akhirnya aku bisa mewujudkan janjiku padanya?
Tidak. Punya kesempatanpun tidak. Dan aku tidak mau mengatakannya kepadamu alasannya.


Pekerjaan apa yang sedang kau lakukan di tahun-tahun ini?
Kau tidak akan percaya bahwa mimpimu untuk membangun real estate elit baru bisa kau wujudkan setelah 10 tahun bekerja di bidang ini. Pekerjaan ini tidak semudah yang kau pikirkan anak muda. Jadi tolong jangan sombong dulu dengan kemampuanmu itu.


Berapa gajimu? Lebih banyak dari gaji ayah?
Tentu saja gajiku lebih besar dari ayah! Haha!


Bagaimana keadaan ayah dan ibu?
Mereka baik-baik saja tinggal di kampung halaman ibu.


Apakah mereka sehat-sehat saja?
Sebenarnya, saat kau sudah mulai dewasa kau akan menyadari bahwa kata ‘sehat’ itu sangat relatif. Mereka sudah sangat tua jadi tidak mungkin kalau mereka bisa bebas dari penyakit. Tapi bisa dibilang kalau mereka baik-baik saja.


Berapa anakmu?
Kau tidak akan percaya bahwa wanita yang akan kau nikahi di masa depan menginginkan 4 orang anak. Tapi karena aku tau sesulit apa mengurusi 5 orang anak, aku berhasil membuatnya menuruti permintaanku. Jadi kami hanya memiliki 2 orang anak.


Sudah berapa tahun umurnya? Apakah sudah seumur diriku saat ini?
Aku jadi ingin bertanya pada diriku sendiri saat menuliskan pertanyaan ini. Apa saat itu kau benar-benar berpikir bahwa kau bisa menikahi Bunga diumur 20 tahun? Pertanyaan ini sungguh bodoh. Kau sendiri bahkan baru menikah di usia 28 tahun. Anak tertuamu baru akan berulang tahun yang ke-9 3 bulan lagi. Sedangkan anak terakhirmu baru saja menginjak umur 7 tahun minggu lalu.


Siapa namanya? Laki-laki atau perempuan?
Kakaknya laki-laki bernama Regan, adiknya perempuan bernama Reina.


Umur berapa kalian menikah?
Kalau kata ‘kalian’ disini merujuk pada diriku dan Bunga, sayangnya kau tidak menikahnya. Bunga menikah diumur ke 26 tahun. Suaminya bernama Eddy, lebih tua 3 tahun darinya. Mereka pertama kali bertemu saat kuliah dan pria bernama Eddy ini sudah menyukai Bunga sejak pandangan pertama. Dan kau memberikannya kesempatan untuk mencuri hati Bunga saat kau menyakitinya. Tapi kau tidak perlu menyesalinya berlama-lama karena pada akhirnya kau dipertemukan dengan Linda, wanita yang lebih berharga dari apapun di dunia ini.


Lalu pertanyaan tentang “kenapa 20 tahun?” jawabannya adalah aku tidak tau.

Untuk permintaanmu yang menanyakan isi surat Bunga, aku menolaknya karena itu memalukan.

Juga permintaan terakhirmu itu, maaf aku tidak bisa mengatakannya karena saat ini ada wanita hebat yang sedang menungguku di rumah. Dan aku tidak ingin mengecewakannya.




0 comments:

Posting Komentar

Hubungi kami :

Twitter : @APAksara

Email : apaksara3@gmail.com

HP : 085773226995

Instagram: kapas3.aksara

Twitter

Translator