“kalau ini hanyalah mimpi... tolong bangunkan aku.... siapapun...”
Rintihan seseorang itu berhasil
menyadarkan Dilan dari lamunannya. Ia berlari menuju sumber suara yang tak jauh
dari tempatnya berdiri tadi. Berharap ada seseorang yang bisa ia andalkan
disituasi seperti ini. Pemandangan tempat itu tak jauh berbeda dari tempat pertama
kali ia membuka matanya tadi. Gedung-gedung banyak yang hancur, kabut debu yang
menghalang pandangan mata, mobil-mobil yang terbalik dan hancur tertimpa papan
reklame, serta manusia yang bergeletakan di jalan tak bernyawa. Dilan kembali
mendengar rintihan itu lebih kencang dan langsung berbelok melewati truk besar
yang sudah terguling di depannya. Dibalik truk besar itu ia melihat seorang remaja laki-laki seusianya
tertindih sisa-sisa bangunan yang runtuh. Dari dada hingga kepalanya selamat,
tapi sisanya, ia tak tau lagi. Remaja laki-laki itu berkali-kali merintih
kesakitan. Dari wajahnya yang penuh darah dan debu itu terlihat bekas air mata
yang telah mengering. Entah sudah berapa lama remaja laki-laki itu terperangkap
disana. Dilan tak sanggup melihatnya, ia pun berlari meninggalkan remaja
laki-laki itu sendirian.
Sudah cukup jauh ia berlari hingga
akhirnya ia memutuskan untuk beristirahat di balik mobil yang sudah tak ada
pemiliknya. Ia bingung, benar-benar tak mengerti apa yang sebenarnya telah
terjadi. Saat membuka matanya sejam lalu, hal pertama yang Dilan lihat adalah langit
senja berwarna kemerahan di atasnya. Dilan bangun dan melihat kota di sekelilingnya
sudah hancur berantakan. Ternyata sejak tadi ia terbaring di tengah jalan raya
yang penuh dengan kendaraan pribadi–yang kini jelas tak ada pemiliknya. Dalam hatinya,
ia yakin tadinya tempat ini adalah pusat kota yang ramai dengan gedung-gedung
pencakar langitnya. Meskipun ia sendiri tak ingat kejadian apapun sebelum ia tersadarkan.
Ia bahkan tak ingat dimana ia berada sekarang. Juga dari mana sebenarnya ia
berasal. Satu hal yang ia ketahui hanyalah namanya, Dilan.
“gempa besar mungkin?” tanya
Dilan dalam hati.
Melihat kondisi kota yang hancur
berantakan seperti ini, gempa besar memang satu-satunya hal yang mungkin
terjadi. Namun bisa juga sebenarnya telah terjadi perang dunia. Tidak ada yang
tau. Sudah berjam-jam Dilan berjalan meyusuri kota di balik mobil-mobil besar
yang ditinggalkan pemiliknya dengan patahan tongkat besi ringan di tangannya. Sebingung
apapun dirinya saat ini, ia harus tetap mempersiapkan diri untuk hal-hal
terburuk yang mungkin terjadi. Ia menjadi semakin waspada setelah 30 menit yang
lalu ia melihat ada senapan laras panjang tergeletak di sebelah mayat pria tua
dengan pakaian anti pelurunya. Perang dunia menjadi satu-satunya hal yang
mungkin saat ini. Ia ambil senapan itu yang ternyata sudah tak berguna lagi karena
tidak ada pelurunya. Tapi untuk jaga-jaga, ia mengambil pakaian anti peluru pria
tua itu dan senapannya lalu disangkutkan talinya itu di punggung. Ia juga
mengambil patahan tongkat besi di depannya. Kalau-kalau senapan laras
panjangnya tidak mampu mengancam sesuatu yang berbahaya nanti. Dilan juga tak
mau ambil resiko masuk ke gedung yang masih utuh setengah atau tiga perempat
bagiannya itu. Gedung-gedung itu meski terlihat kokoh tapi bisa runtuh
kapanpun. Jadi ia memutuskan untuk berjalan mengendap-endap di balik mobil.
Tiba-tiba ia mendengar suara
gemuruh segerombolan orang–atau sesuatu–berlari di kejauhan. Suaranya semakin
lama, semakin kencang yang berarti mereka menuju kemari! Tanpa berpikir
panjang, Dilan berlari masuk ke gedung, atau lebih tepatnya sebuah cafe dan bersembunyi di balik meja
panjang dekat pintu masuk menuju dapur. Suara gemuruh itu terdengar semakin
kencang, begitu juga debaran jantung Dilan. Keringat dingin mulai bercucuran di
wajahnya. Seluruh tubuhnya gemetar hebat tak sanggup membayangkan apa yang
menghampirinya. Setelah beberapa saat, gerombolan itu berlarian melewati cafe tempat Dilan bersembunyi. Suaranya yang
berat dan kencang membuat Dilan yakin gerombolan itu anggotanya banyak sekali.
Dilan memberanikan diri untuk mengintip sedikit dari balik kasir, bagaimanapun
juga ia harus tau apakah gerombolan itu dapat membantunya atau tidak.
Sialnya gerombolan itu sangat
tidak mungkin membantunya. Gerombolan itu terdiri dari makhluk-makhluk
mengerikan. Dilan yakin makhluk itu bukanlah manusia, juga bukan hewan. Badan mereka
tinggi dan besar-besar dengan pakaiannya yang compang-camping karena
perkelahian atau entahlah, apapun itu. Kulit mereka terlihat kasar dan kusam
berwarna cokelat kehijauan, seperti warna tanah. Wajah mereka juga berantakan. Beberapa
dari mereka memiliki wajah yang sempurna–maksudnya tampak jelas mata, hidung
dan mulut–tapi sebagian besar tidak. Kebanyakan dari mereka memiliki hidung
yang menyatu dengan bagian atas mulut mereka, juga matanya yang hanya ada satu,
atau bahkan tiga. Tangan dan kaki mereka juga sangat besar dan kasar. Kuku mereka
yang kotor tampak runcing dan tajam. Di ujung-ujungnya terlihat warna merah
kehitaman, seperti darah kering.
“aku yakin hanya dengan satu
tangan, mereka bisa mengangkat kepala satu orang dan menghancurkannya seketika.”
Gumam Dilan dalam hati.
Saat ia sedang memperhatikan
makhluk mengerikan itu, tiba-tiba saja satu dari mereka melihat Dilan dan
langsung berhenti berlari. Dilan buru-buru bersembunyi lagi. Ia mengangkat sedikit
tongkat besi di sampingnya, walaupun ia sendiri yakin tongkat besinya itu hanya
akan bengkok kalau dipukul ke makhluk mengerikan itu. Namun setidaknya, sebelum
ia mati, ia ingin berusaha untuk hidup terlebih dahulu. Berusaha mencari tau
siapa ia sebenarnya dan apa yang terjadi disini.
Dilan sangat beruntung karena
makhluk itu sangat tidak peka terhadap sekelilingnya. Pengelihatan mereka
sebenarnya sangat buruk, penciuman mereka juga tidak terlalu baik, hanya
pendengaran mereka lah yang sempurna. Namun karena suara bising langkah kaki
segerombolan makhluk berat itu, tak satupun bisa mendengar suara napas Dilan
yang sedari tadi menderu-deru. Sebagian besar makhluk-makhluk itu mendorong
makhluk yang tiba-tiba berhenti itu karena dia sudah menghambat perjalanan
mereka. Makhluk itu akhirnya terpaksa mengikuti arus dan terus berlari. Dilan sendiri
masih belum mengetahuinya karena ia hanya fokus mendengarkan suara langkah kaki
gerombolan makhluk-makhluk mengerikan itu. Setelah beberapa saat suara
gerombolan itu semakin menipis dan perlahan-lahan menghilang. Dilan
memberanikan dirinya untuk melihat keluar dan ternyata tak satupun dari makhluk
mengerikan itu ada disana. Seketika tubuh Dilan yang tadinya menegang langsung
terjatuh lemas. Akhirnya ia bisa bernapas lega. Meski begitu tubuhnya masih
tetap gemetar ketakutan, otaknya masih membayangkan hal terburuk yang mungkin
terjadi padanya beberapa menit yang lalu.
Setelah beberapa saat, Dilan
memutuskan untuk keluar dari cafe
tersebut. Ia sudah menjelajahi isi dapurnya dan ia tak menemukan apapun yang
berguna, kecuali pisau. Walaupun pisaunya tajam, Dilan tak yakin bisa
melawan makhluk tadi dengan jarak yang kurang dari semeter. Namun ia memutuskan
untuk tetap membawanya. Dilan keluar dan melihat langit sudah gelap. Terlihat bintang
bertaburan di atas sana, menjadi satu-satunya pemandangan yang bisa Dilan
nikmati disituasi seperti ini. Dilan berjalan mengendap-endap sambil mengawasi
sekelilingnya. Bisa saja tak jauh darinya ada segerombolan makhluk lainnya yang
sedang beristirahat. Dilan berjalan selama sejam penuh tanpa berhenti, mencari
seseorang yang bisa menjelaskan kepadanya apa yang sebenarnya terjadi dan apa
makhluk yang ia lihat tadi. Dengan melihat segerombolan makhluk mengerikan
tadi, kini Dilan yakin kota ini hancur bukan karena bencana alam seperti gempa
bumi ataupun perang dunia, tapi sesuatu yang lebih mengerikan–yang ia sendiri
tak bisa membayangkannya.
Selagi Dilan melihat gedung-gedung
yang utuh, samar-samar ia melihat sesuatu seperti jembatan yang menghubungi dua
gedung. Dilan berlari menuju gedung itu dan benar saja! Ia melihat
jembatan-jembatan terhubung di atas gedung. Dilan langsung berlari memasuki
gedung kantoran itu. Jantungnya berdebar kencang bukan karena rasa takut, melainkan
perasaan senang dan bersemangat karena akhirnya ada suatu petunjuk yang
mengatakan bahwa ia bukanlah satu-satunya manusia yang berhasil hidup. Ia
memasuki gedung tua itu. Dalamnya sangat gelap, cahayanya hanya berasal dari jendela-jendela
yang telah runtuh kacanya. Dilan berbelok masuk ke sebuah lorong yang sangat
gelap dan berantakan. Ia memasuki lorong itu berhati-hati dan akhirnya
menemukan tangga darurat. Tangga itu juga ada yang menuju ke basement tapi jalurnya tertutup rapat. Seperti
menghalangi siapapun untuk masuk kesana, atau mungkin keluar dari sana? Memikirkannya
membuat Dilan merinding. Ia pun memutuskan untuk pelan-pelan naik ke atas.
Meski gelap, Dilan bisa menyadari
bahwa ada banyak jebakan dan senjata tajam di tangga. Ia menelan ludah dan
memberanikan diri untuk melewatinya. Bagaimanapun juga jebakan-jebakan itu
pasti sangatlah berbahaya. Entah bagaimana caranya Dilan bisa merasakan
jebakan-jebakan itu ada dimana meski gelap dan tak terlihat. Ia melewati
jebakan-jebakan itu dengan sangat berhati-hati, akhirnya sampailah ia di tangga
terakhir. Tangga di atasnya sudah ditutup rapat sehingga tak satupun bisa
melewatinya. Akhirnya Dilan memutuskan untuk membuka pintu yang ada di tangga
sebelumnya. Ia mendorong sekuat tenaganya. Jelas pintu itu tak akan mudah
didobrak karena jalurnya saja sudah disebar banyak jebakan mematikan, pasti ada
sesuatu yang menahan pintu itu agar tak terbuka. Namun anehnya, hanya dalam
tiga kali ia mendorong, pintu itu terbuka.
Dilan memasukinya, ruangan itu
sangat luas, tak begitu rapi, tapi terlihat sudah disusun sedemikian rupa agar
tidak menghalangi jalan. Dilan masuk lebih dalam dan melihat ternyata ada
sebuah ruangan terang disana. Ia berlari, berharap ada sekumpulan orang yang
bisa menyambutnya, entah dengan baik atau buruk, yang penting bagi Dilan saat
ini adalah bertemu dengan seseorang. Tak lama berlari, Dilan mendapati ruangan
itu kosong. Di tengah-tengahnya terdapat beberapa meja yang disusun dengan tiga
buah radio tak menyala di atasnya. Tak ada apapun disana. Dilan memutuskan untu
naik ke lantai selanjutnya dan mendapati lantai itu, lagi-lagi, kosong. Ia pun
berlari dan terus berlari. Semalaman ia menjelajahi isi gedung yang ternyata kosong
itu. Ada beberapa ruangan yang penuh dengan senjata, ada juga ruangan yang
penuh dengan lemari-lemari berisi kain-kain pakaian dan selimut, ada juga
ruangan dengan berbagai macam peralatan medis. Jelas sekali bahwa gedung ini
tadinya berpenghuni. Namun kemana perginya orang-orang itu?
Meski kelelahan Dilan terus
mencari hingga ke satu lantai teratas. Di luar sudah mulai terang. Karena terlalu
sibuk mencari keberadaan penghuni gedung ini, Dilan tidak menyadari bahwa dirinya
sudah berlari lebih dari 9 jam tanpa tidur, meski beberapa kali beristirahat. Tubuhnya
yang sudah berkucuran keringat itu terjatuh di lantai. Ia melihat keluar,
langit sudah mulai terang. Setelah beberapa saat Dilan mulai menaiki tangga,
yang ternyata tangga terakhir. Pintu terakhir yang ia buka ternyata menuju atap
gedung. Angin pagi menerjang tubuhnya yang kelelahan, membuat tubuhnya seketika
gemetar. Dilan hendak kembali ke dalam, namun setelah melihat ada sebuah meja
di tengah-tengah atap, ia memutuskan untuk mendekatinya. Ternyata di atas meja
itu ada selembar kertas yang tertahan oleh batu. Dilan mengambil kertas itu dan
membaca isinya.
Aku
tidak yakin akan ada yang membacanya, tapi setidaknya aku ingin meninggalkan
jejak bahwa kami pernah hidup di dunia yang kejam ini.
Dika
Faizal
Merry
Karin
Yoga
Brian
Dan
aku, Cerah.
Kami
adalah manusia terakhir yang berhasil bertahan hidup di dunia ini. Kami ditunjuk
sebagai ‘yang terakhir’, karena yang
lain sudah lebih dulu menyerahkan hidup mereka kepada alam. Dan gedung ini
adalah gedung terakhir yang bisa menyelematkan kami dari ‘mereka’. Jika kau membaca tulisan ini, itu artinya kau sendirian. Hanya
ada dua pilihan untukmu; bertahan hidup
sendirian, atau bunuh diri. Karena
cepat atau lambat, ‘mereka’ akan
menemukanmu disini.
Dilan melepaskan kertas itu dan
membiarkannya terbang terbawa angin. Ia sama sekali tidak menyangka, bukannya
malah menemukan harapan, ia malah membaca surat mengerikan itu. Kini hilang
sudah semua harapan Dilan. Ia tak tau kemana ia harus pergi, namun kakinya
memaksanya berjalan ke pinggir atap. Dari atas ia bisa melihatnya, dibantu cahaya
matahari yang mulai menerangi gedung-gedung dan jalanan. Dilan melihat tumpukan
mayat bergeletak di bawah sana. Mayat dengan lautan darah yang mengerikan.
# # #
Dilan membuka matanya. Jantungnya
berdebar-debar dan keringat dingin berkucuran di tubuhnya. Ia bangun dan
mendapati dirinya di atas kasur empuk miliknya. Bunyi alarm menyadarkannya
bahwa jam sudah menunjukan pukul 5 pagi lewat. Ia harus segera bersiap-siap
atau dia akan terlambat ke sekolah. Namun sebelum itu, Dilan meraih ponselnya. Sambil
mengelap keringat dingin di wajahnya, Dilan mengetik sesuatu di aplikasi chatting yang akhir-akhir ini ia buka.
16 Januari 2014,
Ini adalah mimpi kelimaku di bulan ini. Aku sangat membencinya. Bisakah kau menghentikan semua ini?! Aku sudah muak!!
0 comments:
Posting Komentar