Minggu, 21 Agustus 2016

Apa Ini




           “kalau ini hanyalah mimpi... tolong bangunkan aku.... siapapun...”

          Rintihan seseorang itu berhasil menyadarkan Dilan dari lamunannya. Ia berlari menuju sumber suara yang tak jauh dari tempatnya berdiri tadi. Berharap ada seseorang yang bisa ia andalkan disituasi seperti ini. Pemandangan tempat itu tak jauh berbeda dari tempat pertama kali ia membuka matanya tadi. Gedung-gedung banyak yang hancur, kabut debu yang menghalang pandangan mata, mobil-mobil yang terbalik dan hancur tertimpa papan reklame, serta manusia yang bergeletakan di jalan tak bernyawa. Dilan kembali mendengar rintihan itu lebih kencang dan langsung berbelok melewati truk besar yang sudah terguling di depannya. Dibalik truk besar itu ia  melihat seorang remaja laki-laki seusianya tertindih sisa-sisa bangunan yang runtuh. Dari dada hingga kepalanya selamat, tapi sisanya, ia tak tau lagi. Remaja laki-laki itu berkali-kali merintih kesakitan. Dari wajahnya yang penuh darah dan debu itu terlihat bekas air mata yang telah mengering. Entah sudah berapa lama remaja laki-laki itu terperangkap disana. Dilan tak sanggup melihatnya, ia pun berlari meninggalkan remaja laki-laki itu sendirian.

          Sudah cukup jauh ia berlari hingga akhirnya ia memutuskan untuk beristirahat di balik mobil yang sudah tak ada pemiliknya. Ia bingung, benar-benar tak mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi. Saat membuka matanya sejam lalu, hal pertama yang Dilan lihat adalah langit senja berwarna kemerahan di atasnya. Dilan bangun dan melihat kota di sekelilingnya sudah hancur berantakan. Ternyata sejak tadi ia terbaring di tengah jalan raya yang penuh dengan kendaraan pribadi–yang kini jelas tak ada pemiliknya. Dalam hatinya, ia yakin tadinya tempat ini adalah pusat kota yang ramai dengan gedung-gedung pencakar langitnya. Meskipun ia sendiri tak ingat kejadian apapun sebelum ia tersadarkan. Ia bahkan tak ingat dimana ia berada sekarang. Juga dari mana sebenarnya ia berasal. Satu hal yang ia ketahui hanyalah namanya, Dilan.

          “gempa besar mungkin?” tanya Dilan dalam hati.

          Melihat kondisi kota yang hancur berantakan seperti ini, gempa besar memang satu-satunya hal yang mungkin terjadi. Namun bisa juga sebenarnya telah terjadi perang dunia. Tidak ada yang tau. Sudah berjam-jam Dilan berjalan meyusuri kota di balik mobil-mobil besar yang ditinggalkan pemiliknya dengan patahan tongkat besi ringan di tangannya. Sebingung apapun dirinya saat ini, ia harus tetap mempersiapkan diri untuk hal-hal terburuk yang mungkin terjadi. Ia menjadi semakin waspada setelah 30 menit yang lalu ia melihat ada senapan laras panjang tergeletak di sebelah mayat pria tua dengan pakaian anti pelurunya. Perang dunia menjadi satu-satunya hal yang mungkin saat ini. Ia ambil senapan itu yang ternyata sudah tak berguna lagi karena tidak ada pelurunya. Tapi untuk jaga-jaga, ia mengambil pakaian anti peluru pria tua itu dan senapannya lalu disangkutkan talinya itu di punggung. Ia juga mengambil patahan tongkat besi di depannya. Kalau-kalau senapan laras panjangnya tidak mampu mengancam sesuatu yang berbahaya nanti. Dilan juga tak mau ambil resiko masuk ke gedung yang masih utuh setengah atau tiga perempat bagiannya itu. Gedung-gedung itu meski terlihat kokoh tapi bisa runtuh kapanpun. Jadi ia memutuskan untuk berjalan mengendap-endap di balik mobil.

          Tiba-tiba ia mendengar suara gemuruh segerombolan orang–atau sesuatu–berlari di kejauhan. Suaranya semakin lama, semakin kencang yang berarti mereka menuju kemari! Tanpa berpikir panjang, Dilan berlari masuk ke gedung, atau lebih tepatnya sebuah cafe dan bersembunyi di balik meja panjang dekat pintu masuk menuju dapur. Suara gemuruh itu terdengar semakin kencang, begitu juga debaran jantung Dilan. Keringat dingin mulai bercucuran di wajahnya. Seluruh tubuhnya gemetar hebat tak sanggup membayangkan apa yang menghampirinya. Setelah beberapa saat, gerombolan itu berlarian melewati cafe tempat Dilan bersembunyi. Suaranya yang berat dan kencang membuat Dilan yakin gerombolan itu anggotanya banyak sekali. Dilan memberanikan diri untuk mengintip sedikit dari balik kasir, bagaimanapun juga ia harus tau apakah gerombolan itu dapat membantunya atau tidak.

      Sialnya gerombolan itu sangat tidak mungkin membantunya. Gerombolan itu terdiri dari makhluk-makhluk mengerikan. Dilan yakin makhluk itu bukanlah manusia, juga bukan hewan. Badan mereka tinggi dan besar-besar dengan pakaiannya yang compang-camping karena perkelahian atau entahlah, apapun itu. Kulit mereka terlihat kasar dan kusam berwarna cokelat kehijauan, seperti warna tanah. Wajah mereka juga berantakan. Beberapa dari mereka memiliki wajah yang sempurna–maksudnya tampak jelas mata, hidung dan mulut–tapi sebagian besar tidak. Kebanyakan dari mereka memiliki hidung yang menyatu dengan bagian atas mulut mereka, juga matanya yang hanya ada satu, atau bahkan tiga. Tangan dan kaki mereka juga sangat besar dan kasar. Kuku mereka yang kotor tampak runcing dan tajam. Di ujung-ujungnya terlihat warna merah kehitaman, seperti darah kering.

         “aku yakin hanya dengan satu tangan, mereka bisa mengangkat kepala satu orang dan menghancurkannya seketika.” Gumam Dilan dalam hati.

          Saat ia sedang memperhatikan makhluk mengerikan itu, tiba-tiba saja satu dari mereka melihat Dilan dan langsung berhenti berlari. Dilan buru-buru bersembunyi lagi. Ia mengangkat sedikit tongkat besi di sampingnya, walaupun ia sendiri yakin tongkat besinya itu hanya akan bengkok kalau dipukul ke makhluk mengerikan itu. Namun setidaknya, sebelum ia mati, ia ingin berusaha untuk hidup terlebih dahulu. Berusaha mencari tau siapa ia sebenarnya dan apa yang terjadi disini.

     Dilan sangat beruntung karena makhluk itu sangat tidak peka terhadap sekelilingnya. Pengelihatan mereka sebenarnya sangat buruk, penciuman mereka juga tidak terlalu baik, hanya pendengaran mereka lah yang sempurna. Namun karena suara bising langkah kaki segerombolan makhluk berat itu, tak satupun bisa mendengar suara napas Dilan yang sedari tadi menderu-deru. Sebagian besar makhluk-makhluk itu mendorong makhluk yang tiba-tiba berhenti itu karena dia sudah menghambat perjalanan mereka. Makhluk itu akhirnya terpaksa mengikuti arus dan terus berlari. Dilan sendiri masih belum mengetahuinya karena ia hanya fokus mendengarkan suara langkah kaki gerombolan makhluk-makhluk mengerikan itu. Setelah beberapa saat suara gerombolan itu semakin menipis dan perlahan-lahan menghilang. Dilan memberanikan dirinya untuk melihat keluar dan ternyata tak satupun dari makhluk mengerikan itu ada disana. Seketika tubuh Dilan yang tadinya menegang langsung terjatuh lemas. Akhirnya ia bisa bernapas lega. Meski begitu tubuhnya masih tetap gemetar ketakutan, otaknya masih membayangkan hal terburuk yang mungkin terjadi padanya beberapa menit yang lalu.

         Setelah beberapa saat, Dilan memutuskan untuk keluar dari cafe tersebut. Ia sudah menjelajahi isi dapurnya dan ia tak menemukan apapun yang berguna, kecuali pisau. Walaupun pisaunya tajam, Dilan tak yakin bisa melawan makhluk tadi dengan jarak yang kurang dari semeter. Namun ia memutuskan untuk tetap membawanya. Dilan keluar dan melihat langit sudah gelap. Terlihat bintang bertaburan di atas sana, menjadi satu-satunya pemandangan yang bisa Dilan nikmati disituasi seperti ini. Dilan berjalan mengendap-endap sambil mengawasi sekelilingnya. Bisa saja tak jauh darinya ada segerombolan makhluk lainnya yang sedang beristirahat. Dilan berjalan selama sejam penuh tanpa berhenti, mencari seseorang yang bisa menjelaskan kepadanya apa yang sebenarnya terjadi dan apa makhluk yang ia lihat tadi. Dengan melihat segerombolan makhluk mengerikan tadi, kini Dilan yakin kota ini hancur bukan karena bencana alam seperti gempa bumi ataupun perang dunia, tapi sesuatu yang lebih mengerikan–yang ia sendiri tak bisa membayangkannya.

          Selagi Dilan melihat gedung-gedung yang utuh, samar-samar ia melihat sesuatu seperti jembatan yang menghubungi dua gedung. Dilan berlari menuju gedung itu dan benar saja! Ia melihat jembatan-jembatan terhubung di atas gedung. Dilan langsung berlari memasuki gedung kantoran itu. Jantungnya berdebar kencang bukan karena rasa takut, melainkan perasaan senang dan bersemangat karena akhirnya ada suatu petunjuk yang mengatakan bahwa ia bukanlah satu-satunya manusia yang berhasil hidup. Ia memasuki gedung tua itu. Dalamnya sangat gelap, cahayanya hanya berasal dari jendela-jendela yang telah runtuh kacanya. Dilan berbelok masuk ke sebuah lorong yang sangat gelap dan berantakan. Ia memasuki lorong itu berhati-hati dan akhirnya menemukan tangga darurat. Tangga itu juga ada yang menuju ke basement tapi jalurnya tertutup rapat. Seperti menghalangi siapapun untuk masuk kesana, atau mungkin keluar dari sana? Memikirkannya membuat Dilan merinding. Ia pun memutuskan untuk pelan-pelan naik ke atas.

          Meski gelap, Dilan bisa menyadari bahwa ada banyak jebakan dan senjata tajam di tangga. Ia menelan ludah dan memberanikan diri untuk melewatinya. Bagaimanapun juga jebakan-jebakan itu pasti sangatlah berbahaya. Entah bagaimana caranya Dilan bisa merasakan jebakan-jebakan itu ada dimana meski gelap dan tak terlihat. Ia melewati jebakan-jebakan itu dengan sangat berhati-hati, akhirnya sampailah ia di tangga terakhir. Tangga di atasnya sudah ditutup rapat sehingga tak satupun bisa melewatinya. Akhirnya Dilan memutuskan untuk membuka pintu yang ada di tangga sebelumnya. Ia mendorong sekuat tenaganya. Jelas pintu itu tak akan mudah didobrak karena jalurnya saja sudah disebar banyak jebakan mematikan, pasti ada sesuatu yang menahan pintu itu agar tak terbuka. Namun anehnya, hanya dalam tiga kali ia mendorong, pintu itu terbuka.

          Dilan memasukinya, ruangan itu sangat luas, tak begitu rapi, tapi terlihat sudah disusun sedemikian rupa agar tidak menghalangi jalan. Dilan masuk lebih dalam dan melihat ternyata ada sebuah ruangan terang disana. Ia berlari, berharap ada sekumpulan orang yang bisa menyambutnya, entah dengan baik atau buruk, yang penting bagi Dilan saat ini adalah bertemu dengan seseorang. Tak lama berlari, Dilan mendapati ruangan itu kosong. Di tengah-tengahnya terdapat beberapa meja yang disusun dengan tiga buah radio tak menyala di atasnya. Tak ada apapun disana. Dilan memutuskan untu naik ke lantai selanjutnya dan mendapati lantai itu, lagi-lagi, kosong. Ia pun berlari dan terus berlari. Semalaman ia menjelajahi isi gedung yang ternyata kosong itu. Ada beberapa ruangan yang penuh dengan senjata, ada juga ruangan yang penuh dengan lemari-lemari berisi kain-kain pakaian dan selimut, ada juga ruangan dengan berbagai macam peralatan medis. Jelas sekali bahwa gedung ini tadinya berpenghuni. Namun kemana perginya orang-orang itu?

          Meski kelelahan Dilan terus mencari hingga ke satu lantai teratas. Di luar sudah mulai terang. Karena terlalu sibuk mencari keberadaan penghuni gedung ini, Dilan tidak menyadari bahwa dirinya sudah berlari lebih dari 9 jam tanpa tidur, meski beberapa kali beristirahat. Tubuhnya yang sudah berkucuran keringat itu terjatuh di lantai. Ia melihat keluar, langit sudah mulai terang. Setelah beberapa saat Dilan mulai menaiki tangga, yang ternyata tangga terakhir. Pintu terakhir yang ia buka ternyata menuju atap gedung. Angin pagi menerjang tubuhnya yang kelelahan, membuat tubuhnya seketika gemetar. Dilan hendak kembali ke dalam, namun setelah melihat ada sebuah meja di tengah-tengah atap, ia memutuskan untuk mendekatinya. Ternyata di atas meja itu ada selembar kertas yang tertahan oleh batu. Dilan mengambil kertas itu dan membaca isinya.


Aku tidak yakin akan ada yang membacanya, tapi setidaknya aku ingin meninggalkan jejak bahwa kami pernah hidup di dunia yang kejam ini.
Dika
Faizal
Merry
Karin
Yoga
Brian
Dan aku, Cerah.
Kami adalah manusia terakhir yang berhasil bertahan hidup di dunia ini. Kami ditunjuk sebagai ‘yang terakhir’, karena yang lain sudah lebih dulu menyerahkan hidup mereka kepada alam. Dan gedung ini adalah gedung terakhir yang bisa menyelematkan kami dari ‘mereka’. Jika kau membaca tulisan ini, itu artinya kau sendirian. Hanya ada dua pilihan untukmu; bertahan hidup sendirian, atau bunuh diri. Karena cepat atau lambat, ‘mereka’ akan menemukanmu disini.


          Dilan melepaskan kertas itu dan membiarkannya terbang terbawa angin. Ia sama sekali tidak menyangka, bukannya malah menemukan harapan, ia malah membaca surat mengerikan itu. Kini hilang sudah semua harapan Dilan. Ia tak tau kemana ia harus pergi, namun kakinya memaksanya berjalan ke pinggir atap. Dari atas ia bisa melihatnya, dibantu cahaya matahari yang mulai menerangi gedung-gedung dan jalanan. Dilan melihat tumpukan mayat bergeletak di bawah sana. Mayat dengan lautan darah yang mengerikan.

# # #

     Dilan membuka matanya. Jantungnya berdebar-debar dan keringat dingin berkucuran di tubuhnya. Ia bangun dan mendapati dirinya di atas kasur empuk miliknya. Bunyi alarm menyadarkannya bahwa jam sudah menunjukan pukul 5 pagi lewat. Ia harus segera bersiap-siap atau dia akan terlambat ke sekolah. Namun sebelum itu, Dilan meraih ponselnya. Sambil mengelap keringat dingin di wajahnya, Dilan mengetik sesuatu di aplikasi chatting yang akhir-akhir ini ia buka.




16 Januari 2014,
Ini adalah mimpi kelimaku di bulan ini. Aku sangat membencinya. Bisakah kau menghentikan semua ini?! Aku sudah muak!!









0 comments:

Posting Komentar

Hubungi kami :

Twitter : @APAksara

Email : apaksara3@gmail.com

HP : 085773226995

Instagram: kapas3.aksara

Twitter

Translator