Kamis, 25 Agustus 2016

SODRIEW 4


                Peran Awan di cerita ini sudah tidak perlu ditanyakan. Sudah jelas, sebagai seniman. Pertanyaannya adalah: seniman seperti apa? Karena sebenarnya, Awan tidak pernah menganggap dirinya seorang seniman. Ia hanyalah orang yang bosan, dan mudah bosan. Karena itu, dia menginginkan hal yang bisa membuatnya tertarik. Selalu begitu. Bedanya dengan Arief, yang suatu saat akan kuperkenalkan (dan benar-benar ingin kuperkenalkan), ia hanya menunggu. Dan ketika ia temukan, sebuah timer menyala. Dimana saat timernya berakhir, ia akan kembali bosan.

                Aku memperkenalkan Awan sebagai seorang seniman. Sebenarnya aku salah. Awan tidak, atau belum, seorang seniman. Hanya saja, Arsa dan Sarah bisa melihat potensi tersembunyinya. Mereka merasakan kemampuan yang disembunyikan. Dan tentunya, pemikiran menarik yang sayang untuk dipendam. Karena itu, mereka mengajak Awan sebagai seorang seniman. Yang nantinya, akan terus berkembang.
                Tentu saja Awan tidak terlahir sebagai orang yang menyukai seni. Bahkan ia tidak sadar kalau seni itu adalah sesuatu yang menarik. Karena seni, sudah ia alami sejak lahir, seolah itu alami. Suara musik klasik, misalnya. Denting piano yang terdengar susah dan indah, ia dengar tiap hari saat ayahnya bermain. Dan nantinya, ia menyaksikan kemampuan adiknya yang kemampuannya jauh di atas dirinya. Maka lagu klasik yang terdengar sulit, sudah ia anggap biasa sejak ia kecil. Gambar dan lukisan juga begitu. Ia selalu kalah. Dan karena itu, menyerah.
                Tapi “menyerah” adalah kelebihan sekaligus kekurangannya; begitu pula “bosan”. Awan bisa melakukan hampir apa saja, karena pernah mencoba. Sayangnya, ia tak menguasai satu pun, karena tidak pernah mempelajarinya sampai tuntas. Bagi beberapa, mungkin ia akan dianggap tak berguna. Karena dunia nyata memang hanya butuh yang terbaik ‘kan? Kemampuan yang setengah-setengah hanya akan mengganggu. Arsa memahami semua itu. Tapi, saat ini, orang seperti Awan lah yang ia butuhkan agar bisa melakukan banyak hal. Dan karena itu, Arsa mau menerima Awan sebagai bagian penting dari cerita ini.
-
Timelapse cukup banyak. Saat itu sudah semester dua. Ini setelah mereka pulang dari Eropa: jalan-jalan bersama keluarga Arsa.
-
                Awan dan Arsa bertemu di taman samping balai kota: tempat favorit mereka dulu. Kali ini berdua. Karena mereka membicarakan sesuatu yang tak begitu Sarah suka. Katanya “Pembicaraan kalian selalu gelap! Aku kadang takut mendengarnya!”.  Padahal biasanya, Sarah lah yang paling suka tempat ini. Terutama saat mendung. Mereka akan berbaring menatap gedung sambil menikmati angin sepoi-sepoi. Mendengarkan suara kereta yang bolak-balik, sambil mendengarkan nyanyian anak-anak yang tinggal di pinggir rel. Lalu berpikir bersama. Yah, seperti Awan saat ini.
                “Jadi, mulai sekarang, kita akan membuat kesan baik?” Awan bertanya. Masih berbaring.
                “Kesan positif. Bukan baik.” Jawab Arsa. “Aku rasa lebih baik kita terus menjadi kurang baik.” Katanya lagi.
                “Caranya gimana, sa?” Awan merasa kalau ini sulit. Yah, pada dasarnya ia memang seorang pesimis.
                “Pertama, kita butuh teman. Orang lain yang bisa membuat kita terlihat lebih nyata. Saat ini kita terlihat hanya sebagai kita. Benar-benar terasingkan. Karena itu, kita butuh kelompok yang membuat kita tidak terlihat sendiri.” Arsa menjelaskan.
                Awan sebenarnya kurang setuju dengan ide “menambah teman”. Karena menurut pengalamannya, memiliki teman hanya akan menghambat dan merepotkan. Seringkali mereka tak mengerti apa yang ia pikirkan. Sering juga tak sepemikiran. Dan Awan sangat benci pada mereka yang berpemikiran dangkal. Tapi, yah, ini rencana Arsa. Awan merasa tidak berhak untuk menolak. Tapi setidaknya, ia ingin menyampaikan pikiran itu.
                “Sebisa mungkin, aku tidak mau memiliki teman yang biasa-biasa saja.” Kata Awan. “Kalau memang nanti aku akan berperan banyak, aku mau memilih partnerku sendiri.” Katanya lagi.
                “Wah, wan. Maaf banget, nih. Saat ini kamu belum bisa memilih. Karena saat ini belum ada pilihan.” Kata Arsa. Ia kini duduk. “Tapi soal ‘biasa-biasa saja’ atau tidak, kamu tidak perlu khawatir. Karena tidak ada orang normal yang mau jadi teman kita.” Katanya lagi. “Nanti, pada waktunya, kamu juga akan bertemu dengan orang yang mirip dengan kita, kok. Pasti ada, lah. Walau sedikit.” Katanya lagi. Seolah meyakinkan Awan untuk menyetujui rencananya.
                “Hmm. Yasudah kalau harus begitu.” Sesekali berkorban tak apa lah. Pikir Awan. “Jadi, apa tindakan konkrit yang akan kita lakukan? Kalau soal konsep, aku sudah paham.” Awan bertanya.
                “Kamu tau kan, kalau SODRIEW itu ekskul tidak resmi?” Tanya Arsa. Awan menangguk menyatakan tau. “Bagaimana kalau kita buat ekskul yang resmi? Ekskul yang seolah berseni. Tidak harus serius, sih. Yang penting kita punya teman yang bisa sedikit lebih kenal kamu.” Kata Arsa.
                “Memangnya teman Paskib Sarah tidak cukup? Mereka baik, sih.” Kata Awan.
                “Hmm. Aku tidak yakin mereka bisa diajak kerja sama dalam rencana kita. Mereka memang asik, tapi tidak cukup.” Kata Arsa. Mereka sama-sama tau kalau Sarah sangat dekat dengan teman-temannya di Paskibra. Dan secara perlahan, mereka juga mulai mengenali mereka. “Bagaimana kalau kamu buat klub bahasa? Nanti bisa kamu isi dengan kegiatan kepenulisan. Kegiatannya,  ya berkarya saja? Buat puisi, cerpen, anekdot, atau apapun itu.” Arsa menyarankan.
                “Lalu dijadikan buku, ya? Boleh juga.” Awan mulai berharap ini akan seru. “Oiya Sa. Aku mau mengingatkan kalau aku itu payah. Aku merasa kalau kalian terlalu berharap banyak padaku. Jadi aku mau mengingatkan: aku mungkin saja mengecewakan kalian.” Kata Awan.
                “Tenang. Aku sama sekali tidak peduli, kok.” Arsa tersenyum. “Apapun akhirnya, akan tetap sesuai dengan rencanaku.” Kata Arsa, yakin.
                Dia psikopat ya? Pikir Awan. “Oke deh.” Kata Awan. “Yasudah. Beritahu saja langkah-langkahnya.” Awan akhirnya setuju dengan rencana ini. “Aku percaya.”
                Arsa terlihat lebih senang dari biasanya. Lalu mereka memanggil Sarah. Dan setelah lengkap, Arsa baru menjelaskan rencananya, dan apa yang harus ia lakukan.
-
                Ketika Miss Euis bertanya: “Kamu siap jadi ketua Klub Bahasa Indonesia?” Awan menjawab dengan tenang. “Iya.” Karena sejujurnya, ia tak begitu peduli. Yah, di SODRIEW, cuma Arief yang memiliki rasa tanggung jawab. Maka dengan begitu ia resmi menjadi ketua Klub Bahasa Indonesia. Salah satu klub tertua yang sampai saat itu tidak ada anggotanya. Kini tugasnya adalah: membuat foto di buku tahunan diisi oleh anggota yang sebenarnya. Yang akan ia temukan nantinya.
-
                “Bagaimana cara untuk menunjukkan kalau kita butuh orang lain tanpa harus kelihatan lemah?” Arsa bertanya, seolah menguji. Retoris, seperti biasa. Ini yang mereka bicarakan saat mendiskusikan cara mencari anggota.
                Awan, tanpa berpikir panjang, menjawab: “Jangan bilang kalau kita butuh mereka. Buat mereka berpikir kalau mereka butuh kita.” Ia cukup yakin dengan jawaban ini.
                Arsa pun setuju. “Tidak salah, sih.” Katanya. “Tapi menurutku, untuk menunjukkan kalau kita butuh orang lain, tidak ada cara lain selain kelihatan lemah. Dan tidak ada salahnya terlihat lemah. Orang-orang akan lebih yakin kalau mereka perlu membantu kita.” Katanya lagi. “Caramu agak sulit. Jadi menurutku, bilang langsung saja kalau kamu butuh tim, partner, teman, atau apapun itu, untuk melakukan sesuatu yang besar. Dalam kasus ini, membuat buku.” Jelas Arsa.
                “Iya sih. Saat ini kita bukan apa-apa. Tidak mungkin bisa pakai caraku.” Awan setuju. “Tapi memangnya mereka akan mau membantu? ‘Bukan apa-apa’ itu negatif, lho.” Tanya Awan.
                “Jangan lupa. Kita adalah teman Sarah. Orang-orang pasti mengharapkan lebih dari kita.” Arsa optimis.
                Diskusi pun selesai.
-
                Awan memulainya dari orang-orang yang dekat dengannya:
                Pertama, ia memulainya dengan Fariz dan Naura. Fariz adalah transmigran dari Padang. Yang duduk di depannya saat hari kedua sekolah. Faris relatif ceria. Dan menurut Awan, pemikirannya lumayan menarik dan bisa diajak berdiskusi tentang hal yang relatif abstrak. Awan pernah berpikir untuk menjadikannya sahabat.
                Awan mengenali Naura karena cerita. Naura pernah curhat pada Awan tentang pacarnya, dan karena itu, Awan mau bertukar cerita pada Naura. Dan Naura adalah sahabat dekat Anti, sekaligus satu-satunya orang yang tau kalau Awan pernah menyatakan perasaannya pada Anti (karena disuruh Arsa), pada 11/12/13/14:15. Lalu karena itu, mereka menjadi teman.
                Setelah mereka berdua setuju, mereka membuat anak kelas yang lain jadi tertarik. “Sumpah, aku semangat banget, nih!” Kata seseorang dari mereka. Anti juga termasuk sebagai anggota baru. Karena itu, Awan jadi semakin semangat, dan ini tidak biasa. Maka, dengan 8 orang anggota pertama, termasuk juara kelas mereka, cerita tentang Klub Bahasa Indonesia dimulai.
-
Awan sejujurnya tidak menyangka kalau suasana dengan mereka akan menjadi se-menyenangkan itu. Ia pun sadar kalau selama ini ia terlalu meremehkan orang yang ia anggap biasa. Biasanya ia berpikir negatif seperti: “Senang-senang itu tidak perlu. Dengan keadaan dunia saat ini seharusnya semua orang bersedih.” Atau sejenisnya. Tapi ketika bercanda dengan orang-orang ini, ia sempat merasa kalau selama ini caranya salah. Dan ‘mungkin’, seharusnya ia lebih ceria lagi. Seperti saat itu:
                “Kita butuh nama lain!” Kata Awan, semangat. “Tidak indah menyebut diri kita anggota KBI.” Katanya lagi. “Sekalian kita buat logo, deh!” Suasana saat itu ceria. Dan mungkin, selama di SMA, itulah pertama kalinya Awan se-semangat itu.
                “Apa, ya?” Tanya Farah. Ia terlihat berpikir
                “Nah, wan! Namanya ‘apa’, aja!” Kata Fariz. “Jadi kita harus terus bertanya. Dan supaya orang lain penasaran!” Katanya lagi.
                “Boleh juga! Tinggal cari kepanjangannya ya?” Kata Awan.
                “Ih aneh tau kalau namanya ‘apa’. Nanti kita bilangnya ‘kita anak apa’, gitu?” Tanya Naura.
                “Justru keren tau, Nau! Kalau kita ditanya ikut ekskul apa, kita jawabnya, ‘apa’.” Kata Fariz, tersenyum.
                Naura berceletuk “Jadi nanya balik begitu.” Lalu semua tertawa.
                “Sudah, namanya ‘apa’ aja, lah!” Kata Fariz.
                “Kepanjangannya apa, nih? ‘Anggota Penulis Amatir’?” Tanya Awan.
                “Jelek banget, sih.” Kata Dita, tertawa.
                “Depannya anak-anak aja, gimana? Supaya kesannya lucu dan semangat?” Kata Maudy.
                “Bagaimana kalau ‘Anak-anak Penggila Aksara’? Bertugas untuk membuat aksara menjadi gila dan digilai! Keren kan?” Kata Awan. Beberapa terlihat setuju.
                “Ih jangan! Aku nggak se-gila kalian, soalnya.” Kata Maudy. Lalu semua kembali tertawa, lagi dan lagi.
-
                Maka saat itu, terbentuklah “Anak-anak Penggila Aksara”. Dengan logo tiga buah pensil berbentuk tanda tanya yang sedang menulis diatas awan, dan menghasilkan pelangi. Tujuan utama mereka adalah membuat buku setiap tahunnya. Dan Awan yang tadinya tidak begitu peduli, mulai tertarik untuk melakukannya dengan serius. Setidaknya, ia merasa nyaman disana. Dan sedikit merasakan yang Dita rasakan: ‘bergabung dengan kalian adalah hal paling gila yang pernah kulakukan.’
                Ah. Aku masih payah sebagai juru cerita. Sepertinya tulisanku belum bisa menjelaskan se-kacau apa suasana diskusi saat itu, se-lebar apa senyuman Awan saat itu, se-menyenangkan apa. Aku benar-benar ingin kalian merasakan yang Awan rasakan saat itu. Karena Apa, kelak akan menjadi bagian penting dari drama yang hampir merusak rencana Arsa.
-
                “Ciyee yang jadi ketua~” Sarah meledek. Padahal dia sendiri wakil ketua ekskul.
                “Meh.” Awan tersenyum. “Aku bukan ketua. Di apa semua berdiri di tingkat yang sama.” Kata Awan, yakin.
                “Sepertinya kamu menikmati sekali, Wan.” Arsa terlihat meledek juga. “Asik kan? Bisa dekat sama Anti?” Ia meledek lagi.
                “Meh.” Kata Awan “Lumayan sih.” Ia lalu tersenyum. “Tapi dia nggak pernah buat tulisan. Padahal aku mau baca.” Katanya lagi.
                “Baca tulisan orang yang kita kenal memang seru, sih. Apalagi kalau tentang kita.” Kata Arsa. “Tulisan kamu lebih ceria dari yang aku kira, Wan.” Arsa lalu bangun dari tempat duduknya. Ia mengambil tasnya. “Aku kira kamu lebih impresionis, tapi ternyata cenderung ringan.” Katanya.
                “Tergantung mood, sih. Mungkin karena masih semangat.” Kata Awan.
                “Nggak apa-apa kok, Wan. Apapun tulisannya, pasti aku baca.” Kata Sarah. Pura-pura serius. Sarah memang suka dengan apa.
                “Yasudahlah. Aku pulang dulu. Ada urusan.” Kata Arsa. “Wan, soal apa, tidak usah terlalu dipikirkan. Lakukan aja seperti biasa. Rencana tahap dua masih jauh dari kata selesai. Tolong jangan terbawa perasaan.” Katanya lagi. “Yasudah aku pergi ya. See ya.”
                “Dadah! Hati-hati!” Sarah melambaikan tangannya.

                Lalu Arsa pergi sambil tersenyum. Kali ini senyum sinis. Membiarkan Awan dan Sarah untuk mengobrol tentang apa yang membuat mereka senang. Sebenarnya ia kecewa pada Awan yang bisa semudah itu berubah, tapi ia tidak terlalu peduli. Ia tidak pernah peduli. Ia masih tidak merasakan apa-apa. Masih menyimpan rahasia.

1 comments:

Unknown at: Rabu, 02 November, 2016 mengatakan...

Bagus kang :D

Posting Komentar

Hubungi kami :

Twitter : @APAksara

Email : apaksara3@gmail.com

HP : 085773226995

Instagram: kapas3.aksara

Twitter

Translator