Peran Awan di cerita ini sudah
tidak perlu ditanyakan. Sudah jelas, sebagai seniman. Pertanyaannya adalah:
seniman seperti apa? Karena sebenarnya, Awan tidak pernah menganggap dirinya
seorang seniman. Ia hanyalah orang yang bosan, dan mudah bosan. Karena itu, dia
menginginkan hal yang bisa membuatnya tertarik. Selalu begitu. Bedanya dengan
Arief, yang suatu saat akan kuperkenalkan (dan benar-benar ingin kuperkenalkan),
ia hanya menunggu. Dan ketika ia temukan, sebuah timer menyala. Dimana saat
timernya berakhir, ia akan kembali bosan.
Aku memperkenalkan Awan sebagai
seorang seniman. Sebenarnya aku salah. Awan tidak, atau belum, seorang seniman.
Hanya saja, Arsa dan Sarah bisa melihat potensi tersembunyinya. Mereka
merasakan kemampuan yang disembunyikan. Dan tentunya, pemikiran menarik yang
sayang untuk dipendam. Karena itu, mereka mengajak Awan sebagai seorang
seniman. Yang nantinya, akan terus berkembang.
Tentu saja Awan tidak terlahir
sebagai orang yang menyukai seni. Bahkan ia tidak sadar kalau seni itu adalah
sesuatu yang menarik. Karena seni, sudah ia alami sejak lahir, seolah itu
alami. Suara musik klasik, misalnya. Denting piano yang terdengar susah dan
indah, ia dengar tiap hari saat ayahnya bermain. Dan nantinya, ia menyaksikan
kemampuan adiknya yang kemampuannya jauh di atas dirinya. Maka lagu klasik yang
terdengar sulit, sudah ia anggap biasa sejak ia kecil. Gambar dan lukisan juga
begitu. Ia selalu kalah. Dan karena itu, menyerah.
Tapi “menyerah” adalah kelebihan
sekaligus kekurangannya; begitu pula “bosan”. Awan bisa melakukan hampir apa
saja, karena pernah mencoba. Sayangnya, ia tak menguasai satu pun, karena tidak
pernah mempelajarinya sampai tuntas. Bagi beberapa, mungkin ia akan dianggap
tak berguna. Karena dunia nyata memang hanya butuh yang terbaik ‘kan? Kemampuan
yang setengah-setengah hanya akan mengganggu. Arsa memahami semua itu. Tapi,
saat ini, orang seperti Awan lah yang ia butuhkan agar bisa melakukan banyak
hal. Dan karena itu, Arsa mau menerima Awan sebagai bagian penting dari cerita
ini.
-
Timelapse cukup banyak. Saat itu sudah semester dua. Ini setelah
mereka pulang dari Eropa: jalan-jalan bersama keluarga Arsa.
-
Awan dan Arsa bertemu di taman
samping balai kota: tempat favorit mereka dulu. Kali ini berdua. Karena mereka
membicarakan sesuatu yang tak begitu Sarah suka. Katanya “Pembicaraan kalian
selalu gelap! Aku kadang takut mendengarnya!”. Padahal biasanya, Sarah lah yang paling suka
tempat ini. Terutama saat mendung. Mereka akan berbaring menatap gedung sambil
menikmati angin sepoi-sepoi. Mendengarkan suara kereta yang bolak-balik, sambil
mendengarkan nyanyian anak-anak yang tinggal di pinggir rel. Lalu berpikir
bersama. Yah, seperti Awan saat ini.
“Jadi, mulai sekarang, kita akan
membuat kesan baik?” Awan bertanya. Masih berbaring.
“Kesan positif. Bukan baik.”
Jawab Arsa. “Aku rasa lebih baik kita terus menjadi kurang baik.” Katanya lagi.
“Caranya gimana, sa?” Awan merasa
kalau ini sulit. Yah, pada dasarnya ia memang seorang pesimis.
“Pertama, kita butuh teman. Orang
lain yang bisa membuat kita terlihat lebih nyata. Saat ini kita terlihat hanya
sebagai kita. Benar-benar terasingkan. Karena itu, kita butuh kelompok yang
membuat kita tidak terlihat sendiri.” Arsa menjelaskan.
Awan sebenarnya kurang setuju
dengan ide “menambah teman”. Karena menurut pengalamannya, memiliki teman hanya
akan menghambat dan merepotkan. Seringkali mereka tak mengerti apa yang ia
pikirkan. Sering juga tak sepemikiran. Dan Awan sangat benci pada mereka yang
berpemikiran dangkal. Tapi, yah, ini rencana Arsa. Awan merasa tidak berhak untuk
menolak. Tapi setidaknya, ia ingin menyampaikan pikiran itu.
“Sebisa mungkin, aku tidak mau
memiliki teman yang biasa-biasa saja.” Kata Awan. “Kalau memang nanti aku akan
berperan banyak, aku mau memilih partnerku sendiri.” Katanya lagi.
“Wah, wan. Maaf banget, nih.
Saat ini kamu belum bisa memilih. Karena saat ini belum ada pilihan.” Kata Arsa.
Ia kini duduk. “Tapi soal ‘biasa-biasa saja’ atau tidak, kamu tidak perlu
khawatir. Karena tidak ada orang normal yang mau jadi teman kita.” Katanya lagi.
“Nanti, pada waktunya, kamu juga akan bertemu dengan orang yang mirip dengan
kita, kok. Pasti ada, lah. Walau sedikit.” Katanya lagi. Seolah meyakinkan Awan
untuk menyetujui rencananya.
“Hmm. Yasudah kalau harus
begitu.” Sesekali berkorban tak apa lah.
Pikir Awan. “Jadi, apa tindakan konkrit yang akan kita lakukan? Kalau soal
konsep, aku sudah paham.” Awan bertanya.
“Kamu tau kan, kalau SODRIEW itu
ekskul tidak resmi?” Tanya Arsa. Awan menangguk menyatakan tau. “Bagaimana
kalau kita buat ekskul yang resmi? Ekskul yang seolah berseni. Tidak harus
serius, sih. Yang penting kita punya teman yang bisa sedikit lebih kenal kamu.”
Kata Arsa.
“Memangnya teman Paskib Sarah tidak
cukup? Mereka baik, sih.” Kata Awan.
“Hmm. Aku tidak yakin mereka
bisa diajak kerja sama dalam rencana kita. Mereka memang asik, tapi tidak
cukup.” Kata Arsa. Mereka sama-sama tau kalau Sarah sangat dekat dengan
teman-temannya di Paskibra. Dan secara perlahan, mereka juga mulai mengenali
mereka. “Bagaimana kalau kamu buat klub bahasa? Nanti bisa kamu isi dengan
kegiatan kepenulisan. Kegiatannya, ya
berkarya saja? Buat puisi, cerpen, anekdot, atau apapun itu.” Arsa menyarankan.
“Lalu dijadikan buku, ya? Boleh
juga.” Awan mulai berharap ini akan seru. “Oiya Sa. Aku mau mengingatkan kalau
aku itu payah. Aku merasa kalau kalian terlalu berharap banyak padaku. Jadi aku
mau mengingatkan: aku mungkin saja mengecewakan kalian.” Kata Awan.
“Tenang. Aku sama sekali tidak
peduli, kok.” Arsa tersenyum. “Apapun akhirnya, akan tetap sesuai dengan
rencanaku.” Kata Arsa, yakin.
Dia psikopat ya? Pikir Awan. “Oke deh.” Kata Awan. “Yasudah. Beritahu
saja langkah-langkahnya.” Awan akhirnya setuju dengan rencana ini. “Aku
percaya.”
Arsa terlihat lebih senang dari
biasanya. Lalu mereka memanggil Sarah. Dan setelah lengkap, Arsa baru
menjelaskan rencananya, dan apa yang harus ia lakukan.
-
Ketika Miss Euis bertanya: “Kamu
siap jadi ketua Klub Bahasa Indonesia?” Awan menjawab dengan tenang. “Iya.” Karena
sejujurnya, ia tak begitu peduli. Yah, di SODRIEW, cuma Arief yang memiliki
rasa tanggung jawab. Maka dengan begitu ia resmi menjadi ketua Klub Bahasa
Indonesia. Salah satu klub tertua yang sampai saat itu tidak ada anggotanya.
Kini tugasnya adalah: membuat foto di buku tahunan diisi oleh anggota yang
sebenarnya. Yang akan ia temukan nantinya.
-
“Bagaimana cara untuk
menunjukkan kalau kita butuh orang lain tanpa harus kelihatan lemah?” Arsa
bertanya, seolah menguji. Retoris, seperti biasa. Ini yang mereka bicarakan
saat mendiskusikan cara mencari anggota.
Awan, tanpa berpikir panjang,
menjawab: “Jangan bilang kalau kita butuh mereka. Buat mereka berpikir kalau
mereka butuh kita.” Ia cukup yakin dengan jawaban ini.
Arsa pun setuju. “Tidak salah,
sih.” Katanya. “Tapi menurutku, untuk menunjukkan kalau kita butuh orang lain,
tidak ada cara lain selain kelihatan lemah. Dan tidak ada salahnya terlihat
lemah. Orang-orang akan lebih yakin kalau mereka perlu membantu kita.” Katanya lagi. “Caramu agak sulit. Jadi
menurutku, bilang langsung saja kalau kamu butuh tim, partner, teman, atau
apapun itu, untuk melakukan sesuatu yang besar. Dalam kasus ini, membuat buku.”
Jelas Arsa.
“Iya sih. Saat ini kita bukan
apa-apa. Tidak mungkin bisa pakai caraku.” Awan setuju. “Tapi memangnya mereka
akan mau membantu? ‘Bukan apa-apa’ itu negatif, lho.” Tanya Awan.
“Jangan lupa. Kita adalah teman
Sarah. Orang-orang pasti mengharapkan lebih dari kita.” Arsa optimis.
Diskusi pun selesai.
-
Awan memulainya dari orang-orang
yang dekat dengannya:
Pertama, ia memulainya dengan Fariz dan Naura. Fariz adalah transmigran dari Padang. Yang duduk di depannya
saat hari kedua sekolah. Faris relatif ceria. Dan menurut Awan, pemikirannya
lumayan menarik dan bisa diajak berdiskusi tentang hal yang relatif abstrak. Awan
pernah berpikir untuk menjadikannya sahabat.
Awan mengenali Naura karena
cerita. Naura pernah curhat pada Awan tentang pacarnya, dan karena itu, Awan
mau bertukar cerita pada Naura. Dan Naura adalah sahabat dekat Anti, sekaligus
satu-satunya orang yang tau kalau Awan pernah menyatakan perasaannya pada Anti (karena
disuruh Arsa), pada 11/12/13/14:15. Lalu karena itu, mereka menjadi teman.
Setelah mereka berdua setuju,
mereka membuat anak kelas yang lain jadi tertarik. “Sumpah, aku semangat
banget, nih!” Kata seseorang dari mereka. Anti juga termasuk sebagai anggota
baru. Karena itu, Awan jadi semakin semangat, dan ini tidak biasa. Maka, dengan
8 orang anggota pertama, termasuk juara kelas mereka, cerita tentang Klub
Bahasa Indonesia dimulai.
-
Awan sejujurnya tidak menyangka kalau suasana dengan mereka akan menjadi
se-menyenangkan itu. Ia pun sadar kalau selama ini ia terlalu meremehkan orang
yang ia anggap biasa. Biasanya ia berpikir negatif seperti: “Senang-senang itu
tidak perlu. Dengan keadaan dunia saat ini seharusnya semua orang bersedih.” Atau
sejenisnya. Tapi ketika bercanda dengan orang-orang ini, ia sempat merasa kalau
selama ini caranya salah. Dan ‘mungkin’, seharusnya ia lebih ceria lagi.
Seperti saat itu:
“Kita butuh nama lain!” Kata
Awan, semangat. “Tidak indah menyebut diri kita anggota KBI.” Katanya lagi. “Sekalian
kita buat logo, deh!” Suasana saat itu ceria. Dan mungkin, selama di SMA,
itulah pertama kalinya Awan se-semangat itu.
“Apa, ya?” Tanya Farah. Ia
terlihat berpikir
“Nah, wan! Namanya ‘apa’, aja!”
Kata Fariz. “Jadi kita harus terus bertanya. Dan supaya orang lain penasaran!”
Katanya lagi.
“Boleh juga! Tinggal cari
kepanjangannya ya?” Kata Awan.
“Ih aneh tau kalau namanya ‘apa’.
Nanti kita bilangnya ‘kita anak apa’, gitu?” Tanya Naura.
“Justru keren tau, Nau! Kalau
kita ditanya ikut ekskul apa, kita jawabnya, ‘apa’.” Kata Fariz, tersenyum.
Naura berceletuk “Jadi nanya
balik begitu.” Lalu semua tertawa.
“Sudah, namanya ‘apa’ aja, lah!”
Kata Fariz.
“Kepanjangannya apa, nih? ‘Anggota
Penulis Amatir’?” Tanya Awan.
“Jelek banget, sih.” Kata Dita,
tertawa.
“Depannya anak-anak aja, gimana?
Supaya kesannya lucu dan semangat?” Kata Maudy.
“Bagaimana kalau ‘Anak-anak
Penggila Aksara’? Bertugas untuk membuat aksara menjadi gila dan digilai! Keren
kan?” Kata Awan. Beberapa terlihat setuju.
“Ih jangan! Aku nggak se-gila
kalian, soalnya.” Kata Maudy. Lalu semua kembali tertawa, lagi dan lagi.
-
Maka
saat itu, terbentuklah “Anak-anak Penggila Aksara”. Dengan logo tiga buah
pensil berbentuk tanda tanya yang sedang menulis diatas awan, dan menghasilkan
pelangi. Tujuan utama mereka adalah membuat buku setiap tahunnya. Dan Awan yang
tadinya tidak begitu peduli, mulai tertarik untuk melakukannya dengan serius.
Setidaknya, ia merasa nyaman disana. Dan sedikit merasakan yang Dita rasakan: ‘bergabung dengan kalian adalah hal paling
gila yang pernah kulakukan.’
Ah.
Aku masih payah sebagai juru cerita. Sepertinya tulisanku belum bisa
menjelaskan se-kacau apa suasana diskusi saat itu, se-lebar apa senyuman Awan
saat itu, se-menyenangkan apa. Aku benar-benar ingin kalian merasakan yang Awan
rasakan saat itu. Karena Apa, kelak akan menjadi bagian penting dari drama yang
hampir merusak rencana Arsa.
-
“Ciyee
yang jadi ketua~” Sarah meledek. Padahal dia sendiri wakil ketua ekskul.
“Meh.”
Awan tersenyum. “Aku bukan ketua. Di apa semua berdiri di tingkat yang sama.”
Kata Awan, yakin.
“Sepertinya
kamu menikmati sekali, Wan.” Arsa terlihat meledek juga. “Asik kan? Bisa dekat
sama Anti?” Ia meledek lagi.
“Meh.”
Kata Awan “Lumayan sih.” Ia lalu tersenyum. “Tapi dia nggak pernah buat tulisan.
Padahal aku mau baca.” Katanya lagi.
“Baca
tulisan orang yang kita kenal memang seru, sih. Apalagi kalau tentang kita.” Kata
Arsa. “Tulisan kamu lebih ceria dari yang aku kira, Wan.” Arsa lalu bangun dari
tempat duduknya. Ia mengambil tasnya. “Aku kira kamu lebih impresionis, tapi
ternyata cenderung ringan.” Katanya.
“Tergantung
mood, sih. Mungkin karena masih semangat.” Kata Awan.
“Nggak
apa-apa kok, Wan. Apapun tulisannya, pasti aku baca.” Kata Sarah. Pura-pura
serius. Sarah memang suka dengan apa.
“Yasudahlah.
Aku pulang dulu. Ada urusan.” Kata Arsa. “Wan, soal apa, tidak usah terlalu
dipikirkan. Lakukan aja seperti biasa. Rencana tahap dua masih jauh dari kata
selesai. Tolong jangan terbawa perasaan.” Katanya lagi. “Yasudah aku pergi ya.
See ya.”
“Dadah!
Hati-hati!” Sarah melambaikan tangannya.
Lalu
Arsa pergi sambil tersenyum. Kali ini senyum sinis. Membiarkan Awan dan Sarah
untuk mengobrol tentang apa yang membuat mereka senang. Sebenarnya ia kecewa
pada Awan yang bisa semudah itu berubah, tapi ia tidak terlalu peduli. Ia tidak
pernah peduli. Ia masih tidak merasakan apa-apa. Masih menyimpan rahasia.
1 comments:
Bagus kang :D
Posting Komentar