Jawa sudah jatuh.
Kalimat yang tepat untuk menjelaskan hal yang terjadi saat ini. Rangkaian
peristiwa ini terjadi dengan cepat. Hujan meteor terjadi di Yogyakarta, ledakan
di sebuah laboratorium, virus aneh menyebar, dan terjadi epidemi absurditas.
Manusia yang terjangkiti jadi kanibal dan menghabisi sesamanya.
Pemerintah
bertindak cepat dengan mengerahkan militer. Yogyakarta diisolasi oleh militer.
Tidak ada yang bisa keluar. Baik yang terjangkiti virus maupun yang tidak.
Militer tidak sempat mengevakuasi keluarga keraton. Semua yang ada di dalam,
tidak bisa keluar.
Lalu seorang
metalurgi dari LAPAN membawa sampel meteorit yang diduga sumber virus itu ke
Amerika. Bekerja sama dengan NASA mereka menemukan fakta bahwa hujan meteor itu
bukanlah kejadian alami. Meteor yang jatuh sudah dimodifikasi menjadi senjata
biologi yang bisa menyebarkan virus. Namun, fakta itu belum selesai. Itu hanya
sebuah awal. Selanjutnya invasi itu dimulai.
Yogyakarta hanyalah
percobaan. Yogyakarta hanya korban dari konspirasi kolosal yang melibatkan
seluruh dunia. Banyak pesawat yang hilang di seluruh dunia. Lalu ada hasil
penyelidikan yang mengatakan bahwa telah dibangun sebuah pangkalan militer
makhluk asing di bulan. Selanjutnya terjadi serangan terhadap kota-kota besar
di dunia. Jutaan orang tewas.
PBB melakukan
ekspedisi ke Bulan. Ilmuan Indonesia itu ikut, mereka masuk ke pangkalan itu,
kekacauan terjadi. Ini adalah sebuah perang. Pangkalan itu ternyata menculik
pesawat-pesawat yang hilang itu. Makhluk asing yang menyebut mereka bangsa Fors
melakukan percobaan dengan memindahkan jiwa—kesadaran—mereka ke tubuh manusia
untuk melakukan konspirasi besar dalam menguasai dunia.
Pangkalan itu
menjadi ladang pertempuran. Ketika pasukan ekspedisi PBB terdesak, bantuan
datang. Tim kedua membantu evakuasi, lalu pangkalan itu dihancurkan. Namun, itu
hanya sebuah awal dari peperangan besar ini. Semua telah dimulai. Bangsa Fors
tidak main-main. Perang itu baru saja dimulai, dan Jawa menjadi medan perang
yang pertama.
***
Aku menyadari
keanehan ini sejak lama. Yogyakarta sudah lama diisolasi. Namun, ancaman yang
kurasakan tidak hilang begitu saja. Walaupun aku tahu mereka tidak bisa keluar
dari sana, tapi hatiku tetap tidak tenang. Kurasa, yogyakarta bukanlah ancaman
utama.
Aku mencoba bangkit
dari tempat tidurku. Pandanganku masih remang-remang. Semalam aku sepertinya
kurang tidur. Terlalu lama mengerjakan tugas dari kantor. Terkadang pekerjaan
membuatku tertekan. Namun, itulah satu-satunya caraku bertahan hidup.
Aku bangkit
berdiri. Mencoba berjalan perlahan keluar kamar dan mendapati istriku sedang
menonton berita pagi dengan sarapan tersaji di atas meja. Aku tidak langsung
menghampirinya. Menuju kamar mandi sebentar lalu mencuci mukaku. Mencoba
menghilangkan kantukku yang masih tidak mau pergi.
“Mas, ada berita
penting!” seru istriku.
“Sebentar,” balasku
singkat. Kutatap cermin, bayanganku ada di sana. Seorang pria berumur tiga
puluh tahun yang bekerja di salah satu BUMN. Bernama lengkap Rans Heriawan.
Aku segera
melangkah keluar dari kamar mandi. Menemui istriku yang sudah menunggu di depan
TV. Sepiring nasi goreng tersaji di sana. Aku segera menyantapnya selagi
hangat. Sudah kuduga rasanya akan nikmat seperti biasa. Istriku tidak terlalu
pandai memasak, tapi untuk nasi goreng dialah yagn terbaik.
“Jadi berita apa?”
tanyaku.
“Hujan meteor lagi,
ini terdengar aneh tapi terjadi di seluruh Jawa,” ujarnya dengan nada sedikit
khawatir.
“Mengapa kau
terdengar khawatir?” tanyaku.
“Aku takut, epidemi
di Yogyakarta terulang,” jawabnya.
Mataku membelalak dan
sedikit terdesak. Dia benar, kejadian ini aneh. Aku segera menghabiskan
sarapanku. Aku harus melakukan sesuatu, aku harus memperingatkan pemerintah.
Namun, apakah pemerintah akan percaya pada kekhawatiran rakyatnya? Satu dua
orang apa akan dipedulikan?
Aku berpikir dua
kali untuk memberi tahu pemerintah. Kurasa, pemerintah tidak akan peduli jika
aku bersuara. Aku hanya bagian kecil dari bangsa ini. Sudah lama masyarakat dan
pemerintah kita mempedulikan sesuatu dari segi jumlah. Sudah rahasia umum, untuk
dipedulikan kau harus jadi mayoritas.
“Berapa rentang
waktu hujan meteor dan anomali itu terjadi di Yogya?” tanyaku. Istriku memang
tidak bekerja di perusahaan manapun. Namun, dia bisa disebut intelektual yang
paham banyak hal.
“Sekitar satu
sampai dua bulan, tetapi kali ini bisa saja lebih cepat,” jawabnya.
“Jadi, Jawa bisa
hancur kapan saja,” ujarku. Dia membenarkan perkataanku.
“Baik, selama aku
bekerja persiapkan peralatan untuk berpergian. Juga senjata, aku memiliki izin
menggunakan senjata api jadi tidak masalah,” kataku. Dia mengangguk mengerti.
Aku segera mandi
dan bersiap ke kantor. Setelah siap aku mengecupp puncak kepala istriku lalu
pamit berangkat ke kantor. Aku menggunakan motor untuk hari ini. Aku harus
meninggalkan mobil pada istriku agar dia bisa evakuasi jika kejadian tidak
diinginkan terjadi. Aku dalam setengah jam tiba di kantor. Menuju lantaiku dan
segera tiba di meja kerjaku.
“Hei, Rans, apa
kabarmu?” tanya Derian teman di sebelahku.
“Tidak baik, rasa
khawatir itu terus muncul,” balasku.
“Tenang sa—“
kalimatnya terpotong olehku, “Dan kau tahu, rasa khawatirku ini sering menjadi
kenyataan.” Aku menyalakan komputerku, bersiap bekerja.
“Memangnya ada
apa?” tanyanya sedikit berbisik.
“Ingat epidemi di
Yogyakarta? Kau tahu apa kejadian awalnya? Hujan meteor, dan kejadian itu
terulang semalam. Di seluruh Jawa! Bayangkan itu,” jawabku.
“Aku tidak
terpikirkan soal itu, ada saran?” tanyanya lag.
“Bersiaplah untuk
segala kemungkinan terburuk,” jawabku. Lalu percakapan kami berakhir. Kami mulai
sibuk mengerjakan tugas masing-masing. Aku hanya bisa berharap hari ini akan
baik-baik saja.
***
Sorenya aku pulang
dengan selamat. Hari ini tidak ada kejadian aneh apapun. Istriku juga baik-baik
saja di rumah. Aku terus memperingatkannya untuk tetap berhati-hati. Jika ada
masalah aku memintanya meneleponku. Sungguh, aku sangat khawatir. Aku memang
berlebihan, tapi itu wajar untuk kondisi saat ini. Kautahu, dunia sudah gila.
Dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, banyak kejadian aneh.
Setidaknya, malam
ini aku bisa beristirahat dengan tenang. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan
untuk malam ini. Ya tidak ada, sampai—
PRANK
Suara kaca pecah
memenuhi seisi rumah. Aku segera keluar kamar mencari istriku. Dia ada di dapur
bersiap dengan sebuah pisau. Setidaknya aku tahu dia aman. Aku lalu
mengeluarkan belatiku. Mengendap-endap memeriksa keadaan.
PRANK
Suara kaca
terdengar lagi. Lalu terdengar suara geraman. Geraman hewan yang lapar. Namun,
aku yakin itu bukan suara hewan buas. Sial, ternyata sudah dimulai. Aku melihat
mereka. Badan mereka seperti terbakar, membungkuk dan penuh air liur.
“Mereka terlihat
sedikit berbeda dari yang di Yogya,” bisik istriku.
Aku tidak sengaja
menyenggol vas bunga di meja dekat televisi. Suaranya memancing mereka untuk
menoleh. Langsung saja, dengan tangan terjulur dan geraman tadi mereka
menyerangku. Yang pertama berusaha meraih leherku, aku menangkap tangannya lalu
menyikutnya dengan keras. Tidak menunggunya menyerang aku menusuk lehernya dan
mendorongnnya ke arah temannya.
Yang kedua terkejut, dia menyerangku.
Aku menendangnya dengan keras lalu menusuk jantungnya, mencabut belatiku
kemudian menggorok lehernya. Dia jatuh ke lantai. Malam ini, lantai rumahku
bersimbah darah.
Aku tidak tahu
mereka datang dari mana. Sepengetahuanku tidak terdengar berita bahwa terjadi
anomali kabut yang menyebarkan virus yang sama seperti di Yogya. Tidak
terdengar informasi apapun. Kecuali, pemerintah menyembunyikannya.
“Siapkan
barang-barang, kita pergi sekarang.” Istriku mengangguk. Aku segera pergi ke
gudang menyiapkan senjataku. Aku pernah jadi anggota intel tetapi tidak terlalu
lama bekerja di lapangan. Hanya sekitar lima tahun, lalu aku dipindahkan
menjadi agen teknis.
Di gudang aku
mengambil senjataku berupa dua pistol dengan delapan magazine, sebuah shotgun
dengan sekotak peluru dan sebilah katana. Lalu terdengar jeritan, itu bukan
jeritan istriku. Jeritan itu terdengar dari luar. Lalu disusul jeritan lainnya.
Bunyi pecahan kaca, keributan, dan geraman.
Aku segera kembali
ke istriku yang sudah siap di garasi. Dia dengan cepat menyalakan mesin mobil.
Ransum, pakaian, dan segala peralatan yang kami perlukan sudah siap di dalam
mobil. Aku menyerahkan salah satu pistol dan dua magazine ke istriku. Aku
takjub padanya bisa tenang dalam situasi ini. Dia juga terbisa dengan senjata
api.
“Apa kaupikir kita
harus mengajak keluarga sebelah?” tanyaku.
“Kau ingin
mengeceknya? aku bisa menunggu di mobil. Tapi pastikan kau kembali,” balasnya.
Aku menelan ludah lalu mengangguk.
Aku segera keluar
dari rumah. Berjalan cepat ke rumah tetangga. Gelap, tidak ada suara. Lalu
tiba-tiba sebuah AK-47 menodongku dari arah jendela.
“Berhenti! Siapa di
sana?” serunya.
“Aku Rans, aku
mengajakmu ikut. Kita harus melakukan evakuasi,” ujarku. Lalu terdengar jeritan
dan geraman dari belakangku.
Rumah di belakangku
baru saja diserang. Aku segera ke sana. Terlambat, aku menemukan makhluk itu
tengah memangsa seorang wanita, dengan cepat aku menembakinya hingga tidak bisa
bergerak. Aku kembali ke rumah sebelumnya.
Fahmi sudah siap
berangkat. Dia bersama istri dan anaknya segera menuju rumahku. Sekedar
informasi, aku dan Fahmi cukup dekat. Fahmi adalah anggota militer. Dia sedang
dibebastugaskan. Aku segera memintanya masuk. Dengan cepat kami siap berangkat.
Aku langsung tancap
gas saat pintu garasi terbuka. Meninggalkan daerah pemukiman yang sudah kacau
balau. Tidak ada waktu untuk menyelamatkan banyak orang. Di sini, manusia
memperlihatkan keegoisannya. Aku makhluk yang ingin bertahan, aku tidak ingin
tersisihkan.
***
Kondisi kacau.
Informasi dari pemerintah datang terlambat. Meteor itu meledak pukul lima
kemarin. Seluruh Jawa kacau. Pusat-pusat kota terinfeksi dengan cepat. Militer
sulit bertindak, evakuasi sia-sia. Kini, manusia hanya bisa peduli terhadap
dirinya sendiri.
“Jadi menurutmu ke
mana kita?” tanyaku pada Fahmi. Kami sedang merentangkan peta Jawa.
“Meteor itu jatuh
secara acak. Kita tidak bisa benar-benar tahu di mana lokasi yang aman,”
ujarnya.
Aku membenarkan.
Dia lalu berkata, “Namun, kukira kita harus segera ke pelabuhan atau bandara
terdekat.”
“Tidak, pasti ramai
sekali. Apalagi
kondisinya kacau begini, bisa saja bandara sudah tamat,” ujarku.
“Namun, kita harus
segera pergi dari pulau ini,” ujarnya.
“Apa kau tahu di
mana landasan terdekat? Bukan bandara umum,” kataku.
“Mau apa kau?
Menerbangkan pesawat? Kita berlima, pesawat kecil hanya muat dua orang,”
balasnya.
“Tergantung
jenisnya,” balasku.
ARRGHH
Suara geraman
muncul. Tidak hanya satu geraman. Ada banyak geraman, lima. Makhluk-makhluk itu
menyerbu dari arah jalanan. Aku siap dengan katanaku. Dengan gerakan cepat aku
berlari ke arah mereka. Menebas kepala salah satunya melakukan gerakan
berputar, menusuk lurus ke depan. Melompat ke samping sambil menebas kembali.
Tiga sudah tumbang.
Dua lagi
menyerangku dari dua arah. Aku hanya bergeser sedikit dan membuat mereka
bertabrakan. Dengan satu tebasan kedua kepala mereka terpisah dengan darah
bercipratan ke mana-mana. Entah mengapa aku terbiasa menghadapi mereka.
“Di mana pangkalan
militer terdekat?”
***
Jika ada orang
berkata dunia ini penuh kekejaman, aku setuju dengannya. Kekejaman pertama, aku
tidak bisa melanjutkan kuliahku. Kedua, kehidupan normalku hancur berantakan.
Ketiga, kotaku diisolasi di tengah kekacauan ini. Epidemi aneh menyebar ke
seluruh kota sejak hari itu. Yogyakarta mengalami kekacauan besar. Militer
bergerak dan membantu masyarakat. Namun, epidemi ini sudah terlanjur cepat
menyebar. Lalu pemerintah pusat mengelurkan kebijakan yang mengejutkan,
Yogyakarta diisolasi begitu saja. Tanpa penangangan lebih lanjut.
Militer dan
masyarakat yang terjebak mencoba bertahan dengan bekerja sama. Kami membangun
pertahanan di sekitar Keraton, Prambanan, dan UGM. Persediaan makanan dan
lain-lain dibagi seadil mungkin. Namun, bencana ini membuat semua orang gila.
Pertikaian masih sering terjadi. Kami yang seharusnya fokus saling membantu,
malah saling bunuh memperebutkan makanan. Seakan, manusia tidak lebih dari
binatang yang kelaparan.
“Charise, kemarilah ada kabar menarik,” panggil salah satu
temanku.
Aku mengecek
keadaan sekitar terlebih dahulu baru meninggalkan tempatku berdiri sebelumnya.
Sekarang aku dan beberapa temanku sedang berburu makanan di toko-toko yang
sudah ditinggalkan. Namun, kami sedang beristirahat sekarang.
“Ada apa?”
“Dengar ini,”
ujarnya, “berita yang menarik dan menyeramkan.”
Epidemi yang pernah menyebar di
Yogyakarta kini menyebar ke seluruh Jawa. Hujan meteor yang terjadi kemarin
ternyata membawa dampak buruk dalam kurun waktu kurang dari dua puluh empat
jam. Pemerintah segera melakukan evakuasi dari Bandung. Pemerintah menghimbau
setiap warga untuk mempersenjatai diri dan segera mengevakuasikan keluarga ke
tempat yang aman. Untuk saat ini pangkalan-pangakalan militer masih menjadi
tempat yang teraman. Sekian RRI melaporkan.
“Jawa diambang
kehancuran dan pemerintah melarikan diri,” ujarku ketus. Aku sudah tidak
percaya lagi pada pemerintah sejak Yogyakarta diisolasi.
“Apa yang harus
kita lakukan sekarang?” tanya temanku.
“Tidak ada
jalan lain, kita harus berperang melawan mereka.” Aku mengokang senjataku.
Keputusanku
tepat, karena tiba-tiba saja makhluk-makhluk aneh itu menyerang dari luar
pertokoan. Aku segera menembaki mereka dibantu dua temanku. Namun, kami harus
menghemat peluru. Selagi dua temanku yang lain berkemas, aku segera berusaha
menahan makhluk-makhluk ini. Aku mengganti senjataku dengan dua belati hitam.
Dalam pertarungan jarak dekat aku juga tidak bisa diremehkan. Sudah sejak
kejadian itu aku menjadi petarung. Bertarung untuk bertahan hidup.
“Kami sudah
siap. Ada kendaraan di belakang,” kata temanku. Aku segera mengangguk dan
kembali menggunakan senjata apiku.
“Cepat!” kami
berlari menuju ke belakang pertokoan. Sambil mencoba menembaki makhluk-makhluk
ini. Dia benar, di belakang ada sebuah mobil jip. Para pembawa logistik masuk
duluan. Aku menyusul bersama yang lain. Dalam lima menit dia berhasil mengakali
mesinnya agar menyala.
“Fire in the hole!” aku melempar granat
tepat saat kami mulai tancap gas.
Kami berhasil
kabur lagi.
***
Kekacauan
terjadi di sini. Semua orang panik. Oke ralat, kekacauan terjadi di seluruh
pulau Jawa. Aku sudah memerintahkan militer untuk mencoba mengevakuasi warga ke
titik aman. Aku telah mencoba. Kini aku mencoba mengevakuasi pemerintahan.
“Kita harus
cepat, pak,” kata ajudanku.
“Aku
menggeleng, aku akan tetap di sini,” balasku.
“Tapi, bisa apa
rakyat tanpa pemimpinnya?” balasnya.
“Bisa apa
pemimpin tanpa rakyatnya? Aku akan di
sini bersama rakyatku. Semua komponen pemerintahan segera dievakusikan ke
Denpasar. Aku akan tetap di Bandung bersama beberapa menteri. Ini tidak sama
seperti kejadian di Jakarta, Ali. Kali ini aku harus tetap di sini,” jelasku.
Aku tidak tahu.
Mengapa negeri yang indah ini sering ditimpa masalah sulit? Epidemi aneh
melanda Yogyakarta. Lalu ada serangan makhluk asing ke Jakarta—beberapa kota di
seluruh dunia juga mengalami hal yang sama—sekarang epidemi itu menyebar ke
seluruh Jawa.
Hujan meteor
semalam sangat mendadak. Aku baru tahu fakta bahwa itu bukanlah meteor tapi
senjata dari Bangsa Fors. Tim pencegahan gagal, senjata itu aktif dengan cepat
dan menyebabkan epidemi besar ke seluruh Jawa. Militer terpaksa aku gerakan
untuk membantai mereka dan melindungi warga.
Aku bangkit
dari tempat dudukku. Aku akan meninggalkan gedung ini tapi aku tidak akan pergi
dari Pulau Jawa. Sudah cukup aku berlari. Sudah lama aku menginginkan
pertempuran, dan sekaranglah aku akan bertempur.
“Anda masih
ingat cara menggunakan senjata, pak?” tanya Ajudanku.
“Tentu saja,”
balasku sambil tersenyum.
***
Ruang rapat
segera dipenuhi banyak orang. Sebuah peta pulau Jawa terbentang di atas meja.
Aku menghela napas sebentar. Lalu mulai memberikan intruksi pada orang-orang di
hadapanku.
“Baik, mari
kita mulai. Saat ini, seluruh pulau Jawa mengalami kekecauan. Aku meminta
seluruh sumber daya yang ada digunakan untuk menyelamatkan pulau ini. Fokuskan
untuk menyelamatkan rakyat dan melindungi mereka. Buat titik-titik pertahanan
di setiap kota. “
“Untuk Provinsi
Banten, akan kuberikan komando pada Mayjen Achmad. Jakarta, pada Letjen.
Farris. Jawa Barat pada Jenderal Rano. Jawa tengah pada Kolonel Dahlan. Jawa
Timur pada Mayjen Derio. Pimpin pasukan kalian untuk membasmi makhluk-makhluk
ini dan evakuasi warga ke wilayah aman. Makhluk-makhluk ini bisa dibunuh.
Sistem tubuh mereka masih sama seperti manusia. Jantung dan otak mereka tetap
jadi titik terlemah,” jelasku pada orang orang di hadapanku.
“Siap Pak!”
balas mereka.
“Jawa diambang
kejatuhan dan kita adalah harapan bagi pulau ini. Lakukan yang terbaik demi
rakyat kita!” seruku.
“Kalian dilatih
untuk menghadapi situasi seperti ini. Tunjukan padaku hasil latihan kalian!”
kataku lagi.
“Siap Pak!”
“Aku akan ikut
bertempur di daerah Bandung kota. Ajudanku akan bersamaku bersama sepuluh orang
lainnya. Kalian fokus saja pada tugas, jangan khawatirkan diriku. Aku akan
tetap hidup, paham?”
“Siap paham!”
Mereka lalu
kububarkan untuk segera bertugas. Aku sendiri langsung menuju ruang senjata dan
memilih senjataku sendiri. Walaupun tidak memiliki latar belakang militer aku
pernah berlatih menggunakan senjata api. Kali ini aku memilih membawa shotgun,
dua pistol, dan dua buah pedang pendek. Aku membawa amunisi sebanyak yang
kubisa.
Ajudanku
memilih menggunakan senapan serbu dan membawa beberapa peledak. Dia cukup ahli
dalam meledakan sesuatu. Aku pernah melihatnya bertempur saat evakuasi dari
Jakarta. Aku mendekatinya lalu membisikan sesuatu.
“Jika aku
terinfeksi,” bisikku, “segera tembak aku dan jangan ragu.”
Dia mengangguk.
Aku percaya padanya. Selama empat tahun ini dia telah menjadi orang
kepercayaanku. Perintah apapun itu, termasuk membunuhku akan dia jalani. Lalu
kami keluar menuju lapangan depan. Dengan beberapa mobil bersenjatakan kaliber
lima puluh dan mortir telah menunggu sepuluh orang yang akan menjadi pasukanku.
“Kita akan
turun ke jalan bukan untuk main-main. Kita habisi makhluk-makhluk itu dan
selamatkan sebanyak mungkin warga sipil. Jangan sampai tergigit atau kalian
akan menjadi seperti mereka,” ujarku. Mereka mengangguk padaku. Paham dengan
resiko pekerjaan mereka.
“Mari kita
mulai.” Aku menaiki salah satu mobil dan kami segera berangkat. Aku akan turun
ke medan perang. Memimpin langsung perlawnan ini. Walaupun Jawa diambang
kehancuran, aku tidak akan lagi. Tidak lagi. Akan kutunjukkan pada rakyatku,
bahwa pemimpin mereka bukan pengecut.
***