Selasa, 20 Maret 2018

Ayam Di Angkasa


Ayam di angkasa
Terlihat Pelik
Terlihat tak biasa
Ayam tidak bisa terbang

Malam yang hitam
Tak ada bintang
Sebuah simfoni sunyi
Tetapi saat malam aku tak pernah merasa nyaman

Apakah akan selalu begitu
Apakah aku akan selalu menjadi lukisan indah yang realistis
Sebuah lukisan sempurna
Apa benar aku tak boleh memiliki wujud surreal?

Tanpa banjiran kata-kata
Kita selalu berpapasan
Matamu selalu menjulang ke cakrawala
Tapi tak pernah melihat kedepan,dimana ku berada

Aku cemas
Bukan karena aku diabaikan olehmu
Ataupun dibuang
Aku hanya cemas dengan status hidupku
Aku lupa apakah aku sudah mati,atau aku masih hidup

Ayam di angkasa
Mengelilingi dunia
Sebuah keanehan semesta
Tidak sesuai dengan hukum alam semesta

Mungkin aku seperti itu
Hanya sebuah mahluk hidup kecil yang rapuh
Hanyut dalam kerumunan masyarakat dengan kecepatan yang luar biasa

Mungkin aku seperti itu
sebuah kejanggalan di dunia
Tak sealur dengan naskah yang diberikan kepada orang lain
Apakah naskah ku salah?
Apakah naskah ku istimewa diluar pemahaman massa?

Aku tak ingin naskah yang istimewa apalagi yang salah
Aku ingin naskah yang sama
Aku ingin tersenyum pada hal yang sama seperti orang-orang
Aku ingin tertawa terhadap hal yang sama seperti orang-orang

Ayam di angkasa
Ayam itu adalah aku
Aku terbang mengelilingi dunia
Aku adalah kejanggalan di dunia
Aku tak nyata
Karena tak ada ayam di angkasa
                                           

Bhavana Eunoia - Kasus Bunuh Diri Seekor Ikan


Nama saya adalah Eka. Hanya Eka. Saya berniat untuk mengakhiri hidup saya. Kebanyakan orang akan memberhentikan tindakan saya ini. Jika orang tersebut mempunyai rasa kasih sayang terhadap sesama manusia. Saya rasa, rasa peduli terhadap satu sama lain sudah mulai pudar. Orang tua saya saja tidak peduli saya telah menghilang selama tiga hari. Pasti kalian akan bertanya mengapa harus menunggu tiga hari untuk bunuh diri?? Sebetulnya saya sudah mati, sekarang tubuh saya sedang terbawa arus laut. Mengambang di luasnya samudra. Sepertinya agak tidak sopan jika saya tidak bercerita sedikit tentang diri saya.
Nama saya adalah Eka. Lahir dibawah jembatan ciliwung. Tidak ada akte kelahiran,dan selalu berpindah tempat. Ibu adalah seorang pelacur dan ayah adalah seorang penjual narkoba untuk sebuah organisasi mafia. Umur terakhir saya saat saya meninggal adalah 16 tahun, menduduki kelas satu SMA. Secara fisik saya berkulit hitam, kurus/ceking,dan ikal. Sehari-hari saya selalu memungut buku-buku buangan. Saya selalu membaca, karena menurut saya hanya itulah satu-satunya hal yang waras di hidup saya ini. Selain membaca saya juga senang bermain. Masalahnya saya tidak punya teman. Kabar angin selalu tersebar dengan cepat. Seringkali anak-anak lain tidak mau berteman dengan saya, dikarenakan pekerjaan ibu dan ayah, atau karena penampilan saya.
Pernah dulu ada satu anak. Ia bernama Jaya. Jaya adalah seorang anak pemulung. Ibunya mati kelaparan. Jaya bercerita pada suatu malam mereka tidak mengumpulkan cukup uang untuk membeli makanan yang cukup untuk Jaya dan orang tua nya. Ibunya rela agar hanya Jaya dan ayahnya yang makan. Jaya dan saya selalu bermain bersama, karena kita merasa kita mempunyai sebuah persamaan, yaitu kita adalah bagian dari orang-orang yang dapat melihat jalan keluar dari sebuah sistem yang rusak. Kita selalu berandai-andai dibawah pohon kelapa. Jaya adalah satu-satunya teman yang saya miliki. Yang mengerti dan memahami saya. Jika saya bersamanya, seakan waktu berhenti dan hanya ada canda dan tawa yang mewarnai dunia. Saat waktunya tiba untuk berpisah,karena saya harus selalu berpindah kota. Jaya memberi sebuah mainan dari kayu yang ia pungut sewaktu berumur lima tahun. Sebuah mainan yang ia simpan dan ia sayang karena mainan itu adalah satu-satunya benda yang mengingatkan Jaya dengan ibunya. Waktu itu kami masih berusia sebelas tahun, kami tak sabar untuk naik ke kelas enam dan tak sabar untuk berada di bangku SMP bersama. Tetapi tak semua mimpi terwujudkan dan inilah momen terpahit di hidup saya.
Saat saya menduduki kelas delapan SMP. Saya mulai kehilangan arah. Kata orang-orang SMP adalah masa-masa yang rawan. Kesalahan terbesar di hidup seseorang dapat terjadi pada masa-masa ini. Saat itu saya mulai tidak menyukai sekolah, buku yang dulu menggairahkan,kini tidak semenyenangkan seperti dulu. Saya mulai menghisap rokok. Sehari bisa sebungkus. Hampir setiap malam saya selalu berkelahi. Pada suatu malam saya berkelahi dengan anak dari seorang pengusaha ternama. Anak itu hampir meninggal. Malam itu juga saya dibawa ke kantor polisi. Pada malam itu saya bertemu sekali lagi dengan sebuah harapan. Seorang polwan membawa ayah ke kantor polisi. Rupanya ayah telah tertangkap dan terekspos. Polwan tersebut melihat saya dengan tatapan mata yang baru pertama kali saya lihat seumur hidup saya. Mata bercorak simpati. Tak pernah ada yang memberi tatapan itu kepada saya seumur hidup. Polwan itu bernama "Nur". Ibu Nur berumur 30 tahun. Suaminya meninggalkannya karena Bu Nur tidak dapat memiliki anak. Malam  itu Bu Nur mengajak saya untuk bermalam dirumahnya. Ia menyiapkan makanan yang lengkap walau gajinya tak seberapa. Bu Nur tinggal di sebuah kos-kosan kecil dekat dengan sebuah sungai yang kumuh. Tetapi saya tidak peduli. Tidur di tempat Bu Nur masih lebih nyaman dibanding dengan tidur di sebuah rumah reot yang bau dengan berbagai macam lelaki. Bu Nur sudah seperti seorang ibu yang tak pernah saya miliki. Ia membiayai sekolah, memberi makan dan menyediakan tempat tidur. Walau sebenarnya saya agak merasa malu telah merepotkannya, tetapi sepertinya ia senang melakukan semua itu. Beliau begitu baik dan adil. Ia tak pernah menerima uang sogokan dan pekerjaan kotor, walau gajinya tak seberapa. Menurutnya keadilan dan kejujuran adalah sebuah kehormatan yang harus dijaga. Ia tak ingin kehormatannya ternodai. Setahun bersamanya berasa seperti menemukan 12 tahun yang hilang dari diri saya. Saat itu malam, pada hari ibu. Saya membeli sebuah kue ulang tahun untuk bu Nur. Saya sedang antusias untuk memberinya sebuah hadiah. Namun jiwa saya hancur, lalu kepingan jiwa itu diledakan dan lalu di jatuhakan nuklir. Belilau telah meninggal. Beliau mengidap kanker sejak usia 20 namun tak pernah berobat. Tekadnya untuk berbaktilah yang memotivasinya untuk terus hidup. Ia meninggal dengan posisi duduk dengan senyuman manis yang selalu ia kenakan.
Setelah kematian bu Nur saya kembali memburuk. Tak termotivasi untuk melakukan  apapun. Pagi hari saya berdiri diatas sebuah jembatan. Saya sudah siap untuk melompat dan berharap sebuah kematian yang cepat. Sampai seorang orang gila menghampiriku. Orang gila itu tersenyum dan bersiap-siap untuk melompat. "Mas, ini mau lomba renang kan ya mas?" ucap orang gila itu. Saya menjawab dengan lantang "Saya mau bunuh diri, dunia sudah tidak ingin melihat saya lagi, lebih baik saya enyah dari dunia ini". Orang gila itu tertawa. "Yahilah mas, dikira ada orang di dunia ini yang mau saya mas. Dikira mas doang yang sengasara. Setiap hari saya dihina dan ditendangi loh mas, jarang saya makan. Mas harusnya bersyukur". Kata-katanya menggerakan hati saya. Saya mundur selangkah dan bertekad untuk hidup. Tetapi. Rasanya begitu cepat. Sebuah sentuhan yang kuat menyentuh diriku dari belakang sehingga mendorong saya. Badan saya telah terjatuh dari jembatan itu, mata saya tertuju pada batu yang ada didasar sungai ini. Orang gila tadi telah mendorong saya. Dari kejauhan saya mendengar "Tapi jika mas memang mau mati yasudahlan saya bantu". Berbagai ingatan dan kenangan kembali melintas di kepalaku. Sehingga pada akhirnya saya tak sadar diri. Sampai saya terbangun dan disinilah kita.







Biasanya ketika orang bangun dari pingsan, hal pertama yang ditanyakan adalah dimana mereka. Setidaknya di film-film seperti itu. Yang sekarang sedang saya pikirkan adalah"Jemuran sudah diangkat belum ya?". Sekarang saya sedang berfikir keras apa yang telah terjadi. Sekarang sudah jam berapa? Dimana ? Apa itu benda putih yang datang ke arah saya? Eh. Dari kejauhan terlihat benda putih yang datang melaju cepat, benda itu sepertinya mengkilap. Saya mempunyai firasat buruk. Semakin lama semakin jelas. Tidak mungkin! Apakah itu sebuah putri duyung? Benda itu mendekat dan menjumpai diriku. Ternyata benar, benda itu adalah putri duyung."Eka, apakah kamu Eka?". Ucap putri duyung itu dengan tergesa-gesa. "Bukan saya Bambang". Saya menjawab dengan sedikit rasa kecewa. Mengapa? Karena presentasi orang yang mayatnya terbawa arus sampai ke lautan terbuka sangat sedikit dan terlihat sepertinya hanya ada saya. "Oh yowes salah orang aku". Putri duyung itu berenang menjauh. Tunggu."Tunggu dulu saya bercanda, saya Eka!". Putri duyung itu kembali dengan wajah bosan. "Aku memang setengah ikan! Tapi gak juga nganggep kecerdasan ku sama dengan ikan!". Ia terlihat marah."Mbak putri duyung jangan marah-marah mbak nanti gak cantik lagi loh mbak". Mukanya mendatar setelah mendengar itu. Seakan sudah bosan. "Mas Eka saya gak punya kelamin mas. Saya bisa aja jadi cowok loh mas". Sekarang giliran saya yang mukanya jadi datar. Kekecewaan saya membesar. Lebih baik mati saja lah. Eh memang itu kan tujuan saya? Ah udah lupa.
"Sudahlah dengan basa-basinya saya ada kepentingan lain. Eka kamu memiliki sebuah kekuatan". Ucapnya dengan penuh semangat. Wow. Sudah berapa banyak novel,komik,dll cerita yang tokoh utamanya memiliki kekuatan. Sungguh tidak kreatif cerita ini. "Kekuatan apa putri duyung?". Sang putri duyung seketika mengeluarkan ekspresi terlupa sesuatu. "Maaf saya belum mengenalkan diri saya,tidak enak dipanggil putri duyung dari tadi. Sebenernya baru sekali sih tapi yowes. "Nama saya adalah, Putri Sulaiman Sulistiawati Suarip Supratman Supreme Ayu Farah Ningsih Wati Podomoro Hatta Vladimir Vladimirov Meliani. Panggil saja Vina". Yaksip terserah anda saja lah. "Eka kamu yang sangat menginginkan kematian, mempunyai kekuatan untuk tidak bisa mati. Jika kamu terbunuh kamu akan sembuh kembali". Kekuatan macam apa itu! Tidak bisa mati! Bohong ah. "Buktikan bahwa ini nyata!". Vina menggeleng-geleng kepalanya. "8 jam yang lalu kau terjatuh dari jembatan setinggi 8 meter dan terbawa arus dan kau sekarang hidup dan berbicara dengan aku". Betul juga sih. " Lantas kau ingin saya untuk apa?". Pertanyaan bodoh tentu untuk menyelamatkan dunia. Apalagi coba, terkadang saya suka mengeluarkan pertanyaan yang jelas jawabannya. "Aku ingin kau mencari orang-orang yang mempunyai kekuatan. Mereka disebut dengan anomali, sebagian dapat menggunakan kekuatan mereka dan sebagian tidak. Jika dibiarkan mereka dapat menghancurkan dunia, kau harus membawa mereka ke Atlantis agar dapat direhabilitasi, aku akan memberi mu sebuah hadiah nanti saat kau terbangun akan kau temukan hadiah itu". Vina mengeluarkan sebuah pisau. Ia bersiap-siap dan menusuk ku pas dijantung, ia menggoyang-goyangkan sampai akhirnya saya menutup mata dan rasanya nyawaku telah melayang.
Badan ku basah. Punggung ku terasa sakit dan penuh pasir di celana ku. Saat saya membuka mata dan melihat sekeliling saya berada di sebuah pantai. Saya tidak mengenali tempat ini. Ditangan ku ada sebuah batu, batu itu mempunyai sejumlah nama. Ada sebuah nama yang menyala pada batu ini, "Akizuki Hana". Mungkin saya harus mencarinya, apa susahnya. Saya melihat sekeliling saya  lalu ada seorang anak. Anak itu bermata sipit dengang kulit coklat sawo, dan berkata "Konichiwa". Tidak mungkin. Apakah aku ada di jepang? Dalam pikiran ku akan susah mencari seseorang di tempat yang bahasanya sungguh berbeda dengan yang ku tahu. Di dalam celana ku saya menemukan sebuah permen dengan tulisan "Bahasa Jepang". Tanpa pikir panjang saya memakannya. Kepala ku pusing dan berdenyut seakan sedang mabuk. Banyak sekali suara-suara orang berbicara, namun aku mengerti. Saat pusing itu selesai aku bertanya kepada anak itu dengan bahasa Jepang."Adek kecil dimana aku?". Anak itu berlari sekencangnya dan aku pun juga sama. Saya mengejarnya dengan kencang bagaikan Usain Bolt. Anak itu berlari dengan kencang sekali sambil berteriak "TOLONG ADA PRIA ANEH YANG MENGEJARKU!!". Aku berlari sekencang-kencang sehingga ada bunyi DOR!!! yang kencang. Darah mengalir dari dadaku. Rupanya aku tertembak.
Saya bangun diatas kasur penjara. Rupanya saya telah dipenjara. Sampai pada titik ini sudah berapa kali aku sudah mati? Dua pria datang untuk mengintrogasi ku. Skenarionya bisa ada dua. Yang pertama dimana aku berkata jujur yang kemungkinan akan memperpanjang masalah, atau opsi kedua yaitu bertarung mati-matian dengan polisi disini. Polisi pertama bertanya hal-hal pribadi sementara polisi kedua bertanya hal spesifik. Apa pun itu dari tadi aku menjawab dengan "Aku tidak tahu". 2 jam berlalu. Mereka tetap mencoba untuk menerobosku. Sampai pada akhirnya salah satu polisi itu berdiri dan berkata "Aku ingin makan dulu, apa kau ingin sesuatu Pak Akizuki? Akizuki. Mungkin ia ada hubungan dengan orang yang sedang ku cari. Perut ku bersuara. Kedua polisi itu tertawa. "Sebaiknya anda ikut makan bersama kita, mungkin anda dapat menjawab pertanyaan kami setelah makan". Kami berjalan keluar dari kantor polisi, dan menuju sebuah tempat makan kecil. Seiring berjalan, aku mendengar segala sesuatu dengan jeli, melihat sesuatu dengan detil. Rasanya semua indra ku telah dimodifikasi. Mungkin kekuatan ku bukan hanya tak dapat mati. Indra super bisa jadi kekuatan ku juga. Kami duduk di sebuah restoran kecil yang menjual burger ikan. Kami memesan tiga burger ikan, dengan minuman soda. Polisi itu menyantap dengan lahap, dan mengucapkan rasa syukur. "Hei, kau tak makan makanan mu? Enak loh ini". Jujur baunya sungguh aneh. Aku mencoba menggigit sedikit dan rupannya ucapan polisi itu benar. "Jadi kau ingin mengenalkan dirimu atau tidak?". Aku sebenarnya cemas. Vina tidak memberi banyak penjelasan. Jujur aku tidak yakin dapat menyelesaikan tugas ini. "Andai saja saya tahu siapa saya, apa yang saya kerjakan,status saya,dan bagaimana saya sampai disini. kebenarannya saya memang tidak tahu". Dari seberang jalan aku mendengar suara tangisan, suara seseorang yang tidak tahu berbuat apa. Suara depresi, suara yang aku sangat kenal. Aku berdiri, dan berlari ke sumber suara. Saya berlari sekencang-kencangnya. Badan ku tergerak dengan sendirinya. Kedua polisi itu mengikuti ku dan mencoba menangkapku. Ketika sampai di TKP, saya melihat 4 orang laki-laki dan 1 orang perempuan. Sepertinya anak SMP. Saya maju dan memukul salah satu dari mereka. Mereka mengeluarkan pisau, dan mencoba menusuku. Untuk seseorang yang dibesarkan di gorong-gorong kehidupan paling sampah, aku sudah tahu gerak-gerik petarung amatir. Satu per satu mereka mencoba merubuhkan ku, dan satu per satu tumbang dan terus mencoba lagi. Sampai satu berhasil menusuk ku. Aku terjatuh dan membiarkan diriku "mati". Jantung ku sejenak berhenti jiwa ku rasanya terangkat. Lalu semua kembali seperti semula, jantung ku berdetak dengan cepat dan rasanya semua indra begitu sensitif. Aku berdiri kembali dan memukul ketua dari kelompok lelaki berandalan itu dengan begitu kencang sehingga gigi palsunya tercopot dan mulutnya berdarah. Mereka terkejut dan berlari. Kedua polisi itu sampai ketika aku mati dan bangkit lagi. Kedua polisi itu tercengang. Gadis yang menangis itu ketakutan. Aku mendekat dan bertanya. "Hei mengapa mereka mengusik mu?". Gadis itu masih terkejut. Aku mengulang pertanyaan ku kembali. "Karena aku berteman dengan gadis aneh di sekolah". Aku mempunyai firasat gadis itu adalah Akizuki Hana." Apakah Akizuki Hana adalah orang yang kau maksud?". Gadis itu mengangguk. Polisi yang bernama Akizuki mendekat dan bertanya. "Memangnya ada apa dengan Hana?"."Benda di sekitar Hana seringkali bergerak, dan orang-orang di sekolah sungguh takut, aku satu-satunya teman Hana, namun para gadis di sekolah tak suka hal itu dan mereka menyuruh para lelaki untuk mengancam ku". Gadis itu menjawab dengan tergesa-gesa. Sungguh klasik, cerita yang membosankan. "Kita harus mencari Hana, aku tahu cara membantunya. Tunjukan aku dimana dia!".
Kita tiba pada sebuah taman terbuka. Suasananya terlalu sepi. Tak ada bunyi jangkrik atau sayup-sayup angin, kedua polisi itu sepertinya masih tidak percaya sedangkan temannya Hana terlihat cemas. Jujur saya gugup, jika Hana mempunyai kekuatan seperti saya maka tidak menutup kemungkinan jika Hana belum bisa mengendalikannya, atau ia menggunakan kelebihannya untuk kejahatan, atau bahkan kekuatannya terlalu kuat untuk bisa dikendalikan. Kita mengitari dan memeriksa seluruh taman itu, sampai pada akhirnya kita bertemu dengan sekelompok warga yang terbaring tak berdaya di tanah. Kedua polisi itu segera memeriksa tubuh yang terbaring, sepertinya mereka baik-baik saja jika dilihat dari ekpresi lega para polisi itu. Kedua polisi itu menghampiri ku, salah satu dari mereka mengangkatku dan bertanya "Baiklah apa yang sedang terjadi!?!". Saya merasa tercekik, dengan suara pasrah saya menjawab "Saya adalah Eka, saya memiliki kekuatan yaitu tidak dapat mati! Saya dikirim kesini untuk bertemu Akizuki Hana". Polisi yang berdiri disamping yang sedang mencekik memperkenalkan diri. Dari tadi kek. "Saya adalah Akizuki Hojo. Saya adalah paman dari Hana. Sarutobi turunkanlah dia!". Jadi namanya Sarutobi toh. Tuan Sarutobi menurunkan ku secara keras. Bahkan tidak bisa disebut diturunkan malah itu disebut dibanting! Tuan Sarutobi membantingku dengan keras! Dari bayang-bayang muncul sebuah kelompok remaja SMP. Jumlahnya lebih banyak dari yang tadi saya pukuli, sepertinya mereka dalam satu kelompok. Salah satu dari mereka berteriak "ITU DIA, KAKAK YANG MEMUKULI KITA. TEMAN ANEHNYA HANA!!!". Mungkin mereka ada puluhan, sepertinya mereka juga membawa senjata. Tuan Sarutobi dan Tuan Hojo mengeluarkan pistol dari saku mereka, dan menodongkan kearah para remaja-remaja mecin itu. "PERGILAH NAK! INI ADALAH URUSAN RESMI NEGARA! JIKA KALIAN TIDAK PERGI KAMI AKAN MENGGUNAKAN KEKERASAN!". Wow polisi menodongkan pistol kepada segerombolan bocah ingusan,sungguh bijak. Saya gak komplain. Para remaja itu berlarian menuju kita. Saya bersiap-siap untuk bertarung, kedua polisi itu sudah siap untuk menembak tapi tampaknya mereka gugup. Sudah sangat terbaca. Keringat turun dari dahi mereka, jari mereka bergemetaran, posisi menembak yang kurang seimbang. Secara tiba-tiba satu per satu tumbang. Mata mereka putih dan sepertinya kesakitan secara mental. Kedua polisi itu terkejut dan menjatuhkan pistolnya. Teman Hana kemudian berteriak "ITU HANA!!". Sial. Kekuatan macam apa ini??. Saya berlari pada mencoba mencari sumber kekuatan ini. Semakin mendekat dengan para remaja saya mulai merasakan rasa pening. Rasa sakit kepala yang kuat. "JANGAN USIK AKU, JANGAN DEKATI AKU". Pesan itu terus berulang-ulang. Saya dapat merasakan rasa sakit dan kepedihan dalam kata-kata itu. Sepertinya ada satu cara dimana aku dapat menemukan Hana. Saya memungut sebuah belati dari seorang remaja yang terjatuh. Saya menusukan jantung saya dengan harapan saya dapat mengaktifkan kekuatan saya. Saya sudah menyimpulkan setiap kali saya dihidupkan indra saya menjadi 100 kali lipat indra biasa manusia. Saya dapat melihat secara detil,bergerak lebih cepat dan mendengar suara dengan secara jelas pada semua frekuensi. Seperti tadi, jiwaku merasa hilang, jantung dan semua fungsi badan mulai tidak terasa. Semua gelap. Jantung ku berdetak dengan kencang, Saya dapat merasakan semuanya dengan jelas. Disana, disitu, au ah. Rupanya tidak bekerja. Lalu semua berhenti. Tidak ada rasa sakit kepala, tidak ada pesan yang berputar di kepala ku. Seorang gadis berjalan menujuku dengan wajah terkejut. Dalam cerpen ini sudah berapa orang yang yang terkejut? Gadis itu memiliki rambut pendek hitam, gigi tidak teratur dan tinggi badan sekitar 159-162 cm. "K-kau tadi hilang. Aku tidak dapat merasakan pikiran mu, yang hanya dapat kurasakan hanyalah rasa dingin. Apakah mungkin k-k-kaum m-mati??". Gadis itu gugup sekali, lebih tepatnya takut. Sepertinya kekuatannya adalah dapat membaca pikiran. Bahaya ini, bayangkan ratusan bahkan jutaan privasi laki-laki terancam."Hana! Hentikan semua ini! Jangan sakiti mereka lagi". Seketika wajahnya memerah dan ia sepertinya marah. "Bersikap baik?? Pada mereka !?!? Apa yang mereka telah lakukan untukku sehingga mendapatkan simpati ku !?!?!". Air mata turun dari matanya, saya tahu persis mata itu. Mata mereka yang tertindas dan diasingkan oleh dunia, mata yang mati. "Bukan seperti ini caranya, saya tahu kau berbeda. Saya juga berbeda, kita berdua adalah orang-orang pinggiran, orang-orang yang tidak diinginkan oleh masyarakat ini.Mereka hanya takut pada kita". Wajahnya membara dengan amarah. "UNTUK APA AKU MEMBERI DUNIA SIMPATI JIKA DUNIALAH YANG MERENGUT JIWA DAN HATIMU DARI DIRIMU. MERENGUT SEGALANYA DARI DIRIMU SAMPAI KAU TIDAK BISA MERASAKAN RASA SAKIT KARENA SAKING TERBIASANYA KAU DISAKITI DI DUNIA INI. APA KAU TAHU RASANYA DIMANA KEDUA ORANG TUA MU MENINGGAL DI DEPAN MATAMU DAN SEMUA ORANG TIDAK SEMINIMALNYA MELIRIK DAN MERASA KASIHAN PADAMU?? TIDAK!! MEREKA HANYA MELEMPARIMU DAN MENUSUK HATIMU DENGAN KATA-KATA DAN TINDAKAN PERIH". Kata-kata itu tidak salah. Memang buat apa kita melakukan sesuatu yang baik pada mereka yang telah mengasingkan kita. "Saya tahu perasaan mu, maka itu saya bunuh diri. JIKA TAKDIR MEMANG INIGIN SAYA MATI MAKA DI DASAR SUNGAI ITU SAYA SUDAH MATI, KENYATAANNYA SAYA SEHARIAN TERBAWA ARUS SAMPAI TERDAMPAR DI PANTAI NEGARA JEPANG!!DITUSUK DAN DIPUKULI, DIPENJARA DAN MATI BERKALI-KALI, TAPI TETAP SAYA HIDUP DAN BERDIRI DISINI! Saya rasa, jika memang takdir tidak menginginkan dirimu sejak awal, kau sudah mati". Hana terjatuh berlutut di tanah. Ia menangis sekencang-kencangnya. Hujan mulai turun. Mainstream sekali settingan adegannya. Saya sadar baju saya sudah terkoyak pada titik sudah tidak layak diapakai. "Jika kau mau, kau bisa membantu ku dalam misiku untuk mencari orang-orang yang mempunyai kekuatan seperti kau dan aku". Hana berhenti menangis dan menghampiriku. Rupanya ia ingin meper ingusnya kepada bajuku. Sial. Sudah cukup di tusuk-tusuk, sekarang di peper ingus."Baiklah aku akan ikut dengan mu. Tapi janjilah satu hal!". Mukanya memerah malu."Janjilah jangan mengkhianatiku atau menyakiti hatiku, berjanjilah agar kita selalu bersama sebagai sesama orang aneh!". Saya mengangguk. Mukanya tersenyum.
Kita berdua berjalan menuju tepi laut. sembari mengenal satu sama lain."Vina!" saya berteriak dengan keras. Sebuah kepala muncul dari laut. "Apakah kau berhasil?". Saya mengangguk, dan memperlihatkan Hana. Vina terlihat puas. "Baiklah Eka, Hana. Tujuan selanjutnya kalian akan pergi ke India. Carilah anak bernama Vajra. Carilah Vajra dan akan kuberitahukan kepada kalian mengapa kalian dikumpulkan dan sumber kekuatan kalian". Saya bersemangat, walau Hana sepertinya tidak tampak sesemangat saya. Kita berpegangan tangan dan masuk kedalam lautan. Memulai perjalan kedua saya. Jika diluar sana jumlahnya banyak yang seperti saya maka saya hanya ingin mereka tahu mereka tidak sendiri.
















Catatan: Penggunaan kata 'saya' dan 'aku' yang tidak konsisten memang disengejai sebagai ciri khas tokoh protagonis, untuk mengenang teman lama saya

Senin, 19 Maret 2018

Down of Java



Down of Java

Jawa sudah jatuh. Kalimat yang tepat untuk menjelaskan hal yang terjadi saat ini. Rangkaian peristiwa ini terjadi dengan cepat. Hujan meteor terjadi di Yogyakarta, ledakan di sebuah laboratorium, virus aneh menyebar, dan terjadi epidemi absurditas. Manusia yang terjangkiti jadi kanibal dan menghabisi sesamanya.

Pemerintah bertindak cepat dengan mengerahkan militer. Yogyakarta diisolasi oleh militer. Tidak ada yang bisa keluar. Baik yang terjangkiti virus maupun yang tidak. Militer tidak sempat mengevakuasi keluarga keraton. Semua yang ada di dalam, tidak bisa keluar.

Lalu seorang metalurgi dari LAPAN membawa sampel meteorit yang diduga sumber virus itu ke Amerika. Bekerja sama dengan NASA mereka menemukan fakta bahwa hujan meteor itu bukanlah kejadian alami. Meteor yang jatuh sudah dimodifikasi menjadi senjata biologi yang bisa menyebarkan virus. Namun, fakta itu belum selesai. Itu hanya sebuah awal. Selanjutnya invasi itu dimulai.

Yogyakarta hanyalah percobaan. Yogyakarta hanya korban dari konspirasi kolosal yang melibatkan seluruh dunia. Banyak pesawat yang hilang di seluruh dunia. Lalu ada hasil penyelidikan yang mengatakan bahwa telah dibangun sebuah pangkalan militer makhluk asing di bulan. Selanjutnya terjadi serangan terhadap kota-kota besar di dunia. Jutaan orang tewas.

PBB melakukan ekspedisi ke Bulan. Ilmuan Indonesia itu ikut, mereka masuk ke pangkalan itu, kekacauan terjadi. Ini adalah sebuah perang. Pangkalan itu ternyata menculik pesawat-pesawat yang hilang itu. Makhluk asing yang menyebut mereka bangsa Fors melakukan percobaan dengan memindahkan jiwa—kesadaran—mereka ke tubuh manusia untuk melakukan konspirasi besar dalam menguasai dunia.

Pangkalan itu menjadi ladang pertempuran. Ketika pasukan ekspedisi PBB terdesak, bantuan datang. Tim kedua membantu evakuasi, lalu pangkalan itu dihancurkan. Namun, itu hanya sebuah awal dari peperangan besar ini. Semua telah dimulai. Bangsa Fors tidak main-main. Perang itu baru saja dimulai, dan Jawa menjadi medan perang yang pertama.

***

Aku menyadari keanehan ini sejak lama. Yogyakarta sudah lama diisolasi. Namun, ancaman yang kurasakan tidak hilang begitu saja. Walaupun aku tahu mereka tidak bisa keluar dari sana, tapi hatiku tetap tidak tenang. Kurasa, yogyakarta bukanlah ancaman utama.

Aku mencoba bangkit dari tempat tidurku. Pandanganku masih remang-remang. Semalam aku sepertinya kurang tidur. Terlalu lama mengerjakan tugas dari kantor. Terkadang pekerjaan membuatku tertekan. Namun, itulah satu-satunya caraku bertahan hidup.

Aku bangkit berdiri. Mencoba berjalan perlahan keluar kamar dan mendapati istriku sedang menonton berita pagi dengan sarapan tersaji di atas meja. Aku tidak langsung menghampirinya. Menuju kamar mandi sebentar lalu mencuci mukaku. Mencoba menghilangkan kantukku yang masih tidak mau pergi.

“Mas, ada berita penting!” seru istriku.

“Sebentar,” balasku singkat. Kutatap cermin, bayanganku ada di sana. Seorang pria berumur tiga puluh tahun yang bekerja di salah satu BUMN. Bernama lengkap Rans Heriawan.

Aku segera melangkah keluar dari kamar mandi. Menemui istriku yang sudah menunggu di depan TV. Sepiring nasi goreng tersaji di sana. Aku segera menyantapnya selagi hangat. Sudah kuduga rasanya akan nikmat seperti biasa. Istriku tidak terlalu pandai memasak, tapi untuk nasi goreng dialah yagn terbaik.

“Jadi berita apa?” tanyaku.

“Hujan meteor lagi, ini terdengar aneh tapi terjadi di seluruh Jawa,” ujarnya dengan nada sedikit khawatir.

“Mengapa kau terdengar khawatir?” tanyaku.

“Aku takut, epidemi di Yogyakarta terulang,” jawabnya.

Mataku membelalak dan sedikit terdesak. Dia benar, kejadian ini aneh. Aku segera menghabiskan sarapanku. Aku harus melakukan sesuatu, aku harus memperingatkan pemerintah. Namun, apakah pemerintah akan percaya pada kekhawatiran rakyatnya? Satu dua orang apa akan dipedulikan?

Aku berpikir dua kali untuk memberi tahu pemerintah. Kurasa, pemerintah tidak akan peduli jika aku bersuara. Aku hanya bagian kecil dari bangsa ini. Sudah lama masyarakat dan pemerintah kita mempedulikan sesuatu dari segi jumlah. Sudah rahasia umum, untuk dipedulikan kau harus jadi mayoritas.

“Berapa rentang waktu hujan meteor dan anomali itu terjadi di Yogya?” tanyaku. Istriku memang tidak bekerja di perusahaan manapun. Namun, dia bisa disebut intelektual yang paham banyak hal.

“Sekitar satu sampai dua bulan, tetapi kali ini bisa saja lebih cepat,” jawabnya.

“Jadi, Jawa bisa hancur kapan saja,” ujarku. Dia membenarkan perkataanku.

“Baik, selama aku bekerja persiapkan peralatan untuk berpergian. Juga senjata, aku memiliki izin menggunakan senjata api jadi tidak masalah,” kataku. Dia mengangguk mengerti.

Aku segera mandi dan bersiap ke kantor. Setelah siap aku mengecupp puncak kepala istriku lalu pamit berangkat ke kantor. Aku menggunakan motor untuk hari ini. Aku harus meninggalkan mobil pada istriku agar dia bisa evakuasi jika kejadian tidak diinginkan terjadi. Aku dalam setengah jam tiba di kantor. Menuju lantaiku dan segera tiba di meja kerjaku.

“Hei, Rans, apa kabarmu?” tanya Derian teman di sebelahku.

“Tidak baik, rasa khawatir itu terus muncul,” balasku.

“Tenang sa—“ kalimatnya terpotong olehku, “Dan kau tahu, rasa khawatirku ini sering menjadi kenyataan.” Aku menyalakan komputerku, bersiap bekerja.

“Memangnya ada apa?” tanyanya sedikit berbisik.

“Ingat epidemi di Yogyakarta? Kau tahu apa kejadian awalnya? Hujan meteor, dan kejadian itu terulang semalam. Di seluruh Jawa! Bayangkan itu,” jawabku.

“Aku tidak terpikirkan soal itu, ada saran?” tanyanya lag.

“Bersiaplah untuk segala kemungkinan terburuk,” jawabku. Lalu percakapan kami berakhir. Kami mulai sibuk mengerjakan tugas masing-masing. Aku hanya bisa berharap hari ini akan baik-baik saja.

***

Sorenya aku pulang dengan selamat. Hari ini tidak ada kejadian aneh apapun. Istriku juga baik-baik saja di rumah. Aku terus memperingatkannya untuk tetap berhati-hati. Jika ada masalah aku memintanya meneleponku. Sungguh, aku sangat khawatir. Aku memang berlebihan, tapi itu wajar untuk kondisi saat ini. Kautahu, dunia sudah gila. Dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, banyak kejadian aneh.

Setidaknya, malam ini aku bisa beristirahat dengan tenang. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan untuk malam ini. Ya tidak ada, sampai—

PRANK

Suara kaca pecah memenuhi seisi rumah. Aku segera keluar kamar mencari istriku. Dia ada di dapur bersiap dengan sebuah pisau. Setidaknya aku tahu dia aman. Aku lalu mengeluarkan belatiku. Mengendap-endap memeriksa keadaan.

PRANK

Suara kaca terdengar lagi. Lalu terdengar suara geraman. Geraman hewan yang lapar. Namun, aku yakin itu bukan suara hewan buas. Sial, ternyata sudah dimulai. Aku melihat mereka. Badan mereka seperti terbakar, membungkuk dan penuh air liur.

“Mereka terlihat sedikit berbeda dari yang di Yogya,” bisik istriku.

Aku tidak sengaja menyenggol vas bunga di meja dekat televisi. Suaranya memancing mereka untuk menoleh. Langsung saja, dengan tangan terjulur dan geraman tadi mereka menyerangku. Yang pertama berusaha meraih leherku, aku menangkap tangannya lalu menyikutnya dengan keras. Tidak menunggunya menyerang aku menusuk lehernya dan mendorongnnya ke arah temannya.

Yang kedua terkejut, dia menyerangku. Aku menendangnya dengan keras lalu menusuk jantungnya, mencabut belatiku kemudian menggorok lehernya. Dia jatuh ke lantai. Malam ini, lantai rumahku bersimbah darah.

Aku tidak tahu mereka datang dari mana. Sepengetahuanku tidak terdengar berita bahwa terjadi anomali kabut yang menyebarkan virus yang sama seperti di Yogya. Tidak terdengar informasi apapun. Kecuali, pemerintah menyembunyikannya.

“Siapkan barang-barang, kita pergi sekarang.” Istriku mengangguk. Aku segera pergi ke gudang menyiapkan senjataku. Aku pernah jadi anggota intel tetapi tidak terlalu lama bekerja di lapangan. Hanya sekitar lima tahun, lalu aku dipindahkan menjadi agen teknis.

Di gudang aku mengambil senjataku berupa dua pistol dengan delapan magazine, sebuah shotgun dengan sekotak peluru dan sebilah katana. Lalu terdengar jeritan, itu bukan jeritan istriku. Jeritan itu terdengar dari luar. Lalu disusul jeritan lainnya. Bunyi pecahan kaca, keributan, dan geraman.

Aku segera kembali ke istriku yang sudah siap di garasi. Dia dengan cepat menyalakan mesin mobil. Ransum, pakaian, dan segala peralatan yang kami perlukan sudah siap di dalam mobil. Aku menyerahkan salah satu pistol dan dua magazine ke istriku. Aku takjub padanya bisa tenang dalam situasi ini. Dia juga terbisa dengan senjata api.

“Apa kaupikir kita harus mengajak keluarga sebelah?” tanyaku.

“Kau ingin mengeceknya? aku bisa menunggu di mobil. Tapi pastikan kau kembali,” balasnya. Aku menelan ludah lalu mengangguk.

Aku segera keluar dari rumah. Berjalan cepat ke rumah tetangga. Gelap, tidak ada suara. Lalu tiba-tiba sebuah AK-47 menodongku dari arah jendela.

“Berhenti! Siapa di sana?” serunya.

“Aku Rans, aku mengajakmu ikut. Kita harus melakukan evakuasi,” ujarku. Lalu terdengar jeritan dan geraman dari belakangku.

Rumah di belakangku baru saja diserang. Aku segera ke sana. Terlambat, aku menemukan makhluk itu tengah memangsa seorang wanita, dengan cepat aku menembakinya hingga tidak bisa bergerak. Aku kembali ke rumah sebelumnya.

Fahmi sudah siap berangkat. Dia bersama istri dan anaknya segera menuju rumahku. Sekedar informasi, aku dan Fahmi cukup dekat. Fahmi adalah anggota militer. Dia sedang dibebastugaskan. Aku segera memintanya masuk. Dengan cepat kami siap berangkat.

Aku langsung tancap gas saat pintu garasi terbuka. Meninggalkan daerah pemukiman yang sudah kacau balau. Tidak ada waktu untuk menyelamatkan banyak orang. Di sini, manusia memperlihatkan keegoisannya. Aku makhluk yang ingin bertahan, aku tidak ingin tersisihkan.

***

Kondisi kacau. Informasi dari pemerintah datang terlambat. Meteor itu meledak pukul lima kemarin. Seluruh Jawa kacau. Pusat-pusat kota terinfeksi dengan cepat. Militer sulit bertindak, evakuasi sia-sia. Kini, manusia hanya bisa peduli terhadap dirinya sendiri.

“Jadi menurutmu ke mana kita?” tanyaku pada Fahmi. Kami sedang merentangkan peta Jawa.

“Meteor itu jatuh secara acak. Kita tidak bisa benar-benar tahu di mana lokasi yang aman,” ujarnya.

Aku membenarkan. Dia lalu berkata, “Namun, kukira kita harus segera ke pelabuhan atau bandara terdekat.”

“Tidak, pasti ramai sekali. Apalagi kondisinya kacau begini, bisa saja bandara sudah tamat,” ujarku.

“Namun, kita harus segera pergi dari pulau ini,” ujarnya.

“Apa kau tahu di mana landasan terdekat? Bukan bandara umum,” kataku.

“Mau apa kau? Menerbangkan pesawat? Kita berlima, pesawat kecil hanya muat dua orang,” balasnya.

“Tergantung jenisnya,” balasku.

ARRGHH

Suara geraman muncul. Tidak hanya satu geraman. Ada banyak geraman, lima. Makhluk-makhluk itu menyerbu dari arah jalanan. Aku siap dengan katanaku. Dengan gerakan cepat aku berlari ke arah mereka. Menebas kepala salah satunya melakukan gerakan berputar, menusuk lurus ke depan. Melompat ke samping sambil menebas kembali. Tiga sudah tumbang.

Dua lagi menyerangku dari dua arah. Aku hanya bergeser sedikit dan membuat mereka bertabrakan. Dengan satu tebasan kedua kepala mereka terpisah dengan darah bercipratan ke mana-mana. Entah mengapa aku terbiasa menghadapi mereka.

“Di mana pangkalan militer terdekat?”

***

Jika ada orang berkata dunia ini penuh kekejaman, aku setuju dengannya. Kekejaman pertama, aku tidak bisa melanjutkan kuliahku. Kedua, kehidupan normalku hancur berantakan. Ketiga, kotaku diisolasi di tengah kekacauan ini. Epidemi aneh menyebar ke seluruh kota sejak hari itu. Yogyakarta mengalami kekacauan besar. Militer bergerak dan membantu masyarakat. Namun, epidemi ini sudah terlanjur cepat menyebar. Lalu pemerintah pusat mengelurkan kebijakan yang mengejutkan, Yogyakarta diisolasi begitu saja. Tanpa penangangan lebih lanjut.

Militer dan masyarakat yang terjebak mencoba bertahan dengan bekerja sama. Kami membangun pertahanan di sekitar Keraton, Prambanan, dan UGM. Persediaan makanan dan lain-lain dibagi seadil mungkin. Namun, bencana ini membuat semua orang gila. Pertikaian masih sering terjadi. Kami yang seharusnya fokus saling membantu, malah saling bunuh memperebutkan makanan. Seakan, manusia tidak lebih dari binatang yang kelaparan.

Charise, kemarilah ada kabar menarik,” panggil salah satu temanku.

Aku mengecek keadaan sekitar terlebih dahulu baru meninggalkan tempatku berdiri sebelumnya. Sekarang aku dan beberapa temanku sedang berburu makanan di toko-toko yang sudah ditinggalkan. Namun, kami sedang beristirahat sekarang.

“Ada apa?”

“Dengar ini,” ujarnya, “berita yang menarik dan menyeramkan.”

Epidemi yang pernah menyebar di Yogyakarta kini menyebar ke seluruh Jawa. Hujan meteor yang terjadi kemarin ternyata membawa dampak buruk dalam kurun waktu kurang dari dua puluh empat jam. Pemerintah segera melakukan evakuasi dari Bandung. Pemerintah menghimbau setiap warga untuk mempersenjatai diri dan segera mengevakuasikan keluarga ke tempat yang aman. Untuk saat ini pangkalan-pangakalan militer masih menjadi tempat yang teraman. Sekian RRI melaporkan.

“Jawa diambang kehancuran dan pemerintah melarikan diri,” ujarku ketus. Aku sudah tidak percaya lagi pada pemerintah sejak Yogyakarta diisolasi.

“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya temanku.

“Tidak ada jalan lain, kita harus berperang melawan mereka.” Aku mengokang senjataku.

Keputusanku tepat, karena tiba-tiba saja makhluk-makhluk aneh itu menyerang dari luar pertokoan. Aku segera menembaki mereka dibantu dua temanku. Namun, kami harus menghemat peluru. Selagi dua temanku yang lain berkemas, aku segera berusaha menahan makhluk-makhluk ini. Aku mengganti senjataku dengan dua belati hitam. Dalam pertarungan jarak dekat aku juga tidak bisa diremehkan. Sudah sejak kejadian itu aku menjadi petarung. Bertarung untuk bertahan hidup.

“Kami sudah siap. Ada kendaraan di belakang,” kata temanku. Aku segera mengangguk dan kembali menggunakan senjata apiku.

“Cepat!” kami berlari menuju ke belakang pertokoan. Sambil mencoba menembaki makhluk-makhluk ini. Dia benar, di belakang ada sebuah mobil jip. Para pembawa logistik masuk duluan. Aku menyusul bersama yang lain. Dalam lima menit dia berhasil mengakali mesinnya agar menyala.

Fire in the hole!” aku melempar granat tepat saat kami mulai tancap gas.

Kami berhasil kabur lagi.

***

Kekacauan terjadi di sini. Semua orang panik. Oke ralat, kekacauan terjadi di seluruh pulau Jawa. Aku sudah memerintahkan militer untuk mencoba mengevakuasi warga ke titik aman. Aku telah mencoba. Kini aku mencoba mengevakuasi pemerintahan.

“Kita harus cepat, pak,” kata ajudanku.

“Aku menggeleng, aku akan tetap di sini,” balasku.

“Tapi, bisa apa rakyat tanpa pemimpinnya?” balasnya.

“Bisa apa pemimpin tanpa rakyatnya?  Aku akan di sini bersama rakyatku. Semua komponen pemerintahan segera dievakusikan ke Denpasar. Aku akan tetap di Bandung bersama beberapa menteri. Ini tidak sama seperti kejadian di Jakarta, Ali. Kali ini aku harus tetap di sini,” jelasku.

Aku tidak tahu. Mengapa negeri yang indah ini sering ditimpa masalah sulit? Epidemi aneh melanda Yogyakarta. Lalu ada serangan makhluk asing ke Jakarta—beberapa kota di seluruh dunia juga mengalami hal yang sama—sekarang epidemi itu menyebar ke seluruh Jawa.

Hujan meteor semalam sangat mendadak. Aku baru tahu fakta bahwa itu bukanlah meteor tapi senjata dari Bangsa Fors. Tim pencegahan gagal, senjata itu aktif dengan cepat dan menyebabkan epidemi besar ke seluruh Jawa. Militer terpaksa aku gerakan untuk membantai mereka dan melindungi warga.

Aku bangkit dari tempat dudukku. Aku akan meninggalkan gedung ini tapi aku tidak akan pergi dari Pulau Jawa. Sudah cukup aku berlari. Sudah lama aku menginginkan pertempuran, dan sekaranglah aku akan bertempur.

“Anda masih ingat cara menggunakan senjata, pak?” tanya Ajudanku.

“Tentu saja,” balasku sambil tersenyum.

***

Ruang rapat segera dipenuhi banyak orang. Sebuah peta pulau Jawa terbentang di atas meja. Aku menghela napas sebentar. Lalu mulai memberikan intruksi pada orang-orang di hadapanku.

“Baik, mari kita mulai. Saat ini, seluruh pulau Jawa mengalami kekecauan. Aku meminta seluruh sumber daya yang ada digunakan untuk menyelamatkan pulau ini. Fokuskan untuk menyelamatkan rakyat dan melindungi mereka. Buat titik-titik pertahanan di setiap kota. “

“Untuk Provinsi Banten, akan kuberikan komando pada Mayjen Achmad. Jakarta, pada Letjen. Farris. Jawa Barat pada Jenderal Rano. Jawa tengah pada Kolonel Dahlan. Jawa Timur pada Mayjen Derio. Pimpin pasukan kalian untuk membasmi makhluk-makhluk ini dan evakuasi warga ke wilayah aman. Makhluk-makhluk ini bisa dibunuh. Sistem tubuh mereka masih sama seperti manusia. Jantung dan otak mereka tetap jadi titik terlemah,” jelasku pada orang orang di hadapanku.

“Siap Pak!” balas mereka.

“Jawa diambang kejatuhan dan kita adalah harapan bagi pulau ini. Lakukan yang terbaik demi rakyat kita!” seruku.

“Kalian dilatih untuk menghadapi situasi seperti ini. Tunjukan padaku hasil latihan kalian!” kataku lagi.

“Siap Pak!”

“Aku akan ikut bertempur di daerah Bandung kota. Ajudanku akan bersamaku bersama sepuluh orang lainnya. Kalian fokus saja pada tugas, jangan khawatirkan diriku. Aku akan tetap hidup, paham?”

“Siap paham!”

Mereka lalu kububarkan untuk segera bertugas. Aku sendiri langsung menuju ruang senjata dan memilih senjataku sendiri. Walaupun tidak memiliki latar belakang militer aku pernah berlatih menggunakan senjata api. Kali ini aku memilih membawa shotgun, dua pistol, dan dua buah pedang pendek. Aku membawa amunisi sebanyak yang kubisa.

Ajudanku memilih menggunakan senapan serbu dan membawa beberapa peledak. Dia cukup ahli dalam meledakan sesuatu. Aku pernah melihatnya bertempur saat evakuasi dari Jakarta. Aku mendekatinya lalu membisikan sesuatu.

“Jika aku terinfeksi,” bisikku, “segera tembak aku dan jangan ragu.”

Dia mengangguk. Aku percaya padanya. Selama empat tahun ini dia telah menjadi orang kepercayaanku. Perintah apapun itu, termasuk membunuhku akan dia jalani. Lalu kami keluar menuju lapangan depan. Dengan beberapa mobil bersenjatakan kaliber lima puluh dan mortir telah menunggu sepuluh orang yang akan menjadi pasukanku.

“Kita akan turun ke jalan bukan untuk main-main. Kita habisi makhluk-makhluk itu dan selamatkan sebanyak mungkin warga sipil. Jangan sampai tergigit atau kalian akan menjadi seperti mereka,” ujarku. Mereka mengangguk padaku. Paham dengan resiko pekerjaan mereka.

“Mari kita mulai.” Aku menaiki salah satu mobil dan kami segera berangkat. Aku akan turun ke medan perang. Memimpin langsung perlawnan ini. Walaupun Jawa diambang kehancuran, aku tidak akan lagi. Tidak lagi. Akan kutunjukkan pada rakyatku, bahwa pemimpin mereka bukan pengecut.

***


Sabtu, 03 Februari 2018

Bhavana Eunoia - Kopi & Impian



Hidup, digambarkan dengan banyak hal. Ada yang menggambarkannya seperti roda. Di mana kita terkadang di atas dan terkadang di bawah. Ada juga yang menggambarkannya sebagai perahu kertas yang dihanyutkan di sungai atau selokan. Mengikuti arus lalu perlahan basah dan kita tenggelam. Begitu banyak yang menggambarkan hidup.

Aku sendiri menggambarkan hidup sebagai secangkir kopi. Secangkir kopi yang disajikan di mana-mana—kafe, warung kopi atau bahkan di meja makan di rumah—telah melewati proses yang panjang. Mulai dari penyemaian, pembibitan, penanaman dan lain-lain. Saat diolah menjadi bubuk kopi juga bukan hal yang singkat. Maka kugambarkan hidup seperti secangkir kopi, yang melewati proses panjang sebelum disajikan di atas meja mana pun. Karena, kopi adalah bagian dari hidupku.

***

Kehidupanku berlanjut, teman-temanku menjalani hidupnya, Dhea pergi ke Paris dan belum memberi kabar. Aku mencoba melanjutkan hidupku. Kata orang hidup menjadi sarjana di masa kini adalah hal yang sulit, ralat sangat sulit. Namun, jika aku menganggap sulit mungkin perjalananku tidak akan mudah—memang tidak akan mudah—maka kuanggap mudah saja.

Hal pertama yang kubuat setelah lulus adalah perencanaan. Aku membuat daftar apa saja yang harus kulakukan. Di paling atas tertulis memiliki penghasilan. Itu salah satu yang penting sebelum aku merencanakan memiliki kafeku sendiri yang tentu memiliki proses yang panjang. Menjadi lulusan manajemen dan bisnis aku harus bisa menerapkan apa yang telah lama kupelajari.

        “Ibu, ada saran pekerjaan apa yang harus kucari untuk saat seperti ini?” tanyaku.

        “Katanya kamu mau buat kedai kopi,” balasnya.

        “kan perlu modal, bu. Hanif mau mengumpulkan modalnya dulu,” kataku.

        “Mau yang seperti apa?” tanyanya.

       “Apa saja, asal aku bisa mendapat uang untuk beberapa bulan ini,” jawabku.

       “Tukang sapu jalanan, asongan, atau kamu bisa melanjutkan usaha nasi uduk ibu sebentar,” katanya.

Aku berpikir sejenak. Sebenarnya tidak masalah dengan semua itu. Dengan memiliki banyak pekerjaan sekaligus aku bisa menambah pemasukanku. Dengan begitu modal akan cepat terkumpul. Aku membutuhkan modal untuk sarana prasarana dan lain-lain. Untuk tempat aku akan menggunakan rumah yang selama kuliah kutempati.

        “Akan kuambil semuanya.” Aku telah memutuskan.

        “Lah, gimana mau tiga-tiganya toh.” Ibuku terlihat kaget.

        “Untuk nasi uduk, ibu yang masak Hanif yang jual. Setelah itu hanif akan menjadi pedagang asongan di terminal atau jalanan lalu sorenya akan menjadi tukang sapu jalanan,” kataku.

        “Kalau kamu dapat shift pagi nyapu jalanan bagaimana?” tanyanya.

        “Aku tinggal memutarnya,” kataku.

        “Baiklah, ibu hubungi teman ibu yang katanya perlu orang,” katanya.

        Aku tersenyum, “terima kasih.”

***

Aku benar-benar melakukan semuanya. Saat pagi aku menyiapkan nasi uduk ibuku. Beliau memberitahu berapa takaran-takarannya dan apa saja yang harus kulakukan. Aku mengerti dengan cepat. Aku melayani pembeli yang datang. Walaupun tidak secekatan ibuku aku bisa melakukannya.

Beberapa temanku yang ikut membeli kaget melihatku. Mereka bertanya mengapa aku tidak mencoba melamar pekerjaan di perusahaan besar karena aku berkompeten. Aku bilang ingin mulai dari bawah dan menerapkan ilmuku untuk perusahaanku sendiri. Saat aku tanya apa mereka sudah punya pekerjaan mereka menjawab sedang mengusahakannya. Aku tersenyum, hidup memang penuh perjuangan.

Setelah nasi udukku—ibuku—habis aku segera menyerahkan uangnya ke Ibuku untuk dibagi nantinya. Setelah mandi dan bersiap-siap aku segera menuju ke terminal. Di bawah terik matahari dan kerumunan mobil yang berlalu lalang aku menawarkan minuman segar. Hanya ini yang bisa kuperjualbelikan.

Tidak kusangka ternyata cukup berat. Matahari sangat terik hari ini. Panasnya membakar permukaan jalan dan manusia yang beraktifitas di atasnya. Keringatku sudah banyak bercucuran padahal baru sebentar. Namun, kucoba untuk bertahan. Ini pilihanku dan harus kujalani dengan sebaik mungkin.

Setelah matahari melewati kepalaku dan tergelincir di barat, aku segera mandi dan berganti pakaian lagi. Menemui orang yang akan mempekerjakanku sebagai tukang sapu jalanan. Dia memiliki garis wajah yang tegas, rahang yang terlihat kuat dan badan yang tegap. Kurasa kerasnya kehidupan telah memberinya banyak pelajaran.

        “Jadi ini yang namanya Hanif?” tanyanya. Aku mengangguk.

        “Tidak terlihat kuat, kurus kering begini, bisa apa kamu?” komentarnya lagi.

        “Eee, eto ak—“

        “Ah sudah tak usah dipikirkan. Cepat ambil peralatanmu bergabung dengan tim A, bersihkan kota di bagian barat sektor satu sampai lima!” ujarnya tegas.

        “Siap pak!” aku segera berlari ke ruang peralatan lalu kembali ke lapangan depan untuk bergabung dengan yang lain. Tidak kusangka bersih-bersih kota saja bergaya kemiliteran.

***

Aku menatap tumpukan kertas—yang terlihat berantakan—di hadapanku. Aku telah membuat perhitungan dan ternyata tidak mungkin dapat kupenuhi dalam waktu yang telah kutentukan. Ini sudah hari ketiga puluh lima semenjak aku mencoba bekerja. Hasilnya tidak terlalu memuaskan ternyata. Mencapai target yang telah kutentukan ternyata tidak semudah hitungan di atas kertas.

Sekarang aku sedang berada di rumahku—rumah orang tuaku—yang biasa kugunakan jika kuliah. Aku sedang bersih-bersih dan tidak memilih bekerja hari ini. Setelah bersih-bersih tadi aku sempat melihat tumpukan ini dan memilih memikirkannya kembali. Segelas kopi untuk saat ini ternyata tidak cukup untuk membantuku berpikir. Kini aku kembali berpikir, apa mimpiku dapat tercapai?

***

Aku masih memilih tinggal di sini untuk sementara. Pagi-pagi sekali aku kembali ke rumah orang tuaku untuk berjualan nasi uduk lalu memulai aktivitasku seperti biasa. Malamnya aku pulang ke rumahku. Biasanya sepulang kerja aku menghabiskan secangkir kopi dengan mendengarkan lagu-lagu lama Coldplay. Namun, tidak untuk malam ini.

Jika biasanya secangkir kopi tersaji di mejaku, kini ada dua cangkir kopi di sana. Seorang teman mengunjungiku malam ini. Aku hanya berharap dia membawa kabar baik.

        “Hei dengar, ini memang gila tapi kita harus mencobanya.” Arif namanya, dia adalah lulusan Sastra Indonesia dari universitas yang sama denganku. Aku mengenalnya ketika dia ikut pendakian ke salah satu gunung di Jawa Timur.

Aku masih ingat pertemuan pertama dengannya. Dia menawarkan secangkir kopi Toraja hangat saat aku sedang berbicara dengan Dhea. Dia ikut bergabung begitu saja. Aku membiarkannya bergabung dengan kami. Hitung-hitung mempererat hubungan sesama pendaki gunung.

        “Banyak orang berkata tidak ada gunanya masuk sastra. Namun, aku mencoba menghapus stigma itu,” katanya memandang langit pagi penuh harapan.

        “Apa alasanmu masuk sastra?” tanyaku. Dhea juga nampaknya tertarik dengan pembicaraan ini.

        “Mudah saja, aku tertarik, maka aku pelajari. Aku suka dunia tulis menulis sejak dulu,” balasnya.

       “Lalu, bagaimana kau akan menghapus stigma masyarakat itu?” tanyaku.

       “Lihat saja nanti, aku sedang mempersiapkannya,” balasnya dengan penuh semangat. Kulihat Dhea tersenyum saat itu. Kurasa ada yang berbeda dengan kawanku yang satu ini, ya dia berbeda.

Sekarang dia duduk di hadapanku dan menawarkan sesuatu. Sesuatu yang yang mungkin dapat membantuku mewujudkan mimpi ini. Aku hanya bisa berharap.

***

Arif menawarkan aku mengikuti salah satu program pemerintah untuk UMKM. Namun, ini kompetisi. Aku harus bersaing menarik sponsor dan menciptakan inovasi dalam rencana kedai kopiku. Dia mengajaku bekerja sama.

Aturan main, aku dan dia menyusun rencana pendirian kedai kami semenarik mungkin—semacam membuat proposal—lalu kami kirimkan ke panitia. Kemudian akan ada seleksi ketat. Setelah itu jika kami lolos kami akan diperkenankan mempresentasikan rencana kami di depan juri sekaligus wawancara. Jika kami kembali berhasil, kami bersama peserta lain akan menjual produk kami dalam satu tempat dengan target tertentu. Siapa yang berhasil akan menjadi pemenangnya.

        “Jika kita menang, pemerintah akan membiaya setengah sampai keseluruhan biayanya,” katanya.

        “Aku tahu kita akan berhasil. Dengan kemampunanmu dalam manajemen dan kemampuan sastraku yang dapat menarik perhatian orang, aku yakin kita akan berhasil,” katanya.

        “Kita hanya perlu mencoba,” tambahnya dengan semangat.

Dia memberikan waktu sehari kepadaku untuk berpikir. Dia bilang ini gerbang mimpiku. Dia sangat yakin jika kami bekerja sama maka impian itu akan terwujud. Aku menghela napas sejenak. Kurasa aku perlu secangkir kopi lagi.

***

Aku memutuskan untuk menemuinya lagi keesokan harinya. Dia pagi-pagi sekali datang dengan bersemangat ke sini. Mengenakan setelan sederhananya berupa celana panjang, kaus distro, dan jaket tebal. Kebetulan pagi ini memang sedikit dingin. Kubiarkan dia masuk dan duduk di tempat favoritnya.

        “Baik, jika kita benar-benar bergabung dengan kompetisi itu, hal apa yang membuatmu yakin kita akan menang?” tanyaku.

        “Pertama, yang memenangkan kompetisi ini haruslah memberikan manfaat kepada banyak orang bukan untuk si punya ide saja. Kedua, aku sudah punya jawaban untuk hal itu. Untuk sementara itu saja,” jawabnya dengan cepat.

        “Baik, apa yang kau tawarkan?” tanyaku.

       “Pertama, untuk pemasok kopi, aku punya banyak koneksi. Sejak sebulan sebelum dan sesudah lulus aku menjalin hubungan baik dengan beberapa pemilik kebun kopi di berbagai daerah di Indonesia. Mereka juga bisa menyediakan kopi yang sudah diolah secara tradisional. Kedua, untuk penyajian kita menggunakan cara-cara tradisional-modern. Maksudku gabungan keduanya sehingga kita bisa menghemat penggunaan mesin kopi yang mahal itu.”

        “Ketiga, di dalam cup atau gelas-gelasnya nanti akan kusisipi beberapa kalimat sajak yang indah dengan motif-motif nusantara dan kita juga memesannya dari warga lokal. Sehingga aku juga bisa berkarya dan orang lain juga bisa mendapat manfaat. Keempat, aku bisa mengubah tempat ini menjadi bernuansa sastra yang akan disukai siapapun. Gabungkan kafe ini dengan perpustakaan yang boleh dikunjungi siapapun. Untuk tambahan lainnya, bisa kita bahas nanti, sekian,” jelasnya panjang lebar.

         “Baik, beberapa poinmu tadi menarik. Namun, apa cukup menarik perhatian juri?” tanyaku.

        “Dalam seleksi berkas nanti, kirimkan desain kedai kopimu akan seperti apa, desain cup dan gelasnya, juga bukti kita bekerja sama dengan para petani kopi. Kurasa itu akan membantu, aku juga bagus dalam presentasi.” Dia membalas dengan bersemangat. Dia lalu kembali berkata, “Jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan karena dunia ini tidak adil soal kesempatan. Jika jadi yang terpilih maka manfaatkanlah hal itu.”

Aku berpikir sejenak. Dia benar, aku tidak boleh membiarkan kesempatan lewat begitu saja. Namun, aku tidak boleh terlalu berharap dari kompetisi. Siapun bisa jadi pemenangnya dan itu belum tentu aku. Kalaupun tidak jadi juara utama, mungkin aku masih bisa sedikit terbantu. Aku menatapnya dan dengan mantap berkata, “Akan kuterima tantanganmu.”

***

Kami segera melakukan pembicaraan panjang hari itu. Semua kami bahas sedetail mungkin. Aku juga mulai mendesain tempat yang akan kami gunakan ini. Untuk desain gelas dan cup akan menjadi urusan Arif. Dalam pembicaraan panjang ini kami mencatat beberapa hal penting untuk dimuat dalam seleksi berkas nanti.

Setelah sekitar lima jam berdiskusi dan menyiapkan segalanya. Arif bangkit berdiri lalu meninggalkan rumahku. Katanya harus ada yang diurus sebentar. Besok, kami akan melakukan persiapan akhir. Dengan siapnya segala dokumen kami akan siap menghadapi seleksi berkas.

        “Yo, aku pulang dulu,” ujarnya dari kejauhan. Aku melambaikan tangan dan dibalasnya.

Aku kembali memasuki rumahku dan menyiapkan secangkir kopi. Aromanya yang nikmat memenuhi seluruh ruangan. Aku jadi ingat masa-masa ketika Dhea masih sering main ke sini. Masa-masa di mana kami masih bersama. Aku segera membuang jauh pikiranku tentang Dhea. Sudah saatnya kami berpisah.

Keesokan harinya Arif kembali lagi. Dia membawa segala macam dokumen yang diperlukan. Aku juga sudah mencetak dokumen-dokumen yang kami kerjakan kemarin. Kini, kami siap untuk mengirimnya ke panitia.

Dengan vespa hitamku kami berangkat menuju kantor pos terdekat. Entah mengapa panitia tidak ingin sesuatu yang simpel seperti email. Mereka memillih pengiriman berkas harus melalui kantor pos. Padahal itu memerlukan waktu. Mungkin ini memang wujud promosi pos yang sudah jarang diminati masyarakat. Segala kemungkinan bisa terjadi.

Tidak lama kami mengurus pos. Aku langsung kembali ke rumah dan menanti. Arif juga melakukan hal yang sama. Kami berpisah di depan kantor pos karena berlawanan arah.

***

Aku setuju jika orang bilang dunia ini penuh hal tidak terduga. Segala kemungkinan gila bisa terjadi. Baik kemungkinan yang baik maupun kemungkinan terburuk sekalipun. Kini hal terduga datang kepadaku. Saat aku sibuk melayani pembeli nasi uduk  ibuku sebuah email datang. Email yang mungkin menjadi awal dari mimpiku.

        “Arif, cepat datang kita harus menyiapkan segalanya!” ujarku panik melalui telepon.

        Wait, apa maksudmu?” balasnya. Aku menarik napas sebentar lalu menjawab, “Datang saja dulu.”

        “Baik-baik, tunggu aku sebentar,” balasnya lalu menutup telepon. Aku menanti dengan bolak-balik di ruang tamu. Dua cangkir kopi—yang salah satunya tersisa setengah—tersaji di atas meja. Hal yang kubenci adalah tidak bisa melakukan apapun dan hanya bisa menunggu.

Hal ini kurasakan karena mulai mengalami kesinambungan antara aku dan Arif. Kami bagai otak kanan dan kiri. Harus saling melengkapi dan membantu. Namun, aku tidak boleh terlalu bergantung pada Arif. Dia memang patnerku tapi aku belum terlalu mengenalnya. Dia masih menjadi pemuda yang misterius.

Lalu kudengar suara motor mendekat dan memasuki carport. Kulihat bayangan Arif turun dari motornya. Aku segera membuka pintu dan membiarkannnya masuk.

        “Jadi ada apa?” tanyanya menyeruput sedikit kopinya.

       “Kita lolos ke tahap presentasi,” ujarku.

        Dia terdiam sejenak, “Oke itu mengejutkan. Lalu apa masalahnya?”

        “Kita harus menyiapkan apa yang ada di berkas-berkas kita dalam waktu seminggu dan mempresentasikannya dalam waktu seminggu. Lokasinya nanti kukirim,” jelasku padanya.

        “Kalau begitu kita perlu bagi tugas, tidak, kita lakukan bersama,” katanya.

        “Jadi apa saja?” tanyaku lagi.

       “Kita harus menghubungi kebun kopi yang akan bekerja sama dengan kita dan tempat kita memesan cup dan gelas kita. Karena kita punya waktu untuk pergi ke Gayo, Toraja atau Bali, kita hanya bisa menemui petani-petani yang ada di Jawa,” jelasnya.

        “Kita masih bisa meminta kiriman dari Gayo, Toraja, atau Bali. Tapi untuk mengunjungi kita di Jawa saja agar menghemat biaya. Kau punya kontak mereka, kan?” balasku.

        “Ada, nanti kuhubungi. Setelah semua jenis kopi yang kita inginkan sudah ada di tangan kita. Kita bisa meracik perpaduannya,” katanya.

        “Di mana kau memesan cup dan gelas? Apa dalam seminggu mereka bisa menyelesaikannya?” tanyaku lagi.

        “Tenang, aku sudah memesan untuk contoh. Nanti kita tanyakan lagi,” balasnya.

        “Baik, kita akan mengunjungi beberapa kebun kopi di Jawa. Siap-siap untuk jalan-jalan, masalah transportasi kita gunakan mobil jip orang tuaku. Katanya untuk kepentingan yang penting aku bisa meminjamnya.” Aku mengangguk mengerti. Inilah awal petualangan baru kami.

***

Sebelum kami berkunjung ke perkebunan kopi, kami mengunjungi tempat pembuatan cup dan gelas terlebih dahulu. Tempatnya masih ada di kotaku. Tidak terlalu jauh dari pusat kota. Saat aku memasukinya, tempat ini lebih terlihat seperti galeri seni ketimbang pabrik pembuatan cup dan gelas.

        “Salah satu pegawainya adalah sobat lama kita, Ghani. Dia lulusan seni rupa dan dialah yang akan mengelola pesanan-pesanan kita,” kata Arif.

Saat pertama kali melihat Ghani aku langsung tahu bahwa dia adalah seniman. Dari wajahya aku bisa melihat dia adalah pecinta seni dan bergelut di bidang ini. Dia sangat ramah pada kami. Bicaranya penuh penghargaan dan tanpa basa-basi.

        “Untuk pertama-tama kami butuh seratus cup saja dulu. Karena kami belum tentu lolos ke babak berikutnya,” ujar Arif.

        “Untuk desainnya sama, ‘kan? seperti yang kemarin, Bagaimana dengan sajaknya?” tanya Ghani.

        “Kurasa akan kukerjakan manual. H-1 presentasi juga bisa kukerjakan, sekarang kami harus ke Kayu Mas dan Jember. Untuk membicarakan persedian yang akan kami gunakan,” jawab Arif.

        “Kami berterima kasih karena kau mau mempercepat tugas ini,” kataku.

        “Sama-sama, aku juga sedang tidak banyak pesanan,” akunya. Aku tersenyum lalu menjabat tangannya. Arif juga melakukan hal yang sama. Setelah itu kami pergi meninggalkan tempat ini. Mobil jip yang kami kendarai segera meraung dan melesat meninggalkan kota. Tujuan pertama kami adalah perkebunan kopi di Kayu Mas, Jawa Timur.

***

Suasana di sini cukup dingin. Walaupun matahari terlihat cerah tapi suhu di sini bisa dibilang dingin. Kami sekarang sedang berada di ketinggian seribu dua ratus meter di atas permukaan laut. Perkebunan kopi di Kayumas sudah cukup terkenal sejak dulu. Di sini ditanam jenis kopi arabika.

Kopi arabika adalah salah satu jenis kopi yang cukup sering ditanam di Indonesia. Tentu dengan temannya si kopi robusta. Jenis kopi ini mengandung kafeina sebesar 0.8-1.4 persen. Awalnya berasal dari Brasil dan Etiopia. Karena sedikit rentan dan harus diberi perhatian khusus, harga jenis kopi ini lebih tinggi dari pada jenis robusta.

Dari segi rasa, kopi Arabika memiliki banyak variasi rasa yang mana beragam. Rasa dari kopi tersebut dapat lembut, manis, tajam, dan juga kuat. Anda dapat mengetahui bahwa sebelum disangrai, aroma dari kopi ini amat mirip dengan blueberry. Akan tetapi, setelah disangrai, kopi tersebut akan memiliki aroma buah-buahan manis.

Rasa kopi akan sangat berbeda tergantung siapa yang memperlakukannya. Bisa dibilang buatanku dan Arif belum tentu sama rasanya. Seperti yang kubilang secangkir kopi yang disajikan melalui proses yang panjang.

        “Hanif, bantu aku sini!” panggil Arif. Aku segera mendekat. Rupanya dia minta difoto bersama salah satu petani kopi. Juga membantu merekam wawancaranya. Kami telah membuat kesepakatan.

Mungkin, hasil wawancara ini bisa membantu kami lolos. Pulangnya kami membawa sebungkus besar biji kopi yang sudah dihalusan oleh warga setempat. Ini bisa membuat kami menjadi lebih bersemangat. Kami bergerak cepat. Dari kayumas keesokan harinya kami langsung menuju jember. Di Jember kebunnya berdampingan dengan kebun coklat. Kurasa rasa kopinya akan sedikit seperti rasa coklat, karena rasa kopi tergantung di mana dia ditanam. Kali ini aku yang berbicara dengan pemilik kebun. Kami membuat kesepakatan. Untuk presentasi nanti kami membawa pulang sebungkus kopi lagi. Malam itu juga kami kembali ke kotaku. Masih banyak yang harus dikerjakan.

Hari-hari menjelang sesi presentasi dan wawancara kami sangat sibuk. Aku sibuk membuat racikan kopi yang pas dan sibuk membantu Arif menyiapkan bahan presentasi. Aku sempat kelelahan, ‘tapi kuusahakan pekerjaanku selesai sesuai target. Bagi kami, disiplin waktu itu penting.

        “Serahkan padaku, kuyakin kita bisa menarik perhatian banyak orang,” katanya. Aku hanya mengangguk dan menurutinya. Sebuah fakta andilnya dalam hal ini lebih banyak dariku. Mungkin aku akan berguna jika rencana kami sudah berjalan nantinya. Lalu, hari itu datang.

***

Tidak dapat kupercaya, kemampuan berbicara Arif sangat hebat. Dia menjelaskan dengan lugas apa yang kami siapkan. Aku ikut berbicara tapi rasanya seakan Arif memang memegang kendali dalam presentasi ini.

        “Dengan memberi kami kesempatan, berarti Anda yang ada di hadapan kami memberi kesempatan kepada banyak orang untuk berkembang,” ujarnya.

        “Secangkir kopi melalui proses yang panjang dan proses itulah yang menciptakan kenikmatannya,” kataku. Aku memulai aksiku mengolah racikan kopiku. Para juri memperhatikan kami. Selagi aku meracik, Arif memberikan beberapa penjelasan.

Dalam beberapa menit beberapa cangkir kopi siap disajikan. Aku segera membawakannya ke hadapan mereka. Seraya berkata, “Dalam cangkir-cangkir ini bukan seorang barista saja yang berkontribusi. Kasih sayang dari petani-petani kopi juga terdapat di dalamnya. Silakan dinikmati.”

Mereka mencicipinya. Ekspresinya tidak bisa kutebak. Kurasa mereka menyukainya. Setelah itu, kami undur diri dan menyelesaikan presentasi kami. Sesampainya di luar ruangan Arif bersorak riang. Dia nampak puas dengan apa yang dia hasilkan.

        “Jika kita lolos, tugasmulah untuk membuat kita lolos lagi,” katanya. Aku mengangguk mantap. Ada waktunya bagiku untuk menunjukkan kemampuanku.

***

Matahari terik membakar seisi lapangan. Sementara itu, tanganku sibuk meracik es kopi untuk pelanggan-pelangganku. Di luar dugaan kami, kami lolos ke babak berikutnya. Sekarang giliranku untuk beraksi. Aku tokoh utamanya sekarang. Dari pagi, aku menyajikan kopi sesuai keadaan cuaca. Pagi tadi suasana masih sejuk. Aku menyajikan kopi-kopi hangat khasku. Aku memang jagonya membuat kopi hangat. Apalagi yang murni kopi hitam. Segala tingkat kepahitan aku sudah hafal.

Dalam beberapa jam cuaca berubah. Matahari mulai muncul dan menyengat. Aku menyajikan es kopi. Dilihat dari yang membeli bisa dibilang kami cukup laku. Arif menghias stand kami cukup menarik. Setiap orang yang lewat melirik stand kami. Mayoritasnya mencoba membeli.

Hari pertama, kami sudah berhasil. Hari kedua kami meingkat. Hari ketiga ada sedikit penurunan. Hari kelima kami juga menurun. Aku menyajikan es krim kopi. Penjualan kami meningkat kembali dan di hari ketujuh kami berhasil mencapai target. Dengan berarti kami lolos menjadi salah satu pemenang.

***

Tiga bulan setelah kompetisi.

Kami memenangkan kompetisi itu. Aku benar-benar tidak menyangka hal segila itu bisa terjadi. Walaupun bukan pemenang utama aku berhasil mendapat sponsor untuk modal membuat kedai kopiku. Setelah segala urusan selesai aku mulai mengubah rumahku menjadi kedai kopi.

Arif juga membantu mengubahnya. Dalam seminggu kami sudah siap memulai segalanya. Kini sudah tiga bulan sejak kami buka. Dengan lokasi yang strategis kedai kami lumayan ramai dikunjungi.

Selain menyajikan kopi panas dan dingin, kami juga menyiapkan kopi bubuk dalam kemasan. Kami menepati janji untuk ikut menyejahterakan para petani. Dengan koneksi yang dimiliki Arif kami bisa memasarkan kopi kami hingga hampir ke seluruh nusantara. Bahkan pernah sampai ke luar negeri. Aku senang banyak orang yang bisa merasakan kopi racikanku. Walaupun akan berbeda jika bukan aku yang menyeduhnya. Aku juga senang banyak yang terbantu dengan dibukanya kedai ini.

        “Ah..., lelah juga hari ini,” keluh Arif saat kami sedang merapikan meja dan kursi saat kedai hendak tutup. Hari ini pengunjung lumayan banyak. Rata-rata anak sekolah di dekat sini. Kurasa mereka ingin  merasakan suasana baru dalam belajar.

Sekedar informasi, aku tidak menyediakan wifi di sini. Aku tidak ingin internet menjadi penjauh mereka yang berkunjung ke sini. Dengan menyediakan tempat khusus di ujung meja untuk meletakan ponsel kurasa bisa mempererat hubungan antar pengunjung. Belajar dari pengalamanku menjadi siswa SMA jurusan IPS, kontak sosial sangat penting bagi manusia. Pernah sekali aku melakukan sebuah eksperimen—terhadap diriku sendiri—untuk menjadi apatis dan tidak melakukan kontak sosial dengan orang-orang terdekatku. Hasilnya buruk, aku mengalami sedikit perubahan mental. Aku kapok melakukan eksperimen terhadap diri sendiri.

        “Aku merasakan sesuatu yang berbeda di hari ini,” akuku.

        “Apa itu?” tanya Arif.

        “Entahlah, merasa berbeda saja. Ada apa ya?” balasku.

Tiba-tiba saja pintu kedai terbuka. Seseorang masuk ke dalam. Dia lalu duduk di kursi yang paling dekat dengan pintu.

        “Eh, maaf kami sudah mau tutup,” kata Arif.

        “Aku tidak akan lama, secangkir kopi Toraja,” balasnya.

Aku menghela napas lalu menyiapkan pesanannya. Setelah siap aku segera membawakan untuknya. Tiba-tiba terdengar sambaran petir di luar dan hujan pun turun.

       “Kukira malam ini akan cerah,” ujar Arif. Aku memandang keluar.

Pengunjung kami menyeruput kopinya. Dia hendak berkata sesuatu. Kami semua menoleh. Namun, sesuatu terjadi. Semua terjadi begitu cepat. Listrik tiba-tiba padam. Lalu terdengar suara letusan dan jeritan Arif. Letusan kedua menyusul dan aku merasakan sakit yang luar biasa di perutku.

Lalu aku tidak bisa merasakan apapun lagi. Hal terakhir yang kulihat saat petir menyambar, Arif yang terbaring bersimbah darah. Apa ini benar-benar hal terakhir yang kulihat?

Bersambung…

Bagian Kedua: Kopi dan Perjuangan

 Catatan Penulis: ini benar-benar belum selesai. Segalanya akan terungkap di bagian kedua.
Salam Aksara!




Hubungi kami :

Twitter : @APAksara

Email : apaksara3@gmail.com

HP : 085773226995

Instagram: kapas3.aksara

Twitter

Translator