Hei para penguasa Lautan biru
Kapal Sang Dewa kini telah berlabuh
Entah berapa lama ia menunggu
Neptunus pun menaklukan waktu
Ombak ganas telah jadi sahabat
Tenggelam pun menjadi ritual
Ia adalah calon penguasa
Ia ditakdirkan berkuasa
Namun, kini ia hanya pasrah
Mendapati diri berlabuh di pulau Merah
Entah Senyum Entah Tangis
Wajah Neptunus memerah
Minggu, 27 April 2014
Serigala
Malam ini, kembali sang Serigala pulang
Terukir goresan panjang luka merah
Matanya berair, kuku nya rusak
Serigala mengaum teraduh
Semua makhluk, hidup dengan cinta
Binatang, Tumbuhan, Manusia
Mereka diciptakan oleh Maha Cinta
Sang Maha Agung pelukis pelangi
Lalu, mengapa kita tak bisa?
Mencoba sedikit lari dari kenyataan
Terbang medarat di hamparan padi
Tertidur dan melupakan duniawi
Aku disini dan selalu disini
Menunggu Sang Serigala pulang
Mengusap semua air matanya
Menahan rasa sakit ini, bersama...
Senin, 14 April 2014
MIRROR
Jika aku disuruh mendiskripsikan seperti apa hubungan kita, aku akan menjawab :
"Ikatan yang kita miliki itu seperti cermin!"
Mengapa? Mengapa harus sebuah cermin?
Cermin bukanlah sebuah benda yang spesial. Ia tidak bersinar terang dan bahkan tidak memiliki keunikan apapun.
Mengapa bukan sebuah permata? Atau perhiasan, atau bahkan emas?
Mengapa harus sebuah cermin?
Cermin yang sangat mudah hancur dan pecah jika terjatuh. Dan sekalinya cermin itu terjatuh, pecahan-pecahannya itu tidak akan bisa diperbaiki dan kembali seperti sedia kala.
Ya. Ia tidak akan bisa kembali menjadi sama sempurnanya cermin yang masih baru. Jika sudah hancur, ia tidak akan berguna lagi.
Lalu mengapa?
Mengapa sebuah cermin?
Itu karena... Jika kita berdiri menghadap cermin itu dan kita mengangkat tangan kanan kita, di cermin itu, tangan kiri kitalah yang akan terangkat.
Tetapi jika kita melihat dengan seksama refleksi yang ada di cermin itu... Kita melihat diri kita sendiri. Tidak ada sedikitpun perbedaannya antara kita dan refleksi di cermin itu. Seluruh bagian dari tubuh kita terpantulkan dengan sempurna di cermin itu.
Ya. Hubungan dan ikatan kita sama seperti sebuah cermin.
Kau dan aku adalah orang yang bertolak belakang namun di saat yang sama kita juga memiliki beberapa kemiripan.
Kau dan aku berbeda, tetapi kita juga sama.
Bagiku, seperti itulah ikatan yang kita miliki.
Bagaimana menurutmu?
Hei, sahabat terbaikku..
"Ikatan yang kita miliki itu seperti cermin!"
Mengapa? Mengapa harus sebuah cermin?
Cermin bukanlah sebuah benda yang spesial. Ia tidak bersinar terang dan bahkan tidak memiliki keunikan apapun.
Mengapa bukan sebuah permata? Atau perhiasan, atau bahkan emas?
Mengapa harus sebuah cermin?
Cermin yang sangat mudah hancur dan pecah jika terjatuh. Dan sekalinya cermin itu terjatuh, pecahan-pecahannya itu tidak akan bisa diperbaiki dan kembali seperti sedia kala.
Ya. Ia tidak akan bisa kembali menjadi sama sempurnanya cermin yang masih baru. Jika sudah hancur, ia tidak akan berguna lagi.
Lalu mengapa?
Mengapa sebuah cermin?
Itu karena... Jika kita berdiri menghadap cermin itu dan kita mengangkat tangan kanan kita, di cermin itu, tangan kiri kitalah yang akan terangkat.
Tetapi jika kita melihat dengan seksama refleksi yang ada di cermin itu... Kita melihat diri kita sendiri. Tidak ada sedikitpun perbedaannya antara kita dan refleksi di cermin itu. Seluruh bagian dari tubuh kita terpantulkan dengan sempurna di cermin itu.
Ya. Hubungan dan ikatan kita sama seperti sebuah cermin.
Kau dan aku adalah orang yang bertolak belakang namun di saat yang sama kita juga memiliki beberapa kemiripan.
Kau dan aku berbeda, tetapi kita juga sama.
Bagiku, seperti itulah ikatan yang kita miliki.
Bagaimana menurutmu?
Hei, sahabat terbaikku..
GALAU BERKARYA
Some absurd things when ("gua emosi" in english):
Pengalaman baik dan buruk ada pada hampir semua makhluk yang bisa berpikir. Tumbuhan, hewan ataupun manusia. Tapi meski aku selalu berpikir kalau ada orang yang lebih menderita dariku, aku tetap merasa kesal ketika mendapat pengalaman buruk. Dan sebenarnya hukum yang paling berlaku adalah hukum rimba.
Yang kuat menang, yang lemah kalah.
Semut, nyamuk, laba-laba, kecoa dan sebagainya, dibunuh karena dianggap mengganggu, padahal mereka hanya menyambung hidup. Lebih parah lagi, hewan tak bersalah dibunuh untuk senang-senang. Padahal semua makhluk hidup itu bernyawa. Pernah membayangkan sedihnya semut ketika temannya dibunuh? Sedihnya ibu kucing ketika anaknya dibuang? Marahnya kelinci ketika tak diberi wortel? Tapi memang sistemnya begitu. Rantai makanan berlaku. Dan
Pengalaman dapat merubah perilaku. Seperti pada kucing. Kucing akan jinak ataupun liar tergantung dari pengalaman. Yang biasa ditendang, ditendang lagi, lalu disiram air panas, dan dilempar batu tentu akan menjadi ganas. Yang disayang, akan jinak. Manusia pun begitu. Disadari atau tidak, akan berubah berdasarkan setiap detik pengalaman yang dialami. Maka dengan pengalamanku sekarang, aku punya satu pertanyaan:
"Pengalaman, lu mau ngubah gua jadi apa sih?"Tapi tidak berhenti sampai sini.
Minggu, 13 April 2014
Unknown
Diatas langit gelap tertutup awan, bintang masih bersinar terang.
Seekor domba yang bertahta pada bulan tiga hingga empat, telah menyebarkan 3 kutukan.
Kutemukan tahun lalu.
Dua lelaki jatuh cinta, dulu ia suka.
Pernah tersesat dalam gua, cinta yang rahasia.
Teriakannya lucu, marah tak tau.
Seekor kucing lucu pun menyerang karena mabuk soda.
Cukup.
Kini setahun telah berlalu sejak tahun-tahun lalu sejak 16 tahun yang lalu.
Tunggulah clamu, seminggu.
Kamis, 10 April 2014
Festival Kutukan
Minggu, 06 April 2014
Lagi-Lagi
Engkau datang, lagi
Sesuatu yang tak pernah ku pinta
Yang menghadirkan harapan fana
Engkau datang, lagi
Tak pernah pagi secerah ini
Tak pernah malam selarut ini
Aku dimana? Aku dimana?
Engkau, engkau disini. Lagi
Seekor burung berlari
Tanpa daya, tanpa sayap
Mencoba terbang dengan luka
Luka yang melukiskan sebuah nama
Nama, nama itu lagi
Apakah dia menangis?
Ataukah dia tertawa?
Dia sungguh tak perduli
Dia menangis dalam tawa
Engkau datang, lagi
Nama, namamu lagi
Aku tak bisa lari lagi
Biar ku ukir nama itu
Nama yang hanya aku yang tahu
Namamu, Cinta
Sesuatu yang tak pernah ku pinta
Yang menghadirkan harapan fana
Engkau datang, lagi
Tak pernah pagi secerah ini
Tak pernah malam selarut ini
Aku dimana? Aku dimana?
Engkau, engkau disini. Lagi
Seekor burung berlari
Tanpa daya, tanpa sayap
Mencoba terbang dengan luka
Luka yang melukiskan sebuah nama
Nama, nama itu lagi
Apakah dia menangis?
Ataukah dia tertawa?
Dia sungguh tak perduli
Dia menangis dalam tawa
Engkau datang, lagi
Nama, namamu lagi
Aku tak bisa lari lagi
Biar ku ukir nama itu
Nama yang hanya aku yang tahu
Namamu, Cinta
Rabu, 02 April 2014
WE’RE FRIENDS, RIGHT? [Part I]
Rani
Tak
seperti biasanya. Hari ini berbeda sekali dengan hari sebelumnya. Tak ada bulan
yang bersinar dan bintang yang berkerlap-kerlip dengan indahnya. Suara jangkrik
pun mulai terdengar bersahutan tanpa rima. Sesekali kendaraan bermotor melewati
jalan beraspal dengan kecepatan rendah.