Pengalaman baik dan buruk ada pada hampir semua makhluk yang bisa berpikir. Tumbuhan, hewan ataupun manusia. Tapi meski aku selalu berpikir kalau ada orang yang lebih menderita dariku, aku tetap merasa kesal ketika mendapat pengalaman buruk. Dan sebenarnya hukum yang paling berlaku adalah hukum rimba.
Yang kuat menang, yang lemah kalah.
Semut, nyamuk, laba-laba, kecoa dan sebagainya, dibunuh karena dianggap mengganggu, padahal mereka hanya menyambung hidup. Lebih parah lagi, hewan tak bersalah dibunuh untuk senang-senang. Padahal semua makhluk hidup itu bernyawa. Pernah membayangkan sedihnya semut ketika temannya dibunuh? Sedihnya ibu kucing ketika anaknya dibuang? Marahnya kelinci ketika tak diberi wortel? Tapi memang sistemnya begitu. Rantai makanan berlaku. Dan
Pengalaman dapat merubah perilaku. Seperti pada kucing. Kucing akan jinak ataupun liar tergantung dari pengalaman. Yang biasa ditendang, ditendang lagi, lalu disiram air panas, dan dilempar batu tentu akan menjadi ganas. Yang disayang, akan jinak. Manusia pun begitu. Disadari atau tidak, akan berubah berdasarkan setiap detik pengalaman yang dialami. Maka dengan pengalamanku sekarang, aku punya satu pertanyaan:
"Pengalaman, lu mau ngubah gua jadi apa sih?"Tapi tidak berhenti sampai sini.
"Ah lebay lo. Baru kemalingan gitu aja udah jadi melankolis gitu." celetuk orang dalam diriku. Tapi tetap saja aku kesal. Dia hanya sebuah sisi baik dariku. Takkan mengalahkan yang lain. "Nih ya bro, masib banyak orang yang lebih menderita dari elu. Lu bersyukur lah udah dikasih banyak banget rezeki dari Allah. Mendingan lu ikhlasin aja biar hati lu tenang." lanjutnya.
Aku masih sedikit kesal. "Kalau saja tadi aku bangun, aku akan membunuhnya dengan palu di tasku." pikirku. Dan orang dalam diriku nyeletuk lagi, "Berarti bagus dong lu tidur. Jadi gak dosa." Dan aku pun setuju.
"Dia ngambil laptop, 2 HP, dan iPad keluarga gue. Dan yang paling penting, tas sekolah beserta nyawa gue!" pikirku sambil berlari mengambil motor untuk keliling mencari. "Jah segala nyawa. Bilang aja ke temen lu lu kemalingan. Pasti pada ngerti. Soal laptop dan lain-lain, lu bisa nabung buat beli yang lebih bagus kan? Ga usah emosi lah."
Aku berkeliling dan mencari. Kuhentikan semua orang yang kulihat. "Pak, ngeliat maling gak? Orang lari gitu ato motor ngebut." kataku. Meski ku tau ini takkan terlalu membantu. Orang dalam diriku nyeletuk lagi. "Sekalian aja tanyain, 'bapak malingnya bukan?'." "Berisik ah. Gua lagi usaha!" balasku. Tak kutemukan hasil. "Untung laptop sama HP gua masih ada gara-gara suara Lost Saga." pikirku.
Tadi setelah ibuku dan adikku bangun, kami berbicara sebentar. "Aku tadi tidur jam 4.20. Aku pindah ke kamar ibu jam 4 pas, terus main minecraft sampe jam 4.20." Kata adikku. Sedangkan aku bangun jam 4.25 karena alarm di HP-ku. Tak lama setelah bangun, aku mendengar suara bantingan yang setelah dicari tau asalnya, kutebak berasal dari buku Max Havelaar dan Almustafa yang kupinjam dari perpustakaan sekolah. Dari sinilah aku tau tasku hilang. Untungnya, Topi penginggalan almarhum om-ku, berkas pendaftaran program pertukaran pelajar, slayer PMR hasil pelantikan sabtu lalu, Buku Merah Putih dan buku putih PMR dikeluarkan. "Tuh bro, lu harus bersyukur banget loh." celetuk orang di dalam diriku, lagi.
Ini terjadi antara pukul 4.05 hingga 4.25. Maling tidak mengambil apa-apa dari kamarku atau ibuku. Tapi ia sempat membuka pintu kamar ibuku dan mengganjalnya dengan sebuah bantal dari ruang tamu. Ini bukan pertama kalinya kami kemalingan. Sudah beberapa kali aku menyumpahi maling agar mati dan masuk neraka, tapi berapa kalipun, aku akan selalu kesal. Dan orang dalam diriku akan selalu berkata, "Biarin bro, nanti pasti dibales. Lu kesel kayak gini juga ga akan ngerubah." Tapi tidak menurutku. Kalau aku menyumpahinya, hidupnya akan lebih sengsara, menurutku.
Kemarin aku baru saja mendapatkan pengalaman bagus. Pengalaman yang membuatku tak ingin lagi jadi deadliner. Yaitu, terlambat mengumpulkan berkas untuk program pertukaran pelajar. Pengalaman yang membuatku tak ingin jadi sok tau lagi. Karena salah mengartikan pengambilan PIN terakhir sebagai 7 hari sebelum pendaftaran terakhir, padahal adalah hari terakhir. Tapi untungnya, masih sempat mengantarkan berkasnya untuk distempel dan ditandatangan. Dan syukurnya, tak kebawa oleh maling.
"Semua maling yang pernah malingin rumah gua ga akan gua maafin, kalo dihisab gua bakal ngalangin. Dia ga boleh masuk surga! Kalo tobat harus minta maaf ke gua biar gua tau siapa yang ngambil. Udah! Sekedar tau aja." itu yang kumau. Tapi bibi berkata lain "Bim, kalo misalnya orang tobat terus Allah ngampunin mah apa daya. Allah kan maha pengampun." "Tapi kan dosanya masih terikat sama orang lain, bi. Kita punya dong hak buat ngalangin dia." "Ya kalo Allah mau ngampunin mah kamu bisa apa? Itu si fulan dari kampung alfa dulu jadi garong, sampe diseret-seret pake mobil trek gara-gara ilmunya tuh, tobat, terus mati ga tau dah kemana, tapi matinya gampang." "Lah dimaafin kali." "Ya kan malingnya udah ratusan kali, ya masa' dimaafin semua." "Ya bisa aja bi."
"Udah bro ga usah diungkit-ungkit lagi masalah ini. Lu kesel juga ga bakal ngerubah apa-apa. Semua kejadian pasti ada hikmahnya. Inget ayat yang pernah lu kasih tau ke gua. "Innama al-usri yusron". Kan lu yang baca apa makna dari ayat itu. Kan diajarin Pak Ali. Al-usri itu secara bahasa artinya satu kesusahan, sedangkan yusron itu banyak kebaikan. Jadi kebaikannya lebih banyak masbro."
Aku tau. Aku tau. Aku tau! Aku tau apa yang harus kulakukan. Memaafkan, mendoakan agar ia dapat hidayah, belajar lebih giat agar bisa dapat uang banyak nantinya, menyebarkan kebaikan, aku tau semua itu. Tapi aku tak mau memaafkannya. Emosi membutakan mata, mata hati juga.
Spekulasi pun bermunculan. "Jangan-jangan temen kamu yang biasa main kesini bim." "Jangan-jangan orang yang tadi mau kerja ke pabrik roti." "Jangan-jangan orang yang tadi bilang nganterin adeknya nungguin angkot 08." "Jangan-jangan Illuminati."....
"Sholat bim!" orang dalam diriku bicara lagi.
Setelah sholat, aku duduk di balkon lantai dua. Menghirup udara segar sambil minum kopi Good Day Cappuchino 3 warna. Kurenungkan lagi. "Lebih banyak orang yang jauh lebih menderita dari gue. Laptop dan sebagainya masih bisa dibeli lagi. Dunia masih belum berakhir. *nama-orang-di-dalam-diriku* juga bilang 'kalo lu ngedendam cuma bakal bikin elu badmood dan akhirnya begadang dan tidur doang kerjaannya.'. Aku bersyukur aku tadi tidur dan tidak mencoba membunuh orang. Karena you-know-what. Illuminati ga mungkin ngurusin orang kecil kayak gua. Dan kalo gua hidup terus, ini bakal cuma jadi sebagian kecil dalam hidup gua. Gua bakal lupa mungkin rasa kesel ini. Rencana Allah siapa tau."
Penyelesaian, aku akan lupakan, tapi tidak kumaafkan. Dengan begitu, aku tidak akan dendam lagi. Untuk sekarang, lupakan. Buka film dari Rajoo dan tonton sampai habis. Bersyukur atas segalanya.
Orang di dalam diriku adalah orang baik, yang membuatku ingin berterima kasih pada dunia karena telah mengirimnya ke dalam diriku. Dia kuberi nama. Namanya adalah orang yang pernah kulihat, dan pertama kali kulihat dalam suatu lingkungan. Dan aku bisa merubahnya semauku.
Semoga semua orang di dunia jadi orang baik.
Dan jawaban dari pertanyaan di akhir quote-ku adalah,
Kitalah yang menentukan bagaimana kita di masa depan. Pilihan selalu tersedia untuk segala usia.
Dan ini fiksi.
-Janai
Dan mohon maaf kalau ada salah.
1 comments:
Yep gue baca ini haha
Posting Komentar