Kamis, 25 Agustus 2016

SODRIEW 4


                Peran Awan di cerita ini sudah tidak perlu ditanyakan. Sudah jelas, sebagai seniman. Pertanyaannya adalah: seniman seperti apa? Karena sebenarnya, Awan tidak pernah menganggap dirinya seorang seniman. Ia hanyalah orang yang bosan, dan mudah bosan. Karena itu, dia menginginkan hal yang bisa membuatnya tertarik. Selalu begitu. Bedanya dengan Arief, yang suatu saat akan kuperkenalkan (dan benar-benar ingin kuperkenalkan), ia hanya menunggu. Dan ketika ia temukan, sebuah timer menyala. Dimana saat timernya berakhir, ia akan kembali bosan.
Minggu, 21 Agustus 2016

Apa Ini




           “kalau ini hanyalah mimpi... tolong bangunkan aku.... siapapun...”

          Rintihan seseorang itu berhasil menyadarkan Dilan dari lamunannya. Ia berlari menuju sumber suara yang tak jauh dari tempatnya berdiri tadi. Berharap ada seseorang yang bisa ia andalkan disituasi seperti ini. Pemandangan tempat itu tak jauh berbeda dari tempat pertama kali ia membuka matanya tadi. Gedung-gedung banyak yang hancur, kabut debu yang menghalang pandangan mata, mobil-mobil yang terbalik dan hancur tertimpa papan reklame, serta manusia yang bergeletakan di jalan tak bernyawa. Dilan kembali mendengar rintihan itu lebih kencang dan langsung berbelok melewati truk besar yang sudah terguling di depannya. Dibalik truk besar itu ia  melihat seorang remaja laki-laki seusianya tertindih sisa-sisa bangunan yang runtuh. Dari dada hingga kepalanya selamat, tapi sisanya, ia tak tau lagi. Remaja laki-laki itu berkali-kali merintih kesakitan. Dari wajahnya yang penuh darah dan debu itu terlihat bekas air mata yang telah mengering. Entah sudah berapa lama remaja laki-laki itu terperangkap disana. Dilan tak sanggup melihatnya, ia pun berlari meninggalkan remaja laki-laki itu sendirian.

Senin, 15 Agustus 2016

Jawaban Untuk Farhan (17)




“aku masih ingat dengan jelas kenangan yang kita buat bersama 20 tahun yang lalu. Duh rasanya jadi ingin tertawa.” Kataku sambil menahan tawa.

“ah mas Farhan!” seru Bunga padaku. “bagiku itu adalah salah satu kenangan termanis yang pernah terjadi dalam hidupku, jadi tolong jangan ditertawakan.”

“masa sih? Kan masih banyak yang lebih manis saat kita masih muda dulu.”

Wajah Bunga langsung memerah karena mengingat kembali masa mudanya. Ia langsung minum es kopi untuk menutupi pipinya yang sudah semerah tomat itu. Bahkan dengan kerutan-kerutan yang mulai muncul di wajahnya itu, dia tetap terlihat manis kalau sedang malu-malu begitu. Sejak dulu, wanita cantik berambut panjang yang ada di depanku ini kalau malu wajahnya memang langsung memerah. Kulitnya yang begitu putih bersih tak bisa menutupi rasa malunya itu. Dan hal itu adalah salah satu alasan kenapa aku bisa jatuh cinta padanya.

Hubungi kami :

Twitter : @APAksara

Email : apaksara3@gmail.com

HP : 085773226995

Instagram: kapas3.aksara

Twitter

Translator