Peran Awan di cerita ini sudah
tidak perlu ditanyakan. Sudah jelas, sebagai seniman. Pertanyaannya adalah:
seniman seperti apa? Karena sebenarnya, Awan tidak pernah menganggap dirinya
seorang seniman. Ia hanyalah orang yang bosan, dan mudah bosan. Karena itu, dia
menginginkan hal yang bisa membuatnya tertarik. Selalu begitu. Bedanya dengan
Arief, yang suatu saat akan kuperkenalkan (dan benar-benar ingin kuperkenalkan),
ia hanya menunggu. Dan ketika ia temukan, sebuah timer menyala. Dimana saat
timernya berakhir, ia akan kembali bosan.
Minggu, 21 Agustus 2016
Apa Ini
“kalau ini hanyalah mimpi... tolong bangunkan aku.... siapapun...”
Rintihan seseorang itu berhasil
menyadarkan Dilan dari lamunannya. Ia berlari menuju sumber suara yang tak jauh
dari tempatnya berdiri tadi. Berharap ada seseorang yang bisa ia andalkan
disituasi seperti ini. Pemandangan tempat itu tak jauh berbeda dari tempat pertama
kali ia membuka matanya tadi. Gedung-gedung banyak yang hancur, kabut debu yang
menghalang pandangan mata, mobil-mobil yang terbalik dan hancur tertimpa papan
reklame, serta manusia yang bergeletakan di jalan tak bernyawa. Dilan kembali
mendengar rintihan itu lebih kencang dan langsung berbelok melewati truk besar
yang sudah terguling di depannya. Dibalik truk besar itu ia melihat seorang remaja laki-laki seusianya
tertindih sisa-sisa bangunan yang runtuh. Dari dada hingga kepalanya selamat,
tapi sisanya, ia tak tau lagi. Remaja laki-laki itu berkali-kali merintih
kesakitan. Dari wajahnya yang penuh darah dan debu itu terlihat bekas air mata
yang telah mengering. Entah sudah berapa lama remaja laki-laki itu terperangkap
disana. Dilan tak sanggup melihatnya, ia pun berlari meninggalkan remaja
laki-laki itu sendirian.
Senin, 15 Agustus 2016
Jawaban Untuk Farhan (17)
“aku masih ingat dengan jelas kenangan yang kita buat
bersama 20 tahun yang lalu. Duh rasanya jadi ingin tertawa.” Kataku sambil
menahan tawa.
“ah mas Farhan!” seru Bunga padaku. “bagiku itu adalah
salah satu kenangan termanis yang pernah terjadi dalam hidupku, jadi tolong
jangan ditertawakan.”
“masa sih? Kan masih banyak yang lebih manis saat kita
masih muda dulu.”
Wajah Bunga langsung memerah karena mengingat kembali
masa mudanya. Ia langsung minum es kopi untuk menutupi pipinya yang sudah
semerah tomat itu. Bahkan dengan kerutan-kerutan yang mulai muncul di wajahnya
itu, dia tetap terlihat manis kalau sedang malu-malu begitu. Sejak dulu, wanita
cantik berambut panjang yang ada di depanku ini kalau malu wajahnya memang langsung
memerah. Kulitnya yang begitu putih bersih tak bisa menutupi rasa malunya itu.
Dan hal itu adalah salah satu alasan kenapa aku bisa jatuh cinta padanya.