"Kalau aku maunya seperti ini, bagaimana?"
"Apa tidak bisa dipikirkan lagi? Aku tidak bisa seperti ini."
"Aku pun tidak bisa seperti itu. Jika harus begitu, yasudah."
Hari yang indah. Seindah Tyfa menjalaninya setiap saat. Melihat, tersenyum, entahlah. Hidup terasa begitu bahagia. Meskipun sering kali tak sebahagia yang diinginkan. Tapi hidup ini memang indah. Dan bahagia. Batinnya terus menguatkan.
Nura, Sande, Farah, Dio, dan yang lainnya. Teman-teman dengan segala karakter yang menurutnya cukup langka untuk beberapa manusia. Sama hal dengan dirinya. Bersama menjadi berbeda. Mungkin itu pendapat orang lain melihat mereka. Sebisa mungkin tak ingin berbeda menjadi sebuah hal yang aneh. Tapi sudah menjadi aneh.
Tyfa mungkin orang baik, atau juga tidak. Tapi ia ingin menjadi baik, sesuai apa yang diyakininya. Kebahagiaan dari keindahan yang ia rasakan kadang tak sepenuhnya. Pikirannya seperti pergi menjauh, sangat jauh ke depan. Kadang juga kembali, terus kembali ke belakang. Alhasil bingung dan aneh. Ia tidak mendapatkan apa yang diinginkan, bahkan sebenarnya ia tidak tau keinginannya. Tyfa hanya ingin bahagia, kembali bahagia merasakan keindahan yang didapatinya. Tapi saat ini, bukan saat untuk ia merasakan dan mendapatkannya.
Tidak ada yang salah, tidak ada yang bisa disalahkan. Semua terjadi begitu saja, tanpa sebab atau tanpa tujuan. Membencinya, hanya menjadi hal yang sangat tidak mungkin. Tyfa selalu sadar, apa pun yang ia rasakan kemarin, kini, atau besok, semua adalah keindahan. Meskipun rasanya tidak bahagia, tapi itu bukan berarti tidak indah. Inilah keindahan yang langka. Karena keindahan ini tidak bisa membuatnya bahagia.
"Sekarang pergi saja. Itu lebih baik. Tapi aku tidak bisa pergi, tapi tidak juga bisa kembali." Curhatan kecil yang menjadi sering sejak Farah menanyakan rahasianya seminggu lalu. "Terlalu complicated sih, Fa. Sama-sama tau, tapi jadinya gini. Menurut aku, ya keputusanmu benar, dan kuatlah menjalaninya." Farah tau temannya ini sedang bingung, ia saja sering bingung dibuatnya.
Sepi. Terlalu sepi sehingga terkadang berubah ramai dengan sendirinya. "Perjanjiannya gak gini kan." Tyfa kesal, tapi sedikit senang. "Biasa dalam arti yang salah tuh, Fa." Nura tau, dan ia mendukungnya. "Aku tau ini salah. Tapi aku hanya ingin biasa, Ra. Tolong bantu bilangnya." Dibalas dengan anggukkan santai Nura. "Btw Ra. Kemarin Dio aneh seaneh-anehnya. Lebay banget aku. Tapi itu buat aku bahagia. Aku sayang Dio. Dan akhirnya Dio bisa lebih terbuka." Curhat Tyfa semangat, dan Nura hanya bingung mendengarnya. "Tapi sayangnya itu beda, Ra. Aku sayang Dio karena Dio itu berbeda. Ah yang pasti aku bahagia. Keanehan yang ada selama ini udah jadi keindahan."
Memikirkan semuanya tidak membuahkan solusi. Hanya mendapatkan kebingungan dengan berbagai kekesalan. Tidak ingin ada rasa benci, tidak ingin ada rasa sakit (walau memang sakit). Biasa saja, hanya itu yang menjadi keinginan terbesar saat ini. Tapi jalan pikiran memang tak sama. Di satu pihak yang seperti ini tidak dapat diterima, di pihak lain yang seperti itu tidak dapat diterima. Apalah hidup kalau tidak merasa hidup.
Coba lihat Farah, ia adalah orang yang santai dengan dunianya. Ia merasa cukup dengan apa yang didapatinya. Begitu simple, tidak seperti Tyfa dengan segala kerumitannya. Farah itu salah satu orang yang dekat dengan Sande. Mereka sering tukar pikiran bersama. Sande merasa pikirannya dapat lebih baik jika bercerita dengan Farah. Tapi sering kali, alih-alih mendapat hasil baik. Yang ada pertengkaran aneh di sebuah chatting.
F: Lo jangan gitu dong.
S: Gitu gimana sih? Gue cuma ngelakuin apa yang diminta, bener kan.
F: Bener gimana kalo lo kayak gitu? Serius dikit kek jadi orang. Sekarang lo main-main banget.
S: Gue gak main-main, gue beneran saat ini.
F: Iya saat ini, nantinya engga.
S: Terus gue harus gimana? Yang gue rasain ini, yang gue butuhin juga ini.
F: Kalo emang gitu, lo egois. Mending cari yang bisa sama kayak pikiran lo, bukan yang perasaannya sama kayak lo. Perasaan itu beda sama pikiran. Perasaan gak bisa dimengerti dengan pikiran kayak lo.
Farah hanya bisa menahan geram dengan Sande. Semua dianggap mudah, padahal tak semudah anggapan itu. Kadang rasa geram ini berubah menjadi kasihan, jika Sande meminta Farah mendengar keluhan panjang yang dirasakannya.
Kamis pagi Dio menemui Nura. Menanyakan hal yang diluar akal. Semua orang tau dio terkenal 'berbeda' dalam artian aneh. Tapi Dio cerdas dengan perbedaannya itu. Dio lah yang menjadi penghibur karena setiap keseriusan dapat cair dengan pikirannya. Parasnya juga tidak bisa direndahkan, siapa pun pasti setuju. Dio lalu menemui Sande yang memang sekelas dengan Nura. Sande yang sejenis dengannya terkadang juga bingung tidak mengerti. Sama seperti saat ini. "Hey San, gua punya project nih. Ikut yok! Gua mau diskusi sama lo." Sande ikut saja dengan ajakkan Dio. Pikiran suntuknya memang butuh penyegaran.
Kalau cinta itu bahagia, kenapa sering jadi tangisan? Apa itu tangis bahagia? Atau itu bukan cinta yang sebenarnya?
Mungkin itu salah orang yang merasakannya. Cinta pasti bahagia. Jika ada yang tidak sesuai maka itu hasilnya galau. Bukan salah cintanya.
Benar. Tapi sering kali cinta membuat galau. Kalau malah merugikan, kenapa harus ada cinta?
Karena cinta yang tepat akan memberikan kebahagiaan yang lebih.
"Wih diskusi hebat. Sorry ya, gua dengerin ini daritadi. San harusnya lo udah sadar dengan diskusi ini." Nura tiba-tiba datang memhampiri keduanya. Sial, Nura benar. Semua ini benar. "Gua baru sadar sekarang. Dio thanks banget. Gua yang terlalu egois selama ini." Sande langsung berlari pergi, entah kemana.
Seminggu kemudian di tempat yang selalu sama. Seperti hari-hari lainnya, di bawah pohon dekat kantin lah mereka bertemu dan berbincang. "Padahal gua gak ngapa-ngapain loh. Tapi gua seneng bisa bantu orang. Ohiya nih buat lo." Dio bercerita puas, hadiah segelas es teh manis menjadi penghangat suasanya. "Akhirnya dapet sesuatu juga dari kamu. Berarti jangan salahkan cinta atas apa pun. Hidup itu indah dan bahagia." Tersenyum. "Cinta memang tidak bisa disalahkan. Cara kita yang salah dalam memandang cinta adalah sebabnya. Jadi, semuanya udah biasa kan?" Hanya tertawa, bersama, bahagia.
Ramai seperti biasa di kelas ini. Berantakan, bercanda, tapi ada juga yang tertidur. "Ra, lo bangun kan? Gue mau minta tolong bilangin, gue akan lakuin apa yang harus gue lakuin, begitu juga sebaliknya. Gue sayang dia." Nura hanya terdiam bingung. Sangat lucu menurutnya semua kalimat itu. "Apa itu benar Sande? Akhirnya pikirannya bisa menerima perasaannya." Nura kembali menyandarkan kepalanya pada dinding sekaligus memejamkan kedua matanya. Damai.
-Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia adalah kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan- Ali & Fatimah.
Ia tidak menantiku. Kesempatan dengan keberanian itu masih terlalu jauh untuk dinanti. Mempersilakanmu saat ini hanyalah pengorbanan kecil dariku untuk menyambut cinta yang tepat saat nanti.
0 comments:
Posting Komentar