Sabtu, 21 Februari 2015

Kata-kata


Dia hanya perempuan biasa, yang memiliki hidup biasa, dengan hati dan perasaan biasa. Dia sadar dirinya tak layak untuk kembali merasa. Dia bahkan tak ingin dirinya menjadi sama seperti yang lain. Dia hanya tau bahwa yang dia harus lakukan adalah ini. Tidak harus sama, menyerupai, atau mirip. Jika hanya sebatas tau aku begini dan kamu begitu, sudah cukup.

Berharap adalah hidupnya, tapi hidupnya bukanlah sebuah harapan. Lebih sulit dari bayangan. Tak semudah dengan pikiran. Bahaya itu yang dinamakan rasa. Yang tak pernah salah, tapi selalu disalahkan atas apa yang ia keluhkan. Merasa itu baik, tapi lebih baik tidak. Jadi tidak perlu ada rasa bukan?

Ini tahun keduanya di SMA, di masa terindah, terkacau, terbaik semasa SMA. Berjuang untuk tetap menjadi dirinya yang ingin sesuai dengan ajaran agamanya. Bukan hal yang mudah, bahkan bisa dikatakan sangat sulit. Keinginan tak selalu yang terbaik. Ikhlaslah untuk mencapai yang terbaik. Dirinya yang sangat ingin menjadi yang lebih baik. Bukan berarti ia tak sakit. Bukan berarti ia tak lelah. Sakit dan lelah, itu resiko yang ditanggungnya. Tapi memang ini pilihannya.

"Aku hanya ingin tenang, ingin menjalani apa yang harus aku jalani, ingin menjadi apa yang seharusnya aku jadikan. Tidak bisakah aku melakukannya hanya karena tertahan rasa yang tak pernah bisa disalahkan? Lalu aku harus apa?"

Yang dia tau hanya itu. Teman dan sahabat, serta keluarga sebagai penyemangat dan pemotivasi baginya. Sampai kapan dia bisa bertahan? Bertahan atas apa yang ia rasa. Semua menjadi sangat rumit bila dipikir. Tak bermula dan tak berujung. Lalu ia berpikir.

Don't think too much, just do it!

Lepaskan saja, bukan salahmu bukan juga salahku. Tak ada yang salah. Hanya saja ini menjadi semakin rumit. Bebaskan saja, itu hak mu. Itu juga hak ku. Kami punya hak. Tapi hak ini tak pernah kami inginkan atas alasan yang tak bisa dijelaskan, atas keinginan yang tak pernah diharapkan. Lalu kami harus apa?

Semakin aneh, semua kerumitan yang terjadi membuat ini semakin tidak jelas. Mungkin ini yang terakhir, dengan berjanji untuk melupakan apa yang sudah terjadi. Apa dia bisa? Perempuan itu hanya tertunduk dan melakukan apa yang harus ia lakukan. Bukan tanpa alasan khusus, ia hanya ingin dirinya yang merasa. Ia tak ingin membuat orang lain merasa atas dirinya. Karenanya dia harus bisa.

Masa depan. Kini hanya masa depan. Masa dimana ia sendiri tak pernah memikirkannya secara benar. Apa ia begitu takut? Atau ia tak peduli dengan hal yang belum terjadi itu? Terlalu banyak kepura-puraan yang ia jalani. Ini tidak baik baginya, hidupnya, dan masa depannya. Jujur pun tak membawa hasil. Belum ia temukan orang yang sepemikiran dengannya. Sepaham dengan pendapatnya. Jadi, dia hanya bisa berharap siapa pun itu, dia lah yang benar mengerti dirinya, menerima benar bagaimana dirinya. Itu cukup.

Tak perlu sulit memikirkan. Waktunya pun akan datang dengan sendirinya. Segala hal yang mungkin pernah atau tak pernah dibayangkan sebelumnya. Dia akan menunggu walau dia benci menunggu, dan dia percaya walau sulit baginya untuk percaya. Maka kuatkan dirinya, aamiin..

0 comments:

Posting Komentar

Hubungi kami :

Twitter : @APAksara

Email : apaksara3@gmail.com

HP : 085773226995

Instagram: kapas3.aksara

Twitter

Translator