Cerita ini hampir sebuah fiksi. Enjoy! :D Cerbung pertama nih! Diusahakan sebulan sekali keluarnya. Setiap tanggal 1. Comment, and don't hate! -Wana
Sabtu itu, mereka berkumpul lagi. Mengobrol lagi. Bercanda lagi. Ini sudah menjadi kebiasaan bagi mereka. Tanpa kumpul seperti ini selalu terasa ada yang kurang. Karena ketika mereka berkumpul, mereka merasakan sesuatu yang lebih. Sarah yang selalu jalan-jalan, Arief yang sedang bekerja, dan Awan yang jarang meninggalkan kamarnya pun datang. Mengorbankan waktunya, untuk bertemu Arsa yang tak pernah kembali.
--
“Aku
sering berpikir kalau dunia itu aneh. Yah, kita adalah salah satu buktinya,
tapi tanpa kita, dunia tetap aneh.” Arief memperbaiki posisi duduknya.
Mengunyah lolipop di mulutnya beberapa kali sebelum melanjutkan bicaranya. Kali
ini topiknya agak berat. “Aku tau ini subjektif, tetapi menurutku banyak sekali
hal yang secara logika tidak aneh, tapi terjadi. Kalian tau paradoks, ‘kan?
Kita akan sedikit menyinggung itu.” Arief mengatakannya sambil saling menatap
dengan Awan dan Sarah. Mereka adalah sahabat. Sudah biasa bagi mereka berkumpul
di kafe ini bicara tentang hal yang tak biasa dibicarakan. Mereka terikat
karena satu kemiripan, yaitu: “pernah terluka”. Dan karena luka itu, mereka
berubah menjadi orang yang berbeda. Berbeda dari orang rata-rata, maupun diri
mereka sebelumnya.
“Aku
punya beberapa pertanyaan. Apa kalian merasa hidup? Lalu, apa kalian percaya
adanya takdir? Apa kalian percaya hal gaib?” tanya Arief. Ia memberikan waktu
untuk berpikir sejenak. Tapi tanpa memberikan kesempatan menjawab, ia bicara
lagi. “Aku sebenarnya tidak terlalu penasaran dengan jawaban kalian. Karena
pertanyaan seperti ini selalu subjektif, tidak ada menariknya meskipun ditanya
kepada orang terpintar di dunia. Tapi menurutku, kalau jawabannya antara ya
atau tidak, aku akan memilih keduanya.” Lalu Arief mengunyah permennya lagi.
Sarah dan Awan terlihat memperhatikan dengan seksama. Sesekali Awan menyeruput
kopinya. Sarah yang tidak suka kopi, juga sesekali meminum kopi. Kata Awan,
sih, solidaritas. “Menurutku, di setiap apapun yang terjadi, selalu ada dua
sisi. Apakah kita hidup? Ya, sekaligus tidak. Ya karena pada faktanya, aku
bergerak, berpikir, dan bahkan berinteraksi dengan banyak orang. Tapi akan
selalu ada orang melankolis” Arief melirik pada Awan. “yang akan bilang kalau
kita tidak hidup. Karena apa? Kita tidak bebas. Kita terikat dengan
aturan-aturan yang sudah ada. Kita seolah digerakkan. Sampai sini semua
mengerti?” Sarah dan Awan mengangguk.
“Lalu
untuk pertanyaanku selanjutnya, takdir. Disini juga ada dua sisi. Aku percaya
adanya sesuatu yang mengatur segalanya agar tetap sesuai dengan jalur, tapi di
sisi lain, aku percaya bahwa kita menentukan jalan kita sendiri. Sebenarnya
membicarakan soal ini, aku agak teringat dengan Arsa, tapi biarlah.” Mereka
terkekeh. “Lanjut. Begini, coba pikirkan. Kita setiap hari bergerak dan membuat
pilihan. Pilihan kita berpengaruh terhadap apa yang terjadi. Tapi apa kita bisa
yakin, bahwa itu adalah ‘pilihan kita’?” Lagi, Arief memberikan waktu untuk
berpikir. Ia sendiri sedang menyusun kata-kata yang akan ia ucapkan
selanjutnya. Ia ingin membuat Sarah terus tersenyum penasaran.
“Aku pernah bertemu dengan
seorang melankolis yang, merasa kalau dia tidak hidup. Kenapa? Karena ia
berpikir kalau semua yang ia lakukan sudah ditakdirkan, oleh karena itu,
percuma ia berusaha.” Kini mata Arief melirik ke arah jam yang menunjukkan
pukul 2.55 siang. Kalau dalam 5 menit Arsa tidak datang, mereka akan pulang.
“Tapi aku tidak setuju! Gila saja kalau kita sebenarnya dikendalikan. Lebih
baik aku bunuh diri.” Nada bicara Arief semangat. Ia senang membicarakan ini.
“Nah, Wan. Disinilah pentingnya ‘kepercayaan’. Mungkin kebenarannya memang
tidak pasti. Tapi ini sangat membantu dalam memilih apa yang akan kita lakukan.
Dan tentunya, apa yang akan kita dapatkan.” Arief dan Awan kini bertatapan.
“Aku tau Wan. Pasti kamu berpikir kalau kelakuan seperti ini adalah penipuan.
Membohongi diri sendiri. Atau kalau kamu, bisa jadi berpikir kalau ini adalah
pemaksaan. Tapi menurutku, seringkali manusia memang butuh paksaan. Karena kamu
sendiri yang bilang, ‘Manusia itu bodoh dan tidak bisa bergerak tanpa tekanan.
Tapi tetap mengeluh jika tertekan.’” Awan tersenyum agak sinis. Sepertinya
sedikit tersinggung. Ia tau kalau yang Arief sebenarnya agak kasar. “Aku juga bodoh. Aku melakukan persis
seperti apa yang kukatakan. Aku tidak mau percaya pada apa yang kupercaya. Itu
maksudmu ‘kan, Rief?” pikirnya. “Sampai sini aku setuju. Lalu pertanyaan
ketiga? Diantara kita, cuma kamu yang materialis. Kamu tidak percaya hal gaib ‘kan?”
“Sebentar.” Ujar Arief. Ia
membuka plastik yang menutupi lolipopnya. “Mau lolipop?” Tanya Arief. “Mau,
dong Rief! Kalau boleh, sih.” Jawab Sarah sambil tersenyum.
Dan agar kalian tak salah
membayangkan, Sarah adalah perempuan berbadan kecil yang cantik. Cantik yang
bukan untuk permodelan, tapi untuk dipandang dan dipeluk sebagai adik. Sarah
imut dan lucu. Bahkan bagi orang-orang menganggapnya freak. Ia selalu terlihat
penasaran dan selalu memuaskan rasa penasarannya. Karena itu, ia sering
terlihat bahagia. Tapi sebenarnya, ia juga punya ‘luka’. Katanya, ia jadi freak
karena itu.
“Dengan
berat hati. Lolipop terakhirku aku berikan.” Ujar Arief. Sarah sangat senang
menerimanya dan Awan pun tersenyum. Tapi sebenarnya, sedari tadi, mereka
terus-terusan melirik jam dinding kafe itu. Melihat jarum jam berputar konstan
berkeliling diatas pintu masuk kafe. Pintu yang sama yang mereka masuki saat
Arsa pertama kali membawa mereka kesana. “Sepertinya Arsa tidak datang. Sudah
jam 3. Sudah satu jam juga kita disini. Kita sudahi saja?” tanya Awan. “Oke.
Aku juga harus kembali ke kantor. Oiya, untuk pertanyaan ketiga, aku memang
tidak percaya hal gaib, tapi kita semua sama-sama mengenal makhluk gaib yang
merubah kita semua ‘kan?” Mereka terkekeh. Sarah menanggapi. “Tapi kok makhluk
gaib bisa dibanting Rief? Waktu itu tiga kali, ’kan?” kata Sarah. “Itu…
Valentine tahun kemarin ya? Setelah itu Arsa tidak pernah muncul lagi ‘kan?”
Mereka tertawa. “Katanya Valentine tahun ini dia mau kembali, ‘kan? Sebentar
lagi, dong?” ujar Sarah. “Ya. Minggu
depan. Mungkin Valentine tahun ini aku akan membantingnya 4 kali. Dan untuk
sekarang, kita tutup dulu kumpul-kumpul kita, dengan berdoa sesuai kepercayaan
masing-masing.” Kata Arief. “Jika punya, tentunya.” Tambahnya sambil tersenyum
menyindir ke arah Awan. “Mulai.” Dan mereka pun menundukkan kepala
masing-masing.
--
Setelah
berpisah dari kafe itu, mereka pergi dengan tujuan masing-masing yang berbeda.
Sarah, ingin berkeliling kota dan mencari tempat dan pemandangan baru untuk
difoto. Awan, kembali ke kamar tempat ia berkarya. Menulis, melukis, bermusik,
dan sebagainya. Arief sudah bilang kalau dia ingin kembali ke kantornya. Ia
seorang peneliti. Dan pada masa mereka satu tim yang seolah dipimpin Arsa,
Arief seperti wakil sekaligus penasihat.
Sejak
Valentine tahun lalu, mereka berpisah dan mencari jalan sendiri-sendiri. Tapi
beberapa bulan setelah mereka berpisah, mereka sadar kalau mereka sudah terikat
terlalu kuat. Akhirnya Sarah menjadi orang yang pertama kali menyatakan
perasaannya. Mereka pun reuni di kafe kesayangan mereka. Lama-lama reuni mereka
menjadi acara rutin. Dan disana, mereka rutin menunggu Arsa yang secara rutin,
tak pernah datang.
--
Flashback
sebentar. Dulu, sebelum mereka saling kenal, mereka adalah ahli di bidang mereka
masing-masing. Dan tentu saja, yang ada di puncak berdiri sendiri. Mereka
terkenal sebagai penyendiri di masa SMA. Sarah, sebagai freak. Awan, sebagai
seniman. Dan Arief, sebagai jenius. Mereka sama-sama tau nama masing-masing,
tetapi mereka belum kenal satu dengan yang lain. Arief adalah orang yang dulu selalu
mewakili sekolahnya untuk lomba-lomba akademik. Dan selalu mewakili seluruh siswa
untuk membawa piala dari sana. Tapi dia terkenal pendiam. Hanya bicara ketika
bertanya dan menjawab. Di kelas, dia aktif hanya dalam pelajaran. Dalam
sosialisasi, dia bodoh. Sarah sebaliknya. Ia tak pernah kesulitan
berkomunikasi. Ia bagaikan bunglon yang bisa mengikuti lingkungan sekitarnya.
Dan ia bisa mengikuti semua lingkungan itu tentu saja karena ia cerdas. Ia tau
kapan harus bertindak. Tapi semua orang yang mengenalnya tau kalau mereka tidak
bisa “dekat” dengannya. Ia terlalu berbeda. Dan Awan juga berbeda. Sebagai
seniman, ia terkenal. Gambar-gambarnya dibicarakan, dan tulisannya dibacakan.
Seni adalah jati dirinya. Dan sebagai seniman, ia tak punya banyak teman.
Pembicaraannya tidak pernah klise. Karena itu ia tak cocok bicara dengan orang
biasa.
Begitulah
hidup mereka selama di SMA. Terkenal, tapi tak dikenali hanya karena mereka
“dianggap” berbeda. Mereka menyadari itu dan memilih untuk tetap seperti itu.
Alasannya? Cuma mereka, Tuhan, dan Arsa yang tau.
Arsa
adalah keanehan lainnya. Tapi hanya orang-orang aneh yang bisa tau kalau Arsa
itu aneh. Orang yang tidak biasa bisa mengetahui sesama jenisnya. Memperhatikan
kebiasaan dan ketidakbiasaan. Arsa memang terlihat dan bertindak normal, tapi
ada satu hal yang membedakannya. Ia tidak
punya perasaan. Bukan dalam artian dia itu pembunuh berdarah dingin. Hanya
saja, ia tidak punya tujuan ataupun keinginan. Tak pernah cinta maupun benci,
juga tak pernah semangat maupun bosan. Hidupnya hanya mengikuti alur yang ia
ciptakan tanpa sengaja. Yang tanpa sengaja juga, ia lewati dengan senyum di
wajahnya
Arsa
adalah orang hilang yang tidak tau kalau ia hilang. Orang yang mencari tanpa
tau ia mencari. Tersesat dalam petualangan yang tak ia buat. Tapi karena ini,
ia bisa menaklukkan orang-orang tidak biasa. Karena ia menganggapnya biasa
saja.
--
Arsa
bertemu dengan Sarah karena sifat Sarah yang ramah. Sarah ikut banyak ekskul dan
punya banyak teman. Wajar saja kalau salah satu temannya adalah teman sekelas Arsa.
Sarah yang pertama kali mengajak berkenalan. Awalnya sederhana. Sarah punya
kebiasaan mencari teman, dan kebetulan Arsa ada disana. Lalu karena satu alasan
atau lebih, teman mereka pergi, dan mereka pun mengobrol.
“Nama
kamu siapa?” Tanya Sarah, ramah.
“Arsa.” Jawab Arsa. “Kamu yang
namanya Sarah, ‘kan ya?” ia bertanya balik.
“Ih kok kamu tau?” Tanya Sarah
penasaran.
“Kamu kan terkenal.” Jawabnya
sambil tersenyum.
“Terkenal aneh, ya?” Tanya Sarah,
sambil tersenyum dan memasang tampang sedih. Lalu tiba-tiba tertawa kecil:
“Hehe.”
“Yap. Katanya kamu aneh. Tapi
kayaknya enggak terlalu, ah.” Kata Arsa. “Tapi kabar yang satunya lagi enggak
salah, sih.” Tambahnya lagi. Kini ia menatap wajah sarah yang menunggu
lanjutannya. “Kamu terkenal cantik dan ramah.” Katanya lagi sambil tersenyum
seolah menggoda. Dan sebenarnya, Sarah pun tersipu.
“Aku nggak percaya, ah.” Kata
Sarah malu-malu.
“Mau aku kasih bukti?” Arsa
tersenyum.
“Tadi nama kamu siapa? Arsa, ya?
Kok aku baru kenal, sih sama kamu? Kamu nggak ikut ekskul ya?” tanya Sarah
dengan semangat. Mungkin sebenarnya banyak orang yang berpikiran sama dengan
Arsa. Tapi sepertinya ini pertama kalinya Sarah mendengar kata-kata itu sejak
ia kelas 8. Ini bukan sesuatu yang ia rencanakan. Karena itu, ia terkejut.
“Yap.” Arsa mengiyakan. “Katanya
kamu ikut hampir semua ekskul ya? Keren.” Katanya lagi.
“Hehe.”
“Sarah, ini bukunya. Jangan lupa,
ya?” teman mereka kembali.
“Oh iya. Makasih yaa.” Kata
Sarah. “Yaudah aku pergi dulu, ya? CYA.” Dan dengan lambaian tangan yang
singkat dan senyum yang manis, Sarah pergi. Membawa rasa penasaran terhadap
Arsa. Sarah sudah sering diajak bicara dan bercanda dengan anak laki-laki, dan
Sarah selalu bisa menyelesaikannya tanpa ada perasaan khusus. Selalu tanpa
membuat laki-laki itu tidak terlalu suka dalam artian percintaan, tapi tidak
benci padanya. Hanya saja kali itu, ia menyisakan perasaan. Bukan untuk Arsa,
tapi untuknya. Karena seperti yang kubilang,
orang yang tidak biasa bisa mengetahui sesama jenisnya.
Di sisi lain, Arsa tidak
merasakan apa-apa. Ia, tanpa ia sadari, menganggap kalau kejadian itu tidak
berkesan. Atau setidaknya, kurang berkesan. Ia pun mengabaikannya. Lagi-lagi
tanpa ia sadari.
Setelah itu, pertemuan-pertemuan
antara mereka terjadi lagi. Dan seringnya, secara tidak sengaja. Sarah dan Arsa
tidak mempunyai hubungan dalam hal apapun, dan keduanya tidak membuatnya
seperti itu. Arsa memang tidak tau apa yang mau ia lakukan. Sedangkan Sarah,
memang sengaja menjaga jarak. Pertemuan-pertemuan mereka juga biasanya tidak
terdapat dialog panjang. Hanya kalimat sapaan, satu kalimat cerdas, dan
senyuman. Tapi dari kumpulan kalimat cerdas itu, mereka tau: mereka cocok.
Karena itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Sarah meminta nomor
handphone anak laki-laki. Dan agar tetap rahasia, ia memintanya langsung ke
Arsa. Menghentikannya di tengah perjalanan menuju ke kantin.
“Arsaa!” sapa Sarah dengan
semangat. Sapaan yang ia berikan ke semua orang. “Aku minta nomor handphone
kamu, dong!” pintanya tanpa ragu.
“Buat apa? Boleh, sih.”
“Yaa.. Mungkin nanti berguna?
Kalau enggak, kita ‘kan bisa ngobrol.” Sarah tidak mau bilang kalau ia
penasaran kepada Arsa. Juga tidak mau bilang kalau ia merasa mereka cocok.
“Hee. Boleh, deh. Kayaknya nanti
aku juga perlu nomor kamu. Kita tukeran, nih, ya?” jawab Arsa. “Nomornya aku
sebut aja, nih?” tanya Arsa.
“Jangan, deh. Kamu ketik aja
sendiri di handphone aku.” Kata Sarah sambil menyodorkan handphonenya. “Efektif
dan efisien. Ayey.” Katanya lagi.
“Ayey?” tanya Arsa sambil
mengambil handphone Sarah. Ia tersenyum. Sedikit terpintas di pikirannya, bahwa
Sarah itu imut. Ia pun mengetikkan nomor handphonenya. Lalu setelah selesai,
sebelum di call ataupun di save, ia menyerahkan handphone itu ke pemiliknya.
“Nih. Oiya kamu kalau mau hubungi aku, jangan sebelum jam 10 malam, ya.” Kata
Arsa. “Aku biasanya belum lihat handphone sebelum jam 10.” Jelasnya.
“Kamu insomnia?” tanya Sarah.
“Katanya kalau orang tidurnya malam berarti otaknya cerdas, lho.” Lalu Sarah
tersenyum.
“Bisa jadi.” Jawab Arsa. “Ah, aku
tidak cerdas. Tulisanku rapi.” Katanya lagi. “Sudah ‘kan ya? Aku mau ke kantin
dulu.”
“Mau beli kopi, ya?” Tanya Sarah.
“Aku sering lihat kamu beli kopi.” Lalu mereka bertatapan. Sama-sama tersenyum
kecil. Sama-sama berpikir kalau mereka berbeda. Ada sesuatu yang lebih dari
sebuah dialog.
“Perhatian sekali.” Arsa meledek.
“Kalau ada yang mau kamu ceritakan bilang aja. Aku suka mendengar masalah
orang.” Katanya lagi.
“Yang enggak punya masalah memang
beda, ya?” Kata Sarah. Berpikir kalau Arsa belum mengerti. Ia sedikit iri pada
Arsa. “Nanti malam, yaa?”
Arsa belum menyadarinya. Ia pun
tersenyum dan menjawab “Iya.” Secara sederhana.
-
Arsa suka mendengar masalah orang
lain. Ia seringkali menganggap orang yang punya masalah itu lucu. Mereka yang
marah, kesal, bermusuhan, cemburu, dan sebagainya, juga ia anggap lucu. Ia
pikir, hal-hal seperti itu tidak penting dan tidak perlu ada. Menurutnya, itu
hanya akan menambah masalah. Dan ia pikir juga, untuk apa membuat masalah di
dunia yang sederhana seperti ini? Semua sederhana. Kalau saja semua orang bisa
menahan diri mereka untuk mengikuti aturan dan keinginan sesama, pasti semua
akan bisa lebih bahagia. Tapi itu hanya di pikirannya. Ia tidak sepeduli itu
terhadap dunia untuk merubahnya. Mungkin kalau ia pernah berniat untuk
menceritakan ini kepada seseorang, ia akan dianggap pembual. Tapi ia tau kalau
ia tidak perlu menceritakannya. Karena ia tau, pada kenyataannya, kejahatan dan
keburukan, memang diciptakan untuk menang. Arsa pun pasrah. Tidak mau
membuang-buang tenaga untuk hal yang takkan berhasil. Maka tanpa ia sadari, ia
tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Sesuai keinginannnya.
-
Ada sebuah pesan dari Sarah tepat
pukul 10 malam. Sapaan singkat yang hangat, membuka gerbang pembicaraan panjang
mereka. Mereka basa-basi tentang apa yang disuka, kebiasaan, pelajaran, asal
SMP, dan sebagainya. Begitulah yang terjadi selama beberapa lama. Di sekolah
juga, Sarah sering menyapa. Karena kebiasaannya sejak dulu, Arsa lebih bersifat
pasif. Akhirnya setelah beberapa waktu, Sarah akhirnya mau bercerita.
“Kenapa kamu memilih untuk jadi
orang aneh?” Padahal kalau kamu agak
biasa sedikit, pasti banyak orang yang suka sama kamu. Pikir Arsa.
“Supaya orang enggak suka sama
aku. Sekaligus menyeleksi teman. Karena secara logika, orang yang mau bertahan
denganku adalah orang baik.” Sarah mencoba menjawab.
“Kenapa kamu tidak mau orang suka
padamu?” tanya Arsa.
“Karena aku enggak mau ada orang
yang terluka.”Lalu Sarah menarik nafas panjang. Mengenang masa lalu. Mencoba
menjelaskan dengan feel yang tepat.
“Dulu aku memang orang biasa. Punya beberapa sahabat. Suka sama cowok. Patah
hati.” Sarah diam sebentar. “Aku tau patah hati itu enggak enak.”
“Lalu?” Alasannya bukan cuma itu ‘kan? pikir Arsa.
“Entah kenapa, waktu SMP, ada
banyak orang yang bilang suka padaku.” Disini Sarah terlihat agak serius.
“Mereka ajak kenalan. Dan, yah, pastinya aku terima ajakan mereka ‘kan? Aku
enggak mau dianggap buruk. Jadi aku jalani semua itu.” Kata Sarah. “Aku sadar
kalau mereka mau dekati aku. Dan aku biarkan karena aku pikir, itu hak mereka.
Banyak juga dari mereka yang nembak
aku. Tapi aku tolak. Wajar ‘dong,
menolak kalau kita memang tidak mau? Aku juga menolak dengan cara baik-baik,
kok. Tapi aku tetap tau perasaan mereka. Aku juga pernah patah hati, oke?” Jeda
sejenak. Sarah menarik nafas lagi, dan mengeluarkannya. “Tapi, Sa, banyak orang
yang berpikir kalau aku mempermainkan perasaan mereka. Oke, mereka memang tidak
pernah bilang langsung, tapi dari semua status mereka waktu itu, aku tau mereka
kecewa padaku. Dan aku juga merasa kalau pandangan orang lain berubah.” Sarah
menjelaskan. “Sejak itu aku mulai berpikir, harapan, itu seringkali tidak
bagus. Terutama harapan yang tidak akan tercapai. Makanya, aku selalu
menjauhkan orang-orang dari harapan yang takkan tercapai. Mulai dari tindakan
preventif, mengingatkan, hingga mengalihkan pikiran mereka dari sana.” Kata
Sarah. “Aku cuma enggak mau ada orang yang terluka. Karena aku tau rasanya
seperti apa. Juga tau rasanya memiliki harapan yang tidak tercapai.”
Diam sejenak. Arsa, tanpa pikir
panjang bicara. “Masalah orang cantik memang beda, ya?” Ia tersenyum. “Lalu?
Apa hasilnya sesuai harapan? Kamu tidak masalah dengan ini?”
“Lumayan. Aku jadi bisa tau siapa
orang yang benar-benar baik. No problem.”
Jawab Sarah. “Yah, memang temanku jumlahnya berkurang banyak. Banyak juga
yang bilang kalau aku berubah. Tapi memang begitu rencananya.” Kata Sarah. “I don’t want to be a crush. Because crushes,
they crush. Get it?”
“Nice pun. Tapi aku masih belum yakin kalau kamu jujur. Apa memang
ini yang kamu inginkan? Mencoret-coret papan tulis, berjalan-jalan tidak jelas
di sekolah. Mencari teman, tapi tidak menerimanya?” tanya Arsa. Tersenyum.
“Sepertinya begitu.”
“Kenapa kamu begitu peduli dengan
semua itu?” Tanya Arsa. “Tanpa kamu begini juga, akan selalu ada orang yang
sedih, menderita, kecewa. Dan menurutku, kamu tau itu. Sebenarnya, cuma satu
hal yang membuatku bingung tentangmu.” Mereka bertatapan. “Kenapa kamu memilih
jalan ini? Kamulah yang paling dirugikan.”
“Kamu enggak tau rencanaku.”
Sarah tersenyum. “Aku sudah memikirkan untuk ke depannya. Aku sudah merancang
sedemikian rupa sehingga orang-orang bisa mengabaikan aku nantinya. Aku juga
berpikiran akan biasa lagi nanti. Tapi enggak sekarang.” Kata Sarah. “Aku belum
mendapat alasan yang cukup untuk berubah.”
“Menurutmu itu klise tidak?” Lalu
sepi.
“Entahlah. Aku jarang membaca,
juga menonton drama. Dan Arsa, itulah keputusanku. Aku tau memang tak membuat
banyak perbedaan, tapi setidaknya, tidak banyak yang terluka karenaku.” Aku tau apa yang kamu pikirkan. Aku memang
membohongi diriku sendiri. Dan aku memang ahli dalam membohongi. “Aku
percaya kamu enggak akan membocorkan semua ini.”
“Ya. Tentu. Aku janji.” Arsa
meyakinkan. “Tapi aku tau kamu tau kalau kamu cerdas, cantik, dan lebih baik
dari kebanyakan orang. Kamu tau pilihan mana yang lebih baik bagimu. Secerdas
itulah kamu.” Agak gombal ya? Arsa
merasa ini lucu. “Sar, aku cuma tidak mau kamu membuat pilihan yang salah. Masa
SMA itu masa yang penting, lho. Sangat mempengaruhi untuk ke depannya. Kamu tau
itu. Dan aku tau, dan aku mengerti alasanmu. Tapi, dunia kita bukan tempat
untuk berkhayal, Sar. Sulit untuk mempertahankan idealisme seperti milikmu
entah kamu sadar atau tidak.”
“Idealisme, ya?” Sarah tidak
menganggapnya seperti itu. “Aku lebih menganggapnya sebagai keinginan.”
“Yakin?” Lalu sepi lagi.
“Untuk saat ini.” Kata Sarah.
“Keinginan, ‘kan, berubah-ubah. Semuanya juga berubah.”
“Kamu juga berubah.” Arsa
tersenyum. “Sekarang kamu bicaranya tenang. Tidak begitu freak, menurutku. Kamu keren.” Sarah hanya tertawa kecil. Sedikit
menoleh, tak mau menghadap depan. “Ada orang yang kamu suka?” Arsa merubah
topik pembicaraan. Katanya cinta bisa
merubah seseorang?
“Hmm.. Ada.” Sarah tersenyum
semangat. Jawaban yang sudah Arsa duga.
“Siapa?”
“Awan.”
“Si Seniman? Mau kubantu?”
“Boleh” Kata Sarah. “Tapi kita
tutup dulu topik yang tadi. Harus Grand
Ending, lah. Supaya kalau nanti cerita ini dibukukan, pembaca tidak
kecewa.” Katanya lagi.
“Ending? Yah, karena ini
ceritamu, kamu saja yang tentukan ending-nya. Aku tidak kepikiran apapun. Aku
juga tidak ada masalah dengan pilihanmu. Semua pilihanmu masuk akal.” Kata Arsa
yang sejak dulu menggombal.
“Bagaimana kalau, ‘aku akan
berubah menjadi lebih baik karena cinta’?”
Arsa menganggap itu lucu. Ia
tersenyum. “Dasar tukang khayal. Semua masalahmu selalu tentang cinta.”
“Apa salahnya? Oiya, untuk
pertanyaanmu, jawabannya ‘ya’.” Sarah semangat.
“Wah. Serius, nih?”
“Tentu. Let’s do this!” Sarah mengabaikan rasa penasarannya.
Arsa saat itu ingin berterima
kasih kepada Sarah. Karena, percakapan dengannya selama itu telah menumbuhkan
perasaan baru. Sebuah keinginan. Arsa, kini menyadari keinginannya untuk bertemu
yang lainnya. Bertemu orang-orang yang bisa membuatnya merasakan hal lain lagi.
Mereka tau tidak semua hal yang
perlu dibicarakan, sudah dibicarakan. Tapi mereka memutuskan untuk
menghentikannya. Karena hampir tanpa disadari, Arsa membuat Sarah sadar. Bahwa
semua itu tidak sepenting yang ia kira. Ia bisa tak memikirkannya. Dan ketika itu, ketika mereka
tersenyum, dunia mengeluarkan semua tanda yang seolah berkata: “Ini baru
awalnya”.
0 comments:
Posting Komentar