Katanya dunia ini mempunyai banyak kehidupan. Bukan
hanya kehidupan yang sedang kita rasakan sekarang, tetapi ada juga kehidupan
dari kehidupan lain yang tidak pernah kita ketahui dan mereka tidak mengetahui
adanya kehidupan kita.
Cukup membuat penasaran apalagi ketika para ilmuwan
berkata kalau kehidupan itu dinamakan flip
world atau dunia terbalik. Ada juga yang menyebutnya sebagai parallel world.
Aku cukup tidak mengerti mengenai itu semua. Aku hanya
menganggapnya sebagai hal mistis biasa yang tidak akan mungkin pernah terjadi
dihidupku yang membosankan ini. Membayangkan aku terbang kemasa lampau, ataupun
kedunia lain benar-benar terasa sangat mustahil kecuali aku sedang berada
dizaman Harry Potter, atau bisa jadi ketika aku salah satu sanak keluarganya
Jack Frost difilm The Rise Of Guadians. Atau yang lebih booming sekarang dengan
hallyu Korea mungkin dunia parallel bisa dirasakan ketika aku ikut beraksi
difilm Rooftop Prince yang datang dari masa lampau melewati dunia parallel kezaman
modern. Tetapi aku menyadari bahwa semuanya hanya fiksi belaka dan aku semakin
tidak percaya.
Pengalaman pergi kekehidupan lain? Atau kemasa lampau?
Bagaimana rasanya? Entahlah. Sempat aku merasa sangat penasaran dan hampir
membuka buku tentang dunia parallel yang tidak sengaja aku temukan di
perpustakaan. Tetapi sialnya aku harus focus dulu dengan project sejarahku yang
akan dikumpulkan 2 hari lagi.
Lupakan
tentang semua dunia parallel fiksi itu. Sekarang, dipagi-pagi buta diujung kota
Jakarta yang katanya dulu adalah makam belanda, aku sedang berlari menuju
sekolah. Sekolahku yang sudah tua, yang sudah berdiri dari tahun 1950, aku
harus pergi kesana dengan tergesa ingin menuju perpustakaan.
Sebodoh amat dengan semua cerita seram yang sempat aku
dengar dari beberapa temanku cowok-cowok alay tukang gossip. Aku sungguh tidak
peduli ketika project sejarahku yang deadline 2 hari lagi tertinggal
diperpustakaan. Tempat yang sedang ramai-ramainya dikunjungi siswa untuk
mencari informasi mengenai sejarah terbentuknya sekolah ini.
Bisa mati aku kalau tidak menemukannya segera karna
dicuri siswa lain dan dicontek habis-habisan semua artikel yang sudah aku dan
kelompokku buat susah payah.
“excuse me?”
Aku terhenyak. Ada seseorang yang mengetuk-ngetuk
bahuku dari belakang ketika aku sedang membuka pintu gerbang. Aku menoleh, “siapa
ya?”
“are you
Indonesian?”
Aku mengerutkan dahiku. Sepertinya dia bule, dia tidak
bisa bahasa Indonesia. Tapi, kenapa logat inggrisnya aneh banget.
“yes, I am. And
who are you?” tanyaku. Yeah, setidaknya aku masih bisa bicara sama
ngerti-ngerti dikit sama bahasa inggris. Mungkin bule ini kesasar dan mau nanya
jalan kan? Tapi, kenapa pakaiannya serasa enggak asing? Seperti baju seragam
orang dulu dengan kemeja putih yang dimasukkan kedalam celana.
“saya Kris Wu. Saya ingin bertanya alamat sekolah saya
ini. Baru 2 hari saya masuk sekolah jadi belum begitu tahu jalan menuju
kesekolah jadi sedikit nyasar tadi.” Ucapnya menggunakan bahasa inggris dengan
logat yang sudah kubilang lumayan aneh, seperti ada campuran belandanya atau
apa, aku tak mengerti.
“kau dari belanda?” tanyaku sebelum mengambil sebuah
kertas yang dia sodorkan.
Dia menggeleng, “Canada. Come from Canada.”
Aku mengangguk-angguk dan memperhatikan kertas yang
sudah ada ditanganku. Aku memperhatikan alamatnya, sambil berfikir mungkin dia
anak sekolah international sebelah karna tidak mungkin dia sekolah disekolahku
karna aku tidak pernah melihatnya dan seragamnya juga berbeda dengan seragamku
yang memakai batik berwarna oranye muda. Eh, tapi, mana mungkin dia sekolah
disekolah international sebelah? Seragamnya jadul gitu? Ahh, anak baru. Fikirku
sambil kembali memperhatikan alamat yang tertera.
Tetapi lama-lama melihat tulisan alamat ini, aku rasa
mataku akan juling seketika. Tulisannya tulisan sambung yang aku tidak
mengerti. Si bule dengan pakaian aneh yang mengaku dari Canada terkekeh
melihatku, melihat kebingunganku dan menyebutkannya.
“Wijaya street no. 48 ,Jakarta.” Ucapnya.
Aku terhenyak lagi, itukan alamat sekolahku?
“itu alamat sekolah ini.”
Sekarang dia yang terhenyak, “ah, yang benar?”
Aku mengangguk, “jika yang kau maksud Wijaya Street
no. 48. Itu disini.”
Sekarang dia terlihat sangat bingung, dia mencengkram
tas kulit warna coklatnya dan membetulkan rambut gaya jadulnya itu.
“seriously?”
Aku mengangguk.
Dia mendesah dan aku mulai ikutan bingung sekarang, “aku tahu sudah terjadi hal yang tidak beres.
Aku merasa tersesat. Benarkah ini Jakarta?”
Orang ini amnesia atau apa sih? “ini Jakarta.”
“tapi semuanya terlihat berbeda dari kemarin. Kemarin
tidak ada rumah-rumah besar itu. Jalanannya masih tanah, dan bangunan
sekolahku seharusnya, tidak sebesar
ini.” Dia menatap bangunan 3 tingkat sekolahku.
Sial. Bulu kudukku merinding. Aku seperti berbicara
dengan orang masa lampau.
“kau sekolah disini?” tanyaku.
Dia mengangguk. Aku.. tidak pernah melihatnya
sekalipun. Bukankah tadi dia bilang dia sudah 2 kali kesekolah.
“aku juga murid sekolah ini.”
Dia memberikan ekspresi terkejut dan bingungnya lagi,
dia memperhatikanku dari atas sampai bawah, “kau murid sekolah ini? Apa kau
murid baru? Seragammu?”
Semuanya terasa semakin aneh, ada apa dengan
seragamku? Aku sudah mengenakannya dari pertama aku masuk. Dan kenapa waktu
seakan berjalan lambat. Masih jam 6 kurang dan jalanan masih lengang.
“tidak, aku sudah sekolah 2 tahun disini.”
Dia menampakkan wajah takutnya lagi. hey, seharusnya
kan aku yang takut sama bule jadul didepanku ini. Tetapi kenapa aku yang
dilihatnya bak alien dari Venus.
“sial.” Desahnya kesal dan membuka gerbang. Melongok
kekanan dan kekiri, lalu berteriak, “Pak.. Pak Wagino.. where are you?”
Aku mengerdikkan bahu dengan tingkahnya, Pak Wagino?
Siapa lagi itu. Aku mencoba tidak memperdulikan Bule nyasar ini dan bergegas ke
perpustakaan.
“apa kau melihat Pak Wagino? Dia biasanya selalu
datang pagi?” tanyanya dibelakangku. Aku mengernyit, “who is Pak Wagino?”
“dia penjaga sekolah ini?”
Setahuku penjaga sekolah ini bernama Pak Wisnu, tetapi
kami anak-anak sekolah ini biasanya memanggilnya Babeh Wisnu karna dia sudah
cukup tua dan tetua disini.
“ah, I don’t
know.”
Kemudian hening dan saat aku menoleh kebelakang
ternyata dia membuntuti-ku. “apa yang sedang kau lakukan?”
“aku merasa bingung. Ini seperti bukan sekolah yang
aku datangi kemarin. Satu-satunya bangunan yang aku kenal Cuma bangunan
disana.” Dia menunjuk bangunan utama yang digunakan untuk ruang kepala sekolah
dan kantor guru. “apa aku salah masuk sekolah?”
Aku mengangguk-angguk sambil berjalan dikoridor
sekolah yang lenggang, “maybe.”
“but..aha..”
dia seperti menemukan sesuatu. Aku menoleh kearahnya, dia tengah menunjuk
beberapa foto yang dipajang dikoridor. “aku kenal foto ini. Dia yang membangun
sekolah ini kan? Aku benar, ini sekolah baruku. tetapi kenapa semuanya sangat
berbeda?”
Aku melihat foto orang belanda yang benar saja adalah
pembangun sekolah ini pada tahun 1950. Kemudian kami berjalan lagi dan dia
seperti mengenalkanku dengan kepala sekolah sesudah-dan sesudahnya,
“Pak Wagino bilang, ini kepala sekolah yang ke-4. Dan
yang ini kepala sekolahku. Aku baru menemuinya kemarin untuk mengurusi seragam
sekolahku yang baru aku pakai sekarang ini.”
Aku memperhatikan seragamnya, yeah, memang masih
tampak baru.
Tetapi hey,
APA? KEPALA SEKOLAH KE-5 INI ADALAH KEPALA SEKOLAHNYA
DAN DIA BARU MENEMUINYA KEMARIN?
Benar-benar ada yang salah, aku sudah ingin menanyakan
hal itu tetapi aku bingung dengan bahasa inggrisku yang masih acak-acakan. Dia
berhenti dikepala sekolah ke-6 sekolah ini.
“siapa dia?” aku sudah membeku dan dia menoleh
kederetan foto yang ada belasan disamping foto ini berjejer dikoridor yang
panjang.
“itu kepala sekolah yang ke-6.” Ucapku dengan kaki
yang kaku. Yatuhan apa maksudnya ini. Bilang padaku ini ada sebuah jebakan kan?
Aku sedang dijahili teman-temanku disalah satu acara televise atau bagaimana?
“kepala sekolah yang ke-6. Sejak kapan kepala
sekolahku diganti? Baru kemarin aku menemui kepala sekolah ini dan dia masih
tampak aktif. Apa dia digantikan? Dan siapa foto disampingnya?”
Aku sungguh ingin melihat reaksi bule itu mengenai
keanehan ini dan sepertinya dia belum sadar.
“kepala sekolah ke-7,8,9,10 dan seterusnya.”
Dia menatapku sinis, “are you kidding me?”
“ya, aku tidak tau keanehan apa yang terjadi. Tapi aku
cukup takut sekarang, kau.. kau bilang kau anak baru kan? Tetapi aku tidak
mendengarkan kabar kalau ada orang Canada yang masuk sekolahku, bahkan
dimadingpun tidak ada beritanya. Lalu, bajumu sangat aneh, kau macam orang
jadul. Kemudian, kau bilang dia..” aku menunjuk kepala sekolah ke-5, “..dia
kepala sekolahmu? Kau tahu? Dia menjabat tahun 1955.” Kataku dengan wajah
penasaran dan mungkin saja sudah tercetak tanda tanya besar-besar dikepalaku.
Tetapi dia hanya menatapku datar, mungkin bingung
dengan segala ocehanku yang ngawur grammarnya menggunakan bahasa inggris, dia
berkata, “dia memang menjabat tahun 1955.”
“itu kau tahu. Dan tahun berapa sekarang?”
Dia terkekeh, “kau pribumi yang ingin bergurau atau
kau sedang mengetes-ku? Tentu saja ini tahun 1955.”
Aku menganga lebar, aku menatapnya tajam atau aku
sedang bermimpi? Aku menggigit lidahku dan arghhh, ternyata sakit. “hentikan.
Sudah hentikan ini tidak lucu. Dimana kameranya-hah? Dimana?” tanyaku, aku
melepas tas selempangku dan aku jinjing dengan kesal, “Rio, Sena, Bagus! keluar
lo semua. Gausah bercanda deh, nggak lucu. Mendingan keperpus sekarang kerjain
Project sejarah kita.” Teriakku tetapi hanya hening yang kudapat dan tatapan
aneh bule didepanku.
“im not enough
understand what you say. Theres something wrong with me?”
Gila gue gila. Teriakku dalam hati, “ya! ini bukan tahun 1955. Ini
tahun 2012!”
Sekarang gantian dia yang menganga dan menampakkan
wajah horror, dia mendesah kesal kemudian terkekeh, “Tio, Sugeng, Salim, Jamal where are you? Don’t tease me like this ,please.” Teriaknya, hampir mirip
mengatakan apa yang aku katakan. Berfikir kalau ini semua lelucon teman-teman
kami yang sangat badung. Tetapi hanya hening yang dia dapat dan aku yang
menatapnya horror.
Dia menatapku lagi, “seriously? 2012? Aku memang sudah merasakan hal yang aneh dari
perjalananku kesini dan bangunan ini tidak sebesar ini kemarin.”
“kau bukan hantu?”
“harusnya aku yang bertanya seperti itu. Apa kau
hantu?”
Aku memutar bola mataku, ada sedikit ketakutan yang
menjalar dihatiku tetapi otakku yang sudah membentuk tanda tanya besar
mengalahkan semuanya.
Apa.. ini yang dinamakan parallel world? Jadi Kris Wu
ini menempuh perjalanan parallelnya dengan pergi ke-57 tahun dimasa depan?
“kau sedang tidak bercanda kan? Atau mungkin kau
amnesia? Kau orang gila?” tanyaku lagi, masih menyangkal kemungkinan yang ada
dan tentang segala hal menyangkut parallel world yang membuatku merinding
sekarang.
“aku serius. Aku juga bingung dengan apa yang terjadi.
Apa yang harus aku lakukan?”
Sial. Aku benar-benar sangat penasaran. Dan aku
teringat dengan buku yang sempat aku temukan kemarin di perpus. Mungkin akan
ada pembahasannya mengenai ini semua.
“kau mau bawa aku kemana?”
“library..”
“tapi pak Wagino bilang perpusnya disana.”
Aku menoleh kearahnya, “apa kau tau semuanya sudah
berbeda? Ini 2012 bukan 1955. Dan siapa itu Pak Wagino?”
“penjaga sekolah.”
“penjaga sekolah ini Pak Wisnu ,Kris Wu.”
“Wisnu? Seperti pernah dengar. Bukankah dia keponakan
Pak Wagino?”
Aku tidak menghiraukan ucapannya sejenak. Aku terus
menariknya yang bertubuh tinggi dan membawanya kegedung utara menuju
perpustakaan.
“setahuku ini taman lapang.”
Aku hanya berdeham dan kembali menariknya. Saat kami
masuk kedalam perpus aku langsung mencari buku yang kemarin masih aku
geletakkan diatas meja tetapi sekarang sudah di rapikan oleh penjaga perpus.
Aku saja sampai menghiraukan tugas yang aku tinggalkan kemarin. Biasanya jika ada tugas yang tertinggal,
penjaga perpus akan meletakkan saja ditempat semula supaya bisa dicari dengan
mudah.
“perpustakaan yang besar dan buku yang banyak.
Perpustakaan yang aku lihat kemarin tidak sebesar ini dan didalamnya hanya
berisi berbagai macam sastra dan buku lama punya belanda dan jepang.” Dia
berucap lagi.
Aku yang sedang mencari buku tersebut dilorong tidak
menghiraukannya. Terus mencari sampai ketika ponselku bergetar.
Drrtt..drrttt..
Ada pesan dari Sena,
Nis, udah ngambil tugas yang lo lupa
bawa? Cepatan ambil keburu diambil orang.
Tetapi aku langsung mengusap layar tertera panggil dan
menelfon Sena.
“sen cepetan kesekolah. Lo lagi dimana?”
“dirumah. Ada apaan sih? Tugas udah lo
ambil.”
“udah itu nggak penting. Lo kesekolah dulu aja, ada
yang nggak beres nih.”
“hah? Apaan? Kenapa? Jangan bilang
tugasnya ilang?”
“udah cepet ish.”
“kenapa sih panic banget. Yaudah gua
otw.”
Aku langsung menutup telfonnya dan mencari buku itu
lagi. Melirik Kris Wu yang sedang melihat-lihat buku dirak sebelah. Tetapi
sialnya aku tidak menemukan buku itu. Kris Wu sudah jenuh, dia duduk dikursi
baca ketika aku masih mondar-mandir di rak mencari buku itu setengah jam
kemudian.
“kenapa kau membawaku kesini?”
Aku menghampirinya, ingin bilang kalau dia mungkin
telah melewati perjalanan parallel 57 tahun yang lalu. Tetapi Sena menelfon dan
mengatakan kalau dia sudah disekolah dan aku bilang ke Kris Wu untuk menungguku
disini sebentar. Aku akan memanggil guru untuk menyelesaikan ini semua dan
mengurus Kris Wu. Dia mengangguk dan aku keluar dari perpus, bergegas menemui
Sena yang sudah ada di Loby sekolah.
“ada apaan sih?”
“gua juga gak ngerti. Ada cowok namanya Kris Wu orang
Canada, dia bilang dia sekolah disini tetapi dia sekolah disini ditahun 1955.
Apaan coba? Kirain gue lo lagi ngerjain gue.”
“ah seriusan lo?”
“beneran. Anterin gua kekepala sekolah deh sekarang.
Buat ngurusin dia.”
“langsung kekepala sekolah? Emangnya udah dateng? Gue
jadi penasaran gimana orangnya, dia lagi ngelucu garing kalik atau kalau dia
cowok gila gimana? Coba gue liat.”
“yaudah deh
cepetan.” Ucapku dan mengajaknya langsung keperpustakaan. Tetapi sesampainya
disana. Kris Wu menghilang.
“mana ,Nis?”
“tadi gua suruh tunggu disini. Apa dia keluar ya?”
“aduh gimana sih? Masa kita harus nyari? Tugas udah
ketemu belom?”
“astagadragonbigbang, gue lupa.”
“nah, mendingan kita cari tugas dulu deh baru nyari
dia.”
Aku mengangguk dengan linglung. Kemana sih bule satu
itu? Perasaan aku tidak meninggalkannya terlalu lama.
Dan sampai bel masuk berbunyi bahkan sampai pulang
sekolah. Kris Wu tidak ditemukan. Aku sudah mencarinya kemana-mana tetapi dia
tidak ada diseantero sekolah. Aku merasa penasaran tetapi tidak bisa berbuat
apa-apa apalagi ketika deadline tugas yang seharusnya aku pusingkan dikumpulkan
besok. Ketika pulang sekolah, aku tidak sengaja bertemu Babeh Wisnu. Tubuhnya
yang sudah renta masih aku pertanyakan kenapa masih bekerja disekolah ini. Dia
bilang, “sudah keturunan neng buat jaga sekolah ini. Dari pertama kakek saya,
paman saya, lalu kesaya, tapi anak saya nggak disuruh jadi penjaga sekolah kok.
Dia mau jadi guru katanya.”
Oh whatever, aku bertanya hal yang sempat dikatakan Kris Wu,
“Beh, nama pamannya Babeh Wagino bukan?”
“loh, kok tau neng? Dia kan sudah meninggal 20 tahun
yang lalu. Dulu Babeh sering nemenin dia ngejagain sekolah ini neng.”
Dan sial. Ini semua benar-benar horror.
Aku semakin penasaran dengan keberadaan Kris Wu, aku
mencari terus dimana buku itu berada tetapi Rio sudah menyahutiku.
“Nis, daripada lu nyari buku nggak jelas gitu.
Mendingan lu cari artikel yang ada dimading dari berpuluh-puluh tahun yang lalu
deh. Buat nambahin info kita tentang sejarah sekolah.”
Aku mengangguk dan sejenak melupakan Kris Wu. Tugas
sudah selesai tetapi untuk penambahan info memang harus banyak ditambah supaya
nilai semakin bagus. Aku menghampiri rak buku lama. Dimana mading yang pernah
sekolah ini buat disimpan dan artikel yang menghebohkannya digunting dan
ditempel di buku-buku yang sudah berjejer dirak ini.
“berita madding dari awal berdiri sampai 10 tahun
kemudian.” Ucapku sambil meletakkan buku tersebut dimeja, diantara teman
sekelompok tugasku. Bagus membuka buku itu, mencari berita-berita menghebohkan
dan aku masih memikirkan seorang Kris Wu dan kemana dia pergi.
“kepala sekolah ke-4 Januari 1955 digantikan karna
terlibat kasus korupsi.” Baca Bagus. dan kami semua mengangguk untuk memasukkan
berita tersebut kedalam artikel kami.
Lalu Kris melanjutkan, “artikel, desember 1955. Murid
baru asal Canada menghilang secara misterius di absent ketiganya disekolah.”
Ucap Bagus. Rio bergidik, “serem amat.”
“apaan?” Sena yang tidak terlalu mendengar tadi
penasaran.
“murid baru bule ilang baru 3 hari masuk sekolah.”
“asal Canada lagi, keren gila yak.” Katanya. Dan
otakku langsung menyetrum-nyetrum mendengar murid baru asal Canada. Aku
langsung berdiri dan menarik buku itu, membuat teman-temanku kebingungan dan
akhirnya penasaran dengan apa yang terjadi.
“kenapa sih ,Nis?” tanya Sena.
Aku menganga lebar, mengarahkan artikel itu kearah
Sena yang sempat aku ceritakan mengenai bule aneh yang aku temui 2 hari
kemarin.
Namanya Kris Wu dan ada fotonya disana bersama kepala
sekolah ke-5 sekolah ini. Dia memakai baju yang sama dengan yang aku lihat.
Artikel itu mengatakan Kris Wu menghilang ketika berangkat kesekolah dihari
ke-3-nya. Penjaga sekolah Pak Wagino bilang, Kris murid yang baik, dia selama 2
hari masuk paling pagi dan selalu mencari pak Wagino untuk diceritakan sejarah
sekolah dan berkeliling bangunannya.
Sial. Ingat kata-katanya Kris Wu waktu itu.
“aku baru 2 hari kesekolah ini jadi aku
masih baru. Mungkin aku tersesat.”
Dan dia benar menghilang di perjalanan parallelnya.
0 comments:
Posting Komentar