Jumat, 20 Februari 2015

Parallel World



Katanya dunia ini mempunyai banyak kehidupan. Bukan hanya kehidupan yang sedang kita rasakan sekarang, tetapi ada juga kehidupan dari kehidupan lain yang tidak pernah kita ketahui dan mereka tidak mengetahui adanya kehidupan kita.

Cukup membuat penasaran apalagi ketika para ilmuwan berkata kalau kehidupan itu dinamakan flip world atau dunia terbalik. Ada juga yang menyebutnya sebagai parallel world.

Aku cukup tidak mengerti mengenai itu semua. Aku hanya menganggapnya sebagai hal mistis biasa yang tidak akan mungkin pernah terjadi dihidupku yang membosankan ini. Membayangkan aku terbang kemasa lampau, ataupun kedunia lain benar-benar terasa sangat mustahil kecuali aku sedang berada dizaman Harry Potter, atau bisa jadi ketika aku salah satu sanak keluarganya Jack Frost difilm The Rise Of Guadians. Atau yang lebih booming sekarang dengan hallyu Korea mungkin dunia parallel bisa dirasakan ketika aku ikut beraksi difilm Rooftop Prince yang datang dari masa lampau melewati dunia parallel kezaman modern. Tetapi aku menyadari bahwa semuanya hanya fiksi belaka dan aku semakin tidak percaya.

Pengalaman pergi kekehidupan lain? Atau kemasa lampau? Bagaimana rasanya? Entahlah. Sempat aku merasa sangat penasaran dan hampir membuka buku tentang dunia parallel yang tidak sengaja aku temukan di perpustakaan. Tetapi sialnya aku harus focus dulu dengan project sejarahku yang akan dikumpulkan 2 hari lagi.

            Lupakan tentang semua dunia parallel fiksi itu. Sekarang, dipagi-pagi buta diujung kota Jakarta yang katanya dulu adalah makam belanda, aku sedang berlari menuju sekolah. Sekolahku yang sudah tua, yang sudah berdiri dari tahun 1950, aku harus pergi kesana dengan tergesa ingin menuju perpustakaan.

Sebodoh amat dengan semua cerita seram yang sempat aku dengar dari beberapa temanku cowok-cowok alay tukang gossip. Aku sungguh tidak peduli ketika project sejarahku yang deadline 2 hari lagi tertinggal diperpustakaan. Tempat yang sedang ramai-ramainya dikunjungi siswa untuk mencari informasi mengenai sejarah terbentuknya sekolah ini.

Bisa mati aku kalau tidak menemukannya segera karna dicuri siswa lain dan dicontek habis-habisan semua artikel yang sudah aku dan kelompokku buat susah payah.

excuse me?

Aku terhenyak. Ada seseorang yang mengetuk-ngetuk bahuku dari belakang ketika aku sedang membuka pintu gerbang. Aku menoleh, “siapa ya?”

are you Indonesian?”

Aku mengerutkan dahiku. Sepertinya dia bule, dia tidak bisa bahasa Indonesia. Tapi, kenapa logat inggrisnya aneh banget.

yes, I am. And who are you?” tanyaku. Yeah, setidaknya aku masih bisa bicara sama ngerti-ngerti dikit sama bahasa inggris. Mungkin bule ini kesasar dan mau nanya jalan kan? Tapi, kenapa pakaiannya serasa enggak asing? Seperti baju seragam orang dulu dengan kemeja putih yang dimasukkan kedalam celana.

“saya Kris Wu. Saya ingin bertanya alamat sekolah saya ini. Baru 2 hari saya masuk sekolah jadi belum begitu tahu jalan menuju kesekolah jadi sedikit nyasar tadi.” Ucapnya menggunakan bahasa inggris dengan logat yang sudah kubilang lumayan aneh, seperti ada campuran belandanya atau apa, aku tak mengerti.

“kau dari belanda?” tanyaku sebelum mengambil sebuah kertas yang dia sodorkan.

Dia menggeleng, “Canada. Come from Canada.”

Aku mengangguk-angguk dan memperhatikan kertas yang sudah ada ditanganku. Aku memperhatikan alamatnya, sambil berfikir mungkin dia anak sekolah international sebelah karna tidak mungkin dia sekolah disekolahku karna aku tidak pernah melihatnya dan seragamnya juga berbeda dengan seragamku yang memakai batik berwarna oranye muda. Eh, tapi, mana mungkin dia sekolah disekolah international sebelah? Seragamnya jadul gitu? Ahh, anak baru. Fikirku sambil kembali memperhatikan alamat yang tertera.

Tetapi lama-lama melihat tulisan alamat ini, aku rasa mataku akan juling seketika. Tulisannya tulisan sambung yang aku tidak mengerti. Si bule dengan pakaian aneh yang mengaku dari Canada terkekeh melihatku, melihat kebingunganku dan menyebutkannya.

“Wijaya street no. 48 ,Jakarta.” Ucapnya.

Aku terhenyak lagi, itukan alamat sekolahku?

“itu alamat sekolah ini.”

Sekarang dia yang terhenyak, “ah, yang benar?”

Aku mengangguk, “jika yang kau maksud Wijaya Street no. 48. Itu disini.”

Sekarang dia terlihat sangat bingung, dia mencengkram tas kulit warna coklatnya dan membetulkan rambut gaya jadulnya itu.

seriously?

Aku mengangguk.

Dia mendesah dan aku mulai ikutan bingung sekarang,  “aku tahu sudah terjadi hal yang tidak beres. Aku merasa tersesat. Benarkah ini Jakarta?”

Orang ini amnesia atau apa sih? “ini Jakarta.”

“tapi semuanya terlihat berbeda dari kemarin. Kemarin tidak ada rumah-rumah besar itu. Jalanannya masih tanah, dan bangunan sekolahku  seharusnya, tidak sebesar ini.” Dia menatap bangunan 3 tingkat sekolahku.

Sial. Bulu kudukku merinding. Aku seperti berbicara dengan orang masa lampau.

“kau sekolah disini?” tanyaku.

Dia mengangguk. Aku.. tidak pernah melihatnya sekalipun. Bukankah tadi dia bilang dia sudah 2 kali kesekolah.

“aku juga murid sekolah ini.”

Dia memberikan ekspresi terkejut dan bingungnya lagi, dia memperhatikanku dari atas sampai bawah, “kau murid sekolah ini? Apa kau murid baru? Seragammu?”

Semuanya terasa semakin aneh, ada apa dengan seragamku? Aku sudah mengenakannya dari pertama aku masuk. Dan kenapa waktu seakan berjalan lambat. Masih jam 6 kurang dan jalanan masih lengang.

“tidak, aku sudah sekolah 2 tahun disini.”

Dia menampakkan wajah takutnya lagi. hey, seharusnya kan aku yang takut sama bule jadul didepanku ini. Tetapi kenapa aku yang dilihatnya bak alien dari Venus.

“sial.” Desahnya kesal dan membuka gerbang. Melongok kekanan dan kekiri, lalu berteriak, “Pak.. Pak Wagino.. where are you?

Aku mengerdikkan bahu dengan tingkahnya, Pak Wagino? Siapa lagi itu. Aku mencoba tidak memperdulikan Bule nyasar ini dan bergegas ke perpustakaan.

“apa kau melihat Pak Wagino? Dia biasanya selalu datang pagi?” tanyanya dibelakangku. Aku mengernyit, “who is Pak Wagino?”

“dia penjaga sekolah ini?”

Setahuku penjaga sekolah ini bernama Pak Wisnu, tetapi kami anak-anak sekolah ini biasanya memanggilnya Babeh Wisnu karna dia sudah cukup tua dan tetua disini.

ah, I don’t know.

Kemudian hening dan saat aku menoleh kebelakang ternyata dia membuntuti-ku. “apa yang sedang kau lakukan?”

“aku merasa bingung. Ini seperti bukan sekolah yang aku datangi kemarin. Satu-satunya bangunan yang aku kenal Cuma bangunan disana.” Dia menunjuk bangunan utama yang digunakan untuk ruang kepala sekolah dan kantor guru. “apa aku salah masuk sekolah?”

Aku mengangguk-angguk sambil berjalan dikoridor sekolah yang lenggang, “maybe.

but..aha..” dia seperti menemukan sesuatu. Aku menoleh kearahnya, dia tengah menunjuk beberapa foto yang dipajang dikoridor. “aku kenal foto ini. Dia yang membangun sekolah ini kan? Aku benar, ini sekolah baruku. tetapi kenapa semuanya sangat berbeda?”

Aku melihat foto orang belanda yang benar saja adalah pembangun sekolah ini pada tahun 1950. Kemudian kami berjalan lagi dan dia seperti mengenalkanku dengan kepala sekolah sesudah-dan sesudahnya,

“Pak Wagino bilang, ini kepala sekolah yang ke-4. Dan yang ini kepala sekolahku. Aku baru menemuinya kemarin untuk mengurusi seragam sekolahku yang baru aku pakai sekarang ini.”
Aku memperhatikan seragamnya, yeah, memang masih tampak baru.

Tetapi hey,

APA? KEPALA SEKOLAH KE-5 INI ADALAH KEPALA SEKOLAHNYA DAN DIA BARU MENEMUINYA KEMARIN?

Benar-benar ada yang salah, aku sudah ingin menanyakan hal itu tetapi aku bingung dengan bahasa inggrisku yang masih acak-acakan. Dia berhenti dikepala sekolah ke-6 sekolah ini.

“siapa dia?” aku sudah membeku dan dia menoleh kederetan foto yang ada belasan disamping foto ini berjejer dikoridor yang panjang.

“itu kepala sekolah yang ke-6.” Ucapku dengan kaki yang kaku. Yatuhan apa maksudnya ini. Bilang padaku ini ada sebuah jebakan kan? Aku sedang dijahili teman-temanku disalah satu acara televise atau bagaimana?

“kepala sekolah yang ke-6. Sejak kapan kepala sekolahku diganti? Baru kemarin aku menemui kepala sekolah ini dan dia masih tampak aktif. Apa dia digantikan? Dan siapa foto disampingnya?”

Aku sungguh ingin melihat reaksi bule itu mengenai keanehan ini dan sepertinya dia belum sadar.

“kepala sekolah ke-7,8,9,10 dan seterusnya.”

Dia menatapku sinis, “are you kidding me?

“ya, aku tidak tau keanehan apa yang terjadi. Tapi aku cukup takut sekarang, kau.. kau bilang kau anak baru kan? Tetapi aku tidak mendengarkan kabar kalau ada orang Canada yang masuk sekolahku, bahkan dimadingpun tidak ada beritanya. Lalu, bajumu sangat aneh, kau macam orang jadul. Kemudian, kau bilang dia..” aku menunjuk kepala sekolah ke-5, “..dia kepala sekolahmu? Kau tahu? Dia menjabat tahun 1955.” Kataku dengan wajah penasaran dan mungkin saja sudah tercetak tanda tanya besar-besar dikepalaku.

Tetapi dia hanya menatapku datar, mungkin bingung dengan segala ocehanku yang ngawur grammarnya menggunakan bahasa inggris, dia berkata, “dia memang menjabat tahun 1955.”

“itu kau tahu. Dan tahun berapa sekarang?”

Dia terkekeh, “kau pribumi yang ingin bergurau atau kau sedang mengetes-ku? Tentu saja ini tahun 1955.”

Aku menganga lebar, aku menatapnya tajam atau aku sedang bermimpi? Aku menggigit lidahku dan arghhh, ternyata sakit. “hentikan. Sudah hentikan ini tidak lucu. Dimana kameranya-hah? Dimana?” tanyaku, aku melepas tas selempangku dan aku jinjing dengan kesal, “Rio, Sena, Bagus! keluar lo semua. Gausah bercanda deh, nggak lucu. Mendingan keperpus sekarang kerjain Project sejarah kita.” Teriakku tetapi hanya hening yang kudapat dan tatapan aneh bule didepanku.

im not enough understand what you say. Theres something wrong with me?

Gila gue gila. Teriakku dalam hati, “ya! ini bukan tahun 1955. Ini tahun 2012!”

Sekarang gantian dia yang menganga dan menampakkan wajah horror, dia mendesah kesal kemudian terkekeh, “Tio, Sugeng, Salim, Jamal where are you? Don’t tease me like this ,please.” Teriaknya, hampir mirip mengatakan apa yang aku katakan. Berfikir kalau ini semua lelucon teman-teman kami yang sangat badung. Tetapi hanya hening yang dia dapat dan aku yang menatapnya horror.

Dia menatapku lagi, “seriously? 2012? Aku memang sudah merasakan hal yang aneh dari perjalananku kesini dan bangunan ini tidak sebesar ini kemarin.”

“kau bukan hantu?”

“harusnya aku yang bertanya seperti itu. Apa kau hantu?”

Aku memutar bola mataku, ada sedikit ketakutan yang menjalar dihatiku tetapi otakku yang sudah membentuk tanda tanya besar mengalahkan semuanya.

Apa.. ini yang dinamakan parallel world? Jadi Kris Wu ini menempuh perjalanan parallelnya dengan pergi ke-57 tahun dimasa depan?

“kau sedang tidak bercanda kan? Atau mungkin kau amnesia? Kau orang gila?” tanyaku lagi, masih menyangkal kemungkinan yang ada dan tentang segala hal menyangkut parallel world yang membuatku merinding sekarang.

“aku serius. Aku juga bingung dengan apa yang terjadi. Apa yang harus aku lakukan?”

Sial. Aku benar-benar sangat penasaran. Dan aku teringat dengan buku yang sempat aku temukan kemarin di perpus. Mungkin akan ada pembahasannya mengenai ini semua.

“kau mau bawa aku kemana?”

library..

“tapi pak Wagino bilang perpusnya disana.”

Aku menoleh kearahnya, “apa kau tau semuanya sudah berbeda? Ini 2012 bukan 1955. Dan siapa itu Pak Wagino?”

“penjaga sekolah.”

“penjaga sekolah ini Pak Wisnu ,Kris Wu.”

“Wisnu? Seperti pernah dengar. Bukankah dia keponakan Pak Wagino?”


Aku tidak menghiraukan ucapannya sejenak. Aku terus menariknya yang bertubuh tinggi dan membawanya kegedung utara menuju perpustakaan.

“setahuku ini taman lapang.”

Aku hanya berdeham dan kembali menariknya. Saat kami masuk kedalam perpus aku langsung mencari buku yang kemarin masih aku geletakkan diatas meja tetapi sekarang sudah di rapikan oleh penjaga perpus. Aku saja sampai menghiraukan tugas yang aku tinggalkan kemarin.  Biasanya jika ada tugas yang tertinggal, penjaga perpus akan meletakkan saja ditempat semula supaya bisa dicari dengan mudah.

“perpustakaan yang besar dan buku yang banyak. Perpustakaan yang aku lihat kemarin tidak sebesar ini dan didalamnya hanya berisi berbagai macam sastra dan buku lama punya belanda dan jepang.” Dia berucap lagi.

Aku yang sedang mencari buku tersebut dilorong tidak menghiraukannya. Terus mencari sampai ketika ponselku bergetar.

Drrtt..drrttt..

Ada pesan dari Sena,

Nis, udah ngambil tugas yang lo lupa bawa? Cepatan ambil keburu diambil orang.

Tetapi aku langsung mengusap layar tertera panggil dan menelfon Sena.
“sen cepetan kesekolah. Lo lagi dimana?”

“dirumah. Ada apaan sih? Tugas udah lo ambil.”

“udah itu nggak penting. Lo kesekolah dulu aja, ada yang nggak beres nih.”

“hah? Apaan? Kenapa? Jangan bilang tugasnya ilang?”

“udah cepet ish.”

“kenapa sih panic banget. Yaudah gua otw.”

Aku langsung menutup telfonnya dan mencari buku itu lagi. Melirik Kris Wu yang sedang melihat-lihat buku dirak sebelah. Tetapi sialnya aku tidak menemukan buku itu. Kris Wu sudah jenuh, dia duduk dikursi baca ketika aku masih mondar-mandir di rak mencari buku itu setengah jam kemudian.

“kenapa kau membawaku kesini?”

Aku menghampirinya, ingin bilang kalau dia mungkin telah melewati perjalanan parallel 57 tahun yang lalu. Tetapi Sena menelfon dan mengatakan kalau dia sudah disekolah dan aku bilang ke Kris Wu untuk menungguku disini sebentar. Aku akan memanggil guru untuk menyelesaikan ini semua dan mengurus Kris Wu. Dia mengangguk dan aku keluar dari perpus, bergegas menemui Sena yang sudah ada di Loby sekolah.

“ada apaan sih?”

“gua juga gak ngerti. Ada cowok namanya Kris Wu orang Canada, dia bilang dia sekolah disini tetapi dia sekolah disini ditahun 1955. Apaan coba? Kirain gue lo lagi ngerjain gue.”

“ah seriusan lo?”

“beneran. Anterin gua kekepala sekolah deh sekarang. Buat ngurusin dia.”

“langsung kekepala sekolah? Emangnya udah dateng? Gue jadi penasaran gimana orangnya, dia lagi ngelucu garing kalik atau kalau dia cowok gila gimana? Coba gue liat.”

 “yaudah deh cepetan.” Ucapku dan mengajaknya langsung keperpustakaan. Tetapi sesampainya disana. Kris Wu menghilang.

“mana ,Nis?”

“tadi gua suruh tunggu disini. Apa dia keluar ya?”

“aduh gimana sih? Masa kita harus nyari? Tugas udah ketemu belom?”

“astagadragonbigbang, gue lupa.”

“nah, mendingan kita cari tugas dulu deh baru nyari dia.”

Aku mengangguk dengan linglung. Kemana sih bule satu itu? Perasaan aku tidak meninggalkannya terlalu lama.

Dan sampai bel masuk berbunyi bahkan sampai pulang sekolah. Kris Wu tidak ditemukan. Aku sudah mencarinya kemana-mana tetapi dia tidak ada diseantero sekolah. Aku merasa penasaran tetapi tidak bisa berbuat apa-apa apalagi ketika deadline tugas yang seharusnya aku pusingkan dikumpulkan besok. Ketika pulang sekolah, aku tidak sengaja bertemu Babeh Wisnu. Tubuhnya yang sudah renta masih aku pertanyakan kenapa masih bekerja disekolah ini. Dia bilang, “sudah keturunan neng buat jaga sekolah ini. Dari pertama kakek saya, paman saya, lalu kesaya, tapi anak saya nggak disuruh jadi penjaga sekolah kok. Dia mau jadi guru katanya.”

Oh whatever, aku bertanya hal yang sempat dikatakan Kris Wu, “Beh, nama pamannya Babeh Wagino bukan?”

“loh, kok tau neng? Dia kan sudah meninggal 20 tahun yang lalu. Dulu Babeh sering nemenin dia ngejagain sekolah ini neng.”

Dan sial. Ini semua benar-benar horror.

Aku semakin penasaran dengan keberadaan Kris Wu, aku mencari terus dimana buku itu berada tetapi Rio sudah menyahutiku.

“Nis, daripada lu nyari buku nggak jelas gitu. Mendingan lu cari artikel yang ada dimading dari berpuluh-puluh tahun yang lalu deh. Buat nambahin info kita tentang sejarah sekolah.”

Aku mengangguk dan sejenak melupakan Kris Wu. Tugas sudah selesai tetapi untuk penambahan info memang harus banyak ditambah supaya nilai semakin bagus. Aku menghampiri rak buku lama. Dimana mading yang pernah sekolah ini buat disimpan dan artikel yang menghebohkannya digunting dan ditempel di buku-buku yang sudah berjejer dirak ini.

“berita madding dari awal berdiri sampai 10 tahun kemudian.” Ucapku sambil meletakkan buku tersebut dimeja, diantara teman sekelompok tugasku. Bagus membuka buku itu, mencari berita-berita menghebohkan dan aku masih memikirkan seorang Kris Wu dan kemana dia pergi.

“kepala sekolah ke-4 Januari 1955 digantikan karna terlibat kasus korupsi.” Baca Bagus. dan kami semua mengangguk untuk memasukkan berita tersebut kedalam artikel kami.

Lalu Kris melanjutkan, “artikel, desember 1955. Murid baru asal Canada menghilang secara misterius di absent ketiganya disekolah.” Ucap Bagus. Rio bergidik, “serem amat.”

“apaan?” Sena yang tidak terlalu mendengar tadi penasaran.

“murid baru bule ilang baru 3 hari masuk sekolah.”

“asal Canada lagi, keren gila yak.” Katanya. Dan otakku langsung menyetrum-nyetrum mendengar murid baru asal Canada. Aku langsung berdiri dan menarik buku itu, membuat teman-temanku kebingungan dan akhirnya penasaran dengan apa yang terjadi.

“kenapa sih ,Nis?” tanya Sena.

Aku menganga lebar, mengarahkan artikel itu kearah Sena yang sempat aku ceritakan mengenai bule aneh yang aku temui 2 hari kemarin.

Namanya Kris Wu dan ada fotonya disana bersama kepala sekolah ke-5 sekolah ini. Dia memakai baju yang sama dengan yang aku lihat. Artikel itu mengatakan Kris Wu menghilang ketika berangkat kesekolah dihari ke-3-nya. Penjaga sekolah Pak Wagino bilang, Kris murid yang baik, dia selama 2 hari masuk paling pagi dan selalu mencari pak Wagino untuk diceritakan sejarah sekolah dan berkeliling bangunannya.

Sial. Ingat kata-katanya Kris Wu waktu itu.

“aku baru 2 hari kesekolah ini jadi aku masih baru. Mungkin aku tersesat.”

Dan dia benar menghilang di perjalanan parallelnya.

0 comments:

Posting Komentar

Hubungi kami :

Twitter : @APAksara

Email : apaksara3@gmail.com

HP : 085773226995

Instagram: kapas3.aksara

Twitter

Translator