This is a cheesy and idiot
story at the same time..
Aku tidak tau mengapa aku
menyukai Dicky. Iya Dicky Bagus, teman sekelasku dikelas 11 SMA.
Dicky Bagus, si jangkung
dengan rambut tajam macam landak dan kacamata yang selalu dipakainya dan baru
kuketahui itu adalah kacamata bersejarah yang sudah dia pakai sejak jaman SMP.
Dicky Bagus yang selalu
dimarahi guru dikelas karna selalu memakai earphone ketika disuruh mengerjakan
tugas Matriks tetapi dengan santainya berkata, “dengan music, saya lebih mudah
dan cepat mengerjakan soal ini pak.” Tetapi selanjutnya malahan tertidur dan
aku yang akhirnya terciprat kesialan untuk mengerjakan soalnya.
Aku tidak tau mengapa aku menyukainya. Yang aku tau, dia
tidak lebih tampan dari anak kepala sekolah Putra Prasojo, atau salah satu
flower Boy di sekolah si Tommy yang selalu mendapatkan coklat dikolong mejanya.
Bahkan dia tidak mempunyai badan seatletis Dio sikapten Basket dan tidak
seeksis Irfan sang ketua osis.
Tapi aku menyukainya.
Entahlah.. mungkin ini hanya
karna pengaruh dia lelaki pertama yang menyukaiku jadi aku excited dan
menyukainya balik. Tetapi ini berbeda dari perasaan excited, perasaan yang
terlalu berbunga-bunga meskipun tidak ada perasaan suka dan hanya ingin tampil
terbaik didepan orang yang disuka. Tetapi ini berbeda, bersamanya aku malahan
menjadi diriku sendiri. Tidak menjadi orang lain saat aku dekat dengan salah
satu teman ekskulku Nathan yang berkata tidak menyukai perempuan yang suka
makan banyak but in fact, aku sangat menyukai Cheescake dan milkshake pisang
vanilla di kafe Oranye. Dan selama makan dengan Nathan aku hanya memesan salad
dan teh dan itu sangat membunuhku.
Kata orang, cintailah orang
yang mencintaimu apa adanya kan. Yang membuat ketika kau bersamanya kau menjadi
dirimu sendiri yang paling baik.
Dan ya.. semudah itu aku
menyukai Dicky.
Menyukai senyumnya yang
manis dengan kawat gigi, bajunya yang dimasukkan rapi kedalam celana dan tetesan
tinta hitam yang menodai celana abu-abunya, gurauan konyolnya yang super
garing, sikap sok cool dan cueknya dan semua yang ada pada dirinya bahkan hal
konyol yang selalu dia lakukan aku suka.
Aku suka bagaimana kita
menghabiskan waktu makan siang dikelas berdua dengan aku yang membawa roti
tawar dan dia yang membawa satu botol nutella, diam-diam makan bersama dengan
sedikit bersembunyi agar kawan kelas tidak mencurinya dengan sangat tidak
beradab dan berlomba menghabiskannya secepat mungkin.
Aku suka bagaimana dia
selalu bercerita macam-macam mengenai gossip seputar sekolah. Aku suka bagimana
dia menggandengku mesra ketika kencan dibioskop sambil membeli popcorn diluar
Cinema daripada didalam Cinema karna terlalu mahal.
Aku suka bagaimana dia
memakaikanku satu earphonenya ditelinga kiriku, tersenyum kearahku sambil
menyenandungkan lagu yang berputar diplaylistnya dan mencoba menyanyikannya
untukku dengan suaranya yang benar-benar buruk tetapi aku tersanjung
mendengarnya dan menyuruhnya menyanyikan satu kali lagi.
Aku jadi bingung mengapa aku
bisa menyukai sikonyol Dicky Bagus. Bahkan aku sering memanggilnya idiot ketika
dia terus-terusan memasang earphonenya ketika tidak mendengar salah seorang
memanggilnya.
Dari 1 galaksi ini, 9
planet, 204 negara, 809 pulau, dan 7 lautan bahkan puluhan artis Kpop yang
selalu dielu-elukan teman-temanku kenapa aku bisa bertemu dengan seorang Dicky Bagus
dan mencintainya?
Dicky pun sama. Dia juga
bingung kenapa aku bisa menyukainya.
Dia bertanya padaku saat
kami makan semangkok Siomay di kantin. Siomay yang dibeli seharga 5000 sangat
pedas ketika aku dan Dicky memberikan terlalu banyak saus yang akan dimakan
berdua. Kami sangat romantic bukan?
“kenapa kau menyukaiku? Aku
fikir.. kau menyukai Nathan teman satu ekskul-mu itu.”
“aku tidak tau.” Ucapku
singkat. Siomay kami telah habis meninggalkan beberapa potong kentang yang berlumuran
saus, aku memakannya.
“kau saja tidak tau kenapa
kau menyukaiku. Bagaimana kau bisa tahu kalau itu rasa suka? Bukan sebuah
perasaan konyol karna aku idiot?” ucap Dicky sambil terkekeh dan meminum air
mineralnya ketika siomay yang kita beli satu piring berdua telah habis.
Aku mengambil air mineral
yang ada digenggamannya sambil memandangnya intens, berfikir mungkin benar
perasaanku hanyalah perasaan konyol untuk seorang Dicky Bagus yang konyol.
Tetapi setelah aku memperhatikan dia, senyumnya, tingkahnya, dan sebuah
earphone yang seakan menjadi belahan jiwanya aku pun menjawab, “aku tau aku
benar menyukaimu karna.. aku tetap merasakan hal yang sama bahkan ketika kau
bertingkah sangat idiot.”
Dia tertawa, dan aku ikut
tertawa bersamanya sambil pergi bergandengan tangan keluar kantin sesudah
membayar siomay dengan kertas 5000-an yang sudah kucel kemudian dia melirik
kearahku dan berkata, “oh gitu, yaudah, lets be absolutely idiot and fall in
love with each other ,okay?”
Being idiot and fall in love
with each other? I did Dicky.
0 comments:
Posting Komentar