Jumat, 20 Februari 2015

Idiot



This is a cheesy and idiot story at the same time..

Aku tidak tau mengapa aku menyukai Dicky. Iya Dicky Bagus, teman sekelasku dikelas 11 SMA.

Dicky Bagus, si jangkung dengan rambut tajam macam landak dan kacamata yang selalu dipakainya dan baru kuketahui itu adalah kacamata bersejarah yang sudah dia pakai sejak jaman SMP.

Dicky Bagus yang selalu dimarahi guru dikelas karna selalu memakai earphone ketika disuruh mengerjakan tugas Matriks tetapi dengan santainya berkata, “dengan music, saya lebih mudah dan cepat mengerjakan soal ini pak.” Tetapi selanjutnya malahan tertidur dan aku yang akhirnya terciprat kesialan untuk mengerjakan soalnya.
           

            Aku tidak tau mengapa aku menyukainya. Yang aku tau, dia tidak lebih tampan dari anak kepala sekolah Putra Prasojo, atau salah satu flower Boy di sekolah si Tommy yang selalu mendapatkan coklat dikolong mejanya. Bahkan dia tidak mempunyai badan seatletis Dio sikapten Basket dan tidak seeksis Irfan sang ketua osis.

Tapi aku menyukainya.

Entahlah.. mungkin ini hanya karna pengaruh dia lelaki pertama yang menyukaiku jadi aku excited dan menyukainya balik. Tetapi ini berbeda dari perasaan excited, perasaan yang terlalu berbunga-bunga meskipun tidak ada perasaan suka dan hanya ingin tampil terbaik didepan orang yang disuka. Tetapi ini berbeda, bersamanya aku malahan menjadi diriku sendiri. Tidak menjadi orang lain saat aku dekat dengan salah satu teman ekskulku Nathan yang berkata tidak menyukai perempuan yang suka makan banyak but in fact, aku sangat menyukai Cheescake dan milkshake pisang vanilla di kafe Oranye. Dan selama makan dengan Nathan aku hanya memesan salad dan teh dan itu sangat membunuhku.

Kata orang, cintailah orang yang mencintaimu apa adanya kan. Yang membuat ketika kau bersamanya kau menjadi dirimu sendiri yang paling baik.

Dan ya.. semudah itu aku menyukai Dicky.

Menyukai senyumnya yang manis dengan kawat gigi, bajunya yang dimasukkan rapi kedalam celana dan tetesan tinta hitam yang menodai celana abu-abunya, gurauan konyolnya yang super garing, sikap sok cool dan cueknya dan semua yang ada pada dirinya bahkan hal konyol yang selalu dia lakukan aku suka.

Aku suka bagaimana kita menghabiskan waktu makan siang dikelas berdua dengan aku yang membawa roti tawar dan dia yang membawa satu botol nutella, diam-diam makan bersama dengan sedikit bersembunyi agar kawan kelas tidak mencurinya dengan sangat tidak beradab dan berlomba menghabiskannya secepat mungkin.

Aku suka bagaimana dia selalu bercerita macam-macam mengenai gossip seputar sekolah. Aku suka bagimana dia menggandengku mesra ketika kencan dibioskop sambil membeli popcorn diluar Cinema daripada didalam Cinema karna terlalu mahal.

Aku suka bagaimana dia memakaikanku satu earphonenya ditelinga kiriku, tersenyum kearahku sambil menyenandungkan lagu yang berputar diplaylistnya dan mencoba menyanyikannya untukku dengan suaranya yang benar-benar buruk tetapi aku tersanjung mendengarnya dan menyuruhnya menyanyikan satu kali lagi.

Aku jadi bingung mengapa aku bisa menyukai sikonyol Dicky Bagus. Bahkan aku sering memanggilnya idiot ketika dia terus-terusan memasang earphonenya ketika tidak mendengar salah seorang memanggilnya.

Dari 1 galaksi ini, 9 planet, 204 negara, 809 pulau, dan 7 lautan bahkan puluhan artis Kpop yang selalu dielu-elukan teman-temanku kenapa aku bisa bertemu dengan seorang Dicky Bagus dan mencintainya?

Dicky pun sama. Dia juga bingung kenapa aku bisa menyukainya.

Dia bertanya padaku saat kami makan semangkok Siomay di kantin. Siomay yang dibeli seharga 5000 sangat pedas ketika aku dan Dicky memberikan terlalu banyak saus yang akan dimakan berdua. Kami sangat romantic bukan?

“kenapa kau menyukaiku? Aku fikir.. kau menyukai Nathan teman satu ekskul-mu itu.”

“aku tidak tau.” Ucapku singkat. Siomay kami telah habis meninggalkan beberapa potong kentang yang berlumuran saus, aku memakannya.

“kau saja tidak tau kenapa kau menyukaiku. Bagaimana kau bisa tahu kalau itu rasa suka? Bukan sebuah perasaan konyol karna aku idiot?” ucap Dicky sambil terkekeh dan meminum air mineralnya ketika siomay yang kita beli satu piring berdua telah habis.

Aku mengambil air mineral yang ada digenggamannya sambil memandangnya intens, berfikir mungkin benar perasaanku hanyalah perasaan konyol untuk seorang Dicky Bagus yang konyol. Tetapi setelah aku memperhatikan dia, senyumnya, tingkahnya, dan sebuah earphone yang seakan menjadi belahan jiwanya aku pun menjawab, “aku tau aku benar menyukaimu karna.. aku tetap merasakan hal yang sama bahkan ketika kau bertingkah sangat idiot.”

Dia tertawa, dan aku ikut tertawa bersamanya sambil pergi bergandengan tangan keluar kantin sesudah membayar siomay dengan kertas 5000-an yang sudah kucel kemudian dia melirik kearahku dan berkata, “oh gitu, yaudah, lets be absolutely idiot and fall in love with each other ,okay?”

Being idiot and fall in love with each other? I did Dicky.

0 comments:

Posting Komentar

Hubungi kami :

Twitter : @APAksara

Email : apaksara3@gmail.com

HP : 085773226995

Instagram: kapas3.aksara

Twitter

Translator