Senin, 24 Februari 2014

Alone Liliffe 1 - Intro


“ ‘Di suatu pagi yang cerah, ada sekelompok anak SMA yang sedang bersekolah. Mereka adalah Anak-anak Penggila Aksara, ekskul Bahasa Indonesia. Karena kakak kelas mereka akan di Try-Out, mereka pun diberikan waktu liburan selama tiga hari. Untuk mengisi liburan tersebut, mereka berdiskusi dan memutuskan untuk pergi ke Dunia Fantasi ANCOL dan menggunakan kartu diskon milik Wadi, ketua ekskul tersebut.’ Gimana?” Kata Alan, si jangkis yang selalu ceria.

            “Modus lu lan. Lu pengen jalan-jalan? Pinter banget lu make kartu gua.” kataku, bercanda. Semua bercanda membalas candaanku. Saat itu aku merasa menjadi makhluk paling bahagia di dunia.
            Mungkin aku harus memperkenalkan diri. Namaku Wadi Karyadi. Aku adalah ketua dari sebuah ekskul yang sebelumnya tidak memiliki anggota. Sederhana, aku ditunjuk oleh pembina dan aku mau. Aku memang ingin masuk ekskul Bahasa Indonesia dan ingin membuat cerita, maka aku undang salah satu sahabatku yang langsung menyambut ideku dengan semangat. Fikri namanya. Tidak lama setelah mengajak Fikri, pembicaraanku disambut oleh teman-teman yang juga tertarik, Sari, Sina, Qiti, dan beberapa teman lainnya. Jadilah ekskul Bahasa Indonesia memiliki anggota.

            Kami sedang rapat membicarakan salah satu program kerja APA, membuat cerpen. Kami sharing ide-ide kreatif dan yang tidak terlalu kreatif untuk cerpen kami. Rapat yang dihadiri 12 orang ini berjalan seru. Seolah tidak ada masalah di dunia ini, kami bercanda dan tertawa. Ide-ide orang-orang aneh ini sangat terasa menyegarkan, membuatku merasa spesial. Berada di sebuah ekskul yang diisi oleh orang-orang yang ku kenal membuatku merasa nyaman. Aku jadi bisa mengungkapkan apa yang selama ini aku pikirkan.

Mau tau apa saja yang diceritakan disana? Oke akan kuberitahu. Kalian sudah membaca apa yang Alan ceritakan. “Beliau” tidak memberi cerita lain selain itu. Alan adalah orang yang hebat. Dia bisa menjadi teman dan musuh sekaligus. Dibilang teman, dia itu sangat nyolotin. Dibilang musuh, dia itu teman kami. Tapi aku senang mengadu bacot dengannya. Meskipun aku selalu kalah dan selalu kesal...
Sebelum Alan bercerita, Deby bercerita:


“Ada sepasang manusia yang ternyata mencintai satu sama lain. Mereka itu sekelas dan bersaing dalam hal akademis. Yang cowok namanya Andra, dan yang cewek namanya Deby aja deh. Andra sebenarnya sudah menyukai Deby saat melihatnya membaca sebuah novel di halaman belakang sekolah yang saat itu sedang sepi. Sedangkan Deby baru menyukainya saat pertama kali masuk kelas dan berdiskusi soal pelajaran MTK. Tapi sampai akhir rasa suka mereka sama sekali tidak mereka ungkapkan. Sampai lulus, mereka hanya bersahabat. Sama sekali tidak membicarakan soal cinta mereka. Akhirnya, mereka kuliah ke tempat kuliah yang berbeda. Beberapa tahun kemudian, Andra mendapatkan sebuah undangan pernikahan. Deby akan menikah! Andra pun datang dan menyelamati Deby, lalu dia bilang: ‘sebenernya dari awal masuk SMA, aku udah suka sama kamu.’. Malam itu, Deby menelpon Andra dan bilang kalau sebenarnya dia juga menyukai Andra, sampai sekarang.”

            “Lumayan...” pikirku. Cerita Deby sangat menggambarkan kesedihannya karena gebetannya baru jadian sama anak kelas lain. Dia pernah cerita kepadaku bagaimana dia menyesal karena hanya menunggu dan tidak melakukan apa-apa. “Segala nangis lu deb. Lu enggak masuk neraka kok. Nih deb, jodoh itu takdir yang ga bisa dirubah. Kalo lu emang jodoh sama dia, bakalan jadi kok woles. Kalo bukan juga nanti lu bakal ketemu sama cowok laen.” itu yang kukatakan padanya. Tak berhenti disana, Deby terus curhat soal cowok itu. Membuatku pulang sore.

            Mungkin, aku yang tidak mempunyai pengalaman dalam soal cinta tidak pantas mengatakan apapun soal itu. Pengalaman cinta yang kupunya hanya waktu kelas 2 SMP dulu. Saat aku dikhianati oleh orang yang, kurasa, aku cintai. Mungkin sejak itu aku trauma untuk jatuh cinta lagi. Kalau ada rasa, maka akan kuabaikan. “Nanti juga hilang.” pikirku.

            Setelah Alan, Fikri bercerita. Sahabat karibku ini memang hebat. Imajinasinya tidak terbendung walaupun dia menjadi agak aneh. Tapi menurutku dia unik, dan dia adalah sahabat terbaikku. Ini yang dia ceritakan:

“Keris adalah seorang anak SMA yang menyukai hal-hal aneh. Lalu pada suatu hari, ketika dia sedang sweeping tempat-tempat aneh, dia menemukan suatu kertas yang memberitahukannya tentang keberadaan 4 orang pelindung bumi...”

Lalu kami bercanda sebentar, dan Fikri pun meneruskan ceritanya. Antusias.

“Keris pun penasaran dan mencari informasi tentang mereka. Dan dia pun menemukan fakta yang membahagiakan, mereka semua selalu berada di Depok pada keadaan normal. Keris diberitahu oleh seorang penjual barang antik di Kampung Bulak. Lalu Keris melanjutkan petualangannya dan bertemu dengan Aera. Salah satu pelindung bumi!” Jelas sekali ia membanggakan Kampungnya. Tapi menarik!

“Aera memperkenalkan Keris kepada pelindung bumi yang lain, tapi keberadaan Keris tidak disukai oleh mereka, terutama oleh Lintar. Keris diancam untuk tidak mendekati mereka lagi. Sampai suatu saat Keris mendapatkan kekuatan dan ingin bergabung dengan mereka. Tapi Keris malah dianggap ancaman! Mereka ingin melenyapkan Keris! Tapi para pelindung bumi tidak tau kalau kekuatan keris jauh lebih kuat dari mereka. Serangan mereka malah membuat Keris sedih. Keris pun mengalahkan mereka dengan mudah. Terjadi duel maut, dunia hancur karenanya. Keris pun hidup sendiri di luar angkasa. Tak bisa mati meski bunuh diri. Hidup sendirian, selamanya...”

            ...wow. Sudah kuduga akan jadi begini kalau Fikri membuat cerita. Sebuah Fantasi penuh arti. Sebuah seni! Temen gua yang satu ini emang keren. Dulu dia pernah bilang padaku dengan bangga kalau dia itu bangga kalau dia itu bangga karena dia anti-mainstream. Ya! Dia mengatakannya dengan berbelit-belit seperti itu.

“Sebenernya ane lagi galau waktu bikin ini. Ane ngerasa beda sama orang-orang sekelas. Tapi ternyata jadi keren coy ceritanya!”

            .... terlihat jelas, yang dikatakan Fikri itu apa yang dia rasakan. Tapi dengan cara dia menutup, terlihat jelas dia tak ingin suasana jadi gelap. “Lah emang beda Fik! Lu kan alien.” celetukku. Kami semua tertawa dalam canda. Fikri memang sudah sering dikatai begitu, jadi lelucon ini bisa diterima.

            Suara tawa mereda. Saatnya Qiti bercerita. Dia adalah peringkat dua di kelas ini. Kalau dilihat sejenak, dia akan terlihat biasa-biasa saja. Tapi jika kau mengenalnya lebih jauh, kau akan tau betapa seram pikirannya. Ini yang dia katakan:

“Gua pengen bikin cerita soal orang yang bisa baca pikiran. Jadi orang ini adalah seorang penyendiri yang punya pikiran positif. Hingga suatu hari dia mendapatkan kekuatan untuk membaca pikiran. Akhirnya dia mengetahui pikiran-pikiran busuk para manusia. Yang mesum, yang jahat, yang mengatai dalam hati, yang berbohong, yang munafik, dan semua jenis manusia lainnya! HUAHAHAHA”

            Hening. Dan sungguh, dia benar-benar tertawa seperti itu. Entah apa yang menyebabkan pikirannya jadi begitu. Aku pernah berpikir: “Apa dia sering disiksa oleh ayah tirinya? Apa dia pernah di rampok atau sejenisnya?” Dia begitu membenci dunia! Dan dia mengajakku untuk mengikutinya. Dulu.

            “Wad, menurut lu dunia itu gimana?” tanya si filosofis jahat. “Gimana ya? Enak aja tuh. Kita bisa asik gini.” aku jawab begitu tanpa pikir panjang. Aku tak mengerti apa yang Qiti pikirkan, tapi dia senyum padaku. Lalu bilang: “Kalo gua mah ngerasa ga enak. Jujur gua gak seneng terlahir sebagai manusia. Tanggung jawabnya gede banget! Tapi gua percaya sama agama. Makanya gua ga mau bunuh diri, karena neraka lebih gua benci.” agaknya setelah bicara waktu itu, aku mulai mengerti tentangnya. Dia mau santai, benci tantangan, benci rintangan, menginginkan kehidupan yang tenang melebihi siapapun, menginginkan surga lebih dari siapapun. Sekarang aku mengerti alasan dia menghafal Kitab Suci setiap hari. Tapi aku tidak terima. Aku tak merasakan yang ia rasakan.

            “Bukannya asik kalo hidup dan lewatin banyak rintangan? ‘kan Allah memberi cobaan ke orang yang dianggap mampu, berarti kalo ga ada tantangan berarti kita ga mampu dong.” Aku mencurahkan isi hatiku. “Tapi pikiranlu serem juga qit. Yaudah semoga kita masuk surga dah.” Tanpa berdebat panjang, kami pulang.

            Pikiranku kembali ke ruang rapat. APA sudah tau tabiat Qiti yang sebenarnya sejak hari pertama APA terbentuk dan kami membicarakan proker. Dan karena kami menghargai perbedaan, kami tetap akrab disini. Komentar-komentar humor pun terlontar. Termasuk dari Sari. Pencerita selanjutnya.

            Sari adalah wanita idaman banyak pria. Cantik, baik, dan pintar. Terlalu pintar malah. Melihatnya, anda akan berpikir “aku suka padanya”. Aku pun suka padanya. Tapi, aku tau aku tak selevel dengannya. “Nanti juga hilang”. Cerita Deby tak membuatku berani. Aku yang tidak masuk 30 besar tak pantas dengan sang juara satu yang akhirnya mengeluarkan suaranya.

“Ini adalah kisah cinta yang sangat romantis. Kisah cinta yang sebenarnya pengen banget gua alamin.”
Kami mengamati dengan seksama.

“Jadi ada seorang wanita dari keluarga biasa. Dan ada pria dari keluarga biasa. Mereka hidup seperti biasa. Berkenalan dengan cara yang sangat biasa. Mereka bertemu di halaman rumah mereka dan berkenalan. Mereka berteman, bersahabat, dan jatuh cinta. Berinteraksi secara biasa, tidak ada gerakan yang terpaksa. Hidup mereka selalu bahagia. Cinta mereka sampai menutup mata, selamanya.”

            Kali ini Alan berkomentar. “Biasa banget cerita lu. Ga ada romantisnya sama sekali.”
Sari, dengan senyumannya yang cantik, dengan bahasanya yang puitis, dengan segala keindahan di dunia menjelaskan pandangannya tentang romantisme.
“Apa itu romantis? Romantis itu dimaksudkan untuk membuat sesuatu mirip cerita romance kan? Dan bagaimana cerita romance? Relatif! Tidak ada yang sama. Cintamu dan cintaku berbeda karena kita berbeda. Dan bagiku, romantisme adalah sesuatu yang berjalan secara alamiah. Pemberian hadiah indah karena ingin dicintai itu sedih. Me, nye, dih, kan!”

Ditutup dengan senyum. Aku yakin semua APA kagum, tapi karena kau tak mengalaminya langsung, mungkin takkan merasa begitu. Tapi orang yang mendengarnya langsung akan terhipnotis. Para pujangga takkan tahan melihat makhluk yang begitu estetis. Mereka akan membuat jutaan puisi namun tak sanggup menjelaskan keindahannya. Tapi kurasa ini subjektif, karena aku baru saja sadar, aku sangat mencintainya. Tapi aku tau apa yang akan kulakukan. Aku akan tetap menjadi diriku. Biarkan semua berjalan secara alamiah seperti yang dibilang Sari.

Sari pun diledek karena tadi sok puitis. Dunia menjadi indah di kelas yang biasa ini.

“Berikutnya, dengan IQ 926, kita panggil, Sina!” sejak kapan aku jadi MC? Haha, tak penting. Yang pasti, setelah kusebut namanya, APA bersorak ramai! Sina adalah anak pendiam di kelas yang sekalinya bicara, dia akan selalu melawak. Dan lawakannya fleksibel dan cerdas! Tak seperti apa yang biasa kita lihat saat ini.

“Yah palingan lu malah stand up comedy.” celetuk Fikri. Sina menggeleng-geleng dengan wajah kecewa. APA tertawa. “Tidak. Kali ini aku akan serius.” Sina menggunakan beberapa kata-kata baku untuk menunjukkan keseriusannya. Dia berbadan kecil dengan suara anak kecil. Membuat semua kata-katanya terdengar lucu.

“Ini adalah sebuah cerita tentang konspirasi para murid mengebom ruang guru...”

Ia berhenti sejenak, memberi kami waktu untuk membuat sound effect: “aseeek~”

“Jadi pada suatu hari, seorang pasangan homo, Udin dan Nidu sedang bermesraan di dalam kelas. Lalu tiba-tiba guru masuk dan shock melihat kelakuan mereka! Gurunya pun langsung pingsan di tempat. Akhirnya merekapun marah! Mereka merasa terhinaaa!!!” suara cemprengnya menggema di ruangan kelas. Kami tertawa terbahak-bahak. DAN KALAU KALIAN TIDAK TERTAWA LIHATLAH SENDIRI!!

”Lalu mereka pergi ke tukang petasan dan menceritakan kejadian itu. Tukang petasan pun ikutan marah. Ternyata dia juga homo!! Lalu mereka berdiskusi untuk melakukan pengeboman ke ruang guru. Dan akhirnya, pada 30 Februari 1923, pengeboman itu dilaksanakan. Bom yang meledak sangat besar, sampai para guru pun meninggal dan asapnya menyebabkan dunia gelap selama 3 jam. Gas radioaktif menyebar membuat para domba di kutub selatan sadar kalau mereka kesasar. Tapi mereka kedinginan dan mati.....”

“Serius lu Sin?” tanya Fikri. Ia tak percaya ceritanya menjadi seram.

“Kagak! Kan ga ada tanggal 30 Februari!” –Sina

Kami tertawa. Itu gak akan bisa jadi cerpen, tapi itu cukup menghibur. Sangat menghibur malah. Lawakan spontan. Tanpa teks, kurasa. Itu bukan hafalan. Dia mengarang dan langsung mengatakannya. Dia memang humoris ulung. Calon juara SUCI!

Dengan perut sakit, kami melanjutkan rapat kami. Elin bercerita tentang hayalannya pacaran dengan artis korea yang tak kukenal. Dia memang K-POPers yang terkenal di sekolah karena dia rada-rada “ALAY”. Tapi tak apa dia asik. Meskipun aku tak terlalu mengenalnya.

Selanjutnya adalah cerita dari Fajar. Anggota baru kami. Dia adalah orang yang melihatnya membuatmu berpikir “dia akan sukses saat besar nanti.” Dia calon wirausahawan. Dia memiliki syarat dan watak wirausahawan yang terkandung di dalam buku paket Kewirausahaan untuk kelas X. Dia terlalu kreatif! Dengan lidi, dia bisa membuat sarang burung. Atau dengan batu, dia bisa membuat gambar 3 dimensi dengan batu di tanah. Mungkin agak lebay menggambarkannya, tapi ini asli. Wajahnya? Tanya kepada penulis favoritnya Maudy Ayunda (palsu). Kudengar ia ahli menggambarkan orang tampan.

Saat ia bilang ia ingin masuk, kami bersorak bahagia. Dia adalah jenius alami. Aku selalu berpikir Sari akan suka padanya. Aku iri padanya.
“Kalo cerita gua tentang cinta juga, tapi laen. Jadi kalo di cerita gua, cewek sama cowoknya sering banget bikin puisi, jadi ini bakal bagus kalo dijadiin novel, soalnya bakal jadi novel penuh puisi. Terus nanti gua gambar juga gambar-gambarnya.”

Dia bilang, dia yang akan membuat puisinya, tapi dia tidak tau cerita detailnya dan dialog-dialognya. Lalu terakhir, akulah yang bercerita.

Aku yang tak terlalu kreatif ini membuat cerita horor, ditambahkan unsur persahabatan dan cinta. Tentang APA. Silakan.

“Jadi kalo cerita gua, APA pada jalan-jalan ke dufan. Terus asyik banget tuh! Terus pas pulang, mereka kecelakaan dan mati semua.” itu yang aku pikirkan, tapi aku tidak mengatakannya. Aku malah menceritakan tentang seorang pembohong yang menceritakan pengalaman-pengalaman seru yang ternyata adalah kebohongan. Pengalaman serunya bisa berupa apa saja, misalnya saat ladder di Lost Saga bertemu dengan CrossLife, atau apapun yang keren tapi sulit dilakukan.

            Ini saatnya Anto, atau yang biasa dipanggil Tolay menunjukkan kemampuannya yang sebenarnya. Tolay adalah seorang filsuf yang akan mengingatkanmu pada Hikigaya Hachiman. Dia memiliki satu keyakinan: pesimisme itu baik kalau digunakan dengan benar. Dia pernah cerita padaku kalau dia itu pesimis. Dan dia menyebutkan kelebihan orang pesimis dan itu masuk akal.
“Orang pesimis itu ga ngarep banyak wad. Terus karena mereka selalu memikirkan kemungkinan terburuknya, mereka selalu siap menghadapi apapun! Terus kalo orang pesimis itu kalo bener-bener perlu, mereka akan berusaha sekuat tenaga karena merasa belum cukup untuk berhasil. Terus, orang pesimis ga pernah sombong! Terus orang pesimis ga pernah ngerendahin orang lain. Tapi kalo pesimis kayak gua bisa jadi paranoia sih.” Tolay menjelaskan dengan antusias.

            Ceritanya Tolay adalah kehidupan seorang pesimis yang mengomentari orang-orang lain. Persis seperti OreGairu. Kalau mau lihat saja animenya. Aku sekalian promosi hehe.

Setelah itu ada beberapa cerita tentang cinta, tapi aku, dan kau mungkin sudah pernah melihatnya di drama atau FTV, jadi aku tak tulis lagi.

            Langit sudah semakin sore. Yang Alan ceritakan di awal adalah kebenaran. Kami memang akan libur. Karena itu, kami akhirnya memutuskan untuk pergi ke Dufan dan bersenang-senang. Kami semua sepakat, akan berangkat pada hari Senin minggu depan. Wahai kakak kelas, saatnya kami berbahagia diatas penderitaanmu.
        
    Hari yang ditunggu pun tiba. Kami janjian untuk ketemu di ITC Depok dekat stasiun agar tidak panas saat menunggu APA yang manusia karet. Lalu kami berangkat naik kereta dan turun di Stasiun Kota. Dari sana kami naik angkot ke Tanjung Priok dan turun di depan pintu gerbang ANCOL.

            Disana kami bersenang-senang. Kami taruhan mencoba wahana-wahana ekstrem. Aku dan Fajar dengan semangat melakukannya. Alan dan Fikri ciut. Mereka menyerah setelah naik Tornado. Kami makan dan minum dengan bayar sendiri-sendiri. Walaupun si Alan kebanyakan minta makanan dari yang lain. Dasar siAlan.

            Tentu saja, kami tidak melupakan cerpen kami. Bahkan ternyata Fikri sudah membawa print-out dari ceritanya. Tanpa banyak dialog dan hanya menceritakan garis besarnya. Tapi dia membuat beberapa revisi yang membuat ceritanya lebih baik. Dan Otong, yang kemarin ceritanya tidak kubaca, menceritakan suatu cerita baru yang lumayan menarik bertemakan Sci-Fi.

            “Udah jam 4 nih, balik yok.” dengan suara yang diberat-beratkan dan ekspresi yang serius, Sina bilang begitu. Kami pun pulang sambil bercanda. Kami kembali ke stasiun kota dan naik kereta ke stasiun depok. Semua terasa sangat nyaman. Aku meyakinkan diriku. Besok aku akan menyatakan cintaku pada Sari! Itu pikirku. Tapi Allah merencanakan yang lain.

            Ceritaku menjadi kenyataan. Kereta yang kami naiki menabrak sebuah truk minyak. Kami yang ada di gerbang depan panik. Tapi panik pun percuma, panas api mulai terasa. Luka bakar mulai terbentuk, orang-orang yang panik membahayakan orang panik lainnya. Aku melihat teman-temanku menangis. Hanya Fajar yang berdiri tenang sambil tersenyum padaku. Layaknya seorang tokoh di film action. Aku melihat Sina terinjak-injak. Miris. Tapi kalau aku memang akan mati, aku terima. Aku mati bahagia. Tapi aku selamat.

            Hanya aku yang selamat.

0 comments:

Posting Komentar

Hubungi kami :

Twitter : @APAksara

Email : apaksara3@gmail.com

HP : 085773226995

Instagram: kapas3.aksara

Twitter

Translator