Jumat, 28 Februari 2014

Tebak Aku Ini Apa




Dunia ini tampak begitu luas bagiku. Banyak tempat-tempat yang ingin ku kunjungi. Terutama tempat yang luas dan ada banyak benda-benda untuk ku panjati dan aku lompati. Tadi pagi aku pergi ke rumah yang ada pohon besar-besarnya. Aku suka pohon. Saat itu aku berusaha sekuat tenaga ku untuk memanjatnya tapi aku gak bisa. Memanjat pohon itu sangat sulit tapi aku suka. Berada diatas yang lain itu sungguh menyenangkan. Bagaikan penguasa daerah.

Aku berkelana lagi, mencari makan yang seadanya. Sebenarnya mudah bagiku mendapatkan makanan. Tinggal pasang wajah memelas lalu orang-orang akan memberiku makanan. Tapi tak sedikit yang malah menendang atau menyiramku. Sedih, tapi tak apa. Masih banyak yang mau memberiku makanan.

Contohnya saja perempuan yang satu itu. Wajahnya seram, seperti ada keinginan untuk menghancurkanku, tapi dia baik. Setiap hari dia menyediakan makan untuk ku. Kadang makanannya sisaan, tapi aku sudah biasa. Bahkan aku sering memakan yang jauh lebih buruk dari itu dulu. Karena rutin menyediakanku makan, setiap selesai bermain dengan yang lain aku datang ke rumahnya untuk menagih makanan. Saat aku makan, perempuan itu mengambil kesempatan untuk mengelus kepalaku. Aku tidak bisa mengelak karena aku lapar sekali. Elusannya masih sangat canggung dan ada rasa takut. Aku bisa merasakannya. Padahal sebenarnya aku suka diperlakukan seperti itu, tapi karena trauma masa lalu, aku jadi selalu was-was menghadapi sesuatu yang belum begitu kukenal.

Sejak saat itu aku jadi sering menginap di rumahnya. Keluarganya baik-baik, walau kadang aku dianggap pengganggu. Mereka aneh. Kalau aku meminta makanan ke mereka, mereka sering mengataiku pengganggu dan memarahiku. Tapi saat aku mau pergi, mereka malah datang padaku dan memberikanku makan. Apa lagi perempuan itu, dan neneknya. Ya, aku yakin itu neneknya. Neneknya jago masak. Aku lebih sering memelas ke neneknya, tapi neneknya lebih galak, walaupun tak segalak ibunya. Ibunya jarang memberiku makan, bahkan sisaannya saja tidak mau diberikan kepadaku. Malah ia mengancamku dengan sapu lidi. Aku takut dengan sapu lidi.

Bermula dari neneknya. Hari itu aku meminta makan kepadanya dengan sangat gigih, aku lapar sekali. Kemanapun nenek pergi akan selalu kuikuti, siapa tau ia mau memberiku makan. Ternyata nenek tidak memberikan apa-apa padaku, nenek mengabaikanku. Aku kesal dan meraih kakinya karena aku ingin nenek memperhatikanku dan mengasihaniku. Tapi nenek malah marah dan cepat-cepat pergi ke kamarnya. Aku dilarang masuk ke kamar mereka. Lalu saat nenek keluar, ia langsung mengibaskan sapu lidi kearahku. Wah! Pokoknya nyeremin deh! Ujung-ujung sapu lidi yang runcing itu seolah-olah akan menusuk tubuhku hingga berdarah-darah. Aku tidak mau tubuhku terluka. Aku takut. Aku kabur, lari sekencang-kencangnya. Sampai di ambang pintu kulihat nenek meletakan sapu lidi tersebut didekat dapur. Lalu yang lain jadi ikut-ikutan mengancamku seperti itu. Tapi perempuan itu tidak terlalu sering mengancamku seperti keluarganya yang lain. Kadang aku merasa lebih takut kalau perempuan itu yang marah padaku daripada nenek atau ibunya.

Suatu hari aku pernah membuatnya marah padaku. Dia melotot kearahku dan mencoba memukul kepalaku, aku selalu menghindarinya meskipun aku tau kalau pukulannya itu tak akan mengenaiku. Sudah kukatakan kalau perempuan itu sebenarnya suka padaku, jadi dia tak akan menyakitiku. Tapi sekali lagi, aku tidak mau membuatnya marah padaku. Soalnya aku juga suka padanya. Aku suka dengan cara dia memanggil namaku, mengelus kepalaku, membiarkanku tertidur di pangkuannya dan memberiku makanan enak. Walaupun perempuan itu sering mengganggu tidur siangku. Aku agak kesal juga. Setiap dia datang aku selalu mencoba untuk mengusirnya, “uwaah biarkan aku tidur dengan tenang! Pergi lah!” kataku. Tapi dia tetap datang dan malah duduk di sampingku. Dia bilang aku ini manja, aku pun bertanya “manja itu apa?” bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah mengelus-elus kepalaku lagi.

Tinggal bersama keluarga itu tidak ada yang membuatku bosan sedikit pun. Padahal aku ini tipe yang gampang bosan. Seperti halnya kemarin malam. Aku menemukan tempat bermain yang unik. Berdebu sih, tapi untuk menggapainya aku harus mencari cara untuk memanjat hingga sampai keatas. Hobiku memanjat dan memanjat tidak akan pernah membuatku bosan. Tempat itu berbentuk kotak, sudah tidak terpakai lagi. Awal aku menemukannya kotak itu masih tertutup. Aku mencoba untuk membukanya, ku dorong kotak itu lalu aku mencungkil-cungkil bagian bawahnya, akhirnya terbuka juga. Aku masuk kedalamnya, tiba-tiba saja kotak itu tertutup. Debu mengepul di depan wajahku. Gelap dan pengap juga. Aku mencari cara untuk keluar dari tempat itu, aku memukul kotak itu sampai akhirnya terbuka lagi. Unik kan? Untuk membuka kotak itu kita harus memukulnya terlebih dahulu. Tapi aku harus mencari tempat bermain yang lain soalnya tadi malam aku bermain lagi disana dan ketahuan oleh ibu perempuan itu. Ibu memarahiku, aku tidak suka dimarahi jadi aku harus mencari tempat bermain yang lain. Tapi tak apa. Sesuatu yang unik itu akan membosankan kalau dilakukan terus-menerus.

Selain itu di rumahnya aku menemukan banyak buruan. Sudah alamiah bagiku untuk memburu mereka. Aku senang malam hari! Di malam hari mereka banyak yang keluar dari sarangnya. Aku bisa mendengar setiap gerakan mereka. Saat mereka merayap di atap, di pipa-pipa saluran, dan bersembunyi di sela-sela dapur. Jumlah mereka sebenarnya banyak. Tapi sedikit sekali yang menampakan diri. Setiap malam aku selalu fokus memburu mereka, bahkan panggilan dari perempuan itu aku hiraukan. Aku pernah menangkap satu dari buruanku. Aku puas. Keluarga perempuan itu memujiku dan akhirnya mengizinkanku untuk menginap setiap malam di rumahnya.

Pagi ini tumben sekali perempuan itu datang ke kamar, memanggil-manggil namaku dan menemuiku. Itu adalah hal yang biasa, maksudku bukan itu yang membuatku heran tapi, saat itu ia datang sambil membawa makanan enak. Aku tidak tau apa namanya. Kalau tidak salah mereka menyebutnya dengan biskuit, atau biskuat. Pokoknya semacam itu. Rasanya enak, renyah dan lembut di mulut. Aku suka sekali makanan itu, walau sulit untuk memakannya. Kadang aku sampai kesal dan tidak mau memakannya lagi.

Perempuan itu punya dua saudara laki-laki. Dua-duanya aneh. Ah, mereka semua memang aneh menurutku. Yang satu orangnya seperti perempuan itu, dia suka padaku, maksudnya suka menjahiliku, tapi dia memang suka padaku. Aku sering dielus olehnya, kadang ia memberikan makanan juga. Berbeda dengan yang satu lagi. Orangnya menyebalkan, kerjaannya hanya membuatku lelah. Ia mengerjaiku terus tapi tidak memberiku makan dan suka sekali pada perutku. Harusnya dia mengerti kalau aku tidak suka ada orang yang menyentuh perutku.

Tadi saudaranya yang menyebalkan itu menjahiliku lagi, tapi aku tidak tertipu. Ia menggelindingkan botol di depan ku, dia pikir aku tertarik. Aku memang tertarik–tapi tidak juga. Aku bosan melihat yang seperti itu, lebih baik aku menggaruk badanku yang gatal saja. Dia tampak kesal padaku dan aku bisa mengetahui bahwa perempuan itu sedang senang. Ia memanggil-manggil namaku, awalnya ku perhatikan tapi lama kelamaan aku hiraukan juga. Aku tidak suka melihat wajahnya.

Bukan berarti dia sejahat itu sih. Dia masih mau memberiku makanan, walaupun hampir setiap caranya memberiku makan suka menyebalkan. Dia memberiku bola daging yang enaknya sampai bikin ketagihan. Dia menggelindingkan bola itu, aku mengerjarnya. Ku akui, aku menikmati hal itu. Aku menangkapnya dan melahapnya dengan cepat, supaya bola daging yang enak itu tidak pergi kemana-mana lagi.

Tak sadar kalau ternyata aku sudah lama tinggal dengan mereka. Kumisku tumbuh sampai sepanjang ini, bahkan jenggot juga ada. Jadi mirip sekali dengan saudaranya yang menyebalkan itu. Aku tidak suka disama-samakan dengannya, perempuan itu menyamaiku dengan saudaranya itu dan kambing. Padahal menurutku kumis dan jenggot ini keren. Ah tapi kalau melihat wajah saudaranya itu sama sekali tidak keren. Jenggot kambing juga masih kalah keren dari jenggotku.

Rumah keluarga ini hangat, tapi aku tau aku tidak bisa selamanya berada disini.  Aku sadar jauh sebelum mereka menemukanku terbatuk-batuk di halaman. Mereka membawaku ke tempat yang baunya menyenangkan bagiku, tapi tempat itu sangat asing. Saat ini aku masih terbatuk-batuk dan tiba-tiba saja aku merasa ada sesuatu yang tajam menusuk tubuhku. Aku berteriak, sumpah sakit sekali. Aku tidak menyukainya. Tubuhku langsung lemas. Tak lama mereka membawaku ke rumah. Apa sih maksud tusukan tadi? Yah, setelah itu aku memang merasa agak lebih baik.

Mereka bilang, aku dan teman-temanku itu punya nyawa sampai sembilan. Jangan konyol. Kalau memang iya kenapa beberapa minggu yang lalu aku melihat temanku terlindas dan tetap mati? Harusnya temanku itu hidup lagi dan saat ini masih bermain dengan ku. Ah, aku tau mereka hanya bergurau. Gurauan mereka tidak bisa menghiburku yang sedang berbaring lemah di halaman rumahnya ini sedikit pun. Aku tau aku tidak bisa tinggal di rumah ini bersama dengan keluarga perempuan itu selamanya. Aku tau. Aku sama sekali tidak menyesal bisa hidup bersama mereka. Aku bahkan–ah aku bisa mendengar suaranya memanggil-manggil namaku. Maaf, aku tidak kuat berdiri lagi. Aku pun memejamkan mataku.

Aku baru ingat kalau mereka memberiku nama Siti. Heheh, nama yang aneh.

0 comments:

Posting Komentar

Hubungi kami :

Twitter : @APAksara

Email : apaksara3@gmail.com

HP : 085773226995

Instagram: kapas3.aksara

Twitter

Translator