Dunia ini
tampak begitu luas bagiku. Banyak tempat-tempat yang ingin ku kunjungi.
Terutama tempat yang luas dan ada banyak benda-benda untuk ku panjati dan aku
lompati. Tadi pagi aku pergi ke rumah yang ada pohon besar-besarnya. Aku suka
pohon. Saat itu aku berusaha sekuat tenaga ku untuk memanjatnya tapi aku gak
bisa. Memanjat pohon itu sangat sulit tapi aku suka. Berada diatas yang lain
itu sungguh menyenangkan. Bagaikan penguasa daerah.
Aku berkelana lagi, mencari makan yang seadanya. Sebenarnya mudah bagiku mendapatkan makanan. Tinggal pasang wajah memelas lalu orang-orang akan memberiku makanan. Tapi tak sedikit yang malah menendang atau menyiramku. Sedih, tapi tak apa. Masih banyak yang mau memberiku makanan.
Contohnya saja
perempuan yang satu itu. Wajahnya seram, seperti ada keinginan untuk
menghancurkanku, tapi dia baik. Setiap hari dia menyediakan makan untuk ku.
Kadang makanannya sisaan, tapi aku sudah biasa. Bahkan aku sering memakan yang
jauh lebih buruk dari itu dulu. Karena rutin menyediakanku makan, setiap
selesai bermain dengan yang lain aku datang ke rumahnya untuk menagih makanan.
Saat aku makan, perempuan itu mengambil kesempatan untuk mengelus kepalaku. Aku
tidak bisa mengelak karena aku lapar sekali. Elusannya masih sangat canggung dan
ada rasa takut. Aku bisa merasakannya. Padahal sebenarnya aku suka diperlakukan
seperti itu, tapi karena trauma masa lalu, aku jadi selalu was-was menghadapi
sesuatu yang belum begitu kukenal.
Sejak saat itu
aku jadi sering menginap di rumahnya. Keluarganya baik-baik, walau kadang aku
dianggap pengganggu. Mereka aneh. Kalau aku meminta makanan ke mereka, mereka
sering mengataiku pengganggu dan memarahiku. Tapi saat aku mau pergi, mereka
malah datang padaku dan memberikanku makan. Apa lagi perempuan itu, dan
neneknya. Ya, aku yakin itu neneknya. Neneknya jago masak. Aku lebih sering
memelas ke neneknya, tapi neneknya lebih galak, walaupun tak segalak ibunya.
Ibunya jarang memberiku makan, bahkan sisaannya saja tidak mau diberikan
kepadaku. Malah ia mengancamku dengan sapu lidi. Aku takut dengan sapu lidi.
Bermula dari
neneknya. Hari itu aku meminta makan kepadanya dengan sangat gigih, aku lapar
sekali. Kemanapun nenek pergi akan selalu kuikuti, siapa tau ia mau memberiku
makan. Ternyata nenek tidak memberikan apa-apa padaku, nenek mengabaikanku. Aku
kesal dan meraih kakinya karena aku ingin nenek memperhatikanku dan
mengasihaniku. Tapi nenek malah marah dan cepat-cepat pergi ke kamarnya. Aku
dilarang masuk ke kamar mereka. Lalu saat nenek keluar, ia langsung mengibaskan
sapu lidi kearahku. Wah! Pokoknya nyeremin deh! Ujung-ujung sapu lidi yang
runcing itu seolah-olah akan menusuk tubuhku hingga berdarah-darah. Aku tidak
mau tubuhku terluka. Aku takut. Aku kabur, lari sekencang-kencangnya. Sampai di
ambang pintu kulihat nenek meletakan sapu lidi tersebut didekat dapur. Lalu
yang lain jadi ikut-ikutan mengancamku seperti itu. Tapi perempuan itu tidak
terlalu sering mengancamku seperti keluarganya yang lain. Kadang aku merasa
lebih takut kalau perempuan itu yang marah padaku daripada nenek atau ibunya.
Suatu hari aku
pernah membuatnya marah padaku. Dia melotot kearahku dan mencoba memukul
kepalaku, aku selalu menghindarinya meskipun aku tau kalau pukulannya itu tak
akan mengenaiku. Sudah kukatakan kalau perempuan itu sebenarnya suka padaku,
jadi dia tak akan menyakitiku. Tapi sekali lagi, aku tidak mau membuatnya marah
padaku. Soalnya aku juga suka padanya. Aku suka dengan cara dia memanggil
namaku, mengelus kepalaku, membiarkanku tertidur di pangkuannya dan memberiku
makanan enak. Walaupun perempuan itu sering mengganggu tidur siangku. Aku agak
kesal juga. Setiap dia datang aku selalu mencoba untuk mengusirnya, “uwaah
biarkan aku tidur dengan tenang! Pergi lah!” kataku. Tapi dia tetap datang dan
malah duduk di sampingku. Dia bilang aku ini manja, aku pun bertanya “manja itu
apa?” bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah mengelus-elus kepalaku lagi.
Tinggal
bersama keluarga itu tidak ada yang membuatku bosan sedikit pun. Padahal aku
ini tipe yang gampang bosan. Seperti halnya kemarin malam. Aku menemukan tempat
bermain yang unik. Berdebu sih, tapi untuk menggapainya aku harus mencari cara
untuk memanjat hingga sampai keatas. Hobiku memanjat dan memanjat tidak akan
pernah membuatku bosan. Tempat itu berbentuk kotak, sudah tidak terpakai lagi.
Awal aku menemukannya kotak itu masih tertutup. Aku mencoba untuk membukanya,
ku dorong kotak itu lalu aku mencungkil-cungkil bagian bawahnya, akhirnya
terbuka juga. Aku masuk kedalamnya, tiba-tiba saja kotak itu tertutup. Debu
mengepul di depan wajahku. Gelap dan pengap juga. Aku mencari cara untuk keluar
dari tempat itu, aku memukul kotak itu sampai akhirnya terbuka lagi. Unik kan?
Untuk membuka kotak itu kita harus memukulnya terlebih dahulu. Tapi aku harus
mencari tempat bermain yang lain soalnya tadi malam aku bermain lagi disana dan
ketahuan oleh ibu perempuan itu. Ibu memarahiku, aku tidak suka dimarahi jadi
aku harus mencari tempat bermain yang lain. Tapi tak apa. Sesuatu yang unik itu
akan membosankan kalau dilakukan terus-menerus.
Selain itu di
rumahnya aku menemukan banyak buruan. Sudah alamiah bagiku untuk memburu
mereka. Aku senang malam hari! Di malam hari mereka banyak yang keluar dari
sarangnya. Aku bisa mendengar setiap gerakan mereka. Saat mereka merayap di
atap, di pipa-pipa saluran, dan bersembunyi di sela-sela dapur. Jumlah mereka
sebenarnya banyak. Tapi sedikit sekali yang menampakan diri. Setiap malam aku
selalu fokus memburu mereka, bahkan panggilan dari perempuan itu aku hiraukan. Aku
pernah menangkap satu dari buruanku. Aku puas. Keluarga perempuan itu memujiku
dan akhirnya mengizinkanku untuk menginap setiap malam di rumahnya.
Pagi ini
tumben sekali perempuan itu datang ke kamar, memanggil-manggil namaku dan
menemuiku. Itu adalah hal yang biasa, maksudku bukan itu yang membuatku heran
tapi, saat itu ia datang sambil membawa makanan enak. Aku tidak tau apa
namanya. Kalau tidak salah mereka menyebutnya dengan biskuit, atau biskuat. Pokoknya
semacam itu. Rasanya enak, renyah dan lembut di mulut. Aku suka sekali makanan
itu, walau sulit untuk memakannya. Kadang aku sampai kesal dan tidak mau
memakannya lagi.
Perempuan itu
punya dua saudara laki-laki. Dua-duanya aneh. Ah, mereka semua memang aneh
menurutku. Yang satu orangnya seperti perempuan itu, dia suka padaku, maksudnya
suka menjahiliku, tapi dia memang suka padaku. Aku sering dielus olehnya,
kadang ia memberikan makanan juga. Berbeda dengan yang satu lagi. Orangnya menyebalkan,
kerjaannya hanya membuatku lelah. Ia mengerjaiku terus tapi tidak memberiku
makan dan suka sekali pada perutku. Harusnya dia mengerti kalau aku tidak suka
ada orang yang menyentuh perutku.
Tadi saudaranya
yang menyebalkan itu menjahiliku lagi, tapi aku tidak tertipu. Ia menggelindingkan
botol di depan ku, dia pikir aku tertarik. Aku memang tertarik–tapi tidak juga.
Aku bosan melihat yang seperti itu, lebih baik aku menggaruk badanku yang gatal
saja. Dia tampak kesal padaku dan aku bisa mengetahui bahwa perempuan itu
sedang senang. Ia memanggil-manggil namaku, awalnya ku perhatikan tapi lama
kelamaan aku hiraukan juga. Aku tidak suka melihat wajahnya.
Bukan berarti dia sejahat itu sih. Dia masih mau memberiku makanan, walaupun hampir setiap caranya memberiku makan suka menyebalkan. Dia memberiku bola daging yang enaknya sampai bikin ketagihan. Dia menggelindingkan bola itu, aku mengerjarnya. Ku akui, aku menikmati hal itu. Aku menangkapnya dan melahapnya dengan cepat, supaya bola daging yang enak itu tidak pergi kemana-mana lagi.
Bukan berarti dia sejahat itu sih. Dia masih mau memberiku makanan, walaupun hampir setiap caranya memberiku makan suka menyebalkan. Dia memberiku bola daging yang enaknya sampai bikin ketagihan. Dia menggelindingkan bola itu, aku mengerjarnya. Ku akui, aku menikmati hal itu. Aku menangkapnya dan melahapnya dengan cepat, supaya bola daging yang enak itu tidak pergi kemana-mana lagi.
Tak sadar
kalau ternyata aku sudah lama tinggal dengan mereka. Kumisku tumbuh sampai
sepanjang ini, bahkan jenggot juga ada. Jadi mirip sekali dengan saudaranya
yang menyebalkan itu. Aku tidak suka disama-samakan dengannya, perempuan itu
menyamaiku dengan saudaranya itu dan kambing. Padahal menurutku kumis dan
jenggot ini keren. Ah tapi kalau melihat wajah saudaranya itu sama sekali tidak
keren. Jenggot kambing juga masih kalah keren dari jenggotku.
Rumah keluarga
ini hangat, tapi aku tau aku tidak bisa selamanya berada disini. Aku sadar jauh sebelum mereka menemukanku
terbatuk-batuk di halaman. Mereka membawaku ke tempat yang baunya menyenangkan
bagiku, tapi tempat itu sangat asing. Saat ini aku masih terbatuk-batuk dan
tiba-tiba saja aku merasa ada sesuatu yang tajam menusuk tubuhku. Aku berteriak,
sumpah sakit sekali. Aku tidak menyukainya. Tubuhku langsung lemas. Tak lama
mereka membawaku ke rumah. Apa sih maksud tusukan tadi? Yah, setelah itu aku memang
merasa agak lebih baik.
Mereka bilang,
aku dan teman-temanku itu punya nyawa sampai sembilan. Jangan konyol. Kalau memang
iya kenapa beberapa minggu yang lalu aku melihat temanku terlindas dan tetap
mati? Harusnya temanku itu hidup lagi dan saat ini masih bermain dengan ku. Ah,
aku tau mereka hanya bergurau. Gurauan mereka tidak bisa menghiburku yang
sedang berbaring lemah di halaman rumahnya ini sedikit pun. Aku tau aku tidak
bisa tinggal di rumah ini bersama dengan keluarga perempuan itu selamanya. Aku tau.
Aku sama sekali tidak menyesal bisa hidup bersama mereka. Aku bahkan–ah aku
bisa mendengar suaranya memanggil-manggil namaku. Maaf, aku tidak kuat berdiri
lagi. Aku pun memejamkan mataku.
0 comments:
Posting Komentar