Jumat, 28 Februari 2014

Bersama, Menjadi Lebih Kuat


“Huaaa.!!! Mamaaa..” Tangisan Raka terdengar sangat melengking di telinga. Bila kau mendengarnya, kau akan merasa gendang telingamu hampir pecah.
“Hai! Kenapa kamu menangis seperti anak perempuan?” tanya Bayu yang tiba-tiba saja datang dengan menutup kedua telinganya. Dengan .sekejap Raka menghentikan tangisannya. “Kenapa kamu menyebutku seperti anak perempuan?” jawab Raka.
“Ibuku bilang, hanya anak perempuan yang menangis sepertimu tadi. Maksud ibuku, anak laki-laki boleh menangis saat bersedih tapi tidak sepertimu tadi. Anak laki-laki yang tangguh menangis dalam kesunyian. Menangispun bila memang ada yang harus ditangisi. Bukannya seperti anak manja, seperti yang baru saja kamu lakukan.”
“Begitu kah?” jawab Raka sembari membasuh air mata dipipinya dengan punggung tangan kanannya. “Aku tidak menangis seperti yang kamu bicarakan.” Lanjutnya membela diri.
“Itu menurutmu. Tapi kenapa kamu menangis?”
“Tadi aku didorong oleh Bimbim dan teman-temannya. Lihat! Lututku berdarah. Rasanya sakit dan sepertinya sulit bagiku untuk berdiri.”
“Oh, itu sepertinya memang sakit. Kenalkan, aku Bayu. Ayo! Aku bantu kamu pulang. Dimana rumah kamu?” tanya Bayu sambil mengulurkan tangannya. Mencoba membantu Raka berdiri dan berjalan. Mereka berhasil.
“ Aku Raka. Dan rumahku yang berwarna biru dengan pagar hitam disana.” Jawab Raka sambil menunjuk rumah yang dimaksud.
“Itu tidak terlalu jauh. Aku harap kamu mau menahan rasa sakitmu sebentar.”
“Akan aku coba.”
Mereka pun berjalan ke rumah Raka yang berjarak hampir 20 meter dari tempat mereka bertemu. Begitulah pertemuan pertama mereka. Pertemuan yang mengantarkan mereka pada pertemanan. Hari-hari berikutnya, mereka tetap bermain bersama.

†††

Siang itu, mereka kembali bermain di taman yang sunyi. Taman yang terlihat mati tanpa terdengar suara tawa anak-anak. Bayu dan Raka bermain dengan mobil mainan yang mereka buat sendiri dari ranting-ranting kayu dan bekas tutup botol. Mereka hendak mencatrnya dengan sedikit cat bekas yang dimiliki orang tua Bayu. Dibawanya cat-cat itu dengan gerobak kecil yang juga kepunyaan orang tua Bayu.
“Hey! Lihat itu.” Kata Bayu tiba-tiba, menunjuk ke arah seseorang yang dikelilingi oleh Bimbim dan teman-temannya. Mereka hanya sebentar disana. Meninggalkan anak itu setelah berhasil merebut permen lolipopnya. Anak perempuan itu hanya memandangi punggung Bimbim, yang berlalu di depannya, dengan wajah sedikit kesal. Tanpa tangisan. Kemudian dia menatap Raka dan Bayu yang sedari tadi memperhatikannya. Lalu berjalan ke arah mereka karena merasa risih atas perlakuan mereka.
“Kenapa kalian menatapku seperti itu?” tanyanya.
“Bagaimana kamu bisa tidak menangis saat Bimbim dan teman-temannya mengganggumu?” Raka balik bertanya.
“Ibuku mengajariku untuk tidak menjadi manja. Dan, dia juga bilang kalau aku harus membagi makananku.”
“Lihat? Bahkan anak perempuan tidak manja seperti kamu!” Goda Bayu pada Raka.
“Diamlah! Aku sedang mencoba untuk tidak menjadi anak manja. Kamu tahu itu.” Bantah Raka. “Dan aku sedang menunggunya menjadi kenyataan.” Balas Raka.
“Ngomong-ngomong, aku Milli. Aku baru pindah ke sekitar sini sejak kemarin malam.” Kata Milli tiba-tiba. “Aku Raka. Dan ini temanku Bayu.”
“Hai!” kata Bayu sambil tersenyum. Milli membalas senyumnya. Kemudian pandangannya tertuju pada kaleng-kaleng cat yang berada dibelakang Raka. “Oh,” jawab Bayu. Matanya mengikuti pandangan Milli. “Kami sedang mencat mobil buatan kami.” Lanjutnya.
“Itu bagus.” Puji Milli. “Tapi, bukankah kamu seharusnya mencat mobilmu, bukan sepatumu.” Katanya sambil memandang sepatu Raka yang memang telah penuh oleh cat. Raka tertawa kecil. “I-ini hanya... Tadi tidak sengaja terkena cat. Sungguh!” jawab Raka berusaha meyakinkan. Jelas-jelas sepatu itu sengaja ia cat karena ia merasa sepatunya kurang berwarna. Tapi apa daya, ia hanya boca berumur delapan tahun yang tidak ingin ditertawakan teman-temannya karena tingkah bodohnya itu.
“Baiklah. Aku akan mempercayainya.” Jawab Milli sedikit tertawa. “Oh, iya. Apa kalian juga pernah diganggu oleh anak-anak tadi?”
“Aku pernah. Tapi sepertinya dia belum.” Jawab Raka sambil melirik Bayu.
“Aku dan beberapa temanku sering diganggunya.” Kata seorang anak perempuan yang tiba-tiba saja muncul dari balik seluncuran. “Namaku Tiara.” Katanya kemudian.
“Hai, Tiara.” Sahut Bayu.
“Sepertinya kita harus membalas perbuatan mereka, agar mereka jera.” Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Milli. Anak perempuan itu lebih berani dari yang Raka dan Bayu bayangkan. Itu bisa dilihat, ketika keduanya hanya bisa ternganga mendengar ide gila Milli. “Kita?” tanya Tiara yang juga tidak percaya pada ucapan Milli.
“Ya. Kenapa? Kalian takut?”
“Kamu tahu sendiri dia punya teman-teman yang selalu dijadikan budaknya. Ditambah tubuh mereka lebih besar dibanding kita. Bagaimana kita bisa melawannya?” sahut Raka.
“Bukankah, kamu bilang teman-temanmu juga pernah diganggu Bimbim dan teman-temannya? Kumpulkan mereka semua dan kita akan punya cukup kekuatan untuk melawan Bimbim dan teman-temannya.” Kata Milli pada Tiara.
“Apa kau yakin?” tanya Tiara.
“Kita harus yakin.” Jawab Tiara tegas. Membakar semangat Tiara untuk bangkin. Dan sore itu, ia mulai mengumpulkan teman-temannya, dan bersama-sama menyusun rencana untuk membalas perbuatan Bimbim.

†††

Keesokan harinya, mereka melaksanakan rencananya yang sudah disepakati.
Dengan menjilati sebatang lolipop, Bayu berjalan sendirian, menunggu Bimbim datang. Dan benar saja. Tidak lama Bayu berjalan di sekitar taman, Bayu melihat Bimbim dan teman-temannya berjalan, hendak menghadang Bayu.
“Halo sobat!” sapa Bimbim dengan senyum jahatnya. “Apa itu yang kau pegang? Tidakkah kau ingin membaginya dengan kami? Atau kau ingin gigimu berlubang karena terlalu banyak memakan permen yang manis?” lanjutnya. Katakan itu pada dirimu sendiri! Katakan itu saat kau mencuri permen teman-temanku! Batin Bayu sambil memicingkan matanya kesal.
“Hey, hey! Apa yang terjadi dengan matamu? Apa kau kelilipan? Atau kau minta dihajar ya?” kata Ciko, salah seorang teman Bimbim.
“Tidak. Aku tidak akan memberikan permenku padamu. Dan aku tidak takut pada kalian!” jawab Bayu tegas.
“Jadi kau ingin melawanku?” kata Bimbim geram.
“Tidak! Bukan hanya Bayu yang akan melawanmu. Tapi kami semua.” Sahut Raka yang tiba-tiba keluar dari tempat persembunyiannya, disusul dengan keluarnya anak-anak yang lain. Ada sekitar sepuluh anak di sana. Masing-masing dari mereka menggenggam sesuatu yang seperti tanah. Bimbim dan teman-temannya terlihat sangat ketakutan dengan anak-anak itu. Ia bahkan mundur selangkah saat melihat jumlah mereka yang kian membanyak.
“Jadi, kalian ingin melawanku?” tanya Bimbim. Dan suaranya bergetar karna takut.
“YAA!!” jawab anak-anak itu kompak.
Tepat saat Bimbim dan teman-temannya berbalik, Bayu berkomando, “SERAANG!” Dilemparnya Bimbim dengan lumpur-lumpur yang sudah mereka persiapkan sebelumnya. Dikejarnya Bimbim hingga semua lumpur habis. Bimbim terus berlari dan tidak pernah sedikitpun berhenti hingga dia masuk ke salah satu rumah. Rumahnya. Sedangkan teman-temannya berpencar. Mungkin mereka juga sudah pulang ke rumah masing-masing. Dengan pakaian yang kotor.
Bayu dan teman-temannya berhenti sejenak ketika melihat Bimbim melewati pagar rumahnya. Dari tempat mereka berdiri terdengar suara seorang wanita berteriak, “Ya ampun! Bagaimana bisa kau kotor seperti ini, hah?”
Dengan sigap Milli memberi aba-aba kepada teman-temannya untuk bersembunyi, di balik pohon atau yang lainnya. “Cepat sembunyi!” katanya. Mereka pun kesana kemari mencari tempat yang aman. Dan bernar saja, tak lama setelahnya, dari rumah Bimbim keluar seorang wanita yang terlihat memeriksa jalanan. Mungin Bimbim menceritakan kejadian sebenarnya pada ibunya. Bahwa ada sekelompok anak yang menyerangnya dengan lumpur. Tapi bocah malang itu tak pernah punya bukti, karena ibunya tak melihat seorangpun di jalan itu. Hanya jejak lumpur yang ia kira berasal dari sepatu Bimbim.

Sejak saat itu, taman menjadi ramai dan kemabali penuh keceriaan, karena Bimbim tak pernah mengganggu anak-anak lain. Bahkan Raka sudah jarang melihat Bimbim dan teman-temannya bermain di sekitar taman. Pernah terlintas rasa bersalah dibenak Bayu, karena seharusnya ia menikmati fasilitas di taman. Tapi mungkin Bimbim terlalu takut pergi ke sana. Setidaknya ia mempunyai teman-teman yang setia, yang selalu dipihaknya.

0 comments:

Posting Komentar

Hubungi kami :

Twitter : @APAksara

Email : apaksara3@gmail.com

HP : 085773226995

Instagram: kapas3.aksara

Twitter

Translator