“Huaaa.!!!
Mamaaa..” Tangisan Raka terdengar sangat melengking di telinga. Bila kau
mendengarnya, kau akan merasa gendang telingamu hampir pecah.
“Hai!
Kenapa kamu menangis seperti anak perempuan?” tanya Bayu yang tiba-tiba saja
datang dengan menutup kedua telinganya. Dengan .sekejap Raka menghentikan
tangisannya. “Kenapa kamu menyebutku seperti anak perempuan?” jawab Raka.
“Ibuku
bilang, hanya anak perempuan yang menangis sepertimu tadi. Maksud ibuku, anak
laki-laki boleh menangis saat bersedih tapi tidak sepertimu tadi. Anak
laki-laki yang tangguh menangis dalam kesunyian. Menangispun bila memang ada
yang harus ditangisi. Bukannya seperti anak manja, seperti yang baru saja kamu
lakukan.”
“Begitu
kah?” jawab Raka sembari membasuh air mata dipipinya dengan punggung tangan
kanannya. “Aku tidak menangis seperti yang kamu bicarakan.” Lanjutnya membela
diri.
“Itu
menurutmu. Tapi kenapa kamu menangis?”
“Tadi
aku didorong oleh Bimbim dan teman-temannya. Lihat! Lututku berdarah. Rasanya
sakit dan sepertinya sulit bagiku untuk berdiri.”
“Oh,
itu sepertinya memang sakit. Kenalkan, aku Bayu. Ayo! Aku bantu kamu pulang.
Dimana rumah kamu?” tanya Bayu sambil mengulurkan tangannya. Mencoba membantu
Raka berdiri dan berjalan. Mereka berhasil.
“
Aku Raka. Dan rumahku yang berwarna biru dengan pagar hitam disana.” Jawab Raka
sambil menunjuk rumah yang dimaksud.
“Itu
tidak terlalu jauh. Aku harap kamu mau menahan rasa sakitmu sebentar.”
“Akan
aku coba.”
Mereka
pun berjalan ke rumah Raka yang berjarak hampir 20 meter dari tempat mereka
bertemu. Begitulah pertemuan pertama mereka. Pertemuan yang mengantarkan mereka
pada pertemanan. Hari-hari berikutnya, mereka tetap bermain bersama.
Siang
itu, mereka kembali bermain di taman yang sunyi. Taman yang terlihat mati tanpa
terdengar suara tawa anak-anak. Bayu dan Raka bermain dengan mobil mainan yang
mereka buat sendiri dari ranting-ranting kayu dan bekas tutup botol. Mereka
hendak mencatrnya dengan sedikit cat bekas yang dimiliki orang tua Bayu. Dibawanya
cat-cat itu dengan gerobak kecil yang juga kepunyaan orang tua Bayu.
“Hey!
Lihat itu.” Kata Bayu tiba-tiba, menunjuk ke arah seseorang yang dikelilingi
oleh Bimbim dan teman-temannya. Mereka hanya sebentar disana. Meninggalkan anak
itu setelah berhasil merebut permen lolipopnya. Anak perempuan itu hanya
memandangi punggung Bimbim, yang berlalu di depannya, dengan wajah sedikit
kesal. Tanpa tangisan. Kemudian dia menatap Raka dan Bayu yang sedari tadi
memperhatikannya. Lalu berjalan ke arah mereka karena merasa risih atas
perlakuan mereka.
“Kenapa
kalian menatapku seperti itu?” tanyanya.
“Bagaimana
kamu bisa tidak menangis saat Bimbim dan teman-temannya mengganggumu?” Raka
balik bertanya.
“Ibuku
mengajariku untuk tidak menjadi manja. Dan, dia juga bilang kalau aku harus
membagi makananku.”
“Lihat?
Bahkan anak perempuan tidak manja seperti kamu!” Goda Bayu pada Raka.
“Diamlah!
Aku sedang mencoba untuk tidak menjadi anak manja. Kamu tahu itu.” Bantah Raka.
“Dan aku sedang menunggunya menjadi kenyataan.” Balas Raka.
“Ngomong-ngomong,
aku Milli. Aku baru pindah ke sekitar sini sejak kemarin malam.” Kata Milli
tiba-tiba. “Aku Raka. Dan ini temanku Bayu.”
“Hai!”
kata Bayu sambil tersenyum. Milli membalas senyumnya. Kemudian pandangannya
tertuju pada kaleng-kaleng cat yang berada dibelakang Raka. “Oh,” jawab Bayu.
Matanya mengikuti pandangan Milli. “Kami sedang mencat mobil buatan kami.”
Lanjutnya.
“Itu
bagus.” Puji Milli. “Tapi, bukankah kamu seharusnya mencat mobilmu, bukan
sepatumu.” Katanya sambil memandang sepatu Raka yang memang telah penuh oleh
cat. Raka tertawa kecil. “I-ini hanya... Tadi tidak sengaja terkena cat.
Sungguh!” jawab Raka berusaha meyakinkan. Jelas-jelas sepatu itu sengaja ia cat
karena ia merasa sepatunya kurang berwarna. Tapi apa daya, ia hanya boca
berumur delapan tahun yang tidak ingin ditertawakan teman-temannya karena
tingkah bodohnya itu.
“Baiklah.
Aku akan mempercayainya.” Jawab Milli sedikit tertawa. “Oh, iya. Apa kalian
juga pernah diganggu oleh anak-anak tadi?”
“Aku
pernah. Tapi sepertinya dia belum.” Jawab Raka sambil melirik Bayu.
“Aku
dan beberapa temanku sering diganggunya.” Kata seorang anak perempuan yang
tiba-tiba saja muncul dari balik seluncuran. “Namaku Tiara.” Katanya kemudian.
“Hai,
Tiara.” Sahut Bayu.
“Sepertinya
kita harus membalas perbuatan mereka, agar mereka jera.” Kata-kata itu keluar
begitu saja dari mulut Milli. Anak perempuan itu lebih berani dari yang Raka dan
Bayu bayangkan. Itu bisa dilihat, ketika keduanya hanya bisa ternganga
mendengar ide gila Milli. “Kita?” tanya Tiara yang juga tidak percaya pada
ucapan Milli.
“Ya.
Kenapa? Kalian takut?”
“Kamu
tahu sendiri dia punya teman-teman yang selalu dijadikan budaknya. Ditambah
tubuh mereka lebih besar dibanding kita. Bagaimana kita bisa melawannya?” sahut
Raka.
“Bukankah,
kamu bilang teman-temanmu juga pernah diganggu Bimbim dan teman-temannya?
Kumpulkan mereka semua dan kita akan punya cukup kekuatan untuk melawan Bimbim
dan teman-temannya.” Kata Milli pada Tiara.
“Apa
kau yakin?” tanya Tiara.
“Kita
harus yakin.” Jawab Tiara tegas. Membakar semangat Tiara untuk bangkin. Dan
sore itu, ia mulai mengumpulkan teman-temannya, dan bersama-sama menyusun
rencana untuk membalas perbuatan Bimbim.
Keesokan
harinya, mereka melaksanakan rencananya yang sudah disepakati.
Dengan
menjilati sebatang lolipop, Bayu berjalan sendirian, menunggu Bimbim datang.
Dan benar saja. Tidak lama Bayu berjalan di sekitar taman, Bayu melihat Bimbim
dan teman-temannya berjalan, hendak menghadang Bayu.
“Halo
sobat!” sapa Bimbim dengan senyum jahatnya. “Apa itu yang kau pegang? Tidakkah
kau ingin membaginya dengan kami? Atau kau ingin gigimu berlubang karena
terlalu banyak memakan permen yang manis?” lanjutnya. Katakan itu pada dirimu sendiri! Katakan itu saat kau mencuri permen
teman-temanku! Batin Bayu sambil memicingkan matanya kesal.
“Hey,
hey! Apa yang terjadi dengan matamu? Apa kau kelilipan? Atau kau minta dihajar
ya?” kata Ciko, salah seorang teman Bimbim.
“Tidak.
Aku tidak akan memberikan permenku padamu. Dan aku tidak takut pada kalian!”
jawab Bayu tegas.
“Jadi
kau ingin melawanku?” kata Bimbim geram.
“Tidak!
Bukan hanya Bayu yang akan melawanmu. Tapi kami semua.” Sahut Raka yang
tiba-tiba keluar dari tempat persembunyiannya, disusul dengan keluarnya
anak-anak yang lain. Ada sekitar sepuluh anak di sana. Masing-masing dari
mereka menggenggam sesuatu yang seperti tanah. Bimbim dan teman-temannya
terlihat sangat ketakutan dengan anak-anak itu. Ia bahkan mundur selangkah saat
melihat jumlah mereka yang kian membanyak.
“Jadi,
kalian ingin melawanku?” tanya Bimbim. Dan suaranya bergetar karna takut.
“YAA!!”
jawab anak-anak itu kompak.
Tepat
saat Bimbim dan teman-temannya berbalik, Bayu berkomando, “SERAANG!”
Dilemparnya Bimbim dengan lumpur-lumpur yang sudah mereka persiapkan
sebelumnya. Dikejarnya Bimbim hingga semua lumpur habis. Bimbim terus berlari
dan tidak pernah sedikitpun berhenti hingga dia masuk ke salah satu rumah.
Rumahnya. Sedangkan teman-temannya berpencar. Mungkin mereka juga sudah pulang
ke rumah masing-masing. Dengan pakaian yang kotor.
Bayu
dan teman-temannya berhenti sejenak ketika melihat Bimbim melewati pagar
rumahnya. Dari tempat mereka berdiri terdengar suara seorang wanita berteriak,
“Ya ampun! Bagaimana bisa kau kotor seperti ini, hah?”
Dengan
sigap Milli memberi aba-aba kepada teman-temannya untuk bersembunyi, di balik
pohon atau yang lainnya. “Cepat sembunyi!” katanya. Mereka pun kesana kemari
mencari tempat yang aman. Dan bernar saja, tak lama setelahnya, dari rumah
Bimbim keluar seorang wanita yang terlihat memeriksa jalanan. Mungin Bimbim
menceritakan kejadian sebenarnya pada ibunya. Bahwa ada sekelompok anak yang
menyerangnya dengan lumpur. Tapi bocah malang itu tak pernah punya bukti,
karena ibunya tak melihat seorangpun di jalan itu. Hanya jejak lumpur yang ia
kira berasal dari sepatu Bimbim.
Sejak
saat itu, taman menjadi ramai dan kemabali penuh keceriaan, karena Bimbim tak
pernah mengganggu anak-anak lain. Bahkan Raka sudah jarang melihat Bimbim dan
teman-temannya bermain di sekitar taman. Pernah terlintas rasa bersalah dibenak
Bayu, karena seharusnya ia menikmati fasilitas di taman. Tapi mungkin Bimbim
terlalu takut pergi ke sana. Setidaknya ia mempunyai teman-teman yang setia,
yang selalu dipihaknya.
0 comments:
Posting Komentar