Jumat, 28 Februari 2014

Pengagum Rahasia


Pagi yang cukup cerah untuk Viola. Mentari seakan tersenyum menemani senyum Viola yang mengembang karena bersemangat berangkat sekolah. Ia tidak sabar ingin melihat sang pangeran, anggota tim paduan suara, Damar.
Ya, Damar. Laki-laki tampan yang dua tahun lebih tua darinya itu berhasil membuatnya jatuh cinta seketika saat Viola menonton salah satu kontes menyanyi, beberapa bulan yang lalu. Laki-laki yang membutnya bertekad untuk bisa satu sekolah dengannya setelah lulus SMP.
Hari ini, ia bertekad akan memberikan salah satu puisinya pada Damar. Tapi tidak secara langsung, karena ia belum cukup berani menanggung resiko yang mungkin terjadi, ketika ia berhadapan langsung pada kakak kelas tampannya itu. Resiko seperti salah tingkah atau menjadi bahan pembicaraan kakak kelas selama berhari-hari. Ia pikir, akan lebih baik bila ia menyelipkannya di loker Damar.
Saat pulang sekolah, diam-diam ia memata-matai Damar. Ia ingin tahu reaksi Damar ketika melihat suratnya. Tapi kemudian, betapa terkejutnya ia ketika Damar hanya memasukkan surat itu kedalam tasnya, tanpa membuka sedikitpun. Dan yang paling membuatnya terkejut adalah bukan hanya ada suratnya yang ada di lokernya. Ada beberapa surat lagi yang sepertinya dari penggemar Damar yang lain. Ini berarti, Viola memiliki banyak saingan untuk memiliki Damar. Dan dia benci itu, ia tak ingin bertengkar dengan begitu banyak perempuan hanya untuk memperebutkan Damar.
Ia hampir menyerah, bahkan ketika ia baru selangkah. Menyerah sebelum berperang. Tapi dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia tidak menginginkan hal itu. Ia masih ingin Damar menyadari keberadaannya. Menyadari bahwa ada adik kelas yang benar-benar jatuh cinta padanya.
Viola membolak-balikkan buku file-nya. Buku itu berisi puisi-puisi yang terinspirasi saat ia teringat wajah Damar, dan bagaimana ia begitu mengagumi ciptaan Tuhan itu. Begitu banyak, bahkan untuk dibuang atau dibakar pun Viola tak tega. Lalu ia teringat tawaran temannya, Nabila, untuk meletakkan puisi karya Viola di mading. Nabila dan Viola adalah teman sebangku. Beberapa kali  ia melihat Viola menulis puisi pada kertas file-nya. Dan saat mendapat nilai terbaik dari tugas menulis puisilah menjadi kesempatan bagi Nabila untuk menyarankan viola bergabung dengan tim mading.
✉ ✉ ✉ ✉ ✉
“Nabila!” Viola memanggil Nabila begitu melihatnya di koridor. Nabila berbalik, dilihatnya Viola yang mulai berlari menghampirinya. “Kenapa, La?” jawabnya begitu Viola berdiri dihadapannya terengah-engah.
“Tawaran kamu waktu itu masih berlaku ngga? Tawaran supaya aku memajang puisiku di mading,” jawab Viola.
“Ya tentu masih dong. Kamu bawa puisi kamu ngga? Nanti aku minta izin ke ketua eskul mading untuk memajang puisi kamu di sana.”
“Oh, bawa kok. Ini.” Jawab Viola sambil memberika selembar kertas file pada Nabila. Setelah meletakkan tasnya di kelas, nabila langsung melesat menemui Esa, ketua eskul mading, yang juga teman sekelas dengan Damar.
Sampai tiba jam istirahat, Viola sudah bisa melihat beberapa orang yang melewati mading berhenti sejenak untuk sekedar membaca puisi karyanya. Dan untuk yang terakhir kali ia mengawasi mading, tapat sebelum ia berbalik, ia melihat sosok Damar disana. Berhenti memandangi mading lebih lama dari orang lain. Apakah dia membacanya? Apakah ia membaca puisiku? Apa dia akan menyukainya? Batin Viola. Dan beberapa detik kemudian, tepat saat bel masuk berbunyi, Damar berlalu. Berjalan dengan ringan menuju kelasnya. Sedangkan Viola hanya bisa memandang punggungnya.
✉ ✉ ✉ ✉ ✉
Hari-hari berlalu begitu saja. Viola masih rutin mengirimkan puisi karyanya kepada pengurus mading tiap minggu. Puisi yang tersirat untuk Damar. Dan pada hari itu juga, Damar ada disana di depan mading. Membaca puisi karya Viola yang hanya berinisial ‘V’ yang menandakan sang penulis yang tidak ingin diketahui namanya.
Dan seperti biasanya, Viola bertemu Damar di kantin, lebih tepatnya, memperhatikannya. Tapi Viola merasa ada yang aneh pada Damar hari itu, atau mungkin dia hanya merasa terlalu percaya diri. Hari itu, saat Viola mencuri pandangannya pada Damar, saat itulah ia merasa Damar sedang melihat kearahnya. Sejenak Viola berfirasat kalau Damar mengetahui semua puisi itu ditulis olehnya. Terlebih bila Damar mengetahui puisi itu ditulis untuknya.
Tapi tatapan Damar saat itu bukan tatapan seseorang yang marah atau risih pada penggemarnya. Tapi lebih pada tatapan hangat dan seperti ingin berbicara pada Viola. Terakhir Viola memberanikan diri benar-benar menatapnya hingga mereka saling berpandangan untuk beberapa detik sampai teman-teman Viola mengajaknya kembali ke kelas.
Entah kenapa Viola semakin merasa dirinya benar-benar sedang diperhatikan Damar. Tapi ia tidak mengetahui apapun tentang apa yang sedang dipikirkan Damar. Saat bertemu dijalan, di kantin, di perpustakaan ataupun di lapangan saat sedang upacara dan keduanya berada di barisan paling depan, Damar terus memperhatikan Viola. Entah apa yang sedang dipikirkan atau direncanakan oleh anak itu.
✉ ✉ ✉ ✉ ✉
Tiba saat pentas seni setelah UTS di sekolah itu. Semua orang terlihat begitu berbeda dengan dandanan ala remaja saat itu. Semua siswi terlihat semakin cantik dengan dress mereka. Dan semua siswa laki-laki terlihat semakin tampan dengan kemeja mereka.
Semua orang menikmati jamuan dan hiburan yang ada disana. tapi sepertinya tidak untuk Viola. Ia sedang duduk sendiri saat itu, tanpa teman-temannya. Sampai sosok Damar tiba-tiba saja memecah lamunannya. Melihat Damar berjalan ke arahnya, membuat jantung Viola seperti melompat-lompat. Damar semakin dekat, hingga ia berkata, “Hai! Kamu Viola, kan? Kenalin, aku Damar,” sambil mengulurkan tangannya.
Viola meraih tangannya sembari berkata, “Oh, iya. Aku tahu kok.”
Ups! Apa yang baru saja aku katakan? Dia kan langsung tahu kalau aku selama ini memata-matainya. Bodoh! Hardik Viola pada dirinya sendiri. Damar pun terdiam mendengar jawaban Viola, tapi ia belum melepas tangan Viola. Diamnya membuat Viola semakin takut.
“Vi,” panggil Damar. “ ikut aku yuk! Aku mau ngomong sesuatu sama kamu.” Lanjutnya.
Vola terdiam. Apapun yang baru saja keluar dari mulut Damar benar-benar membuatnya terkejut. Damar yang tiba-tiba saja menghampirinya, mengajaknya berkenalan, menjabat tangannya dan memanggilnya ‘Vi’, semua itu benar-benar membuat Viola terdiam tak percaya.
“Tenang aja, aku ngga akan ngapa-ngapain kamu kok.” Kata Damar diikuti  senyum manisnya. Viola hanya mengangguk, sepert terhipnotis senyuman Damar. Kemudian mereka duduk di bangku taman yang sunyi, tapi tidak jauh dari pesta pora di lapangan. Sejenak kesunyian menemani mereka.
“Puisi itu.. Kamu yang nulis, kan?” tanya Damar tiba-tiba.
“Iya, kak.”
Damar terlihat tersenyum kecil mendengar jawaban Viola. “Sebenarnya, saat pertama kali membaca tulisan kamu, aku sangat menyukai kata-katanya yang indah dan penuh makna itu. Dan minggu berikutnya aku kembali mengagumi kosa kata demi kosa kata yang kau kuasai. Dan aku selalu menunggu tulisan-tulisanmu diminggu berikutnya. Tepat setiap hari Rabu pagi. Setiap mading diperbarui.” Kata Damar.
“Waktu itu. Aku menemukan beberapa bait dalam puisimu, seperti kukenal. Bait-bait itu seperti pernah aku baca. Dan saat itu aku tahu puisi itu ditujukan untukku. Dan saat itupun aku merasa aku jatuh cinta pada tulisanmu. Aku bertanya pada Esa siapa penulis itu. Dan berhari-hari setelahnya, aku mulai memperhatikanmu. Aku, tertarik padamu.” Lanjutnya.
“Tidak. Lebih dari itu, aku  jatuh cinta padamu, penulis puisi.” Tambahnya.
Viola hanya ternganga mendengar kata-kata Damar. Tidak pernah ia bayangkan kata-kata itu akan keluar dari seorang yang telah menjadi impiannya sejak hampir satu tahun yang lalu. Apakah ini hanya mimpi? Aku harap aku tak akan pernah bangun dan terus bermimpi, seperti ini, bila ini memang mimpi, batinnya.
Sedangkan Damar hanya masih memandanginya penuh harap. “Vi, tolong jawab aku.” Kata Damar kemudian. “Apa kamu, mau menjadi pacar aku?”
Viola masih terdiam. Semakin tidak percaya kata-kata yang dia impikan kini benar-benar keluar dari orang itu. Orang yang hanya ia lihat dari jauh saat di kantin. Orang yang membuatnya tertunduk saat bertemu. Dan orang yang sampai saat ini membuat jantungnya berdegup cepat.
“Vi, kau baik-baik saja?” tanya damar tak sabar.
“Oh, iya. Maaf ka.” Jawab Viola begitu tersadar. “I-iya, aku mau jadi pacar kakak.” Lanjutnya sambil tersenyum. Damar membalas senyumannya.

“Ayo, kita jalan-jalan.” Kata Damar kemudian. Iya menggenggam tangan Viola, perempuan yang baru saja resmi menjadi kekasihnya. Dan mereka melanjutkan hari-hari mereka sebagai pasangan kekasih.

0 comments:

Posting Komentar

Hubungi kami :

Twitter : @APAksara

Email : apaksara3@gmail.com

HP : 085773226995

Instagram: kapas3.aksara

Twitter

Translator