Cinta Bulan Samara. Apa kau membaca ini? Ambil posisi
senyaman mungkin. Aku akan membacakan cerita yang akan membuatmu terkejut. Apabila
kepalamu mulai sakit, berhentilah, dan coba lagi nanti.
Di bawah pohon mangga kita pernah bicara. Masih ingat awal
pertemuan kita? Aku tak akan melupakannya.
Aku: “Yoh. Nama lu siapa?”
Kau: “Cinta.”
Aku: “Nama lu keren.”
Kau: “Makasih.”
Kau: “Cinta.”
Aku: “Nama lu keren.”
Kau: “Makasih.”
Kita lanjutkan pembicaraan kita. Kita bicarakan dunia,
sekolah, hal yang disuka, hal yang dibenci. Tapi tak sekalipun kau tanyakan
namaku.
Kau ingat? Keesokan harinya kita dimarahi oleh kakak kelas
karena terlalu asyik mengobrol sampai telat satu jam. Ingat saat kita mengejek
mereka di belakang mereka? Ingat saat kita beli roti untuk dimakan berdua?
Ingat saat itu kau menanyakan namaku? Aku takkan pernah melupakannya.
Saat kita masuk sekolah. Kau ingat bagaimana kita diledeki
teman sekelas karena selalu berdua? Ingat ketika sekelompok saat kerja ilmiah?
Ingat saat aku mengacau dan kau marah padaku? Aku takkan pernah melupakannya.
Apa kau ingat? Saat semester dua, kita jalan-jalan untuk
pertama kalinya. Ingat saat kita menonton Insidious 2 bersama? Ingat saat kau
teriak dan menutup mata dengan tanganmu? Ingat saat pulang kita makan di warteg
bersama? Aku takkan pernah melupakannya.
Saat naik kelas. Apa kau ingat saat kau mendapat juara 2 dan
aku juara 5? Apa kau ingat saat kita merayakannya dengan makan hanamasa berdua?
Ingat saat kau makan 3 mangkuk nasi dan aku makan 4? Ingat saat kita berpisah
karena akan sholat? Ingat saat kau tertawakan aku karena basah kuyup saat
kerannya bocor? Aku takkan pernah melupakannya.
Saat semester 3. Apa kau ingat tugas menumpuk yang diberikan
oleh para guru? Apa kau ingat semua kelas bekerja sama saat itu? Apa kau ingat
kalau kau mengupdate status galau pertamamu? Ingat aku mengajakmu pergi ke
tempat rahasiaku dan membicarakan rahasia kita? Aku takkan melupakannya.
Saat UAS. Apa kau ingat soal Bahasa Inggris yang tidak ada
jawabannya itu dan membuatmu kesal? Apa kau ingat apa yang dilakukan oleh kakak
kelas dua meja di depanmu? Apa kau ingat kalau kita membicarakan itu selama
seminggu kedepan? Aku takkan melupakannya.
Semester 4. Apa kau ingat kalau kita berantem karena aku
membajak twittermu dan kau tak mau memaafkanku kalau kau tidak membuat tweet
bajakan 100 kali? Ingat aku diledeki oleh anak satu angkatan karena ulahmu?
Ingat aku jadi pendiam kepadamu selama dua minggu dan kau merasa bersalah? Aku
takkan pernah melupakan itu.
Maret. Semester 4. Apa kau ingat kalau saat itu kita UTS? Apa
kau ingat saat hari ketiga UTS kita pergi ke ITC? Apa kau ingat nickname lawan
yang menang dari kita waktu itu? Apa kau ingat buku yang kau beli setelah itu?
Apa kau ingat apa yang terjadi setelah itu? Aku takkan pernah melupakannya.
Kau: “Eh, kapan kita bakal mati ya?”
Aku: “Mana gua tau. Tungguin aja sambil ngelakuin hal bagus.”
Kau: “Kalau gua mati besok gimana?”
Aku: “Kalo gitu hari ini gua bakal bilang, kalo gua cinta sama lu.”
Aku: “Mana gua tau. Tungguin aja sambil ngelakuin hal bagus.”
Kau: “Kalau gua mati besok gimana?”
Aku: “Kalo gitu hari ini gua bakal bilang, kalo gua cinta sama lu.”
Apa kau tau kalau sejak itu kita berpacaran? Apa kau tau
kalau malam itu kita begadang untuk chatting? Apa kau ingat lagu yang
kunyanyikan dalam video yang kukirimkan? Apa kau ingat semua itu? Aku takkan
pernah melupakannya.
Apa kau ingat? Keesokan harinya kau mengalami kecelakaan dan
kepalamu terbentur. Apa kau ingat kalau aku datang ke rumah sakit dan melihat
wajah pucatmu? Apa kau ingat ruangan UGD yang dingin itu? Apa kau ingat semua
itu? Aku ingin melupakannya.
Tidak. Kau melupakan semuanya. Apa kau ingat aku? Apa kau melihatku?
Aku ingin sekali melupakannya, tapi tak bisa.
Apa sekarang kau sudah ingat? Aku masih mencintaimu.
Kutunggu kau di SMA kita. Setiap senin, setiap pulang sekolah, di meja bundar. Atau di X MIA 7.
-Wana

0 comments:
Posting Komentar